Archive for December, 2008

Bagaimana Kalian Mendeskripsikan Liburan?

Rawian ini berangkat dari comment Goenoeng pada postingan-ku yang lalu di mana ia menulis sesuatu yang membuatku ngakak. Katanya: ternyata Penganyam Kata juga manusia… buktinya, dia butuh berlibur juga, hahaha……

Setelah ngakak aku jadi bertanya pada diri sendiri: berliburkah aku? Aku malah berpikir keras: apa definisi dari berlibur? Setiap individu pasti punya pengertian tersendiri soal liburan.

Jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri bisa diartikan berlibur bagi sebagian orang. Tapi ada juga orang yang berdiam santai di rumah, off dari pekerjaan kantor, sudah merupakan liburan tersendiri baginya. Setiap orang memang berhak mendefinisikan pengertian liburan.

Kembali ke comment Goenoeng tadi. Beberapa hari menjelang tutup tahun 2008 banyak dari temanku yang mengambil liburan. Sementara aku sendiri sebelum tutup tahun justru sedang menjemput deadline pekerjaan. Memang bukan pekerjaan kantor. Tapi meski pekerjaan pribadi tetap saja berkejaran dengan deadline toh? (DM = Deadline Man. Hehe).

Mau tidak mau, aku mesti off dari aktivitas nge-blog untuk beberapa saat. Jangankan berkunjung ke blog handai taulan, comment di blog sendiri pun tak sempat kubalas. Apa boleh buat, segalanya mesti ada skala prioritas bukan?

Continue Reading »

KM 800

Suatu kehidupan yang penuh kesalahan tak hanya lebih berharga namun juga lebih berguna dibandingkan hidup tanpa melakukan apa pun (George Bernard Shaw)

Dalam sebuah pengembaraan elektronik (baca: blogwalking), aku sengaja mencoba tidak mengunjungi blog teman-teman yang biasa kudatangi. Blog teman-teman yang biasa kukunjungi barangkali merupakan santapan sehari-hari. Tiap hari bersapa, baik mengunyah tulisannya, berkomentar, atau menerima komentar. Kali ini aku ingin ambil jalan lain.

Aku bertandang ke banyak blog kawan-kawan pekerja seni, penulis, penyair, budayawan, pemilik toko buku, distributor buku, pemain teater, sutradara, pelukis, editor, fotograger, wartawan, pemilik kafe, penyiar radio, sampai mantan pacar.

Memang, di blog teman-teman yang setiap hari kusantap pun terdiri dari berbagai macam profesi serta berangkat dari banyak disiplin ilmu. Hanya saja blog teman-teman yang kusebutkan di atas tadi merupakan habitat lamaku. Habitat di mana dulu begitu kental dengan hari-hariku. Namun ada sesuatu yang berbeda di sana. Apa itu?

Continue Reading »

Road To Sydney

Miliaran panah jarak kita, tak jua tumbuh sayapku. Satu-satunya cara yang ada, gelombang tuk ku bicara (Dewi Lestari, Recto Verso, Selamat Ulang Tahun)

Sydney tampak gemerlap, lebih benderang dari biasanya. Langit cerah berpendar, menampakkan gumpalan awan putih tipis di beberapa tempat. Angin berkesiur mendinginkan malam musim panas. Saat-saat menjelang natal begini, toko-toko tampak buka hingga malam hari. Dan kafe-kafe di saat weekend malah tumpah ruah sampai ke jalan. Sydney memang selalu menggoda pelancong untuk kembali dan kembali lagi walau sekadar untuk menciumi sisa semerbak Jacarandah yang kini tinggal daunnya saja yang menghijau.

Apa pertimbangan seseorang untuk tinggal dan menetap di sebuah kota? Karena sekolah? Bekerja? Keluarga? Orangtua? Ikut suami? Ikut istri? Pasrah tak tahu lagi apa mesti diusahakan? Atau dikutuk karena sejak bayi dilahirkan di sana, atau apa?

Tentu ada banyak ragam jawaban. Dan setiap jawaban berhak mempunyai pembenaran masing-masing. Namanya juga pilihan. Yang ironis kalaulah tak lagi punya pilihan. Pasrah pada nasib: mendiami sebuah kota selama dua abad tanpa tahu apa alasannya. Ya nggak?

Sama halnya dengan kita yang tinggal atau menetap di kota yang sekarang kita diami ini. Kita adalah wajah kota itu sendiri. So, daripada kepanjangan prolog, kita mulai saja: ada apa dengan road to Sydney? Baiklah. Aku mau cerita. Begini awal bin mulanya:
Continue Reading »

Lelaki dan Telaga

Akhir-akhir ini aku jarang menulis ‘Lirik Penggugah’ dalam blog ini. Biasanya kalau sedang gandrung pada sebuah lagu, langsung posting begitu saja. Karena sebuah lagu yang sedang menari-nari dalam kepalaku biasanya merupakan gambaran warna perasaanku saat itu.

Namun kadang aku juga berpikir: tulisan seperti itu apa manfaatnya bagi pembaca ya? Seperti tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi pengunjung yang mampir. Apa ada pelajaran yang bisa dipetik… Masa’ apa yang kurasakan di hati kok disodor-sodorkan ke publik. Itu mengapa aku mulai jarang menulis ‘Lirik Penggugah’ di blog ini.

Akhirnya aku malah mulai memasang lagu bahkan video dari imeem. Sehingga perasaanku saat itu bisa terwakili lewat lagu atau video yang kupasang. Dan lagi ketika sedang nge-blog bisa ditemani tembang yang berdentang-dentang menyelebungi atmosfir pikiran.

Ketika tengah malam biasanya aku memasang lengkingan suara Enya atau aransemen dahsyat dari London Symphony Orchestra. Tapi begitu hari memasuki jam 6 pagi, jika dalam kondisi normal (di rumah, di kantor, atau dapat akses internet secara leluasa di perjalanan), tembang sudah harus kuganti dengan beat yang lebih riang (lagu sendu tak baik untuk memulai hari).

Nah, sejak kemarin malam aku sedang tergila-gila dengan tembang Lelaki dan Telaga-nya Franky Sahilatua. Entah sudah berapa ratus kali lagu ini menyambar-nyambar telingaku. Menemani menit demi menit. Jam demi jam. Dari tarikan nafas ke tarikan nafas berikutnya. Cinta sekali aku dengan lagu ini (Thanx Mas Franky, sudah menciptakan dan menyanyikan lagu yang begitu cantik!).

Continue Reading »

Seandainya Jakarta Bukan Ibukota Negara

Seperi pelancong yang pernah pergi jauh dari rumah, lebih bijak daripada yang tak pernah. Pengetahuan akan budaya lain mampu mengasah kemampuan untuk mencermati secara mendalam budaya kita, sehingga menghargainya dengan penuh cinta (Margaret Mead)

Di zaman Hindia Belanda, kota Bandung pernah disiapkan sebagai pengganti ibukota negara. Berbagai institusi vital pun mulai dihijrahkan dan dibangun di kota Bandung. Kenapa Bandung dipilih, karena relatif dekat dengan Jakarta, suasananya tenang (saat itu), berada di dataran tinggi, serta termasuk kota baru. Namun karena perang terus berkecamuk, pemindahan itu gagal.

Di zaman Orde Lama, Presiden Soekarno pernah merencanakan memindahkan ibukota nagara dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Soekarno ingin memisahkan antara kota pusat pemerintahan dengan kota besar semacam Jakarta. Namun Soekarno keburu turun. Rencana pemindahan pun gagal.

Saat ini kita tahu sendiri seperti apa Jakarta. Kota dengan penduduk nyaris 9 juta jiwa itu menyangga beban pusat segala hiburan, bisnis, hingga pusat pemerintahan. Dan 23 juta jiwa penduduk Jabotabek nyaris beradu periuk nasi di kota yang rentan banjir itu.

Continue Reading »

Next Page »