(The Waiting Is Almost Over: 08)

Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka mengkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ‘selamat pagi’ (Dee, Selagi Kau Lelap, Filosofi Kopi)

Apa perbedaan mendasar antara dunia di atas pentas dan dunia nyata? Ya, betul. Tak perlu mengernyitkan dahi untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Di atas panggung teater, lakonnya memang bisa apa saja. Sedih-senang, bahagia-duka, semua hanya peran. Sementara di dunia nyata, kita menjalani diri kita sebagai manusia secara sungguhan.

Seorang aktor teater boleh jadi memerankan lakon sedih di atas panggung. Sementara begitu turun, ia bisa tertawa-tawa dengan gigi terbuka. Karena hidupnya toh bahagia. Seorang aktor lain boleh jadi memerankan lakon gembira, tapi begitu turun, wajahnya tampak berduka. Karena hidupnya ternyata nestapa. Siapa yang bisa membohongi diri kita dari dunia…

Begitu pun dengan aku. Setelah sekian hari istirah dan menyepi di sebuah desa di Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini aku duduk di samping seorang perempuan di sebuah bangku di terminal keberangkatan 2F Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

Mayang seperti tak mau melepaskan genggaman tangannya di jemariku. Matanya gulana dan air mukanya berduka. Untuk kesekian kali aku mengusap pipinya sembari berkata: “Jangan sedih, Yang…” Kalau sudah seperti itu ia hanya bisa menarik nafas, memandang ke depan, dan menjatuhkan kepala di bahuku.

Perpisahan selamanya menyakitkan. Ribuan prosa, ratusan sajak, puluhan film, dan belasan lukisan yang menceritakan tentang perpisahan, tetap saja lebih menyakitkan pada kenyataannya. Sekuat dan setegar apa pun jiwa seorang manusia, perpisahan tetap lah perpisahan. Apalagi jika perpisahan itu merupakan pertalian dua hati yang sudah terlanjur berkelindan.

Sebisa mungkin aku menghiburnya dengan cerita-cerita lucu dan menyenangkan. Meski kutahu: itu tak mengubah kesedihannya. Aku dapat merasakan betul gelagat itu.

“Tapi tadi malam kamu senang kan?”
“Tadi malam?”
“Ya. Waktu nonton teater di TIM.”
“Wah, aku seneng banget!” kamu mulai bisa kembali tertawa memamerkan gigi kelincimu yang menggemaskan. “Seumur hidup aku belum pernah nonton teater di tempat besar seperti itu. Mengagumkan. Sekali lagi makasih, Dan, sudah mengajakku nonton teater.”

Aku hanya tertawa senang mendapati dirinya tampak senang. Karena Hanya itulah yang dapat kulakukan: membuatnya bahagia.

Ya, tadi malam kami memang baru menyaksikan pementasan Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Ini merupakan produksi ke-116 Teater Koma setelah 32 tahun berdiri sebagai paguyuban kesenian yang tak pernah letih berkarya.

Lakonnya sendiri bertajuk: Republik Petruk. Sebuah kisah komedi satir di mana Petruk (Budi Ros) tiba-tiba menjadi seorang raja di sebuah negeri bernama Lojitengara. Ia bergelar Prabu Petruk Belgeduwelbeh Tongtongsot.

Setelah Petruk menjadi raja, maka terjadilah reformasi politik. Apa saja diperbolehkan. Korupsi, asal tidak ketahuan, oke-oke saja. Bahkan dengan lantang Petruk berucap: “Demokrasi yang kureformasi adalah; Serba Boleh Ye…”

Lojitengara makmur, pejabat takut korupsi, para polisi bersikap baik dan dedikatif. KKN dan berbagai penyelewengan, atas nama demokrasi, memang marak, tapi terkendali. Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot santai saja. Malah ia banyak makan, banyak nyanyi, dan banyak menari.

Raja-raja lain yang merasa terganggu dan menyerbu Lojitengara, dikalahkan. Namun tidak lantas diperbudak oleh Sang Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot, melainkan diangkat sebagai saudara bahkan direkrut jadi sekutu.

Semua ini bermula gara-gara Mustakaweni (Cornelia Agatha) berhasil mencuri Jimat Kalimasada, sebuah Pusaka Pandawa, dari Drupadi (Sriyatun) dengan cara menyamar sebagai Gatotkaca (Paulus Simangunsong/Yulius Buyung). Srikandi (Herlina Syarifudin), perempuan pahlawan itu, tak mampu merebut kembali Kalimasada.

Pada saat bersamaan, datang seorang satria bernama Priambada (Rangga Riantiarno) yang sedang mencari ayahnya, Arjuna (Dessy Mulasari). Srikandi sedia menolong, asalkan Priambada dapat merebut kembali jimat tersebut.

Priambada bersedia. Terjadilah perburuan dan perebutan yang asyik lagi seru. Mustakaweni yang awalnya hendak membunuh Arjuna dengan jimat itu, ternyata jatuh hati pada Priambada dan membiarkan Kalimasada direbut kembali. Karena sedak asyik jatuh cinta, Priambada menitipkan jimat tersebut pada Petruk. Dengan jimat itulah Petruk menabalkan diri sebagai raja Lojitengara.

Jangan cepat-cepat membayangkan kisah di atas dimainkan secara serius di atas pentas. Meksi tetap digarap dengan serius, seperti kebanyakan produksi Teater Koma, naskah yang dirawi oleh sutradaranya sendiri (N. Riantiarno) ini sarat komedi dan dagelan habis-habisan. Namun tetap merupakan cerminan kondisi nyata yang diungkapkan secara satir dan kocak.

Teater Koma memang mengagumkan. Masih ingat pentas perdananya? Rumah Kertas, karya dan sutradara N. Riantiarno, bertempat di Teater Tertutup Pusat Kesenian Jakarta, TIM, pada tanggal 2-3 dan 4 Agustus 1977. Hanya tiga malam dipentaskan. Pada pementasan kedua, Maaf-Maaf-Maaf (1978) digelar 5 malam. Pentas ketiga, J.J (1979), 7 malam. Opera Ikan Asin (1983), saduran dari The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht, digelar 10 malam. Maka pada pentas-pentas selanjutnya rata-rata digelar 2 minggu.

Tapi Opera Para Binatang (1986), saduran dari Animal Farm karya Goerge Orwell, digelar 23 malam. Dan Sampek Engtay (1999-2000) digelar 22 hari dengan pementasan sebanyak 26 kali. Sampek Engtay malah berhasil menyabet anugerah MURI (Musium Rekor Indonesia) sebagai sandiwara terlama dipentaskan, 16 tahun (1988-2004), dengan pergelaran sebanyak 80 kali. Sebuah angka yang fantastis!

Pentas-pentas Teater Koma agaknya memang mengena di hati masyarakat. Tak heran jika banyak yang menjadi penonton setia. Menurut hasil sebuah survey, penonton Teater Koma yang setia menonton hingga saat ini, berjumlah sekitar 50% dari seluruh jumlah penonton. Ternyata telah terjadi regenerasi di kalangan penonton. Tiga generasi (kakek, anak, cucu) sering menonton bersama.

Namun semua itu tak berarti berjalan mulus, lancar, dan bersuka selama 32 tahun berkiprah. Seperti umum ketahui, terjadi berbagai hal yang memprihatinkan. Interogasi aparat, kecurigaan, pencekalan dan pelarangan, hingga ancaman bom.

Dan selama pertunjukan 4 jam penuh itu, jemariku selalu digenggamnya. Tak pernah sekalipun dilepaskan kecuali jika ia hendak memotret adegan di atas pentas. Kalau aku memandang ke arah wajahnya yang sedang asyik menyaksikan panggung, dengan cepat ia menoleh dan balas memandang mataku. Maka kami tersenyum bersama tanpa berkata apa-apa.

Kalau ia tertawa ngakak karena sebuah adegan lucu di atas pentas, tak urung aku memperhatikan setiap gerakan terkecil darinya. Perempuan ini menyenangkan, batinku. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Diriku tak merasa gelisah sama sekali. Sementara jika ia tahu bahwa aku sedang memperhatikannya, ia memandang lembut ke arahku, meremas jemariku dan membiarkan kepalanya mendarat di bahuku.

Hingga jarum jam sudah hendak merangkak ke angka dua belas tengah malam, pentas pun usai. Semua orang gembira. Para pemain gembira. Kru dan penoton gembira. Begitu pun dengan kami. Kurengkuh pundaknya sembari keluar gedung pertunjukan.

“Gimana?” tanyaku memeluk bahunya.
“Seneng banget, Dan. Keren banget! Banget!”

Aku hanya tersenyum senang demi melihat mimik wajahnya yang berbinar riang sehabis pertunjukan. Jadinya di sepanjang jalan Cikini kami berjalan bergandengan tangan sembari mendengarkan kecerewetannya bercerita tentang kesan menonton Republik Petruk tadi.

“Aku ingin menonton teater lagi seperti semalam, Dan.” pintamu di terminal keberangkatan 2F Bandara Soekarno Hatta.
Aku hanya mengangguk, namun menghela nafas sembari menatap matamu dalam.
“Kita akan ketemu lagi kan, Dan?”
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas.
“Ayo Dan, jawab…”
Kuremas genggaman tangannya.
“Kamu sudah harus boarding.” tukasku berdiri sembari melihat jam tangan.
“Dan!” tiba-tiba ia tercekat. “Aku nggak ingin melewati pintu kaca itu.”
“Pesawatmu menunggu, Yang…”
“Aku nggak ingin berangkat rasanya.”
“Yang…” aku mencoba menenangkan.
“Dan, kita akan ketemu lagi kan? Iya kan?”
Aku mencoba mengangguk.
“Apa?”
“Iya, kita akan ketemu lagi.”
“Oh Dan, betapa ini yang kutakutkan jika bertemu denganmu.”
“Apa?”
“Mesti berpisah begini.” ujarnya mulai terisak.
“Jangan menangis, Mayang.” aku mengusap pipinya.
“Aku nggak mau pisah sama kamu.” nafasnya masih tersengal.
I’d be wherever you are, you are wherever I am. Remember?” pada saat berkata begitu, kutatap matanya lekat-lekat.
“He-eh.”

Kucium kedua pipinya. Ia memelukku erat. Tak berapa lama, dengan ragu ia mulai masuk pintu itu. Aku hanya bisa memandangi wajahnya dari balik kaca. Kami terus berpandangan. Tapi kaca ini… kaca ini…

Beberapa menit kemudian handphone-ku bergetar.
“Dan?”
“Ya, Yang…”
“Aku ingin kembali ke luar rasanya.”
“Kenapa…” tukasku berusaha tersenyum.
Delayed empat puluh menit. Menyebalkan!”
“Aku akan menunggu di sini sampai kamu betul-betul berangkat.”
“Oh Dan, mestinya aku tak buru-buru masuk tadi.”

Sudah banyak perpisahan kualami dengan berbagai macam ragam versinya. Namun rasanya tak ada yang seberat ini. Matian-matian aku berusaha agar tetap tenang dan tersenyum di depannya, namun aku tak bisa membohongi diriku sendiri: aku merasa kehilangan saat ini. Adakah ini cinta?

Seorang aktor boleh jadi memerankan lakon gembira, tapi begitu turun pentas, wajahnya tampak berduka. Siapa yang bisa membohongi diri kita dari dunia…

24 Januari 2008 | 04.31 wib