Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, hal 52)
Suatu hari, Windy, kawanku yang kini bermukim di Denpasar itu, pernah berkelakar seperti ini:
“Rasanya Tuhan kok nggak adil ya, Dan.”
“Hus! Nggak adil gimana? Sembarangan kamu!”
“Coba kamu pikir, indah betul perjalanan hidup Annisa Larasati Pohan itu.”
“Annisa? Indah bagaimana?”
“Sudah cantik, anak pejabat BI, berpendidikan, penyiar radio, model, menikah dengan perwira TNI, yang bukan kebetulan bermertua presiden. Apa nggak indah itu?”
“Hahaha! Jalan hidup orang kan beda-beda, Ndi. Jangan salah, banyak juga orang yang nggak seberuntung kamu.”
“Justru itu aku bilang Annisa itu beruntung banget jalan hidupnya.”
Aku jelas hanya ngakak mendengar kelakarnya. Tapi, betulkah seberuntung itu jalan hidup Annisa Larasati Pohan, model yang cantiknya memang gilang gemilang itu? Sulit untuk menjawabnya. Karena jalan hidup seseorang memang berbeda-beda. Dan untuk semua itu tak ada parameter setepat-tepatnya untuk mengukur jalan hidup seseorang beruntung atau buntung.
Seorang anak tukang patri akan merasa beruntung setengah mati bahwa selama sekolah ia mendapat beasiswa sehingga tak pernah membebani bapaknya yang tukang patri. Seorang anak konglomerat tak pernah pusing dari mana dapat uang dan bekeja di mana kelak. Karena ratusan perusahaan ayahnya siap diwariskan padanya. Seorang ibu yang ditinggal mati suaminya bisa bangga tiada tara ketika anak sulungnya sudah bekerja dan bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Semua hanyalah contoh-contoh kecil betapa kita, manusia, bisa merasa beruntung dengan segala apa yang ada pada diri kita.
Beruntungkah Annisa? Tentu saja kita tidak bisa memberikan penilaian secara gegabah atas hidup orang lain. Ia memang putri Aulia Pohan, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia juga memang menantu dari Presiden SBY. Namun kini Aulia Pohan, ayahnya, diciduk juga oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan ditahan di rumah tahanan Brimob Kelapa Dua, Jakarta. Aulia ditahan (di Blok B, satu blok dengan mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Rusdihardjo) dengan tuduhan terlibat dalam menetapkan putusan penggunaan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia senilai Rp100 miliar (Tempo, Edisi 1-7 Desember 2008, hal 96-97).
Terlepas dari kasus itu, ini memang menjadi preseden menarik di mana KPK berani melakukan penahanan atas besan Presiden Yudhoyono. Sesuatu yang barangkali merupakan hal yang mustahil di “zaman dulu” di negeri ini.
KPK memang lembaga independen. Seorang presiden sekalipun tak bisa begitu saja melakukan intervensi. Namun, sebegitu hebatkah Presiden SBY sehingga bisa membiarkan orang tua menantunya ditahan atas tuduhan kasus korupsi?
Secara pribadi aku menilai hal tersebut sebagai langkah jujur dan gagah. Baik pada lembaga yang dipimpin oleh Antasari Azhar maupun pada Presiden SBY itu sendiri. Bukankah ini jarang terjadi? Bukankah ini progres yang positif bagi atmosfir kehidupan bernegara di Indonesia? Seorang besan, bayangkan!
Tapi jangan lupa, kita hidup di negara yang menganut paham sinisme. Sinisme? Ya. Sinisme terhadap apa pun. Sesuatu yang positif di mata orang lain bisa dianggap sebagai olok-olok yang menggiurkan bagi sebagian orang. Tak sedikit kudengar suara-suara yang menganggap hal tersebut justru dijadikan bedak dan gincu bagi Presiden SBY dalam menghadapi suksesi 2009. Yang BBM diturunkan lah (meski tidak signifikan), hingga penahanan besan sendiri.
Jangan salah, aku bukan anggota Partai Demokrat, aku juga bukan pendukung Presiden SBY tanpa alasan. Aku hanya mendukung sesuatu yang baik bagi kehidupan negara. Apa pun itu. Siapa pun itu. Bukankah sesuatu yang baik layak untuk diperjuangkan?
Kalau sudah seperti itu, beruntungkah Annisa Larasati Pohan? Ah, tak perlu benar dijawab. Ini hanya diskusi kecil kok.
Bandung, 2 Desember 2008 | 16.50 wib





salam kenal mas DM…
beruntung tidak beruntung hidup kita ini tergantung dari sudut pandang siapa yang melihat…
menurut saya sih begitu
-indie-
indie, terakhir menulis dont judge a book by its cover