Rawian ini berangkat dari comment Goenoeng pada postingan-ku yang lalu di mana ia menulis sesuatu yang membuatku ngakak. Katanya: ternyata Penganyam Kata juga manusia… buktinya, dia butuh berlibur juga, hahaha……

Setelah ngakak aku jadi bertanya pada diri sendiri: berliburkah aku? Aku malah berpikir keras: apa definisi dari berlibur? Setiap individu pasti punya pengertian tersendiri soal liburan.

Jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri bisa diartikan berlibur bagi sebagian orang. Tapi ada juga orang yang berdiam santai di rumah, off dari pekerjaan kantor, sudah merupakan liburan tersendiri baginya. Setiap orang memang berhak mendefinisikan pengertian liburan.

Kembali ke comment Goenoeng tadi. Beberapa hari menjelang tutup tahun 2008 banyak dari temanku yang mengambil liburan. Sementara aku sendiri sebelum tutup tahun justru sedang menjemput deadline pekerjaan. Memang bukan pekerjaan kantor. Tapi meski pekerjaan pribadi tetap saja berkejaran dengan deadline toh? (DM = Deadline Man. Hehe).

Mau tidak mau, aku mesti off dari aktivitas nge-blog untuk beberapa saat. Jangankan berkunjung ke blog handai taulan, comment di blog sendiri pun tak sempat kubalas. Apa boleh buat, segalanya mesti ada skala prioritas bukan?

Dalam beberapa hari terakhir aku sengaja “kabur” dari area kantor dan rumah. Alasannya? Menghindari internet. Bisakah? Tentu saja tidak bisa, tapi harus! Kalau menulis di kantor atau di rumah, godaan sambungan internet tak bisa kuelakan. Ada saja yang membuatku terpancing untuk online. Persoalannya adalah: aku sedang dikejar deadline. Jadi mesti off sama sekali dari internet.

Aku ngungsi ke rumah seorang teman yang tak ada telpon fix line sama sekali. Hasilnya? Pekerjaan menulisku deras keluar seperti pancuran air di pematang sawah. Terus mengucur tanpa syarat.

Sampai dengan tanggal 29 pagi, aku masih berjibaku dengan pekerjaanku. Sampai Subuh tiba, baru aku pasrah tergeletak tak kuat menahan beratnya kelopak mata yang seolah sedang diganduli batu sebesar gunung.

Hingga jam delapan pagi, teman-teman membangunkanku.

“Hoi, bangun! Jadi nggak berangkat?” seru Arifin yang tampak sudah segar sehabis mandi.
“Berangkat?” tanyaku sembari terkantuk-kantuk. “Berangkat ke mana?”
“Lho, ke Subang. Ini tanggal dua sembilan. Liburan…”
“Liburan?”
“Yeee… gimana sih!”
“Bukannya tanggal tiga satu perginya?”
“Kan dimajuin.”
“Waduh! Iya-ya. Tapi pekerjaanku belum beres nih…”
“Ya ampun… tinggal dulu napa. Liburan sejenak. Tarik nafas. Pergi dari rutinitas. Dari dulu isi kepalamu itu hanya kerja. Nggak akan pernah ada habisnya tau nggak!”
“Nggak bisa. Hari ini aku mesti tetap ada di Bandung. Kalian pergilah dulu. Nanti kalau memungkinkan, sore atau malam aku nyusul.”
“Bener?”
“Insya Allah deh…”
“Dasar gila kerja!”
“Yeee… cerewet!”
Dan dengan langkah gontai aku berjalan ke kamar mandi.

Mereka berangkat ke luar kota, dan aku pulang ke rumah. Apa yang kulakukan begitu sampai rumah? Kembali buka laptop dan mulai bekerja (lagi-lagi godaan internet menggelitiku). Apa boleh buat, naskah yang sedang kukerjakan mesti disetor hari itu juga.

Sore harinya aku masih menimbang-nimbang: pergi ke luar kota menyusul teman-teman atau tetap di Bandung saja. Hingga malam hari aku masih duduk di perpustakaan. Apakah aku mesti pergi menyusul mereka?

Aku telpon mereka.

“Gimana, seru?”
“Waaauuu… rugi kalo nggak datang. Ini di pedesaan. Jauh, sangat jauh dari kota. Sebuah rumah peristirahatan yang dikelilingi sawah dengan latar belakang pegunungan. Temen-temen masih mancing di kolam ikan. Yang lainnya sedang menyiapkan tempat pembakaran. Sejauh telinga mendengar, semata suara burung, kodok, dan air pancuran yang mampir ke telinga.” terang temanku.
“Gilaaa…!!!” teriakku iri.
“Makanya ke sini…”
“Gilaaa…!!!” teriakku betul-betul iri.

Jarum pendek sudah berada di angka delapan malam. Jarak ke Subang mungkin tak begitu jauh. Sekitar 42 km dari kota Bandung. Melewati Lembang, Tangkuban Perahu, Ciater, lantas Jalan Raya Cagak (tak sampai kota Subang). Dari pertigaan patung nanas, masuk ke arah Sumedang sekitar 17 km. Total jenderal kurang lebih 59 km. Mestikah berangkat malam ini? tanyaku pada diri sendiri.

Akhirnya kuputuskan berangkat jam 21 malam. “Liburan, Dan?” tanyaku pada diri sendiri. Entahlah. Yang pasti aku ingin pergi dari Bandung. Kubawa semua pekerjaan ke dalam laptop. Weh, masih akan tetap kerja di sana? Apa boleh buat… Aku mesti tetap bertanggung jawab pada pekerjaanku.

21.15 wib aku keluar Bandung. Dengan musik berdentang-dentang aku naik ke Bandung utara. Kota masih menyisakan keramaian long weekend yang selalu membuat Bandung tiba-tiba menjadi macet dan semua plat mobil berubah menjadi B.

Sebelum tengah malam aku sudah tiba di daerah Subang. Aku telpon teman-teman untuk menjemputku di desa terdekat.

“Manja bener minta jemput segala!”
“Eh dodol, aku kan nggak tau alamatnya.”
“Kecamatan Tanjung Siang.”
“Yeee… janjinya kan mau jemput aku di jalan raya.”
“Hhh!! lagi pada repot nih…”
“Ya ampun. Emang pada repot ngapain sih?”
“Main gaple! Haha.”
“Dodooolll…”
“Ya udah, dari patung nanas terus aja. Nanti kalo nemu Alfa Mart Tanjung Siang, tunggu aja di situ. Kami jemput ke sana.”
“Ha? Ada Alfa Mart di desa?”
“Bawel!”
“Hahaha!”

Akhirnya tiba juga aku. Teman-teman menyoraki. Aku hanya cengar-cengir. Saat memasuki halaman rumah, aku terlolong-lolong: “Gilaaa…” ujarku berdecak.

Seperti gambaran temanku tadi, ini memang sebuah rumah sederhana di sebuah desa. Meski rumah sederhana, bentuk rumah dibangun dengan arsitektur menarik. Dikelilingi sawah, kolam ikan dengan pancuran yang mengucur 24 jam, dua buah bangunan tinggi berupa sarang burung walet, dilatar belakangi gunung yang membius suasana. Wauuwww…

“Kerja mulu!” sambut teman-teman yang sedang asyik main gaple di teras rumah.
“Cerewet!” tukasku sewot.
“Pesta bakar ikan dan bebek goreng udah selesai, Niel.”
“Kamu sih nggak datang dari tadi.”
“Tenang, Niel. Ntar malam kita bakar-bakar lagi deh.”

Maka aku pun mulai berjalan mengelilingi halaman. Dengan deskripsi yang kugambarkan di atas tadi, atmosfir tempat ini betul sungguh membius. Seminggu tinggal berdiam di sini kayaknya bakal kerasan. Jauh dari keramaian kota. Yang terdengar hanya suara kodok, binatang malam, dan air pancuran bak irama Vivaldi dengan Four Season-nya. Melenakan!

Aku kembali ke halaman depan tempat Forum Gaple Bersatu digelar. Mereka adalah kawan-kawan saat aku masih aktif di pers mahasiswa dulu. Ada Ahmad Nurasa bos percetakan pemilik tempat ini, ada Yus R. Ismail penulis dan pemilik sebuah penerbitan, ada Eriyandi Budiman sastrawan yang juga pelukis, ada Doni Slamet Rayandi editor di sebuah penerbitan, ada Arifin Ciptadi seorang layouter freelance, ada Yana seorang pekerja penerbitan, dan Ahmad Syahid seorang desainer di sebuah advertising di Jakarta.

Beberapa bulan sekali kami memang kerap bertemu di Bandung. Biasanya pesertanya bisa sampai belasan kalau sudah ada “reuni” kecil-kecilan seperti ini. Dan tentu saja sebagian besar dari mereka sudah beranak pinak. Tapi khusus malam ini, semua dari kami kembali menjadi bujang! Hehe.

Aku hanya menonton mereka main gaple sembari tertawa-tawa. Kopi pun dihidangkan. Tapi daripada off, aku mulai berpikir untuk mengeluarkan laptop dari tas ranselku. Biar meski duduk-duduk santai, tapi tetap produktif.

Begitu aku membuka laptop, sudah bisa dibayangkan “caci maki” yang meluncur deras:
“Orang gila! Di tempat asyik begini masih juga kerja!”
“Lho, justru di tempat seperti ini malah kondusif banget buat kerja, Dodol!” bantahku.
“Ya tapi sesekali nikmati hidup dong…”
“Lho, setuju aku. Maka beginilah caraku menikmati hidup.” elakku lagi.
“Duh, susah ngasih tau kamu. Di otakmu itu yang ada cuma kerjaan.”
“Makanya nggak kawin-kawin!” kata yang lain lagi.
“Setan!” umpatku ngakak.

Dan malam pun terus melarut.

Tapi kenyataannya betul sungguh gila. Di tempat seperti ini kerja nulisku malah meluncur deras. Tak ada jeda sama sekali. Aku menulis bak kesetanan. Jariku tak bisa kurem. Aku terus menulis dan menulis. Diselingi tawa kawan-kawan yang bermain gaple.

Suara burung walet masih terdengar cerewet ditingkahi suara air pancuran yang mengalun lembut di kolam ikan. Peserta gaple mulai bosan. Satu per satu mulai pergi ke dapur di sisi kolam. Ada yang membersihkan ikan, ada yang menyiapkan bakaran, ada yang memetik cabe rawit, ada pula yang menyeduh kopi.

Aku masih bertahan mengetik di halaman yang temaram seorang diri. Tapi batre laptop tinggal 19%. Lebih baik kusimpan dulu pekerjaan ini dan bergabung bersama kawan-kawan: menyiapkan pesta ikan bakar!

Apakah ini liburan? Aku tak tahu. Yang pasti aku ingin menutup tahun ini dengan manis dan tak sabar menunggu datangnya Januari 2009.

Nah, selamat tahun baru, Kawan-kawan. Cerah ceria di tahun mendatang. Sehat dan bahagia selalu.

Bagaimana dengan liburan kalian?

Kampung Cikembang, Subang, 30 Desember 2008 | 01.52 wib

(Daun pisang digelar di tengah tikar, nasi goreng ditaruh jadi satu untuk dimakan beramai-ramai di atasnya. Berbagai jenis ikan, bebek goreng dan sambal terasi teronggok sebagai sandingan. Siap untuk dihajar! Kami duduk mengelilingi daun. Makan a la pesantren. A la kuli bangunan. Tak ada direktur, tak ada bos, tak ada sastrawan di sini. Yang ada hanyalah keceriaan. Weh, bagiku ini sudah merupakan sebuah liburan yang hebat!).

*Kriuk! Nyam-nyam!*