Agar Naskah Dilirik Penerbit

(The Waiting Is Almost Over: 05)

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak (John Naisbitt)

Dari Taman Ismail Marzuki, malam harinya aku, Sihar, Badri, dan Yonathan menginap di rumah Iqbal di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Ini kebiasaan kami. Kalau aku ke Jakarta dan kebetulan ‘bersekutu’ (awalnya aku menamakan demikian, kemudian menjadi istilah kami untuk berkumpul), selalu kami lanjutkan dengan menginap bersama di rumah salah seorang dari kami.

Kami berbicang sampai pagi. Berkumpul seperti ini memang langka. Walau mereka semua tinggal di Jakarta, mereka pun jarang bersekutu seperti ini. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Di momen-momen seperti inilah biasanya kami bisa mengendurkan ketegangan rutinitas sehari-hari.

Lelaki terkadang begitu. Ia butuh kumpul-kumpul bersama sesama teman lelakinya. Tanpa bermaksud menafikan istri atau pasangan masing-masing. Tapi berkumpul seperti itu terkadang memang dibutuhkan. Kalau kalian perempuan, cobalah tanya pasangan atau suami kalian. Pasti mereka mengiyakan.

Ketika matahari mulai tampil gagah perkasa, satu per satu tubuh bergelimpangan itu bangun dan mandi. Iqbal si tuan rumah gopah-gapah menyiapkan kopi. Rokok pun dibakar. Puffh! Kecuali Yonathan, lelaki-lelaki ini sungguh sulit lepas dari rokok. Heran!

“Hari ini ada rencana kemana kamu, Dan?” tanya Sihar.
“Aku mau ke Palmerah dulu. Ada janji dengan penerbit.”
“Weh-weh. Urusan naskah nih kayaknya?” tebak Yonathan.
“He-he.”
“Setelah itu?” Badri menimpali.
“Kosong. Kencan mungkin. Kan kalian kerja. Sementara kalian kerja, ya aku kencan.”
“Ahuhuuu…” Iqbal teriak.
“Kencan sama siapa?” Sihar paling doyan kalau urusannya sudah perempuan.
“Ya ada lah.” aku mengedipkan mata.
“Ke Palmerah, ikut aku aja, Dan. Aku lewat daerah situ nanti.” tawar Iqbal.
“Sip! Aku titip ranselku dulu di sini ya, Bal. Aku mau pakai backpack aja selama di Jakarta.”
“Kalem. Kamu masih lama kan di Jakarta?” tanya Iqbal menyulut batang kedua.
“Tergantung.”
“Tergantung opo tho?” tanya Yonathan, dokter hewan lulusan Unair yang tak pernah bisa menghilangkan logat Jawanya yang berat itu.
“Tergantung kencanku. Ha-ha!”
“Huasyuuu…!!!” umpat Sihar ngakak.

Kami berpencar ke segala penjuru arah mata angin. Memburu rezeki. Memburu dunia. Karena begitulah selayaknya orang hidup: bekerja! Aku jadi senyum-senyum sendiri melihat kondisiku saat ini yang sedang tidak bekerja dan memilih menggelandang ke kota-kota yang kuinginkan.

Kini aku berdiri di sebuah kantor penerbitan. Setelah meninggalkan tanda pengenal di meja satpam, aku diantar ke sebuah ruang editor di lantai tiga. Mas Rimo Nuswantara sedang duduk di dalamnya.

“Dan?!”
“Hai Mas.” aku tersenyum mengulurkan tangan.
“Haduh… ditunggu-tunggu baru nongol. Duduk, duduk, Dan.”
“Makasih, Mas.”
“Langsung dari Bandung?”
“Enggak, udah dari semalam di Jakarta. Lagi repot nih, Mas?”
“Nggak… lagi nyiapin judul-judul untuk bulan depan aja. Eh, mana? Mana naskahmu, mana?”

Aku pun mengeluarkan segepok naskah dalam bentuk print out dari backpack-ku. Lengkap dengan digital file dalam keping CD. Lantas menyodorkan pada Mas Rimo.

“Kritiknya, Mas.” tukasku.

Mas Rimo menerima naskah print out itu. Membolak-balik halaman dan mulai membaca.
“Nggak perlu dibaca sekarang kali, Mas. Aku bisa nunggu keputusannya kok.”
“Sttt…” Mas Rimo mengangkat tangan menyuruhku diam.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menis, setengah jam, Mas Rimo malah lupa kalau ia sedang ada tamu: aku.

“Mas?”
“Sttt…”
Aku tersenyum geli. Jadinya aku tak mau mengusiknya lagi. Mataku berpetualang ke rak buku di dalam ruangan itu. Mataku berbinar ketika melihat deretan buku baru. Weh, alam bawah sadarku sudah menyuruh alam sadarku untuk: merampok buku! Hi-hi.

Tiba-tiba,
“Hei…”
“Kenapa, Mas?” aku menoleh.
“Hei…”
“Kenapa, Mas?”
“Hei…”
“Ada apa sih, Mas?” kulihat mata Mas Rimo tetap tertuju pada kertas yang sedang dibacanya.
“Ini, Dan! Ini! Ini naskah yang kutunggu-tunggu!” tukas Mas Rimo semangat sembari membanting print out naskah itu ke atas meja. Dalam hati aku bersorak girang. Horeee…

“Kenapa baru sekarang sih? Duh, kamu itu! Naskah seperti ini yang kutunggu-tunggu!”
“He-he.” aku hanya cengar-cengir.
“Minum ya, Dan, minum. Kamu mau apa? Kopi ya? Kopi. Aku pesankan kopi.” ucap Mas Rimo yang langsung memesan kopi lewat telepon.

Tak lama kemudian kami berbincang cukup serius soal naskah tersebut, kemungkinan terbit, pangsa pasar, dan konsep promosi nantinya. Mas Rimo orangnya asyik. Meski sudah kepala empat serta menduduki jabatan bergengsi, ia masih suka berpenampilan layaknya anak muda dan murah berbagi ilmu. Sudah lama aku mengenalnya, dulu ketika ia membawa mbak Firbas, novelis tersohor itu, ke tempatku di Bandung.

“Sekalian nih, Mas, banyak teman-temanku yang tanya soal naskah-naskah yang punya kans untuk diterbitkan. Kayak apa aja sih, Mas?”
“Sebetulnya sederhana aja sih, Dan. Mungkin kamu juga udah tau. Tapi intinya, naskah itu jelas mengandung ide orisinil, mutakhir, boleh juga kontroversial, atau diprediksi diperlukan oleh banyak orang. Bisa juga naskah ditulis oleh orang yang ahli atau tau banyak tentang bidang kajiannya. Karena orang punya kecendrungan melihat siapa pengarang bukunya sebelum memutuskan mbaca kan?”
“He-he. Betul, Mas.”
“Nah, buku juga memerlukan pengayaan dari berbagai sumber untuk mendukung ide orisinil pengarangnya, Dan. Referensi yang dipilih tentu yang mendukung serta berkaitan. Referensi yang banyak biasanya dapat membangun kepercayaan pembaca. Selain itu ya, ide buku harus mudah dijual agar investasi biaya dan waktu bisa kembali. Ya kan?”
“Yup.”
“Buku yang diterbitkan harus punya keunggulan dari buku pesaing. Juga punya perbedaan yang cukup signifikan.
“Maksudnya, Mas?”
“Di pasar kan beredar banyak buku sejenis, Dan. Kalau kita nggak punya keunggulan, maka orang pun nggak akan meliriik. Persaingan begitu ketat, Dan…”
“Ya-ya-ya.”
“Nah, selain menampilkan gaya penulisan yang tepat, naskah juga harus terprediksi dengan jelas siapa sasaran pembacanya. Ini yang nggak kalah penting, Dan. Semakin tidak jelas pembaca sasaran yang dituju, semakin melemah kekuatan jual buku. Nggak boleh tuh sasaran pembacanya umum. Harus spesifik. Entah itu berdasarkan jenis kelamin, tingkat usia, profesi, pendidikan, atau kelas masyarakat. Semua harus jelas.
“Wah, dapat satu SKS nih aku siang ini.”
“Hayah, kamu ini. Gitu lah, Dan, secara sederhananya.”
“Makasih banget nih, Mas.”

Setelah kopi dihidangkan, kami pun melanjutkan obrol-obrol santai di ruangan tersebut. Tapi aku tak mau mengganggu jam kerja Mas Rimo lebih lama lagi. Aku mesti tahu diri dan minta pamit.

“Oke, Dan. Nanti kukabari ya.”
“Lewat email atau telpon aja, Mas.”
“Oke.”

Aku pun meninggalkan ruang Mas Rimo dan turun ke bawah. Di plaza gedung aku berdiri tercenung. Ke mana kali ini? Hari belum lagi sore. Hmmm… Teman-temanku rata-rata masih kerja. Mestikah aku menemui seseorang?

Aha! Tiba-tiba aku teringat wajah seorang gadis manis. Sambil tersenyum, cepat-cepat kukirim SMS:

Kamu ada kuliah kan hari ini? Aku ke kampusmu ya? Kangen. See you.

Aku pun melesat ke stasiun dan mengambil KRL menuju kampus UI, Depok.

Sttt… kalian jangan ganggu aku kencan ya! He-he.

19 Januari 2008 | 16.39 wib

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

47 Responses to Agar Naskah Dilirik Penerbit

  1. eh, bentar, bentar…

    DM: Ih, macam kernet angkot saza kau, menyuruh supir agar jangan jalan dulu:
    “Sebentar, Bang!, Sebentar!”
    “Ah, lama kali kau!” sahut si abang.
    Hi-hi.

  2. omoshiroi says:

    jam segini lagi

    omoshiroi, terakhir menulis Peraturan Bagi Sepeda Listrik

    DM: Aih… Mulai memperhatikan waktu rupanya?

  3. maruk says:

    untung harga BBM udah turun 3 kali.
    jarang-jarang banget bisa ngabisin pertamax kayak gini aku, goniel!
    sek, aku baca dulu ya?

    eh, telepati aja deh, nggak usah baca.

    *telunjuk di jidat, mata merem (gak pake melek), manggut-manggut sambil bergumam*
    hmm… yak… yak… hmm… oh? ooohh… ya… he-eh, yep, yak… hmm…

    jadi gitu ceritanya, goniel?
    sek, aku baca dulu buat konfirmasi telepatiku, ya? kali aja keliru…

    *start reading*

    DM: Duh Goyul, kerjamu itu hanya nge-refresh PK ya?
    Sini kukasih kerjaan!
    *ngasih cucian kotor seember*

  4. mascayo says:

    untukmu satu sks, bagiku ber-ks-ks. yah…mana tau ada keajaiban tiba-tiba aku mendadak jadi sastrawan … mana tau tho? tq yaa, ilmunya.
    met kencan aja dah … hati-hati lagi musim ujan :)

    mascayo, terakhir menulis karena kurang tinggi anakku kurang percaya diri

    DM: Itu bukan keajaiban, Mascayo… Tak mesti menunggu keajaiban untuk menjadi seorang sastrawan. Itu sesuatu yang bisa dilakukan kalau kita mau (bukan kalau kita bisa). Mana tau toh?
    .
    Ups! Musim hujan ya? Waduh! Mana becek, nggak ada… (halah!).

  5. wah, aku pun dapat satu SKS nih baca tulisan ini.
    thanks, goniel!

    *siap-siap bikin naskah orisinil yang punya keunggulan dari buku pesaing, jelas target pasarnya, dan well-referenced*
    :mrgreen:

    DM: Eit, ngambil berapa SKS kamu semester ini? Sembarangan! Main thanks aja pulak. Hih!

  6. Yoga says:

    Mau ketemu Nissa… eh Ciiit… eh *sumpal mulut pakai nasi + srundeng*

    Yoga, terakhir menulis Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

    DM: Lha? Rendang jengkolnya nggak kamu makan?
    Oh… ya-ya. Dibungkus untuk di rumah ya? Hi-hi.

  7. Yoga says:

    Daniel, edit saja komentarku di atas, gak pa-pa kok… komentar buru-buru:- Thanks aku juga dapat 1/2 sks sekilas baca posting mu ini. :)

    Yoga, terakhir menulis Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

    DM: Wah, sekilas baca udah dapet setengah?
    Kamu dulu sering nitip presensi ya waktu kuliah? Hi-hi-hi.

  8. edratna says:

    Karena orang punya kecendrungan melihat siapa pengarang bukunya sebelum memutuskan mbaca kan?”
    ———————————-

    Hehehe…ini aku banget deh. Padahal sering kecewa karena buku keduanya tak sesuai harapan.

    Thanks Niel, aku belajar banyak….tapi kayaknya aku harus melupakan untuk jadi pengarang…mendingan melakukan hal yang memang bakatku aja…hahaha…
    Lagian siapa yang menyuruh, kok gara2 sering berkunjung di blog ini jadi pengin ikutan nulis fiksi dsb nya….huahuahua…geli sendiri. Padahal sejak dulu nilai Bahasa Indonesia ku ngepas aja, mendingan disuruh menghitung sampai semalaman masih kuat.

    @Marsmallow
    Kayaknya punya bakat deh, tulisan Ananta bagus banget, juga cerita perjalananmu. Coba kita tanya DM….Gimana Niel?
    Nahh dia mengangguk..!! :P

    edratna, terakhir menulis Menikmati nonton film sendirian

    DM: Kadang aku pun kerap gitu kok, Bu. Kalau sudah pengarang anu, maunya mesti beli bukunya. Padahal kan belum tentu penulis tersebut selalu bersinar di setiap bukunya.
    .
    Ya mencoba-coba kan nggak pa-pa kan, Bu. Dari situ kan kita jadi tau kita mestinya di mana. Aku dulu pernah kok tertarik jadi layouter. Meski saat ini secara sederhana bisa juga me-layout, tapi kan tetap soul-nya nggak di sana. Sentuhannya beda dibanding orang yang hatinya memang sudah di situ.
    .
    Wah, kok kebalikan ya. Aku kalau disuruh mengerjakan itung-itungan sampai semalam suntuk, mending bunuh diri aja. Hi-hi-hi. Tapi kalau disuruh membuat tulisan, sekian tebal halaman, mesti jadi pagi hari (kayak bikin Gunung Tangkuban Perahu aja!), weh, aku jabanin. He-he-he.
    .
    Eh, emh, gimana, Bu? srrlluuppss… Haduh, aku tertidur, Bu.
    *mengangguk-angguk rupanya ngantuk*
    Hi-hi-hi.

  9. radesya says:

    Aha…
    Aih.. Kakak…
    *senyum-senyum*

    beneran nih?

    DM: Lha? Bukannya komen kok malah senyum-senyum?
    Tuk!
    *menjitak*

  10. radesya says:

    Koment lagi ah, lagi seneng :)
    Buku memerlukan pengayaan sumber untuk mendukung ide orisinil pengarangnya dan kakak udah dapatkan itu, kakak juga udah dapat kepercayaan pembaca..

    Ini seperti sungguhan, tapi koq sms nya baru malam ini, seharusnya kan tadi pagi, tapi seperti nyata, bener dec..

    Wah thx banget ya kak, karena secara tidak langsung udah kasih pelajaran pada kami..

    DM: Lha Desya mbaca tulisan ini malam hari ya?
    Kok seperti sungguhan? Emang Desya kuliah di mana?
    Bukannya di UT? Universitas Timbuktu.
    Hi-hi-hi…

  11. goenoeng says:

    nah, sms sama siapanya sudah ketauan. begitu kan, Desya ? eh, bener nggak sih, Dan ?

    matur nuwun, buat kuliahnya lho, Dan. wah, itu bener2 info berharga. buat bekal, siapa tahu tiba2 aku jadi penulis, hehe…

    *kok belum ada adegan cuci baju ?*

    DM: Lha? SMS sopo tho, Goen?
    .
    Ini bukan kuliah, Goen. Ini cerita sahibul hikayat aja… He-he.
    Jadi penulis? Ojo, Goen. Kamu jadi penyair aja. Jangan ngambil kapling orang!
    Ha-ha-ha… Guyon, Dab!

  12. prameswari says:

    Kan kalo lagi kerja mas juga suka melupakan sekitar deh…
    semenit, dua menit, tiga puluh menit, dua jam…..
    ah mana niy si mas….. tadi katanya tunggu sebentar….
    lupa deh……
    hihihi

    prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan

    DM: Dua jam? Wah, itu mah sengaja banget…
    Mesti curiga tuh, ditelpon siapa lagi. Ha-ha-ha.

  13. imoe says:

    hehhehe thanks banyak mas DM, aku juga dapat penjelasan mengenai soal naskah…sangat bermanfaat. Untuk kisah lanjutan, tetap selipkan tips tips ya….terserah tips apaan…TIPS KENCAN jugab oleh..

    KAMU ADA KULIAH GAK…KANGEN NIY….hehehehehehe NORAK BANGET hahahahahahahahahahahahahaha suit suit….

    imoe, terakhir menulis …pesona carlos…

    DM: Tips kencan? Waduh, aku ini bukan pakarnya. Kalau mau tanya tips kencan, ada tuh guru besar ilmu kencan. Tapi, jangan dibilang di sini ding. Nanti yang punya blog ngamuk-ngamuk. Hi-hi-hi.
    .
    Norak ya? Ha-ha-ha-ha… Bisa jadi. Tapi yuk taruhan sama aku: yang norak-norak kayak gitu, tetap mengasyikan dan ngangeni kan? Hayo… ngaku nggak?
    Mau usia manusia sampai kemput, yang namanya pengungkapan rindu, tetap saja indah untuk diungkapkan dan didengar. Sudahlah… ngaku saja… Potong kukuku kalau tidak. Hi-hi-hi.

  14. prameswari says:

    Selain orisinil, referensi yang dipilih untuk menulis adalah yang up to date, begitu kan mas…
    Terus…tokoh si Dan ini menulis dengan sasaran pembaca yang bagaimana? (daripada nanya ke mas Rimo yang lagi baca naskah si Dan…)

    prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan

    DM: Yang centil-centil kayak Ade gini. Hi-hi-hi…

  15. Dan…

    Kok PD banget siy???
    itu smsnya belum di bales looo

    Iya kalo hari itu dia ada kuliah…kalo ternyata kena banjir juga?!?!?atau aksesnya yang banjir!
    Belum di balas sms udah mau berangkat aja…kalo di tengah jalan dia bilang…

    “Kamu kangen aku?….aku enggak Dan….gimana ayoooooo?!?!?”

    By the way…

    Kamu bikin tips yang pintar di kemas dalam tulisan ceritera begini hehehe

    @ Lala…
    Biasa kali La….dia manggil Remy Silado Om….gue manggil Tora Sudiro….Honey….biasa aja kan!?!?

    yessy muchtar, terakhir menulis Sweet and Spicy…When Yessy meet Lala and gossip!

    DM: Lhaaa… jadi laki-laki harus PD.
    Banjir? Ah, itu kan di Cempaka Putih. Ha-ha-ha.
    .
    Soal tips? He-he. Sejatinya tulisan ini memang pure hanya soal tips. Lainnya hanya bumbu-bumbu saja.
    .
    Wah, betul banget Yess. Aku malah hampir manggil kamu:
    “Mboookkk… kopinya dong, Mboookkk… Duh, lama bener sih!”
    *kabur yang jauh banget*

  16. dana says:

    Wedeh, dah nyampe depok nih. Kira kira ada cerita apa ya disitu? *penasaran*

    dana, terakhir menulis Lelah

    DM: Ya kencan, Mas! He-he.
    Eh, cuma ketemuan sembari minum es teh manis ding.

  17. Lala says:

    Ada beberapa pertimbangan sebelum aku membeli buku dan kamu benar, DM, pertimbangan pertama adalah siapakah penulisnya. Entah, kalau sudah tahu siapa penulis buku yang akan kubeli, biasanya aku sudah nggak ragu-ragu lagi buat membeli bukunya… artinya, tidak perlu bertanya-tanya: “Bagus nggak, sih….” padahal sama seperti yang dibilang Bunda Enny, bisa jadi malah buku keduanya biasa-biasa saja…

    Well,
    kemudian, ketika aku mulai menulis buku perdana (dan MASIH jadi satu-satunya itu), aku jadi sebel sama orang-orang yang mengabaikan penulis anyar seperti aku ini. padahal belum tentu juga kualitasnya kalah dengan mereka-mereka yang sudah ada. Bisa jadi ini hanya masalah kesempatan dan adanya jodoh dengan pihak penerbit saja, bukan ditentukan dari kualitas penulisnya…

    Akhirnya aku berpikir, DM. Kenapa musti men-jugde buku dari penulisnya saja, ya? Kenapa nggak berpetualang membaca buku-buku yang menarik *bisa dilihat dari blurb-nya, kan?* lalu membuat kita bisa jatuh cinta dengan penulisnya lalu menunggu karya berikutnya.
    *seperti yang pernah aku tulis di komentarku beberapa hari yang lalu, selalu ada peristiwa yang membuat orang merasa malu pada kelakuannya selama ini… and yes, it happened to me*

    Sejak saat itu, aku sudah tidak terlalu peduli dengan siapa penulisnya. Aku berbekal referensi di majalah/koran atau dari kawan-kawan, misalnya… kemudian hunting ke toko buku. Kalau sedang tidak punya referensi, biasanya aku ngider di Gramedia sampai bego… hehe… dan menemukan penulis-penulis yang sama sekali baru dan belum pernah aku dengar… (entah ya, mungkin mereka sudah terkenal tapi aku yang nggak gaul aja sama dunia perbukuan.. hehe)

    DM: Cara orang mendapatkan buku bagus memang jodoh-jodohan (eh, ini nggak ada hubungannya dengan kesibukanmu yang sedang mencari jodoh lho ya. Ini soal buku kok. Hi-hi-hi).
    .
    Pendapatmu ada betulnya. Bahkan buku yang banyak tampil diresensi atau kerap diulas di media massa pun tidak lantas jaminan bahwa buku tersebut bagus secara keseluruhan. Setiap orang biasanya punya cara masing-masing, seperti contohmu tadi.
    .
    Di Indonesia ini sempat ada “penyakit” bahwa seorang penulis lebih terkenal, banyak dibicarakan, bahkan orang lebih asyik mengulas sosoknya ketimbang karyanya. Makin sering sosoknya diperbicangkan, makin melambung lah namanya. Tapi karyanya sendiri hanya permukaannya saja disentuh.
    .
    Satu sisi memang bisa memberikan efek positif terhadap penjualan bukunya. Orang makin penasaran dan ingin tahu seperti apa sih karyanya. Tapi di sisi lain kukira lambat laun itu justru malah akan membunuhnya dalam konteks kreativitas.
    .
    Yang dilihat dari seorang penulis kan karyanya, bukan bedak atau gincu yang menempel di wajahnya.

  18. Lala says:

    Aku pernah diajak berdiskusi juga tentang pangsa pasar itu, DM. Seru deh, saat menganalisa kira-kira buku ini akan lebih mengena jika ditujukan ke kelompok usia atau komunitas tertentu. Berdiskusi tentang kemungkinan pemasarannya, konsep cover-nya, dll dsb… Ah, seru banget! *aduh, kapan bisa bikin buku selanjutnya, ya?*

    Eniwei,
    DM, aku mau nanya, nih.
    Apa seharusnya dari awal kita sudah menentukan target market pembaca kita, sehingga naskah yang kita tulis akan lebih tepat sasaran?
    Tapi kalau selalu memikirkan ini, bukankah kreativitasnya malah jadi mandul, ya, terjebak dalam keinginan pasar, bukan karena keinginan kita menulis..
    Aduh, kok aku jadi pusing sendiri ya… temenin dong, anyone.. hehehe..

    (oh ya… Fira Basuki adalah salah satu novelis favoritku, DM… Have I told you, kalau ada dua orang yang membuat aku sangat cinta pada dunia tulis menulis? Pertama adalah… Bagus Takwin, di bukunya Bermain-main Dengan Cinta.. Lantas berikutnya adalah Fira Basuki, lewat trilogi Jendela-Pintu-Atap. Cinta bener, deh! Sumprit, kamu semakin membuat aku iri, DM… kenalin dong ke Mbak FirBas… sama Ninit Yunita juga… sama Dewi Lestari juga.. hehehe… please…..)

    Lala, terakhir menulis Kalau Sedang Jenuh….

    DM: Ouw. Ini bukan terjebak dalam keinginan pasar atau memandulkan kreativitas. Pengertiannya berbeda. Menentukan segmen bukan mengikuti pasar. Jangan salah. Pasar pembaca ada macam-macam. Kamu yang menentukan di pasar pembaca mana kamu akan berada. Di situ kamu bebas berkreativitas.
    .
    Kalau aku tanya: mungkinkah The Blings of My Life dibaca anak SD?
    Jawabannya adalah mungkin. Tapi apakah akan sampai? Apakah akan kena?
    The Blings of My Life bukan buku anak. Bahkan di dalam segmen pembaca buku anak pun masih dibagi lagi tingkat usianya. Desain layout-nya, karakter font-nya, banyaknya kalimat dalam satu paragraf, dan masih banyak lagi.
    .
    Dengan menyasar segmen pembaca yang tepat, kamu tetap bisa bebas berkreativitas.
    .
    Aku semakin membuat kamu iri? Duh, malaikat juga tau kalo itu mah…
    Wakakakakkk…

  19. Lala says:

    Komentar terakhir (sementara)..

    Aku nggak akan ganggu kencanmu, DM….
    Jarang-jarang ada cerita kamu lagi berkencan seperti ini, jadi aku nggak mau bikin kencanmu gagal cuman karena perempuan itu cemburu sama aku! hihihi…

    Ah,
    Ternyata DM bisa kangen juga, ya…. kirain nggak bisa… hihihi…

    Lala, terakhir menulis Kalau Sedang Jenuh….

    DM: Kencanku? Kok kencanku sih? He, aku ini penulisnya. Bukan tokohnya. Piye tho?
    Perempuan itu cemburu sama kamu? Ya ampun, Lala, istighfar La… Nyebut… Nyebut…
    DM kangen? Duh, kok DM sih… dibilangin aku ini cuma penulisnya. Ngeyel!
    *PLAAAKKKHHH!!!!*
    (nyamuk, La, nyamuk…)

  20. DV says:

    Kencan terussss kekancan terussssss!

    DV, terakhir menulis Kabar

    DM: Ben ketok nom, Mas. He-he-he.

  21. Marin says:

    Naek KRL yg penuh sesak dan bikin keringet orang pada nempel semua di badan itu? wah..bisa2 ga berselera teman kencan mas DM nanti.. :)

    DM: He-he. Kan masih siang…
    Eh, naik yang patas dunk. Kan berhenti tuh di Stasiun UI.

  22. suhadinet says:

    he.he.he…
    kalau dah dipublish bagi-bagi ya, Dan.
    @ DM
    posting ini jauh lebih enak dibaca dibanding seri-seri sebelumnya, ringan dan ceria.

    suhadinet, terakhir menulis Jerami (6)

    DM: Seri-seri sebelumnya sendu layu?

  23. Yoga says:

    Sembari siap-siap ke kantor, komentar spontan lagi Niel: yang dimaksud, A. Ariobimo Nusantara? Masukan saja buat beliau kalau baca PK-atau kalau kau berkenan menyampaikan, buku Fira Basuki yang terakhir dan satu yang sebelum terakhir bikin sakit mataku, karena banyak tulisan yang salah eja. Padahal buku itu sebelum terbit juga sudah diedit oleh editor, bahkan ada asisten editornya pulak. Walhasil bukuku jadi bergambar beberapa anak panah disertai rasa heran yang besar. Thanks.

    Yoga, terakhir menulis Dimanakah “Home Sweet Home” Berada?

    DM: Eh, A. Ariobimo Nusantara itu siapa ya? Hi-hi-hi.

  24. AL says:

    Kalau cuma dilirik mah, gak asik atuh. Diterbitkan, gitu..

    AL, terakhir menulis Sekolah ini Kerjaannya Main Terus?

    DM: Kan sebelum diterbitkan dilirik-lirik dulu…
    Masa’ langsung kawin sebelum lirik-lirikan? Ha-ha!

  25. Yari NK says:

    Kalau saya dulu ada teman yang pernah naksir dengan penulisnya. Katanya penulisnya ganteng wakakakak…… Jadinya dia mau beli bukunya itu bukan untuk dibaca tapi buat dikeloni ketika bobok….. bener2 sakit deh….. :lol:

    Yari NK, terakhir menulis Venus: Planet Rumah Kaca

    DM: Aku pernah naksir sama penulis perempuan nggak ya?
    Sek, ta’ inget-inget dulu.
    Oh, pernah ding. Tapi bukunya nggak sampai dikeloni segala macem. Langsung kutemui orangnya. Bilang:
    “Kamu kok hebat sih?”
    Dan matanya hanya kedip-kedip kelilipan. Ha-ha!

  26. carra says:

    palmerah?? jangan2 G**media yah hehehe :D … tapi kemungkinan sih jadinya buku kan ya mas DM bukan komik hehehe… jadi keknya ga bakalan dicetak di bandung… klo dicetak di bandung pan aku bisa minta bocoran atu tuh sama misua kekeke…

    sukses terus yah dalam penjelajahannya…

    ditunggu di jogja :P

    carra, terakhir menulis 20 Januari 2009

    DM: Eh, suamimu kerja di percetakan di Bandung? Lha, di percetakan mana, Carra?
    Di Yogya jangan lupa siapkan Oreo yang buanyak!

  27. Yoga says:

    Pelajaran yang kau berikan, tak perlu dikomentari lebih jauh. Akur-akur saja Dan, aku sudah dapat 1/2 sks sisanya. Ilmu pemasaran turut berperanan penting, seorang penulis sama halnya dengan seorang pengarang lagu, mesti mengerti hal ini. Kesulitannya adalah menyiasati idealisme dan selera pasar. Eh, ngomong-ngomong kadang penerbit sekarang suka menjual ketenaran seseorang dan memanfaatkan sentimen pasar ya, padahal toh tulisannya tak bernas. Kalau sudah begini, salah siapa? Kapitalis?

    Ngomong-ngomong, sudah serial ke lima, apakah penantian akan segera berakhir di serial ke enam atau ke tujuh? Atau akan diakhiri dengan cerita peluncuran buku milik Dan? Can’t wait. The Waiting is Almost Over, jangan jadi The Waiting Won’t Be Over Forever. :)

    Cerah harimu Daniel.

    Yoga, terakhir menulis Sekali Waktu

    DM: Ya bukan salah siapa-siapa, Yug. Itu ekonomi pasar (salah sendiri, kenapa Indonesia menganut ekonomi pasar). Lagian apa salahnya menjual ketenaran seseorang? Dan apakah setiap tulisan harus bernas? Toh pembaca yang memilih akan mengkonsumsi bacaan apa. Nggak payu yo salah penerbite.
    .
    Apakah penantian akan segera berakhir? Oho-ho-ho…
    .
    Cerah harimu, Yug.

  28. AL says:

    Ternyata Dan adalah playboy.

    Bukannya dia meninggalkan seseorang yang katanya Hanya kepadamu aku kembali’ itu?

    Perjalanannya nampaknya agak melenceng dari rencana awal yang katanya mau berjalan ke arah timur. Dari Jawa, Bali, Lombok, terus ke timur. Papua, nyebrang ke Maluku, Sulawesi, Kalimantan, kemudian menyusuri bumi Sumatra dari Lampung sampai Aceh.

    Setelah itu menyebrang ke Malaysia.

    Apakah kisah ini akhirnya kehilangan arah pak Daniel?

    AL, terakhir menulis Belajar Berorganisasi

    DM: Playboy? Sodorkan dulu bagaimana definisi playboy. He-he.
    .
    ‘Hanya kepadamu aku kembali’? Yup. Tapi kan si tokoh Dan itu meminta si perempuan yang ia tinggal untuk melanjutkan hidup. Kecuali si perempuan akan berkata: “Ya, aku akan menunggumu.” Nah, baru lain…
    .
    Melenceng? Lha, Banten kan masih termasuk Jawa? Apa sudah bukan? Di cerita awal kan si Dan tidak menceritakan akan memulai dari kota mana. Tapi dari Jawa. Dan si tokoh itu betul ingin beravounturir. Hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah.
    .
    Kehilangan arah? Weh, bisa saja ia berhenti di tengah jalan. Tapi dari segi cerita, tak mesti kehilangan arah. Ruhnya tetap. (lha, ruhnya di mana?) Wah, ya ikuti saja. Hi-hi-hi…

  29. Wah mas Dan kencannya ma anak kuliah nih hehehehhehehe … mo ngikutin mas GG yah muter indonesia … ayo mas alam ini masih luas untuk kita jelajahi… tanah papua menunggumu

    DM: Eit, ada yang salah dengan anak kuliahan? He-he-he.

  30. boyin says:

    kalo aku beli buku dari judulnya dulu maklum gak pernah beli novel lalu profil penulisnya…wah hebat nih..gimana caranya bisa menulis buku…

    DM: Betul juga, Mas Boyin. Kalau kita melihat dari judul (plus tema tentu), kalau memang layak, tampaknya lebih fair tanpa harus melihat siapa penulisnya.

  31. marshmallow says:

    @ibu enny:

    makasih, ibu. saya senang membaca fiksi dan senang juga belajar menuliskannya. tapi fiksi saya realis banget, nggak pinter bermetafora. saklek, straightforward, gampang dicerna, karena saya nggak pinter bikin yang ribet-ribet. mungkin perlu belajar juga nulis yang ribet.

    jurnal perjalanan itu sih sifatnya deskriptif sekali, minim faktor analisis apalagi kritiknya, bu. ada pun kritik, rerata kritik yang positif saja. mungkin karena saya cenderung menikmati apa pun yang saya jalani, jadi semua yang tertuang seperti pengalaman yang menyenangkan, padahal orang lain belum tentu berpendapat sama. hehe!

    DM: Kalo orangnya gimana? Realis? Saklek? Nggak pinter bermetafora? Gampang dicerna? Nggak suka yang ribet-ribet?
    *du-du-du-du-du…*

  32. anisa says:

    mas mahendra TIM kan udah dekat rumah anisa di cikini…….
    ko ngak singgah sekalian siii……
    huuuuu……. malahan mau kencan sama orang lain…..
    mas… mas tau ngak kalau tulisan-tulisan mas bikin banyak cewek-cewek cemburu? mereka aja pura-pura ngak ngomong anisa kan tau…….
    orang pikir anisa bodoh padahal anisa memperhatikan ko…..
    memang anisa ngak sepintar mereka siy ngomongnya bagus-bagus gitu , panjang-panjang , banyak pengalaman , tapi anisa ngerti lah kalau perempuan itu gimana……
    anisa berani taruhan banyak orang yang japri sama mas mahendra ngomong jujur ngak nutup-nutupin kayak komen di blog.
    anisa sih orangnya jujur , kalau cemburu anisa ngomong aja disini. abis japri mas mahendra ngak pernah balas.
    maaf ya mas anisa ngomong gini……

    DM: Anisa, aku tidak pernah melarang bagaimana cara orang berkomen di blog ini. Silahkan saja. Suka-suka saja. Tapi tidak berarti boleh men-judge komentator lain tanpa menyodorkan argumen kan… Karena bukan begitu ruang diskusi yang kubangun di blog ini. Orang boleh bicara apapun, namun dengan catatan: sodorkan argumen.
    .
    Cemburu atau tidak cemburu itu bukan hakku untuk mengetahui. Dan bukan kewajibanku untuk memastikan mesti bagaimana reaksi pembaca terhadap tulisanku. Itu sepenuhnya sudah hak pembaca. Dan aku pun mempunyai hak untuk tidak mencampuri hak pembaca tersebut.
    .
    Anisa berani taruhan banyak orang yang japri? Nggak perlu sampai taruhan kukira. Jujur, ya, selalu ada yang add di YM, mengirim email, dsb. Lantas? Kenapa? Nggak salah toh? Dan kalau komen-komen komentator itu berbeda antara yang ditulis di blog dengan apa yang coba dikatakan di luar blog, nggak salah juga kan? Itu tetap hak mereka.
    .
    Hanya memang, kelemahanku dalam membagi waktu untuk membalas email-email tersebut. Tidak hanya email-mu kok. Untuk itu aku minta maaf.
    .
    Aku senang bahkan berterima kasih karena Anisa kerap datang berkunjung ke mari. It’s ok. Aku senang karena kamu sudah jujur dan bicara apa adanya. Tapi mari membangun atmosfir yang sehat. Oke? Oke lah… :)

  33. miSSiSSma says:

    It’s backpack, Om…
    backpack…not bagpack…

    miSSiSSma, terakhir menulis telat..telat..dan telat..

    DM: Eh, perasaan waktu nulis backpack deh. He-he. Tengkyu-tengkyu, sudah dikoreksi. Untung nggak keliru test pack. Hi-hi.
    Enak nih kalo nulis ada editor nimbrung. Ada yang mengingatkan.
    .
    He, undangannya manaaa…? Awas ya kalo ngasih tau udah kelar bulan madu! Aku mutilasi kalian. Hi-hi-hi.

  34. radesya says:

    @goenoeng
    aduh, aku gak berani koment ah..

    @AL
    menurut aku justru ceritanya jadi menarik, jadi cerita itu mengalir dengan sendirinya, bukankan perjalanan hidup manusia itu nggak selalu sesuai dengan harapan, di sini Dan bukan play boy, bukankan dia dah bilang agar perempuan itu melanjutkan hidupnya..

    @anisa
    kalau aku tidak merasa cemburu tuh, aku juga berani taruhan kalau kak Daniel baca koment kamu pasti ketawa deh,(bener kan?)
    kenapa aku suka koment di sini? Karena aku seperti menemukan keluarga baru, bacalah koment2 ibu2 di atas, mereka sangat bersahabat, dan mereka nggak ada yg jealous tuh..
    Maaf ya mbak anisa, mungkin kak Daniel lagi sibuk, jadi belum bisa balas..

    DM: Eh, nggak ada @DM ya? He-he. Berarti aku nggak mesti ngomentari lagi ya…

  35. goenoeng says:

    Mas Mahendra….
    mbok ya ditanggapi ta ya, komennya Mbak Anisa #32 itu, huhuhuuu….

    DM: Ahuhuuu…
    Wis, Dab. Gobyos aku. *ngelap kringet*
    (halah! hiperbola banget. Hi-hi-hi).

  36. AL says:

    @Radesya
    *AL manggut-manggut*
    Sebenarnya kehilangan arah itu bukan jalan ceritanya, tapi menceritakannya. Menurut saya begitu. Sebab, nampaknya pak Suhadi juga merasakan tulisan ini berubah gayanya. Saya merasa, seperti agak ngos-ngosan. Heheheh…
    Tapi entahlah, ini kesan saja.
    Tapi, bener, dalam beberapa hal, justru menarik.

    Iya, desya. Orang-orang yang berkomentar disini, kayak ngerumpi ya…

    AL, terakhir menulis Belajar Berorganisasi

    DM: Eh Al, kalo mbaca komennya Pak Suhadi, dia merasa terjadi perubahan gaya justru terasa ringan dan ceria. Itu kan berbeda dengan agak ngos-ngosan?
    .
    Tapi bisa jadi betul agak ngos-ngosan. Mungkin karena aku menyodorkan soal naskah itu secara bertubi-tubi tanpa jeda ya?
    .
    Btw, ngerumpi? Wadaw!

  37. radesya says:

    @AL
    ni mesti panggil apa nih?
    Kakak ja ya, aku setuju ma kak AL, koment di sini kayak ngerumpi, tapi ku senang lho bacanya, aku jadi tau berbagai macam karakter di sini.
    Tau nggak kak, ku jadi seperti menemukan keluarga, lihat para ibu saling berargumen, cara mereka bicara, aku jadi seperti belajar, aku juga salut dengan kak Daniel yang begitu perhatian dengan mereka, salut juga ma bunda eny, trus kak yoga, kak yessy, pak goenoeng, pak qizink (pak qizink! Kasih koment dunk)
    *semoga pak qizink baca koment radesya*
    (pokoknya untuk semua yg koment di sini)radesya ucapkan thx, aku belajar banyak dari ibu2, bapak2, dan kakak2 semua.. :)

    DM: Desya, gimana kalau Al kita panggil Tante Al saja? Ahuhuuu…
    Pasti murid-muridnya protes :p
    .
    Jadi kayak keluarga? Iya, emaknya Bu Enny ya? Hi-hi-hi.

  38. Yoga says:

    @ Radesya:

    Kayak keluarga virtual ya Des, dan Bu Enny adalah Bunda virtual, yang jadi sumber kebijaksanaan bagi “anak-anak” pengunjung Pe Ka. Terus Desya, anak bungsu gitu? Hehehe….
    :D

    Yoga, terakhir menulis Barangkali

    DM: Dan kamu adalah upik abunya, Yug. Begitu? Hi-hi-hi.

  39. Yoga says:

    Makasih, happy ending adalah milik Upik Abu :D

    Yoga, terakhir menulis Seperti Apa Jodoh Anda?

    DM: Aih… bawang merah! :p

  40. miSSiSSma says:

    meeeeehhhh….
    Si Om lagi mengembara gitu, tetep minta undangan..
    Gimana ini?
    Masa’ mau dikirim via wangsit..??

    *geleng-geleng muka bijak*

    Ngancem mutilasi pulak.
    Ya ampun, Om..
    Biasanya yang pake metode macam itu tuh kaum anu..
    hehehe..

    miSSiSSma, terakhir menulis Ganggu, ya..

    DM: Via email aja… Nanti kukirim sajak agar kalian bahagia dan selalu melumut di muara.

  41. Cak Ri says:

    Kencan di UI Depok ?…..hmmmmm…….., hanya sepelemparan batu dari tempatku.

    DM: Bahkan hanya sepeminuman teh jalan kaki dari Margonda. He-he.

  42. ariss_ says:

    *baca dengan seksama*
    *angguk-angguk*
    *catet*
    .
    o iya Bung Daniel, melihat respon Anda untuk komentar mbak Lala di atas, saya jadi bertanya-tanya, apakah bila demikian, pengarang masih bisa “hidup” dengan hanya mengandalkan idealismenya? ataukah barangkali idealisme pun harus diimbangi dengan sikap realistis?

    *masih belum saya cerna puls, menulis itu untuk diri sendiri ataukah orang lain*

    ariss_, terakhir menulis Who’s The Next President?

    DM: Idealisme dan realistis adalah dua hal yang terus berpilin-pilin sejauh orang memilih profesi sebagai pengarang.
    Menurutku pribadi, idealisme tanpa melihat realita sama halnya dengan kekonyolan. Sementara realistis tanpa dibarengi dengan idealisme, sama halnya menjadi penjahat.
    .
    Kita harus memiliki idealisme. Karena di situlah kreativitas dibangun sesuai kata hati. Tapi kita juga mesti memahami: untuk siapa karya kita dibuat? Apakah ada manfaatnya bagi orang lain? Apakah memberikan daya gerak bagi pembaca? Atau jangan-jangan sekadar muntahan diri sendiri semata.
    .
    Aku percaya: tak ada orang makan untuk makan. Sama halnya tak mungkin orang menulis untuk menulis. Pasti ada tujuannya. Tak semata semaunya sendiri dengan mengatasnamakan seni. Di situlah kualitas seorang pengarang ditimbang-timbang kadarnya.
    .
    Ini menurutku.

  43. vivi says:

    mas dm saya pengarang pemula nih sama sekali tidak tau menhu tentang mengarang, saya ingin tanya apa bener pengarang ketika melihat /membaca lagi tulisannya sendiri ia merasa nggak pd atau sepertinya membosankan tapi kata temen2 ku tulisan saya ok he…he…

    DM: Menurutku itu ada betulnya. Aku sendiri sudah tak berani lagi membaca tulisan-tulisanku yang sudah diterbitkan sebagai buku. Sudah bukan aku lagi yang menilai. Biarkan orang lain menggunakan haknya.

  44. pertama, saya sangat merindukan utk bisa kumpul2 dg temen2, lalu ngobrol, ngopi sambil ngrokok, habis subuh lomba ngorok, hehehe … kedua, saya dapat ilmu tambahan bagaimana mempersiapkan naskah buku yang bisi dilirik penerbit, hehehe … dan yang ketiga, kapan pengembaraan mas daniel akan berakhir?

    DM:
    Yang pertama: pada dasarnya aku juga jarang, Pakde Sawali. Berkumpul, ngobrol, ngopi, sembari mengepulkan asap seperti itu adalah sesuatu yang sudah sangat jarang kulakukan. Baru kusadari; beberapa tahun terakhir ini aku menghabiskan hidupku melulu sendirian.
    .
    Yang kedua: Semoga bermanfaat, Pakde Sawali. Hanya sekadar sharing. Bisa dikoreksi kalau punya pendapat lain.
    .
    Pengembaraan? The waiting is almost over, Pakde. He-he.

  45. icha says:

    dua untuk hari ini:

    1. postingan ini…
    2. kata-katamu ini: Tak mesti menunggu keajaiban untuk menjadi seorang sastrawan. Itu sesuatu yang bisa dilakukan kalau kita mau (bukan kalau kita bisa). Mana tau toh?

    Makasih untuk dua itu…

    icha, terakhir menulis Berdialog dengan Kematian

    DM: Rupanya kau membacai balasan-balasan komenku, Lis. Thanx.
    Senang kalau memang bermanfaat.

  46. writer wanna-be says:

    Wah, bahkan tulisan bagus ini pun belum kubaca? Betul-betul ketinggalan banyak aku, Dan!

    Ya, apa pun memang harus berbeda agar menarik perhatian, termasuk karya tulis dan atau sastra. Berbeda, itu kuncinya. Orang tidak tertarik membaca atau menikmati karya yang seragam (paling tidak, kurang ketertarikannya dibandingkan menikmati sesuatu yang baru toh?). Tapi ada fenomena yang kurasa malah terbalik dari sisi penulis sendiri: saat ada satu tema tulisan yang booming hingga difilmkan dan dijadikan sinetron segala macam, penulis-penulis lain malah berbondong-bondong menciptakan karya yang serupa.

    Itu masih dikategorikan membaca selera pasar atau latah, Dan?

    DM: Bisa dua-duanya. Mengikuti selera pasar atau latah. He-he.

  47. NRifa says:

    hmmmmm gimana agar naskah di lirik , huuuhhuuuu…harus traveling dulu kaenya ya… bikin naskah yg bagus …trus terbit dehhh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>