When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it | Ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan membantumu untuk meraihnya (The Alchemist, Paulo Coelho)

Ketika sedang melaju kencang di jalan tol bersama travel Xtrans jurusan Bandung-Jakarta, aku sedang membaca The Celestine Prophecy karya James Redfield. Meski cukup kerap mendiskusikan soal pola kebetulan dengan beberapa kawan, aku sedang tenggelam dalam Wawasan Pertama dari cerita Manuskrip di buku tersebut: peristiwa-peristiwa kebetulan yang terjadi secara misterius.

Pola kebetulan. Aha! Kalian pernah mengalami kebetulan? Pasti pernah. Hal itu sering kali kita temui dalam keseharian kita bukan? Tapi apakah kebetulan itu sekadar kejadian semata? Adakah kebetulan memiliki makna lain di balik kejadian itu sendiri?

Ada orang yang tak percaya pada kebetulan. Tak ada kebetulan di dunia ini, begitu katanya. Dengan kata lain: tak ada kebetulan yang berdiri sendiri. Ia selalu diiringi dengan maksud-maksud lain yang barangkali belum kita tangkap maknanya saat kejadian itu berlangsung.

Pada tingkat hubungan emosi yang sangat dekat dengan seseorang, terkadang pikiran kita bisa kolektif. Mutual feeling. Bukanlah hal aneh, dan aku pun kerap mengalaminya, seperti misalnya ketika aku sedang kangen pada seseorang, aku memikirknya, lantas mulai mengetik sebaris SMS di layar hp. Namun tanpa nyana, orang yang kumaksud pada saat yang bersamaan, betul-betul pada saat yang bersamaan, malah lebih dulu mengirimkan SMS atau bahkan menelpon.

Ketika kita tanya: “Kok tiba-tiba ngontak?”
Jawabnya: “Lho, kenapa memangnya? Tiba-tiba kepikir aja. Pingin nelpon. Apa kabarmu hari ini?”
God…!! Kalian percaya itu pola kebetulan?

Malam itu aku meluncur menggunakan travel Xtrans ke Jakarta. Dalam kondisi sehabis sakit, paling praktis memang menggunakan travel saja. Duduk diam tenang di dalam. Apalagi aku jadi satu-satunya penumpang di mobil itu. Dan ke Jakarta jika hanya satu tujuan memang paling praktis pakai travel saja. Cuma Rp70 ribu sekali jalan. Bolak-balik Rp140 ribu.

Oke, itu soal travel. Namun kenapa travel Xtrans yang kugunakan? Bukankah ada banyak travel untuk jurusan Bandung-Jakarta? Apakah kebetulan? Entahlah. Yang pasti, tujuanku ke Jakarta adalah dalam rangka menemui Kristanti Parisihni atau mbak Tanti, seorang dokter yang blogger juga, bersama rekan kerjanya, Prameswari, seorang dokter yang tak pernah berhasil jadi blogger. Hihihi.

Aku mengenal Prameswari sebagai adik kelas ketika SMP di Jember dulu. Sementara mbak Tanti kukenal melalui Prameswari (sudah pernah kuceritakan di blog ini dalam tulisan Persahabatan Blogger, Ada dan Nyata).

Kedua dosen sebuah universitas di Surabaya ini sedang mengikuti seminar Asian Oral Health Care di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Jakarta. Menginap 2 malam di Hotel Kartika Chandra yang jaraknya tak begitu jauh dari tempat seminar. Dan satu-satunya shuttle Xtrans Jurusan Bandung-Jakarta yang beroperasi selama 24 jam hanyalah di Hotel Kartika Chandra! Kebetulan? Entahlah.

Aku sendiri baru tahu kalau travel Xtrans shuttle Cihampelas Bandung jurusan Hotel Kartika Chandra Jakarta beroperasi selama 24 nonstop. Selalu berangkat setiap 2 jam sekali. Ada tidak ada penumpang. Terbukti ketika berangkat, aku adalah satu-satunya penumpang.

“Kalau nggak ada penumpang, tetap berangkat?”
“Tetap, Pak Daniel.” ujar supir Xtrans itu ramah.

Sesampai di lobi hotel, aku menelpon kedua perempuan yang baru saja pulang (sehabis kalap) dari mal itu. Hehe. Akhirnya kami bertemu dan bersiap makan malam. Dan santap malam cukup ditempuh dengan berjalan kaki saja menuju Planet Hollywood yang letaknya masih satu komplek.

Awalnya kami masuk dan duduk di bar. Tapi karena suasananya kurang mendukung untuk kangen-kangenan (halah!), kami pun pindah ke bagian resto. Meski ada live music yang melulu membawakan lagu rock, tapi lumayanlah, masih bisa menikmati suasana.

Acara santap malam pun dimulai. Ditingkahi dengan bincang-bincang soal ini itu. Ketika sedang menikmati seruputan cappucino, tiba-tiba Prameswari merasa melihat sekelabat orang yang ia kenal di dalam bar yang hanya dibatasi oleh dinding kaca. Seorang teman SMP saat di Jember, katanya

“Di sini?” tanyaku.
“Iya.” jawabnya sembari matanya memicing memastikan apakah betul itu teman SMP-nya.
“Yakin di sini?”
“Lho, memangnya kenapa?”
“Jember kan letaknya jauh sekali dari planet bumi. Pedalaman gitu lah…” selorohku ngakak.
“Enak aja!”

Meski tangannya sudah melambai-lambai, tapi Prameswari tak berhasil memanggil pria di dalam bar itu. Akhirnya, setelah beberapa menit berusaha, tampaknya aku yang mesti turun tangan (tsah!). Aku putar badan, memastikan pria yang dimaksud Prameswari, dan mencoba memanggilnya cukup dengan pandangan mata.

Kalian tahu caranya? Sangat mudah kok. Kalau kita ingin memangil seseorang dari kejauhan, bagaimana caranya agar ia menoleh, cukup pandangi saja matanya. Entah dari sisi pelipisnya, atau langsung saja tertuju pada matanya. Kalau pesan yang kita sampaikan kuat agar ia menoleh ke arah kita, pasti ia menoleh. Tak percaya? Coba saja.

Dan betul saja, tak sampai setengah menit, pria itu pun menoleh ke arahku. Aku melambaikan tangan. Pria itu mengernyitkan mata. Aku tunjuk Prameswari. Dan Prameswari mulai memanggil pria itu dengan lambaian tangan pula. Pria itu menunjuk dadanya sendiri seolah berkata: “Saya?”

Bisa ditebak, begitu melihat Prameswari, pria itu langsung terkesiap tanda terkejut. Seolah mulutnya berkata: “Ya ampun…”
Tak lama ia pun menghampiri meja kami.

“Gigih?!” ujar Prameswari.
“Prameswari?! panggil Gigih tak mau kalah.
Keduanya pun bersalaman dan mengembangkan tawa.

“Ini Mas Daniel. Kakak kelas kita juga waktu SMP.” tukas Prameswari.
Dan aku tersenyum menyodorkan tangan. Pria itu menyambut dan berkata, “Iya. Aku inget kok. Inget.”
“Ini Mbak Tanti. Teman kantor di Surabaya.” lanjut Prameswari lagi.
“Surabaya? Tapi sepertinya aku kenal deh.” terka pria itu sembari memicingkan mata.
Aku sudah mulai menutup mulut menahan tawa.
“Kenapa?” tanya Prameswari melihatku seperti itu.
“Jangan sampai saling kenal…” aku betul-betul menahan tawa.
“Tapi aku kayaknya memang kenal.” pria itu sangat yakin.
“Nggak mungkin ah. Wong Mbak Tanti di Surabaya kok.” sergah Prameswari.

Maka kedua teman sekelas SMP itu pun saling obrol soal perjalanan hidup mereka selama ini. Aku mengambil topik lain bersama mbak Tanti.

Tapi tak berapa lama, tiba-tiba, mbak Tanti memotong pembicaraan Prameswari dan Gigih. Katanya:
“Tapi, sebentar-sebentar, aku kok kayaknya kenal juga ya…”
God!! Aku mulai menutup mulut lagi menahan tawa.

“Iya kok. Aku memang pernah liat kok. Pernah di Jember nggak?” kerjar Gigih.
“Pernah. Aku dulu dosen di FKG Unej.” (Unej adalah Universitas Jember).
“Nah, Mbak kan masih sodara dengan…”

God!! Aku sudah berdiri sembari ngakak memegangi kepala. Rupanya mereka, antara Gigih dan mbak Tanti, masih terhitung saudara yang dipertautkan karena pernikahan. God!! Kenapa bisa saling berkelindan begini. Dalam satu tempat dan waktu. Aku kakak kelas Prameswari di SMP. Prameswari teman satu kelas dengan Gigih di SMP. Dan Gigih masih terkait persaudaraan dengan mbak Tanti. Di Planet Hollywood, di sebelah shuttle Xtrans yang 24 jam, di sebelah Hotel Kartika Chandra, yang hanya sepelemparan tombak ke Balai Kartini, tempat seminar. God!! Apa makna semua peristiwa ini? Sekadar kebetulan?

Akhirnya kami ngobrol berempat mengelilingi meja. Ngobrol apa saja. Dan pikiranku masih saja mempertautkan kebetulan demi kebetulan sejak keberangkatan dari Bandung sore tadi.

Suara sedotan yang berkubang di dalam gelas cappucino sudah terdengar berderak sampai ke dasar tanda mulai tandas. Malam makin merangkak. Pertemuan pun mulai memasuki bab pembicaraan akhir. Kami berempat berdiri setelah mbak Tanti mengambil alih bill makan (weh, makasih Mbak Tanti. Makan malamnya sedap sekali! Jangan bosan ya. Hihihi).

Kami keluar Planet Hollywodd. Aku melesat ke shuttle Xtrans. Menanyakan apakah masih ada kursi untuk pemberangkatan paling dekat. Dan aku mendapatkan jawaban penuh untuk hampir semua pemberangkatan. Waduh!

“Tapi biar kami catat saja, Mas. Masuk waiting list. Biasanya suka ada yang nggak nongol meski sudah booking.” tambah petugas itu lagi, membantu.

Aku mulai nyengir kembali. Maka betul saja. Masih ada satu kursi, satu kursi lagi, yang masih kosong untuk keberangkatan ke Bandung, karena orang yang sudah booking tak nongol-nongol hingga jam keberangkatan. Kursi itu pun kusabet (tiketnya maksudnya. Bukan kursinya beneran. Ih, gimana sih!).

Mbak Tanti dan Prameswari masih menunggu di luar. Keempat mata mereka seperti menunggu jawaban: apakah aku dapat tiket atau tidak.

“Aku pulang!” jawabku tersenyum.
Secara bergantian mereka pun menggenggam tanganku.

Dalam perjalanan pulang sejatinya aku ingin kembali menekuri halaman demi halaman The Celestine Prophecy, terutama pada bab-bab awal, Wawasan Pertama: peristiwa-peristiwa kebetulan yang terjadi secara misterius. Tapi kantuk begitu cepat datang menyergap.

Aku tertidur lelap…

Catatan penulis:
Anda, ya Anda. Betul, Anda yang sedang membaca blog Penganyam Kata ini, berhati-hatilah! Karena jika suatu saat nanti kita menjadi sahabat, apakah itu suatu kebetulan? ;)

27 November 2008 | 07.00 AEST