Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan (Albert Einstein)
Ia meletakkan ranselnya di sebelah kaki di samping meja. Duduk di depanku dan mengeluarkan sebungkus rokok. Menyulut sebatang dan menghisapnya dengan penuh kenikmatan. Aku hanya memperhatikan setiap gerakan terkecil darinya.
Tangannya yang kukuh melambai pada pelayan dan meminta secangkir kopi. Matanya berkelebat menyapu seluruh sudut kafe. Ia belum memandangku sejak kedatangannya.
Hari mulai gelap. Tapi matahari belum lagi pamit pulang. Pengunjung kafe belum begitu banyak. Senja masih menampakkan sinarnya yang misterius. Entah kenapa, setiap melihat senja, selalu yang tertangkap adalah atmosfir misterius yang membius. Seakan ada dunia lain ujung di sana. Mungkin karena tak seorang pun yang pergi ke Negeri Senja datang kembali lagi dan menceritakan keindahan Negeri Senja yang selalu digunjingkan banyak orang itu. Jadi yang terasa adalah misterius. Mystery!
“Jadi juga kamu pergi?” tanyaku.
“Ya.” ia mulai mengangkat wajahnya. Menatapku.
“Sudah yakin?”
“Ayolah. Kita sudah membicarakan soal ini. Aku jadi berangkat.”
Aku menghela nafas. Selalu sulit kalau mesti beradu argumen dengan lelaki ini. Pendiriannya terlalu kuat. Sikapnya kadang terlampau keras. Tapi itu juga yang membuatku jatuh hati setengah mati padanya. Bukankah lelaki punya sikap selalu menarik perhatian perempuan? Meski kini aku harus mengibaskan rasa itu pelan-pelan. Entah bisa entah tidak. Aku tak tahu.
“Kemana dulu?” tanyaku.
“Ke timur.”
“Ke timur mana?”
“Ya Jawa, Bali, Lombok, terus ke timur. Papua, nyebrang ke Maluku, Sulawesi, Kalimantan, kemudian menyusuri bumi Sumatra dari Lampung sampai Aceh.”
“Gila! Berapa lama?”
“Paling cepat setahun.”
“Wow!”
“Kukira cukup.”
“Kamu datangi setiap kota?”
“Ya.”
“Kamu kunjungi blogger yang kamu kenal di setiap kota yang kamu lewati?”
“Emh, inginnya begitu.”
“Setelah itu, pulang kan?”
“Nggak, langsung nyebrang ke Malaysia.”
“Ya ampun! Langsung keliling Asia?”
“Ya.”
“Kamu akan terlunta-lunta di perjalanan, Dan. Kenapa nggak pulang dulu, baru merencanakan perjalanan berikutnya.”
“Aku sudah pikirkan masak-masak. Setelah mengelilingi Indonesia, sekalian terus keliling Asia saja. Aku juga ingin umroh. Mungkin juga ke Eropa, kalau energiku masih ada.”
“Oh, pertemuan ini menyakikan, Dan.”
“Sorry, tapi aku perlu ketemu kamu. Karena aku pergi cukup lama.”
“Untuk apa?”
“Emh,” ia tampak bingung. Tiba-tiba tangannya menyeret asbak dan membenamkan rokoknya di sana. “Aku nggak tau apa kamu masih peduli atau tidak. Aku mungkin akan pergi selama beberapa tahun.” ia berhenti sejenak. Kemudian menatapku serius. “Aku ingin kamu melanjutkan hidupmu. Jangan menungguku. Karena aku khawatir itu akan sia-sia.” ia menarik nafas. “Tapi kalau boleh jujur,” tiba-tiba ia menggantungkan kalimatnya.
“Apa…”
Matanya terasa menikamku, “Hanya kepadamu aku kembali.”
“Dan…”
“Tapi lebih baik kamu lanjutkan hidupmu.”
“Ini sulit.”
“Lanjutkan hidupmu.”
Duh, apa yang mesti kukatakan. Ia telah memutuskan pergi melakukan perjalanan selama tahunan lamanya. Berapa tahun? Siapa pernah tahu. Bahkan dia sekalipun. Ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Pergi menyusuri bumi manusia. Seperti yang selama ini ia impikan.
Ia keluar dari pekerjaannya. Menguras seluruh tabungannya dan bersiap menggendong ransel, mengunjungi berbagai negeri. Bertemu banyak traveler di perjalanan, atau berkawan sepi yang terus menikam.
“Aku akan tetap menulis blog di kota yang memungkinkan.” ia mencoba tersenyum. Aku hanya menatapnya gulana.
Digenggamnya jemariku. Lalu tiba-tiba pipiku terasa hangat oleh bibirnya.
“Aku ingin memelukmu.” pintaku.
Lantas ia memelukku. Aku balas memeluknya erat. Sangat erat. Mendekapnya penuh kehangatan. Aku tak tahu apakah ini pelukan terakhir. Aku tak tahu. Yang kutahu: ia adalah lelaki yang kucintai hingga saat ini. Tapi ia memutuskan pergi.
“Bye.” lagi-lagi ia mencoba tersenyum. Tapi matanya murung.
“Bye. Tetap menulis blog, Dan. Biar kalau kangen aku bisa membaca tulisanmu.”
“Iya.”
Lelaki itu telah menggendong ranselnya. Ia berjalan meninggalkanku. Langkahnya penuh percaya diri. Seolah iya tahu: kebahagiaan memang bukan dicari, tapi diciptakan. Tapi aku tak tahu, kebahagiaan macam apa yang hendak ia ciptakan.
Mestikah aku menunggunya? Atau melanjutkan hidupku? Kalau aku menunggunya, sampai berapa lama? Adakah penungguanku bakal sia-sia? Aku belum menemukan jawabannya.
Punggung lelaki itu makin menjauh. Sebuah bis jurusan luar kota telah menuggu di tepi terminal.
Orang mencoba menggapai bintang di langit. Padahal cahaya itu ada di dalam hatinya.
Tiba-tiba pipiku mulai digerimisi air mata.
* * *
Bandung, 7 Januari 2009 | 00.24 wib
who can say where the road goes,
where the day flows, only time?
and who can say if your love grows,
as your hearth chose, only time?.
who can say why your heart sights,
as your live flies, only time?
and who can say why your heart cries
when your love lies, only time?.
who can say when the roads meet,
that love might be, in your heart?
and who can say when the day sleeps,
and the night keeps all your heart?
night keeps all your heart….
who can say if your love groves,
as your heart chose, only time?
and who can say where the road goes
where the day flows, only time?.
who knows? Only time
who knows? Only time




Huehehehe…. maklum bukan sastrawan jadinya bingung nih mbaca postingannya, apalagi ditambah komen2nya mbak Yoga yang bertubi-tubi. Baru kali ini aku telak and bingung mau komen apa… wakakakak…….
Ini ceritanya orang yang mau cari kebahagiaan ya?? Tapi kok kenapa dia ditungguin ya?? Agar dia menceritakan kebahagiaan yang ditemuinya dan membaginya sama
Mas Danielorang tersebut??Ya udah deh….. siapapun yang bisa membahagiakan orang tersebut, baik laki2 atau perempuan, atau apapun yang bisa membahagiakan orang tersebut mudah2an dapat dimanfaatkan oleh orang tersebut. Karena kebahagiaan adalah hak semua orang…… Betul nggak mas??
**komenku kacau nggak neh??**
Yari NK, terakhir menulis Bertemu Melihat Al Jupri dan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang Mahal
Miris juga baca postingan ini,bang. Tapi jadi inget yg dulu pernah kualami persis dengan yang kau tulis.
“Mestikah aku menunggunya? Atau melanjutkan hidupku? Kalau aku menunggunya, sampai berapa lama? Adakah penungguanku bakal sia-sia? Aku belum menemukan jawabannya.”
Aku hanya menunggunya satu tahun, setelah itu aku melanjutkan hidupku dan ternyata setelah 7 tahun aku baru bertemu lagi…
Seandainya dulu aku menunggupun, pasti hasilnya sia-sia karena dia kembali hanya untuk nyakitin aku lagi
Retie, terakhir menulis Liburan Natal dan Tahun Baru
Penulisnya kupikir, sangat mengenal perempuan ini, sehingga dapat mengungkapkan dengan baik pemikiran si perempuan. he he he ini sih iseng saja. agak tragis gimana juga kalau misalnya ceritanya dilanjutkan, ternyata semasa perjalanan tersebut, si Pria yang bernama Dan tersebut terlibat cinta lokasi (he he he, secara Gola Gong jg pernah), dan si perempuan bertemu dengan pria lain “serupa” tokoh Dan…. dan akhirnya meskipun si Perempuan ini tetap membaca kabar2 si Dan dari blognya, tetapi dia sudah memutuskan untuk tidak menunggu si Dan itu lagi….
halaaah… ditunggu lanjutan ceritanya Om DM.
Tar kalao mampir ke Jakarta dalam perjalanan, ingat juga untuk menyambangi cempaka putih…
nung, terakhir menulis Feromon Jilid 2
mmmmmmmmmm…………………….
“kebahagiaan memang bukan dicari, tapi diciptakan”
itulah rule hidup mas….
Ria, terakhir menulis Jeruk Mandarin dan Kangker Hati
Seseorang yang datang, untuk pergi lagi…..
huuhhh
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
Hai….biasanya orang mengatakan ade adalah sanguinis yang koleris, tapi mas menilai ade niy koleris yang sanguinis….
Yah….orang menilai dari apa yang sudah terlihat.
Thanks analisisnya
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
wah…sudah malam…ngantuk…jadi salah naruh komen. hehehe
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
Pingback: Do you Really Think I Will Wait for you Hon…? « yessymuchtar
kebahagiaan memang bukan dicari, tapi diciptakan.
carra kenal quote ini
pernah ditulis di komen …
sukses mas DM
carra, terakhir menulis Dua Nol Nol Sembilan
Pergilah..Dan…biarkan waktu berbicara, tetapkan hatimu
*good, cuma agak bingung…ya..karena emang bingung kayanya *