Kali Ini Datang Tanpa Pesan

(The Waiting Is Almost Over: 04)

Kesadaran tak selalu lahir dari sajadah atau altar. Tapi juga dari mimpi atau dosa kesekian kali (Sihar Ramses Simatupang)

Kalian percaya pada telepati atau semacamnya? Atau sederhananya, pernahkah kalian memikirkan seseorang, kemudian tiba-tiba orang yang sedang kita pikirkan itu mengontak kita? Hmmm, aku sering kali mengalami hal itu.

Malam tadi aku teringat pada seseorang. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi rindu padanya. Pagi harinya aku terbangun oleh bunyi SMS berisi kalimat sederhana: Apa kabar, Dan? Laksana disambar petir aku mencelat dari tempat tidur. Bagaimana mungkin? Malam harinya baru saja teringat dia, pagi harinya malah mendapat SMS darinya.

Jadinya kami saling ber-SMS dan janji hendak bertemu di Jakarta. Tapi sebelumnya aku hendak turun di Tangerang. Aku sedang terguncang-guncang dalam bis antar kota. Sejak dari Ranah Dunia dan bertemu dengan mas Gege di Serang, aku putuskan untuk terus meluncur ke Tangerang.

Langit mendung. Sebentar lagi mungkin turun hujan. Debu-debu jalanan tampak berterbangan. Aku turun di persimpangan jalan. Kuseret ranselku. Kusempatkan menengadah ke langit. Ouw, gelap betul di sana. Apakah ada negeri di atas sana? Ah, aku tak tahu.

Yang pasti aku ingin menemui seorang teman di sini. Seorang blogger. Mas Haryo namanya. Belum lama kenal. Tapi ia selalu rutin berkunjung dan berkomen di blog-ku. Begitu pun sebaliknya. Kebetulan lewat daerah sini. Jadi sekalian saja.

Tak sulit mencari rumah Mas Haryo. Dengan ojek aku berputar-putar menuju rumahnya. Langit makin gelap. Duh, padahal selepas pertemuan ini, aku ingin terus ke Jakarta sebelum malam tiba. Tapi apa yang terjadi, terjadilah. Toh aku tak tersekat waktu. Aku tak dikejar apa-apa. Aku sedang jadi manusia bebas kan?

Aku berhenti di pagar sebuah rumah. Kulihat tuan rumah telah menyambut di teras. Rupanya ini yang namanya Mas Haryo, batinku dalam hati. Aku membuka pagar itu.

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…” balasnya. “Wah-wah-wah… akhirnya ketemu juga kita. Masuk, Mas Dan.” sambutnya ramah mengulurkan tangan.
Aku hanya cengar-cengir membalas genggaman tangannya.

Aku menyeret ranselku. Di ruang tamu aku diperkenalkan pada istrinya. Tiba-tiba seorang gadis chubby berlari-lari dari dalam. Lucunya minta ampun.

“Zia, ayo salaman sama teman Papa.” tukas Mas Haryo.
“Halo Zia…” sapaku berlutut.
“Halo Om…” ujarnya mencium punggung tanganku.
“Cantik sekali kamu. Papa sering cerita lho tentang Zia.”
“Cerita tentang Zia?”
“He-eh.”
“Cerita apa, Om?”
“Ouw, macam-macam.”
“Iya Pah?”
“He-he-he. Itu bisa-bisa Om Dan aja.” jawab Mas Haryo.

Tak lama minuman dan penganan kecil pun disuguhkan. Istri Mas Haryo membiarkan kami berbicang berdua di ruang tamu. Kami ngobrol-ngobrol soal blog, soal blogger, soal kota Cimahi tempat asal Mas Haryo, juga tentang mengapa pemerintah terus menurunkan BBM menjelang pemilu ini. Usia kami rupanya tak terpaut jauh.

“Jadi betul mau keliling Indonesia?”
“Yup.”
“Aku baca semua tuh seri The Waiting Is Almost Over.”
“Ha-ha-ha-ha… Cerita asal saja itu.”
“Mau dibuat berseri di setiap kota?”
“Emh, entahlah. Pinginnya sih begitu.”
“Juga perjumpaan dengan setiap blogger?”
“Yeah.”
“Wauw. Bakal seru. Hampir di setiap kota ada blogger.”
“He-he-he. Iya. Tapi kan nggak semua kukenal. Masa’ tiba-tiba nyelonong minta ketemu. Ntar dikira siapa lah aku ini.”
“Waduh… siapa sih nggak kenal Penenun Kata?” selorohnya.
“Halaahh-halaahh…” aku tertawa ngakak.

Langit tak hanya makin gelap. Namun suasana betul-betul makin pekat. Tampaknya aku mesti buru-buru minta diri. Sebetulnya menyenangkan sekali bisa ngobrol panjang dengan Mas Haryo. Orangnya ramah, senang berbincang, dan sedikit-sedikit selalu melibatkan keluarga. Tapi aku mesti berkejaran dengan hujan yang tampaknya bakal tumpah ke bumi.

Akhirnya aku pun pamit. Dilepas oleh istri Mas Haryo dan Zia di teras depan. Sementara Mas Haryo menyiapkan motor hendak mengantarkanku ke persimpangan jalan raya.

“Undangannya lho, Mas. Kami jangan lupa dikirimi.” tukas istri Mas Haryo tersenyum.
“Undangan? Undangan apa nih?” tanyaku pura-pura bego.
“Undangan apa lagi…” timpal Mas Haryo menggodaku.
“Haih… Ntar deh aku posting di blog. Nggak usah pakai undangan tercetak. Semua blogger, datang!” ujarku berkelakar.
“Ha? Jadi bener nih? Sama…” Mas Haryo terbelalak.
“Halah-halah… Sama siapa? Becanda ah. Ha-ha-ha…”

Tak berapa lama aku sudah kembali terguncang-guncang di atas bis antar kota. Pertemuan dengan Mas Haryo memberikan kesan tersendiri di batinku. Ia teramat mencintai keluarganya. Apa yang kerap ia tulis di blog betul terpantul dari sikapnya terhadap anak dan istrinya selama perkunjunganku.

Dari balik kaca jendela aku menatap langit yang mulai menumpahkan hujan sedemikian dahsyat. Jalanan basah dan orang-orang berlarian menghindari kuyup. Duh, aku jadi iri mempunyai keluarga mungil dan bahagia seperti keluarga Mas Haryo. Tiba-tiba terdengar petir menggelegar di langit. Reflek aku menjauhkan kepalaku dari kaca jendela. Dan dengan cepat pula kukibaskan bayangan tentang keirianku itu.

* * *

Aku berloncatan menghindari becek dan sisa gerimis di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ranselku kujadikan penutup kepala. Aku menuju Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Ada kegiatan diskusi rutin di sana. Forum Meja Budaya.

Di anak tangga terakhir aku mengibas-ngibaskan kemejaku yang basah. Kusisir rambutku dengan jemari. Kuletakkan ransel di pinggir ruangan. Meski tak kuyup, kurasa aku cukup kedinginan. Beberapa kawan tertawa melihatku menggigil.

Rupanya acara diskusi telah usai. Orang saling ngobrol santai sembari menyeruput kopi. Bang Martin Aleida yang menyambutku pertama kali.

“Jumpa lagi, Dan. Langsung dari Bandung?” tak kusangka ia memelukku.
“Nggak, Bang Martin. Dari Serang aku.”
“Ouw. Masuklah. Itu teman-teman sudah santai.”

Aku menuju arah teman-teman lainnya. Ada Om Remy Sylado yang melambaikan tangan. Ada Badri dan istrinya Yuni. Ada Yohanthan Rahardjo, si dokter hewan yang novelis itu dan Alin kekasihnya (masa’ kekasihnya mulu sih?). Dan Sihar Ramses Simatupang, penyair ‘don juan’ yang wartawan Sinar Harapan itu. Ada Iqbal, novelis yang baru saja keluar dari Metro TV.

“Eit, datang sendirian nih?” ujar Sihar tersenyum-senyum mengolokku.
“Memangnya dulu kalau datang ke sini sama siapa, heh?!” aku mendelik.
“Halah-halah… belagak lupa pulak kau ini.” goda Sihar makin menjadi.
“Ha-ha-ha-ha. Macam aku tak tahu riwayatmu saja, Har…” aku memancingnya.
“Oups, oke… oke… Sebagai sesama lelaki, kita cukupkan saja olok-olok ini ya?” Sihar cengar-cengir.
Kawan-kawan lain hanya tertawa.

Mereka adalah kawan-kawanku kalau aku nongkrong di TIM. Bersama kami kerap nonton pertunjukan teater, pembacaan cerpen, pementasan puisi, diskusi sastra, atau sekadar menyeruput kopi di trotoar depan.

“Kenapa kau tanya mimpi apa aku semalam, Dan?” tanya Sihar.
“Ya pagi-pagi kau tiba-tiba SMS aku menanyakan kabar. Kan aneh.”
“Karena dunia makin suram, Dan. Apalagi dunia sastra. Seperti sajak yang menghitam. Walau pagi dengan secangkir kopi, roti coklat ketengan, dan sebatang rokok filter, masih menjanjikan harapan.”
“Alamaaak… Tak sedang mabuk kan kau?” aku ngakak.
“Eh, Kesadaran tak selalu lahir dari sajadah atau altar lah, Dan. Tapi juga dari mimpi atau dosa kesekian kali.”
“Ah, makin Batak saja kau ini, Har!” Iqbal menimpali. “Ayo ah, cabut. Nongkrong di trotoar kita.”
“Eh Bal, aku ini Jawa tulen, Bal.” sergah Sihar tetap dengan logat Bataknya. “Enam tahun aku di Unair.”
“Untung tak di-DO.” olok Iqbal.
“Ha-ha-ha-ha…”

Beramai-ramai kami turun dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Menuju trotor Jalan Cikini. Biasanya sih diskusi lagi, sembari menyeruput kopi. Tentu dalam suasana yang lebih santai. Aku menyeret ransel dekilku.

“Siapa pacarmu sekarang, Dan?” tanya Badri mengiringi jalanku.
“Husy!” aku tercekat. “Jauh-jauh aku dari Bandung, Serang, Tangerang, Jakarta, Dri. Anak-anak terbunuh di Palestina, Dri. Orang berlomba-lomba jadi caleg, Dri. Masih juga kamu tanya soal pacar?”
“Hah?! Serius sekali…” Badri bengong.

18 Januari 2008 | 12.18 wib

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

45 Responses to Kali Ini Datang Tanpa Pesan

  1. AL says:

    Benarkah tanpa pesan? Hmmm…

    Yup, kesadaran tidak di atas sejadah atau di altar saja. Saya pernah mengalami kesadaran dan pencerahan melalui mimpi buruk.

    Masih coba dipikirin, udah keburu maghrib. Shalat dulu ah.

    Oh ya, kapan undangannya? Undangan sunatan kan? ehehehhe..

    AL, terakhir menulis Kebetulan?

    DM: Ya, tanpa pesan. Aku merasa postingan kali ini semacam catatan perjalanan biasa saja. Tanpa bisa memberikan pesan apa-apa.
    Nah, sholat dulu gih.
    Undangan peluncuran buku saja ya? He-he.

  2. edratna says:

    Jadi kali ini Dan ke Serang, atau karena tak ada teman di Ujung Kulon?

    Tokoh Dan akan mengelilingi pulau Jawa, menyusuri jalanan dan menemui blogger satu persatu di masing-masing perhentian. Nggak bisa meloncat Dan? Padahal mau diajak ke Makassar, mungkin sempat ke Mamuju menemui Paki (tokoh khayalan juga nih).

    Teruskan perjalananmu kawan, aku membacanya sambil menyeruput teh manis panas yang dibuat oleh si Mbak.

    edratna, terakhir menulis Menikmati nonton film sendirian

    DM: He-he-he. Terbersit si tokoh Dan itu ingin ke Baduy dalam, Bu. Tapi kondisi sedang tak memungkinkan. Toh masih di Jakarta. Ia bisa tiba-tiba balilk lagi ke Banten.

  3. omoshiroi says:

    saya sebenernya ga mau ikut-ikutan yang laen buat nyinggung masalah pernikahan..tapi ketika ada pernyataan “duh, aku jadi iri mempunyai keluarga mungil dan bahagia seperti keluarga mas haryo”, saya akhirnya tergelitik juga untuk bertanya..
    kenapa tidak secepatnya saja membentuk keluarga mungil dan bahagia bang?
    menunggu apa lagi?
    hehe,,

    omoshiroi, terakhir menulis El Meler (Film)

    DM: Menyinggung pun tak apa, Kawan.
    Menunggu apa? Tak ada yang ditunggu. The waiting is almost over, eh? He-he.

  4. omoshiroi says:

    membaca kutipan di awal tulisan, saya jadi teringat kata-kata yang sering diucapkan kawan-kawan di organisasi saya..
    “keadaan menciptakan kesadaran”.

    omoshiroi, terakhir menulis El Meler (Film)

    DM: Ya, keadaan menciptakan kesadaran. Namun tentunya tetap kita timbang-timbang juga keadaan tersebut.

  5. mascayo says:

    kali ini kau singgung masalah telepati, haks! apalagi ini?
    boleh percaya boleh tidak, aku mengalaminya sore ini, aku seperti merasakan ada yang aneh.
    ah! dan benar saja …..
    Kau memang pandai Dan! Kau bukan hanya berhasil memancing reaksiku, tapi berhasil membuat aku larut didalamnya. Penggambaranmu hampir tepat. Bagimu mungkin biasa, tapi bagiku tidak. Canggih!
    Teruslah berkelana sobat .. Jangan lupa bagi semua kisahmu di blog! :)

    mascayo, terakhir menulis didalam hati ini berniat

    DM: Ahahaha… Mas Haryo, eh, Mas Cayo. Sampaikan terima kasihku pada istrimu yang baik dan Zia yang lucu ya…
    Sampai bertemu, Sobat!

  6. Zulmasri says:

    PENGUMUMAN

    Dicari seorang pendamping hidup untuk mas Daniel Mahendra. Diharapkan seorang yg mandiri, syukur-syukur bloggerita.

    Bagi yang berminat, hubungi blog ini (ingat, tanpa perantara)

    Ditunggu…!

    Zulmasri, terakhir menulis PECINTA HUJAN

    DM: Ha-ha-ha-ha… Sialan! Kok jadi bikin pengumuman, Mas Zul?

  7. radesya says:

    Telepati? Hmm.. berarti kakak peka juga dunk.., aku pernah baca tentang itu.
    Senang banget bacanya kak, aku sampe terharu, benar-benar bisa merasakan..

    DM: Kakak peka? Oh iya, penganyam kata. Hi-hi-hi…

  8. radesya says:

    Kak, ku ingin segera tau endingnya..

    Tokoh Dan disini sangat hebat ya..

    Buat Dan..
    “kalau kita tak menjalani awalnya, kita tak akan tau akhirnya”

    teruslah berjalan, jangan menoleh ke belakang Dan, kamu akan menjumpai banyak hal dalam setiap perjalanan kamu…

    DM: Ingin segera tau ending-nya? Tidak mungkin, Desya. Jangankan Desya, si Dan saja tidak tau bagaimana ending perjalanannya.

  9. dana says:

    Ya, cahaya memang datang setelah gelap.

    dana, terakhir menulis Jatuh

    DM: Seperti kata Kartini…

  10. icha says:

    Sihar Ramses? Waaaaaaaaaaaaah…Si Ucok yang kau ceritakan di sini, Dan?

    Salamku buat dia jika suatu saat bisa ketemu lagi dengannya. Aku justru kehilangan kontak dengannya.

    Setelah Serang, lalu Jakarta. Kapan ke Jogja? :D

    icha, terakhir menulis Parafrase Romantis

    DM: Iya lah. Si Ucok mana lagi yang kelakuannya macam itu. He-he.
    Kau dulu Fikom ya, Lis? Si Ucok tu Fasa kalau tak salah. Ah, kenapa kita jadi bahas fakultas. Ha-ha.
    Yogya masih lama. Tunggu lah.

  11. icha says:

    oya, soal telepati, aku kutip lagi ujaran Redfield di Celestine Propechy:

    “Kita harus lebih memperhatikan mimpi, lamunan dan intuisi kita, karena apabila kita dalam keadaan penuh energi, kita bisa mendapat visi tentang apa yang akan terjadi atau apa yang harus kita lakukan melalui mimpi, lamunan dan intuisi kita. Dan apa yang kita lihat dalam visi itu, harus kita percayai dan kita lakukan karena itu adalah petunjuk dari energi yang membimbing kita.”

    Entah dengan cara bagaimana, tapi rasanya aku percaya bahwa evolusi manusia beranjak ke tingkatan evolusi spiritual. Salah satunya ya adanya telepati itu…

    icha, terakhir menulis Parafrase Romantis

    DM: Ya, aku sudah baca di postinganmu soal Firasat itu, Lis. Aku mengamini.
    Mau tidak percaya bagaimana, hal itu kerap terjadi. Nyata pula.

  12. marsh says:

    telepati, ya? ESP, gut instinct, hunch?
    been there, done that. i don’t think you need any further elaboration.

    “some people” used to call it mutual feeling, not really suitable, yet it is somehow…

    ditunggu kelanjutan kisah perjalanannya, goniel.

    DM: Mutual feeling! Ribuan tahun lamanya kita menggunakan istilah itu, Goyul. Tak kusangka, ketika kita hidup dan dipertemukan lagi di abad ini, istilah itu masih juga kita pakai.

  13. prameswari says:

    Lho…kenapa doa keiriannya tidak dilanjutkan saat petir menggelegar…
    siapa tahu alam mendengar dan menyampaikan-Nya..
    dan menyambutnya….

    met jalan-jalan ya…..

    prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik

    DM: Sepertinya si tokoh kita itu sangat percaya pertanda alam, Prameswari.

  14. prameswari says:

    telepati ade percaya sebagai doa….doa bertemu seseorang…..
    dan akhirnya terkabul bertemu….

    prameswari, terakhir menulis Terapi Oksigen Hiperbarik, terapi penunjang yang pantas dilirik

    DM: Begitukah? Bisa jadi. Karena hal-hal semacam itu kerap datang secara tiba-tiba tanpa kita minta. Yang paling menarik adalah ketika kita bisa mengolahnya. Umumnya pertanda-pertanda semacam itu betul jadi kejadian nyata. Heran juga.

  15. DV says:

    Wew ini nek kamu jadi ke jogja dibuat seolah-olah bertemu tokoh Tunggonono seru kayaknya….

    DV, terakhir menulis Kabar

    DM: Tunggonono ya? Hmmm… ta’ pikir-pikir dulu yo.
    Piye hari pertamamu, Dab? Seru?

  16. Ni ..orang….

    Paling males kalo di tanya nikah…

    Tapi tulisannya minta di tanyaain!..aneh!!!

    *komen maksa sambil merenungi gimana caranya berangkat kekantor hari ini dengan kondisi air masuk rumah, dan akses tertutup banjier*

    *Eh ..kamu gak tau kan Dan…sambil ngetik ini..aku sambil berenang lo…*

    yessy muchtar, terakhir menulis Maka Gue pun berenang….di dalam rumah sendiri.

    DM: Lho, yang tanya kan bukan aku. Tapi lawan bicaranya. Aku hanya menuliskan.
    Banjir? Kena? Ck-ck…
    Berenang gaya apa?

  17. prameswari says:

    eh ..kalo perjalanan mas niy ada ilustrasinya kayaknya seru juga…
    eh Kun mana ya…..
    digambar dong kartunnya….

    prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan

    DM: Kartun? Whaaa… Masa’ kartun.

  18. Juliach says:

    Orang-orang yang pernah aku kangenin (sampe tergila-gila), peluk erat dan aku cium kuat-kuat…hingga aku berusaha mati-matian utk bertemu/berbicara dengan mereka…selalu sudah tiada ketika aku tiba/ku dapat dgn kontak telpon…

    Oleh sebab itu aku sekarang tak mau kangen-kangenan…bikin ngeri sendiri… tapi hal itu tak pernah aku bisa buang jauh-jauh…

    Juliach, terakhir menulis Polo: Tolong fotoin aku telanjang!

    DM: Ya, terkadang bikin ngeri, Mbak. Sangat ngeri malah. Bahkan menyakitkan. Tapi tetap saja tak pernah bisa kita buang jauh-jauh.

  19. Oby says:

    ya saya pun sering mengalaminya, mungkin itu karena ada ikatan batin antara keduanya,…
    salam kenal, senang dapt berkunjung,.

    DM: Ya. Biasanya semakin kuat ikatan batinnya, semakin mudah pula tarik-menarik pertalian komunikasinya.
    Salam kenal juga. Senang dikunjungi…

  20. Yoga says:

    Hahaha makin unik tokoh Dan ini, telepati juga jadi life style-nya. Hmm… Dan ini rupanya sadar betul kalau urusan kekasih, pasangan, atau pernikahan bakal jadi “urusan” tiap kawan yang dijumpainya. Sebenarnya ia bisa saja, tak menceritakan bagian itu pada pembaca, tapi entah apa maksudnya senantiasa menyinggung hal itu dan memberi kesan ke tiap orang, kalau ia tak nyaman dan tak ingin menjawab dengan close-ended solution ke tiap kawannya. Jawabannya selalu open-ended.

    * ditulis sambil mendengarkan Nina Simone:-

    Everyone’s gone to the moon

    Streets full of people, all alone
    Roads full of houses, never home
    A church full of singing, out of tune
    Everyone’s gone to the moon

    Eyes full of sorrow, never wet
    Hands full of money, all in debt….

    Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang

    DM: Yah itulah yang kerap ia dapatkan. Mau bagaimana. Aku kan hanya menuliskan.

  21. Yoga says:

    Oh ya Dan, dari Tangerang ke Jakarta, kalau naik bis antar kota sepertimu, berapa ongkosnya? ;)

    Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang

    DM: Mestinya kamu lebih tau. Kan kamu yang tinggal di Jakarta.

  22. dewifatma says:

    kasian yang belum nikah…
    padahal nikah tuh enak bangets….. :)

    dewifatma, terakhir menulis Hari ini ulang tahunku…

    DM: Kasihan? Kenapa kasihan? Apanya yang perlu dikasihani?

  23. Yoga says:

    Daniel, boleh tanya, kaitan quote dari Sihar Ramses Simatupang dengan judul tulisan ini? Boleh ya?

    Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang

    DM: Nggak ada kaitannya apa-apa. Mereka berdiri sendiri saja. Judul itu berangkat dari rawian ini yang kurasa tak memberikan apa-apa.

  24. anak ilang says:

    Eh?? sudah sampai ke Jakarta ya? pantesan 2 hari kemarin Jakarta tiba-tiba saja menjadi cerah.

    Datang tak di kemput pulang tak di antar

    anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan

    DM: Haih… Kalau pun memang cerah, tentu bukan karena tokoh si Dan itu.

  25. anak ilang says:

    “Jauh-jauh aku dari Bandung, Serang, Tangerang, Jakarta, Dri. Anak-anak terbunuh di Palestina, Dri. Orang berlomba-lomba jadi caleg, Dri. Masih juga kamu tanya soal pacar?”

    Hari gini belum punya pacar??

    Coba kita tanya pada rumput yang bergoyaaaaang……

    anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan

    DM: Wah, soal pacar sudah selesai.
    Hari gini masih ada yang pacaran? Ha-ha!

  26. Lala says:

    Om Remy Sylado.
    Om REMY SYLADO.
    OM REMY SYLADO?????

    Waduh! Penulis novel Ca Bau Kan yang hebat itu (tapi aku bete sama versi filmnya.. walaupun pastinya, nggak akan mudah untuk merangkum novel setebal itu dalam durasi dua jam… hehe), kamu panggil dengan sebutan OM???

    Cuanggih tenan bocah iki, rek!
    *bocah? aku ini 33 tahun, La! Wis mateng! Siap mengawini anak orang!* hihihi…

    Btw,
    Pertanyaan-pertanyaan semacam “Udah nikah? Sama siapa sekarang? Anakmu berapa?” dll, dsb, itu sudah menjadi pertanyaan klasik, kan, DM?
    Tapi sering aku berpikir, kenapa pertanyaan basa-basinya nggak pernah berubah dari dulu sampai sekarang…. Memangnya prestasi seorang manusia itu hanya kalau dia sudah bisa mendapatkan pasangan, kawin, punya anak, dan bercucu saja…

    Kenapa coba??
    Heh?
    Kenapa????

    *Lala kumat di blognya orang… hihihi*

    Lala, terakhir menulis Taking The Chances

    DM:
    1. Ada apa dengan panggilan Om? Masa’ mesti manggil Pakde Remy? Mbah Remy? Yo malah aneh.
    2. Bocah? Aku sudah nggak bocah, Mbret!
    3. Siap mengawini anak orang? Masa’ siap mengawani anak kucing? Oalah, Mbret… Mbret.
    4. Pertanyaan-pertanyaan itu kan soal budaya saja. Jangan risau ah. Ya gimana, budayanya masih di seputar itu-itu saja. Di seputar kawin, beranak pinak, mengembangkan, memberi makan, mengawinkan lagi, terus begitu. Jadi nggak perlu risau.
    .
    Kalau kamu nggak suka, ya ubah budaya atau pola pikir semacam itu. Tapi pertanyaannya kan: apa kamu mau? apa kamu bisa? apa kamu sanggup? Jangan-jangan kamu nanti yang diketawain. Ini memang soal revoulusi budaya. Revolusi cara berpikir.
    .
    Jalan baik adalah jalan tengah. Tidak mengecam dan tidak merasa dikecam. He-he. Cukup beri senyumam. Ah kamu kayak susah jodoh aja (emang, DM!). Wakakakakkk…

  27. Lala says:

    Soal telepati?

    Mungkin bisa terjadi kalau sudah ada kedekatan emosional kali, ya, DM… Soalnya nggak akan mungkin aku bisa ber-telepati dengan George Clooney kalau tidak pernah dekat dengannya, kan?

    Aku beberapa kali ber-telepati dengan sahabatku, Titi. Biasanya kami saling merasakan kegundahan satu sama lain. Nggak tahu, feelingnya nyambung aja. Sampai-sampai aku heran, apa jangan-jangan jodoh yang aku cari selama ini itu dia ya… wakakaka… jangan sampai deh…. Aku masih doyan laki-laki, DM… beneran… :)

    Lala, terakhir menulis Taking The Chances

    DM: Titi? Titi DJ? Titi Kamal? Titi Qadarsih atau Titi apa nih? Titi Kamal aja ya? He-he.
    George Clooney? Hmmm… Setahuku dia masih waras deh.

  28. rumahku memang ada di dataran randah Dan…kalau kamu liat Tv (iya aku tau kamu gak pernah liat Tv mungkin sesekali program beritanya saja)…cempaka putih tenggelam dengan suksesnya.

    Biasanya cuma akses rumahku aja yang kena banjir…cuma kali ini pake acara masuk rumah segala.

    Mungkin banjirnya kangen…terakhir banjir masuk rumah itu tahun 1995….udah lama banget kan???

    Berenang gaya apa?

    Ada gak gaya berenang yang gak bikin badan basah?

    By the way…di rumahku udah kering….udah mulai beberes….cuma aksesnya masih sedengkul saja.

    Cukup sekian dan terimakasih ..laporan pandangan mata akan banjir di daerah rumah saya Cempaka putih!

    yessy muchtar, terakhir menulis Maka Gue pun berenang….di dalam rumah sendiri.

    DM:
    Yessy Muchtar melaporkan untuk…
    Eh, untuk mana nih?
    Untuk Pengayam Kata TV aja ya? He-he.
    .
    Ya ampun, ibukota negara banjir…
    Ibukota negara…
    Hidup pemilu! Hidup Pilkada!

  29. Yoga says:

    Belum pernah naik bis Jakarta-Tangerang atau sebaliknya.
    hehehe… ignore saja komentar tak penting ini :D

    Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang

    DM: Lha…

  30. imoe says:

    Seorang Laki-Laki Bernama Dan. Nama Panjangnya DAN LAIN-LAIN anak dari DAN SEBAGAINYA Bin DAN DAN SORE SORE. Mencari Pendamping Hidup seorang Perempuan Baik. Kalo bisa cantik, alim, kaya dan baik hati serta rajin menabung.

    Harap yang menemukan, hubungi saja yang mencarinya. Saat ini yangb ersangkutan sedang keliling Indonesia.

    Ditunggu…..

    imoe, terakhir menulis …pesona carlos…

    DM: Ha-ha-ha-ha… Dodol! Nggak perlu diurai gitu kaleee…
    Nggak repot-repot nyari kok.

  31. wow …. enaknya kalau sedang jadi orang bebas, hiks, mas daniel tuh bisa seharian ngobrol dan diskusi, apalagi kalau pas ketemu dg temen2 yang biasa nongkrong di TIM. saya membayangkan suasana renyah, saling bercanda, dan yang pasti tak akan pernah membicarakan ttg sastra, kekeke ….. sesama sastrawan dilarang bicara soal sastra, haks.

    DM: Tak membicarakan sastra sama sekali, Pak Sawali. Ha-ha-ha-ha…
    Pun tak bergosip soal seniman seIndonesia Raya. Ha-ha!

  32. Yoga says:

    Bagaimana kamu bisa bilang rawian ini tak memberi apa-apa, bagaimana dengan pemberi komentar no. 5 dan tentu saja yang lainnya?

    Yoga, terakhir menulis Berbual-Bual di Jumat Siang

    DM: Ha-ha-ha-ha. Tulisan ini kan dibuat sebelum di-posting. Jelas tulisan ini dibuat sebelum ada komen masuk. Jadi aku merasa, aku merasa, tulisan kali ini biasa saja. Tak menitipkan apa-apa. Kalau setelah di-posting ada yang merasa, ya itu kejadian setelah aku selesai membuat tulisan ini.

  33. Lala says:

    Heh, Jembret!
    Harus ya, kata-kata sayang itu muncul di sini, eh?!
    Dasar Jembret-Ebret-Ebret!

    Mari serius sebentar. Bentar aja, kok.. beneran… hehe..
    1. Mbret, kenapa aku kagum kamu sebut dia dengan OM, tentu saja karena dia itu penulis besar yang aku anggap sangat hebat, DM! Oh, not to mention gimana ternganga-nya aku ketika tahu kamu begitu dengan Pak Pramoedya!

    2. Kamu memang bukan bocah, tapi kelakuannya sering ngeselin! Kayak bocah! hehe…

    3. Aku bilang kamu siap mengawini anak orang, soalnya aku takut, kamu menunggu sekian lama seperti ini tuh karena dari dulu kamu nggak dikasih ijin sama Bapak-Ibunya Kambing! *manteb bener caci makiku kali ini, Mbret.. wakakakaka*

    4. Kalau sudah soal budaya… memang susah sekali ya, Mbret… Masalahnya, budaya seperti ini sudah berakar sejak sekian lamanya… Ya, sejak kamu lahir lah.. *hehe* Mengubah kebiasaan sendiri aja susah, apalagi mengubah kebiasaan orang satu kebudayaan… Benar, cara yang paling mudah adalah menganggap itu bukan sebagai kecaman, tapi anggap saja sebagai kalimat-kalimat persahabatan… biar nggak terintimidasi… *aduh, sebel banget kalau kamu pinter gini, Mbret… hihihi*

    Titi Kamal? Aku belum seterkenal itu, deh, Mbret… Kenalanku paling cuman Meg Ryan, Julia Roberts, Denzel Washington, dan Halle Berry aja….

    Dan George Clooney itu? Ah… jangan ingatkan aku ke masa lalu gitu dong… wakkaka…

    *nah, nah… kenapa jadinya malah ngelantur nggak jelas gini, ya? sebelah mananya yang serius, coba? wakakaka… edan tenan…*

    Jembret… Jembret… Kayaknya musti mandi kembang tujuh rupa setelah nengok rumahmu ini… :)

    Lala, terakhir menulis Taking The Chances

    DM: Kata-kata sayang? Maksuuuddd……
    .
    Masa lalu? Masa lalu saat George Clooney khilaf atau saat kamu, emh…
    ah nggak enak ngomongnya. Ha-ha!
    (maksudnya: kan George Clooney juga waras. Hi-hi-hi.

  34. Lala says:

    Tuh kan.. saking nafsunya mencaci maki dirimu, aku sampai banyak salah ketik…

    ugh! Jembret!

    Lala, terakhir menulis Taking The Chances

    DM: Duh, kok kamu pake nafsu sih? Ck!

  35. mascayo says:

    pemberi komentar no.5 , sopo tho mbak….
    efek tulisan memang beragam dan unik bagi setiap pembacanya. begitu pula bagi si pemberi komentar no.5 :)
    tapi bagi yang menulis , efeknya adalah respon yang didapat dari tulisannya, bukan begitu? bukan ya?

    mascayo, terakhir menulis karena kurang tinggi anakku kurang percaya diri

    DM: Ahoooiii… Ya-ya-ya…

  36. Yoga says:

    Hehehe Pak Cahyo, yang diobrolkan malah nongol lagi, nah itu Pak Cahyo, setidaknya bermanfaat buat yang nulis sendiri :D

    Yoga, terakhir menulis Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

    DM: Ouw… Mbak Yoga. Nggak nyangka…
    (apa sih, Niel?) He-he.

  37. Chandra says:

    Mas Daniel,
    Ntar Endingnya bertopik pembagian suvenir dong…hehehe….

    DM: Walah, kok bagi-bagi suvenir mulu…

  38. goenoeng says:

    ada yang aneh, Dan. di tulisan2 awal, kamu menggambarkan ranselmu itu sarat, kusimpulkan karena ‘tembung’ menyeret itu dan tinggi. nah, bagaimana kamu bisa berloncatan menghindari becek dengan ransel seperti itu untuk menutup kepala, Dan ?

    ah, ketemu Remy Sylado ? lama nggak ketemu dengan beliau, entah masih ingat atau tidak denganku. dulu…kami sempat berbincang sebentar di Semarang. dengan Bu Emmy, istri beliau, dan Rene, sepupu yang kebetulan kawan. titip salam buat beliau, bila bertemu lagi, Dan.

    @DM & @Lala
    woiii, ada sesi nyeknyekan lagi ta ?

    DM: Memang, Goen. Perkiraanmu sangat betul. Ketika menuliskan hal itu, aku sudah berpikir, bagaimana caranya dengan ransel berat seperti itu malah digunakan sebagai penutup kepala. Tapi ya memang begitulah yang terjadi. Ransel itu diangkat ke atas kepala, untuk menutupi sisa gerimis. Diangkat saja. Bagian bawah ranselnya masih berada di tubuh bagian pundak (punggung atas). Jadi tak mengangkat secara penuh ransel itu bagaikan orang jualan tape di atas tampah. He-he.
    .
    Wong Semarang kudu kenal karo Om Remy.
    .
    Ada sesi nyeknyekan lagi? Mboh kuwi si Gembul. Ta’ pateni wae tah Goen? Hi-hi-hi.

  39. Yari NK says:

    Huahahaha…… paragraf terakhirnya sungguh ‘tidak mengenakkan’. Apalagi kalau hal tersebut ditanyakan kepada wanita yang sudah 30an tahun tapi belum punya pacar. Kalo laki2 sih masih mendingan. Mangkannya aku nggak pernah iseng tanya2 seperti pacar dan sebagainya pada orang2 singel terutama wanita yang usianya udah 30 tahunan ke atas. Takut terseinggung. Ya syukur sih alhamdulillah kalau misalnya memang tidak tersinggung. Ya… kalau mau becanda kan banyak bahan candaan yang lain…… Betul nggak? :D

    Yari NK, terakhir menulis Venus: Planet Rumah Kaca

    DM: Yah, betul juga sih, Pak Yari. Meski banyak juga perempuan yang berpikir lebih terbuka dan menganggap hal seperti itu biasa-biasa saja untuk ditanyakan. Meski ya, frame secara kolektif masih berpikir itu sebagai sesuatu yang “riskan” untuk ditanyakan.

  40. Sesuatu pasti ada maksudnya dan ditiap sesuatu ada hikmahnya. Undangan NIkah ya mas DM ? mas boleh aku tambah ke blog roll ku ga situs nya ?

    DM: Undangan nikah? Waduh…
    Ditambah ke blogroll? Oh, silahkan… silahkan…

  41. Hery Azwan says:

    Nggak perlu komen. Dinikmati saja. Tul nggak, DM?

    DM: Tul, Bang Hery. Dinikmati saja…

  42. Lala says:

    @ Jembret di Komentar Goen #38:
    Mateni aku?
    MATENI AKU?????

    Ah, kamu adalah kaum yang merugi kalau mateni aku!!!!!!
    Jembret!!!
    – Kalo di YM ngomongnya nggak gini, deh… –

    Lebih kasar lagi, maksude!!!
    wakakakaka….

    Lala, terakhir menulis Aku dan Perempuan Ini

    DM: Iyo, ta’ pateni. Gelem tah?

  43. writer wanna-be says:

    Bagiku, setiap tulisan yang muncul dari hati, tetap membawa pesan.

    Teruslah berkarya, Sobat!

    DM: Teruslah membaca, Kawan!

  44. sandyagustin says:

    Berarti sempayan keturunan londo ya mas? katanya Mbah Utinya londo Belanda? sampeyan “londong tahu” kan? hehehehe

    salam

    sandyagustin, terakhir menulis Aku, Kuli, Kabayan dan Nike Ardila

  45. NRifa says:

    Amin juga , sering ya dapat pesan melalui…
    pesan teh anget aja ya mas… ga pake lama …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>