(The Waiting Is Almost Over: 05)

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak (John Naisbitt)

Dari Taman Ismail Marzuki, malam harinya aku, Sihar, Badri, dan Yonathan menginap di rumah Iqbal di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Ini kebiasaan kami. Kalau aku ke Jakarta dan kebetulan ‘bersekutu’ (awalnya aku menamakan demikian, kemudian menjadi istilah kami untuk berkumpul), selalu kami lanjutkan dengan menginap bersama di rumah salah seorang dari kami.

Kami berbicang sampai pagi. Berkumpul seperti ini memang langka. Walau mereka semua tinggal di Jakarta, mereka pun jarang bersekutu seperti ini. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Di momen-momen seperti inilah biasanya kami bisa mengendurkan ketegangan rutinitas sehari-hari.

Lelaki terkadang begitu. Ia butuh kumpul-kumpul bersama sesama teman lelakinya. Tanpa bermaksud menafikan istri atau pasangan masing-masing. Tapi berkumpul seperti itu terkadang memang dibutuhkan. Kalau kalian perempuan, cobalah tanya pasangan atau suami kalian. Pasti mereka mengiyakan.

Ketika matahari mulai tampil gagah perkasa, satu per satu tubuh bergelimpangan itu bangun dan mandi. Iqbal si tuan rumah gopah-gapah menyiapkan kopi. Rokok pun dibakar. Puffh! Kecuali Yonathan, lelaki-lelaki ini sungguh sulit lepas dari rokok. Heran!

“Hari ini ada rencana kemana kamu, Dan?” tanya Sihar.
“Aku mau ke Palmerah dulu. Ada janji dengan penerbit.”
“Weh-weh. Urusan naskah nih kayaknya?” tebak Yonathan.
“He-he.”
“Setelah itu?” Badri menimpali.
“Kosong. Kencan mungkin. Kan kalian kerja. Sementara kalian kerja, ya aku kencan.”
“Ahuhuuu…” Iqbal teriak.
“Kencan sama siapa?” Sihar paling doyan kalau urusannya sudah perempuan.
“Ya ada lah.” aku mengedipkan mata.
“Ke Palmerah, ikut aku aja, Dan. Aku lewat daerah situ nanti.” tawar Iqbal.
“Sip! Aku titip ranselku dulu di sini ya, Bal. Aku mau pakai backpack aja selama di Jakarta.”
“Kalem. Kamu masih lama kan di Jakarta?” tanya Iqbal menyulut batang kedua.
“Tergantung.”
“Tergantung opo tho?” tanya Yonathan, dokter hewan lulusan Unair yang tak pernah bisa menghilangkan logat Jawanya yang berat itu.
“Tergantung kencanku. Ha-ha!”
“Huasyuuu…!!!” umpat Sihar ngakak.

Kami berpencar ke segala penjuru arah mata angin. Memburu rezeki. Memburu dunia. Karena begitulah selayaknya orang hidup: bekerja! Aku jadi senyum-senyum sendiri melihat kondisiku saat ini yang sedang tidak bekerja dan memilih menggelandang ke kota-kota yang kuinginkan.

Kini aku berdiri di sebuah kantor penerbitan. Setelah meninggalkan tanda pengenal di meja satpam, aku diantar ke sebuah ruang editor di lantai tiga. Mas Rimo Nuswantara sedang duduk di dalamnya.

“Dan?!”
“Hai Mas.” aku tersenyum mengulurkan tangan.
“Haduh… ditunggu-tunggu baru nongol. Duduk, duduk, Dan.”
“Makasih, Mas.”
“Langsung dari Bandung?”
“Enggak, udah dari semalam di Jakarta. Lagi repot nih, Mas?”
“Nggak… lagi nyiapin judul-judul untuk bulan depan aja. Eh, mana? Mana naskahmu, mana?”

Aku pun mengeluarkan segepok naskah dalam bentuk print out dari backpack-ku. Lengkap dengan digital file dalam keping CD. Lantas menyodorkan pada Mas Rimo.

“Kritiknya, Mas.” tukasku.

Mas Rimo menerima naskah print out itu. Membolak-balik halaman dan mulai membaca.
“Nggak perlu dibaca sekarang kali, Mas. Aku bisa nunggu keputusannya kok.”
“Sttt…” Mas Rimo mengangkat tangan menyuruhku diam.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menis, setengah jam, Mas Rimo malah lupa kalau ia sedang ada tamu: aku.

“Mas?”
“Sttt…”
Aku tersenyum geli. Jadinya aku tak mau mengusiknya lagi. Mataku berpetualang ke rak buku di dalam ruangan itu. Mataku berbinar ketika melihat deretan buku baru. Weh, alam bawah sadarku sudah menyuruh alam sadarku untuk: merampok buku! Hi-hi.

Tiba-tiba,
“Hei…”
“Kenapa, Mas?” aku menoleh.
“Hei…”
“Kenapa, Mas?”
“Hei…”
“Ada apa sih, Mas?” kulihat mata Mas Rimo tetap tertuju pada kertas yang sedang dibacanya.
“Ini, Dan! Ini! Ini naskah yang kutunggu-tunggu!” tukas Mas Rimo semangat sembari membanting print out naskah itu ke atas meja. Dalam hati aku bersorak girang. Horeee…

“Kenapa baru sekarang sih? Duh, kamu itu! Naskah seperti ini yang kutunggu-tunggu!”
“He-he.” aku hanya cengar-cengir.
“Minum ya, Dan, minum. Kamu mau apa? Kopi ya? Kopi. Aku pesankan kopi.” ucap Mas Rimo yang langsung memesan kopi lewat telepon.

Tak lama kemudian kami berbincang cukup serius soal naskah tersebut, kemungkinan terbit, pangsa pasar, dan konsep promosi nantinya. Mas Rimo orangnya asyik. Meski sudah kepala empat serta menduduki jabatan bergengsi, ia masih suka berpenampilan layaknya anak muda dan murah berbagi ilmu. Sudah lama aku mengenalnya, dulu ketika ia membawa mbak Firbas, novelis tersohor itu, ke tempatku di Bandung.

“Sekalian nih, Mas, banyak teman-temanku yang tanya soal naskah-naskah yang punya kans untuk diterbitkan. Kayak apa aja sih, Mas?”
“Sebetulnya sederhana aja sih, Dan. Mungkin kamu juga udah tau. Tapi intinya, naskah itu jelas mengandung ide orisinil, mutakhir, boleh juga kontroversial, atau diprediksi diperlukan oleh banyak orang. Bisa juga naskah ditulis oleh orang yang ahli atau tau banyak tentang bidang kajiannya. Karena orang punya kecendrungan melihat siapa pengarang bukunya sebelum memutuskan mbaca kan?”
“He-he. Betul, Mas.”
“Nah, buku juga memerlukan pengayaan dari berbagai sumber untuk mendukung ide orisinil pengarangnya, Dan. Referensi yang dipilih tentu yang mendukung serta berkaitan. Referensi yang banyak biasanya dapat membangun kepercayaan pembaca. Selain itu ya, ide buku harus mudah dijual agar investasi biaya dan waktu bisa kembali. Ya kan?”
“Yup.”
“Buku yang diterbitkan harus punya keunggulan dari buku pesaing. Juga punya perbedaan yang cukup signifikan.
“Maksudnya, Mas?”
“Di pasar kan beredar banyak buku sejenis, Dan. Kalau kita nggak punya keunggulan, maka orang pun nggak akan meliriik. Persaingan begitu ketat, Dan…”
“Ya-ya-ya.”
“Nah, selain menampilkan gaya penulisan yang tepat, naskah juga harus terprediksi dengan jelas siapa sasaran pembacanya. Ini yang nggak kalah penting, Dan. Semakin tidak jelas pembaca sasaran yang dituju, semakin melemah kekuatan jual buku. Nggak boleh tuh sasaran pembacanya umum. Harus spesifik. Entah itu berdasarkan jenis kelamin, tingkat usia, profesi, pendidikan, atau kelas masyarakat. Semua harus jelas.
“Wah, dapat satu SKS nih aku siang ini.”
“Hayah, kamu ini. Gitu lah, Dan, secara sederhananya.”
“Makasih banget nih, Mas.”

Setelah kopi dihidangkan, kami pun melanjutkan obrol-obrol santai di ruangan tersebut. Tapi aku tak mau mengganggu jam kerja Mas Rimo lebih lama lagi. Aku mesti tahu diri dan minta pamit.

“Oke, Dan. Nanti kukabari ya.”
“Lewat email atau telpon aja, Mas.”
“Oke.”

Aku pun meninggalkan ruang Mas Rimo dan turun ke bawah. Di plaza gedung aku berdiri tercenung. Ke mana kali ini? Hari belum lagi sore. Hmmm… Teman-temanku rata-rata masih kerja. Mestikah aku menemui seseorang?

Aha! Tiba-tiba aku teringat wajah seorang gadis manis. Sambil tersenyum, cepat-cepat kukirim SMS:

Kamu ada kuliah kan hari ini? Aku ke kampusmu ya? Kangen. See you.

Aku pun melesat ke stasiun dan mengambil KRL menuju kampus UI, Depok.

Sttt… kalian jangan ganggu aku kencan ya! He-he.

19 Januari 2008 | 16.39 wib