(The Waiting Is Almost Over: 03)

Persahabatan adalah seperti seonggok buah anggur: Kalau kauperas akan menjadi satu sari buah. Yang mentah dan yang matang adanya berlawanan, tapi bila yang mentah juga menjadi matang, menjadi sahabat yang baik (Jalaluddin Rumi)

Aku mengetuk pelan pintu kayu sebuah paviliun di pojok kota Serang, Banten. Tak ada sahutan. Kuketuk sekali lagi. Kudengar langkah kaki mendekat dari dalam. Cepat-cepat kusembunyi di balik tembok. Tapi lupa menyeret ranselku yang kuletakkan di depan.

Si pemilik paviliun celingukan mencari si pengetuk pintu. Yang dia temukan hanyalah seonggok ransel dekil tergolek di sana.

“Hoi! Ransel siapa nih?” tanyanya tidak pada siapa-siapa.
Aku mengutuki kebodohanku. Bersembunyi tapi lupa menyeret ransel. Seperti maling yang sengaja meninggalkan jejak.

Tak lama ia pun menyembulkan kepala ke balik tembok. Tampak wajahku yang cengar-cengir seperti kucing ketahuan mencuri potongan ikan di sana.

“Dan?!!!”
“Hai!”
“Dari mana kamu?”
“Dari tadi sembunyi…”
“Sialan! Maksud aku kamu dari Bandung?”
“Yup.”
“Masuk, Dan.”

Aku membuka sepatu gunungku yang berdebu. Menyeret ransel dekilku ke dalam. Kemudian menggelosor di lantai ruang tamu yang sejuk.

“Ya ampun, Dan, kamu seperti mau melakukan perjalanan jauh…” tukasnya sembari sibuk memompa air dari dispenser.
“Yeaaahhh!!”
“Mau ke mana?”
“Melihat dunia!”
“Ayolah, jangan becanda mulu!”
“Lho?”

Ia menyodorkan botol air minum. Kubuka kemeja kotak-kotakku. Membiarkan kaus putih berkuasa atas badanku. Kemudian kukeluarkan rokok dan menghisap sebatang. Kulemparkan bungkus rokok ke arahnya. Ia pun mencomot sebatang.

“Gimana kabarnya, Mas?”
“Ya ginilah, Dan.”
“Ya ginilah, Dan? Apa maksud ya ginilah, Dan?” tanyaku sembari mengamati ruang tamu paviliun itu.
“Ya seperti yang kamu lihat lah… Dari dulu juga gini. Kalo’ lagi ramai order ya makan, kalau lagi sepi ya puasa.” akunya tersenyum.
Tiba-tiba sontak aku menoleh. “Maksud Mas?”
“Aku sedang tidak mau mengeluh, Dan.”
“Aku juga tidak meminta Mas mengeluh. Tapi apa maksud makan dan puasa tadi? Mas sedang susah?”
“Ya kamu tau sendiri, Dan, dari dulu aku freelance begini. Kalau ada order nge-layout, berarti aku dapat duit. Bisa makan, bayar listrik, dan nggak telat bayar kosan.”
“Kalau nggak ada order?”
“Puasa.”
“Serius?”
“Iya, Dan. Dulu terakhir kamu ke sini, dengan uang sepuluh ribu aku masih bisa masak untuk makan sehari dua kali. Tapi sekarang uang sepuluh ribu harus bisa kujadikan makan tiga hari.”

Aku tercekat. Abu rokokku jatuh ke lantai. Kupandangi matanya dengan tajam.

“Aku nggak mau ngeluh, Dan. Kamu saja yang tanya-tanya.”
“Gimana caranya sepuluh ribu untuk makan tiga hari?”
“Kamu tau, Dan, yang penting ada beras dan minyak tanah. Nasi kumasak dengan potongan wortel. Dengan cara begitu aku bisa bertahan hidup. Kalau waktu makan tiba, uih, nikmatnya tiada tara, Dan. Terkadang kita bisa menikmati kebahagiaan di saat susah.”
“Iya, tapi kan order bukan berarti nggak ada sama sekali?”
“Memang, tapi begitu ada uang kan mesti bayar ini bayar itu. Ya sisanya kuhemat-hemat untuk makan.”

Aku tercenung. Betapa rupa-rupa kehidupan manusia. Terkadang aku bertemu dengan orang yang sekali makan bisa merogoh kocek 1 juta perak. Terkadang aku bertemu dengan orang yang gemar membuang-buang makanan. Dan kini aku bertemu dengan seorang kawan, kawanku sendiri, yang untuk makan saja sulitnya minta ampun. Aku jadi ingat pola makanku yang sering telat dan tak teratur.

Ia kawan lamaku. Hidup seorang diri di kota ini. Bekerja mengandalkan order layout. Macam-macam yang dia layout. Entah itu majalah, undangan pernikahan, buku, atau apa saja. Aku tahu ia kerap sulit. Tapi ia seorang pemurah. Ia memberikan apa yang bisa ia berikan.

“Aku tidak mau mengeluh, Dan. Aku bisa menikmati hidupku meski dalam kondisi sulit sekalipun. Karena di saat rezeki datang, rasanya itu betul-betul dari Tuhan. Aku manfaatkan betul rezeki yang kudapatkan itu.”

Aku tersenyum mendengarnya. Ia tak pernah menyerah. Tiba-tiba aku jadi berpikir: sudahkah aku membelanjakan uangku untuk hal-hal yang bermanfaat?

“Kabarmu sendiri gimana, Dan? Lama nggak ke sini. Sudah nikah, eh?”

Aku matikan rokokku ke dalam asbak. Membuka ransel. Mengeluarkan peralatan mandi dan pergi ngeloyor ke kamar mandi.

“Hoi! Ditanya malah ngeloyor?”
“Aku belum mandi dari kemariiinnn…”

* * *

Matahari pamit pulang. Langit kota Serang mulai gelap. Tapi aku sudah segar sehabis mandi. Kulihat ada dua gelas kopi mengepul-ngepul di ruang tamu. Sambil menyeruput dan mengisap rokok, kami bercerita tentang masa-masa kuliah dulu di Bandung.

“Lapar kamu, Dan?”
“Aha!”
“Mau makan apa?”
“Sate bandeng!”
“Wah, seru itu. Aku yang tinggal di Serang aja jarang makan sate bandeng.”
“Yuk kita keluar makan. Aku traktir!”
“Yuhuuu…!!” teriaknya girang dan mulai bersiap diri.

Berdua kami menikmati Serang malam hari. Berjalan menyusuri trotoar yang sunyi. Ditemani semburat purnama di langit. Tiba-tiba aku teringat wajah seseorang. Duh! Mengapa wajah itu terus berkelebat, batinku dalam hati.

* * *

Matahari sudah mulai merangkak ketika aku membuka mata. Kulihat temanku sudah duduk di depan komputer. Padahal semalam kami ngobrol sampai Subuh hari.

“Jam berapa sekarang, Mas?”
“Udah jam sebelas tuh. Katanya mau ke Ranah Dunia, ketemu Mas Gege?”
“Iya…”
“Mandi gih!”

Setelah mandi aku langsung mengemasi ransel.

“Dari Ranah Dunia aku langsung berangkat lagi, Mas.”
“Hei, nginaplah beberapa hari di sini.”
“Perjalananku masih panjang, Mas.”
“Kamu serius mau avonturir?”
“He-eh.”
“Ya ampun, Dan… Dan… Apa sih yang kamu cari?”
Aku hanya tersenyum mendengar kalimatnya.

Kini aku sudah siap. Sepatu gunung sudah kukenakan. Ransel sudah nangkring di punggungku. Aku mengeluarkan dompet. Kukeluarkan dua lembar seratus ribuan.

“Jangan tersinggung, Mas, ini buat kalau ada keperluan mendesak.”
“Dan, hei!”
“Aku malah tersinggung kalau Mas tolak.”
“Apa-apaan ini?”
“Ini bukan buat biaya nginepku. Uangku memang nggak banyak. Tapi ini rezeki dari Tuhan. Kebetulan saja datang lewat aku.” bisa-bisanya aku berseloroh soal rezeki.
“Tapi,”
“Udahlah… nggak usah tapi-tapi. Sok basa-basi banget sih. Kayak kita baru kenal minggu kemarin aja. Terima!”
“Makasih, Dan. Aku memang butuh.”

Kami berjabatan tangan dan saling menggenggam. Sorot mata kami memancarkan persahabatan. Aku mulai berjalan lagi dengan ransel sarat beban.

Tiba-tiba dari kejauhan ia terteriak:
“Jangan memaksakan diri, Dan. Kalau di tengah jalan kamu memutuskan pulang, tak ada seorang pun yang berhak mencemooh!!”

Aku hanya tertawa. Tapi aku merenungi kalimatnya.

17 Januari 2009 | 01.44 wib