(The Waiting Is Almost Over: 04)

Kesadaran tak selalu lahir dari sajadah atau altar. Tapi juga dari mimpi atau dosa kesekian kali (Sihar Ramses Simatupang)

Kalian percaya pada telepati atau semacamnya? Atau sederhananya, pernahkah kalian memikirkan seseorang, kemudian tiba-tiba orang yang sedang kita pikirkan itu mengontak kita? Hmmm, aku sering kali mengalami hal itu.

Malam tadi aku teringat pada seseorang. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi rindu padanya. Pagi harinya aku terbangun oleh bunyi SMS berisi kalimat sederhana: Apa kabar, Dan? Laksana disambar petir aku mencelat dari tempat tidur. Bagaimana mungkin? Malam harinya baru saja teringat dia, pagi harinya malah mendapat SMS darinya.

Jadinya kami saling ber-SMS dan janji hendak bertemu di Jakarta. Tapi sebelumnya aku hendak turun di Tangerang. Aku sedang terguncang-guncang dalam bis antar kota. Sejak dari Ranah Dunia dan bertemu dengan mas Gege di Serang, aku putuskan untuk terus meluncur ke Tangerang.

Langit mendung. Sebentar lagi mungkin turun hujan. Debu-debu jalanan tampak berterbangan. Aku turun di persimpangan jalan. Kuseret ranselku. Kusempatkan menengadah ke langit. Ouw, gelap betul di sana. Apakah ada negeri di atas sana? Ah, aku tak tahu.

Yang pasti aku ingin menemui seorang teman di sini. Seorang blogger. Mas Haryo namanya. Belum lama kenal. Tapi ia selalu rutin berkunjung dan berkomen di blog-ku. Begitu pun sebaliknya. Kebetulan lewat daerah sini. Jadi sekalian saja.

Tak sulit mencari rumah Mas Haryo. Dengan ojek aku berputar-putar menuju rumahnya. Langit makin gelap. Duh, padahal selepas pertemuan ini, aku ingin terus ke Jakarta sebelum malam tiba. Tapi apa yang terjadi, terjadilah. Toh aku tak tersekat waktu. Aku tak dikejar apa-apa. Aku sedang jadi manusia bebas kan?

Aku berhenti di pagar sebuah rumah. Kulihat tuan rumah telah menyambut di teras. Rupanya ini yang namanya Mas Haryo, batinku dalam hati. Aku membuka pagar itu.

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…” balasnya. “Wah-wah-wah… akhirnya ketemu juga kita. Masuk, Mas Dan.” sambutnya ramah mengulurkan tangan.
Aku hanya cengar-cengir membalas genggaman tangannya.

Aku menyeret ranselku. Di ruang tamu aku diperkenalkan pada istrinya. Tiba-tiba seorang gadis chubby berlari-lari dari dalam. Lucunya minta ampun.

“Zia, ayo salaman sama teman Papa.” tukas Mas Haryo.
“Halo Zia…” sapaku berlutut.
“Halo Om…” ujarnya mencium punggung tanganku.
“Cantik sekali kamu. Papa sering cerita lho tentang Zia.”
“Cerita tentang Zia?”
“He-eh.”
“Cerita apa, Om?”
“Ouw, macam-macam.”
“Iya Pah?”
“He-he-he. Itu bisa-bisa Om Dan aja.” jawab Mas Haryo.

Tak lama minuman dan penganan kecil pun disuguhkan. Istri Mas Haryo membiarkan kami berbicang berdua di ruang tamu. Kami ngobrol-ngobrol soal blog, soal blogger, soal kota Cimahi tempat asal Mas Haryo, juga tentang mengapa pemerintah terus menurunkan BBM menjelang pemilu ini. Usia kami rupanya tak terpaut jauh.

“Jadi betul mau keliling Indonesia?”
“Yup.”
“Aku baca semua tuh seri The Waiting Is Almost Over.”
“Ha-ha-ha-ha… Cerita asal saja itu.”
“Mau dibuat berseri di setiap kota?”
“Emh, entahlah. Pinginnya sih begitu.”
“Juga perjumpaan dengan setiap blogger?”
“Yeah.”
“Wauw. Bakal seru. Hampir di setiap kota ada blogger.”
“He-he-he. Iya. Tapi kan nggak semua kukenal. Masa’ tiba-tiba nyelonong minta ketemu. Ntar dikira siapa lah aku ini.”
“Waduh… siapa sih nggak kenal Penenun Kata?” selorohnya.
“Halaahh-halaahh…” aku tertawa ngakak.

Langit tak hanya makin gelap. Namun suasana betul-betul makin pekat. Tampaknya aku mesti buru-buru minta diri. Sebetulnya menyenangkan sekali bisa ngobrol panjang dengan Mas Haryo. Orangnya ramah, senang berbincang, dan sedikit-sedikit selalu melibatkan keluarga. Tapi aku mesti berkejaran dengan hujan yang tampaknya bakal tumpah ke bumi.

Akhirnya aku pun pamit. Dilepas oleh istri Mas Haryo dan Zia di teras depan. Sementara Mas Haryo menyiapkan motor hendak mengantarkanku ke persimpangan jalan raya.

“Undangannya lho, Mas. Kami jangan lupa dikirimi.” tukas istri Mas Haryo tersenyum.
“Undangan? Undangan apa nih?” tanyaku pura-pura bego.
“Undangan apa lagi…” timpal Mas Haryo menggodaku.
“Haih… Ntar deh aku posting di blog. Nggak usah pakai undangan tercetak. Semua blogger, datang!” ujarku berkelakar.
“Ha? Jadi bener nih? Sama…” Mas Haryo terbelalak.
“Halah-halah… Sama siapa? Becanda ah. Ha-ha-ha…”

Tak berapa lama aku sudah kembali terguncang-guncang di atas bis antar kota. Pertemuan dengan Mas Haryo memberikan kesan tersendiri di batinku. Ia teramat mencintai keluarganya. Apa yang kerap ia tulis di blog betul terpantul dari sikapnya terhadap anak dan istrinya selama perkunjunganku.

Dari balik kaca jendela aku menatap langit yang mulai menumpahkan hujan sedemikian dahsyat. Jalanan basah dan orang-orang berlarian menghindari kuyup. Duh, aku jadi iri mempunyai keluarga mungil dan bahagia seperti keluarga Mas Haryo. Tiba-tiba terdengar petir menggelegar di langit. Reflek aku menjauhkan kepalaku dari kaca jendela. Dan dengan cepat pula kukibaskan bayangan tentang keirianku itu.

* * *

Aku berloncatan menghindari becek dan sisa gerimis di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ranselku kujadikan penutup kepala. Aku menuju Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Ada kegiatan diskusi rutin di sana. Forum Meja Budaya.

Di anak tangga terakhir aku mengibas-ngibaskan kemejaku yang basah. Kusisir rambutku dengan jemari. Kuletakkan ransel di pinggir ruangan. Meski tak kuyup, kurasa aku cukup kedinginan. Beberapa kawan tertawa melihatku menggigil.

Rupanya acara diskusi telah usai. Orang saling ngobrol santai sembari menyeruput kopi. Bang Martin Aleida yang menyambutku pertama kali.

“Jumpa lagi, Dan. Langsung dari Bandung?” tak kusangka ia memelukku.
“Nggak, Bang Martin. Dari Serang aku.”
“Ouw. Masuklah. Itu teman-teman sudah santai.”

Aku menuju arah teman-teman lainnya. Ada Om Remy Sylado yang melambaikan tangan. Ada Badri dan istrinya Yuni. Ada Yohanthan Rahardjo, si dokter hewan yang novelis itu dan Alin kekasihnya (masa’ kekasihnya mulu sih?). Dan Sihar Ramses Simatupang, penyair ‘don juan’ yang wartawan Sinar Harapan itu. Ada Iqbal, novelis yang baru saja keluar dari Metro TV.

“Eit, datang sendirian nih?” ujar Sihar tersenyum-senyum mengolokku.
“Memangnya dulu kalau datang ke sini sama siapa, heh?!” aku mendelik.
“Halah-halah… belagak lupa pulak kau ini.” goda Sihar makin menjadi.
“Ha-ha-ha-ha. Macam aku tak tahu riwayatmu saja, Har…” aku memancingnya.
“Oups, oke… oke… Sebagai sesama lelaki, kita cukupkan saja olok-olok ini ya?” Sihar cengar-cengir.
Kawan-kawan lain hanya tertawa.

Mereka adalah kawan-kawanku kalau aku nongkrong di TIM. Bersama kami kerap nonton pertunjukan teater, pembacaan cerpen, pementasan puisi, diskusi sastra, atau sekadar menyeruput kopi di trotoar depan.

“Kenapa kau tanya mimpi apa aku semalam, Dan?” tanya Sihar.
“Ya pagi-pagi kau tiba-tiba SMS aku menanyakan kabar. Kan aneh.”
“Karena dunia makin suram, Dan. Apalagi dunia sastra. Seperti sajak yang menghitam. Walau pagi dengan secangkir kopi, roti coklat ketengan, dan sebatang rokok filter, masih menjanjikan harapan.”
“Alamaaak… Tak sedang mabuk kan kau?” aku ngakak.
“Eh, Kesadaran tak selalu lahir dari sajadah atau altar lah, Dan. Tapi juga dari mimpi atau dosa kesekian kali.”
“Ah, makin Batak saja kau ini, Har!” Iqbal menimpali. “Ayo ah, cabut. Nongkrong di trotoar kita.”
“Eh Bal, aku ini Jawa tulen, Bal.” sergah Sihar tetap dengan logat Bataknya. “Enam tahun aku di Unair.”
“Untung tak di-DO.” olok Iqbal.
“Ha-ha-ha-ha…”

Beramai-ramai kami turun dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Menuju trotor Jalan Cikini. Biasanya sih diskusi lagi, sembari menyeruput kopi. Tentu dalam suasana yang lebih santai. Aku menyeret ransel dekilku.

“Siapa pacarmu sekarang, Dan?” tanya Badri mengiringi jalanku.
“Husy!” aku tercekat. “Jauh-jauh aku dari Bandung, Serang, Tangerang, Jakarta, Dri. Anak-anak terbunuh di Palestina, Dri. Orang berlomba-lomba jadi caleg, Dri. Masih juga kamu tanya soal pacar?”
“Hah?! Serius sekali…” Badri bengong.

18 Januari 2008 | 12.18 wib