Kali Ini Datang Tanpa Pesan
(The Waiting Is Almost Over: 04)
Kesadaran tak selalu lahir dari sajadah atau altar. Tapi juga dari mimpi atau dosa kesekian kali (Sihar Ramses Simatupang)
Kalian percaya pada telepati atau semacamnya? Atau sederhananya, pernahkah kalian memikirkan seseorang, kemudian tiba-tiba orang yang sedang kita pikirkan itu mengontak kita? Hmmm, aku sering kali mengalami hal itu.
Malam tadi aku teringat pada seseorang. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi rindu padanya. Pagi harinya aku terbangun oleh bunyi SMS berisi kalimat sederhana: Apa kabar, Dan? Laksana disambar petir aku mencelat dari tempat tidur. Bagaimana mungkin? Malam harinya baru saja teringat dia, pagi harinya malah mendapat SMS darinya.
Jadinya kami saling ber-SMS dan janji hendak bertemu di Jakarta. Tapi sebelumnya aku hendak turun di Tangerang. Aku sedang terguncang-guncang dalam bis antar kota. Sejak dari Ranah Dunia dan bertemu dengan mas Gege di Serang, aku putuskan untuk terus meluncur ke Tangerang.
Langit mendung. Sebentar lagi mungkin turun hujan. Debu-debu jalanan tampak berterbangan. Aku turun di persimpangan jalan. Kuseret ranselku. Kusempatkan menengadah ke langit. Ouw, gelap betul di sana. Apakah ada negeri di atas sana? Ah, aku tak tahu.
Yang pasti aku ingin menemui seorang teman di sini. Seorang blogger. Mas Haryo namanya. Belum lama kenal. Tapi ia selalu rutin berkunjung dan berkomen di blog-ku. Begitu pun sebaliknya. Kebetulan lewat daerah sini. Jadi sekalian saja.
Tak sulit mencari rumah Mas Haryo. Dengan ojek aku berputar-putar menuju rumahnya. Langit makin gelap. Duh, padahal selepas pertemuan ini, aku ingin terus ke Jakarta sebelum malam tiba. Tapi apa yang terjadi, terjadilah. Toh aku tak tersekat waktu. Aku tak dikejar apa-apa. Aku sedang jadi manusia bebas kan?
Aku berhenti di pagar sebuah rumah. Kulihat tuan rumah telah menyambut di teras. Rupanya ini yang namanya Mas Haryo, batinku dalam hati. Aku membuka pagar itu.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…” balasnya. “Wah-wah-wah… akhirnya ketemu juga kita. Masuk, Mas Dan.” sambutnya ramah mengulurkan tangan.
Aku hanya cengar-cengir membalas genggaman tangannya.
Aku menyeret ranselku. Di ruang tamu aku diperkenalkan pada istrinya. Tiba-tiba seorang gadis chubby berlari-lari dari dalam. Lucunya minta ampun.
“Zia, ayo salaman sama teman Papa.” tukas Mas Haryo.
“Halo Zia…” sapaku berlutut.
“Halo Om…” ujarnya mencium punggung tanganku.
“Cantik sekali kamu. Papa sering cerita lho tentang Zia.”
“Cerita tentang Zia?”
“He-eh.”
“Cerita apa, Om?”
“Ouw, macam-macam.”
“Iya Pah?”
“He-he-he. Itu bisa-bisa Om Dan aja.” jawab Mas Haryo.
Tak lama minuman dan penganan kecil pun disuguhkan. Istri Mas Haryo membiarkan kami berbicang berdua di ruang tamu. Kami ngobrol-ngobrol soal blog, soal blogger, soal kota Cimahi tempat asal Mas Haryo, juga tentang mengapa pemerintah terus menurunkan BBM menjelang pemilu ini. Usia kami rupanya tak terpaut jauh.
“Jadi betul mau keliling Indonesia?”
“Yup.”
“Aku baca semua tuh seri The Waiting Is Almost Over.”
“Ha-ha-ha-ha… Cerita asal saja itu.”
“Mau dibuat berseri di setiap kota?”
“Emh, entahlah. Pinginnya sih begitu.”
“Juga perjumpaan dengan setiap blogger?”
“Yeah.”
“Wauw. Bakal seru. Hampir di setiap kota ada blogger.”
“He-he-he. Iya. Tapi kan nggak semua kukenal. Masa’ tiba-tiba nyelonong minta ketemu. Ntar dikira siapa lah aku ini.”
“Waduh… siapa sih nggak kenal Penenun Kata?” selorohnya.
“Halaahh-halaahh…” aku tertawa ngakak.
Langit tak hanya makin gelap. Namun suasana betul-betul makin pekat. Tampaknya aku mesti buru-buru minta diri. Sebetulnya menyenangkan sekali bisa ngobrol panjang dengan Mas Haryo. Orangnya ramah, senang berbincang, dan sedikit-sedikit selalu melibatkan keluarga. Tapi aku mesti berkejaran dengan hujan yang tampaknya bakal tumpah ke bumi.
Akhirnya aku pun pamit. Dilepas oleh istri Mas Haryo dan Zia di teras depan. Sementara Mas Haryo menyiapkan motor hendak mengantarkanku ke persimpangan jalan raya.
“Undangannya lho, Mas. Kami jangan lupa dikirimi.” tukas istri Mas Haryo tersenyum.
“Undangan? Undangan apa nih?” tanyaku pura-pura bego.
“Undangan apa lagi…” timpal Mas Haryo menggodaku.
“Haih… Ntar deh aku posting di blog. Nggak usah pakai undangan tercetak. Semua blogger, datang!” ujarku berkelakar.
“Ha? Jadi bener nih? Sama…” Mas Haryo terbelalak.
“Halah-halah… Sama siapa? Becanda ah. Ha-ha-ha…”
Tak berapa lama aku sudah kembali terguncang-guncang di atas bis antar kota. Pertemuan dengan Mas Haryo memberikan kesan tersendiri di batinku. Ia teramat mencintai keluarganya. Apa yang kerap ia tulis di blog betul terpantul dari sikapnya terhadap anak dan istrinya selama perkunjunganku.
Dari balik kaca jendela aku menatap langit yang mulai menumpahkan hujan sedemikian dahsyat. Jalanan basah dan orang-orang berlarian menghindari kuyup. Duh, aku jadi iri mempunyai keluarga mungil dan bahagia seperti keluarga Mas Haryo. Tiba-tiba terdengar petir menggelegar di langit. Reflek aku menjauhkan kepalaku dari kaca jendela. Dan dengan cepat pula kukibaskan bayangan tentang keirianku itu.
* * *
Aku berloncatan menghindari becek dan sisa gerimis di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ranselku kujadikan penutup kepala. Aku menuju Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Ada kegiatan diskusi rutin di sana. Forum Meja Budaya.
Di anak tangga terakhir aku mengibas-ngibaskan kemejaku yang basah. Kusisir rambutku dengan jemari. Kuletakkan ransel di pinggir ruangan. Meski tak kuyup, kurasa aku cukup kedinginan. Beberapa kawan tertawa melihatku menggigil.
Rupanya acara diskusi telah usai. Orang saling ngobrol santai sembari menyeruput kopi. Bang Martin Aleida yang menyambutku pertama kali.
“Jumpa lagi, Dan. Langsung dari Bandung?” tak kusangka ia memelukku.
“Nggak, Bang Martin. Dari Serang aku.”
“Ouw. Masuklah. Itu teman-teman sudah santai.”
Aku menuju arah teman-teman lainnya. Ada Om Remy Sylado yang melambaikan tangan. Ada Badri dan istrinya Yuni. Ada Yohanthan Rahardjo, si dokter hewan yang novelis itu dan Alin kekasihnya (masa’ kekasihnya mulu sih?). Dan Sihar Ramses Simatupang, penyair ‘don juan’ yang wartawan Sinar Harapan itu. Ada Iqbal, novelis yang baru saja keluar dari Metro TV.
“Eit, datang sendirian nih?” ujar Sihar tersenyum-senyum mengolokku.
“Memangnya dulu kalau datang ke sini sama siapa, heh?!” aku mendelik.
“Halah-halah… belagak lupa pulak kau ini.” goda Sihar makin menjadi.
“Ha-ha-ha-ha. Macam aku tak tahu riwayatmu saja, Har…” aku memancingnya.
“Oups, oke… oke… Sebagai sesama lelaki, kita cukupkan saja olok-olok ini ya?” Sihar cengar-cengir.
Kawan-kawan lain hanya tertawa.
Mereka adalah kawan-kawanku kalau aku nongkrong di TIM. Bersama kami kerap nonton pertunjukan teater, pembacaan cerpen, pementasan puisi, diskusi sastra, atau sekadar menyeruput kopi di trotoar depan.
“Kenapa kau tanya mimpi apa aku semalam, Dan?” tanya Sihar.
“Ya pagi-pagi kau tiba-tiba SMS aku menanyakan kabar. Kan aneh.”
“Karena dunia makin suram, Dan. Apalagi dunia sastra. Seperti sajak yang menghitam. Walau pagi dengan secangkir kopi, roti coklat ketengan, dan sebatang rokok filter, masih menjanjikan harapan.”
“Alamaaak… Tak sedang mabuk kan kau?” aku ngakak.
“Eh, Kesadaran tak selalu lahir dari sajadah atau altar lah, Dan. Tapi juga dari mimpi atau dosa kesekian kali.”
“Ah, makin Batak saja kau ini, Har!” Iqbal menimpali. “Ayo ah, cabut. Nongkrong di trotoar kita.”
“Eh Bal, aku ini Jawa tulen, Bal.” sergah Sihar tetap dengan logat Bataknya. “Enam tahun aku di Unair.”
“Untung tak di-DO.” olok Iqbal.
“Ha-ha-ha-ha…”
Beramai-ramai kami turun dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Menuju trotor Jalan Cikini. Biasanya sih diskusi lagi, sembari menyeruput kopi. Tentu dalam suasana yang lebih santai. Aku menyeret ransel dekilku.
“Siapa pacarmu sekarang, Dan?” tanya Badri mengiringi jalanku.
“Husy!” aku tercekat. “Jauh-jauh aku dari Bandung, Serang, Tangerang, Jakarta, Dri. Anak-anak terbunuh di Palestina, Dri. Orang berlomba-lomba jadi caleg, Dri. Masih juga kamu tanya soal pacar?”
“Hah?! Serius sekali…” Badri bengong.
18 Januari 2008 | 12.18 wib


Benarkah tanpa pesan? Hmmm…
Yup, kesadaran tidak di atas sejadah atau di altar saja. Saya pernah mengalami kesadaran dan pencerahan melalui mimpi buruk.
Masih coba dipikirin, udah keburu maghrib. Shalat dulu ah.
Oh ya, kapan undangannya? Undangan sunatan kan? ehehehhe..
AL, terakhir menulis Kebetulan?
Jadi kali ini Dan ke Serang, atau karena tak ada teman di Ujung Kulon?
Tokoh Dan akan mengelilingi pulau Jawa, menyusuri jalanan dan menemui blogger satu persatu di masing-masing perhentian. Nggak bisa meloncat Dan? Padahal mau diajak ke Makassar, mungkin sempat ke Mamuju menemui Paki (tokoh khayalan juga nih).
Teruskan perjalananmu kawan, aku membacanya sambil menyeruput teh manis panas yang dibuat oleh si Mbak.
edratna, terakhir menulis Menikmati nonton film sendirian
saya sebenernya ga mau ikut-ikutan yang laen buat nyinggung masalah pernikahan..tapi ketika ada pernyataan “duh, aku jadi iri mempunyai keluarga mungil dan bahagia seperti keluarga mas haryo”, saya akhirnya tergelitik juga untuk bertanya..
kenapa tidak secepatnya saja membentuk keluarga mungil dan bahagia bang?
menunggu apa lagi?
hehe,,
omoshiroi, terakhir menulis El Meler (Film)
membaca kutipan di awal tulisan, saya jadi teringat kata-kata yang sering diucapkan kawan-kawan di organisasi saya..
“keadaan menciptakan kesadaran”.
omoshiroi, terakhir menulis El Meler (Film)
kali ini kau singgung masalah telepati, haks! apalagi ini?
boleh percaya boleh tidak, aku mengalaminya sore ini, aku seperti merasakan ada yang aneh.
ah! dan benar saja …..
Kau memang pandai Dan! Kau bukan hanya berhasil memancing reaksiku, tapi berhasil membuat aku larut didalamnya. Penggambaranmu hampir tepat. Bagimu mungkin biasa, tapi bagiku tidak. Canggih!
Teruslah berkelana sobat .. Jangan lupa bagi semua kisahmu di blog!
mascayo, terakhir menulis didalam hati ini berniat
PENGUMUMAN
Dicari seorang pendamping hidup untuk mas Daniel Mahendra. Diharapkan seorang yg mandiri, syukur-syukur bloggerita.
Bagi yang berminat, hubungi blog ini (ingat, tanpa perantara)
Ditunggu…!
Zulmasri, terakhir menulis PECINTA HUJAN
Telepati? Hmm.. berarti kakak peka juga dunk.., aku pernah baca tentang itu.
Senang banget bacanya kak, aku sampe terharu, benar-benar bisa merasakan..
Kak, ku ingin segera tau endingnya..
Tokoh Dan disini sangat hebat ya..
Buat Dan..
“kalau kita tak menjalani awalnya, kita tak akan tau akhirnya”
teruslah berjalan, jangan menoleh ke belakang Dan, kamu akan menjumpai banyak hal dalam setiap perjalanan kamu…
Ya, cahaya memang datang setelah gelap.
dana, terakhir menulis Jatuh
Sihar Ramses? Waaaaaaaaaaaaah…Si Ucok yang kau ceritakan di sini, Dan?
Salamku buat dia jika suatu saat bisa ketemu lagi dengannya. Aku justru kehilangan kontak dengannya.
Setelah Serang, lalu Jakarta. Kapan ke Jogja?
icha, terakhir menulis Parafrase Romantis
oya, soal telepati, aku kutip lagi ujaran Redfield di Celestine Propechy:
“Kita harus lebih memperhatikan mimpi, lamunan dan intuisi kita, karena apabila kita dalam keadaan penuh energi, kita bisa mendapat visi tentang apa yang akan terjadi atau apa yang harus kita lakukan melalui mimpi, lamunan dan intuisi kita. Dan apa yang kita lihat dalam visi itu, harus kita percayai dan kita lakukan karena itu adalah petunjuk dari energi yang membimbing kita.”
Entah dengan cara bagaimana, tapi rasanya aku percaya bahwa evolusi manusia beranjak ke tingkatan evolusi spiritual. Salah satunya ya adanya telepati itu…
icha, terakhir menulis Parafrase Romantis
telepati, ya? ESP, gut instinct, hunch?
been there, done that. i don’t think you need any further elaboration.
“some people” used to call it mutual feeling, not really suitable, yet it is somehow…
ditunggu kelanjutan kisah perjalanannya, goniel.
Lho…kenapa doa keiriannya tidak dilanjutkan saat petir menggelegar…
siapa tahu alam mendengar dan menyampaikan-Nya..
dan menyambutnya….
met jalan-jalan ya…..
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
telepati ade percaya sebagai doa….doa bertemu seseorang…..
dan akhirnya terkabul bertemu….
prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik
Wew ini nek kamu jadi ke jogja dibuat seolah-olah bertemu tokoh Tunggonono seru kayaknya….
DV, terakhir menulis Kabar
Ni ..orang….
Paling males kalo di tanya nikah…
Tapi tulisannya minta di tanyaain!..aneh!!!
*komen maksa sambil merenungi gimana caranya berangkat kekantor hari ini dengan kondisi air masuk rumah, dan akses tertutup banjier*
*Eh ..kamu gak tau kan Dan…sambil ngetik ini..aku sambil berenang lo…*
yessy muchtar, terakhir menulis Maka Gue pun berenang….di dalam rumah sendiri.
eh ..kalo perjalanan mas niy ada ilustrasinya kayaknya seru juga…
eh Kun mana ya…..
digambar dong kartunnya….
prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan
Orang-orang yang pernah aku kangenin (sampe tergila-gila), peluk erat dan aku cium kuat-kuat…hingga aku berusaha mati-matian utk bertemu/berbicara dengan mereka…selalu sudah tiada ketika aku tiba/ku dapat dgn kontak telpon…
Oleh sebab itu aku sekarang tak mau kangen-kangenan…bikin ngeri sendiri… tapi hal itu tak pernah aku bisa buang jauh-jauh…
Juliach, terakhir menulis Polo: Tolong fotoin aku telanjang!
ya saya pun sering mengalaminya, mungkin itu karena ada ikatan batin antara keduanya,…
salam kenal, senang dapt berkunjung,.
Hahaha makin unik tokoh Dan ini, telepati juga jadi life style-nya. Hmm… Dan ini rupanya sadar betul kalau urusan kekasih, pasangan, atau pernikahan bakal jadi “urusan” tiap kawan yang dijumpainya. Sebenarnya ia bisa saja, tak menceritakan bagian itu pada pembaca, tapi entah apa maksudnya senantiasa menyinggung hal itu dan memberi kesan ke tiap orang, kalau ia tak nyaman dan tak ingin menjawab dengan close-ended solution ke tiap kawannya. Jawabannya selalu open-ended.
* ditulis sambil mendengarkan Nina Simone:-
Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang
Oh ya Dan, dari Tangerang ke Jakarta, kalau naik bis antar kota sepertimu, berapa ongkosnya?
Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang
kasian yang belum nikah…
padahal nikah tuh enak bangets…..
dewifatma, terakhir menulis Hari ini ulang tahunku…
Daniel, boleh tanya, kaitan quote dari Sihar Ramses Simatupang dengan judul tulisan ini? Boleh ya?
Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang
Eh?? sudah sampai ke Jakarta ya? pantesan 2 hari kemarin Jakarta tiba-tiba saja menjadi cerah.
Datang tak di kemput pulang tak di antar
anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan
“Jauh-jauh aku dari Bandung, Serang, Tangerang, Jakarta, Dri. Anak-anak terbunuh di Palestina, Dri. Orang berlomba-lomba jadi caleg, Dri. Masih juga kamu tanya soal pacar?”
Hari gini belum punya pacar??
Coba kita tanya pada rumput yang bergoyaaaaang……
anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan
Om Remy Sylado.
Om REMY SYLADO.
OM REMY SYLADO?????
Waduh! Penulis novel Ca Bau Kan yang hebat itu (tapi aku bete sama versi filmnya.. walaupun pastinya, nggak akan mudah untuk merangkum novel setebal itu dalam durasi dua jam… hehe), kamu panggil dengan sebutan OM???
Cuanggih tenan bocah iki, rek!
*bocah? aku ini 33 tahun, La! Wis mateng! Siap mengawini anak orang!* hihihi…
Btw,
Pertanyaan-pertanyaan semacam “Udah nikah? Sama siapa sekarang? Anakmu berapa?” dll, dsb, itu sudah menjadi pertanyaan klasik, kan, DM?
Tapi sering aku berpikir, kenapa pertanyaan basa-basinya nggak pernah berubah dari dulu sampai sekarang…. Memangnya prestasi seorang manusia itu hanya kalau dia sudah bisa mendapatkan pasangan, kawin, punya anak, dan bercucu saja…
Kenapa coba??
Heh?
Kenapa????
*Lala kumat di blognya orang… hihihi*
Lala, terakhir menulis Taking The Chances
Soal telepati?
Mungkin bisa terjadi kalau sudah ada kedekatan emosional kali, ya, DM… Soalnya nggak akan mungkin aku bisa ber-telepati dengan George Clooney kalau tidak pernah dekat dengannya, kan?
Aku beberapa kali ber-telepati dengan sahabatku, Titi. Biasanya kami saling merasakan kegundahan satu sama lain. Nggak tahu, feelingnya nyambung aja. Sampai-sampai aku heran, apa jangan-jangan jodoh yang aku cari selama ini itu dia ya… wakakaka… jangan sampai deh…. Aku masih doyan laki-laki, DM… beneran…
Lala, terakhir menulis Taking The Chances
rumahku memang ada di dataran randah Dan…kalau kamu liat Tv (iya aku tau kamu gak pernah liat Tv mungkin sesekali program beritanya saja)…cempaka putih tenggelam dengan suksesnya.
Biasanya cuma akses rumahku aja yang kena banjir…cuma kali ini pake acara masuk rumah segala.
Mungkin banjirnya kangen…terakhir banjir masuk rumah itu tahun 1995….udah lama banget kan???
Berenang gaya apa?
Ada gak gaya berenang yang gak bikin badan basah?
By the way…di rumahku udah kering….udah mulai beberes….cuma aksesnya masih sedengkul saja.
Cukup sekian dan terimakasih ..laporan pandangan mata akan banjir di daerah rumah saya Cempaka putih!
yessy muchtar, terakhir menulis Maka Gue pun berenang….di dalam rumah sendiri.
Belum pernah naik bis Jakarta-Tangerang atau sebaliknya.
hehehe… ignore saja komentar tak penting ini
Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang
Seorang Laki-Laki Bernama Dan. Nama Panjangnya DAN LAIN-LAIN anak dari DAN SEBAGAINYA Bin DAN DAN SORE SORE. Mencari Pendamping Hidup seorang Perempuan Baik. Kalo bisa cantik, alim, kaya dan baik hati serta rajin menabung.
Harap yang menemukan, hubungi saja yang mencarinya. Saat ini yangb ersangkutan sedang keliling Indonesia.
Ditunggu…..
imoe, terakhir menulis …pesona carlos…
wow …. enaknya kalau sedang jadi orang bebas, hiks, mas daniel tuh bisa seharian ngobrol dan diskusi, apalagi kalau pas ketemu dg temen2 yang biasa nongkrong di TIM. saya membayangkan suasana renyah, saling bercanda, dan yang pasti tak akan pernah membicarakan ttg sastra, kekeke ….. sesama sastrawan dilarang bicara soal sastra, haks.
Bagaimana kamu bisa bilang rawian ini tak memberi apa-apa, bagaimana dengan pemberi komentar no. 5 dan tentu saja yang lainnya?
Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang
Heh, Jembret!
Harus ya, kata-kata sayang itu muncul di sini, eh?!
Dasar Jembret-Ebret-Ebret!
Mari serius sebentar. Bentar aja, kok.. beneran… hehe..
1. Mbret, kenapa aku kagum kamu sebut dia dengan OM, tentu saja karena dia itu penulis besar yang aku anggap sangat hebat, DM! Oh, not to mention gimana ternganga-nya aku ketika tahu kamu begitu dengan Pak Pramoedya!
2. Kamu memang bukan bocah, tapi kelakuannya sering ngeselin! Kayak bocah! hehe…
3. Aku bilang kamu siap mengawini anak orang, soalnya aku takut, kamu menunggu sekian lama seperti ini tuh karena dari dulu kamu nggak dikasih ijin sama Bapak-Ibunya Kambing! *manteb bener caci makiku kali ini, Mbret.. wakakakaka*
4. Kalau sudah soal budaya… memang susah sekali ya, Mbret… Masalahnya, budaya seperti ini sudah berakar sejak sekian lamanya… Ya, sejak kamu lahir lah.. *hehe* Mengubah kebiasaan sendiri aja susah, apalagi mengubah kebiasaan orang satu kebudayaan… Benar, cara yang paling mudah adalah menganggap itu bukan sebagai kecaman, tapi anggap saja sebagai kalimat-kalimat persahabatan… biar nggak terintimidasi… *aduh, sebel banget kalau kamu pinter gini, Mbret… hihihi*
Titi Kamal? Aku belum seterkenal itu, deh, Mbret… Kenalanku paling cuman Meg Ryan, Julia Roberts, Denzel Washington, dan Halle Berry aja….
Dan George Clooney itu? Ah… jangan ingatkan aku ke masa lalu gitu dong… wakkaka…
*nah, nah… kenapa jadinya malah ngelantur nggak jelas gini, ya? sebelah mananya yang serius, coba? wakakaka… edan tenan…*
Jembret… Jembret… Kayaknya musti mandi kembang tujuh rupa setelah nengok rumahmu ini…
Lala, terakhir menulis Taking The Chances
Tuh kan.. saking nafsunya mencaci maki dirimu, aku sampai banyak salah ketik…
ugh! Jembret!
Lala, terakhir menulis Taking The Chances
pemberi komentar no.5 , sopo tho mbak….
efek tulisan memang beragam dan unik bagi setiap pembacanya. begitu pula bagi si pemberi komentar no.5
tapi bagi yang menulis , efeknya adalah respon yang didapat dari tulisannya, bukan begitu? bukan ya?
mascayo, terakhir menulis karena kurang tinggi anakku kurang percaya diri
Hehehe Pak Cahyo, yang diobrolkan malah nongol lagi, nah itu Pak Cahyo, setidaknya bermanfaat buat yang nulis sendiri
Yoga, terakhir menulis Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?
Mas Daniel,
Ntar Endingnya bertopik pembagian suvenir dong…hehehe….
ada yang aneh, Dan. di tulisan2 awal, kamu menggambarkan ranselmu itu sarat, kusimpulkan karena ‘tembung’ menyeret itu dan tinggi. nah, bagaimana kamu bisa berloncatan menghindari becek dengan ransel seperti itu untuk menutup kepala, Dan ?
ah, ketemu Remy Sylado ? lama nggak ketemu dengan beliau, entah masih ingat atau tidak denganku. dulu…kami sempat berbincang sebentar di Semarang. dengan Bu Emmy, istri beliau, dan Rene, sepupu yang kebetulan kawan. titip salam buat beliau, bila bertemu lagi, Dan.
@DM & @Lala
woiii, ada sesi nyeknyekan lagi ta ?
Huahahaha…… paragraf terakhirnya sungguh ‘tidak mengenakkan’. Apalagi kalau hal tersebut ditanyakan kepada wanita yang sudah 30an tahun tapi belum punya pacar. Kalo laki2 sih masih mendingan. Mangkannya aku nggak pernah iseng tanya2 seperti pacar dan sebagainya pada orang2 singel terutama wanita yang usianya udah 30 tahunan ke atas. Takut terseinggung. Ya syukur sih alhamdulillah kalau misalnya memang tidak tersinggung. Ya… kalau mau becanda kan banyak bahan candaan yang lain…… Betul nggak?
Yari NK, terakhir menulis Venus: Planet Rumah Kaca
Sesuatu pasti ada maksudnya dan ditiap sesuatu ada hikmahnya. Undangan NIkah ya mas DM ? mas boleh aku tambah ke blog roll ku ga situs nya ?
Nggak perlu komen. Dinikmati saja. Tul nggak, DM?
@ Jembret di Komentar Goen #38:
Mateni aku?
MATENI AKU?????
Ah, kamu adalah kaum yang merugi kalau mateni aku!!!!!!
Jembret!!!
– Kalo di YM ngomongnya nggak gini, deh… –
Lebih kasar lagi, maksude!!!
wakakakaka….
Lala, terakhir menulis Aku dan Perempuan Ini
Bagiku, setiap tulisan yang muncul dari hati, tetap membawa pesan.
Teruslah berkarya, Sobat!
Berarti sempayan keturunan londo ya mas? katanya Mbah Utinya londo Belanda? sampeyan “londong tahu” kan? hehehehe
salam
sandyagustin, terakhir menulis Aku, Kuli, Kabayan dan Nike Ardila
Amin juga , sering ya dapat pesan melalui…
pesan teh anget aja ya mas… ga pake lama …