(The Waiting Is Almost Over: 02)
Kebahagiaan Anda tumbuh berkembang manakala Anda turut membantu orang lain. Namun, bilamana Anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi (J. Donald Walters)
Aku berdiri di kantor sebuah harian di kota Serang, Banten. Lengang, tak begitu ramai, tapi tidak sepi. Hanya ada orang lalu lalang keluar masuk halaman kantor. Mungkin reporter yang hendak belanja berita. Beberapa orang mengernyitkan mata ketika memandangku. Mungkin pikirnya: turis domestik dari mana nih kok nyasar ke kantor koran.
Di ruang depan, sambil meletakkan ranselku yang tinggi, aku tersenyum pada seorang perempuan berparas manis. Ia sudah hendak membalas tersenyum manis pula, tapi buru-buru mengernyitkan mata demi mendapati penampilanku.
“Mari cari siapa, Mas?” sapanya dilembut-lembutkan.
“Kang Kisink Lativa ada?”
“Oh, rasanya tadi udah pulang dari liputan. Sebentar saya panggilkan ya. Silahkan duduk, Mas.”
“Terima kasih.”
“Oya, saya harus memberitahu Kang Kisink dicari oleh siapa ya?”
Aku tersenyum mendapat pertanyaan itu. “Tolong katakan saja: ada temannya dari Bandung.”
Dan perempuan manis itu tampak cemberut sembari menekan beberapa nomor di telpon.
Tak berapa lama muncul lelaki gondrong dari dalam ruangan.
“Dan?!”
“Hei!” aku tersenyum.
“Apa-apaan kamu?” ia tampak terbelalak.
“Apanya yang apa-apaan? Mbok ya disuruh duduk kek. Atau diajak makan siang di mana gitu. Kok malah bengong.”
“Kamu…”
“Kenapa aku?”
“Kamu bawa ransel, sepatu gunung, ya ampun!”
Aku hanya tersenyum melihat matanya menyapu habis penampilanku. “Apa yang aneh? Bukankah aku selalu begini?” ujarku yang lantas melihat penampilanku juga.
“Iya, tapi kamu seperti mau melakukan perjalanan jauh.”
“Yup!”
“Jadi apa yang kamu tulis di blog itu bener?”
“Yup!”
“Gila kamu!”
“Tak ada yang gila bagi seorang lelaki, Kawan.” ucapku tersenyum.
“Tapi, kamu keluar kerja, hendak menyusuri bumi Indonesia. Di saat orang berpikir mapan, kamu malah keluar dari titik itu.”
“Bukankah Siddhartha Gautama pun begitu, eh? Sudahlah. Aku lapar. Aku pingin makan. Kamu sudah makan? Kalau sudah, temani aku ya. Kamu sudah selesai liputan kan?”
Ranselku dibawa masuk oleh Kisink ke dalam. Tak berapa lama kami menyeberang jalan, pergi ke warung depan kantor tempat Kisink sehari-hari kerja.
Rupanya Kisink sudah makan. Jadinya ia memilih menyeruput kopi saja sembari mengepulkan asap rokok yang disebul-sebul nikmat.
Aku makan dengan lahapnya. Pagi tadi begitu tiba di kota Serang, aku belum makan sama sekali. Kisink tertawa geli melihat caraku makan.
“Mau kemana kamu, Dan?”
“Seperti yang kamu baca di blog.”
“Kamu serius?”
“Kapan aku berandai-andai?”
Aku masih terus menikmati pesta makan siangku dengan lahap. Tapi ekor mataku menangkap Kisink menggeleng-gelengkan kepala.
“Mau sampai kapan?”
“Apanya?”
“Kamu melakukan perjalanan?”
“Sampai aku puas.”
“Tapi ingat umurmu.”
“Aku menemuimu tidak untuk minta nasihatmu, Sink. Aku datang karena kangen pingin ngobrol-ngobrol sama kamu.”
“Iya, tapi kamu pergi tahunan lamanya. Akan kamu lewati tahun-tahun itu dengan kesendirian? Sampai kapan kamu sendiri?”
“Selamanya!”
“Hei, ngaco kamu! Lantas kapan kamu nikah?”
“Nikah? Ha-ha-ha-ha…” aku menyudahi makan siangku. Meneguk es teh manis dan menyulut sebatang rokok. “Puffhh… panas betul kotamu ini.”
“Hei, kapan kamu nikah?”
“Hmmm…”
“Aku tak percaya kau tak memiliki gambaran seorang perempuan yang begitu kau rindukan kehadirannya. Aku tahu dia ada.”
“Mungkin aku takkan nikah.”
“Ayolah… jangan kayak anak kecil. Kamu akan terlunta-lunta selama perjalananmu nanti.”
Aku memandangi kendaraan yang berseliweran di jalanan. Melihat orang lalu lalang. Tiba-tiba mataku menangkap seorang tua memanggul dua batang tangga terbuat dari bambu. Terlalu sering aku mendapati pemandangan seperti itu. Seorang tua dengan tangga bambu di pundaknya. Berjalan berkilo-kilo jauhnya.
Berapa harga satu tangga bambu? Dia hanya membawa dua. Seberapa sering orang membutuhkan tangga bambu dalam sehari? Apakah setiap hari orang butuh tangga bambu? Kalau pun laku dua-dua dalam sehari, berapa yang dia dapatkan?
Tapi dia tetap terus berjalan dan berjualan tangga bambu. Setiap hari. Mungkin dia juga menikah. Mungkin sudah punya anak cucu. Tapi dia tetap terus berjalan dan berjualan. Karena itulah yang dapat dia lakukan. Ada sesuatu yang dia kerjakan.
“Kamu akan terlunta-lunta selama perjalananmu nanti.” ulang Kisink mengagetkanku dari lamunan.
“Apa bedanya seperti selama ini…” ucapku lirih tanpa melihat mata Kisink.
“Kamu tidak bahagia dengan hidupmu, Dan?”
“Aku bahagia.”
“Tapi kamu selalu tampak gelisah.”
“Hmm… ya. Aku memang selalu gelisah.”
“Menjadi traveler bukan solusi, Dan. Kamu akan semakin gelisah dan kesepian.”
“Paling tidak kompensasiku positif.”
“Tapi setiap traveler juga merindukan pulang.”
“Yup.”
“Lalu apa yang bakal kau dapatkan? Sementara itu semua orang juga menjalani hidupnya.”
“Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Setiap pembaca yang jeli selalu bisa menangkap makna tersembunyi dari setiap tulisanmu di blog.”
“Lantas?”
“Kamu seperti sedang di persimpangan jalan. Kamu mendambakan sebuah cinta. Orang menyangka semua itu bisa dengan mudah kamu raih. Tinggal mengedipkan mata. Tapi tidak pada kenyataannya. Kamu terus saja gelisah.”
“Hmmffhhh…” aku menghembuskan asap rokok keluar dari mulut bersamaan dengan nafas yang mendengus dari hidung.
Kupandangi mata Kisink. Keserap apa yang sudah ia katakan. Mungkin dia benar, aku memang sedang gelisah. Apakah ia menangkap hal itu dari tulisan-tulisanku yang terpantul di blog? Aku tidak tahu. Ia bagaikan sahabat lama yang telah mengenalku begitu dalam. Padahal kami justru baru saling kenal di blog. Meski sudah sejak jauh hari kami hanya saling tahu nama karena sama-sama penulis buku.
“Aku nggak mau menghalangi perjalananmu. Kalau kamu pikir kamu butuh traveling, lakukan saja. Asal kamu tahu tujuanmu. Tapi ingat, Dan, hidup tetap terus berjalan.”
“Yup.”
“Tidur di mana kamu malam ini?”
Aku hampir bersorak girang. Sebetulnya aku tahu ke mana arah pertanyaannya. Kalau mau, aku bisa menginap di rumahnya. Tapi malam ini aku ingin mengunjungi teman lama. Aku hendak menginap di sana saja. Karena sudah lama tak bertemu.
“Oke, telpon aku kalau ada apa-apa. Siang ini aku mesti membuat laporan liputan. Maklum, harian.” ujarnya tertawa mohon pengertian.
“Aku paham. Aku toh hanya minta ditemani makan siang dan memang ingin menemuimu sebelum perjalananku semakin jauh.”
“Sebagai sesama blogger?”
“Sebagai sesama blogger!” kami tertawa bersama.
Ransel sudah kugendong. Aku mulai melangkah meninggalkan halaman kantor harian itu. Kisink mengantar sampai gerbang depan.
“Kamu nggak mampir ke Ranah Dunia? Menemui Mas Gege?”
“Besok pagi mungkin.”
“Kamu juga akan mampir ke Kendal nanti?”
“Yup.”
“Salam buat Pak Samali ya.”
“Akan kusampaikan.”
“Hati-hati, Dan. Tetap menulis di setiap kota yang memungkinkan.”
“Akan kulakukan.”
“Kami pasti merindukan tulisan-tulisanmu. Udah lama nggak ada postingan baru tuh. Orang menunggu-nunggu.”
“Halaaahhh… apaan sih.” aku tertawa ngakak.
Kami berjabatan tangan dan saling genggam. Sorot mata kami memancarkan persahabatan. Lantas aku menyeret ransel dan meninggalkan Kisink yang masih berdiri di sana.
Tiba-tiba dari kejauhan ia terteriak:
“Istriku masih mengandung anakku yang kedua. Nanti ketika kamu pulang, anakku sudah bisa berlari-lari mengejar omnya yang bandel!!!” teriaknya lantang.
Aku hanya tertawa. Tapi aku merenungi kalimatnya.
15 Januari 2008 | 17.24 wib




Yang membuatku bertahan hidup?
H a r a p a n
Harapan tentang esok yang cerah. Harapan akan cinta yang mendalam. Harapan melihat binar mata yang riang. Harapan terhadap rintik hujan yang syahdu. Harapan terwujudnya kedamaian.
Ya, itu sudah cukup buatku.
piyek, terakhir menulis selamat tahun baru, jadi ibu rumah tangga, dan traffic light
tak bisa menggapai siapa-siapa?
Berarti betul ..kita membicarakan siapa di sini ..bukan apa..bukan kenapa…bukan bagaimana…
hanya siapa.
semudah itu…sekaligus…sesulit itu…
Jadi siapa yang di sini kau inginkan Dan…
Istri?
Sahabat?
Kekasih?
Teman perjalanan hidup?
Atau murni hanya siapa…seseorang yang saat ini ..kamu butuhkan…hanya kamu yang bisa menjawab.
Dan.
Jika kamu memilih sahabat sebagai jawaban utama.
Bukalah mata dan hatimu lebar lebar….
ada banyak sahabat untuk mu..
Ada..AKU….
Dan…
Aku percaya kamu sudah “bicara” pada Tuhan
Aku percaya kamu sudah berbagi denganNya….
Dan aku tau…jawabannya hanya akan di berikan padamu…hanya kamu.
kebahagiaan dan ketentraman dalam keseharian, lebih yang ku ingini yaitu keridhoan ALLAH SWT, yach itu dah cukup buat q dan selebihnya dapat diperhitungkan lagi.
seriusan, Om?
miSSiSSma, terakhir menulis miSSiSSma is now…
hmm.. saya ketinggalan kereta rupanya.
sudah pergi kau Dan?
kenapa tak mampir kegubukku? ini pelanggaran! Serang-Tangerang masih satu wilayah kekuasaan.
pertanyaanmu bagiku klise, “apa yang membuat kalian bertahan hidup?” , Jelas semua yang ada didiriku,disekelilingku,di pikiranku,dikeyakinanku dan segalanya termasuk KuasaNya yang masih berkenan memberiku hidup. Maka aku tetap bertahan hidup.
agh… Kalau sudah begini aku malah jadi kangen emak di rumah? sudah setua itu aku belum bisa jua membahagiakannya. Hey! Emak pula yang menstimulus diriku untuk bertahan hidup, sebab aku ingin sekali membahagiakan emak. Salah satunya, membelikan alat bantu dengar yang baru untuknya.
Gyah… mulai ngelantur berkepanjangan aku.
Wish you all the best Dan!
@Orang biasa & DM
Tentang orang yang pernah merasa sepi walau ditengah keramaian, saya pernah menulis di http://edratna.wordpress.com/2007/10/18/rasa-kesepian-bagaimana-mengatasinya/
Tapi saya berharap DM bukan orang yang lagi merasa sepi di tengah keramaian (jika tulisan ini riil yang menggambarkan perasaannya).
.
Kadang, bagi seorang penulis, seperti Penganyam Kata kita ini, saya berpikir, apakah yang ditulisnya nyata? Atau seperti sebagian penulis skenario lain, yang ingin mengharu biru perasaan penontonnya? Atau pembuat film horor yang ingin membuat penontonnya takut, tapi tetap datang ke bioskop?
Entah mana dari kedua hal tsb yang benar….Jadi, saya memberi komentar awal seperti kesan pertama saat membaca tulisan ini. Kemudian setelah lama, berpikir, kadang geli sendiri, jangan-jangan teman kita ini sengaja mengharu biru pembacanya….dan dia tersenyum-senyum melihat reaksi pembacanya. Dan kebenaran itu akan terlihat kalau kita ketemu bertatap muka, karena dari pandangan mata akan terlihat bagamana gambaran sebenarnya…jarang mata bisa menutupi perasaan seseorang. Oleh karena itu, tataplah lawan bicaramu…
Apapun kebenarannya, keduanya berhasil Niel…..saya komen ini sambil senyum-senyum sendiri, soalnya Jakarta pagi2 hujan dan nggak bisa ngapa2 in.
Hujan menyejukkan, tapi kadang membuat hati melow….dan saya lebih memilih menyeruput susu coklat panas sambil memandangi rintik hujan di jendela.
edratna, terakhir menulis Ayah dan putri nya
Hahaha….dan postingan di atas termasuk kategori ceritera…lanjutan dari The Waiting is Almost Over……
Bisa juga kisah nyata Penganyam Kata sendiri, ataupun imaginasi penulisnya…
Ahh Niel….lain kali mesti berhati-hati, analisis dulu sebelum komen..huahuahua
edratna, terakhir menulis Ayah dan putri nya
yey, si Om…bukannya menjawab,, malah balik nanya…
diulang nih…
seriusan, Om?
miSSiSSma, terakhir menulis miSSiSSma is now…
Dalam hidup, ade tidak bertahan, ade berjuang dan meraih impian
@ Tanti : temen yang centil yah…….. hmmmm begitu ya…..temen mas yang centil…… hehehe
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
@goenoeng
Oooo…merokok ya Oom
anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan
Serius niy mas DM……kapan ke Padangnya ? Kira-kira sampainya tanggal berapa ?
imoe, terakhir menulis …pesona carlos…
Apa yang membuatku bertahan hidup?
Ini pertanyan yang samasekali baru bagiku karena selama ini tak pernah kurisaukan hidupku, tentu saja aku kadang tetap harus bersusah hati oleh permasalahan hidupku.
Namun seepertinya hidup berarti dipilih, & dipilih bukan untuk menggengam erat namun untuk melepaskan sekaligus menerima. Dalam hubungan timbal balik itu, melepaskan & menerima, hidup jadi bermakna & terus dikuatkan
Sekedar salam dariku teman, sesama pejalan
tomy, terakhir menulis TUHAN DALAM DIRI SESAMAMU
Wah Kalau Mampir ke kendal salam untuk angin kendal mas,aku kangen untuk pulang. SIapa tahu aku pas lowong dari kerja kasih tahu mas.aku bisa pulang menemani
hehehhehe.
Yang Membuatku Terus Bertahan Adalah Mimpi,Mimpi juga pasti yg membuat mas DM keukeuh untuk traveling entah mimpi tentang apa.
yang membuatku hidup adalah Harapan…