Kebanyakan dari kita yakin bisa membuat orang lain bahagia dengan cara yang kita tentukan (Robert S. Lynd)
Menurut buku Personality Plus karya Florence Littauer, ada empat pola watak dasar manusia: Sanguinis yang Populer, Koleris yang Kuat, Plegmatis yang Damai, dan Melankolis yang Sempurna. Bisa jadi semua watak itu ada pada diri kita. Hanya saja kadarnya lah yang membedakan. Dan yang paling dominan yang biasanya tampak menonjol sebagai ciri diri kita.
Sanguinis si periang memang selalu ramai, dan praktis menjadi pusat perhatian di antara teman-teman karena kepolulerannya. Tak bisa dibayangkan dunia tanpa orang-orang Sanguinis. Betapa sunyinya hidup ini. Betapa senyapnya.
Koleris yang tegas dan kukuh selalu membuat kita merasa tentram dan aman karena perlindungan dan sikapnya yang berani membuat keputusan. Apa jadinya dunia tanpa orang-orang Koleris. Ia selalu berada di garis depan pada setiap konteks kehidupan.
Plegmatis selalu berhasil melembutkan suasana. Tenang. Damai. Cinta pada segala sesuatu yang mendayu-dayu santun. Kehidupan mutlak membutuhkan si Plegmatis ini. Karena hidup memang mesti ada yang mengerem. Melunakkan. Mengingatkan. Apa jadinya hidup tanpa kesabaran orang seperti dirinya.
Dan si Melakolis yang selalu menuntut kesempurnaan dalam segala bidang kehidupan. Analisis, penyuka statistik, perfeksionis, berpikir, dan memiliki standar nilai. Bakal seperti apa wajah hidup tanpa orang-orang melankolis yang selalu bisa menyodorkan argumen mendalam pada setiap persoalan.
Semua kita butuhkan dalam ranah kehidupan ini. Kita membutuhkan penyemangat seperti si Sanguinis. Kita butuh orang yang tegas bertindak seperti si Koleris. Kita butuh orang yang bisa meredam suasana seperti si Plegmatis. Pun kita membutuhkan nilai-nilai hidup yang bermakna pada diri orang Melankolis.
Secara sambil lalu, kalau sedang blogwalking, aku kerap (dengan gegabah) menilai blog si A sifatnya Sangunis. Blog si B sifatnya Koleris. Blog si C cenderung Plegmatis. Dan si D perfeksionis abis! Itu tampak dari pemilihan template, ornamen, asesoris yang dipasang, foto-foto, dan tentu saja karakter tulisan. Meski itu semua tak pratis tepat 100 persen.
Lalu apa karakter blog kalian?
Ini cerita sederhana saja. Beberapa hari lalu aku terlibat diskusi kecil dengan seorang blogger. Ia bertanya: mengapa aku selalu ber-comment atau membalas comment dengan menyertakan kata ‘Masehi’ pada setiap akhir ucapan ‘Selamat Tahun Baru’.
Jawabanku sederhana saja: karena tahun baru yang dimaksud adalah tahun baru Masehi. Bukankah ada banyak perhitungan tahun di dunia ini? Entah itu Islam, Saka, Jawa, Imlek, dan lain sebagainya. Maka momen kemarin pada konteksku dalam membalas atau ber-commnet memang diperuntukkan untuk perhitungan tahun Masehi.
“Itu tidak praktis.” ujarnya.
“Mengapa tidak praktis? Tinggal menyebut satu kata Masehi saja kok tidak praktis? Justru penting.”
“Semua orang tau kalau itu ucapan tahun baru untuk perhitungan Masehi, jadi tak perlu lah lagi disebutkan.”
“Justru aku ingin menegaskan bahwa ada banyak perhitungan tahun di dunia ini. Hanya kebetulan saja yang dipakai standar secara internasional adalah perhitungan Masehi.”
“Kamu tuh complicated. Cara berpikirmu rumit. Kamu melulu menggunakan standar dirimu. Segala-galanya mesti sempurna pada tempatnya. Cara berpikirmu tidak mau santai dan dibawa menyenangkan. Bahaya tau nggak.”
Aku hanya tersenyum melihat bibir kesumbanya menari cerewet.
“Kamu mudah stres, karena cara berpikirmu, cara hidupmu. Asal kamu tau, darah akan lebih mudah kental dan itu memicu banyak penyakit.”
Aku mulai ngakak.
“Kamu kalo’ dibilangin selalu ketawa-tawa!”
“Iya-iya, aku ndengerin kok…”
“Aku bisa ngomong gini karena aku pun seperti itu dulunya. Semua-mua mesti pada tempatnya. Sempurna. Complicated. Tapi aku sadar, itu nggak bagus untuk perkembanganku di kemudian hari. Aku mulai mengendurkan cara pandangku terhadap sesuatu. Kini aku bisa mengatasi semua itu. Paling nggak, nggak separah dulu. Tapi aku masih melihat hal itu sangat dominan pada diri kamu. Ah, aku tau pasti kamu pun nggak suka aku ngomong kayak gini.”
Aku tetap saja tersenyum-senyum. “Nggak, aku biasa aja. Aku tau orang akan berpikir seperti itu. Seperti katamu. Karena itu lah yang bakal dirasakan orang setiap berhadapan dengan orang Melankolis yang Sempurna. Aku memang complicated. Bahkan aku sendiri pun menilai seperti itu terhadap diriku sendiri.” kilahku tetap tersenyum menghadapi kebawelannya.
“Tuh kan, gitu kamu menyadari, tapi nggak mau berubah.”
Well, sepenggal dialog itu ternyata cukup punya arti. Punya arti bukan pada saat dialog itu berlangsung atau sudah selesai. Melainkan beberapa hari kemudian.
Ya, beberapa hari lalu, seorang pamanku dari pihak ibu mengontakku. Ia ingin membuat air bor baru di rumahnya, karena pompa listrik di rumanya rusak dan tak lagi berhasil menyedot air tanah. Kebetulan aku baru saja membuat lubang baru untuk air tanah di rumah.
Paman hendak datang pada saat aku mesti buru-buru pergi ke kantor. “Kenapa mesti pagi ini sih?! Kan nggak ada dalam schedule-ku!” keluhku dalam hati. Tapi aku berpikir: kalau tidak pagi, kapan ia bisa bertemu aku? Aku selalu pulang larut. Aku jadi menertawakan diriku sendiri.
Sebetulnya aku hanya perlu meminjamkan teras rumah agar si paman dan si tukang gali yang kemarin kupakai dapat berbincang-bincang secara leluasa. Tapi begitu datang, paman minta ditunjukkan tempat pompa listrik itu berada. Ia bertanya soal posisi lubang gali, analisa kerusakan, ongkos pengerjaan, dan biaya segala bahan yang diperlukan secara terperinci.
“Maspion putih atau abu? Berapa inci? Cassing-nya berapa meter? Total ke dalam tanah berapa meter? Jadi berapa paralon yang dibutuhkan? Berapa satunya? Tapi di toko belakang rumah saya lebih murah seribu rupiah.”
Well, aku jawab semua pertanyaan paman dengan lengkap sembari tersenyum-senyum karena menginsafi: ia seorang Melankolis yang Sempurna. Akut!
Setelah memeriksa pompa, aku mengantar paman lagi ke teras rumah untuk menemui tukang gali. Semestinya aku bisa saja meninggalkan mereka berdua berbincang. Tapi kenyataannya, saat mulai ngobrol, paman malah meminta pendapatku atas hasil kerja si tukang.
Ia bertanya pada si tukang gali segala dan semua yang dibutuhkan seolah sedang mengetes. Dalam hati aku tak habis-habisnya tertawa geli. Karena yang terkesan memang sedang mengetes kemampuan si tukang gali, padahal dia asli bertanya.
“Berapa meter mesti digali agar airnya nggak keruh? Bau nggak nanti airnya? Berapa watt mesin pompa yang dibutuhkan? Maspion atau Wavin? Tapi kan wavin putih ada dua ketebalan? Terus bornya berapa diameternya? Punya bornya? Tetangga saya tuh delapan meter sudah dapat air? Berapa harga satu paralon? Betul segitu kemarin kamu beli, Niel?”
Aku tak kuat untuk tak ketawa. Tapi dia pamanku. Yang lebih tak kuat lagi: melihat muka masam si tukang gali karena merasa sedang di tes ujian akhir semester. Aku betul-betul geleng-geleng kepala. Kalau aku jadi si tukang gali, pastinya aku pun bakal manyun juga seakan dites seperti itu. Padahal aku tahu betul: pamanku sungguh sedang bertanya.
Setelah cukup lama menemani orang yang “seolah sedang melakukan interview lamaran kerja”, aku mulai menarik nafas lega, karena “interview” sepertinya bakal segera berakhir. Tapi, olala!!
Rupanya tidak! Pamanku masih meneruskan ceritanya:
“Saya dulu tinggal di komplek sini juga. Tiga belas tahun saya tinggal di sini. Terus pindah. Dulu pasang pompa tahun tujuh sembilan. Kenapa? Oh, saya sudah pensiun. Waktu saya banyak. Mau ngerjakan pagi, siang, atau sore, saya temani.”
Yang tadinya aku tertawa-tawa geli, giliran aku yang mulai sewot dan masam. Bagaimana tidak, ia malah bernostalgia tentang dirinya pada si tukang gali. Dasar orang Melankolis! aku mulai mengumpat dalam hati. “Nggak praktis bener sih! Kan semua kebutuhan sudah beres. Tinggal kapan mulai kerja. Ini masih saja terus mewawancarai dan bernostalgia pulak. Huh!”
Tapi,
Ow-ow-ow. Tiba-tiba aku terhenyak! Rupanya begini lah kalau orang lain berhadapan dengaku, pikirku. Complicated, tidak praktis, penuh analisis yang sebetulnya bisa disederhanakan, dan menuntut standar sempurna yang tinggi. Duh, aku jadi mengutuki diriku sendiri. Sementara paman malah terus asyik saja bercerita tentang masa mudanya. Sableng!
Begitu kelar, ia berkata: “Niel, coba antar Om ke dalam lagi. Saya mau lihat kualitas airnya. Sebening apa. Bau atau nggak. Lantas ngalirnya deras terus atau nggak…”
Huh!
Tapi aku jadi teringat diskusi kecil soal penyebutan ‘Masehi’ itu. Dalam hati aku berkata lirih: “Kamu memang menyebalkan, DM!”
Bandung, 9 Januari 2009, 00.14 wib




eh, kadang-kadang juga tulisannya mas anisa ngak ngerti maklum anisa ngak ngerti bahasa-bahasa tinggi…..
makanya kadang-kadang anisa ngak komen takut salah……..
tapi anisa selalu baca ko…….
mas mahendra anisa baru kirim email cek ya?
sekalian ada nomor teleponnya anisa siapa tau mas mahendra perlu….
mas minta dong nomor teleponnya juga……..
maaf ya mas banyak banget komennya…..
Dan, ngapain juga kelamin kamu lihat? Parno kamu!
salam kenal
4ndika, terakhir menulis [Info]Kota-Kota Terunik Didunia
Ha…ha…ha…mas melankolis sejati….akur deh….
dan ade bukan melankolis sama sekali?? akur ya……
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
kalo ade tukang gali sumurnya, maka ade akan :
1. bacain tentang teori menggali sumur lengkap
2. kalo masih kurang, ade bacain referensi teorinya
3. kalo masih kurang jelas, silahkan menggali sumur sendiri….
*kasian banget ama tukang gali sumur mas* hihihi
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
Klo dokter, ongkos konsultasinya tuh dah kena charge….hehehe
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
Menurut penelitian di ranah bidang psikineuroimunologi, empat pola dasar watak manusia itu berimplementasi terhadap beberapa penyakit. Lewat penelitian diketahui penyakit kanker payudara pada wanita banyak ditemukan pada wanita dengan watak melankolis dibandingkan wanita dengan watak sanguinis. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan stres. Wanita melankoli lebih cenderung menyimpan sendiri rahasianya dan berusaha sendiri mengatasi permasalahannya sehingga memperbesar tekanan stress terhadap dirinya.
ini wanita melankoli kok mas…..
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
Pak Daniel, kalo mbak Marsh apaan ya? Sangunis-Melankolis apa ya? Perpaduan yang aneh penuh pertikaian dalam dirinya hehahiho… begitulah orc-bidadari khayangan.
hihihi… Becanda loh mbak Marsh
AL, terakhir menulis Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Belanda
@goy dan pak Daniel
Hei, waktu kuliah dulu cowo saya melankolis, dan dia berusaha sangat keras ‘mendisiplinkan’ saya yang dulu sanguinisnya jauh lebih menonjol daripada plegmatisnya–bayangkan betapa berantakannya saya. Salah satunya ya dari tanda baca di SMS. Kalau saya ngirim SMS disingkat-singkat dengan tanda baca yang ngaco, dia benerin sampai pas. Huruf kapital, kapan titik dan koma, lalu penggunaan spasinya sampai tanda sambung. Kalau udah bener, dia kirim balik ke saya dan nyuruh saya kirim lagi versi yang bener. Busyet!!! Yah, satu memang dia melankolis, yang keduanya memang dia selain cowo saya, juga adalah guru saya huahaha..
Bertahun-tahun kemudian, sampai sekarang kebawa-bawa. Saya gak bisa lagi nulis SMS disingkat-singkat sampai diketawain kawan-kawan kalau sms panjaaang banget dengan patuh pada EYD. Mau berusaha juga udah gak bisa jadi kebiasaan. Setiap nulis apapun, saya juga jadi gak bisa nyante, takut tanda bacanya salah. Salah satu kebiasaan baik yang diajarkan dan jadi kebiasaan adalah bangun dan berangkat beraktifitas sangat pagi dan membuat rencana untuk satu hari itu biar gak terlalu kacau, tapi teteup toh jiwa saya bukan melankolis walaupun bikin perencanaan, tapi lebih sering beimprovisasi juga.
Tapi yah, begitulah! Dibawa nyante aja kali mbak Marsh sekalian latihan heuheuheu.. Kalau di bukunya Florence Littauer itu sering ngebahas yang seakan-akan menyatakan bahwa jodohnya sanguinis itu kan melankolis. Kalo dari lucunya, kayaknya mbak Marsh kan punya unsur sanguinis tuh (tapi gak tau juga sih ya..) nah jodohnya nanti melankolis. Karena orang melankolis tertarik dengan orang sanguinis dan sebaliknya.
Eh Eh! Eh!….. Hyaaaaa…
AL, terakhir menulis Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Belanda
komen 50,51,52…
kayaknya penggemar berat nih
Mas Mahendra, mbok sekali2 YM-an sama aku, huahahaha…..
goenoeng, terakhir menulis mata, air mata
Salam kenal ya mas dari Banjarmasin….
Ditunggu ya kunjungan baliknya….he
Perspektif Senja, terakhir menulis Blank
@ mbak anisa
Aku ngiri banget lo ..dirimu di telpon telpon sama si penganyam kata ini..aku pengen banget jugaa looo di telpon telpon gituhh…
Ssttt..mas Mahendra…
Coba tolong kalo nelpon tuh yang adil..ya..yang adil yaa…
yessy muchtar, terakhir menulis Jadi ..gue gak usah ngeblog lagi aja nih???
@marshmallow, Yoga, bu Enny, kak imelda, lala….
Coba tolong id ymnya di share satu satu..supaya kita bisa conference untuk mencela cela si pemilik blog ini ..kekekeke..iyaiya…gosipin dia juga pastinya ..kekekek
@goenoeng
abang nyimak juga ternyata???
Hihihiih…emang susah untuk tidak berkomentar ya bang? kekekek
yessy muchtar, terakhir menulis Jadi ..gue gak usah ngeblog lagi aja nih???
@Mas mahendra
Gimana mas? kapan aku di telpon?..duh..sms aja deh diriku ini….
Bwuahuahuaahuahuauha
yessy muchtar, terakhir menulis Jadi ..gue gak usah ngeblog lagi aja nih???
Huahahahah…
Kewalahan kau, Dan?
Siapa sih itu? Pengen juga aku kenalan. Mesti cantik kayaknya.
*Halah, jadi ikut-ikutan usil*
Ya sudah, aku mendoakan saja yang terbaik, Sobat!
Memang menyebalkan berhadapan dengan orang yang berpikir complicated.
Santai aja napa? ..
p u a k, terakhir menulis Pacaran di MU Cafe
@writer wanna-be
Pengen kenalan sama aku apa sama yang satu itu ?
Yang cantik aku..mm..apa yang satu itu ya??
*dihajar massa*
Wakakaka…
sumpah hari ini demen banget deh daku main di siniiiii…huahauhau
11 january…uhuy…hari mencela DM ekekeke
@Yessy
Sayangnya saya jarang Ym an…kecuali sama anak dan menantu…..kadang sama teman2 si bungsu dan si sulung….maklumlah emak2, sasarannya disitu aja. Lagi pula kalau conference call bingung, apalagi kalau satu saat yang ngajak OL banyak…jadi hampir selalu invisible. Sorry ya.
@DM,
Sorry pinjam tempat disini.
edratna, terakhir menulis Apa sebaiknya pindah ke pra bayar ?
@ bu Enny
ya udah gak jadi Ym an ya bu….
Gak seru kalo gak ada ibunya…nanti gak ada yang memulai obrolan kekekeek
resiko jadi selebritis, Dan…hehehe….
lha carane nulungi ya, piye ?
ck, aku belum pernah dikirimi no hape cewek lewat email ik. rasanya gimana ta, Dan ? eh ssttt, emailnya tentang apa ta ? boleh tahu ndak ? hahaha….
Wah artikel yang sangat menarik.
Saya juga penggemar bukunya Florence L. Sejak dulu di MLM sudah dianjurkan baca buku itu, dan emang kenak banget. Jadi tahu ada 4 karakter dasar manusia seperti yang mas ceritakan. Dan saya termasuk melankolis sempurna. Hehehe..
Thanks.
@Goenoeng komentar #61,71
Piye yah Mas Goe, caranya nolongin Daniel? Mesti tanya dulu dengan serius, mau ndak ditolong? Rasanya kok nggak perlu hehehehe
@Daniel,
Niel, Niel, senang kan punya anggota DMFC yang lucu hehehe (Asli jadi ngakak baca komentar-komentar yang itu. Daniel, maaf, menyampah, daripada ngakak sendiri, ditahan sendirian, nanti bisa jadi kanker kata Nungki).
Yoga, terakhir menulis Aku Mau Kamu Menjauh (Dulu)
aku…kya’nya dominan sanguin, rame poll…tp ada sentuhan melankolisnya, ada plegmatisnya juga, dan koleris
Blog saya termasuk kategori apaan ya mas, masalahnya saya cuman nulis yang ada dalam benak saya aja
achmad sholeh, terakhir menulis Hati-Hati Aroma Syirik Menyelimuti Kehidupan Kita
Selama ini aku mengira melankolis itu seperti uraian plegmatis dan sebaliknya…
ternyata terbalik. Menurut pengakuanku aku perpaduan antara keduanya dan Plegmatis yang lebih dominan. Kalau menurut mas DM dari blog ku aku lebih cenderung ke yang mana nich??..
jadi minta dianalisa, kebetulan kan mas DM suka menganalisa kan..
Thanks
Yulis, terakhir menulis INGIN KURAIH BULAN APA DAYA TANGAN TAK SAMPAI
Hmm….
lama tidak update…
Tidak ada kabar…
Masih hidup?
@Yessy Muchtar:
Tadinya sih penasaran dan ingin kenalan dengan komentator yang misterius itu, Mbak Yessy. Tapi kalau memang tak keberatan, bolehlah saya berkenalan dengan Mbak Yessy yang (sepertinya juga) cantik. Huehehehe…
@DM:
Bagaimana kabarmu, Dan? Jangan dipaksakan sekali berolah raga sampai kehabisan energi begitu. Tak ada waktu pula untuk melongok blogmu ini.
*sambil menunggu tulisan baru*
hoiii…., ‘berlibur’ kok lama2 ta, Dan ?
*nah, sekarang aku tinggal menunggu, seribu satu kata Penganyam Kata untuk acara ‘menghilangnya’ , haha *
goenoeng, terakhir menulis hilang…
Salam Kenal, Mas.
Baru nyasar kesini, & tertarik baca tulisan yg panjang banged ini..
Kalo mungkin saya koleris ya, plus sedikit melankolis. Tapi kalo lihat pengalaman si om yg menginterogasi si tukang gali, memang sih kalo kita jd tukang gali pasti sebel krn ditanya sedemikian detail, tapi seorang melankolis memang sudah bawannya begitu. Dia hanya bisa puas kalo semuanya jadi sempurna spt yang diinginkannya.
Kalau saya dibilang complicated, saya cuek saja. Orang tidak perlu harus memahami jalan pikiran saya, tapi cukup pahami saja tujuannya. Karena kalo ikut mikirin proses dari si seorang melankolis, bisa stress bo’.