Road To Sydney

Miliaran panah jarak kita, tak jua tumbuh sayapku. Satu-satunya cara yang ada, gelombang tuk ku bicara (Dewi Lestari, Recto Verso, Selamat Ulang Tahun)

Sydney tampak gemerlap, lebih benderang dari biasanya. Langit cerah berpendar, menampakkan gumpalan awan putih tipis di beberapa tempat. Angin berkesiur mendinginkan malam musim panas. Saat-saat menjelang natal begini, toko-toko tampak buka hingga malam hari. Dan kafe-kafe di saat weekend malah tumpah ruah sampai ke jalan. Sydney memang selalu menggoda pelancong untuk kembali dan kembali lagi walau sekadar untuk menciumi sisa semerbak Jacarandah yang kini tinggal daunnya saja yang menghijau.

Apa pertimbangan seseorang untuk tinggal dan menetap di sebuah kota? Karena sekolah? Bekerja? Keluarga? Orangtua? Ikut suami? Ikut istri? Pasrah tak tahu lagi apa mesti diusahakan? Atau dikutuk karena sejak bayi dilahirkan di sana, atau apa?

Tentu ada banyak ragam jawaban. Dan setiap jawaban berhak mempunyai pembenaran masing-masing. Namanya juga pilihan. Yang ironis kalaulah tak lagi punya pilihan. Pasrah pada nasib: mendiami sebuah kota selama dua abad tanpa tahu apa alasannya. Ya nggak?

Sama halnya dengan kita yang tinggal atau menetap di kota yang sekarang kita diami ini. Kita adalah wajah kota itu sendiri. So, daripada kepanjangan prolog, kita mulai saja: ada apa dengan road to Sydney? Baiklah. Aku mau cerita. Begini awal bin mulanya:

Namanya cukup lazim. Banyak orang memakainya. Kalau mau coba membuktikan, jalanlah 10 rumah ke samping kanan, atau 10 rumah ke samping kiri (kalau rumah kalian di tengah pematang sawah, atau di ujung savana, ya jangan salahkah aku), pasti di antara rumah-rumah itu ada yang bernama Doni atau Donny (sama saja toh?).

Atau jika ingin lebih mudah lagi (bilang saja pemalas!), bukalah buku telpon. Maka akan kita temukan begitu banyak nama Doni atau Donny berderet sepanjang mata memandang. Apa boleh buat, nama Doni atau Donny memang pasaran (kalau ada yang mau punya anak atau mau bikin anak lagi, cari nama lain saja. Sudah terlalu banyak nama Doni atau Donny di dunia ini).

Maka makhluk Doni atau Donny yang hendak kuceritakan ini adalah Donny Verdian pemilik blog donnyverdian yang dot net itu. Tubuhnya tinggi besar. Perawakannya atletis. Rambutnya lurus. Wajahnya, emh, lebih baik tak perlu kita bahas soal wajahnya (hihihi).

Nah, sialnya, Donny Verdian yang ngakunya asli keturunan raja-raja Kediri itu adalah sahabatku. Paling tidak begitu menurutnya. Aku mengenalnya di sebuah mailing-list. Saat itu ia tinggal di Yogyakarta. Penyuka karya-karya Pramoedya. Maka ketika aku hendak mengajak kawan-kawan milis bertandang ke rumah Pram, Donny yang Verdian itu melontarkan sebuah pertanyaan di milis:

“Mas, kalo dari Gambir ke Bojonggede naik taksi bisa ya?”

Olala… Saat itu aku bingung mesti menjawab apa. Bayangkan saja: dari Gambir ke Bojonggede yang di Kabupaten Bogor itu naik taksi? Busyet! Ni orang terlampau tajir atau ndeso? Hehehe. Tapi singkat cerita, perkunjungan ke rumah Pram pun batal. Dikarenakan Pram jatuh sakit dan tak lama meninggal dunia.

Namun Donny yang Verdian itu tetap juga datang ke Jakarta, tentu untuk melayat Pramoedya. Ia mengontak Twindri Utari, juga anggota milis, yang kelak kami bertiga menjadi sahabat kental bagaikan susu sapi Pangalengan.

Donny menjemput Windy di stasiun Cikini, Jakarta. Mereka bertemu dan berhaha-hihi. Namun waktu tak memungkinkan lagi bagi mereka untuk melayat ke rumah Pram. Melalui telpon kusarakan agar mereka langsung ke pemakaman Karet Bivak saja, karena jenasah sudah hendak diboyong ke sana.

Aku, Donny, dan Windy belumlah saling bertemu. Kami hanya kenal di milis. Aku tak tahu seganteng apa Donny (pengakuan awal sih dia merasa ganteng banget!). Begitu pun aku tak tahu secantik apa Windy (tak perlu melakukan fitnah untuk mengatakan Windy itu cantik. Hehe).

Sialnya, begitu rombongan iring-iringan jenasah berangkat dari rumah Pram di Utan Kayu menuju pemakaman Karet Bivak, kedua telpon selulerku mati. Pet! Aku tak bisa dikontak oleh siapa pun di dunia ini kecuali melalui telepati.

Sesampai di Karet, Pram pun dimakamkan. Hingga selesai acara, aku tak berhasil bertemu Donny yang Verdian itu beserta Windy yang memang tinggal di Jakarta. Padahal, kita berada di tempat dan waktu yang sama. Di seputar makan Pram, di Karet, di Bivak. Maka senja harinya aku kembali ke rumah Pram di Utan Kayu. Entah bagaimana dengan Donny, begitu pun dengan Windy. Sejak saat itu, kami mulai berkontak secara intens melalui milis, email, dan YM.

Ketika Windy ke Yogya, ia bertemu dengan Donny. Ketika aku ke Jakarta (atau Windy ke Bandung), aku mulai bertemu dengan Windy. Tapi bertahun lamanya belum pernah sekali pun kami bertemu bertiga. Padahal, pernah di suatu hari kami berada di kota yang sama: Jakarta.

Ketika itu kami memang terjebak kondisi berada di kota yang serupa. Padahal tak saling janji. Turun dari kereta, aku dijemput Windy di stasiun Gambir. Siapa nyana, saat sedang di taksi, Donny menelpon ke hp Windy. Alangkah kagetnya Windy.

“Donny, Dan! Gimana nih?” ucap Windy kalut.
“Kenapa emang?”
“Dia pasti minta ketemu.”
“Trus?”
“Aduh, bego banget sih! Masa’ mau ketemuan bertiga. Ntar dia tau lagi kita kencan di Jakarta.”
“Ups! Iya-ya. Betul kamu, bego juga aku.”
“So?”
“Ya udah, terima aja dulu.”
Dan Windy pun menerima panggilan telpon Donny.

Betul saja: Donny sedang di Jakarta, ingin ketemu Windy. Wah, situasinya jelas membingungkan. Karena selama ini Windy mengaku belum pernah ketemu aku pada Donny. Apalagi aku moderator milis. Entah bagaimana kalau Donny tahu aku dan Windy melakukan pertemuan secara diam-diam tanpa alasan jelas, yang tak ada sangkut pautnya dengan Pramoedya. Kalau Donny sampai tahu, bisa dibayangkan, ia akan menyimpulkan pertemuan kami adalah: kencan! (kenyataannya memang kencan. Hehehe).

Demi langit dan bumi, dan demi jagat dewa yang bersamayam di seluruh penjuru mata angin, kami pun mesti berbohong pada Donny (dosanya kami tanggung berdua: aku aktor intelektualnya, sementara Windy bagian eksekusi).

“Aduh, nggak bisa, Don. Aku lagi di Pasar Minggu. Posisimu jauh banget. Lagi pula, kamu mendadak sekali minta ketemu.” kilah Windy. Dan aku hanya cekikikan membayangkan wajah Donny yang Verdian itu.

Akhirnya Donny tak berhasil mengajak Windy untuk ketemuan. Begitu telpon ditutup, di taksi kami saling lirik sembari menarik nafas lega setelah membayangkan wajah Donny yang Verdian itu (beberapa tahun kemudian, akhirnya kami mengakui kejahatan kami tersebut pada Donny, yang membuatnya ngamuk merasa dibohongi. Tapi di situlah awal persahabatan kami dimulai).

Nyaris setiap malam kami bertiga chatting di YM. Antara Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Saat itu kami semua belum lagi menikah. Kami sama-sama single, punya pekerjaan, dan matang (tssaahh!). SMS dan telpon adalah sehari-hari kami.

Kalau Windy punya masalah, kerap kali ia mengontakku dan menangis di telpon. Kalau pikiran Donny sedang limbung, ia pun mengadu pada Windy. Dan tepat 2 tahun lalu, Desember 2006, ketika aku sedang berada di titik “kejatuhan” dalam perjalanan hidupku, ada satu orang yang selalu ada untukku, mendengarkanku, dan memberiku semangat meski dia berada di kota Yogya. Dia lah Donny yang Verdian itu.

Makin lama, kami makin akrab dan mesra. Hubungan kami tumbuh menjadi persahabatan yang murni bertiga. Ada rasa sayang, ada rasa rindu, ada rasa saling menjaga, ada rasa cemburu, ada rasa sebal, ada marah-marah, ada juga saling mengumpat. Tapi semua itu justru yang menjadikan persahabatan kami masih kentara kualitasnya hingga saat ini.

Dunia berputar, dan hidup pun terus berjalan. Ketika Windy menikah, itulah untuk kali pertama kami bertemu secara bertiga. Aku, Windy, Donny. Setelah pernikahan Windy, beberapa bulan kemudian kami melanjutkan pertemuan berupa liburan di Bandung. Demikian di tahun yang sama, Donny pun menikah. Kami bertemu lagi.

Maka setelah menikah, Windy hijrah dari Jakarta ke Denpasar. Begitu pun Donny hijrah dari Yogyakarta ke Sydney. Aku? Aku tetap di Bandung, dan tetap menjadi olok-olok mereka karena tak jua menikah (padahal tak pernah aku mengolok-olok mereka hanya karena mereka menikah. Dodol kan mereka?).

Kenapa aku bercerita tentang Donny yang amit-amit itu? Begitu pun ada nama Windy di dalamnya? Karena bagiku, bercerita tentang Donny, tak mungkin kupisahkan dari nama Windy. Begitu pun jika bercerita tentang Windy, tak mungkin bagiku tak menyeret nama Donny. Karena perkenalan kami bertiga saling berkelindan. Saling berpagutan satu sama lain.

Maka pertanyaan mendasar adalah: kenapa mesti bercerita tentang mereka? Ya. Karena tanggal 20 Desember 2008 ini, Donny yang Verdian itu berulang tahun. Berapa usianya? Aih, 31 tahun! Sudah tua, Don? Entahlah. Yang pasti lebih tua dariku yang masih 20an ini ya (du-du-du-du-du…).

Nah Don, sengaja kurawikan tulisan ini sebagai kado kecil untuk ulang tahunmu. Kini kau telah tinggal dan menetap di Sydney. Aku tak tahu kado indah apa yang bisa kupersembahkan untukmu yang amit-amit itu, selain rawian serta persahabatan kita selama ini.

Aku posting tulisan ini menjelang pergantian hari waktu Sydney. Agar kau merasakan betul arti dari pergantian waktu, pergantian usia, dengan raga manusia yang tetap serupa. Berbahagialah. Kecaplah segala apa yang ingin kau gapai. Semoga selalu cerah bersama Joyce, istrimu tercinta.

Nah, bulan masih memamerkan kemolekannya di langit kota Sydney. Seolah ia tahu: ada seseorang yang berulang tahun…

Selamat ulang tahun, Don!

19 Desember 2008 | 21.34 AEDT

Yuk kita doakan bagi kesembuhan Windy.  Semoga bisa tersenyum lagi dia.

tengah malamnya lewat sudah
tiada kejutan tersisa
aku terlunta, tanpa sarana
saluran tuk ku bicara

jangan berjalan, waktu
ada “selamat ulang tahun”
yang harus tiba tepat waktunya
semoga dia masih ada
menantiku

[Dewi Lestari, Recto Verso, Selamat Ulang Tahun]

This entry was posted in Catatan Harian. Bookmark the permalink.

35 Responses to Road To Sydney

  1. edratna says:

    Kado yang indah buat Donny….betapa manisnya persahabatan yang awalnya dimulai dari sebuah milis.

    Ehh berarti banyak banget yang berulang tahun pada bulan Desember ini. Ada Donny (ahh Don, sifatmu mirip temanku, yang ternyata hari ulang tahunnya sama)…sahabat baikku, adik bungsuku, anak sulungku dan suamiku…semua di Desember..

    Selamat Ulang Tahun ya Donny, semoga engkau sukses meraih mimpi2mu.

    Tadinya tulisan DM, kupikir DM juga mau mengikuti “Road to Sidney”…..
    Tak perlu pake alasan macam-macam…bagaimana Don (Ehh Donny Verdian)?

    edratna, terakhir menulis Bagaimana rapor anda di tahun 2008?

  2. sumpah deh, seger banget tulisanmu, DM. napak tilas persahabatan yang menyenangkan. pasti jadi kado yang manis banget buat sobatmu si donny yang verdian itu.

    nah, donny yang verdian, selamat ulang tahun kuucapkan.
    wish you all the best, mate.

    marshmallow saja, terakhir menulis Wisata Gua, Jenolan Cave

  3. sama seperti komentar bunda Enny dan mbak Marshmallow…

    ini posting yang sangat manis DM :)

    tentang persahabatan :)

    jadi …

    pertanyaan paling pentingnya adalah…

    Kapan kamu menyusul mereka bertiga???

    *dudududdudududdududu*

  4. DV says:

    Hiksss.. sumpah gw terharu!
    Waktu aku tadi melewatkan tengah malam, aku menandai ulang tahunku di komunitas persekutuan doaku dan orang pertama di Indonesia yang menyelamatiku adalah DAniel!

    Dan tak kusangka juga ternyata Daniel juga menghadiahiku tulisan yang begitu indah ini!

    Terimakasih sobat, terimakasih!
    Aku tak pernah ragu untuk memanggilmu sebagai sobat..

    Sobat dalam duka, sobat dalam suka
    Sobat dalam Pramoedya dan sobat hmmm.. dalam Windy (?) Huahuahua…

    Dan seharusnya kau juga sobatku jika kau berani mendatangi si Marshallow untuk bersama-sama bersobatan di Sydney *halah*…

    Ok, akhirul khalam, selamat ulang tahun Dan! *loh kok malah gw yang ngucapin ultah ke kamu sih?*

    Huahuahuahuahua!

    DV, terakhir menulis Tentang Plat Nomor

  5. Yoga says:

    Donny.. minggu lalu udah dapat colongan, kamu bakal 31, dari komentarmu, entah kubaca di blog siapa… Happy birthday! Wishing all the best for you, semoga di sepanjang 31 tahun hidupmu, kau selalu mendapat yang terbaik pula.

    Dan, tulisanmu ini ciamik, empat jempol untukmu!
    :D :)

    Yoga, terakhir menulis Ketika Wain Besar Surut

  6. prameswari says:

    Jadi inget kalo kalian bertiga suka saling menggoda…
    Selamat Ulang Tahun DV….
    kangen juga ama komen-komen Windy di blog ini
    …semoga Windy cepet sembuh

    prameswari, terakhir menulis Wawancara dadakan dg sang penulis The Blings of My Life

  7. Reti says:

    Manis banget ya. Jadi terharu aku bacanya,bang.

    Titip salam buat bang Dony ya,met ultah.
    Buat Mbak Windy nya semoga lekas sembuh ya,bang.

    Reti, terakhir menulis Selamat Hari Ibu…

  8. Wow surprise … begitu indahnya persahabatan. Salam buat kalian bertiga, dan met Ultah buat DV. Salam.

  9. Lala says:

    De Em,
    Manis sekali… (tulisannya, bukan kamunya.. hehehe)

    Buat Donny,
    Happy Birthday, ya…
    Segala doa yang terindah buat kamu.. :)
    Maaf nggak bisa kasih apa-apa selain ini.. padahal tadinya aku mo bikinin tumpeng lengkap sama bubur merah putih dan jajan pasarnya segala.. hehe…

    You’re a good guy.
    A great best friend. Kalau tidak, rawian seindah begini tidak akan pernah ada.. ^_^

    @ Mbak Windy:
    Cepat sembuh ya, Mbak… Aku rindu cela-celaan kalian di blog ini…

    Lala, terakhir menulis …it’s just something that I have to do

  10. suhadinet says:

    @ DV, mat ultah….!
    @ DM, tulisan yang renyah, enak dikunyah-kunyah….
    @ windy, lekas sembuh

  11. indra1082 says:

    Numpang baca dan koment… hm… hapy2 buat yg Ultah…salam….

  12. mantan kyai says:

    selamat ultah buwat pakde verdiyan. waduh2 rupanya berteman toh duwa orang top komentator blog hitamku ini .. kekekeke

  13. Ikkyu_san says:

    wow
    tadinya aku pikir Danny sudah memutuskan untuk ke Sydney hihihi
    indahnya persahabatan…. Berbahagialah kalian bertiga yang masih mempunyai sahabat yang tetap sahabat meskipun status sudah berubah.
    karena itulah persahabatan yang sejati

    Selamat ultah buat donny. Pantas dia tak jawab YM ku karena sedang berdoa.

    dan doaku juga untuk mbak Windy yang sedang sakit….

    EM

    Ikkyu_san, terakhir menulis Maaf dan terima kasih

  14. tanti says:

    Ooh.. kirain abis dari roadshow Solo-Jogja-Surabaya (?) langsung ke Sydney, ternyata….
    hikss….

    *terharu*

    Apalah jadinya dunia tanpa sahabat?
    Selamat atas persahabatan kalian.

    tanti, terakhir menulis Buah Semangka Berdaun Sirih

  15. goenoeng says:

    hehe…aku ngeposin komen tanggal 19 lalu di blog’e DV, daripada lupa pas tanggal 20. masalahnya, wong tanggal ultahku sendiri saja sok lupa kok. sungguh !

    menyenangkan membaca tentang persahabatan kalian bertiga, Dan.

    untuk Windy, aku memang belum pernah satu katapun bertemu, semoga doaku segera bertemu denganmu. cepat sembuh…

  16. p u a k says:

    Persahabatan yang indah mas..,suatu kasih sayang yang berbeda.. semoga kekal selamanya.
    Dan tulisan ini sudah membuktikan betapa solid nya persahabatan kalian.

    p u a k, terakhir menulis aku, flo, dan pekerjaanku..

  17. Juliach says:

    Trima kasih, setelah baca jadi aku teringat harus refleksi diri sebelum tahun baru.

    Juliach, terakhir menulis Cantik telanjang bulat

  18. iya, ya, ya, mas donny sekarang berada di sydney bersama istri tercintanya. sebelum meninggalkan indonesia, rupanya sudah banyak pengalaman perjalanan bersama mas daniel. sebuah rajutan nilai persahabatan utk mempererat tali silaturahmi meski dipisahkan oleh jarak. mas donny pasti sudah tahu dan telah membacas postingan ini berulang-ulang, hehehe …. persahabatn memang indah, mas daniel.

  19. AL says:

    Cerita persahabatan memang selalu bikin terharu…

    AL, terakhir menulis Hari Terakhir Ulum Ganjil 2008-2009

  20. imoe says:

    mantap tuh mas….kado spesial….buat sobat terhangat…tapi BTW yang ini….tetap menjadi olok-olok mereka karena tak jua menikah (padahal tak pernah aku mengolok-olok mereka hanya karena mereka menikah. Dodol kan mereka?)…. di tulis kayaknya sambil sedih deh…makanya cepat kawin hahahaha, atau mau aku bantuin nyari…..huahua…

    imoe, terakhir menulis …biadab…

  21. mcdamas says:

    Selamat Ultah juga deh. Panjang Umur ya…

    mcdamas, terakhir menulis Dealing With Data Recovery

  22. mascayo says:

    what amazing story! jyahh!!
    keren banget bang … gimana kalau dibikin aja scriptnya.. lalu dibuat filmnya .. film indie juga gpp. aku pasti ngantri pertama untuk nonton filmnya .
    met ultah deh buat DV,.. sukses dan sehat selalu

    mascayo, terakhir menulis kesempatan tidak datang dua kali

  23. Yari NK says:

    Amin. Mudah2an pernikahannya dapat berjalan lancar dan dapat langgeng selalu.

    Melihat judulnya, dikirain mau ikutan pindah ke Sydney?? Huehehe…… Dikirain mas Daniel udah nggak betah tinggal di Paris lagi. **Parijs van Java maksudnya** :mrgreen:

    Yari NK, terakhir menulis Bagaimana Membiasakan Diri dengan Satuan Pengukuran “Asing”?

  24. radesya says:

    Kak Daniel, betapa senangnya aku baca posting kakak kali ini..
    Persahabatan itu indah ya kak..
    kisah yang sangat indah..

    btw, met ulang tahun buat kak Donny yang Verdian itu
    semoga dengan berkurangnya usia tidak mengurangi rasa persahabatan kakak bertiga..

    redesya, terakhir menulis Cerpen: Ada Bias Cinta Pada Bola Mata Ibu

  25. laporan says:

    Selamat sore, Wah tulisannya ringan tapi bergizi, renyah dibaca (emak krupuk). Berarti ini kisah 3 sekawan, semoga tetap selalu saling berkomunikasi.

  26. alris says:

    Selamat ulang tahun, DV.
    Persahabatan yang rancak, indah sekali.

  27. mikekono says:

    persahabatan yang tulus
    memang terasa indah dan syahdu
    di tengah kencangnya individualisme
    masih ada juga persahabatan sejati…..
    saluuuut bro :)
    btw, semoga Windy segera sembuh

  28. langitjiwa says:

    Buat ;DV,met ultah.
    Buat ;DM,malam ini biarkan aku tidur diberanda rumahmu ini.aku lelah habis berkeliling Maya,hahaha……

  29. icha says:

    @DV: happy birthday yaaaaaaaaaaa…
    @DM: eh kirain sudah di sydney ;)

  30. Zulmasri says:

    saya kira mau cerita uni marsmallow, nggak tahunya dv. jadi tahu sosok dv seperti apa. padahal lama pengen kenal langsung orangnya sebagaimana mas dm.

    ok, buat mas dv selamat ulang tahun ya…

  31. genthokelir says:

    Persahabatan yang indah dan menyenangkan menjadi kenangan yang mengharukan dan menjaganya dalam keseibangan
    salut
    salam hormat saya

    genthokelir, terakhir menulis Memimpin Dengan Cinta

  32. Pingback: Tigapuluh Satu — Donny Verdian

  33. DV says:

    Jaiakakakakak restoran Ampera… waktu si Windy dengan lahapnya makan pete… jijay ngga seh ada cewek sok manis makan pete banyak2… gimana baunya… yurrrkkk :)

  34. windykei says:

    kenapa judulnya road to sydney…..?? kenapa gag ada road to Bali ..?? kenapa….kenapaaaaa? *ambilpisodapur*…. dan dv masalah makan pete itu membuktikan bahwa perempuan cantik muda belia kaya gw pun bisa membaur dengan org2 rakyat jelata kaya kalian…huh *berlalu…..
    btw dan…. ini tulisan yg gw abis operasi yah ?*mikir*

  35. Emy says:

    waaaaaaaahhhhh,,, indahnya mmg persahabatannnnn……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>