Mafela
(The Waiting Is Almost Over: 10)
Mereguk air dari sungai keheningan hanya dengan demikian jiwamu akan menyanyi dalam kebahagiaan. Dan di saat engkau meraih puncak pegunungan di situ lah bermula saat pendakian. Dan ketika bumi menuntut kembali jasad tubuhmu. Tiba pula saatnya bahwa tarian yang sesungguhnya mulai kau tarikan (Kahlil Gibran, Sang Nabi)
Aku bersiap menggendong ransel lagi. Aku tahu Mas Zulbasri berusaha menahanku, bahkan menawariku untuk bermalam di rumahnya. Namun aku tak ingin membuatnya repot. Bisa bertemu dengannya saja sudah sungguh menyenangkan bagiku. Berjam-jam kami ngobrol banyak hal. Soal blog, blogger, dunia sastra, sastrawan, juga pekerjaannya.
Di teras rumah ia menahanku, “Yang kau cari ada di hatimu, Mas Dan.”
Aku tercekat sejenak. Tersenyum padanya, dan menganggukkan kepala. “Iya, Mas. Makasih. Aku pamit.”
Aku merasa ia masih terus memandanggi punggung ranselku hingga ke ujung jalan. Lelaki itu sungguh baik. Pembawaannya kalem, bicaranya sedikit, ada kesan introvert seperti tulisan-tulisannya di blog, tapi ia seorang guru yang ramah. Satu hal yang terus bernyanyi-nyanyi di telingaku adalah kalimatnya: “Ikuti kata hatimu. Bukan nafsumu. Nafsu takkan pernah membawamu ke mana-mana.”
Maka Hari masih sore ketika aku mulai melanjutkan perjalanan. Kulihat mendung tampak meraja di langit. Kutelusuri kota Pekalongan. Ruas-ruas jalan, deretan pertokoan, dan pusat keramaian. Masih cukup waktu untuk menyeret kaki ke terminal bus. Tapi aku merasa kesepian.
Aku membeli sebuah syal batik di sebuah toko cinderamata. Pada kasir kuminta untuk tak perlu membungkusnya. Mau kugantungkan langsung di leherku. Ketika hendak menerima uang kembalian, seorang lelaki kurasa sedang memperhatikanku. Kulihat ia tersenyum. Aku mencoba menganggukkan kepala. Ia berjalan menghampiri.

