Aku, Anak Matahari

Aku kehilangan tangan kiriku sebatas sikut di usia 11 tahun pada Oktober 1974. Setelah itu, Bapak dan Emak mempersiapkanku dengan cinta agar aku bisa menghadapi kehidupan yang keras tanpa merasa rendah diri (Gola Gong)

Orangtua mana yang menginginkan anaknya lahir cacat? Siapa pun di dunia ini tidak ada yang menginginkan mempunyai anak cacat. Semua orangtua ingin anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna di masyarakat. Namun, takdir berbicara lain, siapa pun tak dapat menolaknya.

Begitu lah sepenggal paragraf di cover belakang buku terbaru karya Gola Gong, Aku, Anak Matahari, terbitan Penerbit Semesta (Salamadani), November 2008. Apa yang Gola Gong tulis? Novel kah? Ternyata bukan. Rupanya ia merawi sebuah memoar perjalanan hidupnya. Sebuah memoar pendidikan keluarga di mana peran orangtua sangat mempengaruhi perjalanan hidup seseorang.

Waktu aku SMP, jujur saja, gaya tulisanku bernafaskan Hilman Hariwijaya, pengarang Lupus yang tersohor itu. Apa boleh buat, saat itu Hilman dan Lupus-nya memang sedang berkibar serta sangat mempengaruhi aku dalam menulis.

Tapi tiba-tiba aku terbelalak ketika mulai mendapati serial Balada Si Roy karya Gola Gong di majalah Hai pada akhir tahun 80-an. Aku tersentak. Balada Si Roy sangat laki-laki sekali. Serial seorang remaja petualang yang doyan traveling ke berbagai tempat. Berani, punya sikap, memiliki solidaritas tinggi, disukai perempuan, dan jago menulis.

Berbeda dengan Lupus, pada Balada Si Roy aku menemukan bagaimana semestinya sosok seorang lelaki tumbuh dan membentuk sikap (ini soal selera dan pilihan). Secara berangsur gaya menulisku pun mulai dipengaruhi oleh pengarangnya, Gola Gong. Lebih ngeri lagi: “seragam”-ku dalam berpakaian adalah: jeans, t-shirt yang dibungkus kemeja flanel kotak-kotak, kalung dog-tag dan sepatu gunung. Nyaris selalu seperti itu sejak SMA hingga kuliah.

Suatu hari di tahun 1994, seorang lelaki berjalan memasuki pelataran sebuah kampus di Bandung. Pakaiannya tak jauh beda dengan “seragam” yang kukenakan. Namun satu hal yang membuatku tersentak: tangan kiri lelaki itu buntung sampai sesikut. “Gola Gong!” bisikku berdebar.

Sontak aku mendekati lelaki itu. “Mas Gong?”
Lelaki itu menoleh, tersenyum. “Oh, bukan. Saya saudara kembarnya.” balasnya sableng. Aku pun tertawa mengulurkan tangan.

Rupanya ia hendak ke kantor pos yang ada di kampusku. Aku pun mengantarnya sembari dengan norak terus berusaha mengajaknya ngobrol. Maklum, ketemu idola!

Selama di kantor pos kecil itu, kami sempat berbicang tentang buku-bukunya dan juga cerita perjalanannya sepulang keliling Asia. Aku hampir tak percaya bahwa aku dapat bertemu dengan idolaku. Seorang penulis yang karya-karyanya kukagumi. Yang tulisan-tulisannya sedikit banyak membentuk karakterku sebagai lelaki. Tak berlebihan jika kukatakan: Gola Gong adalah guruku secara tidak langsung.

Seusai menyelesaikan urusannya di kantor pos, ia pun berkata, “Antar aku ke depan ya, Dan.” dan aku mengantarnya sampai naik angkot sembari cangar-cengir. Gola Gong saat itu kerja sebagai wartawan di Group Kartini, dan sedang melakukan liputan di Bandung.

Sejak itu aku tak pernah absen untuk mengikuti semua karya lelaki kelahiran Purwakarta, 15 Agustus 1963 itu. Meski aku cukup tersentak ketika Gola Gong bergabung dengan Forum Lingkar Pena, dan gayanya dalam menulis mulai berubah. Tak ada lagi garangnya. Tak ada lagi sikap nakalnya. Ada atmosfir yang berbeda. Terasa lebih santun, lembut, dan bersahaja. Kuakui, cukup lama, bahkan hingga tahunan lamanya waktu yang kuperlukan untuk dapat beradaptasi terhadap karya-karya Gola Gong sesudah itu.

Hingga aku menemukan pencerahan tersendiri: makin kemari setiap manusia pada dasarnya akan mendekatkan diri pada Tuhan. Bukan terus terlunta-lunta di perjalanan. Sehingga aku dapat mengunyah kembali karya-karya Gola Gong. Lagi-lagi kudapatkan itu pada karya-karyanya.

Ketika Gola Gong menikah dengan Tias Tatanka dan membangun Rumah Dunia, lagi-lagi aku menemukan pencerahan baru. Betapa pasangan itu menjadi sosok panutanku dalam membangun keluarga. Dan konsep Rumah Dunia sungguh merupakan impian terbesarku.

Hingga aku memberanikan diri untuk mengundang Gola Gong datang ke toko bukuku untuk sebuah acara. Sudah banyak sastrawan Indonesia yang mampir dan bikin acara di toko bukuku. Dari mulai Sapardi Djoko Damono, Martin Aleida, Fira Basuki, Dewi Lestari, seluruh keluarga Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lagi. Tapi rasanya masih kurang lengkap jika idolaku belum mampir dan bikin acara di sana.

Maka ketika Gola Gong mengiyakan dan bersedia mengadakan bincang buku di toko bukuku, betapa girangnya aku. Acaranya semarak. Puluhan orang datang. Menyaksikan film Rumah Dunia, berbagi cerita tentang dunia penulisan, dan bertemu langsung dengan Gola Gong. Aku bertemu dengan idolaku secara leluasa! Sejak itu kami kerap saling e-mail, telpon, dan SMS hingga kini.

Hanya ada beberapa penulis yang mampu membuatku tersentak dan malu setengah mati akan produkvitasnya dalam menulis. Kedua adalah Pramoedya Ananta Toer. Betapa ia mendedikasikan seluruh hidupnya pada dunia kepenulisan. Ketika ia dituduh PKI dan dibuang ke Pulau Buru, tanpa bekal referensi apa pun, dan dengan mesin ketik rombeng, ia mampu membuat karya-karya masterpiece-nya. Dalam keadaan terbatas seperti itu.

Karya-karya yang dibuat dalam suasana terpenjara, kerja paksa dan penyiksaan seperti itu malah justru merupakan karya-karya Pram yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di seluruh dunia. Pram pun berulang kali dicalonkan sebagai peraih hadiah Nobel Sastra dari Indonesia.

Bandingkan dengan keadaanku saat ini di mana hidup di alam kebebasan penuh. Dapat mencari buku apa pun yang kuinginkan. Dapat mengunjungi perpustakaan mana pun yang ada. Serta memiliki akses internet secara luas. Betapa malunya jika tak menelurkan karya apa-apa. Ngapain saja terus?

Dan yang pertama adalah Gola Gong. Penulis yang menulis dengan mesin ketik satu tangan. Satu tangan! Oke sekarang sudah pakai komputer, tapi tetap saja ia produktif dengan satu tangan. Ia menggendong ransel, keliling Indonesia, lantas Asia. Ia tetap produktif menulis dengan satu tangan! Satu tangan! Betapa malunya aku jika tak dapat menelurkan karya apa-apa. Ngapain saja?

Maka di buku Aku, Anak Matahari kita dapat menemukan perjalanan hidup Gola Gong dalam meraih apa yang menjadi impiannya. Ia seolah ingin memberi contoh pada kita: keadaan terbatas bukan merupakan alasan untuk tidak berkarya. Seperti apa yang diceritakan Gola Gong atas penuturan orangtuanya:

Bagi mereka, sebaik-baiknya aku sebagai manusia adalah bermanfaat bagi orang lain. Menjadi pengarang dan terkenal bagi mereka tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa berguna bagi orang lain walaupun hanya berlengan satu.

Saat pergi ke acara Indonesia Book Fair pertengahan November lalu, aku duduk semobil dengan Tasaro dan Ali Fridi, para Managing Editor dari Penerbit Salamadani. Di tengah perjalanan mereka menyodorkan buku Aku, Anak Matahari dan menanyakan pendapatku tentang buku Gola Gong tersebut. Aku hanya sempat membuka-buka sejenak buku itu.

Kalau bukan karena seorang teman yang memberi tahu tentang ucapan terima kasih Gola Gong di buku itu, sebelumnya aku tak pernah tahu apa saja yang ditulis Gola Gong di halaman itu.

Dan di paragraf sesama penulis, Gola Gong menulis: …Daniel Mahendra si penganyam kata, yang selalu mendukungku…

Kalian tahu betapa seperti apa perasaanku? Bukan karena nama kita tertera di buku seorang penulis yang kebetulan kita kenal. Juga bukan karena kebetulan kita adalah temannya. Tapi lebih dari itu: nama kita ditulis oleh seseorang yang kita kagumi dan dijadikan panutan oleh banyak orang di negeri ini.

Nah, Mas Gong, selamat atas anugerah XL Indonesia Berprestasi Award 2008 untuk Kategori Pendidikan. Kau memang layak untuk itu! Bahagia, sukses, dan sehat selalu.

Dirgahayu!

28 November 2008 | 21.58 wib

Foto-foto: dari www.golagong.com

This entry was posted in Buku and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

75 Responses to Aku, Anak Matahari

  1. Yoga says:

    Ya,ya, bensin yang tak dipakai lama-lama bisa menguap, bisa aja kamu, Niel. Meski semangat itu tak persis serupa Bensin sifatnya. Btw, Goniel? Hehehe :mrgreen:

    Yogas last blog post..Log of Second Day

    DM: Ya deh. Solar, deh :p

  2. prameswari says:

    Merhatiin mas Niel waktu SMP? hihihi…..
    Merhatiin temennya mas Niel sekelas kaleee

    DM: Uhuy!

  3. mentang-mentang? mentang-mentang apa, goniel? mentang-mentang kamu baik? ya, emang kudu dimanfaatin dong!
    aku baru tau loh kalau toko buku kamu ternyata hebat, pernah dijadikan ajang acara bicang-bincang dengan tokoh sastra.
    makanya bagi-bagi buku! bloger lain yang gak punya toko buku aja bagi-bagi, masak kamu nggak? berbagi tak pernah rugi! ceilah!

    (karena pengaruh bagi-bagi buku di blog-blog lain begitu kentalnya, aku jadi ngarep pembagian gratis mulu loh kalau ke mana-mana, seolah-olah buku itu gimmick aja gituh, bisa dapat gratis asal cepat masuk list. wakakakak!)

    DM: Iya, Goyul… Nanti kusimpankan buatmu. Makanya cepat pulang.
    Tapi soal blogger yang bagi-bagi buku itu, ya itu mah selera masing-masing dunk. Mbok kamu bagi-bagi beras… Hihihi.

  4. …Seusai menyelesaikan urusannya di kantor pos, ia pun berkata, “Antar aku ke depan ya, Dan.” …

    tunggu! tunggu! ada yang aneh ini!
    setelah segala dandananmu yang imitate roy gitu: kaos dalam, kemeja flanel kotak-kotak, sepatu gunung, dan dog tag, mas GG (kayak obat batuk deh kalau disingkat, gliseril guaijakolat. maaf, mas gong) masih gak salah manggil nama kamu?

    kalau aku jadi dia sih, udah pasti aku ngomong, “antar aku ke depan ya, roy.”
    soalnya mesti berkesan banget deh penampilan kamu itu.

    (eits, jangan ngomong: “itu tahun berapaaaa….”)

    DM: Itu tahun berap, ups, hehehe. Ya jelas aja mas Gong manggilnya ‘Dan’. Lha gimana mau manggil ‘Roy’, lha wong tampang yang dia lihat culun begitu. Haha.

  5. radesya says:

    Aku belum pernah baca karya Gola gong, tapi ntar mo cari ah..
    Btw aku ngefans banget ma Pramoedya Ananta Toer, tapi kini aku punya idola baru
    kak Daniel Mahendra..^^
    aku suka banget baca postingan kakak..
    Boleh kan…

    redesyas last blog post..Jangan Pergi

    DM: Pram? Buku Pram apa saja yang sudah kau lahap, Redesya?
    #
    Daniel Mahendra? Oh, nanti akan kusampaikan pesanmu ya. Kebetulan aku teman baiknya ;)
    Terima kasih…

  6. Yoga says:

    @Ni HY aka “aku, anak manusia”…
    Huahaha pinter….akur banget deh, berbagi tak pernah rugi. Pembagian buku bisa jadi gimmick blog marketing selain kaos, pin dan teman-temannya. Hmm jadi mikir, kok pola blogger sama kayak parpol?

    :D

    Yogas last blog post..Untuk Kekasih-Kekasih Kecil

    DM: Tahun 2014 nanti para blogger bikin partai keknya.

  7. perempuan says:

    mas daniell… im your biggest fanss…….. :D

    DM: Hei… kamu manggil siapaaa… Daniel sedang tidak ada di sini. Ia sedang mengejar matahari ;)

  8. anisa says:

    sepertinya… idolaku mas mahendra deh…
    aku suka membaca tulisan-tulisan di blognya mas mahendra…
    selamat ulang tahun ya mas…

    DM: Semoga panjang umur… :p

  9. anisa says:

    eh, kog jadi ulang tahun yaaa…
    ini cerita soal apa siiiiiih…???
    award ya?

    DM: Duh-duh… Ini bukan cerita award. Ini cerita wayang! Iya, wayang orang!

  10. ardianzzz says:

    hmmm salam kenal..
    kalau untuk karya tulis, saya kurang pengalamannya..
    tapi kalau gaya t-shirt, kemeja flanel, jeans & sepetu tracking. saya punya. ditambah ransel bervolume besar siap masuk ke dalam rimba belantara…
    senang berkenalan dengan anda..

    ardianzzzs last blog post..Foto Alam & Lingkungan

    DM: Salam kenal kembali, Kawan. Kali ini hendak journey kemana kita? Kakiku sudah gatal! :)
    Senang sekali dikunjungi oleh Anda… :)

  11. pakiki says:

    dapat honor? dapat ya? udah lupa tuh…yang pasti ingat ya honor dari antologi puisi SMPN 2 itu diantar sendiri oleh Ketua OSIS kita ke rumah…

    kalo ga salah 7 puisi, dapat 7000 rupiah, jadi satu puisi 1000 rupiah, setara harga beras sekilo saat itu. kalo itungan inflasi sekarang, satu puisi ya sekitar 7000 rupiah sekilo *halah*

    terus jadi apa duit 7000 tadi? jadi kaset (!!)

    DM: Kalo yang di antologi puisi itu, iya. Tapi ini yang di majalah sekolah. Satu naskah Rp2.500 Hihihi. Tapi berupa kupon yang ditukar sebagai barang di koperasi. Walah. DM kok dikasih kupon koperasi. Mana mau dia. Dia minta mentahnya doang. Haha. Satu bulan bisa berapa tulisan tuh. Mayan kan. Buat beli kaset sama es cendol :p

  12. carra says:

    kyaaaaaaaaaaaaaa… masi inget utang oreonyah >.< … ga takut kandungan melaminnya mas DM…??? :lol: *ngles biar ga ditagih*

    carras last blog post..Are You Strong Enough to be a MAN?

    DM: Hehehe. Kan sekarang udah aman (teuteup… nagih :p )

  13. @yoga:
    pastinya, yo! berbagi tak pernah rugi.
    bloger seperti parpol? hihi! istilah baru dong nih.

    udah, ah. mau cabut dulu!

    PS. goniel, perlu aku tulis alamat pengiriman juga?
    inga, inga, berbagi tak pernah rugi! *ting*

    DM: Ngirim ke Oz? Idih, males deeehhh… Hihihi.
    Tung! *mentung*
    (pulangnya jangan malem-malem).

  14. Ikkyu_san says:

    ah aku ketinggalan banyak…. kemana saja aku selama ini? Oh ya, kebetulan ada pemakaman akhir minggu lalu.

    Bukan! Bukan akhir-akhir ini…tapi karangan Gola Gong yang lalu-lalu? Hmmm aku terlalu banyak belajar? rasanya tidak juga. Dan ada waktu vakum 16 tahun aku berada di negara antah berantah. Hmmm sudah waktunya aku kembali ke tanah airku, ke bahasaku. Terima kasih diingatkan bahwa sesungguhnya aku banyak belum tahu penulis Indonesia.

    EM

    Ikkyu_sans last blog post..Beda? Harus tetap Pede!-Swimmy-

    DM: Ayo… Ayo… Banyak penulis Indonesia yang hebat-hebat… :)

  15. prameswari says:

    @paikiki : waa…honornya dianter sendiri mas? ama mas Deris mas? baik sekali ya……kalo mas Niel??? (hem hem…)
    Kalo mas Rifky mah dah lupa ama duitnya dulu, sekarang kan udah di tempatnya departemen perduitan….hehehe

    DM: Oh, kalau Rifki memang diantar langsung sama Ketua Osis-nya. Selain Ketua Osis-nya kurang kerjaan, dengar-dengar Derris memang naksir Rifki dulu (Derris homo?!!!). Hihihi. Sorry, Ris! :p

  16. pakiki says:

    @ prameswari

    itu kejadian sekitar setelah lulus SMPN 2 jadi terpaksa bapak ketua OSIS harus keliling mencari jejak para penulisnya :)

    departemen perduitan? duit orang tapi…..

    *sori, DM…jadi ajang chatting ini*

    salam

    pakikis last blog post..Anakku Beranjak Remaja (?)

    DM: Jangankan chatting di sini, Rif. Kamu gelar pengajian 7 hari 7 malem di sini juga nggak pa-pa. Hihihi.

  17. prameswari says:

    @pakiki : eh ..iya…abis SMP itu emang mas Niel langsung ngilang, gak ninggalin jejak…makanya mas Deris gak bisa nyari…

    ternyata enak juga chatting di blog orang ya….hehehe sorry mas Niel

    DM: Oh, si mas Niel saat itu ambil sepatu gunung, nggendong ransel, traveling keliling Jember dia. Haha! Napa? Nyari-nyari ya? (oh, Derris yang nyari?) Hihihi :p

  18. Yoga says:

    @aku, anak manusia

    Hehehe…

    Btw, sorry tak meninggalkan jejak di blogmu Ni. Bukan apa-apa, agak ribet pas posting komennya.

    Sorry Niel, jadi nyampah.

    Yogas last blog post..Untuk Kekasih-Kekasih Kecil

    DM: Orangnya emang ribet dia, Yug.
    (haha! Nggak diiiinnnggg…… Ampuuunnn… :p )

  19. writer wanna-be says:

    Wah, aku tak banyak punya karya Mas Gola Gong, sayang sekali.
    Sepertinya musti mulai berburu buku-buku beliau nih.
    Atau ada yang bersedia membantu melengkapi koleksi rak bukuku?
    *ngarep.com*

    DM: Masih banyak kok, masih banyak…

  20. iJul says:

    Wuih, mau komentar OOT ah… mau bikin rekor aja sebagai penulis komentar no 70 di blog yang jumlah postingan nya hampir 800!

    iJuls last blog post..Ketemu Benny & Mice di Bandung: Bag 1

    DM: Hahaha! Ada-ada saja kamu.
    Wah, cerita Benny & Mice udah muncul rupanya. Kalau kuperhatikan, tampang mereka berdua nyaris sama dengan tokoh yang mereka ciptakan ya, Jul. Hihihi.

  21. Cak Ri says:

    DM: Oh, si mas Niel saat itu ambil sepatu gunung, nggendong ransel, traveling keliling Jember.
    Masak seh, kok masih sering ketemu di pengkolan PTP pake Honda Astrea item…., kadang2 duduk2 di bawah pohon asem deket alun2….:-)

    DM: Oh… itu lagi nyambi jadi tukang ojek, Zal. Ya maklumlah, cari uang tambahan. Hehehe.

  22. dewisang says:

    he..he..baca.gw salah ketik mas

    dewisangs last blog post..Anak Sekolah Biang Kemacetan?

    DM: Hehe. I knew…

  23. Tuti Nonka says:

    Sama seperti Mbak Imelda Ikkyu_san, kemana ya saya selama ini? Kok belum pernah baca karya Gola Gong? Namanya saya sering baca, bukunya sering lihat dipajang di toko buku, tapi kok belum pernah coba buka, beli, dan baca?

    Cukup lama memang saya tidak membaca karya sastra penulis Indonesia, sejak terpesona pada karya-karya Iwan Simatupang nun lama dulu. Oh, Hilman juga sempat membuat saya terhibur dengan petualangan Lupus yang gokil. Novel-novel Pramoedya, Umar Kayam, Ahmad Tohari, dan Romo Mangun adalah novel-novel yang saya baca sesudahnya. Sesudah itu lama tidak sempat ngikuti novel-novel baru Indonesia, dan lebih banyak membaca John Grisham. Sampai kemudian terpikat lagi pada Laskar Pelangi dan tiga novel berikutnya dari Andrea Hirata …

    Terimakasih liputannya tentang Gola Gong, Mas Daniel. Membuat saya ingin mengenal karya penulis hebat ini.

    Tuti Nonka, terakhir menulis Leave Me Alone, Genie …

    DM: Wah, nama-nama novelis yang Ibu baca cukup dahsyat juga, Bu Tuti. Perlu juga membaca novelis-novelis luar. Bahkan harus. Tapi tentu tanpa melupakan novelis Indonesia sendiri. Tak kalah hebat kan, Bu.
    #
    Sama-sama. Terima kasih, Bu Tuti.

  24. Salam Kenal Mas DM,Aku sih sebenarnya kenal mas DM dari buku lupusnya mas hilman.hehehehhe.
    Gola Gong yah meski aku terlambat kenal dengan mas GG tapi habis itu aku menyantap tiap karangannya. 10 seri balada si roy ,tembang kampung halaman dll, tulisannya selalu penuh kritik sosial (apalagi jaman balada si roy,kegelisahan dan anti kemapanan begitu kental).Dan Memang sejak gabung ke FLP mas gong lebih religius,kumpulan cerpen yg gabung dg helvy tiana rosa dkk begitu kental aroma religinya meski tetep penuh kritik sosial.
    Lebih2 setelah mas gong membuka Rumah Dunia semakin salut saja aku dg upaya pencerdasan masyarakat yg di gaungkan mas gong.
    BTW mas DM salam ya buat mas gong dan keluarga juga mas toto st radit yg puisinya hampir selalu membuka penggalan cerita mas gong.
    Semoga sukses mas DM.

  25. TENGKU PUTEH says:

    Membaca kisah Gola Gong membuat Abu teringat nasehat almarhum bapak

    “Disaat engkau tetap bangga dengan keterbatasanmu walaupun orang lain merasa malu jika diposisimu padahal sesungguhnya itulah keadaanmu yang sebenarnya tanpa menutupinya malah engkau mensyukurinya maka engkau telah membuat kebanggaan dimata orang tuamu”.

    Indonesia beruntung memiliki tokoh seperti beliau, dan bung DM sangat beruntung jua bisa bertatap muka dengan beliau…

    TENGKU PUTEH, terakhir menulis AROMA PEREMPUAN HIJAU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>