(The Waiting Is Almost Over: 07)

Jadi orang bebas, jadi tuan atas diri sendiri, all-round, bisa segala, tidak jadi budak orang lain, juga tidak memperbudak. Jangan sampai jadi beban orang lain. Juga jangan menerima beban tanpa guna (Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2, hal.65-66)

Sudah beberapa hari ini aku menyepi di sebuah desa. Di sebuah kampung di daerah Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Biasanya, dan memang seringnya, menggunakan kereta dari Jakarta atau dari Depok. Entah kenapa aku selalu suka naik KRL. Berebut tempat, bersempit-sempit serta berbagi ruang dengan sesama penumpang kereta jurusan Jakarta-Bogor maupun sebaliknya.

Ada nuansa tersendiri saat berjejal-jelal seperti itu. Namun aku kerap menyiasati juga. Aku menggunakan KRL hanya pada saat jam berangkat kantor sudah usai atau jam pulang kerja belum lagi tiba. Dengan begitu aku masih bisa duduk atau berdiri di pintu kereta sembari berangin-angin menikmati perumahan kampung Jakarta yang kikuk.

Dari stasiun Bojonggede biasanya aku naik angkot atau loncat ke sadel ojek menuju sebuah rumah berlantai enam. Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi setiap kali aku turun di stasiun, berbondong-bondong dengan penumpang lain, lantas mesti bersambung kendaraan lagi, aku merasa menjadi orang kebanyakan. Menjadi orang rata-rata. Orang yang untuk mendapatkan uang sekian ratus ribu atau juta per bulan, mesti berpeluh, berkeringat, menempuh perjalanan jauh, setiap hari. S-e-t-i-a-p h-a-r-i!

Kalau sudah seperti itu orang tidak peduli apakah alat komunikasi kita itu hp atau pda atau blackberry. Kalau sudah seperti itu orang tidak mau tahu apa merek sepatu kita, toh tak kelihatan. Kalau sudah seperti itu orang tidak ingin tahu apa menu makan siang kita. Mau warteg, pujasera, atau resto terkenal. Bodo amat. Ini kereta rakyat. Dan atmosfir seperti itu selalu kurindukan setiap kali aku pergi ke Bojonggede.

Aku berdiri di depan gerbang tinggi sebuah rumah berlantai enam. Rumah ini tampak aneh jika dibandingkan dengan rumah-rumah kampung sekitarnya. Tampak megah, dilengkapi kolam renang, kolam ikan, kandang ayam, sungai, serta ladang yang luas.

Rumahnya sendiri tak begitu besar. Namun sengaja dibangun menjulang ke atas. Dulu si tuan rumah bermimpi bahwa anak cucunya bakal tinggal dan berkumpul di rumah ini. Tapi bukankah kehidupan selalu berjalan ke depan? Setiap individu dan generasi selalu punya jalan hidupnya masing-masing.

Maka aku mulai memasuki halaman luas berbatu itu. Menyapu suasana sekitar. Tiba-tiba ada atmosfir berbeda yang kurasakan. Lengang, sunyi, dan tak ada kehidupan. Aku memejamkan mata sembari menarik nafas. Hmmffhhh…

Kuseret ranselku menaiki tangga teras. Pintu ruang tamu masih selalu tampak terbuka. Tapi seperti tak ada orang di sana. Aku melongokkan kepala ke dalam. Senyap.

“Assalamu’alaikum…”
Tak ada jawaban.
“Halooo…”
Tetap tak ada sahutan. Kemana orang-orang, pikirku.

Kutinggalkan ranselku di ruang tamu. Masih dengan sepatu gunung aku masuk ke dapur. Tak kutemui siapa pun di sana. Weh, rumah ini makin sunyi saja. Dari pintu dapur aku memutar keluar menuju halaman depan. Kukitari pandang. Tak ada siapa-siapa di kolam renang, di kolam ikan, maupun di garasi. Mungkinkah di ladang? Aku menyeret langkahku ke ladang.

Tak ada yang berubah dengan jalan setapak menuju ladang ini. Masih rimbun, sejuk, dan temaram. Masih berisi segala jenis buah dan sayuran. Tapi dari kejauhan kulihat seorang perempuan duduk di bangku beton di tengah ladang seorang diri. Rupanya di sini dia, batinku. Aku berjalan perlahan.

Maksud hati ingin mengageti, tapi kulihat perempuan itu tampak sedang melamun seorang diri. Aku jadi tak tega ketika hendak mengusiknya. Aku berjalan pelan-pelan mendekati.

“Mbak…” panggilku pelan, hati-hati.
Perempuan itu tercekat, menoleh, dan memicingkan mata. “Mas?!” ia berusaha tersenyum.
Aku memeluknya. Menyentuhkan kedua pipi kami: kanan dan kiri.

“Mbak sedang apa… Kok melamun di ladang?” tanyaku duduk di sebelahnya.
“Oh, eh, lagi ngadem aja. Dari Bandung, Mas?”
“He-eh.” jawabku tersenyum sembari memperhatikan dirinya. “Mbak kurusan.”
Ia berusaha tersenyum.

Mbak Ti adalah anak tertua dari Bram dan istrinya Mei, sastrawan Indonesia yang berkali-kali dinominasikan penghargaan Nobel Sastra itu. Usianya ada kalau lima puluh tahun. Tapi ia tetap memanggilku dengan sebutan ‘mas’, yang kadang kerap membuatku rikuh karena ia jelas jauh lebih tua dari usiaku.

Setelah Pak Bram wafat, disusul dengan Ibu Mei yang sakit-sakitan di rumah Utan Kayu Jakarta, kini rumah ini betul-betul sunyi. Hanya diisi oleh Mbak Ti dan Mbak Na, dua anak Pak Bram. Sisanya hanya tukang urus kebun yang tinggal jauh di samping ladang.

“Sudah makan, Mas?”
“Belum, Mbak.” jawabku nyengir. “Mbak masak apa? Aku lapar nih.”
“Aku sudah jarang masak. Siapa yang makan? Masak sesukanya saja sekarang. Kalau malas masak ya paling beli.”
“Huh. Makanya Mbak kurusan. Malas makan ya? Jelek tau!”
“He-he-he.” ia mulai bisa tertawa memamerkan gigi. “Aku jadi kepingin masak nih! Kita ke dapur yuk?” ajaknya tampak senang.
Aku mengangguk sembari dalam hati bersorak girang, karena jam makan berarti tak lama lagi.

Sembari mengepulkan asap rokok di meja makan yang merangkap dapur, aku memperhatikan Mbak Ti sibuk mengeluarkan bahan makanan dari kulkas dan mulai meracik masakan. Tadinya aku hendak membantu. Tapi ia ngotot agar aku duduk diam, merokok, dan mendengarkan ceritanya.

Aku hanya manut sembari tersenyum geli. Rupanya ini yang membuatnya tampak gulana tadi: ia butuh lawan bicara. Butuh tempat di mana ketika berseru-seru, ada yang mendengarkan. Bukankah begitu lah idealnya manusia? Manusia bukan kedasih yang sepanjang tahun memanggil-manggil pasangan hidupnya namun tak pernah berbalas sahutan.

Sambil makan, Mbak Ti bercerita tentang riwayat rumah ini setelah Pak Bram wafat, Ibu Mei yang setelah sakit-sakitan kini tinggal di Jakarta, kondisi penerbitan, dan sisa pekerjaan Pak Bram yang belum terselesaikan.

Ia banyak bicara dan bercerita. Sepertinya semua ingin ia tumpahkan saat itu. Aku hanya mendengarkan dan sesekali menimpali. Usai makan aku masih menyempatkan diri menemainya bebenah dapur sembari mengepulkan asap. Tak lama aku pun menyeret ranselku dan pamit mandi ke atas.

“Di lantai lima?”
“He-eh.” jawabku.

Ketika melewati lantai tiga, kutaruh ranselku di tangga. Kumasuki sebuah ruang. Kunyalakan lampu. Ini ruang perpustakaan di mana di samping sebelah kiri merupakan kamar Pak Bram dan Ibu Mei dulunya. Kutebarkan pandang. Hmmm, ribuan buku itu kini terparkir begitu saja. Ruang ini sunyi, sepi, tak ada kehidupan. Aku menarik nafas.

Kuseret lagi ransel ke lantai lima. Tiba-tiba jantungku berdegup. Dalam hati aku berpikir: betulkah, aku tetap tidur di lantai lima? Aku berhenti di anak tangga ke sekian. Hei, ada apa dengan diriku? Dulu setiap ke mari aku tak pernah ragu untuk tidur di kamar di lantai lima. Tapi kenapa dengan sekarang?

Sejauh yang aku tahu, aku bukan tipikal penakut. Beberapa teman berkata padaku: di rumahku di Bandung “tinggal” seorang perempuan yang sudah berdiam di situ selama seratus limapuluh tahun. Sableng! Tapi aku merasa biasa-biasa saja. Toh makhluk seperti itu kan memang ada. Sejauh kita tak saling mengganggu (dengan syarat utama: jangan memunculkan wujud ya? He-he), kukira semua akan baik-baik saja.

Banyak kawan bercerita tentang hal-hal aneh di rumah ini. Rata-rata malah mengalami langsung kejadian tak biasa. Bahkan beberapa anak Pak Bram masih suka heran padaku karena aku kerap tidur di lantai lima.

Tapi sejauh ini aku tak pernah mengalami kejadian aneh. Aku selalu tidur di lantai lima. Mungkin karena kini sudah tak ada Pak Bram, dan Bu Mei sudah tak tinggal lagi di Bojonggede. Jadinya aku merasa rumah ini semakin sepi dan sunyi.

Setelah membongkar ransel, mengeluarkan pakaian kotor (weh, sudah berapa hari aku tak sempat mencuci pakaian), dan mandi, aku turun ke bawah seusai Maghrib (weh, sudah berapa hari aku tak sholat. Dasar!). Di teras depan aku berbincang dengan Mbak Ti ditemani singkong rebus yang mengepul-ngepul nikmat.

Hanya ada suara jangkrik, kelepak kelelawar, kesiur angin malam, dan gesekan dahan yang beradu, aku duduk seorang diri di pinggir kolam di bawah pohon belimbing yang rindang. Malam makin sunyi. Tapi aku ditemani laptop, sebungkus rokok, dan segelas kopi rasa mocca.

Dulu kerap juga aku duduk seorang diri di bawah pohon belimbing ini. Hanya tak lama kemudian Pak Bram pasti datang menghampiri. Berdua kita ngobrol dan mengepulkan asap rokok berbatang-batang.

Kini sudah beberapa hari aku menyepi di sini. Setelah perpisahan di sebuah kafe di Bandung, lantas ke Serang, kemudian Tangerang, bersekutu di Jakarta, pertemuan dengan seseorang di Kansas (kantin sastra), Fakultas Ilmu Budaya, UI, Depok, kembali ke Jakarta, lantas berlabuh menyepi di Bojonggede.

Kucoba menyatukan potongan-potongan ceritaku dalam beberapa hari ini lewat laptop. Aku belum lagi tahu sampai di mana akhir ceritaku ini. Aku bahkan merasa belum lagi memulainya. Aku masih berada di seputar ibukota. Masih harus kembali ke Jakarta. Lantas ke Cirebon. Baru nanti betul-betul terus ke timur. Memburu matahari terbit.

Sudah beberapa hari aku di sini. Kerjaku hanya mengetik, melamun di ladang, dan membantu Mbak Na memberi makan ikan dan ayam di kandang.

Sudah beberapa hari aku di sini. Tapi aku masih belum lagi tahu: apakah semua ini berarti…

20 Januari 2009 | 20.19 wib