Bukan Tiket Sekali Jalan
(The Waiting Is Almost Over: 08)
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka mengkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ‘selamat pagi’ (Dee, Selagi Kau Lelap, Filosofi Kopi)
Apa perbedaan mendasar antara dunia di atas pentas dan dunia nyata? Ya, betul. Tak perlu mengernyitkan dahi untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Di atas panggung teater, lakonnya memang bisa apa saja. Sedih-senang, bahagia-duka, semua hanya peran. Sementara di dunia nyata, kita menjalani diri kita sebagai manusia secara sungguhan.
Seorang aktor teater boleh jadi memerankan lakon sedih di atas panggung. Sementara begitu turun, ia bisa tertawa-tawa dengan gigi terbuka. Karena hidupnya toh bahagia. Seorang aktor lain boleh jadi memerankan lakon gembira, tapi begitu turun, wajahnya tampak berduka. Karena hidupnya ternyata nestapa. Siapa yang bisa membohongi diri kita dari dunia…
Begitu pun dengan aku. Setelah sekian hari istirah dan menyepi di sebuah desa di Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini aku duduk di samping seorang perempuan di sebuah bangku di terminal keberangkatan 2F Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.
Mayang seperti tak mau melepaskan genggaman tangannya di jemariku. Matanya gulana dan air mukanya berduka. Untuk kesekian kali aku mengusap pipinya sembari berkata: “Jangan sedih, Yang…” Kalau sudah seperti itu ia hanya bisa menarik nafas, memandang ke depan, dan menjatuhkan kepala di bahuku.
Perpisahan selamanya menyakitkan. Ribuan prosa, ratusan sajak, puluhan film, dan belasan lukisan yang menceritakan tentang perpisahan, tetap saja lebih menyakitkan pada kenyataannya. Sekuat dan setegar apa pun jiwa seorang manusia, perpisahan tetap lah perpisahan. Apalagi jika perpisahan itu merupakan pertalian dua hati yang sudah terlanjur berkelindan.
Sebisa mungkin aku menghiburnya dengan cerita-cerita lucu dan menyenangkan. Meski kutahu: itu tak mengubah kesedihannya. Aku dapat merasakan betul gelagat itu.
“Tapi tadi malam kamu senang kan?”
“Tadi malam?”
“Ya. Waktu nonton teater di TIM.”
“Wah, aku seneng banget!” kamu mulai bisa kembali tertawa memamerkan gigi kelincimu yang menggemaskan. “Seumur hidup aku belum pernah nonton teater di tempat besar seperti itu. Mengagumkan. Sekali lagi makasih, Dan, sudah mengajakku nonton teater.”
Aku hanya tertawa senang mendapati dirinya tampak senang. Karena Hanya itulah yang dapat kulakukan: membuatnya bahagia.
Ya, tadi malam kami memang baru menyaksikan pementasan Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Ini merupakan produksi ke-116 Teater Koma setelah 32 tahun berdiri sebagai paguyuban kesenian yang tak pernah letih berkarya.
Lakonnya sendiri bertajuk: Republik Petruk. Sebuah kisah komedi satir di mana Petruk (Budi Ros) tiba-tiba menjadi seorang raja di sebuah negeri bernama Lojitengara. Ia bergelar Prabu Petruk Belgeduwelbeh Tongtongsot.
Setelah Petruk menjadi raja, maka terjadilah reformasi politik. Apa saja diperbolehkan. Korupsi, asal tidak ketahuan, oke-oke saja. Bahkan dengan lantang Petruk berucap: “Demokrasi yang kureformasi adalah; Serba Boleh Ye…”
Lojitengara makmur, pejabat takut korupsi, para polisi bersikap baik dan dedikatif. KKN dan berbagai penyelewengan, atas nama demokrasi, memang marak, tapi terkendali. Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot santai saja. Malah ia banyak makan, banyak nyanyi, dan banyak menari.
Raja-raja lain yang merasa terganggu dan menyerbu Lojitengara, dikalahkan. Namun tidak lantas diperbudak oleh Sang Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot, melainkan diangkat sebagai saudara bahkan direkrut jadi sekutu.
Semua ini bermula gara-gara Mustakaweni (Cornelia Agatha) berhasil mencuri Jimat Kalimasada, sebuah Pusaka Pandawa, dari Drupadi (Sriyatun) dengan cara menyamar sebagai Gatotkaca (Paulus Simangunsong/Yulius Buyung). Srikandi (Herlina Syarifudin), perempuan pahlawan itu, tak mampu merebut kembali Kalimasada.
Pada saat bersamaan, datang seorang satria bernama Priambada (Rangga Riantiarno) yang sedang mencari ayahnya, Arjuna (Dessy Mulasari). Srikandi sedia menolong, asalkan Priambada dapat merebut kembali jimat tersebut.
Priambada bersedia. Terjadilah perburuan dan perebutan yang asyik lagi seru. Mustakaweni yang awalnya hendak membunuh Arjuna dengan jimat itu, ternyata jatuh hati pada Priambada dan membiarkan Kalimasada direbut kembali. Karena sedak asyik jatuh cinta, Priambada menitipkan jimat tersebut pada Petruk. Dengan jimat itulah Petruk menabalkan diri sebagai raja Lojitengara.
Jangan cepat-cepat membayangkan kisah di atas dimainkan secara serius di atas pentas. Meksi tetap digarap dengan serius, seperti kebanyakan produksi Teater Koma, naskah yang dirawi oleh sutradaranya sendiri (N. Riantiarno) ini sarat komedi dan dagelan habis-habisan. Namun tetap merupakan cerminan kondisi nyata yang diungkapkan secara satir dan kocak.
Teater Koma memang mengagumkan. Masih ingat pentas perdananya? Rumah Kertas, karya dan sutradara N. Riantiarno, bertempat di Teater Tertutup Pusat Kesenian Jakarta, TIM, pada tanggal 2-3 dan 4 Agustus 1977. Hanya tiga malam dipentaskan. Pada pementasan kedua, Maaf-Maaf-Maaf (1978) digelar 5 malam. Pentas ketiga, J.J (1979), 7 malam. Opera Ikan Asin (1983), saduran dari The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht, digelar 10 malam. Maka pada pentas-pentas selanjutnya rata-rata digelar 2 minggu.
Tapi Opera Para Binatang (1986), saduran dari Animal Farm karya Goerge Orwell, digelar 23 malam. Dan Sampek Engtay (1999-2000) digelar 22 hari dengan pementasan sebanyak 26 kali. Sampek Engtay malah berhasil menyabet anugerah MURI (Musium Rekor Indonesia) sebagai sandiwara terlama dipentaskan, 16 tahun (1988-2004), dengan pergelaran sebanyak 80 kali. Sebuah angka yang fantastis!
Pentas-pentas Teater Koma agaknya memang mengena di hati masyarakat. Tak heran jika banyak yang menjadi penonton setia. Menurut hasil sebuah survey, penonton Teater Koma yang setia menonton hingga saat ini, berjumlah sekitar 50% dari seluruh jumlah penonton. Ternyata telah terjadi regenerasi di kalangan penonton. Tiga generasi (kakek, anak, cucu) sering menonton bersama.
Namun semua itu tak berarti berjalan mulus, lancar, dan bersuka selama 32 tahun berkiprah. Seperti umum ketahui, terjadi berbagai hal yang memprihatinkan. Interogasi aparat, kecurigaan, pencekalan dan pelarangan, hingga ancaman bom.
Dan selama pertunjukan 4 jam penuh itu, jemariku selalu digenggamnya. Tak pernah sekalipun dilepaskan kecuali jika ia hendak memotret adegan di atas pentas. Kalau aku memandang ke arah wajahnya yang sedang asyik menyaksikan panggung, dengan cepat ia menoleh dan balas memandang mataku. Maka kami tersenyum bersama tanpa berkata apa-apa.
Kalau ia tertawa ngakak karena sebuah adegan lucu di atas pentas, tak urung aku memperhatikan setiap gerakan terkecil darinya. Perempuan ini menyenangkan, batinku. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Diriku tak merasa gelisah sama sekali. Sementara jika ia tahu bahwa aku sedang memperhatikannya, ia memandang lembut ke arahku, meremas jemariku dan membiarkan kepalanya mendarat di bahuku.
Hingga jarum jam sudah hendak merangkak ke angka dua belas tengah malam, pentas pun usai. Semua orang gembira. Para pemain gembira. Kru dan penoton gembira. Begitu pun dengan kami. Kurengkuh pundaknya sembari keluar gedung pertunjukan.
“Gimana?” tanyaku memeluk bahunya.
“Seneng banget, Dan. Keren banget! Banget!”
Aku hanya tersenyum senang demi melihat mimik wajahnya yang berbinar riang sehabis pertunjukan. Jadinya di sepanjang jalan Cikini kami berjalan bergandengan tangan sembari mendengarkan kecerewetannya bercerita tentang kesan menonton Republik Petruk tadi.
“Aku ingin menonton teater lagi seperti semalam, Dan.” pintamu di terminal keberangkatan 2F Bandara Soekarno Hatta.
Aku hanya mengangguk, namun menghela nafas sembari menatap matamu dalam.
“Kita akan ketemu lagi kan, Dan?”
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas.
“Ayo Dan, jawab…”
Kuremas genggaman tangannya.
“Kamu sudah harus boarding.” tukasku berdiri sembari melihat jam tangan.
“Dan!” tiba-tiba ia tercekat. “Aku nggak ingin melewati pintu kaca itu.”
“Pesawatmu menunggu, Yang…”
“Aku nggak ingin berangkat rasanya.”
“Yang…” aku mencoba menenangkan.
“Dan, kita akan ketemu lagi kan? Iya kan?”
Aku mencoba mengangguk.
“Apa?”
“Iya, kita akan ketemu lagi.”
“Oh Dan, betapa ini yang kutakutkan jika bertemu denganmu.”
“Apa?”
“Mesti berpisah begini.” ujarnya mulai terisak.
“Jangan menangis, Mayang.” aku mengusap pipinya.
“Aku nggak mau pisah sama kamu.” nafasnya masih tersengal.
“I’d be wherever you are, you are wherever I am. Remember?” pada saat berkata begitu, kutatap matanya lekat-lekat.
“He-eh.”
Kucium kedua pipinya. Ia memelukku erat. Tak berapa lama, dengan ragu ia mulai masuk pintu itu. Aku hanya bisa memandangi wajahnya dari balik kaca. Kami terus berpandangan. Tapi kaca ini… kaca ini…
Beberapa menit kemudian handphone-ku bergetar.
“Dan?”
“Ya, Yang…”
“Aku ingin kembali ke luar rasanya.”
“Kenapa…” tukasku berusaha tersenyum.
“Delayed empat puluh menit. Menyebalkan!”
“Aku akan menunggu di sini sampai kamu betul-betul berangkat.”
“Oh Dan, mestinya aku tak buru-buru masuk tadi.”
Sudah banyak perpisahan kualami dengan berbagai macam ragam versinya. Namun rasanya tak ada yang seberat ini. Matian-matian aku berusaha agar tetap tenang dan tersenyum di depannya, namun aku tak bisa membohongi diriku sendiri: aku merasa kehilangan saat ini. Adakah ini cinta?
Seorang aktor boleh jadi memerankan lakon gembira, tapi begitu turun pentas, wajahnya tampak berduka. Siapa yang bisa membohongi diri kita dari dunia…
24 Januari 2008 | 04.31 wib


Apa ya yang termasuk tiket sekali kalan? Narkoba? Atau kalau kita menghadapNya?
Karena bukan tiket sekali jalan, berarti masih ada jalan untuk kembali.
Jadi, ceritanya Dan lagi bersama Mayang, yang punya gigi kelinci.
Hmmm…akankah tokoh Dan ketemu yang lain lagi? …Kemana? Ke Semarang? Atau ke Surabaya….
Cinta memang tak pernah tahu, kapan hati ini akan berlabuh …..
Walau begitu, tak pernah ada hati yang berlabuh selamanya, selalu ada riak-riak menggairahkan yang membuat ingin kembali mengarungi samudra…
Genggamlah cintamu, namun berikan ruang-ruang untuk kebebasan, karena hati tetap layak untuk bebas…
edratna, terakhir menulis Duhh enaknya jika pijat dulu
Tumben….bisa pertamax…biasanya keduluan Marsmallow….
edratna, terakhir menulis Duhh enaknya jika pijat dulu
Wah, bisa yang ke 3
perpisahan itu sangat berat ya kak
Apakah cinta itu begitu? Jika ngobrol terasa nyaman? Ada rasa takut kehilangan gitu?
Ah, entah deh, ku juga nggak tau
aaaaaaaaaahhhh kamu mengingatkanku pada cerita lama yang amat sulit kulupakan sampai saat inipun.
Well, Hilang Mayang, Sari pun datang. Thats life!
Kenalkan pada Budemu ya!!!
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Kairo yang bukan di Mesir
itu pas nonton teater di TIM, konsen ke pertunjukannya apa ke orang di kursi sebelah bang?
hehe,,
omoshiroi, terakhir menulis Puisi Oomleo
Dan[iel], waktu cerita pertama [TWIAO:01] yang akan memulai perjalanan itu. ada seseorang yg juga sedih waktu itu, saat Dan[tokoh cerita] hendak meninggalkannya. nah, sekarang ternyata ada Mayang. 2 pribadi yg berbedakah, atau sama.
eh, kamu mungkin bisa menjawab, bahwa itu memang yg di Bandung. dan penerbangan yg delay itu, dengan tujuan Bandara Husein Sastranegara.
tapi…aku kok merasakan 2 pribadi yg beda ya, antara kedua orang/perempuan ini.
hehe…embuhlah…
aku nggak sabar menunggu kisahnya Dan, nanti…saat di surabaya
tapi ngomong2, aku tetep kangen sama komennya Anisa. sampai ngimpi2 lho, Dan, hahaha…
jadi sekarang merasakan sendiri bagaimana rasanya ditinggalkan ya? enak? enak?
mascayo, terakhir menulis Single parent
Niel, boleh kok dikutip…
Dan engkau tahu pula itu menggambarkan keinginan siapa…..
Justru cinta yang membebaskan itu akan tetap terikat erat dalam hati masing-masing, walau kadang secara fisik tak bisa saling berdekatan
edratna, terakhir menulis Duhh enaknya jika pijat dulu
duuuuhhhh……..
mas mahendra anisa sebel banget baca tulisan ini………..
eh……tapi ini kan cuman cerita aja kan mas? bukan sungguhan kan?
Hmmm…Bunda lalu mengingat ingat…ketika muda dulu…
Rasa rasanya sering punya cerita indah…tapi kok nggak pernah bisa nulis ya…
Bunda bangga…anak anak sekarang hebat hebat…bisa menuliskan segala sesuatu menjadi bacaan yang menarik…
Kalau sekarang..Bunda nangis di bandara,,ketika mengantar anak untuk sekolah lagi di luar kota…juga luar negri…he..he…beda ceritanya dengan mas Daniel…Romantis abis….
tanyakan pada hatiku?
bentar aku tanya dulu deh….
koq bilangnya du-du-du….
kakak pernah kehilangan ya?
mayang? terurai?
ah, tunggu apa lagi mas dm? raihlah bahagia itu selamanya. mengapa harus ada lambaian pisah sebelum ada ungkap kepastian? mengapa harus lari bila cinta telah datang dan memanggil sanubari?
aih… aih…
Zulmasri, terakhir menulis MATAHARI BUKIT SENGARE
kok sekarang di akhr tlisan dah ga pake kata-kata keterangan penulis sperti, “pemerhati …., penikmat …., peneliti ….., dll (dan lupa lagi)?
kalo ada, untuk tulisan ini, “Daniel Mahendra, pelaku perpisahan”..
hehe,,
omoshiroi, terakhir menulis Puisi Oomleo
Wah…kemana tuh mbak mayang nya mas…, mbak mayang..jangan lama-lama ya perginya…….jangan takut mas..dia pergi untuk kembali…lagian BBM kan udah turun jadi dimana-mana ongkos tranpostasi jenis apapun udah turun hahahaha
Lanjut…tancap…mau dibawa kemana niy cerita di tunggu ya…jangan lama-lama…
imoe, terakhir menulis …pesona carlos…
Pak Salim Bungsu itu kira kira kira masih ada gak ya Dan…?
Dia salah satu primadona teater koma seingat ku…
peran perannya selalu hidup..lucu…menggigit dan bernyawa…menyentil…juga nakal ..sekaligus pintar dan Memiliki polah khas …
Peranya seringkali tidak begitu besar….tapi seingat ku dia selalu muncul dan perannya di babak itu selalu menajdi yang terpenting….seingatku mbak Ratna mengangkatnya tinggal di rumah pribadinya bersama keluarganya..kalo tidak salah ya…
Dulu jaman masih sering ada drama di TVRI…mudah menemukan para pemain teater koma. cuma sekarang jarang sekali..entah di mana mereka….mungkin aku harus betul betul menyaksikan pementasan mereka untuk mengobati kangenku.
terus
Seorang aktor boleh jadi memerankan lakon gembira, tapi begitu turun pentas, wajahnya tampak berduka. Siapa yang bisa membohongi diri kita dari dunia…
Harusnya si Mayang (yang bukan sari) nyanyi lagu gini….
AKu akan pergii untuk sementaraa…
Kamu jangan nakallll…aku pastii kembaliiiii…
*jaminn si DM pasti gak tau lagu ini*
gituhhhhh….
*sambil menunggu tulisan mendatang…entah apalagi yang akan di angkat …semoga saja ada masa masa si Dan ini menjadi gila..stress…namun menemukan titik cerahnya dan kembali sadar .. serta meneruskan perjalanan…..*
*hihihihi ngarepnya serem ya
*
yessy muchtar, terakhir menulis It is a mistake…and it is mine.
kira kira nantinya ada berapa tokoh perempuan di cerita ini ya Dan….
by the way aku nyaris pingsan baca komentarnya Anisa di postingan ini…wekekekekek
eh eh ..jangan jangan …ini kan jalannya di Cikini…
…………………..
Anisa ..kamu rumahnya di Cikini kan???
Ahuuhuuuuu……mas Mahendra sudah datang rupanyaaa…..kenapa juga namamu di samarkan jadi Mayang niii…wekekekkeke
@Lala….dan mas/bang Goenoeng
hihihihi
coba tolong di tangkap lemparan yessy
apa kita lanjutin di fecebook aja
yessy muchtar, terakhir menulis It is a mistake…and it is mine.
Mbret,
Jadi inget sama tulisanku yang ini nih….
Judulnya Perfect Way To Say…
Kamu benar. Mau dibikin semanis apa, perpisahan tetap menyakitkan….
Lala, terakhir menulis Little Black Book: A Journey to His Past
Ticket sama wajah bangun tidur …. apa hubungannya kang?
Rindu, terakhir menulis Memupus Bayangan
baca komen #13 bikin saia menduga-duga sahaja,, ada apa sebenarnya?
perpisahan, mengingatkan saia pada mbah putri di jogja yang rabu siang (21-01-09) kemarin meninggal dunia.. perpisahan memang menyakitkan,, bagaimanapun wajah ini tak terlihat sedih, namun rasa itu tetap ada di diri..
teater koma memang yahud!! sudah 32 tahun masih tegak berdiri,, jarang-jarang tuh yang kaya begini..
buat yang tertarik, ini ada blognya teater koma…
bai de wei, si pemeran utama cerita ini dah sampe Cirebon belum? apa mampir dulu di Indramayu?
omoshiroi, terakhir menulis PERHATIAN!! PERHATIAN!!
aha …. sebuah pertemuan yang indah dan mengharukan, mas daniel, hehehe …. sebuah momen yang sulit terlupakan, apalagi dibalut dg kisah2 “republik petruk” yang dipentaskan teater koma. semoga pertemuan dg si “Yang” *siapa sih, mas daniel, hiks* masih terus berlanjut hingga akhirnya bertemu dalam satu titik kebersamaan. amiiin.
akhirnya…..Anisa komen juga…
legaaaa… rasanya. penantianku nggak sia2.
tapi… kok cuma gitu. yaah, kok komennya cuma gitu…
aduuuh, Mas Mahendra…
*pembaca kecewa*
Na…, sekarang fokus komen ke DM, sebagai tuan rumah (yg rumahnya diacak2 ni…
).
berarti dugaanku nggak salah ya, Dan. dalam cerita ini, si Dan-nya ber-bau2 playboy juga. ah, kok aku jadi dejavu gini ya ?
surabaya ? oiya, pastinya di surabaya nanti ada lontong cap go meh, Dan. hehe…
@Yessy
halo, Yess…
Kalo berat, mengapa harus berpisah?
Juliach, terakhir menulis Wine…Vin…Anggur… Mencicipi yuk! Asal jangan sampek mabok!
Mas DM…kenapa kok kemarin saya ga bisa ngakses blog penganyam kata ini??katanya bandwidth access limit apalah gitu ga ngerti..
“Tapi tadi malam kamu senang kan?”
“Tadi malam?”
“Ya. waktu nonton teater di TIM”
ya ampuun, saya udah deg-degan aja kirain ada apa di malam itu..ternyata nonton teater toh..hihihihi..
mbak yesy dan mas gonoeng makasih ya udah baik sama anisa…..
jadi mas mahendra benar yang dimaksud mayang disini tuh anisa???
*jadi tersipu-sipu*
makasih ya mas mahenra akhirnya anisa diperhatikan juga sama mas mahendra…..
makasih ya masss…….
All my bags are packed
I’m ready to go
I’m standing here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin’
This early morn
The taxi’s waitin’
He’s blowin’ his horn
Already I’m so lonesome I could cry
So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go
Cause I’m leaving on a jet plane
Don’t know when I’ll be back again
Oh babe I hate to go
Kali ini, saya baca tulisan pak daniel gak fokus-fokus. Lebih tertarik baca komen-komennya hihi.. Mangap pak, nanti deh dibaca tulisannya.
AL, terakhir menulis Cinta
Mmm perpisahan
Teater…. postinganmu membuka lembaran lama yang sudah lama aku simpan di dasar hatiku,mas

Sejak SMA dulu aku seneng banget main dan aku pengen banget bisa main teater beneran ga hanya eksul aja tapi karena suatu hal keinginan itu harus benar-benar aku pendam
Salam kenal untuk mayang ya mas, ehh Anisa
Retie, terakhir menulis Aku Pasti Kembali 2
Hey, Daniel Mahendra…
Kenapa aku menghubungkannya dengan postingku yang waktu itu, karena buatku, there’s no easy way to say good bye. Mau dengan cara semanis apapun, mau dengan janji bakal ketemu lagi *yang entah kapan itu*, mau dengan cara jahat-jahatan terus ditinggal pergi nggak pakai pamit apalagi kasih duit….. tetep aja, PAINFUL. Jadi, no perfect way to say… the feeling will remain the same.
You know what,
I’ve been in several long distance relationships. Selalu ada rasa yang campur aduk setiap bertemu dengan kekasih.. okay, sekarang mereka adalah mantan *cieh, mereka!* Ada rasa overjoyed karena akan bertemu dengan orang yang aku cintai, tapi selalu ada perasaan sedih karena akhirnya musti kembali pulang setelah melewati beberapa hari bersama.
There was never enough time, Daniel Mahendra.
Tidak pernah akan ada waktu yang cukup. NEVER.
Itulah kenapa aku pernah bilang sama mantan Pacarku, kalau menemui dia atau dia datang berkunjung, aku selalu menjadi manusia paling egois di dunia.
I wanted to steal him, forever!!
Jangan pulang, jangan pergi….. bisa nggak sih??
once again, because there was never enough time for us, DM.
And I hate that.
(maaf jadi curhat di sini… you just somehow brought back my memories… and Oh Man… it sucks!)
Mbrat? Mbret? Mbrat? Mbret?
Aku salah panggil orang, ya?
Maaf deh…
I thought you were someone else..
Lala, terakhir menulis Little Black Book: A Journey to His Past
Semua hal dalam dunia ini selalu berpasangan dan berlawanan.Itu keseimbangan…. Selalu ada yang datang, selalu ada yang berpisah. Kalau kita menganut itu sebagai suatu filosofi hidup, lebih mudah pula merasakannya, menghilangkannya…. sebagai pintu kedua kutub itu, ikhlas akan berlaku sebagai kuncinya…..
prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan
meski bukan bicara tentang kereta api, tetep bicara tiket ya….
dasar pengoleksi tiket, dasar pencinta kereta api…. hihihi
prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan
Eh…keliatannya banyak yang menunggu episode si Dan ini ke surabaya lo…
gimana mas Niel?? ehem…
prameswari, terakhir menulis Tusuk gigi yang melenakan
dunia persilatan tambah kaco ya, dab ?
*baca ‘komen’ di atas*
goenoeng, terakhir menulis tetes banyu
*) Duh, romantisnya. Kalau aku perempuan, pasti sudah kulamar dirimu, Mas Dan.
*) Nama Mayang, dipanggil sesingkat apa pun, tetap akan mesra ya.. “Maaaa… ” atau “Yaaaang…” he.. he..
*) Dulu waktu hobi nonton teater-teater kampus di Malioboro, pas lagi main gak boleh dipotret lho…
Hejis, terakhir menulis CIAAAAATT… JURUS PENDEKAR MAUT
seperti kata mbah shakespeare:
“… all the world’s a stage
and all the men and women merely players
they have their exits and their entrances
and one man in his time plays many parts
as you like it…”
Ck…ck..ck…. romantisnya. Memang jikalau cinta sudah menjemput, tidak ada seorangpun yang tidak tahu akan kedatangannya. Apalagi jikalau ia sudah seringkali dijemput oleh si cinta. Sayangnya tidak setiap kali si cinta bisa menuntaskan tugasnya. Terkadang bukan salahnya si cinta, namun terkadang si cinta menjemput orang yang salah…. **halaah ngomong apa aku ini**
Yari NK, terakhir menulis BOTD Bahasa Inggris vs. BOTD Bahasa Indonesia….
@AL
tante, lagu itu aku suka lho, udah sembuh sakitnya?
@hejis
hehehe, wah pak hejis mau lamar Dan?
Pas pertama baca aku sempat mikir gitu, koq panggil ‘yang’, trus aku ulangi baca eh namanya mayang, bener juga ya..
Aku pernah juga dipanggil aneh sama teman gitu, namaku radesya, biasanya dia panggilnya itu sya, tapi dibalik jadi say, aku berkali-kali protes kalau dia panggilnya salah, sya jadi say, eh malah ketawa gitu..
@kak Daniel
setelah mayang, entar ada siapa lagi? Trus ke kota mana lagi?
Kak Daniel…
Ni dah melewati timbuktu…
Owh, ini yang namanya timbuktu, dekat sama terminal ya
kak, setelah aku perhatikan dengan seksama, aku baca lagi para komentator koq ada yang kurang, ternyata ada yg absen, aku jadi rindu komentnya, siapakah dia? Ternyata tante Yoga
kemanakah beliau?
Aku cariin koq nggak ada ya..
*clingak-clinguk*
udah ngaca, goniel. makasih, jadi diingatkan kalau aku memang terlalu bagus buat jadi cucu shakespeare. jadi insyaf kalau ternyata aku keturunan bidadari khayangan. nggak mungkin dong bidadari punya hubungan darah sama manusia? gimana sih! ngaco aja kamu!
@atas saya
Ya iyalaaahhh.. dirimu setengahnya bidadari setengahnya orc, gak mungkin ada hub sama Shakespeare.
Kakek moyang mbak Marsh itu kan panglima yang mimpin penerbuan ke Helm’s Deep.
Hihihihi….
@Desya,
Udah jauh membaik Desya, makasih…
AL, terakhir menulis Cinta
ihihihihi…deuh yang gi happy….
cieeeeeeeee…undangan ya om, plus tiketnya! :p
@AL:
udah dibilang bukan orc! bukan orc! b-u-k-a-n o-r-c! BUKAN ORC!!!
aaaarrrrggghhhhh….
gonieeeelll…. tolongiiiinnn…..
(eh, salah deh minta tolong sama si goniel. bentar dia bilang aku memang bukan orc, tapi yeti. gampang ketebak banget. udah deh, nggak perlu pertolongan.)
terakhir: BUKAN ORC!!! awas!
@Setengah Orc
Mbak Marsh, lets face it. Saya gak akan berhenti mengataimu setengah orc sebagaimana mbak nggak akan berhenti terak-tereak bahwa mbak itu 100% bidadari khayangan padahal boong, kan?
Paling tidak, saya belum bosen nih.
Karena kenyataannya, dirimu memang setengah bidadari dan setengah orc.
Bagi seseorang, dirimu adalah bidadari. Bagi orang lain mungkin, dirimu orc. Kalau saya, melihatmu apa adanya: blasteran bidadari-orc.
heheheh…..
Dan kau tau kalau saya senang mengata-ngataimu begitu karena itu menyenangkan dan kamu tahu bahwa saya tidak bermaksud menyakitimu.
eit..eit.. kalo marah berarti darah orcnya keluar.
@DM
Saya baca cerita ini akhirnya konsen, bingung. Loh, kok balik lagi TIM? Kemaren kan udah di Bojonggede.
Lalu saya mampir ke blog seorang kawan.
Ouw.. ouw… i see…
Pas saya baca sekali lagi tulisan ini, suatu tokoh tertentu sudah merasuki pikiran saya mengisi pribadi Mayang. Apalagi pas yang ini:
“Ya, Yang…”
“Aku ingin kembali ke luar rasanya.”
“Kenapa…” tukasku berusaha tersenyum.
“Delayed empat puluh menit. Menyebalkan!”
Huahahahaha…. Cocok banget! Cocok banget ya…
“Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka mengkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ‘selamat pagi’ (Dee, Selagi Kau Lelap, Filosofi Kopi)” Ini kutipan yang amat bagus DM. Oh ya, aku bahkan berani cium istri biar habis bangun tidur…
Soal, penantian ini… semoga berakhir dengan indah di pelaminan ya…
suhadinet, terakhir menulis Jerami (7)
whalaaah….. gayane mas’e sangar ik !
*pojok kiri atas*
laksana wakil rakyat mikir proyek…
Wekekekekke….
@ goenoeng
bukan Bang….
itu foto ..gaya “Si Anisa ngapain yaaaaa?”
Bwuahuahuahauahuau
*kalo di pikir pikir..Dan..angle picture terbaik kamu itu…memang kalo tidak memperlihatkan wajah ya?*
*nungguin celaan balasan*
The spicy one, terakhir menulis Interesting. Tempting. What do you think?
Eit.., ni kak Daniel kalau Foto koq tangannya suka dilipat gitu sih, kayak kedinginan ja..
Trus lagi mikir apa tuh?
Nah, kalau tidak menunduk trus dagunya diangkat, agak dipalingkan dikit ke kamera, kayak yg kemaren pasti hasilnya bagus deh,
saat lihat, aku jadi bayangkan kak Daniel bilang gini
“ya Ampun..,bukunya koq jadi pindah di bawah sih, ulah siapa nih? Kemaren kan aku taroh atas”
trus berpikir siapa yg mindahin buku gitu
*tung!,tung!, dipentung kak Daniel*
tunggu, aku mau numpang ketawa dulu……..hahhahahahhahahah
dah, sekarang siap2 komentar….
cinta adalah jarak
ia membentangkan binar hingga ke kisi hati, tak terbatas
cinta adalah dekat
ia menukil hingga ke dinding hati, tak terusik
cinta bisa jauh dan bisa dekat
jadi cinta adalah angkot…:p
icha, terakhir menulis Berdialog dengan Kematian
Masih capek buat komentar, tapi ijinkan aku ketawa dulu… clue-mu sungguh, bikin aku senyum dan ngakak, gigi kelinci dan wherever…. Oalah Dan, apa yang bisa kubilang, selain, berhentilah dan menjadilah, Mayang nggak pegang one way ticket kan?.
*leyeh-leyeh sambil dengerin Have you seen the bright lily grow-nya Sting*
@Daniel: Percepat cerita dong, biar judulnya bisa ganti, temponya, Daniel temponya…eh malah berpikir keras dan difoto pulak. Kemeja merah? Oh great. Buku-buku itu membuat ngiler, dan raknya, terlihat “halus” dan rapi.
@Desya: Hallo Des, eh Say, eh Sya, beginilah jalan hidup travel engineer, bertemu jalan mulu hehehe berlebihan yak, kadang tiba di jalan tak ber-internet, jadi aku ketinggalan apa nih?
Yoga, terakhir menulis Tembok Penghalang
Pantes aja..
Doaku mudah sekali terkabulkan…
Mungkin karena kamu hobi menganiaya aku dengan celaan-celaan nggak pentingmu itu yaa…
Makasih lhooo…
Nggak nyangka kamu sebaik itu….
So,
apakah doa yang ingin segera terkabulkan itu, eh?
tiket ke Sumatera??? huihihi…
*duduk selonjoran di depan kulkas sambil nungguin cerita finalnya: The Waiting’s Finally Over*
Sweet & Spicy, terakhir menulis Interesting. Tempting. What do you think?
“Tapi kaca ini… kaca ini…” kutipan kalimat ini kayanya sering banget aku baca deh, dimana-mana di tiap tuliasan DM….
(gak copy paste kan?)
btw, haru, terhanyut deh…. tapi hidupmu juga bukan sandiwara toh?
g cape terus terkurung dalam tubuh yang membutuhkan istirahat lebih dari pada otak????
come on, dulu ada yang pernah bilang: kita bisa bohong ke orang lain, tapi g bisa bohong sama diri kita sendiri dan Tuhan, So…..
Ku kira, Karangampel tujuan terakhir. ;P (nakal ya… )
Huahahaha….
Aku pass saja berkomentar di sini, takut salah.
Menilik beberapa komentar yang ada, sepertinya orang-orang mengetahui sesuatu, tapi terlalu santun untuk tak menyuarakannya. Aku pun mendingan ikutan santun jugalah. *komentar@iseng.co.id*
Sori, Dab! Hanya komentar iseng saja. Jangan diambil hati, ya? Soalnya aku tiba kepagian di kantor, belum ada siapa-siapa. Daripada ngisengin setan toilet, mendingan ngisengin blogmu. Sek, aku lanjut baca yang lain lagi.
(Eh, kok malah komentarku panjang, bukannya tadi aku bilang pass saja? Oalah!)
aku merasa kehilangan saat ini. Adakah ini cinta?
Seorang aktor boleh jadi memerankan lakon gembira, tapi begitu turun pentas, wajahnya tampak berduka. Siapa yang bisa membohongi diri kita dari dunia…
Kehilangan nya hanya pada saat itu saja entah selanjutnya apakah merasakan kehilangan. 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun? apakah rasa kehilangan itu masih ada?
Semuanya tergantung pada waktu. seiring berjalan nya waktu rasa kehilangan itu akan hilang. tapi kita tidak tau sampai kapan rasa itu akan hilang.
@ikkyu_san
aaaaaaaaaahhhh kamu mengingatkanku pada cerita lama yang amat sulit kulupakan sampai saat inipun.
iya, sama tuh Tante.
@Juliach
Kalo berat, mengapa harus berpisah?
@DM
Sama Mas aq juga bingung jawab nya. Apa kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang?
anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan 2
Sepertinya tidak ada janji yang terucapkan ya? Jadi perpisahan itu tidak meninggalkan sebuah beban.
Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya.
fufufufuuuuu……..
Ditiap Kota meninggalkan kisah cinta nih mas dan ? hehehehehhehe
Wah lagunya Pas bener sang petualangnya Iwan Fals
Sang Petualang
Karya : Iwan Fals & Robin (Album Kantata Takwa 1990)
Laut biru begitu lapang
Dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang
Melihat diri untuk pergi lagi
Ya sejenak hanya sejenak
Ia membelai semua luka
Yang sekejap hanya sekejap
Ia merintih pada samudera
Sebebas camar engkau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap
Petualang merasa sunyi
Sendiri di hitam hari
Petualang jatuh terkapar
Namun semangatnya masih berkobar
Petualang merasa sepi / merasa sunyi
Sendiri dikelam hari
Petualang jatuh terkulai
Namun semangatnya bagai matahari
Sebebas camar engkau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap
Ya sang petualang terjaga
Ya sang petualang bergerak
Ya sang petualang terkapar
Ya sang petualang sendiri
ikutan ah…Mas DM…commentnya asyik-asyik…jadiin cerpen juga…hehehe…
buat Mas Suhadi…baru kutau u ternyata romantis juga..perasaan biasanya cuek banget…btw..tak mengecewakan ternyata temanku ini…
Mas DM…kapan2 set-nya di kalsel yach..
perasaan yang ada saat kita bersama orang yang kita cintai adalah perasaan “NYAMAN”.
joicehelena, terakhir menulis Konsentrasi pada Kebahagiaan