Istirah dan Menyepi
(The Waiting Is Almost Over: 07)
Jadi orang bebas, jadi tuan atas diri sendiri, all-round, bisa segala, tidak jadi budak orang lain, juga tidak memperbudak. Jangan sampai jadi beban orang lain. Juga jangan menerima beban tanpa guna (Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2, hal.65-66)
Sudah beberapa hari ini aku menyepi di sebuah desa. Di sebuah kampung di daerah Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Biasanya, dan memang seringnya, menggunakan kereta dari Jakarta atau dari Depok. Entah kenapa aku selalu suka naik KRL. Berebut tempat, bersempit-sempit serta berbagi ruang dengan sesama penumpang kereta jurusan Jakarta-Bogor maupun sebaliknya.
Ada nuansa tersendiri saat berjejal-jelal seperti itu. Namun aku kerap menyiasati juga. Aku menggunakan KRL hanya pada saat jam berangkat kantor sudah usai atau jam pulang kerja belum lagi tiba. Dengan begitu aku masih bisa duduk atau berdiri di pintu kereta sembari berangin-angin menikmati perumahan kampung Jakarta yang kikuk.
Dari stasiun Bojonggede biasanya aku naik angkot atau loncat ke sadel ojek menuju sebuah rumah berlantai enam. Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi setiap kali aku turun di stasiun, berbondong-bondong dengan penumpang lain, lantas mesti bersambung kendaraan lagi, aku merasa menjadi orang kebanyakan. Menjadi orang rata-rata. Orang yang untuk mendapatkan uang sekian ratus ribu atau juta per bulan, mesti berpeluh, berkeringat, menempuh perjalanan jauh, setiap hari. S-e-t-i-a-p h-a-r-i!
Kalau sudah seperti itu orang tidak peduli apakah alat komunikasi kita itu hp atau pda atau blackberry. Kalau sudah seperti itu orang tidak mau tahu apa merek sepatu kita, toh tak kelihatan. Kalau sudah seperti itu orang tidak ingin tahu apa menu makan siang kita. Mau warteg, pujasera, atau resto terkenal. Bodo amat. Ini kereta rakyat. Dan atmosfir seperti itu selalu kurindukan setiap kali aku pergi ke Bojonggede.
Aku berdiri di depan gerbang tinggi sebuah rumah berlantai enam. Rumah ini tampak aneh jika dibandingkan dengan rumah-rumah kampung sekitarnya. Tampak megah, dilengkapi kolam renang, kolam ikan, kandang ayam, sungai, serta ladang yang luas.
Rumahnya sendiri tak begitu besar. Namun sengaja dibangun menjulang ke atas. Dulu si tuan rumah bermimpi bahwa anak cucunya bakal tinggal dan berkumpul di rumah ini. Tapi bukankah kehidupan selalu berjalan ke depan? Setiap individu dan generasi selalu punya jalan hidupnya masing-masing.
Maka aku mulai memasuki halaman luas berbatu itu. Menyapu suasana sekitar. Tiba-tiba ada atmosfir berbeda yang kurasakan. Lengang, sunyi, dan tak ada kehidupan. Aku memejamkan mata sembari menarik nafas. Hmmffhhh…
Kuseret ranselku menaiki tangga teras. Pintu ruang tamu masih selalu tampak terbuka. Tapi seperti tak ada orang di sana. Aku melongokkan kepala ke dalam. Senyap.
“Assalamu’alaikum…”
Tak ada jawaban.
“Halooo…”
Tetap tak ada sahutan. Kemana orang-orang, pikirku.
Kutinggalkan ranselku di ruang tamu. Masih dengan sepatu gunung aku masuk ke dapur. Tak kutemui siapa pun di sana. Weh, rumah ini makin sunyi saja. Dari pintu dapur aku memutar keluar menuju halaman depan. Kukitari pandang. Tak ada siapa-siapa di kolam renang, di kolam ikan, maupun di garasi. Mungkinkah di ladang? Aku menyeret langkahku ke ladang.
Tak ada yang berubah dengan jalan setapak menuju ladang ini. Masih rimbun, sejuk, dan temaram. Masih berisi segala jenis buah dan sayuran. Tapi dari kejauhan kulihat seorang perempuan duduk di bangku beton di tengah ladang seorang diri. Rupanya di sini dia, batinku. Aku berjalan perlahan.
Maksud hati ingin mengageti, tapi kulihat perempuan itu tampak sedang melamun seorang diri. Aku jadi tak tega ketika hendak mengusiknya. Aku berjalan pelan-pelan mendekati.
“Mbak…” panggilku pelan, hati-hati.
Perempuan itu tercekat, menoleh, dan memicingkan mata. “Mas?!” ia berusaha tersenyum.
Aku memeluknya. Menyentuhkan kedua pipi kami: kanan dan kiri.
“Mbak sedang apa… Kok melamun di ladang?” tanyaku duduk di sebelahnya.
“Oh, eh, lagi ngadem aja. Dari Bandung, Mas?”
“He-eh.” jawabku tersenyum sembari memperhatikan dirinya. “Mbak kurusan.”
Ia berusaha tersenyum.
Mbak Ti adalah anak tertua dari Bram dan istrinya Mei, sastrawan Indonesia yang berkali-kali dinominasikan penghargaan Nobel Sastra itu. Usianya ada kalau lima puluh tahun. Tapi ia tetap memanggilku dengan sebutan ‘mas’, yang kadang kerap membuatku rikuh karena ia jelas jauh lebih tua dari usiaku.
Setelah Pak Bram wafat, disusul dengan Ibu Mei yang sakit-sakitan di rumah Utan Kayu Jakarta, kini rumah ini betul-betul sunyi. Hanya diisi oleh Mbak Ti dan Mbak Na, dua anak Pak Bram. Sisanya hanya tukang urus kebun yang tinggal jauh di samping ladang.
“Sudah makan, Mas?”
“Belum, Mbak.” jawabku nyengir. “Mbak masak apa? Aku lapar nih.”
“Aku sudah jarang masak. Siapa yang makan? Masak sesukanya saja sekarang. Kalau malas masak ya paling beli.”
“Huh. Makanya Mbak kurusan. Malas makan ya? Jelek tau!”
“He-he-he.” ia mulai bisa tertawa memamerkan gigi. “Aku jadi kepingin masak nih! Kita ke dapur yuk?” ajaknya tampak senang.
Aku mengangguk sembari dalam hati bersorak girang, karena jam makan berarti tak lama lagi.
Sembari mengepulkan asap rokok di meja makan yang merangkap dapur, aku memperhatikan Mbak Ti sibuk mengeluarkan bahan makanan dari kulkas dan mulai meracik masakan. Tadinya aku hendak membantu. Tapi ia ngotot agar aku duduk diam, merokok, dan mendengarkan ceritanya.
Aku hanya manut sembari tersenyum geli. Rupanya ini yang membuatnya tampak gulana tadi: ia butuh lawan bicara. Butuh tempat di mana ketika berseru-seru, ada yang mendengarkan. Bukankah begitu lah idealnya manusia? Manusia bukan kedasih yang sepanjang tahun memanggil-manggil pasangan hidupnya namun tak pernah berbalas sahutan.
Sambil makan, Mbak Ti bercerita tentang riwayat rumah ini setelah Pak Bram wafat, Ibu Mei yang setelah sakit-sakitan kini tinggal di Jakarta, kondisi penerbitan, dan sisa pekerjaan Pak Bram yang belum terselesaikan.
Ia banyak bicara dan bercerita. Sepertinya semua ingin ia tumpahkan saat itu. Aku hanya mendengarkan dan sesekali menimpali. Usai makan aku masih menyempatkan diri menemainya bebenah dapur sembari mengepulkan asap. Tak lama aku pun menyeret ranselku dan pamit mandi ke atas.
“Di lantai lima?”
“He-eh.” jawabku.
Ketika melewati lantai tiga, kutaruh ranselku di tangga. Kumasuki sebuah ruang. Kunyalakan lampu. Ini ruang perpustakaan di mana di samping sebelah kiri merupakan kamar Pak Bram dan Ibu Mei dulunya. Kutebarkan pandang. Hmmm, ribuan buku itu kini terparkir begitu saja. Ruang ini sunyi, sepi, tak ada kehidupan. Aku menarik nafas.
Kuseret lagi ransel ke lantai lima. Tiba-tiba jantungku berdegup. Dalam hati aku berpikir: betulkah, aku tetap tidur di lantai lima? Aku berhenti di anak tangga ke sekian. Hei, ada apa dengan diriku? Dulu setiap ke mari aku tak pernah ragu untuk tidur di kamar di lantai lima. Tapi kenapa dengan sekarang?
Sejauh yang aku tahu, aku bukan tipikal penakut. Beberapa teman berkata padaku: di rumahku di Bandung “tinggal” seorang perempuan yang sudah berdiam di situ selama seratus limapuluh tahun. Sableng! Tapi aku merasa biasa-biasa saja. Toh makhluk seperti itu kan memang ada. Sejauh kita tak saling mengganggu (dengan syarat utama: jangan memunculkan wujud ya? He-he), kukira semua akan baik-baik saja.
Banyak kawan bercerita tentang hal-hal aneh di rumah ini. Rata-rata malah mengalami langsung kejadian tak biasa. Bahkan beberapa anak Pak Bram masih suka heran padaku karena aku kerap tidur di lantai lima.
Tapi sejauh ini aku tak pernah mengalami kejadian aneh. Aku selalu tidur di lantai lima. Mungkin karena kini sudah tak ada Pak Bram, dan Bu Mei sudah tak tinggal lagi di Bojonggede. Jadinya aku merasa rumah ini semakin sepi dan sunyi.
Setelah membongkar ransel, mengeluarkan pakaian kotor (weh, sudah berapa hari aku tak sempat mencuci pakaian), dan mandi, aku turun ke bawah seusai Maghrib (weh, sudah berapa hari aku tak sholat. Dasar!). Di teras depan aku berbincang dengan Mbak Ti ditemani singkong rebus yang mengepul-ngepul nikmat.
Hanya ada suara jangkrik, kelepak kelelawar, kesiur angin malam, dan gesekan dahan yang beradu, aku duduk seorang diri di pinggir kolam di bawah pohon belimbing yang rindang. Malam makin sunyi. Tapi aku ditemani laptop, sebungkus rokok, dan segelas kopi rasa mocca.
Dulu kerap juga aku duduk seorang diri di bawah pohon belimbing ini. Hanya tak lama kemudian Pak Bram pasti datang menghampiri. Berdua kita ngobrol dan mengepulkan asap rokok berbatang-batang.
Kini sudah beberapa hari aku menyepi di sini. Setelah perpisahan di sebuah kafe di Bandung, lantas ke Serang, kemudian Tangerang, bersekutu di Jakarta, pertemuan dengan seseorang di Kansas (kantin sastra), Fakultas Ilmu Budaya, UI, Depok, kembali ke Jakarta, lantas berlabuh menyepi di Bojonggede.
Kucoba menyatukan potongan-potongan ceritaku dalam beberapa hari ini lewat laptop. Aku belum lagi tahu sampai di mana akhir ceritaku ini. Aku bahkan merasa belum lagi memulainya. Aku masih berada di seputar ibukota. Masih harus kembali ke Jakarta. Lantas ke Cirebon. Baru nanti betul-betul terus ke timur. Memburu matahari terbit.
Sudah beberapa hari aku di sini. Kerjaku hanya mengetik, melamun di ladang, dan membantu Mbak Na memberi makan ikan dan ayam di kandang.
Sudah beberapa hari aku di sini. Tapi aku masih belum lagi tahu: apakah semua ini berarti…
20 Januari 2009 | 20.19 wib


Yang nomer 6 mana?
Yoga, terakhir menulis Barangkali
Yang # 6 rahasia?
Yoga, terakhir menulis Barangkali
semua ini tentu berarti … kenapa nggak?
anyway, sholat jangan lupa (*sok ustadz nih hehehe..)
mascayo, terakhir menulis karena kurang tinggi anakku kurang percaya diri
sebuah reuni masa lalu yg mengesankan ya mas….
saya ikut larut dg deskripsinya mas. serasa berada di sana juga
Zulmasri, terakhir menulis PECINTA HUJAN
Jadi kangen bakso di Kansas dan segala senda guraunya…
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis I (dont) like Monday
kalo jadi k timur. sy siap mnyambut mas daniel
Iyaa.. Ke Jakarta lagi dong.. :p
pengalaman “merakyat” memang menyenangkan kalau hanya sesekali dan kita hanya numpang menyempatkan memakai sepatu mereka untuk sekejap. akan beda sekali kalau kita melakukannya on a regular basis, sehari-hari seperti orang-orang yang kita imitasi kehidupannya itu.
bagaimanapun, hal-hal seperti itu memang musti dilakukan untuk mengasah empati dan solidaritas toh? kagum aku sama tokoh ceritamu ini, padahal aku tau bagaimana nyaman kendaraan yang sehari-hari ia gunakan. great!
pesan untuk tokoh ceritamu:
istirahatlah dulu, dan! jangan lupa minum obat yang sudah disarankan dokter agar batukmu semakin hilang dan tenggorokanmu semakin lega, istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, makan yang teratur, dan tak perlulah lagi membakar rokok itu!
sama kayak Papaku, beliau bangun rumah besar-besar didesa. Tapi nggak ada penghuninya. Apalagi sejak beliau meninggal, rumah itu terasa semakin kosong dan sepi jali. (Jadi rindu pulang……)
dewifatma, terakhir menulis Pempers dan bayi
@Yoga
Yang nomer 6 dibawa penunggu lantai 5
@mas Melo
Lha tokoh ini katanya baru mau berhenti merokok kalau udah ketemu seseorang yang bikin “grenjel” dihati….. (menunggu siapa akhirnya..???)
Sepakat sama mas melo…awal kerja, calon suami sebagai wirausaha saat itu udah ada kendaraan roda 4. Dia sedih melihatku tiap hari, yang berjuang berebutan naik bis dari Manggarai -Lapangan Banteng yang sampai miring kekiri begitu. Juga kalau pulang, karena untuk bisa naik bajaj, uang gaji sebulan hanya cukup untuk naik bajaj sebulan dua kali.
Pernah mencoba berangkat dari Bogor (setelah tidur di kost2 an adikku), naik KRL pagi-pagi yang berjubel itu…dan sehari itu kepala pening dan kerjaan kacau, badan bau karena berdesakan dengan berbagai campuran keringat dan BB orang. Itu masih tahun 79-80 lho…jadi kalau sekarang mesti lebih ruwet.
Dan kalau tokoh ini ingin tahu kendaraan rakyat, dan naik bis atau KRL setelah lewat jam berangkat kantor dan berangkat sekolah, lha artinya beda, walau berjubel, tetap lebih longgar.
Rumah besar? Sebagai orangtua (seperti ortuku alm), selalu berpikir anaknya kumpul. Padahal pulang kampung setahun sekali udah sulit, karena cuti terbatas hanya 2 minggu dalam setahun, itupun sudah harus dibagi jika anak sakit. Jadilah akhirnya rumah kosong melompong. Saat membangun rumah Bdg (yg ga pernah selesai itu, suami juga berpikir seperti Bram), bikin 3 tingkat dengan 7 kamar, plus ruang kerja, ruang diskusi dsb nya. Prakteknya? Semua anggota keluarga sibuk…memang menjadi terpakai sesekali, kalau si sulung bawa 15 orang temen atau keponakan ngajak teman2nya dari UNDIP nginap di Bandung. Dan karena biaya membengkak, pembangunan dihentikan…soalnya dana diperlukan untuk membangun sarang di Jakarta. Akhirnya rumah di Jkt sesuai seleraku, karena mungil, dan jika si mbak nggak adapun saya masih kuat beberes sendiri, dekat pasar, Bank, rumah sakit, apotik dll. Kalau anak-anak udah berkeluarga dan datang bagaimana? Ya tinggal siapkan kasur, bisa tidur rame2 di bawah.
Wahh…komentarku jadi kepanjangan….karena kadang kita terlalu bingung dan merasa ingin sendiri…perlu menyepi? Sepanjang masih sehat, dan sesekali ingin menyepi, merenung…itu tak masalah. Asal jangan sampai merasa kesepian ditengah keramaian.
Aku pernah menulis di http://edratna.wordpress.com/2007/10/18/
rasa-kesepian-bagaimana-mengatasinya/
edratna, terakhir menulis UKM berperan untuk meningkatkan daya dorong ekonomi rakyat
Sorry Niel, jadi kepanjangan…harusnya posting sendiri aja….
edratna, terakhir menulis UKM berperan untuk meningkatkan daya dorong ekonomi rakyat
bojong gede cuma 2 statiun dari Bogor mas… knp ga mampir ke rumah ?
Menik, terakhir menulis Merenung
Sebuah cerita yang sangat bagus,realita yang sering kita jumpai dalam sebuah kehidupan.
Salam Kenal
departa, terakhir menulis Akhir PekaN Di PantAi SaNur
Nggak takut mas?.. beneran?
Aku membayangkan sebuah rumah tua dengan 6 lantai.. bisa nggak tidur sama sekali tuh..
Tapi suasana yang digambarkan disana kelihatan mengasyikan. Kesendirian.
p u a k, terakhir menulis Trip Stories (Jan 12-17)
naik KRL memang menyenagkan. Apalagi KRL Jakarta-Bogor, segala macam bentuk, rupa, sifat dll semua ada. apalagi penjaja makanan nya seperti di pasar malam.Namanya juga kerata rakya….
@edratna
waduh seru tuh mba tidur di bawah gelar kasur rame-rame.
Ke Timur?
Jawa Timur?
Surabaya, ya?
Memburu matahari terbit apa cewek cakep, yang namanya Lala Purwono???
Waakaka…
Komen ngasal dulu, Mbret… Aku masih mau cari inspirasi dulu biar komentarku nanti agak pinteran dikit.. hehehehe…
Lala, terakhir menulis One of the Diamonds
Wah… beberapa hari nggak jalan-jalan aku ketinggalan postingan…
yang nomor 6 aku kelewatankah?
atau ada di lantai 6 rumah itukah?
tanti, terakhir menulis Dahsyat !!
Well..
aku mau komen apani Dan..
Aku menikmati cerita ini sama seperti yang lainnya…
Ribuan buku..waduh….membayangkan betapa menyenangkan ada di sana…bisa berenang dan tenggelam dalam imajinasi yang di sajikan oleh buku buku itu.
Beda dengan mu..aku tidak begitu menikmati kereta…kecuali yang eksekutif gituh (bener gak si sebutannya eksekutif)
pernah sekali sekalinya dalam perjalanan panjang ke Jogja jaman kuliah dulu..aku ter kagum kagum sama penjual makanan dan barang aneh lainnya yang mondar mandir…
Bahkan ada yang berkali kali bolak balik dengan barang jualan yang berbeda..padahal orangnya ya dia dia juga dahsyat…
Belum lagi pengamennya….
dari yang merdu di telinga sampai yang bikin sakit kuping …ampunnn….hehehe..recehen ku abies Dan…abieesss ludeeessss desss desssss…kekekke
Anyway…
Kok gak ada cerita pas kencan siiii….manaaaaaa???
@Lala.
mau komen aja kudu keliatan pinteran dikit!! kekekekke
apa ada nya aja La…jadi si DM ini tau baik buruknya dirimu!..kan jadi cepet tuh…prosesnya….hehehe
yessy yang muchtar, terakhir menulis Postingan orang lagi sakit jiwa!
Mas DM, boleh ceritain agak khusus tentang PAK BRAM ? kayaknya fenomenal tuh tokoh
imoe, terakhir menulis …pesona carlos…
Okey, dari semuanya, paling suka dengan paragraf yang ini:
Hanya ada suara jangkrik, kelepak kelelawar, kesiur angin malam, dan gesekan dahan yang beradu, aku duduk seorang diri di pinggir kolam di bawah pohon belimbing yang rindang. Malam makin sunyi. Tapi aku ditemani laptop, sebungkus rokok, dan segelas kopi rasa mocca.
Hoaaahhh!!
Surga itu surgaa!
Ingat masa-masa kuliah masa-masa pemberontakan hehheh. Malam-malam, duduk ditemani semilir dan suara binatang plus segelas kopi panas dan sebungkus Sampurna Mild..
Tapi sekarang saya udah brenti ngerokok.
Jadi ngiler lagi (Hoaahhhhh!!!)
AL, terakhir menulis Belajar Berorganisasi
Ritmenya kembali pak Daniel….
AL, terakhir menulis Belajar Berorganisasi
@DM
wah, kalo aku pasti selalu ‘merakyat’, Dan.
lha wong adanya ‘sikil’ dan angkot, hehe….
udah ah, kebanyakan komen malah nanti ketauan bodoku.
@Lala
hoi….tangi, tangi….
@Yessy
prosesnya ? proses apa ta, Yess ?
“Sudah beberapa hari aku di sini. Tapi aku masih belum lagi tahu: apakah semua ini berarti…”
Mungkin untuk mas DM ga ada artinya tapi untuk mbak Ti & mbak Na, kehadiran mas DM memberikan arti
Retie, terakhir menulis Aku Pasti Kembali
Tunggu-tunggu…
Aku jadi ingat sama Pak Pram, apa yang kakak maksud Pak Pram?
Ni koq jadi pak Bram ya..
@ Dan,
Rumah sebesar itu, apa pagarnya tak terkunci, kok enak betul bisa langsung masuk sampai ke ladang pula. Lantas apakah almarhum Pak Bram suka membakar sampah di tepi ladang? Kalau iya, moga-moga sepeninggal Pak Bram, Mbak Ti dan Mbak Na tak lagi membakar sampah-sampah.
Soal penunggu lantai lima itu, dia bilang sama temannya yang bilang sama mbah dukun berkeris tiga yang kirim sms sama temanku, yang lantas sms aku, sebetulnya dia sudah berusaha mengganggumu, tapi susaaah. Kamu terlalu tinggi kosentrasinya, jadi mati gaya deh.
@Daniel,
Aku menikmati ceritanya. Terima kasih.
Indah harimu.
Yoga, terakhir menulis Barangkali
stasiun bojonggede juga menjadi memori indahku dengan boss dan anak buahku..dan itu pertama kalinya aku naik kereta di jakarta sampai sekarang…
Kok ora ngobong sampah?
Jare sediluk maneh 1000 hari yah?
Eh colongke naskah TGDS nya njuk di fotokopi trus kirim mrene, Su!
DV, terakhir menulis Kelengkapan Hidup
iih ada yg pulang ke bojong nih setelah sekian lama…..
untung udh gag di jakarta, pasti bakalan ada penculikan besar2an nih… eh, gag usah di culik yag hihihi….
cerita bersambung?
Pengamen di KRL
Jadi inget dulu waktu Perjalanan stasiun Cawang-Bogor. di atas kereta pengamen nya (untuk yang satu ini aq lebih suka menyebutnya musisi) beranggotakan 5 orang, 2 pemain biola, 1 bass (betul ga sih bentuk nya seperti biola cuma ukrannya yang super besar), 1 pemain dram dan 1 hanya bertepuk tangan saja dan pemanis(karena satu-satunya perempuan).
Mereka bermain musik tanpa syair lagu, mereka bermain di atas KRL yang lumayan penuh dan berlari kencang tetapi mereka seakan tidak menghiraukan yang ada si sekitar mereka.
Aq dan seseorang yang berdiri di dekatqu dan berpeganggan erat sangan menikmati konser akustik itu.
Dan dia sempat berkomentar ” Hhm…suara dram nya hanya menggangu. coba kalau di hilangkan pasti lebih asik”
Walaupun hanya di KRL tapi cukup romantis dan alurnya masih terbayang jelas di kepalaqu.
tadi malam aku habis menakut2ti temanku,mas.hahaha
langitjiwa, terakhir menulis Membaca dan Mengeja
cerita yang luar biasa . . .
salam kenal . . . .
kunjungi rumah saya di http://bayusmart.wordpress.com
yoga, terakhir menulis Artikel terbaru
luar biasa ceritanya
salam kenal
kunjungi saya di http://bayusmart.wordpress.com
yoga, terakhir menulis Artikel terbaru
Beneran deh kak, ku jadi ingat idola aku pak Pram, sayangnya belom pernah ketemu beliau dah nggak ada..
Ada apa dengan lantai 5? Dunia lain itu pasti ada kak, tapi kita nggak usah takut sama mereka, mungkin aku dah biasa sih ketemu, kadang kalau takut jadi ingat pesan papa, pejamkan mata gitu.
Bagian 7 ini yang paling aku suka kak, owh iya, ku pingin sekali naek KRL, kapan bisa kesampean ya, padahal kan bisa naek yg dari bogor itu ya
Sudah beberapa hari aku di sini. Tapi aku masih belum lagi tahu: apakah semua ini berarti…
Aku suka sekali dengan kalimat ini. Sama dengan ketika aku suka sekali penutup tulisan pertama serial The Waiting is Almost Over yang ini nih:
Orang mencoba menggapai bintang di langit. Padahal cahaya itu ada di dalam hatinya
Dari dulu, setiap menulis, aku berusaha menemukan kalimat penutup yang bagus, yang bisa terkenang oleh pembaca… Makanya, kalau aku menulis, sebisa mungkin aku menanti sampai mendapatkan ending yang ‘enak’ dan berkesan. Cuman sayangnya, feelingnya sering nggak ketemu!
Nah, sekarang aku tanya.
Gimana kamu selalu berhasil menemukan kalimat-kalimat penutup secantik itu? Sengaja dicari atau ngalir aja…. *iya, deh, iya. Bohong kalau aku bilang, kamu bukan penulis yang berbakat*
Kalau bisa dicari, tolong ajari caranya, DM.
Aku iri banget soalnya…
Lala, terakhir menulis Aku dan Perempuan Ini
^akhrny bisa iktn nimbrung jg dimari^
omong2 soal prjlnan dg kereta, jadi inget jaman SMA dlu..
pas kelas 1 pergi pulang naekny kereta..kelas 2 kalo ga lg nebeng pasti jg naek kereta..dr stasiun sudimara ke stasiun kebayoran..byk cerita, byk kisah, byk kenangan..
ada cerita diganggu bencong kereta, bikin perkumpulan ‘pasker’ (pasukan kereta) ma anak2 skolah laen yg sma2 pengguna kereta..
ada juga cerita
jatuhny beberapa teman dari kereta yg membuat anak2 pasker yg laen jalan kaki menyusuri rel dr stasiun palmerah sampe stasiun kebayoran, juga cerita pengamen kereta yg akhrny didaulat menjadi bintang tamu di acara 17-an di komplek saya..
asyik bgt kalo inget kenangan2 itu..
dan kereta memang moda transportasi untk semua kalangan..bahkan untuk hewan seperti kambing maupun ayam (dlu kalo naek kreta langsam yg jm 5, sering 1 gerbong sma mereka)..
^OOT mode on^
omoshiroi, terakhir menulis Puisi Oomleo
Masih mengutip kalimat cantik di atas; Sudah beberapa hari aku di sini. Tapi aku masih belum lagi tahu: apakah semua ini berarti…
Ini berkaitan dengan tulisanmu yang ini : Orang mencoba menggapai bintang di langit. Padahal cahaya itu ada di dalam hatinya
Si Dan tahu, dia telah menemukannya. Dan tahu, apa yang diinginkannya. Tapi tokoh ini seolah meragukan kata hatinya sendiri, bertanya terus tentang:
Benarkah? Salahkah? Bagaimana kalau salah? Kalau benar, lantas apa?
Kepanjangan mikir kadang nggak akan membuat kita lebih pintar. Kepanjangan mikir malah terkadang membuat kita punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang tadinya tak perlu kita pikirkan, akibatnya….mungkin justru yang terekam dalam isi kepala adalah pikiran-pikiran tidak perlu itu.
Sampaikan saja sama si Dan, tokohmu yang berlarian ke sana kemari, memburu matahari terbit di ujung timur sana, tapi hatinya tertinggal di suatu tempat yang sejujurnya ia sudah tahu itu, kalau dia tak perlu berlari. Merenung di Bandung saja sudah cukup. OK, kehidupan yang sama sekali lain dengan kebiasaannya itu akan membuatnya lebih matang dan kaya akan pengalaman, tapi bukan itu yang dia cari, kan?
Kalau memang dia berniat memperkaya pengalaman, kenapa juga ia harus bertanya-tanya pada hatinya: “Apakah semua ini berarti?”
But again…
I always envy people who can make a huge decision over their lives. Bagaimanapun, Dan adalah orang yang sangat hebat karena berani mengambil keputusan yang dirasanya perlu.
Jadi sekarang, tolong bilang sama Dan sekali lagi: “Tegakkan kepala, jangan murung. Keputusan sudah dibuat. Meskipun kemudian kamu tahu kalau ini adalah kesalahan, well, kamu bisa belajar dari semua ini, Dan. Percayalah!”
Oh ya, satu lagi…
“Boys don’t cry, Dan…”
Jangan seperti DM yang cengeng itu…….
*Ah, DM itu nggak cengeng… tapi DM itu bikin perempuan menjadi cengeng… hahahahaha…*
Hoi!! Buas? Buas dari mana?
Rumah lantai 6 ditinggali oleh dua orang saja.
Dari kemarin, saya membayangkan betapa sepinya.
Betapa kesepiannya.
Kita biasa sendiri dalam ruang-ruang kecil, tapi kalau tempat sebesar itu?
AL, terakhir menulis Musuh-Musuh Batman: The Joker, Two Face, dan Scarecrow
ck, cari2 Anisa kok ndak ada ya, Dan ?
suwer, aku malah kangen sama komen2nya itu, haha…
yaaah, malah Lala sing komen akeh….
@omoshiroi
Ceritanya seru banget tentang kereta. Pengalaman yang mengesankan.
Saya kul di Bandung, jadi gak punya pengalaman banyak naik KRL, tapi adik saya tiap hari naik KRL berangkat dan pulang kuliah. Dia cerita, kalau sampai stasiun UP, pada tereak-tereak: ya..orang kaya orang kaya, turun!
Sampai di UI: Yang pinter yang pinter, turun!
Terakhir di Gunadarma: Sisanya-sisanya, turun!
Tapi paling kesel kata adik saya kalau udah mati listrik, dan mau ujian pula. Udah deh, rame-rame turun, lari-lari menyusuri jalan kereta menuju kampus tercinta
AL, terakhir menulis Musuh-Musuh Batman: The Joker, Two Face, dan Scarecrow
@AL dan semua yang punya pengalaman seru naik kereta:
aku ngakak baca ceritamu, al. dan pengalaman teman-teman lain di kereta. pengalamanku naik kereta (di indonesia) minim banget, tepatnya cuma sekali, itu pun bukan gerbong yang bisa seru kayak cerita teman-teman di atas. jadi membaca pengalaman curhat kereta di sini bikin aku serasa ikut berdesak-desakan dan ikut menikmati penampilan para pengamen juga deh.
waktu sedang ngelmu di negeri jiran sekitar 3 tahun lalu, aku ingat seorang teman internasional yang lain menyodorkan koran yang ada foto kereta di jakarta dengan puluhan orang naik di atas gerbongnya, berdesak-desakan. trus ada capture yang menjelaskan kalau itu adalah pemandangan biasa pada transportasi kereta di indonesia. teman-teman minta konfirmasi, keheranan pastinya, “apa betul kereta di indonesia seperti itu?” aku? diam seribu logat pastinya! lha, mau bilang apa lagi? udah jelas terdokumentasi. dan lebih parahnya lagi, pada masa yang sama indonesia sedang “ekspor” asap ke sana. dan kalau sedang dipenuhi asap, kota memang betul-betul kusam deh, bikin mengkel semua orang. komplit banget!
waw… kamu hebat… saya dan suami salah satu penggunanya jaman kami kuliah dulu.. tapi kalau diingat saat ini.. amazing.. JAKARTA memang Liar…
@AL
wah, adik tante AL kul dimana? Seru juga ya, ku juga pengen naek KRL, kasihan banget ya aku, belom pernah sekalipun naek KRL
kak daniel, gimana nih? Koq jadi diskusi KRL ya
besok kakak waktu tulis bag 8, sertakan pengalaman naek kuda ya, biar pada diskusi tentang kuda
*dilempar sandal*
Desya, ampun deh!
Jangan dengerin pak Daniel. Jangan panggil saya tante.
Saya belum ibu-ibu dan masih muda gak beda jauh dari Desya, jadi panggil kakak aja or kayak yang lain: AL
Gitu..
*AL duduk manis senyum-senyum najong*
Adik saya kul di UP, Desya.
AL, terakhir menulis Musuh-Musuh Batman: The Joker, Two Face, dan Scarecrow
ngak kok mas mahendra anisa ngak ngambek….
walaupun rada mengkel dikit siiiiyy…..
abis masak dibilang anisa menjugde sama mas mahendra.
anisa ngak menjugde, tapi ngomong jujur aja.
trus kenapa yang kangen dan kehilangan anisa itu mas gonong aja?
bukannya mas mahendra juga? hihihihihi…….
itu mbak ti pasti maksudnya mbak Astuti Ananta Toer..trus kenapa Pramoedya Ananta Toer disebut pak Bram?
apa buat mengecoh pembaca ato memang itu panggilan orang-orang terdekat kepada pak Pram?
untuk yg #6, itu isinya cerita ttg pertemuan di kansas FIB UI ya bang?
trus nanti diposting ketika momennya tepat ya bang?
^sotoy mode on^
#19(imoe)+#24(radesya),,pak Bram di sini memang dimaksudkan kepada pak Pramoedya Ananta Toer..bang Daniel tuh dah sering bgt mengulas tokoh ini di postingan2 yg jaman baheula..dan hubungan bang Dan ini dg pak Pram bserta kelwarganya emang deket..lha wong bang Dan ini sangat mengidolai pak Pram kok..
betul ga bang isi komen saia iniH?
^Sotoy se-sotoy-sotoy-nyah^
omoshiroi, terakhir menulis Puisi Oomleo
itu mbak ti pasti maksudnya mbak Astuti Ananta Toer..trus kenapa Pramoedya Ananta Toer disebut pak Bram?
apa buat mengecoh pembaca ato memang itu panggilan orang-orang terdekat kepada pak Pram?
untuk yg #6, itu isinya cerita ttg pertemuan di kansas FIB UI ya bang?
trus nanti diposting ketika momennya tepat ya bang?
^sotoy mode on^
#19(imoe)+#24(radesya),,pak Bram di sini memang dimaksudkan kepada pak Pramoedya Ananta Toer..bang Daniel tuh dah sering bgt mengulas tokoh ini di postingan2 yg jaman baheula..dan hubungan bang Dan ini dg pak Pram bserta kelwarganya emang deket..lha wong bang Dan ini sangat mengidolai pak Pram kok..
betul ga bang isi komen saia iniH?
^Sotoy se-sotoy-sotoy-nyah^
Kalo pengalaman kecopetan di kereta, alhamdulillah saia blm pernah..saia dulu jarang bawa dompet..n kalo pulangnya ada sisa duit banyak, saia nyimpenya di kaos kaki ato di dlm clana dalem..itu bwat menghindari kena palak dari anak sekulaan laen (apalagi nak Bonjer-kebon jeruK), n ngindarin kena copet juga..
hehe,,
omoshiroi, terakhir menulis Puisi Oomleo
itu komen yang #47 sama yang ini di apus aja bang Dan..
tadi ada kesalahan teknis soalnya,,,
sebuah pengembaraan yang pasti akan banyak manfaatnya, mas daniel. sesekali memang perlu ada momen seperti ini utk menyambung dan merekatkan kembali peristiwa2 masa silam yang sempat terlupakan. juga, yang pasti, untuk menumbuhkan semangat dan motivasi baru alam menapaki jalan hidup yang penuh teka-teki dan misteri *halah kok jadi sok tahu saya, haks.*
La…kan sudah terbukti di rumah bisa tinggal bersama…mungkin penunggu tuh dah nyaman tinggal bareng si Dan. jadi gak perlu bukti lagi kalo si Dan pun dirumah yang berlantai 6 pun tak punya perasaan apa-apa. Eh ngomong2 siapa yang penunggu, siapa yang ditunggu siy…. hehehe
prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan
Kalo nanti perjalanan dah sampe ke timur, Jember misalnya naik kereta api ya….sambil dibahas satu persatu stasiun tuh.. Mayang, Sempolan, Garahan, Mrawan…. wahhhh dah masuk terowongan lagi…………….
prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan
Jejak Langkah selalu berarti, DM. Banyak…..
icha, terakhir menulis Berdialog dengan Kematian
Nah, nah! Di tulisan mana pun sepertinya kau tak pernah absen menunjukkan kekagumanmu yang besar terhadap tokoh satu ini! Ya, beliau memang pantas dikagumi, dan sampai kapan pun sepertinya kau tak akan pernah memupus barang sekelumit rasa terhadapnya. Tanpa menyadarinya (atau mungkin sadar?), kau telah menjadikannya panutan hidupmu, cara berpikirmu, cara bertindakmu. That’s a role model is supposedly for, isn’t it?
Satu saja pesanku, Kawan. Saat ingin membangun rumah The Secret Garden-mu kelak, tak perlu sampai enam lantai seperti rumah di Bojonggede, OK?
Wah Kereta , pas sekali dengan postingaku yg baru aku naikkan beberapa saat yg lalu.
ke timur dg kereta dan kapal mas … pasti lebih banyak pengalaman mengasyikkan.