Petaka di Pantura
(The Waiting Is Almost Over: 09)
Apakah hidup seperti jazz? Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita hadapi. Kita tak pernah tahu ke mana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tidak selalu berjalan seperti kemauan kita
(Seno Gumira Ajidarma, Apakah Hidup Seperti Jazz?)
Aku sedang terombang-ambing di atas bis jurusan Jakarta-Cirebon. Selama di perjalanan rupanya aku tertidur. Matahari menyengat ketika aku bangun yang entah sudah berada di daerah mana. Kulihat ada seorang gadis muda duduk di sebelahku. Parasnya manis. Resam tubuhnya menarik. Usianya kutaksir antara 17 atau paling banter 20 tahun. Tapi matanya tampak sendu.
Mataku manyapu jalanan. Menerka-nerka di daerah mana bis sedang melata. Ketika sedang mencoba memperhatikan plang-plang pertokoan, tiba-tiba kudengar suara isak seseorang. Aku mencari arah suara itu. Rupanya si gadis di sebelahku tampak menangis menutupi wajahnya dengan tangan. Aku jadi bingung mesti berbuat apa. Mestikah aku menegurnya?
“Kenapa…?” tanyaku hati-hati.
Ia menggelengkan kepala.
Aku jadi serba salah. “Yakin nggak pa-pa?”
Kulihat bahunya makin berguncang. Aku jadi mengangkat bahu dan kembali memperhatikan plang-plang pertokoan, mencoba mencari tahu gerangan di daerah mana aku sekarang berada.
Tiba-tiba, “Kak…” panggil gadis muda itu masih menangis sesegukan.
“Ya?” cepat aku menoleh ke arahnya.
“Kakak mau ke mana?” tanyanya masih menangis tanpa menoleh ke arahku.
“Aku?” heran juga aku ditanya seperti itu. “Aku, aku mengikuti saja ke mana bis ini pergi.” jawabku asal. “Kenapa?”
“Emh…” ia masih saja terisak. Bibirnya yang mungil digigitnya. “Aku…” tangannya yang gemetar membuatku mengernyitkan dahi. “Sakit sekali, Kak…”
“Sakit?”
“Iya…” jawabnya terbata-bata.
“Kamu sedang sakit? Sakit apa?”
Ia tak menjawab. Hanya kudengar tangisnya makin menderas. Duh, ada apa ini, tanyaku dalam hati.
“Kamu perlu ke rumah sakit?”
Ia malah menangis sejadi-jadinya. Aku jadi bingung seribu ungkapan.
“Kalau kamu nggak cerita, bagaimana aku tau kamu sakit apa dan apa yang kamu butuhkan?”
“Aku…” ia mencoba bicara meski terbata-bata. “Aku… Aku keguguran, Kak…”
What?! Aku terbelalak. Keguguran?! Lantas? Lantas apa yang mesti kulakukan kini? Haduh!
“Kamu butuh rumah sakit, atau…”
“Aku nggak tau, Kak…”
Ya ampun. Gadis muda ini jelas hanya seseorang yang duduk di bangku kosong di sebelahku ketika aku tertidur. Tapi bagaimana mungkin aku membiarkan orang yang sedang kesakitan seperti sekarang ini. Sementara itu aku masih belum lagi tahu apa yang mesti kulakukan.
“Kamu butuh rumah sakit? Kita ke rumah sakit ya?” aku memanggil kondektur bis dan minta diturunkan di rumah sakit terdekat.
“Paling nanti di Karangampel, Kang.” jawab si kondektur.
Ouw, rupanya ini belum lagi masuk Karangampel.
“Oke. Nanti kita turun di rumah sakit ya. Wajahmu pucat sekali. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa.” ujarku mencoba menenangkan.
“Tolong aku, Kak…”
“Iya-iya. Tahan dulu ya.”
Kutanya lagi pada kondektur kira-kira berapa lama lagi rumah sakit terdekat berada.
“Bagaimana ceritanya?”
“Aku habis menggugurkan kandungan…”
What?!! Ya Tuhan. Apa yang sedang kuhadapi ini? Mataku bukan lagi terbelalak, tapi sudah menatapnya tak berkedip. Hingga akhirnya aku bisa menarik nafas. Dalam hati aku mencoba berpikir tenang. Oke, Dan. Tenang Dan. Jangan dulu mendesaknya soal kronologis kejadian. Saat ini yang paling utama adalah menolong kondisinya. Namun tanpa kuminta, sembari terisak ia mulai bercerita apa yang sedang menimpa dirinya.
Usianya 18 tahun. Ia hamil nyaris 6 bulan hasil hubungan dengan pacarnya yang sebaya. Bulan pertama dan kedua mereka masih bingung bagaimana menghadapi dirinya yang tengah positif hamil. Tubuhnya yang mungil memang membuat kehamilannya tak begitu kentara. Mereka kalut dan bingung. Mereka mencari informasi ke sana ke mari soal bagaimana cara menggugurkan kandungan.
Akhirnya, dengan susah payah, hasil berburu tanya sana-sini, mereka menemukan seorang bidan di daerah Subang. Namun karena usia kandungan si gadis sudah mendekati angka 6, sang bidan tak mau sembarangan memberikan tarif murah untuk biaya pengguguran. Resikonya terlalu besar. Nyawa si ibu bukan tak mungkin melayang.
Sang bidan memasang angka 3 juta perak untuk biaya pembunuhan. Kedua remaja itu tercekat. Dari mana uang tiga juta. Mereka hanya mengantungi uang satu setengah juta dari hasil pinjam sana sini. Sang bidan tak mau mengambil resiko. “Satu setengah juta sih untuk usia kandungan dua atau tiga bulan. Tapi ini?” ujar sang bidan.
Akhirnya tarif bisa turun hingga dua setengah. Si remaja pria menyerahkan uang satu setengah yang mereka bawa, sisanya yang satu juta akan ia usahakan hari itu juga. Jaminannya, sepeda motor mereka mesti ditinggal di sana.
Si gadis dibawa masuk ke sebuah kamar di rumah sang bidan yang letaknya di pelosok kampung. Ia disuruh minum sebuah pil. Perut si gadis ditekan-tekan. Si gadis meringis menahan sakit. Kemudian, dengan alat tertentu, sang bidan memasukkan benang ke dalam kemaluan si gadis. Setelah itu si gadis tidak tahu lagi apa yang dilakukan sang bidan.
Begitu selesai, si bidan mewanti-wanti: kalau perut si gadis sudah mulai terasa mulas dan menuju kontraksi, benang itu boleh ditarik, tapi hati-hati, karena dari perut gadis itu bakal keluar jabang bayi. Si gadis hanya bisa menggigit bibir tak mengerti dan bingung membayangkan bagaimana mungkin mesti mengeluarkan seorang bayi dari dalam perutnya.
Mereka boleh meninggalkan rumah sang bidan. Di tengah jalan mereka sepakat untuk berpisah sementara. Si remaja pria mesti mencari uang sisa pembayaran ongkos pengguguran. Si gadis setuju untuk pulang saja ke rumahnya. Dan di bis ini lah aku bertemu dengan si gadis.
Duh, apa yang sedang kuhadapi. Kenapa aku mesti bertemu dengan seorang gadis yang baru saja melakukan pengguguran kandungan. Mengapa mesti aku… Duh!
Di depan sana kondektur bis mulai berteriak, “Rumah sakit… Rumah sakit…”. Aku berdiri dan menuntun gadis itu turun. Ransel di punggungku. Kurasakan tangan gadis itu bergetar. Jalannya tertatih. Baru kuinsafi: perut gadis itu memang tampak sedikit membuncit. Kubawa ia ke bagian UGD (Unit Gawat Darurat).
“Namanya?” tanya petugas rumah sakit itu saat aku menghampiri bagian pendaftarkan pasien.
“Namanya? tanyaku balik bertanya.
“Iya, nama istri Bapak siapa?”
Istri? Sialan! Dan, duh! baru kusadari: aku belum lagi mengetahui namanya.
Kami berjalan menuju ruang dokter kandungan. Kulihat tubuh si gadis makin gemetar dan wajahnya pucat. Tak lama kami diperbolehkan masuk. Dokter pria itu tersenyum dan mulai tanya ini itu. Namun itu tak berlangsung lama. Dokter pria itu terbelalak ketika selesai memeriksa. Aku menerangkan sebisanya. Sang dokter memahami agar saat ini lebih mengutamakan kondisi si gadis ketimbang bicara soal kronologis kejadian.
“Tapi mesti sekarang.” ujar dokter pria itu. “Ketubannya sudah pecah.”
Ya ampun. Apa yang sedang menimpa diriku ini.
Aku diminta mendaftar untuk persalinan. God! Kubuka dompetku. Apa cukup? Duh! Aku mesti mengontak orangtua si gadis. Ini soal hidup dan mati. Bukan soal biaya persalinan. Kulihat si gadis sudah disorong seorang suster dengan kursi roda. Aku mendekatinya.
“Aku butuh kontak orangtuamu.”
“Kak…”
“Percaya sama Kakak. Semua akan baik-baik saja. Pikirkan kondisimu. Jangan pikirkan kemarahan orangtuamu. Kakak akan bicara nanti.”
“Tapi, Kak…”
“Percaya sama Kakak. Beri nomor kontak orangtuamu.”
Awalnya si gadis tampak ragu. Tapi dengan cepat kuraih handphone-nya. Mencoba mencari nomor telpon rumahnya. Tapi pertama-tama yang mesti kuselesaikan adalah administrasi persalinan. Agar si gadis cepat diberi pertolongan.
Setelah urusan pendaftaran selesai dan si gadis disorong ke ruang persalinan, aku diminta suster menunggu di luar ruang bersalin. Kugeletakkan ranselku di lantai. Aku mulai kalut. Kulihat beberapa pria tersenyum melihat kegelisahanku. “Anak pertama, Kang?” tanya seorang bapak. Sialan! batinku mengumpat.
Dengan ragu kutelpon rumah orangtua si gadis. Duh, aku mesti berkata apa?
Dengan hati-hati aku mulai menceritakan kronologis kejadian sebisaku. Siapa nyana, ayah si gadis berang dan membentak-bentak aku. Aku merasa ada gelagat kurang baik. Tapi aku tetap meminta beliau untuk segera datang ke rumah sakit.
Huh! Sebetulnya aku bisa saja kabur dan meneruskan perjalananku ke Cirebon. Toh tinggal beberapa kilometer saja. Tapi bisa-bisa aku dicap bandit dan itu akan menghambat rencana perjalananku ke depan. Kuputuskan tetap menunggu orangtua si gadis di teras ruang bersalin.
Tak lama datang seorang bapak didampingi seorang perempuan. Tentu istrinya. Namun di belakang mereka tampak segerombolan pemuda dengan wajah tidak bersahabatan. Sudah sejak kali pertama melihat, aku merasa ada gelagat kurang baik.
“Siapa yang membawa anak saya Diana ke mari?!!” tanya bapak itu kasar.
Aku berdiri menghampiri bapak itu. “Saya, Pak. Mari kita bicara dulu. Anak bapak ada di dalam.” ujarku baik-baik.
“Kamu?!!!” bentak bapak itu murka. Sontak ia mencengkeram kerahku. Menyeretku ke pojokan ruang. Kulihat pemuda-pemuda dengan tampang tak bersahabat itu mulai mendekat. Mati aku!
Tanpa kuduga sama sekali: aku dikeroyok. Posisi ranselku terlalu jauh untuk kujadikan tameng. Aku bertahan sebisanya. Tak pelak sebuah pukulan sampai juga ke wajahku. BEKH!!! Aku terhuyung memegangi wajah. Linu rasanya. Melihat keramaian seperti itu, beberapa satpam rumah sakit segera berlari mendekat. Melerai dan memisah adegan keroyokan. Tapi linu di wajahku tak lantas sirna karenanya.
Kami dibawa ke sebuah ruang. Beberapa satpam, pengurus rumah sakit, para pemuda dan ayah si gadis ada di sana. Aku mencoba menerangkan sebisa mungkin. Bapak itu masih saja tak terima dan menyangka aku lah lelaki yang mesti bertanggung jawab atas apa yang menimpa anaknya.
Tak kukira, tiga orang polisi masuk ke ruangan. Duh, tambah rumit saja ini, batinku tergeragap. Polisi itu mulai menginterogasi aku. Aku mencoba menjelaskan duduk perkara sekuat pikiran. Identitas diriku diperiksa. Buku catatan harianku dibongkar. Ranselku digeledah.
Kutunjukkan tiket bis jurusan Jakarta-Cirebon dari dalam kantung kemeja kotak-kotakku. Di sana jelas terdapat coretan spidol terminal asal aku berangkat dan kota tujuanku. Setelah seluruh keadaanku diperiksa, mendengar keteranganku, juga keterangan ayah si gadis, seorang polisi menarik nafas dan angkat bicara.
“Adik ini tak salah.” ujarnya pada semua yang hadir di ruangan itu.
Aku menghela nafas. Aku menatap langit-langit ruangan.
Tiba-tiba ayah si gadis mendekati aku. Memohon maaf sedemikan rupa. Aku jadi merasa tak enak. Tak lama pemuda-pemuda itu pun merubungku serta menyodorkan tangan meminta maaf.
“Sebaiknya kita lihat kondisi Diana, Pak.” usulku. Si bapak setuju.
Seperti sudah diduga, bayi si gadis tak dapat ditolong. Riwayat si gadis sendiri selamat. Ibu si gadis sesegukan di dada suaminya. Semua yang hadir merasa tercekat. Aku menengadah memandang langit-langit ruangan.
Aku merasa urusanku sudah selesai. Rasanya si gadis sudah berada di tempat yang semestinya. Aku minta diri untuk pamit. Si bapak mati-matian berusaha menahanku serta menawarkan rumahnya untuk menginap atau istirahat.
Dengan halus kutolak tawarannya. Aku berusaha tersenyum, mengucapkan terima kasih atas kebaikannya, namun bersikeras tetap mesti melanjutkan perjalanan. Akhirnya si bapak bisa memaklumi. Ia mengeluarkan dompet dan menyodorkan sejumlah uang kepadaku sebagai ganti biaya persalinan tadi. Aku hanya mengambil sejumlah uang yang sudah kukeluarkan serta mengembalikan sisa kelebihannya.
“Ambil saja, Dik. Buat di perjalanan.”
Lagi-lagi kutolak dengan halus kebaikannya. Aku mohon diri. Kusempatkan sejenak menjenguk si gadis yang masih berbaring di dalam. Namun melihat posisinya yang baru saja melahirkan, aku urung masuk ke dalam ruangan.
“Biar kami antar, Kang.” pemuda-pemuda yang tadi mengeroyokku menawarkan diri hendak mengantar.
“Makasih. Nggak usah, Kang.” aku berusaha tersenyum.
Aku menggendong ransel dan mulai menyeret langkah ke luar rumah sakit. Sebuah bis berhenti, aku meloncat ke dalam dan duduk di dekat jendela.
Kusenderkan wajahku pada kaca bis. Linu di wajah masih terasa nyeri bekas pukulan pemuda yang tadi tak sempat kuhindari. Aku menghela nafas.
Hari mulai gelap. Bis mulai melewati kota Cirebon. Aku merasa ragu untuk turun di kota. Kubiarkan bis membawaku ke terminal di ujung kota. Aku belum lagi tahu hendak melangkahkan kaki ke mana kali ini. Dan baru kuinsafi, seharian ini aku belum lagi makan.
Pada sebuah jarak tiba-tiba bis berhenti. Seorang gadis berparas cantik naik dan duduk di bangku sebelahku yang kosong. Aku menggeser badan dan melihat ke arahnya. Tapi dengan cepat kupalingkan wajah dan kembali melihat jalanan. “Huh!” ucapku menghela nafas.
26 Januari 2009 | 20.45 wib


Ternyata ada juga guna menyimpan tiket ya… hehehe
Baru seru nih ceritanya.
Sex before marriage. Fenomena ini patut diberikan keprihatinan. Tengok data-data yang sering diulas oleh mass media yang berkaitan dengan ini. Benar-benar menakutkan. Bahkan pada kota kabupaten kecil sekalipun. Pendidikan tentang kesehatan seks yang tepat dan benar diperlukan sekali masuk dalam kurikulum sekolah, sehingga pengetahuan diluar yang menyesatkan bisa diblok.
Pada kasus seperti ini selalu remaja putri yang jadi korban…… Jika proses pengguguran ini (baca : pembunuhan) tidak berlangsung baik, nyawa sang gadis bisa-bisa melayang. Fenomena ini seperti gunung es hanya sedikit sekali yang terungkap diantara ribuan kasus yang ada. Tak ada lain, diperlukan sangu remaja putri dengan pegangan agama yang baik yang punya sikap berani menolak hal-hal yang dianggapnya tidak boleh dilakukan bahkan terhadap orang yang dicintainya sekalipun.
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
@ hai Yoga pa kabar. Gimana Ibu? udah kauajak putar2 kota Jakarta. Jangan ditinggal kerja terus… hehehe
@ mas Niel : sorry, gak tahan nyapa Yoga niy,,,, sorry numpang ruangannya
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
Dan, awalnya kupikir kau akan cerita tentang kecelakaan bis yang masuk jurang kemarin itu. Gak sengaja aku lihat TV di “jalan” pas ada berita siang, tentang itu, dilanjut berita MUI telah mengharamkan merokok di tempat umum, dan di depan ibu hamil serta anak kecil. Jadi Dan, mulai sekarang pilih-pilih tempat, kalau merokok. Eh, kamu merokok nggak Dan?
Hehehe sorry OOT. Kenapa melengos pas ada yang baru duduk di sebelahmu? Nggak sopan tahu. Hehehe…
Yoga, terakhir menulis Tembok Penghalang
Emh dari alur ceritanya…..biasanya proses pengguguran itu dilakukan sampai selesai. Bidan tidak akan mengambil resiko untuk meninggalkan perempuan itu sendirian melahirkan bayinya. Agak riskan ketahuan. Tindakan memijat dan mengurut secara lerlebihan supaya sang jabang bayi lahir sebelum waktunya merupakan trauma pada ibu hamil dan biasanya diikuti dengan resiko perdarahan.
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
@Prameswari: Baik Nung… Ibuku? Putar-putar Jakarta? Aya aya wae hihihihi
Yoga, terakhir menulis Tembok Penghalang
melas neman tokoh akune. sdh dibikin mumet si perempuan, dipanggil sbg suami di rs, lalu dibonyokin. duh, nggak bisa mbayangin deh….
cerita apik mas daniel.
endingnya juga bagus mas. cerita siap berlanjut
Zulmasri, terakhir menulis MATAHARI BUKIT SENGARE
Wah, tragedi yang terlalu sering dimainkan oleh manusia muda.
dana, terakhir menulis Lobi Yahudi
Numpang baca dulu…komentarnya minggu depan ya….
Mau jalan-jalan dulu ke Lembang
ceritanya seru! suka! tapi kok…? hmm… ya, terserah penulis, dong?
kacian ci goniel kena pukul wajahnya. makin jelek dong ya?
eh, bukan si DM yang dipukul, ya? si dan maksudnya.
whichever, kalau wajah kena pukul teteup tidak akan bikin seseorang makin cakep, apalagi kalau aslinya memang nggak cakep.
jadi setelah ketemu cewek secakep mayang (*dipentung*), cewek cakep lain dilengosin aja sama si dan, gitu? *dipentung lagi*
(idih, kok mentung mulu sih? emangnya aku salah apa?)
nah, seringkali niat baik tak selalu dinilai dan direspon dengan semestinya. tapi cerita ini memang keren, mengangkat berbagai fenomena sosial, sarat pesan. kapan dibukukan? *hayah!*
ditunggu kelanjutannya, bung DM!
bukan bidan, terakhir menulis My Sister’s Keeper: Kisah Seorang Anak “Ladang Organ”
seks bebas! DAN akhirnya ikut merasakan akibatnya. Tapi gak sakit lagi kan?
suhadinet, terakhir menulis Soal UN 2009 (Kisi-Kisi dan POS)
trauma ya bang sama penumpang perempuan yang duduk di bangku sebelah, makanya bang DM memalingkan wajah..
omoshiroi, terakhir menulis Mahasiswa Oh Mahasiswa
Alinea terakhir : Bencong yaaaaaaa?!
BAB ini nih yang ceritanya paling seru, bisa bikin emosiku naik turun…yang sebelum-sebelumnya hmmmm aku agak-agak bosen gituh bacanya hehehehehehehehe…ayo mas lanjutannya!
memang harus hati-hati pada makhluk cantik…
apalagi kalau jelmaan setan hihihi
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Aku Ingin Pergi JAUUUHHH
Ya ampun kasian banget sich…
Trus koq mlengos?? ada cewek cantik,lho… trauma ya???
Retie, terakhir menulis MAAFKAN AKU HARUS PERGI…..
Oooo pantes koq fotonya di ganti sedang berpangku tangan gitu
Trus sekarang wajahnya masih ngilu ga,bang?
ceritanya sedih dan bikin anisa menangis mas mahendra……
apalagi tentang mas yang dipukul ituh…
ko tega-teganya yaaaa….. padahal anisa tau mas mahendra tuh orangnya baik banget kan terbukti di cerita ini mas mahendra nolongin cewek itu kalau ngak di tolong mungkin perempuan itu sudah mati.
memang sering kali orang tidak menghargai niat baik seseorang ya mas???
kalau anisa sih sering tanya dulu yang jelas baru memutuskan apa yang bakal anisa pikir tentang orang itu baik atau buruk.
sebagai manusia kita kan ngak boleh menjudge orang sebelum jelas duduk persoalannya kan maaass……
sekarnag gimana wajah mas mahendra apa masih sakit??? tapi anisa yakin mas mahendra tetap tampan……. hehehehe……
Lebay banget judulnya Petaka di Pantura… Saya kira kena malapetaka macam apa, Aih..aih… si mas Mahendra ternyata dipukul orang.
Cekit ya…
Gak papa, cowo gitu. Kalo ada bekas lukanya jadi tambah keren. Daripada manis udah kayak boyband, he… Cowo mah gak keren kalo manis.
Judul selanjutnya apa? Elegi dalam Semburat Bianglala?
Tapi, seru juga tuh bokapnya anak yang ngegugurin kandungan, hajar dulu baru tanya. Pasti dia seorang ayah yang terpuji dan mendidik anaknya dengan nilai-niali yang baik.
Nah..nah..nah, kan. Dan itu playboy. Baru sampe Jakarta saja udah 3 cewe:
1. Nyang ditinggalin di sebuah Cafe
2. Nyang ketemuan di kansas
3. Nyang diajak nonton teater dan cewenya pergi.
Nah, ini, ada lagi yang keguguran ditengah jalan sama yang baru duduk di sebelah. Biarpyun ngelengos, siapa tau kisah selanjutnya akrab.
AL, terakhir menulis Musuh-Musuh Batman II: The Penguin, Riddler, Mr. Freeze, dan Ra’s al Ghul
Juujr, saya penasaran, ini kisah nyata 100%, atau kisah nyata sekian persen fiktif sekian persen, atau fiktif 100%? Hehehe … jangan marah Mas DM, soalnya ceritanya tragis banget. Endingnya juga tragis : dijejerin gadis cantik lagi … (halah, gadis cantik kok ada dimana-mana ya?)
Tuti Nonka, terakhir menulis Melon Berusia 2 Tahun
Duh,,,sombong nya…..padahal mau tak ajak kenalan eh malah melengos…
Hmmm…
Semuanya tiba-tiba tidak sesuai dengan perkiraannya.
Chaos Theory.
Sudah pernah lihat film itu, Mbret?
Komentar rada pinternya nanti aja, ya…
Lala, terakhir menulis Stop Playing God
@AL
nah, ada yg sepakat ni. Dan, adalah seorang playboy.
@Anisa
bener ya, Anisa. kasihan Mas Mahendra, mosok orang baik banget diperlakukan begitu. oh, kejam nian… untung Mas Mahendra tetep tampan.
@DM
Dan, enak bener si Dan ini. setiap saat, setiap waktu, ketemunya cewek cantiiiik melulu.
‘hidup adalah improvisasi’, aku pernah berkata dan berbincang2 tentang itu dengan kawan2ku. sudah lama sekali, aku ingat betul, sekitar tahun 2000-an. kami berbincang sampai jam 2 atau setengah 3 malam (atau pagi ?), di rumahku sambil menghabiskan bercangkir kopi dan ketela goreng yang dibuat istriku. sambil seorang teman, genjrang genjreng dengan gitarku yg tak pernah kusentuh (karena nggak bisa memainkan, haha). bagaimana kami seolah menunggang air atau menunggang angin. kemudian mengalun begitu saja, menuruti alur2 yg ada di depan. improvisasi, karena harus menyikapi apa yg ada di depan hiidung, apa yg dihirup, ngeles sebisa mungkin. begitulah….
eh, ternyata, unen2 itu adalah perkataan Seno Gumira Ajidarma. walaupun nggak sama persis. jujur, aku bahkan baru tahu namanya sekarang. sungguh katrok diriku…
Kalo aku Dan…
setelah menolong si cewek itu ….
instead of kasih duit …aku kasih dia pengaman dengan merek Du**X..yang ada tulisan extra safenya….gituhhh….
anyway….
ini menjelaskan kenapa di foto mukanya nunduk dan tidak terlihat gituh….
masih bengep ya
The spicy one, terakhir menulis Interesting. Tempting. What do you think?
kalo perlu…bilang sama dia….
“cowokmu suruh pake double ya…”
wekekekekek
The spicy one, terakhir menulis Interesting. Tempting. What do you think?
Hahahahaaa…., jadi ini toh ceritanya kemarin tanya2. Yang jelas, di karangampel g ada rmah sakit tau…. xixixixixiii…..
setuju sama pemberi komentar no.2
ini seru! S-E-R-U!!!
mascayo, terakhir menulis Harta Karun itu
Kenapa melengos melihat cewek cantik pada akhir cerita?
mengingatkan pada seseorang?
*kedip-kedip*
*menunggu cerita selanjutnya*
*Si Manis di Bis Jurusan Pantura?*
tanti, terakhir menulis Aduh…. Lupa !!
bagian ini mantep bener…mas DM mulai nyelipin isue sosial..bagus…aku ngerasa lama-lama ini bukan sekedar cerita perjalanan biasa aja, tapi juga mulai menyentuh ranah sosial yang paling up to date…lanjutttttttttttttttttttttttttt
imoe, terakhir menulis …dari padang untuk selamatkan anak dari bahaya tembakau…
“ooo… jadi itu tadi mas-mas kucel yang digebukin di pojokan itu bang Dan tho, kirain copet ketangkep”..
*berasa ada di TKP*
omoshiroi, terakhir menulis Nyewa Film bag. 1
Desya kemana ya?
Des…
Say….
AL, terakhir menulis Bapak-Bapak
“Seorang gadis berparas cantik naik dan duduk di bangku sebelahku yang kosong. Aku menggeser badan dan melihat ke arahnya. Tapi dengan cepat kupalingkan wajah dan kembali melihat jalanan. “Huh!” ucapku menghela nafas”.
ini memang kisahnya selesai di sini atau terusannya kena sensor ni bang?
kan bisa aja ketika memalingkan wajah itu sang tokoh sibuk berfikir cara untuk mengajak berkenalan. dan ketika mengucap “Huh”, adalah sang tokoh menegaskan tekadnya untuk berkenalan. dan setelahnya perkenalan pun terjadi.
omoshiroi, terakhir menulis Nyewa Film bag. 1
inilah potret generasi muda kita saat ini bang. dasyat dan ini kenyataan. dan memang pahit.
omoshiroi, terakhir menulis Nyewa Film bag. 1
kan bisa aja ketika memalingkan wajah itu sang tokoh sibuk berfikir cara untuk mengajak berkenalan. dan ketika mengucap “Huh”, adalah sang tokoh menegaskan tekadnya untuk berkenalan. dan setelahnya perkenalan pun terjadi.
salah omoshiroi… huh itu sesudah perkenalan (sapa pertama deh) terjadi dan si gadis cantik tidak menjawab hihihi
bener kata Yug dan mascayo… seru nih… aku aja ngga biasanya komentar dua kali di satu posting hahhaha
Wow! Seru banget! Aku serem banget pas baca bagian si gadis pergi ke bidan. Hii, ngeri, Mas DM. Masih kebawa ngeri sampe sekarang, ni. Semoga ntar ga kebayang-bayang, deh.
whahaha… kok masih ingat Winnetou dan Old Shatterhand ta, Dan ?
ck, tahun berapa aku baca itu ya ?
*sambil menghisap pipa perdamaian. howgh ! *
Wah, aku sudah ketinggalan banyak ceritamu, nih!
Jadi sekarang sudah di Cirebon ya, Dan?
Jujur saja, fiksimu bagus dan cara kau meramu tulisan-tulisanmu dalam satu serial cerpen ini menarik, Dan! (Aku jadi kesusahan sendiri memanggilmu, seolah-olah jadi seperti memanggil tokohmu. Baiklah, aku akan memanggilmu DM saja mulai sekarang)
Metode seperti ini tidak lazim di blog, tapi bagi penyuka fiksi dan gaya bercerita yang ringan, cara ini lebih gampang dinikmati. Cerita yang kau suguhkan juga sarat muatan, seperti kontainer di pelabuhan Priok. Hehe…
Teruslah berkarya, Sobat! Aku akan mencoba mengejar ketinggalanku.
(Pssttt… sekali lagi ketemu perempuan cantik, sisakan satu buatku, ya?)
DM: Lha, itu kamu tho? Kok nggak bilaaannnggg…
(Kok bisa anak Kebon Jeruk nyasar-nyasar ke Cirebon segala? He-he).
Lagi nyari wangsit buat jadi dukun beranak.
Seru ceritanya. =)
Rian Xavier, terakhir menulis Tips memilih Hape
dah lama ga min kesini langsung dapat ceriat yg bagus bgt ……
klo ky dalam posisi itu gmn yah….pasti bingung mau bntu apa ga…..heheheheh
manatap bang…..
dtunggu crt2 yg serupa …….:)
ricnes, terakhir menulis Bahagia campur Sedih neh….
fufufufuuuuuuu…… Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………
(dalam kepalaku banyak komentar usil, tapi nanti ditimpukin lagi….) =D
japri kan g seru…..
gimana rasanya bolak-balik di Karangampel? kena becek, bau pasar, gelap gulita, nah ini nih, tikus yang g kira2 gedenya? Hahahahaaaa……
Masa baru kunjungan ke (berapa ya….) uah nyerah…. ;P
kisah remaja seperti ini mengingatkanku pada beberapa kasus di balik ruang praktek, goniel. dari sekian banyak, satu yang masih kuingat betul karena aku seperti bisa merasakan kegaduhan si remaja putri yang duduk di hadapanku. aku tau bagaimana dia musti menelan semua rasa malunya untuk bercerita, menunggu jawabanku dengan gelisah, mengharapkan jawaban kenapa ia terlambat haid, tapi tentunya buka vonis hamil yang dia nanti.
aku ingat aku bertanya, “kenapa kamu yakin sekali kamu tidak hamil? kamu sudah pernah berhubungan intim, kan?” aku belum mengabarkan hasil labnya waktu itu: dia positif hamil. dan jawabannya bikin aku geli sekaligus prihatin, “iya, sih, dok. tapi kan hanya beberapa kali.” waktu aku tanya beberapa kali itu pastinya berapa kali, dia malu-malu bilang, “lima kali.”
nah, begitulah. aku tidak tahu kemana remaja putri itu pergi setelah mendapat vonisku. yang pasti aku tercenung lama setelah itu. bisa jadi dia pergi mencari seorang bidan atau dukun untuk menyelesaikan masalahnya.
marsh, terakhir menulis My Sister’s Keeper: Kisah Seorang Anak “Ladang Organ”
Kasian Diana, huhuhu..
Btw, rada bingung dhe. Kandungannya si Diana bukannya udah digugurkan di bidan? Kenapa pas di rumah sakit dibilang mau melahirkan?
*bingung*
Yaaah, ketinggalan deh, dapet yang ke 44
@AL
tante, apa kabar? Dah sehat benar kan?
@big miaauuuwww
ceritanya seru kak, wah, jadi meong besar kena pukulan nih..
Ada hikmah yang bisa kita ambil dari cerita kakak, benar kata mama, kalau aku harus selalu berhati-hati, untung saja ku belom pernah sekalipun pacaran, ternyata menakutkan..
Tapi kenyataannya banyak kasus seperti itu ya kak, ku pernah baca di koran
@untuk semua cewek
kalian harus jadikan cerita itu sebagai pelajaran yg berharga, kalau bisa latihan bela diri saja, agar bisa terlindung dari bahaya
@untuk semua cowok
lindungi dan jaga kami para perempuan, ingatlah ibu kalian jika mau berbuat jahat
@bunda enny
bunda, ikut dunk, ah jadi sendirian, mama juga pergi hiks..
Waduh! Ternyata yg ke 45, padahal aku tinggal kasih makan putih sebentar..
@indah
mbak Indah, bingung ya? Baca lagi aja, tuh yang ada kata benang ditarik tuh..
Masih kebayang-bayang ni, Mas DM..
Tapi gapapa, kok. Aku emang sering ga tahan kalo denger cerita begituan. Denger cerita orang melahirkan aja udah pucet, apalagi yang beginian. Huwa.. Suerem buanget. Kayaknya ga akan pernah aku baca ulang deh, postingan yang ini. Hehe, maaf kalo lebay.
Ohya, titip pesan buat Daniel ya, Mas DM. Ati-ati banyak copet berkeliaran di bis-bis, terminal, dsb. Tetap waspada dimana pun berada.
fairuzdarin, terakhir menulis Pandangi Langit
salam hormat kang DM
nek coro jowo ora mangan nongko keno pulute ( apes )
aku kembali berfikir betapa kesabaran sampean tetep terjaga selama itu jika mungkin saya sudah nggak mampu lagi menahan emosi , lha bisa bisa setelah di perjelas kita oleh polisi , balik kita yang mukul tadi hahaha,
tapi kemaafan sampean luar biasa
kejadian ini merupakan ladang kemakrifatan buat saya
salam kangen kang DM
genthokelir, terakhir menulis Menulis Tanpa Berguru
Terkadang niat baik malah disalahartikan. Dan akhirnya yang kesulitan kita sendiri. Bayangkan juga misalnya jika kita mau menolong orang dari kejahatan, malah nanti kita sendiri yang dapat permasalahan. Benar-benar buah simalakama. Mungkin yang terbaik memang mengajak orang lain kalau ada untuk menolong seseorang tersebut. Bukan untuk apa2, tetapi untuk membantu kita jikalau ada kesalahan atau minimal sebagai saksi agar tidak menemui kesulitan2 seperti cerita di atas (cerita di atas untung dia menyimpan sobekan karcis)
Yari NK, terakhir menulis Beginilah Kalau Menjelang Pemilu…….
hmm,, jadi inget waktu backpack sendiri di cina dulu..
ga ada yang aneh2 bung daniel sih,, cuman waktu itu sempet ketemu cewek yang ngajakin nginep di rumahnya.. beuh,, pasti ngajakin ‘begituan’ deh.. jadinya, langsung kabur ajee..
Billy Koesoemadinata, terakhir menulis Perjalanan Hidup (8) – Menghadapi Dunia Kerja
Gosip berhembus, kemarin ada yang abis ketemuan ya..?
Cihuyyyy… :*
DV, terakhir menulis Diinterview Tunggonono
Mas Semakin Membaca aku semakin teringat akan ROY,ga pernah tidak untuk “ikut campur urusan orang” dalam arti tidak bisa membiarkan orang lain menderita meski akhirnya dirinya sendiri yang menderita.
Maaf mas DM jika aku terlalu menghubungkan dg ROY.
Dan Aku yakin,kisah selanjutnya masih akan berlanjut,tentang perjalanan,tentang ke pahlawanan dan kisah2 lain. aku tunggu mas kisahnya.
@DV
lhah, ternyata tenan dugaanku, Don. tinggal nunggu kepastian di infotainment.
yoook, gosip dilanzuuut….
Mas. kadang-kadang memang kita seperti dipilih untuk mengalami hal itu.. Selamat karena terpilih dan menang…
ernalilis, terakhir menulis Stress…? Ayo tetap senyum dong…!
Jadi orang baik tuh…selalu banyak ujian…
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
he he he….ceritanya asyik bgt..salut.
Aku suka endingnya … yang membuang muka itu …
So the learning is …
Kalo lagi naik Bis di jalur Pantura …
Dan tiba-tiba disebelah anda, duduk seorang Gadis yang sedih …
Hati-hati … siapa tau dia habis menggugurkan kandungannya
(or “something” like that …)
Bukan Begitu Mas Dan ???
nh18, terakhir menulis MANDI HUJAN
wah…. *speechless*
ku share ke temen2 nih mas DM… ini bener2 cerita yg sedih kalo dari kacamataku… ngebayangin sakitnya si gadis…
carra, terakhir menulis Njek…Injek…
Haa bagian emotional dimana sang bapak dengan gelagat ga baik dan pemuda-pemuda itu… sungguh sangat tipikal orang Indonesia
Saya juga begitu kali, kalo punya anak dalam kondisi seperti itu
Nice story
Eru, terakhir menulis Life Lessons #1 ~ On the Brink Of Death
duh, ini mungkin salah satu risiko yang meti dihadapi seorang petualang, mas daniel. untung mas daniel tipe orang yang baik dan penyabar. sudah diperlakukan seperti itu sudah berlapang dada memaafkan mereka. memang orang yang ndak paham duduk persoalannya, seringkalu main hantam kromo aja. sebuah pengalaman petualangan yang memberikan banyak hikmah. syukurlah, mas daniel ndak kenapa2. selamat berkelana.
Nggak tahu juga kalau aku dalam posisi seperti itu. Mau nolong nggak ya? Kalau ikut kata hati sih harusnya langsung menolong si gadis. Tapi kalau tahu risiko digebukin, kayaknya nggak jadi nolong deh…Idih, jadi cowok nggak banget ya gue. He he…
weitss… kok mau2nya dipukulin..
Hajar aja, paklik.. hajaaar…!
puantes kok klo dibales.. lha dia juga berbicara dengan tangan duluan.. padahal kan masi mending anaknya udah ditolong..
berkatalah si Dan pada Bapak2 ringan tangan yang kini penuh penyesalan itu..
“luka hati ini takkan sembuh hanya dengan kata maaf Pak..”
– malah jadi memanas2i, hehe.. –
narpen, terakhir menulis Laperan