penganyamkata.net
current   |   rss

Petaka di Pantura

Published January 27, 2009

(The Waiting Is Almost Over: 09)

Apakah hidup seperti jazz? Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita hadapi. Kita tak pernah tahu ke mana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tidak selalu berjalan seperti kemauan kita
(Seno Gumira Ajidarma, Apakah Hidup Seperti Jazz?)

Aku sedang terombang-ambing di atas bis jurusan Jakarta-Cirebon. Selama di perjalanan rupanya aku tertidur. Matahari menyengat ketika aku bangun yang entah sudah berada di daerah mana. Kulihat ada seorang gadis muda duduk di sebelahku. Parasnya manis. Resam tubuhnya menarik. Usianya kutaksir antara 17 atau paling banter 20 tahun. Tapi matanya tampak sendu.

Mataku manyapu jalanan. Menerka-nerka di daerah mana bis sedang melata. Ketika sedang mencoba memperhatikan plang-plang pertokoan, tiba-tiba kudengar suara isak seseorang. Aku mencari arah suara itu. Rupanya si gadis di sebelahku tampak menangis menutupi wajahnya dengan tangan. Aku jadi bingung mesti berbuat apa. Mestikah aku menegurnya?

“Kenapa…?” tanyaku hati-hati.
Ia menggelengkan kepala.
Aku jadi serba salah. “Yakin nggak pa-pa?”
Kulihat bahunya makin berguncang. Aku jadi mengangkat bahu dan kembali memperhatikan plang-plang pertokoan, mencoba mencari tahu gerangan di daerah mana aku sekarang berada.

Tiba-tiba, “Kak…” panggil gadis muda itu masih menangis sesegukan.
“Ya?” cepat aku menoleh ke arahnya.
“Kakak mau ke mana?” tanyanya masih menangis tanpa menoleh ke arahku.
“Aku?” heran juga aku ditanya seperti itu. “Aku, aku mengikuti saja ke mana bis ini pergi.” jawabku asal. “Kenapa?”
“Emh…” ia masih saja terisak. Bibirnya yang mungil digigitnya. “Aku…” tangannya yang gemetar membuatku mengernyitkan dahi. “Sakit sekali, Kak…”
“Sakit?”
“Iya…” jawabnya terbata-bata.
“Kamu sedang sakit? Sakit apa?”
Ia tak menjawab. Hanya kudengar tangisnya makin menderas. Duh, ada apa ini, tanyaku dalam hati.
“Kamu perlu ke rumah sakit?”
Ia malah menangis sejadi-jadinya. Aku jadi bingung seribu ungkapan.

“Kalau kamu nggak cerita, bagaimana aku tau kamu sakit apa dan apa yang kamu butuhkan?”
“Aku…” ia mencoba bicara meski terbata-bata. “Aku… Aku keguguran, Kak…”

What?! Aku terbelalak. Keguguran?! Lantas? Lantas apa yang mesti kulakukan kini? Haduh!
“Kamu butuh rumah sakit, atau…”
“Aku nggak tau, Kak…”

Ya ampun. Gadis muda ini jelas hanya seseorang yang duduk di bangku kosong di sebelahku ketika aku tertidur. Tapi bagaimana mungkin aku membiarkan orang yang sedang kesakitan seperti sekarang ini. Sementara itu aku masih belum lagi tahu apa yang mesti kulakukan.

“Kamu butuh rumah sakit? Kita ke rumah sakit ya?” aku memanggil kondektur bis dan minta diturunkan di rumah sakit terdekat.
“Paling nanti di Karangampel, Kang.” jawab si kondektur.
Ouw, rupanya ini belum lagi masuk Karangampel.

“Oke. Nanti kita turun di rumah sakit ya. Wajahmu pucat sekali. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa.” ujarku mencoba menenangkan.
“Tolong aku, Kak…”
“Iya-iya. Tahan dulu ya.”
Kutanya lagi pada kondektur kira-kira berapa lama lagi rumah sakit terdekat berada.

“Bagaimana ceritanya?”
“Aku habis menggugurkan kandungan…”

What?!! Ya Tuhan. Apa yang sedang kuhadapi ini? Mataku bukan lagi terbelalak, tapi sudah menatapnya tak berkedip. Hingga akhirnya aku bisa menarik nafas. Dalam hati aku mencoba berpikir tenang. Oke, Dan. Tenang Dan. Jangan dulu mendesaknya soal kronologis kejadian. Saat ini yang paling utama adalah menolong kondisinya. Namun tanpa kuminta, sembari terisak ia mulai bercerita apa yang sedang menimpa dirinya.

Usianya 18 tahun. Ia hamil nyaris 6 bulan hasil hubungan dengan pacarnya yang sebaya. Bulan pertama dan kedua mereka masih bingung bagaimana menghadapi dirinya yang tengah positif hamil. Tubuhnya yang mungil memang membuat kehamilannya tak begitu kentara. Mereka kalut dan bingung. Mereka mencari informasi ke sana ke mari soal bagaimana cara menggugurkan kandungan.

Akhirnya, dengan susah payah, hasil berburu tanya sana-sini, mereka menemukan seorang bidan di daerah Subang. Namun karena usia kandungan si gadis sudah mendekati angka 6, sang bidan tak mau sembarangan memberikan tarif murah untuk biaya pengguguran. Resikonya terlalu besar. Nyawa si ibu bukan tak mungkin melayang.

Sang bidan memasang angka 3 juta perak untuk biaya pembunuhan. Kedua remaja itu tercekat. Dari mana uang tiga juta. Mereka hanya mengantungi uang satu setengah juta dari hasil pinjam sana sini. Sang bidan tak mau mengambil resiko. “Satu setengah juta sih untuk usia kandungan dua atau tiga bulan. Tapi ini?” ujar sang bidan.

Akhirnya tarif bisa turun hingga dua setengah. Si remaja pria menyerahkan uang satu setengah yang mereka bawa, sisanya yang satu juta akan ia usahakan hari itu juga. Jaminannya, sepeda motor mereka mesti ditinggal di sana.

Si gadis dibawa masuk ke sebuah kamar di rumah sang bidan yang letaknya di pelosok kampung. Ia disuruh minum sebuah pil. Perut si gadis ditekan-tekan. Si gadis meringis menahan sakit. Kemudian, dengan alat tertentu, sang bidan memasukkan benang ke dalam kemaluan si gadis. Setelah itu si gadis tidak tahu lagi apa yang dilakukan sang bidan.

Begitu selesai, si bidan mewanti-wanti: kalau perut si gadis sudah mulai terasa mulas dan menuju kontraksi, benang itu boleh ditarik, tapi hati-hati, karena dari perut gadis itu bakal keluar jabang bayi. Si gadis hanya bisa menggigit bibir tak mengerti dan bingung membayangkan bagaimana mungkin mesti mengeluarkan seorang bayi dari dalam perutnya.

Mereka boleh meninggalkan rumah sang bidan. Di tengah jalan mereka sepakat untuk berpisah sementara. Si remaja pria mesti mencari uang sisa pembayaran ongkos pengguguran. Si gadis setuju untuk pulang saja ke rumahnya. Dan di bis ini lah aku bertemu dengan si gadis.

Duh, apa yang sedang kuhadapi. Kenapa aku mesti bertemu dengan seorang gadis yang baru saja melakukan pengguguran kandungan. Mengapa mesti aku… Duh!

Di depan sana kondektur bis mulai berteriak, “Rumah sakit… Rumah sakit…”. Aku berdiri dan menuntun gadis itu turun. Ransel di punggungku. Kurasakan tangan gadis itu bergetar. Jalannya tertatih. Baru kuinsafi: perut gadis itu memang tampak sedikit membuncit. Kubawa ia ke bagian UGD (Unit Gawat Darurat).

“Namanya?” tanya petugas rumah sakit itu saat aku menghampiri bagian pendaftarkan pasien.
“Namanya? tanyaku balik bertanya.
“Iya, nama istri Bapak siapa?”
Istri? Sialan! Dan, duh! baru kusadari: aku belum lagi mengetahui namanya.

Kami berjalan menuju ruang dokter kandungan. Kulihat tubuh si gadis makin gemetar dan wajahnya pucat. Tak lama kami diperbolehkan masuk. Dokter pria itu tersenyum dan mulai tanya ini itu. Namun itu tak berlangsung lama. Dokter pria itu terbelalak ketika selesai memeriksa. Aku menerangkan sebisanya. Sang dokter memahami agar saat ini lebih mengutamakan kondisi si gadis ketimbang bicara soal kronologis kejadian.

“Tapi mesti sekarang.” ujar dokter pria itu. “Ketubannya sudah pecah.”
Ya ampun. Apa yang sedang menimpa diriku ini.

Aku diminta mendaftar untuk persalinan. God! Kubuka dompetku. Apa cukup? Duh! Aku mesti mengontak orangtua si gadis. Ini soal hidup dan mati. Bukan soal biaya persalinan. Kulihat si gadis sudah disorong seorang suster dengan kursi roda. Aku mendekatinya.

“Aku butuh kontak orangtuamu.”
“Kak…”
“Percaya sama Kakak. Semua akan baik-baik saja. Pikirkan kondisimu. Jangan pikirkan kemarahan orangtuamu. Kakak akan bicara nanti.”
“Tapi, Kak…”
“Percaya sama Kakak. Beri nomor kontak orangtuamu.”
Awalnya si gadis tampak ragu. Tapi dengan cepat kuraih handphone-nya. Mencoba mencari nomor telpon rumahnya. Tapi pertama-tama yang mesti kuselesaikan adalah administrasi persalinan. Agar si gadis cepat diberi pertolongan.

Setelah urusan pendaftaran selesai dan si gadis disorong ke ruang persalinan, aku diminta suster menunggu di luar ruang bersalin. Kugeletakkan ranselku di lantai. Aku mulai kalut. Kulihat beberapa pria tersenyum melihat kegelisahanku. “Anak pertama, Kang?” tanya seorang bapak. Sialan! batinku mengumpat.

Dengan ragu kutelpon rumah orangtua si gadis. Duh, aku mesti berkata apa?

Dengan hati-hati aku mulai menceritakan kronologis kejadian sebisaku. Siapa nyana, ayah si gadis berang dan membentak-bentak aku. Aku merasa ada gelagat kurang baik. Tapi aku tetap meminta beliau untuk segera datang ke rumah sakit.

Huh! Sebetulnya aku bisa saja kabur dan meneruskan perjalananku ke Cirebon. Toh tinggal beberapa kilometer saja. Tapi bisa-bisa aku dicap bandit dan itu akan menghambat rencana perjalananku ke depan. Kuputuskan tetap menunggu orangtua si gadis di teras ruang bersalin.

Tak lama datang seorang bapak didampingi seorang perempuan. Tentu istrinya. Namun di belakang mereka tampak segerombolan pemuda dengan wajah tidak bersahabatan. Sudah sejak kali pertama melihat, aku merasa ada gelagat kurang baik.

“Siapa yang membawa anak saya Diana ke mari?!!” tanya bapak itu kasar.
Aku berdiri menghampiri bapak itu. “Saya, Pak. Mari kita bicara dulu. Anak bapak ada di dalam.” ujarku baik-baik.
“Kamu?!!!” bentak bapak itu murka. Sontak ia mencengkeram kerahku. Menyeretku ke pojokan ruang. Kulihat pemuda-pemuda dengan tampang tak bersahabat itu mulai mendekat. Mati aku!

Tanpa kuduga sama sekali: aku dikeroyok. Posisi ranselku terlalu jauh untuk kujadikan tameng. Aku bertahan sebisanya. Tak pelak sebuah pukulan sampai juga ke wajahku. BEKH!!! Aku terhuyung memegangi wajah. Linu rasanya. Melihat keramaian seperti itu, beberapa satpam rumah sakit segera berlari mendekat. Melerai dan memisah adegan keroyokan. Tapi linu di wajahku tak lantas sirna karenanya.

Kami dibawa ke sebuah ruang. Beberapa satpam, pengurus rumah sakit, para pemuda dan ayah si gadis ada di sana. Aku mencoba menerangkan sebisa mungkin. Bapak itu masih saja tak terima dan menyangka aku lah lelaki yang mesti bertanggung jawab atas apa yang menimpa anaknya.

Tak kukira, tiga orang polisi masuk ke ruangan. Duh, tambah rumit saja ini, batinku tergeragap. Polisi itu mulai menginterogasi aku. Aku mencoba menjelaskan duduk perkara sekuat pikiran. Identitas diriku diperiksa. Buku catatan harianku dibongkar. Ranselku digeledah.

Kutunjukkan tiket bis jurusan Jakarta-Cirebon dari dalam kantung kemeja kotak-kotakku. Di sana jelas terdapat coretan spidol terminal asal aku berangkat dan kota tujuanku. Setelah seluruh keadaanku diperiksa, mendengar keteranganku, juga keterangan ayah si gadis, seorang polisi menarik nafas dan angkat bicara.

“Adik ini tak salah.” ujarnya pada semua yang hadir di ruangan itu.
Aku menghela nafas. Aku menatap langit-langit ruangan.

Tiba-tiba ayah si gadis mendekati aku. Memohon maaf sedemikan rupa. Aku jadi merasa tak enak. Tak lama pemuda-pemuda itu pun merubungku serta menyodorkan tangan meminta maaf.

“Sebaiknya kita lihat kondisi Diana, Pak.” usulku. Si bapak setuju.

Seperti sudah diduga, bayi si gadis tak dapat ditolong. Riwayat si gadis sendiri selamat. Ibu si gadis sesegukan di dada suaminya. Semua yang hadir merasa tercekat. Aku menengadah memandang langit-langit ruangan.

Aku merasa urusanku sudah selesai. Rasanya si gadis sudah berada di tempat yang semestinya. Aku minta diri untuk pamit. Si bapak mati-matian berusaha menahanku serta menawarkan rumahnya untuk menginap atau istirahat.

Dengan halus kutolak tawarannya. Aku berusaha tersenyum, mengucapkan terima kasih atas kebaikannya, namun bersikeras tetap mesti melanjutkan perjalanan. Akhirnya si bapak bisa memaklumi. Ia mengeluarkan dompet dan menyodorkan sejumlah uang kepadaku sebagai ganti biaya persalinan tadi. Aku hanya mengambil sejumlah uang yang sudah kukeluarkan serta mengembalikan sisa kelebihannya.

“Ambil saja, Dik. Buat di perjalanan.”
Lagi-lagi kutolak dengan halus kebaikannya. Aku mohon diri. Kusempatkan sejenak menjenguk si gadis yang masih berbaring di dalam. Namun melihat posisinya yang baru saja melahirkan, aku urung masuk ke dalam ruangan.

“Biar kami antar, Kang.” pemuda-pemuda yang tadi mengeroyokku menawarkan diri hendak mengantar.
“Makasih. Nggak usah, Kang.” aku berusaha tersenyum.

Aku menggendong ransel dan mulai menyeret langkah ke luar rumah sakit. Sebuah bis berhenti, aku meloncat ke dalam dan duduk di dekat jendela.

Kusenderkan wajahku pada kaca bis. Linu di wajah masih terasa nyeri bekas pukulan pemuda yang tadi tak sempat kuhindari. Aku menghela nafas.

Hari mulai gelap. Bis mulai melewati kota Cirebon. Aku merasa ragu untuk turun di kota. Kubiarkan bis membawaku ke terminal di ujung kota. Aku belum lagi tahu hendak melangkahkan kaki ke mana kali ini. Dan baru kuinsafi, seharian ini aku belum lagi makan.

Pada sebuah jarak tiba-tiba bis berhenti. Seorang gadis berparas cantik naik dan duduk di bangku sebelahku yang kosong. Aku menggeser badan dan melihat ke arahnya. Tapi dengan cepat kupalingkan wajah dan kembali melihat jalanan. “Huh!” ucapku menghela nafas.

26 Januari 2009 | 20.45 wib