Bagaimana Kalian Bertahan Hidup?

(The Waiting Is Almost Over: 03)

Persahabatan adalah seperti seonggok buah anggur: Kalau kauperas akan menjadi satu sari buah. Yang mentah dan yang matang adanya berlawanan, tapi bila yang mentah juga menjadi matang, menjadi sahabat yang baik (Jalaluddin Rumi)

Aku mengetuk pelan pintu kayu sebuah paviliun di pojok kota Serang, Banten. Tak ada sahutan. Kuketuk sekali lagi. Kudengar langkah kaki mendekat dari dalam. Cepat-cepat kusembunyi di balik tembok. Tapi lupa menyeret ranselku yang kuletakkan di depan.

Si pemilik paviliun celingukan mencari si pengetuk pintu. Yang dia temukan hanyalah seonggok ransel dekil tergolek di sana.

“Hoi! Ransel siapa nih?” tanyanya tidak pada siapa-siapa.
Aku mengutuki kebodohanku. Bersembunyi tapi lupa menyeret ransel. Seperti maling yang sengaja meninggalkan jejak.

Tak lama ia pun menyembulkan kepala ke balik tembok. Tampak wajahku yang cengar-cengir seperti kucing ketahuan mencuri potongan ikan di sana.

“Dan?!!!”
“Hai!”
“Dari mana kamu?”
“Dari tadi sembunyi…”
“Sialan! Maksud aku kamu dari Bandung?”
“Yup.”
“Masuk, Dan.”

Aku membuka sepatu gunungku yang berdebu. Menyeret ransel dekilku ke dalam. Kemudian menggelosor di lantai ruang tamu yang sejuk.

“Ya ampun, Dan, kamu seperti mau melakukan perjalanan jauh…” tukasnya sembari sibuk memompa air dari dispenser.
“Yeaaahhh!!”
“Mau ke mana?”
“Melihat dunia!”
“Ayolah, jangan becanda mulu!”
“Lho?”

Ia menyodorkan botol air minum. Kubuka kemeja kotak-kotakku. Membiarkan kaus putih berkuasa atas badanku. Kemudian kukeluarkan rokok dan menghisap sebatang. Kulemparkan bungkus rokok ke arahnya. Ia pun mencomot sebatang.

“Gimana kabarnya, Mas?”
“Ya ginilah, Dan.”
“Ya ginilah, Dan? Apa maksud ya ginilah, Dan?” tanyaku sembari mengamati ruang tamu paviliun itu.
“Ya seperti yang kamu lihat lah… Dari dulu juga gini. Kalo’ lagi ramai order ya makan, kalau lagi sepi ya puasa.” akunya tersenyum.
Tiba-tiba sontak aku menoleh. “Maksud Mas?”
“Aku sedang tidak mau mengeluh, Dan.”
“Aku juga tidak meminta Mas mengeluh. Tapi apa maksud makan dan puasa tadi? Mas sedang susah?”
“Ya kamu tau sendiri, Dan, dari dulu aku freelance begini. Kalau ada order nge-layout, berarti aku dapat duit. Bisa makan, bayar listrik, dan nggak telat bayar kosan.”
“Kalau nggak ada order?”
“Puasa.”
“Serius?”
“Iya, Dan. Dulu terakhir kamu ke sini, dengan uang sepuluh ribu aku masih bisa masak untuk makan sehari dua kali. Tapi sekarang uang sepuluh ribu harus bisa kujadikan makan tiga hari.”

Aku tercekat. Abu rokokku jatuh ke lantai. Kupandangi matanya dengan tajam.

“Aku nggak mau ngeluh, Dan. Kamu saja yang tanya-tanya.”
“Gimana caranya sepuluh ribu untuk makan tiga hari?”
“Kamu tau, Dan, yang penting ada beras dan minyak tanah. Nasi kumasak dengan potongan wortel. Dengan cara begitu aku bisa bertahan hidup. Kalau waktu makan tiba, uih, nikmatnya tiada tara, Dan. Terkadang kita bisa menikmati kebahagiaan di saat susah.”
“Iya, tapi kan order bukan berarti nggak ada sama sekali?”
“Memang, tapi begitu ada uang kan mesti bayar ini bayar itu. Ya sisanya kuhemat-hemat untuk makan.”

Aku tercenung. Betapa rupa-rupa kehidupan manusia. Terkadang aku bertemu dengan orang yang sekali makan bisa merogoh kocek 1 juta perak. Terkadang aku bertemu dengan orang yang gemar membuang-buang makanan. Dan kini aku bertemu dengan seorang kawan, kawanku sendiri, yang untuk makan saja sulitnya minta ampun. Aku jadi ingat pola makanku yang sering telat dan tak teratur.

Ia kawan lamaku. Hidup seorang diri di kota ini. Bekerja mengandalkan order layout. Macam-macam yang dia layout. Entah itu majalah, undangan pernikahan, buku, atau apa saja. Aku tahu ia kerap sulit. Tapi ia seorang pemurah. Ia memberikan apa yang bisa ia berikan.

“Aku tidak mau mengeluh, Dan. Aku bisa menikmati hidupku meski dalam kondisi sulit sekalipun. Karena di saat rezeki datang, rasanya itu betul-betul dari Tuhan. Aku manfaatkan betul rezeki yang kudapatkan itu.”

Aku tersenyum mendengarnya. Ia tak pernah menyerah. Tiba-tiba aku jadi berpikir: sudahkah aku membelanjakan uangku untuk hal-hal yang bermanfaat?

“Kabarmu sendiri gimana, Dan? Lama nggak ke sini. Sudah nikah, eh?”

Aku matikan rokokku ke dalam asbak. Membuka ransel. Mengeluarkan peralatan mandi dan pergi ngeloyor ke kamar mandi.

“Hoi! Ditanya malah ngeloyor?”
“Aku belum mandi dari kemariiinnn…”

* * *

Matahari pamit pulang. Langit kota Serang mulai gelap. Tapi aku sudah segar sehabis mandi. Kulihat ada dua gelas kopi mengepul-ngepul di ruang tamu. Sambil menyeruput dan mengisap rokok, kami bercerita tentang masa-masa kuliah dulu di Bandung.

“Lapar kamu, Dan?”
“Aha!”
“Mau makan apa?”
“Sate bandeng!”
“Wah, seru itu. Aku yang tinggal di Serang aja jarang makan sate bandeng.”
“Yuk kita keluar makan. Aku traktir!”
“Yuhuuu…!!” teriaknya girang dan mulai bersiap diri.

Berdua kami menikmati Serang malam hari. Berjalan menyusuri trotoar yang sunyi. Ditemani semburat purnama di langit. Tiba-tiba aku teringat wajah seseorang. Duh! Mengapa wajah itu terus berkelebat, batinku dalam hati.

* * *

Matahari sudah mulai merangkak ketika aku membuka mata. Kulihat temanku sudah duduk di depan komputer. Padahal semalam kami ngobrol sampai Subuh hari.

“Jam berapa sekarang, Mas?”
“Udah jam sebelas tuh. Katanya mau ke Ranah Dunia, ketemu Mas Gege?”
“Iya…”
“Mandi gih!”

Setelah mandi aku langsung mengemasi ransel.

“Dari Ranah Dunia aku langsung berangkat lagi, Mas.”
“Hei, nginaplah beberapa hari di sini.”
“Perjalananku masih panjang, Mas.”
“Kamu serius mau avonturir?”
“He-eh.”
“Ya ampun, Dan… Dan… Apa sih yang kamu cari?”
Aku hanya tersenyum mendengar kalimatnya.

Kini aku sudah siap. Sepatu gunung sudah kukenakan. Ransel sudah nangkring di punggungku. Aku mengeluarkan dompet. Kukeluarkan dua lembar seratus ribuan.

“Jangan tersinggung, Mas, ini buat kalau ada keperluan mendesak.”
“Dan, hei!”
“Aku malah tersinggung kalau Mas tolak.”
“Apa-apaan ini?”
“Ini bukan buat biaya nginepku. Uangku memang nggak banyak. Tapi ini rezeki dari Tuhan. Kebetulan saja datang lewat aku.” bisa-bisanya aku berseloroh soal rezeki.
“Tapi,”
“Udahlah… nggak usah tapi-tapi. Sok basa-basi banget sih. Kayak kita baru kenal minggu kemarin aja. Terima!”
“Makasih, Dan. Aku memang butuh.”

Kami berjabatan tangan dan saling menggenggam. Sorot mata kami memancarkan persahabatan. Aku mulai berjalan lagi dengan ransel sarat beban.

Tiba-tiba dari kejauhan ia terteriak:
“Jangan memaksakan diri, Dan. Kalau di tengah jalan kamu memutuskan pulang, tak ada seorang pun yang berhak mencemooh!!”

Aku hanya tertawa. Tapi aku merenungi kalimatnya.

17 Januari 2009 | 01.44 wib

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

42 Responses to Bagaimana Kalian Bertahan Hidup?

  1. edratna says:

    Sekarang aku bisa menikmati ceritera mu sebagaimana membaca novel….hmm pasti masih ada sambungannya. Bagaimana tokoh Dan ini akan berkeliling, mencari entah apa yang dicarinya.

    Dan setelah pertemuannya kali ini, apakah dia (tokoh Dan) masih membuang uangnya untuk hal-hal tak berguna (seperti rokok, misalnya…ssst yang merokok pasti protes). Dan bagaimana tokoh Dan setiap kali ditanya tentang pertanyaan klasik di Indonesia jika ketemu orang.
    “Apa kabar”
    “Bagaimana, sudah bekeluarga?” dan jika dijawab sudah, ada pertanyaan lanjutan…
    “Putra nya udah berapa?” dan kalau dijawab belum, ada lagi lanjutannya
    “Jangan lama-lama” Atau kalau tahu menikah udah beberapa tahun, pasti dinasehati lagi, jangan menunggu punya uang dst dst nya….

    Hehehe…aku menunggu lanjutannya, kemana Dan akan pergi, perlukah menyeberang selat Sunda, atau meneruskan ke Ujung Kulon…sekaligus bertapa di sana.

    edratna, terakhir menulis Ayah dan putri nya

    DM: Hi-hi-hi… Aku mulai bisa tersenyum-senyum dalam membalas komen kali ini.
    Komen Ibu menggelitik. Aku yang merawi cerita ini saja penasaran, apalagi Ibu. He-he-he.
    Kita ikuti saja, Bu, kemana dan apa yang hendak dicari si Dan itu.
    (btw, nonton di PIM kok sendirian tho? Mbok ajak-ajak…)

  2. nung says:

    pertama kali… kapan mampir cempaka putih :D

    nung, terakhir menulis Test Pack

    DM: Wadaw, mesti ke Cempaka Putih kah? Ke Pena Publishing ya? Banjir nggak? He-he-he.

  3. omoshiroi says:

    “Tiba-tiba aku teringat wajah seseorang. Duh! Mengapa wajah itu terus berkelebat, batinku dalam hati.”

    Ini bisa dijadikan bahan quiz berhadiah untuk cerita ini bang..pertanyaanya, wajah siapakah yang dimaksud cerita di atas?
    kirim jawaban dengan format REG(spasi)DAN(spasi)jawaban..kirim ke nomor sekian-sekian..
    hehe,,

    ^saya yakin banget itu bukan wajah saya yang bang dan ingat secara tiba-tiba..hehe^

    omoshiroi, terakhir menulis El Meler (Film)

    DM: Ha-ha-ha-ha… Ada-ada saja. Tak terpikirkan sama sekali malah.
    Mau jadi ketua panitia quiznya? (halah!).

  4. goenoeng says:

    lama2 ceritamu seperti kisah Si Roy. berpetualang, hanya minus enduro.
    apa kamu mau napak tilas perjalanannya Roy, Dan ?
    dan aku kok membaca kesamaaan di setiap akhir, pasti ada kata ‘pulang’.
    aku merenungi kata itu.

    *ngomong2, hari ini sudah nyuci baju belum ?*

    DM: Ini Neo Roy, Goen. Yang menulis kisahnya pakai laptop. Menayangkan tulisannya lewat warnet atau berburu hotspot di jalanan.
    .
    Aha! Kau jeli, Goen. Tak ada satu kata pun yang kutulis tanpa maksud tersembunyi. Ahuhuuu…
    *Baju kotornya belum banyak, Goen. Nantilah di Jakarta.*

  5. dana says:

    Wah, perjalanan yang mengasyikkan. Terus berjalan dan terus bercerita mas.

    dana, terakhir menulis Hadiah Dari Surga

    DM: Terima kasih, Mas Dana. Aku merasa ditemani. Thanx.

  6. Ay says:

    Kapan waktunya pulang?
    Sekarang atau esok lusa..

    Hanya hatimu yang tahu jawabnya..
    Dan jangan pula kau ingkari jawabnya..

    *kabarku baik Mas.. walau juga sepi dan hampa..
    aku ada tulis email melalui gmail..
    jika sempat, baca yah.. :D

    Ay, terakhir menulis telepati hati

    DM: Sepi dan hampa? Mengapa?
    But thanx, Ay. Suratmu akan kubaca. Sebagai peneman tembang perjalanan.
    Di kota mana engkau tinggal?

  7. marshmallow says:

    goniel, aku menikmati ceritamu ini, sarat pesan moral.
    dan soal makanan bersisa itu…
    ah, jadi malu… :oops:

    mungkin aku termasuk orang yang kurang pandai bersyukur.

    DM: Di saat kita punya uang, seolah kita bisa membeli dunia. Bahkan terkadang kita kerap tak melihat lagi harga yang tertera di menu makanan. Okelah, itu memang hak setiap orang. Namun kita pun kerap lupa, ada orang lain yang bahkan untuk makan pun sulitnya minta ampun. Lantas apa yang mesti kita lakukan? Aku belum tahu jawabannya. Yang kubisa lakukan baru membaginya lewat cerita.
    .
    Bersyukur barangkali adalah jalan yang menenangkan jiwa. Bagaimana pun kondisi kita. Thanx, Goyul.

  8. marshmallow says:

    tapi aku mensyukuri banyak hal, goniel.
    aku bersyukur atas banyak hal, terutama apa yang terjadi dalam suatu rentang waktu tersingkat dalam album hidupku: kebahagiaan, tawa, kelucuan, tangis, kelelahan, dan kepedihan. semuanya tanpa kecuali!

    rest assured, i won’t take them for granted, things that i will cherish forever.

    dan bagaimana aku bertahan hidup? adalah dengan menjenguknya kembali dengan penuh kerinduan, tapi tidak menangis.

    DM: Hanya karena itu engkau bertahan?

  9. AL says:

    Entah ya, saya kok merasa pertanyaan-pertanyaan pak Daniel yang dituliskan sebagai judul itu bukan dimaksudkan untuk dijawab. Tapi dimaksudkan untuk kita semua renungkan.

    Kayak baca buku-bukunya Paulo Coelho saja, merenung…

    @Dan..
    Saya sepakat dengan kawan pak Dan itu. Memang gak ada hubungannya kebahagiaan dengan uang, dan tidak ada juga hubungannya dengan kesempitan hidup.

    Sebelum saya menjadi guru, saya sempat bekerja sebagai karyawan swasta. Kerjanya gampang, cuman tukang ngetik doang apa yang disuruh BOS. Gak usah capek mikir, dapet uang yang cukup besar buat seorang bujangan seperti saya ini. Tapi saya jenuh dan tidak bahagia. Lalu saya banting setir, menjadi guru SD berpenghasilan 500 ribu rupiah perbulan. Uang segitu, untuk ongkos dan beli buku, sisa cuma sedikit. Selama 5 hari saya makan indomie rebus saja, kalau pulang ke rumah baru bisa ketemu nasi. Selama hampir dua tahun saya hidup seperti itu (Habis kalau gaji naik sedikit, harga-harga naik banyak. Malahan makin susah dari sebelumnya yang ada. ) Baru beberapa bulan ini bisa lebih lega sedikit. Yah, sedikit saja..misalnya, udah bisa makan nasi tiap hari hehehe… Tapi saya senang. Jauh lebih bahagia daripada saat menjadi karyawan.

    AL, terakhir menulis Pornografi-Fotografi dan Tentang Patuh

    DM: Aha! Aku suka sekali paragraf pertama! Yeah!
    Merenung seperti gunung ya?
    .
    Ceritamu menarik, Al. Aku mengamini. Gaji besar tapi kalau tidak nyaman, rasanya kita seperti bekerja untuk uang. Bukan uang yang bekerja pada kita. Yang menarik tentu saja gaji besar dan kita nyaman dalam melakoni pekerjaan kita. Bukankah begitu? Ha-ha!
    .
    Kebahagiaan ukurannya memang sangat relatif ya.

  10. mantan kyai says:

    sepakat bu endratna. mulai menikmati blog ini

    DM: Lha, tadinya belum menikmati tho, Mas? He-he-he…

  11. icha says:

    @Dan..
    aku menunggu giliran kau kunjungi di jogja saja yah…aku punya banyak kota, tapi aku lebih memilih jogja untuk menyambutmu…

    @DM
    jogjaaaaaaaaaaaaaaaa….:p

    icha, terakhir menulis Parafrase Romantis

    DM: Si Dan memang lebih senang menemuimu di Yogya ketimbang di Jakarta.
    Yogyaaaaaaaaaaa………… Ha-ha!

  12. Lala says:

    Aku percaya, akan ada suatu kejadian dalam hidup seseorang yang akan membuatnya malu pada apa yang pernah dia lakukan seumur hidupnya.

    Bisa lewat mendengar cerita, membacanya, melihatnya, atau bahkan mengalaminya langsung.

    Tapi, DM..
    Hanya manusia-manusia tertentu saja yang mau belajar dari ilmu kehidupan yang tersodor di depannya setiap hari.

    Nah, apakah kita termasuk manusia yang mau belajar itu, atau malah membiarkan pelajaran sedemikian indah itu menjadi tidak bermakna?

    Aku, sih, ingin terus belajar.. Aku malah termasuk orang yang suka menganalisa apa makna tiap kejadian yang aku alami. Kurang kerjaan bgt ya? Hehe.. .

    Eniwei,
    Love the story. U go, DM!

    Lala, terakhir menulis will you please, just leave?

    DM: Cieee… Cieee… Kali ini komennya penuh filosofi, dalam, dan bermakna. Ahuhuuu…
    (Tumben, La. Lagi kesambet apa? Hi-hi-hi).
    .
    Itu bukan kurang kerjaan. Menjadi penulis itu memang mesti sensitif terhadap apa pun yang datang pada dirinya. Baik senang-sedih, bahagia-gelisah, ramai-kesepian, semua mesti jadi batu fondasi dari bangunan yang hendak ia dirikan. Bukankah begitu?

  13. Juliach says:

    Dulupun aku pernah minus sehingga bekerja di ladang anggur rasnya nikmat sekali, walau capek masih bisa nguntal buah anggur, sama majikan masih dikasih makan dan tempat tidur. 1 minggu disana pulang dapat gaji bisa utk hidup 1 bulan.

    Pengalaman tidak punya itu sangat menarik, karena kita bisa survive dan merasakan tidak punya. Selain itu, aku bisa belajar survive dari alam. Pada waktu-waktu tertentu alam memberikan kemurahan yang luar biasa: seperti jamur di ladang dan di hutan yang bisa aku makan, …

    Juliach, terakhir menulis Polo: Tolong fotoin aku telanjang!

    DM: Sedikit banyak aku telah mengikuti cerita Mbak Juliach. Dan ya, bagiku itu mengagumkan. Orang-orang yang berani berangkat dari nol, di mataku selalu mengagumkan. Bahkan ketika seseorang pernah berada di puncak namun jatuh kembali ke bawah, kemudian bangkit memulai dari nol lagi, rasa kagumku lipat kali dari sebelumnya.
    .
    Ya, setuju Mbak, pengalaman tidak punya itu sangat menarik. Kita jadi tau pernah berangkat dari mana. Membuat kita menjadi terbuka terhadap segala hal yang bakal datang.

  14. radesya says:

    wah, aku ketinggalan nih….

    begitulah hidup kak, makanya kita tak boleh selalu memandang ke atas, banyak sekali disekeliling kita yang susah untuk bertahan hidup. Bahkan kadang diantara mereka adalah teman kita sendiri. Aku pernah melihat orang yang kelaparan dan itu sangat menyedihkan sekali. Bahkan pernah aku sampai menangis di depan seorang kakek-kakek tua renta yang berkeliling sambil menjual kursi dari bambu. Tak butuh suatu musibah umtuk bisa menangis kan, sekali lagi aku bukan orang cengeng tapi semua itu membuat aku jadi tersentuh.

    Btw siapa yang dibayangkan saat melihat bulan ? ehem… ehem….

    ceritanya sangat bagus, dan ini yang aku suka dari kakak, mengalir dengan sendirinya, aku sungguh sangat menikmati…

    DM: Melihat ke bawah memang lebih menenangkan jiwa, Desya.
    .
    Siapa yang dibayangkan saat melihat bulan? Waduh, siapa ya…
    Mungkin mencari bayangan Wendy atau Tinker Bell. Kan aku Peter Pan? He-he.
    .
    Sungguh sangat menikmati? Thanx…

  15. Zulmasri says:

    masih ngegola gong ya mas? mau bertualang kemana lagi?

    ngomong-ngomong buku terakhir gola gong jadi dikirim kpd saya?

    Zulmasri, terakhir menulis PALESTINA

    DM: Ke negeri senja, Mas Zul.
    .
    Whaaa… iya. Sudah kusiapkan kok. Tenang, Mas Zul. Pasti sampai. He-he. Kelupaan ngirim. Sorry.. Sorry… Aku kalau nggak diingatkan pasti lupa, Mas. Sorry.

  16. goenoeng says:

    baca komenmu di #15, yg njawab Mas Zul.
    aku jadi semakin yakin, dimana posisimu sekarang, Dan.

    lha aku, gak dikirimi ta ? :D

    DM: Kan bisa minta tolong orang kantor ngirim, Goen. He-he.

  17. prameswari says:

    Haduh….abis cerita ke mas tentang tas yang dengan menyesal ade beli, sekarang mas menulis tentang perjuangan seseorang menghadapi hidup…. rasanya semakin menyesal saja…..

    Kadang kita terlena pada kondisi yang sudah lama kita nikmati kenyamanannya. karena itulah kita tidak boleh lupa untuk selalu juga menunduk ke bawah….
    karena dengan begitu rasa syukur itu akan selalu kita panjatkan

    prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik

    DM: He-he. Rasanya cerita ini sudah ada sebelum Ade cerita tentang itu lho…

  18. prameswari says:

    Belum mandi dari kemaren? biasa………..hehehe

    prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik

    DM: Sssttt…

  19. prameswari says:

    Saat perjalanan si Dan ini dari dan menuju kota satu dan lainnya, tokoh si Dan yang ade bayangkan adalah foto mas pada kumpulan cerita “selamat datang di pengadilan”…..hihihi….

    prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik

    DM: Wadaw! Muda belia begitu…

  20. radesya says:

    Kak Daniel, mo tanya
    ni Pak Qizink lativa mana ya? Kan pemeran figuran, koq nggak muncul-muncul sih..

    #Pak Qizink
    apa kabar Pak? ayo kasih koment dunk..

    *penasaran.com*

    DM: Lho Qizink itu bukan pemeran figuran. Dia justru tokoh utama.
    Mungkin dia sedang main di banyak sinetron kejar tayang, wawancara infotainment, pemotretan cover tabloid, dsb. Jadi sibuk.
    (Ampun Zink, jangan mbaca balasan komenku untuk Radesya ini ya, he-he-he…)

  21. mascayo says:

    Bagaimana kalian bertahan hidup?
    bekerja, bekerja, dan bekerja , dengan begitulah aku berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluargaku Dan. Pernah dengar ungkapan “Gali lubang tutup lubang?”, itu adalah lingkaran permainan hidup yang sedang dengan sekuat tenaga kutuntaskan dan aku optimis akan menang.
    Ah kau berhasil memancing reaksiku Dan!
    Kalau toh akhirnya kau kembali pulang, jelas aku tak akan mencomoohmu. Bodohnya aku bila berani mencomohmu yang sudah mengingatkanku pada emak.

    hey! ini adalah karya yang hebat! sebuah cerita yang interaktif, pengalaman baru bagiku!

    kira-kira, inikah the masterpice yang kutunggu-tunggu itu?

    DM: Berhasil memancing reaksi? Hi-hi-hi. Senang mendengarnya. Tengkyu.
    Tidak, ini karya biasa saja. Sekadar tembang perjalanan si traveler saja.
    Tunggu aku ya.

  22. Marin says:

    Huuff…tulisannya sukses bikin aku termangu..jadi ga kuat natap wajah orang tuaku..

    makasih mas DM, tulisannya udah me recharge semangatku :)

    DM: Sama-sama, Marin. Terima kasih juga.

  23. boyin says:

    wah saya senang cerita yang beginian..mengingatkan novel kesukaan saya waktu remaja membaca kisah gola gong..mas tau nggak? ayo donk..kutunggu kelanjutannya

    boyin, terakhir menulis Bikin Pe er singkat

    DM: Gola Gong? Kayaknya pernah denger.
    Oke…

  24. Lala says:

    Kesambet, DM?
    KESAMBET?
    Aku ini sebetulnya lumayan pinter, tapi begitu masuk di blogmu ini mendadak jadi o’on… Kemarin sih, pas buka blogmu, aku komat-kamit doa dulu, dan … voila! Akhirnya aku bisa menulis dengan baik dan benar… hehe…

    Artinya?
    Justru kemarin itu, aku nggak kesambet, DM…
    Tidak seperti sebelum-sebelumnya… :)

    Oh ya, kamu benar, DM. Sebagai penulis, seseorang memang harus sensitif dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Kamu pernah bilang kalau semua hal bisa menjadi bahan tulisan, kan? Senang dan sedih, SEMUANYA. Kalau nggak salah, waktu itu aku sempat benar-benar kehilangan ide untuk menulis dan kamu bilang aku musti lebih peka.

    Hmm… aku kepingin menjadi penulis yang bisa membuat sebuah tulisan yang mampu menghadiahi pembacanya dengan ‘ilmu baru’ atau meninggalkan kenangan tersendiri di dalam benak pembacanya, dan bukan sekedar menulis sebuah buku yang kemudian membuat orang bertanya, “Eh, tadi aku baca apaan, sih? Tentang apa, ya? Sebentar, sebentar… aku baca dulu nanti….”

    Ya, seperti kamu, lah…
    Yang, FYI, sudah ‘membuat’ aku menghabiskan satu porsi nasi Hoka-Hoka Bento tadi malam (padahal aku selalu membuang hampir 3/4-nya di tong sampah!) dengan susah payahnya, karena telah membaca di sini, betapa mahalnya harga seporsi nasi untuk orang lain…

    Gosh, I felt good about it, DM, meskipun karenanya, dietku menjadi gagal total…. :)

    DM: Nah, meskipun kamu tidak harus menghabiskan 1 porsi nasi tersebut, kau bisa membaginya bukan.
    Aku senang, ada relasi nilai setelah kau membaca kisah ini.
    Dietmu? Ah… kau sudah manis tanpa diet.
    (manis tak ada hubungannya dengan berat badan lho ya.
    Manis mah manis aja. Berat badan, teuteuuuppp… )

  25. pakiki says:

    serius nih avonturir (ah, istilahnya)…kalau mampir ke bumi Sulawesi Barat tepatnya di Mamuju, silakan saja kontak saya bos.

    jarang2 punya teman pengembara.

    selamat keliling Indonesia, bro…

    DM: Berapa lama di Mamuju, Rif?
    Hore… ada tempat menginap!

  26. omoshiroi says:

    saat ini tokoh utama cerita ini sudah berada di mana yah?

    omoshiroi, terakhir menulis El Meler (Film)

    DM: Aha! Kita tunggu saja…

  27. tanti says:

    #
    Belajar tentang bersyukur, mengusahakan dan mencukupkan diri dengan rejeki yang Tuhan berikan. Belajar untuk peka pada keperluan orang lain, belajar untuk bersedia dipakai menjadi saluran berkat buat orang lain yang memerlukannya…
    Terima kasih sudah membagikannya yah.

    #
    Tampaknya bulan, bintang dan langit malam akan jadi teman setia perjalanan si Dan,
    teruslah berbagi hal-hal yang menginspirasi setiap pembaca kisahnya,
    dan jangan lupa,
    rajinlah mandi disetiap perhentian yang memungkinkan… hihihi……….
    :D

    tanti, terakhir menulis Dahsyat !!

    DM: Bulan, bintang, dan langit malam? Tentu saja. Karena ia selalu setia ada. Yang lain, datang dan pergi.
    Aku akan terus menulis, dan soal mandi? Huh! Nggak usah ditulis di sini napa! Ck!

  28. Ay says:

    Bagaimana aku bertahan hidup?
    Karena aku memiliki orang2 yang kusayangi..
    Dan aku tak mau lari dari apa yang ada di dalam hidup itu sendiri..
    Gunung pun akan kudaki.. Laut akan kuseberangi.. hehehe…

    Yah.. begitulah Mas..
    Masa iya mau diceritakan disini.. :D
    Aku tinggal di Jakarta..
    Sudah sampai dimanakah ini??

    Ay, terakhir menulis kosong

    DM: Karena aku memiliki orang2 yang kusayangi..
    Dan aku tak mau lari dari apa yang ada di dalam hidup itu sendiri..

    .
    Ah, bersyukurlah, Ay…
    .
    Ow, di Jakarta rupanya.
    Oh iya, email-mu sudah kubaca, Ay. Thanx. Tapi ribuan maaf ya, belum sempat membalas.

  29. anisa says:

    ceritanya menyentuh sekali mas mahendra……
    jadi teringat sama kebiasaan-kebiasaan buruk anisa yang suka kurang bersyukur atas sesuatu…….
    setelah ini kemana mas…..
    jangan lupa singgah di tempat anisa kalau ke jakarta ya?
    di cikini……
    beneran ya mas mahendra???

  30. omoshiroi says:

    baca komen + jawabanya yang nmr 23 bikin saya ketawa..
    masa bang Daniel cuma pernah denger nama Gola Gong sih..
    saya kasih tau ya bang Dan, mas Gola Gong Itu, penulis yg tinggal d komplek hegar alam no 40, kampung ciloang serang, banten..
    yg lahirnya 15 agustus 1963..
    yg bsama istrinya, mbak tias tatanka, udah mendirikan ‘Rumah Dunia’..
    yg sudah dianggap sbg guru scra tdk langsung sama bang Dan..
    yg juga penulis no 1 yg bisa bikin bang Dan tersentak dan malu setengah mati akan produktivitasnya dalam menulis..
    trus juga yg nulis buku ‘Aku, Anak Matahari’, yg mana di bagian ucapan terima kasihnya tercantum nama bang Dan..
    jadi sekarang dah sdkt tau kan mengenai mas Gola Gong, bang Dan..

    aya aya wae..
    hehe,,

    omoshiroi, terakhir menulis El Meler (Film)

    DM: He-he-he-he. Aku pikir kamu mau becanda di komen ini. Setelah aku baca tuntas komenmu, rupanya kamu pembaca yang jeli tulisan-tulisanku. Bahkan hafal detailnya. Sialan! Aku jadi salut nih. Nggak banyak mungkin yang seperti kamu. He-he.
    .
    Balasan komen 23 emang becanda. Hi-hi. Minta ampun deh.

  31. goenoeng says:

    @Anisa
    Mas Mahendra kayaknya nggak akan lupa mampir deh….

    @Mas Mahendra alias Dan ( alias DM ?)
    Mas Mahendra, gimana rencana cuci baju di Jakarta ? Jadi ? :D

    bertahan hidup, apa yang membuat dan bagaimana, dipengaruhi banyak faktor, Dan. tapi, mungkin ada yg dominan mempengaruhinya. tangung jawab, ya tanggung jawab terhadap sesuatu. entah itu terhadap Tuhan, keluarga, dirinya sendiri, dll.
    jadi, apa yg membuat bertahan hidup ? menurutku, tanggung jawab.
    bagaimana bertahan hidup ? ya sama, dengan bertanggung jawab terhadap sesuatu.
    itu yg kualami, dan saat saat segalanya serasa jungkir balik, hanya perasaan ‘tanggung jawab’ tadi yg menyelamatkanku.

    goenoeng, terakhir menulis aku

    DM: Nampaknya dia belum menemukan tempat yang betul-betul nyantai, Goen, buat nyuci pakaian. He-he.
    .
    Tanggung jawab? Akur sekali, Goen. Asal tidak diemban karena terpaksa kan?
    Tentu tidak…

  32. Bagaimana aku bertahan hidup?

    Bagaimana Dan?

    Aku rasa semua orang memiliki caranya masing masing. Asal punya kemauan…ada jalan…ada penyemangat….buatku ada Tangguh…ada ayah….ada mama papa dan si gede tinggi item jerawatan adekku Reza.

    Tapi semua penyemangat akan sia sia dan percuma jika aku memang tidak ingin ..dan tidak mau…jadi ku rasa hanya aku yang tau apa jawabannya.

    Bagaimana bertahan hidup?
    Berjuang…berusaha…dan tak pernah lelah..karena asa tidak boleh mati….tidak boleh!

    @Lala…
    Cihuy…di bilang manis sayy….di bilang maniesss…..ehem ehem …kalo aku Dan??..mm…Aku??
    Sexy aja ya :P …..*siap siap kabur yang jauuuhhhhhhhh bangettttttt*

    @Goenoeng
    Hai bang…pa kabar?…hehe

    O iya….
    Si Dan itu mau singga ke cempaka putih mengunjungi temannya ya? (komen no 2)
    aku kasih tau ya Dan…
    Saat ini…pukul 5 lewat 5 menit pagi.
    Rumahku kebanjiran…masuk..setengah betis saja…di dalam rumah?

    Apa kabar di luar rumah???
    Sepinggak saja….yukk mareeeeeee….

    yessy muchtar, terakhir menulis The morning…and you know i care…dont you?

    DM: Serius betul komentarmu di paragraf pertama? Kamu nggak salah nulis nama sebagai ‘Yessy Muchtar’ kan, Yess? Meski kuamini sih komenmu itu. He-he.
    .
    Banjir? Aduh, nggak jadi deh… Hi-hi.

  33. Yoga says:

    Kalau menjawab pertanyaanmu tentang bagaimana bertahan hidup, rasanya akan narsisis sangat, karena tulisanmu seperti cermin. Dengan membacanya, seolah melihat diri sendiri di dalam cermin. Meski aku bukan Dan, dan bukan teman Dan.

    Daniel, aku pikir tidak semua orang pernah mengalami kesulitan dalam hal rejeki, rejeki di sini maksudku, adalah apa yang sampai di mulut (perut), cukup untuk di sandang, apa yang bisa dibelanjakan untuk menolong sesama (amal), dan ilmu atau hikmah yang dibagi. Meski hidup seperti roda berputar, tapi batas atas dan batas bawah putaran roda tiap makhluk kupikir tak sama, itu sebabnya kulihat ada orang yang rodanya sedang di bawah, tapi sebetulnya hidupnya tak sesulit Bapak penjual tangga bambu misalnya. Menyaksikan kemajemukan ini membuat hidup indah berwarna bukan?

    Untuk hal-hal seperti ini, di ajaran agamaku, Allah mengajarkan makhluknya belajar berempati dengan berpuasa, tak sekadar mengajarkannya, malah mewajibkannya ketika Ramadhan tiba. Lagi-lagi, aku menemukan keindahan hidup, saat ingat tentang Ramadhan dan saat membaca tulisanmu, sama indah, rasanya dengan ketika aku menikmati masa-masa di titik nol-ku, yang tentu berbeda dengan limit nol-mu Daniel atau limit nol makhluk yang lain, dan ketika di suatu titik Allah mengangkatku, aku menemukan Allah memberi banyak kejutan tak terkira. Subhanallah. Ya, satu alasan bagaimana aku bertahan hidup.

    Sungguh tulisanmu ini adalah salah satu topik favoritku. Isinya sarat dengan ajakan halus darimu. Tak perlu lah menunggu Ramadhan kembali datang, tak perlu berdiri di titik nol masing-masing, untuk kembali mengevaluasi diri, dan tak perlu menunggu tangan menggenggam setumpuk uang, segenggam intan, dan sejumput nasi, untuk bersyukur. Membaca tulisan yang mengingatkan seperti ini, sudah cukup menjadi alasan untuk mensyukuri nikmatNya dan bukannya dengan demikian berarti telah menemukan salah satu alasan dan cara untuk bertahan hidup. Terimakasih Daniel, Dan, dan temannya Dan.

    Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang

    DM: Haduh, Yuuuggg… komenmu panjang betul. Sudah setengah dua pagi. Sek yo. Biar nanti ta’ baca ulang. Ingetin tapi.

  34. Yoga says:

    Ah, pikiran orang berbeda-beda, mengapa pula risau dengan cemoohan orang yang hanya manusia, dan hanya makhluk, ketika di tengah jalan mesti memutuskan pulang? Toh setiap perjalanan adalah perjalanan pulang pada hakekatnya. Sebagaimana Abraham ketika ditanya: hendak kemana? Aku hendak menemui Allah. Benar, itulah tujuan akhir setiap perjalanan, pulang padaNya. Lagipula, Daniel, Dan, dan temannya Dan, dunia ini bukan pasar malam bukan?

    Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang

    DM: Dunia memang bukan pasar malam. Ya. Bukan pasar malam.

  35. Lala says:

    Terpaksa komentar lagi

    DM,
    Harus ya, kamu revisi balasan komentarmu buat aku? Perasaan kemarin nggak gitu deh….. Ah, ada saksi nggak sih yang bisa mendukung aku kalau sebetulnya kemarin komentarnya nggak pake kata-kata menyebalkan yang kamu kurungi itu! ggrrrhhh..

    Eniwei,
    Kamu benar, DM. Tidak perlu harus dihabiskan semuanya, toh bisa dibagi, kan? Makanya aku jarang banget beli makanan yang aku tahu porsinya bakal tidak muat ke dalam perutku (okay, muat sih muat, tapi ini udah menyangkut berat badan yang bakal menyusahkan aku menari balet nanti!), kecuali dari awal aku sudah tahu kalau nanti bakal dibagi dengan teman-teman, misalnya..

    So,
    kebiasaanku sekarang adalah.. Kalau beli nasi pecel di warung Fatima depan kantor, aku selalu pesan “NASINYA SEDIKIT AJA… IKANNYA YANG BANYAK…” wekeke… Jadi aku nggak perlu buang-buang sisanya atau memaksa makanan itu untuk masuk ke dalam perut…

    Intinya adalah, kita harus tahu batasan kekenyangan perut kita sendiri. Kalau memang sudah kenyang, ya jangan mengambil porsi banyak…. Daripada mubazir…

    *soal nasi hokben kemarin… orang satu rumah udah pada makan semua, DM… dan lagipula…. aku paling doyan nasi-nya HOKBEN. Anonymously in love deh! hehehehe….*

    DM: Harus ya, nulis komen panjang-panjang?
    He-he-he.
    Nanti ya, kulanjut balas komennya. Panjang sih… Ntar deh. Ingetin tapi.

  36. imoe says:

    Ayo dong ke Padang….hahaha aku baru nagkap niy….ngak serius kan….heheheh tapi bagus juga tuh, kisahnya nyampai ke RANAH MINANG juga ya….

    imoe, terakhir menulis …pesona carlos…

    DM: Aha! Kita lihat saja, Da… Hi-hi-hi.

  37. sungguh menyentuh benar tulisan ini, mas daniel. memang tak semua teman dan sahabat memiliki garis kehidupan yang sama. ada yang sukses, ada juga yang gagal. meski demikian, sukses dan gagal jangan sampai jadi penghalang utk terus menjalin silaturahmi. selamat berkelana, mas daniel! sampai ke kendal, nggak?

    DM: Betul, Pak Sawali.
    Sampai ke Kendal? Mestinya Pak Sawali membaca tulisan Apa yang Membuat Kalian Bertahan Hidup? He-he-he. Suwun, Pakde.

  38. Yari NK says:

    Hmmmmm….. biasanya orang yang bisa bertahan hidup di dunia adalah orang yang banyak duit atau banyak teman. Banyak duit sih ya bisa difahami. Tetapi banyak teman?? Ya bisa aja….. kalau banyak teman kan kita bisa mengunjungi mereka bergiliran pada waktu2 mau makan. Siapa tahu diajak makan pula?? Huehehehe……. hush ah……

    Yari NK, terakhir menulis Venus: Planet Rumah Kaca

    DM: Nah, itulah yang dilakukan si tokoh Dan itu, Pak Yari. Berkunjung pada saat jam makan. Ha-ha. Tak selalu tapi.

  39. tomy says:

    dalam kesesakan hidup saya yang diharuskan mencukupi kebutuhan hidup keluarga, Tuhan menampar saya untuk peduli dengan orang lain terlebih manusia yang terlupakan seperti pengemis gila yang kutemui di jalan…

    DM: Begitu lah kita diajarkan hidup, bukan?

  40. Yoga says:

    Sudah dibaca ulang beluuum?

    *Katanya disuruh ngingetin*

    Yoga, terakhir menulis Seperti Apa Jodoh Anda?

    DM: Iyo… Sek yo…

  41. blog fajrin says:

    persahabatan seperti kepompong,,,

    cerita yang menginspirasi…

    blog fajrin, terakhir menulis Antara Impian dan Harapan

    DM: Betul, Kawan.
    Terima kasih…

  42. NRifa says:

    Wah aku pikir mau makan sate bebek khaas Serang, ternyata sate Bandeng…yang membuat bertahan hidup, makan kayanya dehhh :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>