Aku, Anak Matahari
Aku kehilangan tangan kiriku sebatas sikut di usia 11 tahun pada Oktober 1974. Setelah itu, Bapak dan Emak mempersiapkanku dengan cinta agar aku bisa menghadapi kehidupan yang keras tanpa merasa rendah diri (Gola Gong)

Orangtua mana yang menginginkan anaknya lahir cacat? Siapa pun di dunia ini tidak ada yang menginginkan mempunyai anak cacat. Semua orangtua ingin anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna di masyarakat. Namun, takdir berbicara lain, siapa pun tak dapat menolaknya.
Begitu lah sepenggal paragraf di cover belakang buku terbaru karya Gola Gong, Aku, Anak Matahari, terbitan Penerbit Semesta (Salamadani), November 2008. Apa yang Gola Gong tulis? Novel kah? Ternyata bukan. Rupanya ia merawi sebuah memoar perjalanan hidupnya. Sebuah memoar pendidikan keluarga di mana peran orangtua sangat mempengaruhi perjalanan hidup seseorang.
Waktu aku SMP, jujur saja, gaya tulisanku bernafaskan Hilman Hariwijaya, pengarang Lupus yang tersohor itu. Apa boleh buat, saat itu Hilman dan Lupus-nya memang sedang berkibar serta sangat mempengaruhi aku dalam menulis.
Tapi tiba-tiba aku terbelalak ketika mulai mendapati serial Balada Si Roy karya Gola Gong di majalah Hai pada akhir tahun 80-an. Aku tersentak. Balada Si Roy sangat laki-laki sekali. Serial seorang remaja petualang yang doyan traveling ke berbagai tempat. Berani, punya sikap, memiliki solidaritas tinggi, disukai perempuan, dan jago menulis.
Berbeda dengan Lupus, pada Balada Si Roy aku menemukan bagaimana semestinya sosok seorang lelaki tumbuh dan membentuk sikap (ini soal selera dan pilihan). Secara berangsur gaya menulisku pun mulai dipengaruhi oleh pengarangnya, Gola Gong. Lebih ngeri lagi: “seragam”-ku dalam berpakaian adalah: jeans, t-shirt yang dibungkus kemeja flanel kotak-kotak, kalung dog-tag dan sepatu gunung. Nyaris selalu seperti itu sejak SMA hingga kuliah.
Suatu hari di tahun 1994, seorang lelaki berjalan memasuki pelataran sebuah kampus di Bandung. Pakaiannya tak jauh beda dengan “seragam” yang kukenakan. Namun satu hal yang membuatku tersentak: tangan kiri lelaki itu buntung sampai sesikut. “Gola Gong!” bisikku berdebar.
Sontak aku mendekati lelaki itu. “Mas Gong?”
Lelaki itu menoleh, tersenyum. “Oh, bukan. Saya saudara kembarnya.” balasnya sableng. Aku pun tertawa mengulurkan tangan.
Rupanya ia hendak ke kantor pos yang ada di kampusku. Aku pun mengantarnya sembari dengan norak terus berusaha mengajaknya ngobrol. Maklum, ketemu idola!
Selama di kantor pos kecil itu, kami sempat berbicang tentang buku-bukunya dan juga cerita perjalanannya sepulang keliling Asia. Aku hampir tak percaya bahwa aku dapat bertemu dengan idolaku. Seorang penulis yang karya-karyanya kukagumi. Yang tulisan-tulisannya sedikit banyak membentuk karakterku sebagai lelaki. Tak berlebihan jika kukatakan: Gola Gong adalah guruku secara tidak langsung.
Seusai menyelesaikan urusannya di kantor pos, ia pun berkata, “Antar aku ke depan ya, Dan.” dan aku mengantarnya sampai naik angkot sembari cangar-cengir. Gola Gong saat itu kerja sebagai wartawan di Group Kartini, dan sedang melakukan liputan di Bandung.
Sejak itu aku tak pernah absen untuk mengikuti semua karya lelaki kelahiran Purwakarta, 15 Agustus 1963 itu. Meski aku cukup tersentak ketika Gola Gong bergabung dengan Forum Lingkar Pena, dan gayanya dalam menulis mulai berubah. Tak ada lagi garangnya. Tak ada lagi sikap nakalnya. Ada atmosfir yang berbeda. Terasa lebih santun, lembut, dan bersahaja. Kuakui, cukup lama, bahkan hingga tahunan lamanya waktu yang kuperlukan untuk dapat beradaptasi terhadap karya-karya Gola Gong sesudah itu.
Hingga aku menemukan pencerahan tersendiri: makin kemari setiap manusia pada dasarnya akan mendekatkan diri pada Tuhan. Bukan terus terlunta-lunta di perjalanan. Sehingga aku dapat mengunyah kembali karya-karya Gola Gong. Lagi-lagi kudapatkan itu pada karya-karyanya.
Ketika Gola Gong menikah dengan Tias Tatanka dan membangun Rumah Dunia, lagi-lagi aku menemukan pencerahan baru. Betapa pasangan itu menjadi sosok panutanku dalam membangun keluarga. Dan konsep Rumah Dunia sungguh merupakan impian terbesarku.
Hingga aku memberanikan diri untuk mengundang Gola Gong datang ke toko bukuku untuk sebuah acara. Sudah banyak sastrawan Indonesia yang mampir dan bikin acara di toko bukuku. Dari mulai Sapardi Djoko Damono, Martin Aleida, Fira Basuki, Dewi Lestari, seluruh keluarga Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lagi. Tapi rasanya masih kurang lengkap jika idolaku belum mampir dan bikin acara di sana.
Maka ketika Gola Gong mengiyakan dan bersedia mengadakan bincang buku di toko bukuku, betapa girangnya aku. Acaranya semarak. Puluhan orang datang. Menyaksikan film Rumah Dunia, berbagi cerita tentang dunia penulisan, dan bertemu langsung dengan Gola Gong. Aku bertemu dengan idolaku secara leluasa! Sejak itu kami kerap saling e-mail, telpon, dan SMS hingga kini.
Hanya ada beberapa penulis yang mampu membuatku tersentak dan malu setengah mati akan produkvitasnya dalam menulis. Kedua adalah Pramoedya Ananta Toer. Betapa ia mendedikasikan seluruh hidupnya pada dunia kepenulisan. Ketika ia dituduh PKI dan dibuang ke Pulau Buru, tanpa bekal referensi apa pun, dan dengan mesin ketik rombeng, ia mampu membuat karya-karya masterpiece-nya. Dalam keadaan terbatas seperti itu.
Karya-karya yang dibuat dalam suasana terpenjara, kerja paksa dan penyiksaan seperti itu malah justru merupakan karya-karya Pram yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di seluruh dunia. Pram pun berulang kali dicalonkan sebagai peraih hadiah Nobel Sastra dari Indonesia.
Bandingkan dengan keadaanku saat ini di mana hidup di alam kebebasan penuh. Dapat mencari buku apa pun yang kuinginkan. Dapat mengunjungi perpustakaan mana pun yang ada. Serta memiliki akses internet secara luas. Betapa malunya jika tak menelurkan karya apa-apa. Ngapain saja terus?
Dan yang pertama adalah Gola Gong. Penulis yang menulis dengan mesin ketik satu tangan. Satu tangan! Oke sekarang sudah pakai komputer, tapi tetap saja ia produktif dengan satu tangan. Ia menggendong ransel, keliling Indonesia, lantas Asia. Ia tetap produktif menulis dengan satu tangan! Satu tangan! Betapa malunya aku jika tak dapat menelurkan karya apa-apa. Ngapain saja?
Maka di buku Aku, Anak Matahari kita dapat menemukan perjalanan hidup Gola Gong dalam meraih apa yang menjadi impiannya. Ia seolah ingin memberi contoh pada kita: keadaan terbatas bukan merupakan alasan untuk tidak berkarya. Seperti apa yang diceritakan Gola Gong atas penuturan orangtuanya:
Bagi mereka, sebaik-baiknya aku sebagai manusia adalah bermanfaat bagi orang lain. Menjadi pengarang dan terkenal bagi mereka tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa berguna bagi orang lain walaupun hanya berlengan satu.
Saat pergi ke acara Indonesia Book Fair pertengahan November lalu, aku duduk semobil dengan Tasaro dan Ali Fridi, para Managing Editor dari Penerbit Salamadani. Di tengah perjalanan mereka menyodorkan buku Aku, Anak Matahari dan menanyakan pendapatku tentang buku Gola Gong tersebut. Aku hanya sempat membuka-buka sejenak buku itu.

Kalau bukan karena seorang teman yang memberi tahu tentang ucapan terima kasih Gola Gong di buku itu, sebelumnya aku tak pernah tahu apa saja yang ditulis Gola Gong di halaman itu.
Dan di paragraf sesama penulis, Gola Gong menulis: …Daniel Mahendra si penganyam kata, yang selalu mendukungku…
Kalian tahu betapa seperti apa perasaanku? Bukan karena nama kita tertera di buku seorang penulis yang kebetulan kita kenal. Juga bukan karena kebetulan kita adalah temannya. Tapi lebih dari itu: nama kita ditulis oleh seseorang yang kita kagumi dan dijadikan panutan oleh banyak orang di negeri ini.

Nah, Mas Gong, selamat atas anugerah XL Indonesia Berprestasi Award 2008 untuk Kategori Pendidikan. Kau memang layak untuk itu! Bahagia, sukses, dan sehat selalu.
Dirgahayu!
28 November 2008 | 21.58 wib
Foto-foto: dari www.golagong.com


Wah Niel, aku sendiri sempat punya “impian” bertualang dengan lelaki beransel biru dan sempat punya anjing yang mati tenggelam di laut
Bad boy selalu menarik haha Salam buat Mas Gong ya. Kok aku belum lihat bukunya sih? Kalau mau cari, di mana?
iJuls last blog post..Benny n Mice
Seorang teman pernah bilang: ‘Yek, kenapa ya orang2 baru mensyukuri setelah melihat orang2 yang kurang beruntung dan selalu merasa kurang kalo lihat orang2 yang sukses. Bukannya seharusnya kita susah liat orang susah & senang liat orang senang?’
Dan kujawab: ‘Malah orang2 yang kurang beruntung itulah yang berkelebihan. Lebih sabar, lebih gigih, lebih rendah hati, lebih besar hati. Dari orang2 seperti itulah aku terpacu untuk lebih lagi.’
PS: Maaf, komennya (agak) panjang
piyeks last blog post..The Wedding Part 2: Pemberkatan Nikah & Resepsi
Sempat juga merasakan kemeja flanel kotak-kotak,
waktu itu saya selalu meniru apa yang di perbuat kakak saya no.1
Suka Lupus, saya juga ikut suka. Lalu Gola-Gong, saya suka juga.
Well, Sukses buat Mas Gong.
Sukses juga buat mas Daniel … saya tunggu masterpiecenya!
mascayos last blog post..Lidah saya keseleo
wah, ternyata mas daniel mengagumi karya2 gola gong. dulu waktu masih kuliah semster2 awal, saya cukup mengagumi karya2nya. bahasanya lincah, karakter tokohnya juga kuat. waktu bikin reportase gaya jurnalisme sastranya juga keren. sayangnya, saya berlum pernah ketemu dg gola gong. tolong sampaikan salam saja buat beliau, mas daniel, hehehe …..agaknya mas daniel cukup akrab dg gola gong sampai2 namanya tertulis di buku aku-anak matahari. sebuah persahabatan yang indah.
ops…, memoar diri gola gong? buku yg wajib saya miliki kayaknya.
sama seperti mas daniel, dulu setelah hilman dan muncul nama baru dg serial petualangannya, saya takjub dan menyukai gaya mengarangnya (tetapi tidak sampai gaya hidup kesehariannya). balada si roy penuh daya pukau bagi saya dan perjalanan asia-nya adalah sesuatu yg luar biasa.
yg membedakan barangkali adalah mas daniel kenal akrab dan ketemu langsung, kalau saya waktu di padang dulu gak pernah ketemu.
cerita tentang gola gong justru banyak saya dapat dari gus tf, kakak sekaligus tempat saya banyak belajar nulis saat di padang.
punya banyak stok buku terbarunya mas daniel? saya mau pesan, bayar lho… kecuali bila mau ngasih gratis. he he….
gola gong? saya tak ketemu sama nama itu. zaman saya mungkin anak2nya pada suka karyanya fujiko F fujio. penulis lokal yang lain semisal hilman pun udah gak ketemu di zaman saya, entah saya yang kurang tahu
bdw, mas DM sejak dari SMP menulis ya? salut deh
aku cucunya
saya baru tau kalau gola gong melakukan aktivitas menulisnya dengan hanya berlengan satu. saya kagum, dengan segala keterbatasan yang ada, justru gola gong dan pak pram bisa menghasilkan karya terbaik dan begitu produktif. thanks untuk sudi membagi kisah ini DM. Ini bisa jadi motivasi buat saya
suhadinets last blog post..Motivasi Belajar—Sensitif dan Tanggap Terhadap Siswa yang Membutuhkan Bantuan
Setiap karakter ditempa oleh banyak faktor yang ada disekitarnya dan didapat dari orang-orang yang mempengaruhinya.
Menjadi siapa kita, bergantung pada orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan hidup kita.
Beruntungnya orang-orang yang berkesempatan bertemu orang-orang yang dapat menginspirasi untuk belajar, berkarya dan menghasilkan…..
Kok waktu SMP gak pernah liat mas kunyah-kunyah permen karet ya….. dududu………
saya pengen menulis resensi dari buku “Aku, Anak Matahari” dan mengirimkannya ke media cetak. tapi saya masih bingung media cetak mana yang sesuai dengan buku ini.
ada rekomendasi mas?
terima kasih…
sitas last blog post..…lelaki itu…
Wow….
saya belum pernah membaca bukunya Gola Gong, maklum saya memang bukan pembaca buku…
Tetapi sejak ngeblog saya semakin tertarik untuk membaca buku. Dan saat ini sudah banyak sekali buku yang siap saya baca. Mulai dari buku Indoneisa sampai buku yang dikoleksi oleh Marvin. Saya merasa senagn sekali bisa mengenal orang-oranag hebat seperti mas DM dan sastrawan Indoneisa yang lain. Thanks
Yuliss last blog post..THANKSGIVING WEEKEND
Setiap orang ternyata punya idolanya masing-masing ya mas, dan memang kebahagiaan yang luar biasa ketika kita bisa bertemu dengan yang kita kagumi seperti yang dialami Mas Daniel, srlamat ya mas
achmad sholehs last blog post..Saat Kesempatan Menjadi Barang Langka
Diberkatilah orang yang bisa menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.
tantis last blog post..The Rain and Us
Indah Niel, bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Pasti kamu telah memberikan sesuatu yang berarti pula untuk Gola Gong. Selamat ya. Aku baru bertemu sekali dengan Mas Gong (sok akrab mode on) dan keluarganya di IBF yang tahun lalu, itupun karena suatu “kebetulan”. Aku bisa merasakan aura keluarga yang sangat harmonis dan menyenangkan. Terima kasih, kamu sudah pernah menyemangatiku dengan menceritakan semangat Mas Gong dan sebenarnya waktu itu aku berkelu. Salam buat Mas Gong dan keluarga, kelak aku ingin bertemu lagi dan menimba pelajaran hidup di Rumah Dunia.
*Balada si Roy adalah salah satu favoritku sampai kapan pun*
Yogas last blog post..Menemani Si Mungil Sarapan
wah aku inget sama Gola Gong ini… soalnya dulu aku juga suka baca hai… gaya tulisannya juga aku apal banget waktu itu… tapi begitu kakak aku berenti langganan hai, aku juga kehilangan kesempatan buat ngikutin lagi… huhuhuuu beliau sudah nampak “matang” sekarang ^^
carras last blog post..Are You Strong Enough to be a MAN?
btw… minta ijin buat nge-link mas DM ^^
carras last blog post..Are You Strong Enough to be a MAN?
dmn ky bs dapetin bukunya bang danil….
ne buku hrs ky baca dan miliki secepatnya….
bs tlg dbantu tdk bang…..
thax sebelumnya…….
PS :maap komennya sembari ngrepotin neh….:)
ricness last blog post..Akhirnya datang juga dan tidak kebetulan (Part II)
Membaca posting mas Daniel ini, saya merasa aneh pada diri sendiri. Ternyata bertahun2 saya telah meninggalkan hobi saya sejak kecil, membaca karya2 sastra. Sekarang mungkin kebanyakan membaca nonfiksi. Sekarang dengan posting mas Daniel ini, keinginan kembali ke hobi lama menjadi muncul kembali, sehingga dapat merasakan kenikmatan tulisan sastrawi, yang memiliki aroma afeksi tersendiri.
Terima kasih mas Daniel, berkat tulisan mas Daniel, saya kembali ingin membaca karya2 sastra. Salam hangat
Aku ketemu Mas Gong itu pas IBF kemarin. Duduk di banyak fans yang berjubel melihat talkshow Aku, Anak Matahari. Meskipun sudah tahu tentang Balada si Roy di majalah Hai-nya Bro, tapi aku nggak pernah tahu tentang Gola Gong. Soal tangannya yang (ternyata) hanya satu itupun, aku baru tahu dari postingan DM beberapa waktu yang lalu.
Kemarin di IBF, benar-benar aku manfaatin untuk ngobrol sama dia. Malah diajakin jualan buku bareng! Sumpah, malu banget.. Masa aku harus pegang buku dan jualan gitu… Sampai-sampai si Mas Gong menulis pesan di bukunya yang aku beli: “Buat Lala Purwono, jadi perempuan jangan malu!” hahahaha… bener-bener deh…
Dari talkshow waktu itu, aku menyerap banyak sekali pelajaran. Kisah-kisah hidup Mas Gong benar-benar layak menjadi inspirasi siapa saja. Bahkan dengan satu tangan pun, dia sangat jagoan main badminton! Bahkan ketika lengannya putus pun, dia malah cengar cengir saat diphoto! Orang tua yang hebat… Salut sekaliii…
Over all..
Aku memang hanya kenal Mas Gong lewat bukunya Aku, Anak Matahari. Beruntung banget aku sempat ketemu… Dan beruntung banget, aku bisa berteman dengan sahabat si Mas Gong yang juga nggak kalah hebatnya… Daniel Mahendra.. yang mungkin sekarang cengar cengir GR karena aku muji2 dia… wakakakakakakaka…
aduh..
salah dikit nih, aku ralat yaa:
Orang tua yang hebat.. Salut sekali.. karena telah membesarkan hati si Anak dan membekalinya dengan semangat yang luar biasa sehingga Mas Gong tidak merasa rendah diri… tidak berbeda dengan yang lain, meskipun lengan kirinya diamputasi sebatas sikut…
Cerita yang indah Daniel…dan ternyata saya belum pernah membaca buku Gola Gong satupun….ntar kalau udah longgar, akan mulai membaca bukunya…Gramed udah dekat rumah, ingat? Dan ada janji, sekian persen dari honor ngajar untuk beli buku..jangan hanya buku manajemen dan keuangan (yang untuk bahan ngajar lagi0..tapi juga buku2 lain yang mencerahkan.
Duhh ingat buku, jadi ingat pesan Lis (menantuku) untuk menulis resensi buku Merger & Aquisition, yang saya beli di IBF kemarin…(padahal baru dibaca secara skimming)
edratnas last blog post..Perjalanan Jkt-Sby-Papua
Yang penting adalah kita menjadikan diri kita ‘berguna’ buat orang lain secara ikhlas. Bahkan memberikan dorongan dan motivasipun sudah jauh lebih dari cukup. Mari kita sebarkan bantuan minimal dorongan bagi mereka yang membutuhkan. Cacad tubuh memang seharusnya bukan jadi halangan……
**jadi ingat Hee Ah Lee, pianis Korea yang hanya punya 4 jari. Setiap kali saya mendengar resital pianonya, hati saya benar2 bergetar…..**
Yari NKs last blog post..Dari Tasbeh Alami Hingga Tasbeh Elektronik…
lho, perasaan tadi malam aku udah nulis komen. eh, gak masuk ya….wah,wah…
), bisa jadi karena itu juga, karena sampai habis kuliah, sepatu gunung adalah wajib.
oke deh aku ulang. Gola Gong eh, sebenarnya Roy, sempat mempengaruhiku juga.
yang aku ingat sampai sekarang adalah ‘enduro’nya yg setia menemani kemana2.
dan mungkin kesukaanku akan sepatu boot (untuk kerja juga
mungkin mas Gong, nggak tahu waktu itu, ada seseorang yang setia menanti terbitnya majalah Hai, hanya gara2 ulah si Roy dan tentu saja Lupus !
baru tau, di postingan ini,
tapi itu sama sekali tidak sedikit pun membuat dia tercela, justru
semakin kagum
karena hasil karyanya…amat sangat DAHSYAT…..
salam sukses selalu buat beliau ya DM
Setiap manusia dilahirkan UNIK, dan saya yakin keunikan itu menciptakan hal yang luar biasa…
Kisah yang menginspirasi…
Bagaimanapun Nasi sudah menjadi bubur, sekarang tinggal bagaimana mengolah bubur tersebut menjadi santapan yang lezat,
Sebagian besar kejadian yang menimpa diri kita adalah nasi yang telah menjadi bubur, jadi kita tinggal menyiapkan Cakwe, kecap asin, sambal, krupuk, potongan ayam, kuah kari dst…
Hidup ini adalah anugrah yang setiap saat dan setiap kejadiannya patut untuk kita syukuri….
Terima kasih karena telah mengingatkan dan berbagi bersama…
@Lala
LOh La…
ada ya beliau kemaren???
kok gak liat??
yessy muchtars last blog post..GUE = NARSIS
Masih mencoba mengingat..
Beliau ada di mana…
yessy muchtars last blog post..GUE = NARSIS
saya ada membaca tulisan2 Gola Gong, tapi baru di posting ini saya tahu ttg person-nya
salut utk Pak Gola Gong juga mas Daniel Mahendra.
Kang Nurs last blog post..Psikoanalisa Politik Publik: Empat Model Adaptasi Mental Keturunan Anak Bangsa Terjajah
saya penggemar gola gong juga mas DM. saya sempat mengikuti berita beliau waktu mau kawin dan bikin rumah dunia…saya udah baca salah satu novel nya yang menceritakan soal rumah dunia itu…bagussssssssssssssss
imoes last blog post..Akhirnya Datang Juga – Jangan Ngiri Ya…..
selamat buat pak Pak Gola Gong atas prestasinya
Kebesaran hati mas Gola Gong ditunjukkan dengan terus berprestasi dalam keterbatasannya, dan itulah syukur nikmat. Mungkin karena senantiasa bersyukur itu rejekinya terus ditambah, sehingga beliau menjadi kian produktif dan bijaksana. Salut buat mas Gola Gong yang mampu menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk si Goniel yang once wanted to be a roy. Haha! Kebayang deh noraknya! (meski cuma bisa ngenet dengan hp aku tetap harus bersyukur, malu sama mas Gola Gong, secara ya, kita berdua tuh sama-sama mas-mas gitu, Gon!)
Mas melos last blog post..Gold Coast Day1: The Three Backpackers
Menemukan pengakuan seorang playboy di komentar #5..
Yogas last blog post..Menemani Si Mungil Sarapan
Pagi Niel, sorry nyampah.. tapi gak tahan untuk gak komen. dan maringakak bersama-sama.
)
Yogas last blog post..Menemani Si Mungil Sarapan
Wah, senangnya bisa disebut sang idola dalam bukunya.
Semua beban dan lelah rasanya hilang sudah…
Iya nggak?
Puas-puas…
He he….
Sekali lagi, selamat atas pertemanannya dengan sang idola…
aku juga belum baju satupun bukunya, rugi bgt ya..nanti klo jalan ke toko buku kau cari deh…aku mendengar namnay dan pasti orang hebat, aku kira bukan orang Indonesia….
dewisangs last blog post..Anak Sekolah Biang Kemacetan?
Saya sudah sering baca karya Gola Gong
postingan ini membuat saya semakin
tahu banyak soal Mas Gong
Mas Gong memang patut dikagumi
karya-karyanya sll educated and inspiring
Thanks bro
mikekonos last blog post..Politik Bencana, Bencana Politik
saya patut membacanya tuh
itu sekilas masalh anak cacat yang memberikan informasi
sukses mas mau cari2 bukunya dulu
Gong memang punya satu tangan tapi punya ‘empat’ kaki. Semangatnya tinggi banget. Empat tahun (Sekarang mulai jarang aktif) aku jadi relawan di Rumah Dunia. GG nggak pernah patah semangat. Satu kegiatan belum selesai, dia udah ngerancang kegiatan lain di Rumah Dunia. Bahkan pada saat dirawat di rumah sakit karena pengapuran, Gong masih sempat bikin naskah.
Apakah kang DM juga akan hadir pada Ode Kampung di Rumah Dunia pada 5-7 Desember mendatang????
qizinks last blog post..Melahirkan Jelang Ikut Tes CPNS
HHmmm …
Ini postingan yang inspiratif mas Dan …
Dan jujur saja …
Saya baru tau …
Kalau Gola Gong itu lelaki
Dan ternyata hanya mempunyai satu tangan …
Thanks Mas Dan …
DM: Gola Gong bukan saja contoh nyata orang yang berani bermimpi. Lebih dari itu, ia membangun mimpinya dan mewujudkannya sebagai pengejawantahan dari cita-citanya. Bisakah kau membayangkan mengetik dengan satu tangan? Dan kau tahu betul: ia tak sekadar mengetik. Ia membangunkan cita-cita orang banyak.
Kalimat ini yang selalu membuatku berkelu dan teringat betapa sejauh ini kemajuanku hanya pada SEMANGATKU, belum mengejewantah.
terima kasih mas daniel. pekalongan kta kecil. karya-karya atau buku terbaru biasanya setengah tahun atau setahun kemudian baru muncul di toko buku. kasihan deh.
alamat pos saya:
Zulmasri
SMA Al-Irsyad
Jalan Seruni 66A Pekalongan
51123
Sekali lagi trims bila mas daniel berkenan mengirimkan karya gong terbaru.
terima kasih mas daniel. pekalongan kta kecil. karya-karya atau buku terbaru biasanya setengah tahun atau setahun kemudian baru muncul di toko buku. kasihan deh.
alamat pos saya:
Zulmasri
SMA Al-Irsyad
Jalan Seruni 66A Pekalongan
51123
Sekali lagi trims bila mas daniel berkenan mengirimkan karya gong terbaru.
Zulmasris last blog post..Ketika Suatu Kali dala Hujan
cm mo ngucapin salam kenal aja, kl ada waktu mampir yah …
wellys last blog post..10 donatur terbesar (US) bagi kemanusiaan
weh, rupanya pake acara pembagian buku, ya?
aku juga pesan satu deh, goniel!
*asas manfaat*
minta buku jugas last blog post..Gold Coast Day1: The Three Backpackers
Mas DM, hehehe menunggu aku menikah ? TAPI KATANYA AKU MASIH MEMBURU CINTA hahahahahaha mas Dm yang bilang begitu kan hahahaha, atau kalau ke bandung cariin aku peuyeum ya hahahahaha
imoes last blog post..Akhirnya Datang Juga – Jangan Ngiri Ya…..
wah, Daniel tolong sampaikan salam hormat saya pada Gola Gong. Btw, pas SMP kayaknya Balada Si Roy udah muncul deh, bergandengan tangan sama Lupus-nya Hilman di HAI….ah, sweet 80′s hah?
sekali lagi, salam hormat
saya jadi ingin membaca tulisannya.. duh.. ada yang bisa exspor bukunya ke malaysia gak yah??
Wuih… sangar
DVs last blog post..Antara Anjing, Gitar dan Tunggonono
Ya,ya, bensin yang tak dipakai lama-lama bisa menguap, bisa aja kamu, Niel. Meski semangat itu tak persis serupa Bensin sifatnya. Btw, Goniel? Hehehe
Yogas last blog post..Log of Second Day
Merhatiin mas Niel waktu SMP? hihihi…..
Merhatiin temennya mas Niel sekelas kaleee
mentang-mentang? mentang-mentang apa, goniel? mentang-mentang kamu baik? ya, emang kudu dimanfaatin dong!
aku baru tau loh kalau toko buku kamu ternyata hebat, pernah dijadikan ajang acara bicang-bincang dengan tokoh sastra.
makanya bagi-bagi buku! bloger lain yang gak punya toko buku aja bagi-bagi, masak kamu nggak? berbagi tak pernah rugi! ceilah!
(karena pengaruh bagi-bagi buku di blog-blog lain begitu kentalnya, aku jadi ngarep pembagian gratis mulu loh kalau ke mana-mana, seolah-olah buku itu gimmick aja gituh, bisa dapat gratis asal cepat masuk list. wakakakak!)
tunggu! tunggu! ada yang aneh ini!
setelah segala dandananmu yang imitate roy gitu: kaos dalam, kemeja flanel kotak-kotak, sepatu gunung, dan dog tag, mas GG (kayak obat batuk deh kalau disingkat, gliseril guaijakolat. maaf, mas gong) masih gak salah manggil nama kamu?
kalau aku jadi dia sih, udah pasti aku ngomong, “antar aku ke depan ya, roy.”
soalnya mesti berkesan banget deh penampilan kamu itu.
(eits, jangan ngomong: “itu tahun berapaaaa….”)
Aku belum pernah baca karya Gola gong, tapi ntar mo cari ah..
Btw aku ngefans banget ma Pramoedya Ananta Toer, tapi kini aku punya idola baru
kak Daniel Mahendra..^^
aku suka banget baca postingan kakak..
Boleh kan…
redesyas last blog post..Jangan Pergi
@Ni HY aka “aku, anak manusia”…
Huahaha pinter….akur banget deh, berbagi tak pernah rugi. Pembagian buku bisa jadi gimmick blog marketing selain kaos, pin dan teman-temannya. Hmm jadi mikir, kok pola blogger sama kayak parpol?
Yogas last blog post..Untuk Kekasih-Kekasih Kecil
mas daniell… im your biggest fanss……..
sepertinya… idolaku mas mahendra deh…
aku suka membaca tulisan-tulisan di blognya mas mahendra…
selamat ulang tahun ya mas…
eh, kog jadi ulang tahun yaaa…
ini cerita soal apa siiiiiih…???
award ya?
hmmm salam kenal..
kalau untuk karya tulis, saya kurang pengalamannya..
tapi kalau gaya t-shirt, kemeja flanel, jeans & sepetu tracking. saya punya. ditambah ransel bervolume besar siap masuk ke dalam rimba belantara…
senang berkenalan dengan anda..
ardianzzzs last blog post..Foto Alam & Lingkungan
dapat honor? dapat ya? udah lupa tuh…yang pasti ingat ya honor dari antologi puisi SMPN 2 itu diantar sendiri oleh Ketua OSIS kita ke rumah…
kalo ga salah 7 puisi, dapat 7000 rupiah, jadi satu puisi 1000 rupiah, setara harga beras sekilo saat itu. kalo itungan inflasi sekarang, satu puisi ya sekitar 7000 rupiah sekilo *halah*
terus jadi apa duit 7000 tadi? jadi kaset (!!)
kyaaaaaaaaaaaaaa… masi inget utang oreonyah >.< … ga takut kandungan melaminnya mas DM…???
*ngles biar ga ditagih*
carras last blog post..Are You Strong Enough to be a MAN?
@yoga:
pastinya, yo! berbagi tak pernah rugi.
bloger seperti parpol? hihi! istilah baru dong nih.
udah, ah. mau cabut dulu!
PS. goniel, perlu aku tulis alamat pengiriman juga?
inga, inga, berbagi tak pernah rugi! *ting*
ah aku ketinggalan banyak…. kemana saja aku selama ini? Oh ya, kebetulan ada pemakaman akhir minggu lalu.
Bukan! Bukan akhir-akhir ini…tapi karangan Gola Gong yang lalu-lalu? Hmmm aku terlalu banyak belajar? rasanya tidak juga. Dan ada waktu vakum 16 tahun aku berada di negara antah berantah. Hmmm sudah waktunya aku kembali ke tanah airku, ke bahasaku. Terima kasih diingatkan bahwa sesungguhnya aku banyak belum tahu penulis Indonesia.
EM
Ikkyu_sans last blog post..Beda? Harus tetap Pede!-Swimmy-
@paikiki : waa…honornya dianter sendiri mas? ama mas Deris mas? baik sekali ya……kalo mas Niel??? (hem hem…)
Kalo mas Rifky mah dah lupa ama duitnya dulu, sekarang kan udah di tempatnya departemen perduitan….hehehe
@ prameswari
itu kejadian sekitar setelah lulus SMPN 2 jadi terpaksa bapak ketua OSIS harus keliling mencari jejak para penulisnya
departemen perduitan? duit orang tapi…..
*sori, DM…jadi ajang chatting ini*
salam
pakikis last blog post..Anakku Beranjak Remaja (?)
@pakiki : eh ..iya…abis SMP itu emang mas Niel langsung ngilang, gak ninggalin jejak…makanya mas Deris gak bisa nyari…
ternyata enak juga chatting di blog orang ya….hehehe sorry mas Niel
@aku, anak manusia
Hehehe…
Btw, sorry tak meninggalkan jejak di blogmu Ni. Bukan apa-apa, agak ribet pas posting komennya.
Sorry Niel, jadi nyampah.
Yogas last blog post..Untuk Kekasih-Kekasih Kecil
Wah, aku tak banyak punya karya Mas Gola Gong, sayang sekali.
Sepertinya musti mulai berburu buku-buku beliau nih.
Atau ada yang bersedia membantu melengkapi koleksi rak bukuku?
*ngarep.com*
Wuih, mau komentar OOT ah… mau bikin rekor aja sebagai penulis komentar no 70 di blog yang jumlah postingan nya hampir 800!
iJuls last blog post..Ketemu Benny & Mice di Bandung: Bag 1
DM: Oh, si mas Niel saat itu ambil sepatu gunung, nggendong ransel, traveling keliling Jember.
Masak seh, kok masih sering ketemu di pengkolan PTP pake Honda Astrea item…., kadang2 duduk2 di bawah pohon asem deket alun2….:-)
he..he..baca.gw salah ketik mas
dewisangs last blog post..Anak Sekolah Biang Kemacetan?
Sama seperti Mbak Imelda Ikkyu_san, kemana ya saya selama ini? Kok belum pernah baca karya Gola Gong? Namanya saya sering baca, bukunya sering lihat dipajang di toko buku, tapi kok belum pernah coba buka, beli, dan baca?
Cukup lama memang saya tidak membaca karya sastra penulis Indonesia, sejak terpesona pada karya-karya Iwan Simatupang nun lama dulu. Oh, Hilman juga sempat membuat saya terhibur dengan petualangan Lupus yang gokil. Novel-novel Pramoedya, Umar Kayam, Ahmad Tohari, dan Romo Mangun adalah novel-novel yang saya baca sesudahnya. Sesudah itu lama tidak sempat ngikuti novel-novel baru Indonesia, dan lebih banyak membaca John Grisham. Sampai kemudian terpikat lagi pada Laskar Pelangi dan tiga novel berikutnya dari Andrea Hirata …
Terimakasih liputannya tentang Gola Gong, Mas Daniel. Membuat saya ingin mengenal karya penulis hebat ini.
Tuti Nonka, terakhir menulis Leave Me Alone, Genie …
Salam Kenal Mas DM,Aku sih sebenarnya kenal mas DM dari buku lupusnya mas hilman.hehehehhe.
Gola Gong yah meski aku terlambat kenal dengan mas GG tapi habis itu aku menyantap tiap karangannya. 10 seri balada si roy ,tembang kampung halaman dll, tulisannya selalu penuh kritik sosial (apalagi jaman balada si roy,kegelisahan dan anti kemapanan begitu kental).Dan Memang sejak gabung ke FLP mas gong lebih religius,kumpulan cerpen yg gabung dg helvy tiana rosa dkk begitu kental aroma religinya meski tetep penuh kritik sosial.
Lebih2 setelah mas gong membuka Rumah Dunia semakin salut saja aku dg upaya pencerdasan masyarakat yg di gaungkan mas gong.
BTW mas DM salam ya buat mas gong dan keluarga juga mas toto st radit yg puisinya hampir selalu membuka penggalan cerita mas gong.
Semoga sukses mas DM.
Membaca kisah Gola Gong membuat Abu teringat nasehat almarhum bapak
“Disaat engkau tetap bangga dengan keterbatasanmu walaupun orang lain merasa malu jika diposisimu padahal sesungguhnya itulah keadaanmu yang sebenarnya tanpa menutupinya malah engkau mensyukurinya maka engkau telah membuat kebanggaan dimata orang tuamu”.
Indonesia beruntung memiliki tokoh seperti beliau, dan bung DM sangat beruntung jua bisa bertatap muka dengan beliau…
TENGKU PUTEH, terakhir menulis AROMA PEREMPUAN HIJAU