penganyamkata.net
current   |   rss

Lelaki dan Telaga

Published December 18, 2008

Akhir-akhir ini aku jarang menulis ‘Lirik Penggugah’ dalam blog ini. Biasanya kalau sedang gandrung pada sebuah lagu, langsung posting begitu saja. Karena sebuah lagu yang sedang menari-nari dalam kepalaku biasanya merupakan gambaran warna perasaanku saat itu.

Namun kadang aku juga berpikir: tulisan seperti itu apa manfaatnya bagi pembaca ya? Seperti tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi pengunjung yang mampir. Apa ada pelajaran yang bisa dipetik… Masa’ apa yang kurasakan di hati kok disodor-sodorkan ke publik. Itu mengapa aku mulai jarang menulis ‘Lirik Penggugah’ di blog ini.

Akhirnya aku malah mulai memasang lagu bahkan video dari imeem. Sehingga perasaanku saat itu bisa terwakili lewat lagu atau video yang kupasang. Dan lagi ketika sedang nge-blog bisa ditemani tembang yang berdentang-dentang menyelebungi atmosfir pikiran.

Ketika tengah malam biasanya aku memasang lengkingan suara Enya atau aransemen dahsyat dari London Symphony Orchestra. Tapi begitu hari memasuki jam 6 pagi, jika dalam kondisi normal (di rumah, di kantor, atau dapat akses internet secara leluasa di perjalanan), tembang sudah harus kuganti dengan beat yang lebih riang (lagu sendu tak baik untuk memulai hari).

Nah, sejak kemarin malam aku sedang tergila-gila dengan tembang Lelaki dan Telaga-nya Franky Sahilatua. Entah sudah berapa ratus kali lagu ini menyambar-nyambar telingaku. Menemani menit demi menit. Jam demi jam. Dari tarikan nafas ke tarikan nafas berikutnya. Cinta sekali aku dengan lagu ini (Thanx Mas Franky, sudah menciptakan dan menyanyikan lagu yang begitu cantik!).


Jadi, lagu ini merupakan gambaran perasaanku saat ini? Entahlah. Bisa jadi iya. Yang pasti lagu ini sepertinya bakal kupertahankan sampai beberapa hari ke depan di bagian “Tembang Hari Ini”.

Dan sekali lagi aku ingin minta maaf pada kawan-kawan yang sudah dengan baik hati berkunjung ke mari. Seminggu terakhir ini waktuku memang cukup tersendat untuk melakukan kunjungan balasan. Kondisi kesibukan yang memang tak memungkinkan. Tapi insya Allah, setelah postingan yang satu ini, aku akan datangi semua blog teman-teman. Ribuan terima kasih kuhaturkan.

Maka aku tidak tahu, apakah postingan seperti ini bakal ada manfaatnya atau tidak bagi pembaca. Tapi, sesekali bolehlah kita berdendang sejenak. Biar kesunyian hati bisa cepat terobati. Bukankah begitu? Yuk ambil suara…

Lelaki dan Telaga
Franky Sahilatua

.

Lelaki hanya berdiri, di tepian telaga
Menyusuri kesunyian hati, ada rindu dalam hatinya
Ada embun jatuh setitik, di ujung hatinya

.

Pada air ia berkaca, membayangkan kekasih
Bersandar pundak di sisinya, ranting jatuh air memecah
Di dalam lingkaran air, lelaki sendiri…

.

Pada embun ia bertanya…
Pada ranting ia bertanya…
Untuk apa bertemu kalau nanti berpisah
Untuk apa bercinta kalau nanti bersedih
Ranting tertunduk membisu
Embun terdiam kelabu

Di tepi telaga, di sebuah kota, 17 Desember 2008.