Melankolis VS Melankolis
Published January 9, 2009
Kebanyakan dari kita yakin bisa membuat orang lain bahagia dengan cara yang kita tentukan (Robert S. Lynd)
Menurut buku Personality Plus karya Florence Littauer, ada empat pola watak dasar manusia: Sanguinis yang Populer, Koleris yang Kuat, Plegmatis yang Damai, dan Melankolis yang Sempurna. Bisa jadi semua watak itu ada pada diri kita. Hanya saja kadarnya lah yang membedakan. Dan yang paling dominan yang biasanya tampak menonjol sebagai ciri diri kita.
Sanguinis si periang memang selalu ramai, dan praktis menjadi pusat perhatian di antara teman-teman karena kepolulerannya. Tak bisa dibayangkan dunia tanpa orang-orang Sanguinis. Betapa sunyinya hidup ini. Betapa senyapnya.
Koleris yang tegas dan kukuh selalu membuat kita merasa tentram dan aman karena perlindungan dan sikapnya yang berani membuat keputusan. Apa jadinya dunia tanpa orang-orang Koleris. Ia selalu berada di garis depan pada setiap konteks kehidupan.
Plegmatis selalu berhasil melembutkan suasana. Tenang. Damai. Cinta pada segala sesuatu yang mendayu-dayu santun. Kehidupan mutlak membutuhkan si Plegmatis ini. Karena hidup memang mesti ada yang mengerem. Melunakkan. Mengingatkan. Apa jadinya hidup tanpa kesabaran orang seperti dirinya.
Dan si Melakolis yang selalu menuntut kesempurnaan dalam segala bidang kehidupan. Analisis, penyuka statistik, perfeksionis, berpikir, dan memiliki standar nilai. Bakal seperti apa wajah hidup tanpa orang-orang melankolis yang selalu bisa menyodorkan argumen mendalam pada setiap persoalan.
Semua kita butuhkan dalam ranah kehidupan ini. Kita membutuhkan penyemangat seperti si Sanguinis. Kita butuh orang yang tegas bertindak seperti si Koleris. Kita butuh orang yang bisa meredam suasana seperti si Plegmatis. Pun kita membutuhkan nilai-nilai hidup yang bermakna pada diri orang Melankolis.
Secara sambil lalu, kalau sedang blogwalking, aku kerap (dengan gegabah) menilai blog si A sifatnya Sangunis. Blog si B sifatnya Koleris. Blog si C cenderung Plegmatis. Dan si D perfeksionis abis! Itu tampak dari pemilihan template, ornamen, asesoris yang dipasang, foto-foto, dan tentu saja karakter tulisan. Meski itu semua tak pratis tepat 100 persen.
Lalu apa karakter blog kalian?
Ini cerita sederhana saja. Beberapa hari lalu aku terlibat diskusi kecil dengan seorang blogger. Ia bertanya: mengapa aku selalu ber-comment atau membalas comment dengan menyertakan kata ‘Masehi’ pada setiap akhir ucapan ‘Selamat Tahun Baru’.
Jawabanku sederhana saja: karena tahun baru yang dimaksud adalah tahun baru Masehi. Bukankah ada banyak perhitungan tahun di dunia ini? Entah itu Islam, Saka, Jawa, Imlek, dan lain sebagainya. Maka momen kemarin pada konteksku dalam membalas atau ber-commnet memang diperuntukkan untuk perhitungan tahun Masehi.
“Itu tidak praktis.” ujarnya.
“Mengapa tidak praktis? Tinggal menyebut satu kata Masehi saja kok tidak praktis? Justru penting.”
“Semua orang tau kalau itu ucapan tahun baru untuk perhitungan Masehi, jadi tak perlu lah lagi disebutkan.”
“Justru aku ingin menegaskan bahwa ada banyak perhitungan tahun di dunia ini. Hanya kebetulan saja yang dipakai standar secara internasional adalah perhitungan Masehi.”
“Kamu tuh complicated. Cara berpikirmu rumit. Kamu melulu menggunakan standar dirimu. Segala-galanya mesti sempurna pada tempatnya. Cara berpikirmu tidak mau santai dan dibawa menyenangkan. Bahaya tau nggak.”
Aku hanya tersenyum melihat bibir kesumbanya menari cerewet.
“Kamu mudah stres, karena cara berpikirmu, cara hidupmu. Asal kamu tau, darah akan lebih mudah kental dan itu memicu banyak penyakit.”
Aku mulai ngakak.
“Kamu kalo’ dibilangin selalu ketawa-tawa!”
“Iya-iya, aku ndengerin kok…”
“Aku bisa ngomong gini karena aku pun seperti itu dulunya. Semua-mua mesti pada tempatnya. Sempurna. Complicated. Tapi aku sadar, itu nggak bagus untuk perkembanganku di kemudian hari. Aku mulai mengendurkan cara pandangku terhadap sesuatu. Kini aku bisa mengatasi semua itu. Paling nggak, nggak separah dulu. Tapi aku masih melihat hal itu sangat dominan pada diri kamu. Ah, aku tau pasti kamu pun nggak suka aku ngomong kayak gini.”
Aku tetap saja tersenyum-senyum. “Nggak, aku biasa aja. Aku tau orang akan berpikir seperti itu. Seperti katamu. Karena itu lah yang bakal dirasakan orang setiap berhadapan dengan orang Melankolis yang Sempurna. Aku memang complicated. Bahkan aku sendiri pun menilai seperti itu terhadap diriku sendiri.” kilahku tetap tersenyum menghadapi kebawelannya.
“Tuh kan, gitu kamu menyadari, tapi nggak mau berubah.”
Well, sepenggal dialog itu ternyata cukup punya arti. Punya arti bukan pada saat dialog itu berlangsung atau sudah selesai. Melainkan beberapa hari kemudian.
Ya, beberapa hari lalu, seorang pamanku dari pihak ibu mengontakku. Ia ingin membuat air bor baru di rumahnya, karena pompa listrik di rumanya rusak dan tak lagi berhasil menyedot air tanah. Kebetulan aku baru saja membuat lubang baru untuk air tanah di rumah.
Paman hendak datang pada saat aku mesti buru-buru pergi ke kantor. “Kenapa mesti pagi ini sih?! Kan nggak ada dalam schedule-ku!” keluhku dalam hati. Tapi aku berpikir: kalau tidak pagi, kapan ia bisa bertemu aku? Aku selalu pulang larut. Aku jadi menertawakan diriku sendiri.
Sebetulnya aku hanya perlu meminjamkan teras rumah agar si paman dan si tukang gali yang kemarin kupakai dapat berbincang-bincang secara leluasa. Tapi begitu datang, paman minta ditunjukkan tempat pompa listrik itu berada. Ia bertanya soal posisi lubang gali, analisa kerusakan, ongkos pengerjaan, dan biaya segala bahan yang diperlukan secara terperinci.
“Maspion putih atau abu? Berapa inci? Cassing-nya berapa meter? Total ke dalam tanah berapa meter? Jadi berapa paralon yang dibutuhkan? Berapa satunya? Tapi di toko belakang rumah saya lebih murah seribu rupiah.”
Well, aku jawab semua pertanyaan paman dengan lengkap sembari tersenyum-senyum karena menginsafi: ia seorang Melankolis yang Sempurna. Akut!
Setelah memeriksa pompa, aku mengantar paman lagi ke teras rumah untuk menemui tukang gali. Semestinya aku bisa saja meninggalkan mereka berdua berbincang. Tapi kenyataannya, saat mulai ngobrol, paman malah meminta pendapatku atas hasil kerja si tukang.
Ia bertanya pada si tukang gali segala dan semua yang dibutuhkan seolah sedang mengetes. Dalam hati aku tak habis-habisnya tertawa geli. Karena yang terkesan memang sedang mengetes kemampuan si tukang gali, padahal dia asli bertanya.
“Berapa meter mesti digali agar airnya nggak keruh? Bau nggak nanti airnya? Berapa watt mesin pompa yang dibutuhkan? Maspion atau Wavin? Tapi kan wavin putih ada dua ketebalan? Terus bornya berapa diameternya? Punya bornya? Tetangga saya tuh delapan meter sudah dapat air? Berapa harga satu paralon? Betul segitu kemarin kamu beli, Niel?”
Aku tak kuat untuk tak ketawa. Tapi dia pamanku. Yang lebih tak kuat lagi: melihat muka masam si tukang gali karena merasa sedang di tes ujian akhir semester. Aku betul-betul geleng-geleng kepala. Kalau aku jadi si tukang gali, pastinya aku pun bakal manyun juga seakan dites seperti itu. Padahal aku tahu betul: pamanku sungguh sedang bertanya.
Setelah cukup lama menemani orang yang “seolah sedang melakukan interview lamaran kerja”, aku mulai menarik nafas lega, karena “interview” sepertinya bakal segera berakhir. Tapi, olala!!
Rupanya tidak! Pamanku masih meneruskan ceritanya:
“Saya dulu tinggal di komplek sini juga. Tiga belas tahun saya tinggal di sini. Terus pindah. Dulu pasang pompa tahun tujuh sembilan. Kenapa? Oh, saya sudah pensiun. Waktu saya banyak. Mau ngerjakan pagi, siang, atau sore, saya temani.”
Yang tadinya aku tertawa-tawa geli, giliran aku yang mulai sewot dan masam. Bagaimana tidak, ia malah bernostalgia tentang dirinya pada si tukang gali. Dasar orang Melankolis! aku mulai mengumpat dalam hati. “Nggak praktis bener sih! Kan semua kebutuhan sudah beres. Tinggal kapan mulai kerja. Ini masih saja terus mewawancarai dan bernostalgia pulak. Huh!”
Tapi,
Ow-ow-ow. Tiba-tiba aku terhenyak! Rupanya begini lah kalau orang lain berhadapan dengaku, pikirku. Complicated, tidak praktis, penuh analisis yang sebetulnya bisa disederhanakan, dan menuntut standar sempurna yang tinggi. Duh, aku jadi mengutuki diriku sendiri. Sementara paman malah terus asyik saja bercerita tentang masa mudanya. Sableng!
Begitu kelar, ia berkata: “Niel, coba antar Om ke dalam lagi. Saya mau lihat kualitas airnya. Sebening apa. Bau atau nggak. Lantas ngalirnya deras terus atau nggak…”
Huh!
Tapi aku jadi teringat diskusi kecil soal penyebutan ‘Masehi’ itu. Dalam hati aku berkata lirih: “Kamu memang menyebalkan, DM!”
Bandung, 9 Januari 2009, 00.14 wib
