Archive for January, 2009

Mafela

(The Waiting Is Almost Over: 10)

Mereguk air dari sungai keheningan hanya dengan demikian jiwamu akan menyanyi dalam kebahagiaan. Dan di saat engkau meraih puncak pegunungan di situ lah bermula saat pendakian. Dan ketika bumi menuntut kembali jasad tubuhmu. Tiba pula saatnya bahwa tarian yang sesungguhnya mulai kau tarikan (Kahlil Gibran, Sang Nabi)

Aku bersiap menggendong ransel lagi. Aku tahu Mas Zulbasri berusaha menahanku, bahkan menawariku untuk bermalam di rumahnya. Namun aku tak ingin membuatnya repot. Bisa bertemu dengannya saja sudah sungguh menyenangkan bagiku. Berjam-jam kami ngobrol banyak hal. Soal blog, blogger, dunia sastra, sastrawan, juga pekerjaannya.

Di teras rumah ia menahanku, “Yang kau cari ada di hatimu, Mas Dan.”
Aku tercekat sejenak. Tersenyum padanya, dan menganggukkan kepala. “Iya, Mas. Makasih. Aku pamit.”

Aku merasa ia masih terus memandanggi punggung ranselku hingga ke ujung jalan. Lelaki itu sungguh baik. Pembawaannya kalem, bicaranya sedikit, ada kesan introvert seperti tulisan-tulisannya di blog, tapi ia seorang guru yang ramah. Satu hal yang terus bernyanyi-nyanyi di telingaku adalah kalimatnya: “Ikuti kata hatimu. Bukan nafsumu. Nafsu takkan pernah membawamu ke mana-mana.”

Maka Hari masih sore ketika aku mulai melanjutkan perjalanan. Kulihat mendung tampak meraja di langit. Kutelusuri kota Pekalongan. Ruas-ruas jalan, deretan pertokoan, dan pusat keramaian. Masih cukup waktu untuk menyeret kaki ke terminal bus. Tapi aku merasa kesepian.

Aku membeli sebuah syal batik di sebuah toko cinderamata. Pada kasir kuminta untuk tak perlu membungkusnya. Mau kugantungkan langsung di leherku. Ketika hendak menerima uang kembalian, seorang lelaki kurasa sedang memperhatikanku. Kulihat ia tersenyum. Aku mencoba menganggukkan kepala. Ia berjalan menghampiri.

Continue Reading »

Petaka di Pantura

(The Waiting Is Almost Over: 09)

Apakah hidup seperti jazz? Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita hadapi. Kita tak pernah tahu ke mana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tidak selalu berjalan seperti kemauan kita
(Seno Gumira Ajidarma, Apakah Hidup Seperti Jazz?)

Aku sedang terombang-ambing di atas bis jurusan Jakarta-Cirebon. Selama di perjalanan rupanya aku tertidur. Matahari menyengat ketika aku bangun yang entah sudah berada di daerah mana. Kulihat ada seorang gadis muda duduk di sebelahku. Parasnya manis. Resam tubuhnya menarik. Usianya kutaksir antara 17 atau paling banter 20 tahun. Tapi matanya tampak sendu.

Mataku manyapu jalanan. Menerka-nerka di daerah mana bis sedang melata. Ketika sedang mencoba memperhatikan plang-plang pertokoan, tiba-tiba kudengar suara isak seseorang. Aku mencari arah suara itu. Rupanya si gadis di sebelahku tampak menangis menutupi wajahnya dengan tangan. Aku jadi bingung mesti berbuat apa. Mestikah aku menegurnya?

“Kenapa…?” tanyaku hati-hati.
Ia menggelengkan kepala.
Aku jadi serba salah. “Yakin nggak pa-pa?”
Kulihat bahunya makin berguncang. Aku jadi mengangkat bahu dan kembali memperhatikan plang-plang pertokoan, mencoba mencari tahu gerangan di daerah mana aku sekarang berada.

Continue Reading »

Bukan Tiket Sekali Jalan

(The Waiting Is Almost Over: 08)

Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka mengkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ‘selamat pagi’ (Dee, Selagi Kau Lelap, Filosofi Kopi)

Apa perbedaan mendasar antara dunia di atas pentas dan dunia nyata? Ya, betul. Tak perlu mengernyitkan dahi untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Di atas panggung teater, lakonnya memang bisa apa saja. Sedih-senang, bahagia-duka, semua hanya peran. Sementara di dunia nyata, kita menjalani diri kita sebagai manusia secara sungguhan.

Seorang aktor teater boleh jadi memerankan lakon sedih di atas panggung. Sementara begitu turun, ia bisa tertawa-tawa dengan gigi terbuka. Karena hidupnya toh bahagia. Seorang aktor lain boleh jadi memerankan lakon gembira, tapi begitu turun, wajahnya tampak berduka. Karena hidupnya ternyata nestapa. Siapa yang bisa membohongi diri kita dari dunia…

Begitu pun dengan aku. Setelah sekian hari istirah dan menyepi di sebuah desa di Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini aku duduk di samping seorang perempuan di sebuah bangku di terminal keberangkatan 2F Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

Continue Reading »

Istirah dan Menyepi

(The Waiting Is Almost Over: 07)

Jadi orang bebas, jadi tuan atas diri sendiri, all-round, bisa segala, tidak jadi budak orang lain, juga tidak memperbudak. Jangan sampai jadi beban orang lain. Juga jangan menerima beban tanpa guna (Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2, hal.65-66)

Sudah beberapa hari ini aku menyepi di sebuah desa. Di sebuah kampung di daerah Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Biasanya, dan memang seringnya, menggunakan kereta dari Jakarta atau dari Depok. Entah kenapa aku selalu suka naik KRL. Berebut tempat, bersempit-sempit serta berbagi ruang dengan sesama penumpang kereta jurusan Jakarta-Bogor maupun sebaliknya.

Ada nuansa tersendiri saat berjejal-jelal seperti itu. Namun aku kerap menyiasati juga. Aku menggunakan KRL hanya pada saat jam berangkat kantor sudah usai atau jam pulang kerja belum lagi tiba. Dengan begitu aku masih bisa duduk atau berdiri di pintu kereta sembari berangin-angin menikmati perumahan kampung Jakarta yang kikuk.

Dari stasiun Bojonggede biasanya aku naik angkot atau loncat ke sadel ojek menuju sebuah rumah berlantai enam. Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi setiap kali aku turun di stasiun, berbondong-bondong dengan penumpang lain, lantas mesti bersambung kendaraan lagi, aku merasa menjadi orang kebanyakan. Menjadi orang rata-rata. Orang yang untuk mendapatkan uang sekian ratus ribu atau juta per bulan, mesti berpeluh, berkeringat, menempuh perjalanan jauh, setiap hari. S-e-t-i-a-p h-a-r-i!

Continue Reading »

Next Page »