Mafela

(The Waiting Is Almost Over: 10)

Mereguk air dari sungai keheningan hanya dengan demikian jiwamu akan menyanyi dalam kebahagiaan. Dan di saat engkau meraih puncak pegunungan di situ lah bermula saat pendakian. Dan ketika bumi menuntut kembali jasad tubuhmu. Tiba pula saatnya bahwa tarian yang sesungguhnya mulai kau tarikan (Kahlil Gibran, Sang Nabi)

Aku bersiap menggendong ransel lagi. Aku tahu Mas Zulbasri berusaha menahanku, bahkan menawariku untuk bermalam di rumahnya. Namun aku tak ingin membuatnya repot. Bisa bertemu dengannya saja sudah sungguh menyenangkan bagiku. Berjam-jam kami ngobrol banyak hal. Soal blog, blogger, dunia sastra, sastrawan, juga pekerjaannya.

Di teras rumah ia menahanku, “Yang kau cari ada di hatimu, Mas Dan.”
Aku tercekat sejenak. Tersenyum padanya, dan menganggukkan kepala. “Iya, Mas. Makasih. Aku pamit.”

Aku merasa ia masih terus memandanggi punggung ranselku hingga ke ujung jalan. Lelaki itu sungguh baik. Pembawaannya kalem, bicaranya sedikit, ada kesan introvert seperti tulisan-tulisannya di blog, tapi ia seorang guru yang ramah. Satu hal yang terus bernyanyi-nyanyi di telingaku adalah kalimatnya: “Ikuti kata hatimu. Bukan nafsumu. Nafsu takkan pernah membawamu ke mana-mana.”

Maka Hari masih sore ketika aku mulai melanjutkan perjalanan. Kulihat mendung tampak meraja di langit. Kutelusuri kota Pekalongan. Ruas-ruas jalan, deretan pertokoan, dan pusat keramaian. Masih cukup waktu untuk menyeret kaki ke terminal bus. Tapi aku merasa kesepian.

Aku membeli sebuah syal batik di sebuah toko cinderamata. Pada kasir kuminta untuk tak perlu membungkusnya. Mau kugantungkan langsung di leherku. Ketika hendak menerima uang kembalian, seorang lelaki kurasa sedang memperhatikanku. Kulihat ia tersenyum. Aku mencoba menganggukkan kepala. Ia berjalan menghampiri.

“Mas Dan?” tebaknya.
Weh, terkenal juga aku, batinku meringis. “Ehm, siapa ya?”
“Bukan siapa-siapa, Mas. Mas Dan kan?” ia tertawa menyodorkan tangan, “Aku Sugeng, Mas.”
Dan aku menyebut nama asliku.
“Iya, tapi Mas selalu menggunakan nama Dan di tulisan-tulisan Mas.”
Tulisan-tulisanku? Olala! Siapa dia? batinku menduga-duga.
Ia tersenyum penuh arti. “Aku pembaca setia blog Penenun Kata, Mas.”
Huah! Pertemuan yang tak disangka. Aku tertawa senang.
“Sudah di Pekalongan ternyata. Gambaran tokoh Dan di tulisan itu sangat mirip dengan Mas. Dan foto Mas, aku hapal betul, ini pasti Mas Dan.” jelasnya tersenyum senang.
Aku pun tersenyum senang.
“Aku selalu baca seri perjalanannya, Mas. Wih, yang di Karangampel itu bikin aku merinding.”
Aku hanya tertawa sembari mengucapkan terima kasih karena sudi membaca blog-ku. Senang juga bertemu dengan seseorang yang mengikuti tulisan-tulisanku.
“Mas mau ke mana sekarang? Baru sampai Pekalongan atau sudah mau berangkat lagi?”
“Belum tau, Mas Sugeng. Inginnya mau lanjut ke kota berikutnya, tapi sepertinya sebentar lagi bakal turun hujan.” jawabku sembari melihat langit di teras toko cinderamata. “Mendungnya gelap sekali.”
“Nginap di rumahku saja, Mas. Mas kan bisa melanjutkan perjalanan besok pagi.” tawarnya.

Dalam hati aku bersorak girang. Sebetulnya aku ragu jika harus melanjutkan perjalanan. Mendung di atas terasa memengaruhi atmosfir jiwaku. Tapi aku tak punya rencana bermalam di kota ini. Namun begitulah menjadi seorang traveler. Ia mesti selalu siap terhadap berbagai hal yang ditemui di jalanan. Termasuk mendapat tawaran atap untuk menginap.

Tak perlu menolak maksud baik seseorang. Bukankah dengan begitu dapat menghemat uang ketimbang menyewa penginapan? Meski sebetulnya kalau memang mesti bermalam di kota ini, bisa saja kuterima tawaran Mas Zulbasri tadi. Toh sudah sama-sama kenal. Tapi bukankah tadi aku sudah pamit? Mana enak kembali ke sana lagi.

“Nggak akan merepotkan nih, Mas Sugeng?” kulihat hujan mulai tumpah tanpa malu-malu ke atas bumi.
“Sama sekali nggak, Mas Dan. Aku malah senang. Rumahku nggak besar, tapi Mas Dan pasti suka. Ada istri dan dua anakku di rumah. Mas bisa ngobrol banyak di sana.”

Ngobrol banyak? Kenapa orang selalu mencoba membuatku ngobrol banyak? Apakah aku tampak seperti orang yang jarang ngobrol? Weh, makin kusadari betapa sedikitnya aku berbicara secara lisan. Namun sesungguhnya aku mulai tergoda dengan tawarannya. Aku juga ingin tahu seperti apa pola hidup orang di kota ini. Kebiasaannya, rumah tangganya, serta sosio budayanya.

Ketika aku menganggukan kepala, ia tersenyum girang. “Ayo Mas!” ujarnya sembari menyetop sebuah angkutan kota.

Rupanya ia betul. Rumahnya memang tak begitu besar, tapi nyaman. Halaman rumah yang tak begitu luas tampak ditumbuhi berbagai tanaman. Rapi dan enak dipandang mata. Padahal rumah ini berupa sebuah rumah di gang yang berhimpitan serta hanya cukup untuk dilewati dua buah motor. Rupanya mereka orang yang pintar menyiasati keadaan.

Usia Mas Sugeng tak beda jauh denganku. Mungkin di bawahku dua atau tiga tahun. Ia bekerja di sebuah percetakan sebagai operator mesin. Kalau tak ada lembur, ia biasa pulang sore hari. Ia mengaku penghasilannya tak besar, namun masih mampu hidup bahagia bersama istri dan dua anaknya.

Ia orang yang cukup periang dan suka bercerita. Selain keluarga, hiburan baginya adalah berselancar di internet. Sesuatu yang membuatku cukup heran: seorang operator mesin cetak namun familiar dengan internet. Sebuah kesimpulan yang tak patut ditiru sama sekali; menilai seseorang secara gegabah hanya dari profesi kerjanya.

“Dulu waktu kuliah sempat kenal internet, Mas. Sekarang lagi coba-coba bikin blog. Kayaknya asyik.” terangnya.

Hujan tampak deras di luar. Setelah mandi, istri Mas Sugeng sudah menggelar hidangan santap malam dengan dua piring di atas meja.

“Silahkan, Mas Dan. Seadanya lho…” tukas istri Mas Sugeng tersenyum. Senyumnya manis!
“Lho, kok Mbak nggak ikut?” tanyaku heran demi melihat hanya ada dua piring di atas meja makan.
“Silahkan duluan saja, Mas. Nanti saya biar sama anak-anak.”

Maka sembari makan, Mas Sugeng asyik melanjutkan obrolannya. Tentang dua anaknya yang masih kecil-kecil dan belum sekolah. Tentang pekerjaannya di percetakan, tentang keinginannya membuat blog, tentang cara menulis yang baik, juga tentang bagaimana membuat judul yang mengundang pembaca di blog.

Dari meja makan, obrolan kami lanjutkan ke teras rumah sambil merokok. Ditemani dua cangkir kopi. Ia banyak bertanya tentang rencana perjalananku. Ia pun bertanya bagaimana aku mengangkat fakta-fakta di perjalanan lantas dituangkan ke dalam tulisan.

“Mas orang yang kesepian?” tanyanya tanpa kuduga.
“Kesepian?”
“Ya. Dari tulisan-tulisan, Mas.”
“Bagaimana mungkin?”
“Maaf, Mas, tapi aku menangkapnya seperti itu.”
Aku hanya tersenyum sembari membunuh rokok ke dalam asbak dan menyulut lagi batang berikutnya.

“Mungkin aku salah menyimpulkan, Mas. Tapi rasanya Mas mencoba bicara pada orang lain lewat tulisan. Mas merasa sendiri, getir, nelangsa, tapi tidak langsung bicara pada tujuan. Menggunakan gambaran-gambaran tertentu. Memang ada sesuatu yang konyol, tertawa-tawa, juga kegembiraan. Namun bukan itu sebetulnya maksud dari tulisan-tulisan itu. Hati Mas sunyi.” ia pun membunuh rokoknya ke dalam asbak. “Maaf lho, Mas, kalau dianggap lancang. Aku hanya menyimpulkan sambil lalu saja.”

Aku hanya tersenyum menarik nafas. Tapi tak pelak kesimpulannya membuatku tercenung. Tak banyak orang bisa menerobos sedalam itu. Kebanyakan orang hanya melihat luarnya saja. Lelaki ini jeli, pikirku.

“Mas sakit?” tanyanya heran ketika melihatku menekan-nekan dada kanan bagian bawahku.
“Oh, nggak Mas. Nggak kok.” jawabku cepat-cepat menarik tanganku. “Tulisan-tulisanku kan fiksi, Mas.” ujarku tersenyum.
“Tapi bagiku terasa nyata. Pembaca seperti aku yang nggak kenal Mas, pasti menganggap itu nyata. Karena ditulis di blog dan menggunakan kata aku sebagai pencerita.”
“Mas pintar menyimpulkan.”
“Hanya kesimpulan gegabah, Mas.”
“Kapan Mas mau mulai nulis blog?”
“Inginnya sih secepatnya. Banyak yang ingin kuceritakan. Tapi masih bingung mau mulai dari mana.”
“Jangan pakai pikiran, Mas. Pakai hati.”
“Maksudnya?”
“Tuliskan saja apa yang ada di hati Mas. Luapkan saja. Jangan dipikir, tapi ditulis.” kataku meniru ucapan William Forrester pada Jamal Wallace dalam film Finding Forrester.
“Tapi kan bisa jadi nggak menarik, Mas. Nanti jadi curahan hati aja. Belum lagi soal tanda baca, ngatur kalimat, wah, bingung, Mas.”
“Jangan pakai pikiran. Pakai hati. Tuliskan saja apa yang ada di hati. Baru setelah itu Mas baca dan tulis ulang pakai pikiran.”
“Ouw?” ia tampak terpana dengan kursusku yang ngasal ini. “Betul juga, Mas!”
“Aku selalu begitu, Mas Sugeng. Semua yang kurasakan, kutulis saja. Tapi bukan tulisan itu yang ku-publish nantinya. Aku terbiasa untuk membaca ulang berkali-kali. Membetulkan tanda baca, struktur kalimat, diksi yang kurang enak, malah kalau perlu membongkar paragraf.”
“Membongkar paragraf?”
“Ya. Tak jarang begitu selesai menulis, aku menghapus lead pertama, bahkan sampai paragraf ketiga awal kalau perlu.” lanjutku menirukan apa yang diterangkan Joe Vitale dalam Hypnotic Writing.
“Kenapa, Mas?”
“Karena biasanya pada paragraf-paragraf awal berisi sesuatu yang nggak penting. Terkadang tanpa disadari prolog kita suka kepanjangan. Sesuatu yang terkadang kurang esensi secara isi tulisan bagi karakter pembaca seperti blogger. Kita kan nggak sedang bikin berita seperti di koran yang menggunakan piramida terbalik, Mas.”

Mas Sugeng tampak senang. Ia terlihat antusias ingin segera menulis dan membuat blog. Aku ikut senang melihat semangatnya. Jadinya kami berbincang cukup lama di teras rumah. Hingga asbak mulai penuh dengan puntung rokok. Hingga kopi tandas hingga ke ampas. Menjelang tengah malam, Mas Sugeng mengajak masuk untuk istirahat.

Aku mendapat sebuah kamar di belakang. Sepertinya kamar anaknya. Kukatakan aku bisa tidur di sofa ruang tengah saja. Tapi ia mempersilahkan kepadaku untuk menempati kamar itu. Ia ingin tidur berempat di kamar depan.

“Sudah lama nggak tidur ramai-ramai, Mas. Kangen juga ngumpul bareng anak-anak.” ujarnya tersenyum. Aku hanya nyengir.

Dan aku pun mulai masuk serta membaringkan tubuh di ranjang. Kutatapi langit-langit kamar. Gambar-gambar mulai berkelebatan di sana. Wajah orang-orang yang kutemui di jalanan, peristiwa-peristiwa yang tak terduga, dan komentar-komentar yang menimpali tulisanku di blog.

Tiba-tiba aku merasa asing dan sunyi. Muncul pertanyaan susul-menyusul di telingaku: hendak ke mana perjalanan ini? Apa yang kucari? Dan kapan akan berakhir? Pertanyaan itu terus mengejarku hingga aku terlelap.

Pagi harinya aku terbangun dan membuka pintu kamar. Hari belum begitu terang, tapi kulihat suasana tampak ramai dan orang lalu lalang di ruang tengah. Lho, siapa mereka? Dan kenapa di ruang tamu tampak digelar tikar?

Aku menganggukan kepala pada bebarapa orang. Kulihat istri Mas Sugeng duduk di sofa ruang tengah, diapit oleh beberapa perempuan. Aku menghampirinya. Matanya tampak sembab.

“Pagi, Mbak. Ada apa ya kok ramai orang?”
Istri Mas Sugeng mendongak dan memandangku sendu. “Mas Sugeng, Mas…”
“Mas Sugeng? Kenapa dengan Mas Sugeng?” tiba-tiba jantungku berdegub kencang.
“Mas Sugeng…” matanya mulai berkaca-kaca. “Setelah sholat Subuh tadi, Mas Sugeng meninggal saat masih duduk di sajadah. Saya pikir tertidur sambil bersila. Tapi kok lama sekali. Begitu saya bangunkan, ternyata sudah nggak ada.”

Ya Tuhan?! Aku terbelalak. Laksana disambar petir ketika mendengar kabar Mas Sugeng meninggal dunia. Padahal semalam kami baru saja berbincang begitu panjang. Padahal baru saja aku mengenalnya. Padahal… Ah, betulkah yang kudengar ini?

Sontak dengan cepat aku menuju ruang tamu. Di sana kulihat orang-orang duduk di tikar, melingkari tubuh yang membujur kaku tertutupi kain, sembari menggumamkan doa. Ya Tuhan, Mas Sugeng meninggal? Sekuat tenaga aku mencoba menyangkal, tapi tetap tak bisa. Mas Sugeng betul sungguh meninggal. Tak bisa kurawikan bagaimana perasaanku saat itu.

Maka pagi itu aku ikut membantu orang-orang menyiapkan jasad Mas Sugeng untuk dimandikan. Setelah semua keluarga datang dan para tetangga berkumpul, siang itu juga Mas Sugeng dikebumikan di pemakaman yang jaraknya tak jauh dari rumah. Kukalungkan syal batik di nisannya. Aku bersimpuh mengenang pertemuan dengan Mas Sugeng saat membeli batik itu kemarin.

Hari mulai beranjak sore. Aku merasa posisiku serba sulit. Satu sisi aku bukan siapa-siapa di rumah itu. Baru saja mengenal Mas Sugeng sekelebatan. Tak nyaman kalau terus tinggal berlama-lama. Di sisi lain aku merasa tak enak kalau mesti buru-buru pamit pergi pada istri Mas Sugeng. Pernahkah kalian merasakan berada di posisi seperti itu?

Tapi perjalanan mesti terus bergulir. Dengan berat hati serta hati-hati sekali aku pamit pada istri Mas Sugeng. Aku bersyukur ia bisa memahami. Aku jelas tak ingin merepotkan keluarga ini lebih jauh lagi. Aku pandangi anak-anak Mas Sugeng yang masih kecil-kecil. Aku usap kepala mereka.

“Terima kasih, Mbak, saya sudah diperkenankan mampir ke mari.”
Istri Mas Sugeng menganggukkan kepala. “Hati-hati di jalan, Mas Dan.”

Aku menggendong ransel dengan hati gulana. Hari masih sore ketika aku mulai melanjutkan perjalanan. Kulihat mendung tak hanya meraja di langit, tapi juga di hatiku. Kupandangi ruas-ruas jalan, deretan pertokoan, dan pusat keramaian. Masih cukup waktu untuk menyeret kaki ke terminal bus. Dari kejauhan kulihat toko cinderamata tempat aku membeli syal batik kemarin sore. Haruskah aku membeli syal batik lagi? Tiba-tiba aku merasa sangat kesepian.

29 Januari 2009 | 21.13 wib

- Mafela: syal, selendang.

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

44 Responses to Mafela

  1. prameswari says:

    Hmm…tak ada yang tahu akhir hidup manusia ya….

    prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni

    DM: Tak ada yang tau juga kapan berakhirnya.

  2. prameswari says:

    Mas, apakah cara seseorang menulis prolog pertama pada tulisannya itu berkait juga dengan karakter penulisnya?

    prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni

    DM: Waduh. Rasanya belum ada penelitian tentang itu. He-he. Tapi jawaban ngasalnya: bisa jadi iya (apa mesti ngontak seorang psikolog ya? Hi-hi).
    .
    Bisa jadi orang yang di lead tulisannya bertele-tele, cara berpikir penulisnya doyan muter-muter. Ke sana ke mari. Padahal tujuanya jelas. Ada juga yang lead-nya langsung pada tujuan. Orangnya tegas dan suka berterus terang. (halah, sumprit ini jawaban ngasal! Ha-ha-ha).

  3. prameswari says:

    Berada pada posisi sulit? sering sekali. Terutama jika kita musti berhadapan dengan orang yang tidak terlalu kita kenal. Atau jika kita musti berhadapan dengan orang yang mempunyai kemauan dan pengharapan yang tak sama dan sebanding dengan kita.Tak nyaman. Hmm….mas menandai nya sebagai rasa gelisah saat di dekat seseorang itu. Tak harus dihindari….harus dihadapi….. toh waktu terus berjalan… posisi itu pasti akan berubah (Koleris banget ya….. hehehe)

    prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni

    DM: Weh-weh-weh. Komen ini punya pengertian lain apa ya…
    *menduga-duga dengan mata terpicing*

  4. Yoga says:

    Oh oke, Penenun Kata… Hmm.. Great Joe Vitale… Baca lagi, komentarnya sebentar ya.

    Yoga, terakhir menulis Booster!

    DM: Subuh-subuh itu sholat! Bukannya nulis komen. Bandel!

  5. prameswari says:

    selalu tak lupa syal batiknya ya, mirip banget ama penulisnya…. kolektor buku, kolektor tiket, kolektor tulisan, kolektor syal batik hehehe.. paling tidak itu yang nampak. Kolektor apa lagi ya….. hmmm

    prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni

    DM: Kolektor, emh, ada deh…

  6. Juliach says:

    Besok aku baca ulang deh! Ngantuk habis minum obat batuk/pilek!

    Juliach, terakhir menulis Perancis : Juara Mogok Kerja Sedunia

    DM: Eh, di Prancis jam berapa nih?
    Oh, pantas saja. Kalem, Mbak Julia. Selamat beristirahat. Semoga batuk dan pileknya cepat hilang.

  7. omoshiroi says:

    kirain mau ngomongin vokalisnya band Radja, ian mafela..
    haha..
    garing,,

    DM: Ha?! Vokalis Radj,
    *hoeeeeekkkkkk……….*

  8. suhadinet says:

    penasaran, dalam perjalan Dan selanjutnya akan ketemu siapa dan peristiwa apa lagi ya? Mungkinkah bertemu sesuatu yang horror? ha.ha.ha…

    DM: Horor? Waduh, masa’ mesti semadi di Gunung Lawu segala? He-he.

  9. radesya says:

    Begitulah rahasia kematian, kita tak akan pernah tau kapan saat itu datang pada kita, satu detik yang lalu dia tersenyum pada kita, dan setelah itu dia terbujur tanpa bisa berkata-kata :(

    DM: Namun Tuhan memberikan tanda-tanda…

  10. omoshiroi says:

    film finding forrester?
    kayanya pernah denger dan sepertinya film bagus neh..
    hehe,,

    omoshiroi, terakhir menulis Razia

    DM: Itu kan film yang sempat kau review kemarin… He-he.

  11. @komen no 7

    bwhuahuahauhau..iya…garing .banget!!…IYAN MAFELA…apee lagiii..wekekekek

    btw Dan..

    Oke..tulisan ini memberi warna yang beda lagi…

    Dari mulai tips untuk menulis…

    Gak perlu di kasih tau..aku rasa semua orang paham kalau aku berani ngblog dengan modal nekad…
    Tapi setidaknya aku mencoba menulisnya dengan hati..sayangnya keluanya sampah semua ya..wekekeke….

    Aku pun mencoba melakukan hal yang sama Dan…setelah kutulis…ku baca ulang….

    Nahhhhh..disinilah malapetakanya!!!

    Aku selalu merasa tulisan ku dari awal sampe akhir ya gak ada penting pentingnya sama sekali!!…masak setiap nulis harus di haous lagi..

    Nulis lagi…entar di hapus lagiiiiiii…gimana seeehhhhh wekekekekk

    But anyway..thx….tipsnya okey :)

    Nanti aku kasih tau mama….dia kayaknya serius pengen ngeblog…(yang entah kapan akan di mulai hehehehe)

    Eh Dan…

    Kalau bikin tokoh jangan pembawa sial donnnnnn…

    masak dia baru ketemu sama seseorang pertama kali…tuh orang langsung meninggal!…

    WEW!!!

    yessy muchtar, terakhir menulis Santay aja deh say…

    DM: Mamamu? Mamamu? Mamamu mau nge-blog?
    Huaduh! Anaknya aja gitu, apalagi mamanya ya?
    Hi-hi-hi.

  12. Uhf Akhirnya bisa masuk belasan biasanya di 50 keatas hehehhe.
    Makanya mas Dan Ada saatnya untuk pulang dan berkumpul dg keluarga,bukan doa jelek lo mas dan,semua tak ada yg tahu,ibuku 21 jan (1 bulan setelah hari ibu–padahal aku bikin postingan khusus untuk emakku ) meninggal,paginya masih sehat agak siang jatuh di KM sore meninggal,sederhana sekali mas.
    Setelah Puas Bertualang segera pulang mas,keluarga menunggu.

    DM: Mas Jamal, komenmu membuatku ingat almarhum bapakku. Saat itu aku pun baru pulang dari bertualang pada tahun 1999. Di rumah, bapak dan mama sedang ngobrol di ruang tamu. Ketika berbincang, rupanya ada telpon. Mamaku masuk ke ruang tengah untuk mengangkat telpon. Begitu selesai, ia kembali ke ruang tamu lagi. Ia lihat bapak sudah tampak tertidur pulas di kursi. Mamaku heran, tadi kan baru ngobrol, kok cepat sekali tertidur. Begitu dipanggil-panggil, rupanya bapakku sudah pergi dalam keadaan duduk.
    .
    Sepulang dari petulangan itu, aku menuju rumah orangtuaku. Di jalan komplek perumahan kulihat iring-iringan mobil tetangga. Kupikir ada apa. Sesampai di rumah, pintu terkunci. Ditemani ransel, aku menunggu di teras. Tak berapa lama, iring-iringan mobil tetangga yang tadi kulihat, berhenti di depan rumah. Mamaku turun, sontak memelukku dan mengabarkan bahwa bapak baru saja pergi pagi tadi. Aku terbelalak. Jadi iring-iringan mobil tetangga yang tadi kulihat itu sedang membawa jenasah bapakku ke rumah sakit.
    .
    Aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah melakukan perjalanan jauh.
    (satu dari sekian hal yang awalnya sangat kusesali dalam hidupku).
    Balasan komenku ini bukan mau sok sentimentil. Tapi komenmu betul sudah menggedor hatiku dan tiba-tiba teringat peristiwa 10 tahun lalu itu.

  13. marsh says:

    @yessy:

    dodol banget deh komen kamu, yes. masak dibilang tokoh dan pembawaannya sial? benernya: pembawaan maut, jeung! maut! m-a-u-t! persis joe black deh si tokoh ini, pernah aku bilang di tulisan jauh sebelum ini, sekarang terbukti.

    tapi setuju, tulisan ini kaya banget, bikin emosiku jumpalitan. aku nggak malu mengakui kalau aku sempat nangis di akhir cerita. membaca kisah tentang orang yang tabah seperti keluarga mas sugeng gampang bikin terharu, begitu juga pertemuan dan perpisahan yang tak terduga seperti yang dialami tokoh dan.

    ehm, usul, mas dan. gimana kalau di perjalanan berikutnya sampeyan ketemu sama ulama MUI, terus dinasihati agar tidak merokok karena fatwa haram? *dicekik syal batik*

    btw, as i’ve told you that i, as well as other readers i suppose, can read your emotion while you’re composing your story, i can read this one, too. and you were not so happy, were you? something was bothering you. please light up, goniel. (after all, this shows that you do write with your heart!)

    marsh, terakhir menulis Coklat Rasa Cabe

    DM: Entah kenapa, aku tak begitu tertarik membahas fatwa haram MUI baik tentang rokok maupun golput. Aku merasa itu mengada-ada. Tak ada satu pun ayat Quran ataupun Hadis yang mengharamkan rokok, kecuali merokok dengan uang hasil mencuri atau korupsi.
    .
    Kalau MUI menyebut surat Al-Baqarah ayat 195 sebagai dasar mengharamkan rokok dengan berpegang pada kalimat: “Jangan jatuhkan tanganmu ke dalam kebinasaan,” rasanya mengada-ada. Karena konteks surat itu berbicara soal agresi militer.
    .
    Masih begitu banyak penyakit maksiat di Indonesia ini yang lebih pantas diharamkan, yang nyata dasar hukumnya kalau hendak menggunakan Quran dan Hadis. Jutaan buruh pabrik bisa dianggap bekerja di tempat yang memproduksi barang haram? Duh, MUI.
    .
    Haruskah tokoh Dan kugelincirkan pada dialog-dialog abad kegelapan?

  14. Yoga says:

    Apa definisi kesepian Dan?

    Yoga, terakhir menulis Booster!

    DM: Jangan tanya aku, Yug. Setiap individu punya pengertian masing-masing soal itu. Dan aku percaya: tak seorang pun mau merasakannya.

  15. Lala says:

    Tiba-tiba teringat film Frankie and Johnny, film lama yang dibintangi Al Pacino dan Michele Pfeiffer. Ow, bukan karakter Johnny yang lulusan penjara itu lho *tokoh Dan ini bukan mantan napi, kan?*, tapi karena di film itu bercerita banyak soal kesepian dan ‘kedinginan’.

    Saking memorable-nya film itu, akhirnya aku menulis posting ini: teman yang takut sendirian. Mencoba mendefinisikan kesepian itu sendiri dan mencari tahu, was I a loner or I was just so lonely that moment?

    Di ujung cerita itu, aku menulis kalimat ini (entah benar atau tidak, yang pasti saat itu aku mencoba menuliskan apa yang terasa di hati):
    “Because we’re all alone… dan tinggal menunggu waktu saja, kapan kita bertemu dengan orang-orang yang sama kesepiannya, untuk bisa saling mengisi ruang yang kosong itu…”

    Pertanyaan buat tokoh si Dan (atau tokoh yang menyerupai benar dengan Daniel Mahendra yang aku tahu) adalah:
    Are you really a loner?
    Are you sure you’re not enjoying being so?

    You’re just a human being, Dan.
    Orang yang punya lelah juga, kan? Stop denying the feelings, stop pretending that you’re fine….. kamu pernah bercerita tentang tokoh Mayang itu, why don’t you just fly to her place and settle down?

    You said you’re an ‘actor’, rite, Dan?
    Dan kamu aware dong, kalau actor itu punya jeda buat istirahat di sela-sela syuting padatnya? Kenapa nggak ambil jeda itu untuk narik nafas sebentar?

    *again, aku nulis posting di kolom yang seharusnya untuk nulis komentar….* SORRY, BOSS! :D

    Lala, terakhir menulis THE Events!

    DM: Aku tidak bisa dan tidak mau menjawab hal ini lebih jauh lagi. Sudah pernah kubahas pada komen-komen terdahulu, bahwa kesepian adalah persoalan individu. Setiap orang punya definisi yang berbeda-beda. Baik tingkatannya maupun kondisinya.
    .
    Sesuatu yang tampak wajar bagi orang lain bisa jadi merupakan hal yang begitu menyakitkan pada orang tertentu. Tak ada parameter untuk mengukurnya. Seperti halnya tak ada yang pernah tau apa yang tersembunyi di balik wajah yang ceria, kisah cinta yang menggelora, ataupun pernikahan yang tampak bahagia. Tak ada yang pernah tau, kecuali orang yang menjalaninya.

  16. goenoeng says:

    1. ada pengumuman kesepian di tulisan ini, yg sebenarnya juga terbaca di beberapa tulisan sebelumnya. hanya yg ini lebih gamblang.
    2. ada paragraf yg dihapus di awal tulisan ya, Dan ? terasa tuh.
    3. sebentar lagi pasti ketemu Pak Samali alias Pak Sawali di Kendal, ya ta ?
    4. Sugeng, seorang operator mesin cetak. sendiri di pasar batik. ck, sedang apa dia disana. aneh… jangan bilang beli daster buat istrinya lho ya ?
    5. ending yg nyesek, Dan. usul ni…,sekali2 yg lucu kek, buat penyegaran. haha…
    6. apa lagi ya ? wis ah, semoga kamu nggak kesepian hari ini, Dan. :D

    DM:
    1. Tokoh Dan? Yup.
    2. Terasa? Di tulisan Petaka di Pantura aku malah menghapus 1 halaman A4 awal. He-he.
    3. Mungkin beliau sedang rapat.
    4. Dia? Dia merasa tergelitik melihat seorang lelaki, dengan ransel di punggung, berjalan-jalan di trotoar pertokoan, seperti tidak sedang menuju arah tertentu. Dan dia seperti mengenal sosok seperti itu. Makanya ia ikuti.
    5. Sekali-kali lucu? Aku tidak bisa membuat cerita lucu. Apa boleh buat, Goen kawanku, pengalaman hidupku tidak mengajarkan hal itu.
    6. Aku nggak berani janji.

  17. hatmiati says:

    ceritanya asyik banget…benar-benar fakta ya Mas? tapi kok sedih sich akhirnya…perjalanan berikutnya yang menyenangkan yach!

    DM: Menyenangkan? Duh, seperti apa definisi menyenangkan itu ya?
    Tapi terima kasih…

  18. Ikkyu_san says:

    ah tragis amat sih
    Dua cerita terakhir rasanya terlalu dibuat-buat. Meskipun dalam kenyataan memang ada dan mungkin. Ntah lah atau memang aku hanya memilih cerita yang happy ending saja? Karena pada dasarnya aku seorang yang kesepian?
    but nice story Danny

    EM

    Ikkyu_san, terakhir menulis Kunjungan TK terakhir

    DM: Meskipun dalam kenyataan memang ada dan mungkin.
    Itulah mengapa aku merawikannya, Bude Imel…
    Tengkyu, Bude…

  19. dana says:

    Saya bacanya kok jadi getir sendiri nih kawan?

    dana, terakhir menulis Antara Gemintang

    DM: Merasakannya jauh lebih getir, Kawan.

  20. Yoga says:

    Kalau kesepian bisa mati, bunuh saja kesepian itu Dan!
    Kalau sukses, ajari aku.

    Yoga, terakhir menulis Booster!

    DM: Sepertinya dia bagaikan iblis; tidak pernah mati!

  21. catra says:

    sepertinya perjalanan yang seru nih mas, ada apa gerangan nih ke pekalongan hingga ketemu sama mas zulmasri dan mas sugeng?
    hehe

    catra, terakhir menulis Saya Mau Jadi Apa

    DM: Bertualang saja, Cat. Mampir-mampir di tempat yang tak terduga dan tak terkira.
    Kamu kemana saja, Cat? Blog-mu lama tak di-up date. Sehat kah?

  22. Yoga says:

    @ Dan, komentar lagi ya:
    Kesepian bukan mafela yang bisa dipakai terus di lehermu, dan bukan pula belenggu untuk kaki dan tangan. Jadi mengapa masih kau pakai juga? Huh… tapi sorry, aku nggak bisa ngasih tahu cara melepasnya.

    @Daniel:
    Sorry, komentarnya putus-putus, maklum komentar sambil colong-colong waktu. :D
    Postinganmu ini bikin getir, meski ada ilmu yang kudapat. Usai membacanya, malah bikin aku sibuk melepaskan diri dari perasaan nggak nyaman, apalagi kalau bukan tentang kesepian dan sebuah makna yang tersirat, bahwasanya dunia ini bukan surga, dan bukan pula pasar malam.

    Life is a journey and enjoy it, whether it’s bad or good, wherever and whatever the future brings to you! Bagus juga, manusia tak punya prophecy, jika ia punya, barangkali Dan tak akan mau memenuhi undangan Mas Sugeng (namanya punya makna yang bagus). Terima kasih telah berbagi tulisan yang bagus ini Daniel. :)

    Yoga, terakhir menulis Booster!

    DM: Ada kontradiktif pada paragraf pertamamu, Yug. Awalnya kamu bilang; ‘bukan’, kemudian ‘mengapa masih dipakai’, lantas ‘kamu tidak tau cara melepaskannya’. Itu kontra, Yug. Kamu seperti hendak mengatakan; itu bisa ditepis kalau mau. Tapi belakangan kamu sendiri tidak tau cara menepisnya. Penyataan dan pikiranmu berbanding terbalik. Sorry, Yug. Jadinya ambigu.

  23. DV says:

    Membaca postinganmu yang seperti biasa, sarat makna ini, aku jadi ingat lagu Dewa “Hitam Putih”… yang menyadarkan bahwa tawa dan tangis, suka dan duka itu hanya berbatas selaput tipis..

    Aih, selaput..:)

    DV, terakhir menulis Diinterview Tunggonono

    DM: Iya, tapi kenapa jadi bahas soal selaput, Don…

  24. tanti says:

    Kenapa aku merasakan kemuraman, sedih, sesak membaca posting ini
    inikah gambaran rasa kesepian?

    tanti, terakhir menulis Tune in to WordPress.tv

    DM: Begitukah yang Mbak rasakan?

  25. tanti says:

    Kenapa aku merasakan kemuraman, sedih, sesak membaca posting ini
    inikah gambaran rasa kesepian?

    tanti, terakhir menulis Tune in to WordPress.tv

    DM: Mungkin begitulah yang sedang dirasakan si tokoh tersebut.

  26. carra says:

    woh…

    udah sampe di pekalongan…

    :roll: mengira2 berapa lama lagi yaa…

    carra, terakhir menulis Njek…Injek…

    DM: Apanya yang berapa lama lagi, Carra…

  27. AL says:

    Hidup ini hanya kepingan
    Yang terasing di lautan
    Memaksa kita
    Memendam kepedihan

    Awalnya bicara tentang kesepian, lalu lanjut ke kematian.
    Takutkah mati dalam kesendirian?
    Menurut saya, itu adalah satu dari beberapa hal yang paling menyedihkan.

    AL, terakhir menulis Merokok

    DM: Weh, jadi inget film Ada Apa dengan Cinta.
    Si Cinta ke mana? Oh, lagi berburu buku sama Rangga ke Kwitang rupanya.
    .
    Takutkah mati dalam kesendirian?
    Semua yang hidup akan mati dalam keadaan sendiri toh?
    Dunia kan bukan pasar malam.

  28. anak ilang says:

    @AL
    Kalau ga salah itu lagu nya pas Band ya?

    setuju sama mas goenoeng untuk koment nya yang no 1

    DM: Tepatnya Pas Band feat Tere. Judulnya Kesepian Kita.

  29. genthokelir says:

    wuhh sebeginikah ,,,,,,
    ay aku juga nggak tahu kapan …
    malah bingung dewe hahaha

    genthokelir, terakhir menulis Menulis Tanpa Berguru

    DM: Jangan bingung, Mas Tok…

  30. Zulmasri says:

    wah mas, nyampe juga di pekalongan ya. sayang gak nginap, padahal sudah disiapin sarapan pagi: nasi megono, khas pekalongan

    DM: Ribuan terima kasih, Mas Zul. Ribuan terima kasih…

  31. Zulmasri says:

    kecele juga, kirain saat nginap di rumah sugeng, tokoh zulbasri juga bertamu ke tempat sugeng. eh nggak tahunya tokoh sugeng meninggal.

    sebuah kejutan. merinding mas, coba nginapnya di tempat zulbasri, yang meninggal ya tokoh zulbasri. ih…!

    but…, nice fiction

    Zulmasri, terakhir menulis MATAHARI BUKIT SENGARE

    DM: Aih, orang sebaik Zulbasri itu jangan lah keburu pergi…

  32. mascayo says:

    gara-gara bandwith aku ketinggalan,
    bagusnya cuma ketinggalan komen,
    lha kalo dah dicetak kan habis beneran, nggak kebagian.

    tapi doohh , nyesek banget endingnya,
    makan daging ayam tiba2 keselek tulangnya.

    mascayo, terakhir menulis please think seriously!

    DM: Makanya jangan nge-blog sembari makan ayam bertulang… He-he.

  33. marsh says:

    membaca balasan komenmu @jamal el ahdi #12, aku jadi teringat salah satu tulisan di kumcerpen selamat datang di pengadilan, yang saat mula membacanya aku sudah menyadari bahwa tokoh anjar merepresentasikan seseorang yang kukenal.

    memang banyak sekali hal-hal yang mengecewakan harapan kita dalam hidup. tapi menyesal tidak selalu jadi jawaban toh?

    i’ve been looking forward to welcoming this blog back. and here you go!

    pagi, goniel!

    DM: Cerpen Dia yang Telah Pergi dalam Selamat Datang di Pengadilan memang representasi dari kisahku sendiri. Hanya saja setting-nya kubawa menjadi mahasiswa dan kampus. Tapi basic ceritanya nyata. Seperti itulah yang terjadi.
    .
    Pagi, Goyul!

  34. AL says:

    @Zulmasri
    Untung si Dan gak nginep di rumah Zulbasri yah, fuih…..

    AL, terakhir menulis Pernikahan yang Sendu

    DM: Eit?

  35. Rafki RS says:

    Benarkah Mas Daniel orang yang kesepian? Menurut saya mungkin saja. Saya menyimpulkan dari avatarnya….:D

    DM: Ya ampun, Pak Rafki, ke mana saja… Sehat? Lama tak berkontak melalui blog. Bagaimana kabar keluarga di Batam?
    .
    Avatar? Ah, toh hanya avatar, Pak Rafki…

  36. Yoga says:

    Gak apa apa Daniel, kalau sedang memikirkan kata yang satu itu, pikiranku sering tersesat dan pasti menciptakan ambiguity.

    Yoga, terakhir menulis Bahkan Peramal Pun Tak Tahu Masa Depannya!

    DM: Kalau belum bisa menepis, katakan lah belum bisa menepis. Nggak pa-pa.

  37. ernalilis says:

    Apa yang kau cari ada dihatimu Dan..?

    Emang yang dicari apa? kok dihati, nyarinya pakai USG ya?

    (Comment gak penting..!)

    Mas boleh aku link blognya ya? Thanks.. kemaren kunjungi blogku juga..

    ernalilis, terakhir menulis Do You Really Love Me?

    DM: Waduh, Mbak dokter, bawa-bawa USG segala. He-he.
    Bukan kemarin, Mbak Erna, melainkan tadi pagi aku ke sana.
    Dulu Mbak Erna pernah ke mari, tapi aku lupa balas berkunjung. Maaf kalau telat.

  38. latqueire says:

    saya suka sunyi.. tapi tak suka sepi

    DM: Sunyi dan sepi memang sesuatu yang berbeda. Mereka berdiri sendiri pada titik koordinat yang telah ditentukan. Hanya saja terkadang, mereka kerap saling mengkhianati. Dan meleburkan pengertian yang sesungguhnya menjadi sepadan.

  39. imoe says:

    bener-bener akhir yang menyedihkan….kayaknya mas Dm emang lagi SUNYI tuh hatinya….bener tuh kata mas sugeng….tercermin kok dari untaian kata mas DM…kayaknya mayang butuh kembali niy…hehehe

    imoe, terakhir menulis …dari padang untuk selamatkan anak dari bahaya tembakau…

    DM: Haih? Kenapa Mayang disinggung lagi di sini?
    Bung Imoe pingin Mayang datang lagi?

  40. kapan gubug saya disambangi mas daniel? hiks, sudah tiba di tempat pak zoel juga. ke timur dikit kan dah sampai kendal, mas dan. btw, mbeberapa hari belakangan ini blognya kan kok kehabisan bandwith, syukurlah, sekarang dah bisa dibuka lagi dg lancar.

    DM: Kendal hanya tinggal sepelemparan tombak saja, Pakde Sawali.
    Iya, bulan Januari kemarin sempat dua kali kehabisan bandwidth. He-he. Makasih perhatiannya, Pakde.

  41. anisa says:

    tragis banget kisahnya mas. terus terang anisa ngak suka cerita sedih seperti ini mas.
    tragis banget kehidupan mas sugeng dan keluarganya padahal mereka sudah susah saat masih ada kepala keluarga yang mencari nafkah, bagaimana kalau mas sugeng sudah meninggal???
    tapi mas sugeng meninggalnya bagus mas setelah solat subuh persis eyang anisa tahun lalu setelah berkebun . tapi memang eyang sudah lama sakit jantung siy….
    setelah ini mas mahendra kemana lagi? kalau udah dekat jogja bisa nginep di rumah eyang, kosong kok…… nanti deh anisa email alamatnya.

    mas kenapa judulnya mafela???

    DM: Yeee… di mana kesamaannya antara setelah sholat Subuh dengan setelah berkebun? Ihhh…
    .
    Rumah eyang di Yogya? Aduh makasiiihhh, ndak usah repot-repot…
    .
    Kenapa Mafela? Iya, kalo judulnya “Dodol” gitu kan malah nggak nyambung.

  42. carra says:

    DM: Apanya yang berapa lama lagi, Carra…

    smp di jogjanyaaaaaa… ^^

    carra, terakhir menulis Brownies

    DM: He-he. Iya, ngerti kok, Carra…

  43. edratna says:

    Entah kenapa, kayaknya sang tokoh Dan kok penuh kebimbangan dalam melangkah, akan kemana dan apa yang dicari, terus sendu gitu lho (bukan seneng duit…:P)

    Kapan ya si tokoh ini akan menjadi kuat, bergairah dan tertantang untuk melakukan hal yang spektakuler…atau memang penokohannya sendu begitu?

    (hehehe…..ya terserah penulisnya ya…..komen masih agak ngantuk)

    DM: Wah, itu bisa dibuat, Bu. Tenang…

  44. Retie says:

    Kesepian??? Kayaknya ngga dech…. wong yg berkunjung ke blog aja banyak koq :D

    Ya ampun mas… kasian ya istrinya mas Sugeng….
    Semoga amal ibadah mas Sugeng diterima di sisi Yang Maha Kuasa…. amien…

    Wahhh… musti lanjut baca bukunya Joe Vitale – Hypnotic Writing. ahh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>