Apa yang Membuat Kalian Bertahan Hidup?
Published January 15, 2009
(The Waiting Is Almost Over: 02)
Kebahagiaan Anda tumbuh berkembang manakala Anda turut membantu orang lain. Namun, bilamana Anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi (J. Donald Walters)
Aku berdiri di kantor sebuah harian di kota Serang, Banten. Lengang, tak begitu ramai, tapi tidak sepi. Hanya ada orang lalu lalang keluar masuk halaman kantor. Mungkin reporter yang hendak belanja berita. Beberapa orang mengernyitkan mata ketika memandangku. Mungkin pikirnya: turis domestik dari mana nih kok nyasar ke kantor koran.
Di ruang depan, sambil meletakkan ranselku yang tinggi, aku tersenyum pada seorang perempuan berparas manis. Ia sudah hendak membalas tersenyum manis pula, tapi buru-buru mengernyitkan mata demi mendapati penampilanku.
“Mari cari siapa, Mas?” sapanya dilembut-lembutkan.
“Kang Kisink Lativa ada?”
“Oh, rasanya tadi udah pulang dari liputan. Sebentar saya panggilkan ya. Silahkan duduk, Mas.”
“Terima kasih.”
“Oya, saya harus memberitahu Kang Kisink dicari oleh siapa ya?”
Aku tersenyum mendapat pertanyaan itu. “Tolong katakan saja: ada temannya dari Bandung.”
Dan perempuan manis itu tampak cemberut sembari menekan beberapa nomor di telpon.
Tak berapa lama muncul lelaki gondrong dari dalam ruangan.
“Dan?!”
“Hei!” aku tersenyum.
“Apa-apaan kamu?” ia tampak terbelalak.
“Apanya yang apa-apaan? Mbok ya disuruh duduk kek. Atau diajak makan siang di mana gitu. Kok malah bengong.”
“Kamu…”
“Kenapa aku?”
“Kamu bawa ransel, sepatu gunung, ya ampun!”
Aku hanya tersenyum melihat matanya menyapu habis penampilanku. “Apa yang aneh? Bukankah aku selalu begini?” ujarku yang lantas melihat penampilanku juga.
“Iya, tapi kamu seperti mau melakukan perjalanan jauh.”
“Yup!”
“Jadi apa yang kamu tulis di blog itu bener?”
“Yup!”
“Gila kamu!”
“Tak ada yang gila bagi seorang lelaki, Kawan.” ucapku tersenyum.
“Tapi, kamu keluar kerja, hendak menyusuri bumi Indonesia. Di saat orang berpikir mapan, kamu malah keluar dari titik itu.”
“Bukankah Siddhartha Gautama pun begitu, eh? Sudahlah. Aku lapar. Aku pingin makan. Kamu sudah makan? Kalau sudah, temani aku ya. Kamu sudah selesai liputan kan?”
Ranselku dibawa masuk oleh Kisink ke dalam. Tak berapa lama kami menyeberang jalan, pergi ke warung depan kantor tempat Kisink sehari-hari kerja.
Rupanya Kisink sudah makan. Jadinya ia memilih menyeruput kopi saja sembari mengepulkan asap rokok yang disebul-sebul nikmat.
Aku makan dengan lahapnya. Pagi tadi begitu tiba di kota Serang, aku belum makan sama sekali. Kisink tertawa geli melihat caraku makan.
“Mau kemana kamu, Dan?”
“Seperti yang kamu baca di blog.”
“Kamu serius?”
“Kapan aku berandai-andai?”
Aku masih terus menikmati pesta makan siangku dengan lahap. Tapi ekor mataku menangkap Kisink menggeleng-gelengkan kepala.
“Mau sampai kapan?”
“Apanya?”
“Kamu melakukan perjalanan?”
“Sampai aku puas.”
“Tapi ingat umurmu.”
“Aku menemuimu tidak untuk minta nasihatmu, Sink. Aku datang karena kangen pingin ngobrol-ngobrol sama kamu.”
“Iya, tapi kamu pergi tahunan lamanya. Akan kamu lewati tahun-tahun itu dengan kesendirian? Sampai kapan kamu sendiri?”
“Selamanya!”
“Hei, ngaco kamu! Lantas kapan kamu nikah?”
“Nikah? Ha-ha-ha-ha…” aku menyudahi makan siangku. Meneguk es teh manis dan menyulut sebatang rokok. “Puffhh… panas betul kotamu ini.”
“Hei, kapan kamu nikah?”
“Hmmm…”
“Aku tak percaya kau tak memiliki gambaran seorang perempuan yang begitu kau rindukan kehadirannya. Aku tahu dia ada.”
“Mungkin aku takkan nikah.”
“Ayolah… jangan kayak anak kecil. Kamu akan terlunta-lunta selama perjalananmu nanti.”
Aku memandangi kendaraan yang berseliweran di jalanan. Melihat orang lalu lalang. Tiba-tiba mataku menangkap seorang tua memanggul dua batang tangga terbuat dari bambu. Terlalu sering aku mendapati pemandangan seperti itu. Seorang tua dengan tangga bambu di pundaknya. Berjalan berkilo-kilo jauhnya.
Berapa harga satu tangga bambu? Dia hanya membawa dua. Seberapa sering orang membutuhkan tangga bambu dalam sehari? Apakah setiap hari orang butuh tangga bambu? Kalau pun laku dua-dua dalam sehari, berapa yang dia dapatkan?
Tapi dia tetap terus berjalan dan berjualan tangga bambu. Setiap hari. Mungkin dia juga menikah. Mungkin sudah punya anak cucu. Tapi dia tetap terus berjalan dan berjualan. Karena itulah yang dapat dia lakukan. Ada sesuatu yang dia kerjakan.
“Kamu akan terlunta-lunta selama perjalananmu nanti.” ulang Kisink mengagetkanku dari lamunan.
“Apa bedanya seperti selama ini…” ucapku lirih tanpa melihat mata Kisink.
“Kamu tidak bahagia dengan hidupmu, Dan?”
“Aku bahagia.”
“Tapi kamu selalu tampak gelisah.”
“Hmm… ya. Aku memang selalu gelisah.”
“Menjadi traveler bukan solusi, Dan. Kamu akan semakin gelisah dan kesepian.”
“Paling tidak kompensasiku positif.”
“Tapi setiap traveler juga merindukan pulang.”
“Yup.”
“Lalu apa yang bakal kau dapatkan? Sementara itu semua orang juga menjalani hidupnya.”
“Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Setiap pembaca yang jeli selalu bisa menangkap makna tersembunyi dari setiap tulisanmu di blog.”
“Lantas?”
“Kamu seperti sedang di persimpangan jalan. Kamu mendambakan sebuah cinta. Orang menyangka semua itu bisa dengan mudah kamu raih. Tinggal mengedipkan mata. Tapi tidak pada kenyataannya. Kamu terus saja gelisah.”
“Hmmffhhh…” aku menghembuskan asap rokok keluar dari mulut bersamaan dengan nafas yang mendengus dari hidung.
Kupandangi mata Kisink. Keserap apa yang sudah ia katakan. Mungkin dia benar, aku memang sedang gelisah. Apakah ia menangkap hal itu dari tulisan-tulisanku yang terpantul di blog? Aku tidak tahu. Ia bagaikan sahabat lama yang telah mengenalku begitu dalam. Padahal kami justru baru saling kenal di blog. Meski sudah sejak jauh hari kami hanya saling tahu nama karena sama-sama penulis buku.
“Aku nggak mau menghalangi perjalananmu. Kalau kamu pikir kamu butuh traveling, lakukan saja. Asal kamu tahu tujuanmu. Tapi ingat, Dan, hidup tetap terus berjalan.”
“Yup.”
“Tidur di mana kamu malam ini?”
Aku hampir bersorak girang. Sebetulnya aku tahu ke mana arah pertanyaannya. Kalau mau, aku bisa menginap di rumahnya. Tapi malam ini aku ingin mengunjungi teman lama. Aku hendak menginap di sana saja. Karena sudah lama tak bertemu.
“Oke, telpon aku kalau ada apa-apa. Siang ini aku mesti membuat laporan liputan. Maklum, harian.” ujarnya tertawa mohon pengertian.
“Aku paham. Aku toh hanya minta ditemani makan siang dan memang ingin menemuimu sebelum perjalananku semakin jauh.”
“Sebagai sesama blogger?”
“Sebagai sesama blogger!” kami tertawa bersama.
Ransel sudah kugendong. Aku mulai melangkah meninggalkan halaman kantor harian itu. Kisink mengantar sampai gerbang depan.
“Kamu nggak mampir ke Ranah Dunia? Menemui Mas Gege?”
“Besok pagi mungkin.”
“Kamu juga akan mampir ke Kendal nanti?”
“Yup.”
“Salam buat Pak Samali ya.”
“Akan kusampaikan.”
“Hati-hati, Dan. Tetap menulis di setiap kota yang memungkinkan.”
“Akan kulakukan.”
“Kami pasti merindukan tulisan-tulisanmu. Udah lama nggak ada postingan baru tuh. Orang menunggu-nunggu.”
“Halaaahhh… apaan sih.” aku tertawa ngakak.
Kami berjabatan tangan dan saling genggam. Sorot mata kami memancarkan persahabatan. Lantas aku menyeret ransel dan meninggalkan Kisink yang masih berdiri di sana.
Tiba-tiba dari kejauhan ia terteriak:
“Istriku masih mengandung anakku yang kedua. Nanti ketika kamu pulang, anakku sudah bisa berlari-lari mengejar omnya yang bandel!!!” teriaknya lantang.
Aku hanya tertawa. Tapi aku merenungi kalimatnya.
15 Januari 2008 | 17.24 wib
