(The Waiting Is Almost Over: 10)
Mereguk air dari sungai keheningan hanya dengan demikian jiwamu akan menyanyi dalam kebahagiaan. Dan di saat engkau meraih puncak pegunungan di situ lah bermula saat pendakian. Dan ketika bumi menuntut kembali jasad tubuhmu. Tiba pula saatnya bahwa tarian yang sesungguhnya mulai kau tarikan (Kahlil Gibran, Sang Nabi)
Aku bersiap menggendong ransel lagi. Aku tahu Mas Zulbasri berusaha menahanku, bahkan menawariku untuk bermalam di rumahnya. Namun aku tak ingin membuatnya repot. Bisa bertemu dengannya saja sudah sungguh menyenangkan bagiku. Berjam-jam kami ngobrol banyak hal. Soal blog, blogger, dunia sastra, sastrawan, juga pekerjaannya.
Di teras rumah ia menahanku, “Yang kau cari ada di hatimu, Mas Dan.”
Aku tercekat sejenak. Tersenyum padanya, dan menganggukkan kepala. “Iya, Mas. Makasih. Aku pamit.”
Aku merasa ia masih terus memandanggi punggung ranselku hingga ke ujung jalan. Lelaki itu sungguh baik. Pembawaannya kalem, bicaranya sedikit, ada kesan introvert seperti tulisan-tulisannya di blog, tapi ia seorang guru yang ramah. Satu hal yang terus bernyanyi-nyanyi di telingaku adalah kalimatnya: “Ikuti kata hatimu. Bukan nafsumu. Nafsu takkan pernah membawamu ke mana-mana.”
Maka Hari masih sore ketika aku mulai melanjutkan perjalanan. Kulihat mendung tampak meraja di langit. Kutelusuri kota Pekalongan. Ruas-ruas jalan, deretan pertokoan, dan pusat keramaian. Masih cukup waktu untuk menyeret kaki ke terminal bus. Tapi aku merasa kesepian.
Aku membeli sebuah syal batik di sebuah toko cinderamata. Pada kasir kuminta untuk tak perlu membungkusnya. Mau kugantungkan langsung di leherku. Ketika hendak menerima uang kembalian, seorang lelaki kurasa sedang memperhatikanku. Kulihat ia tersenyum. Aku mencoba menganggukkan kepala. Ia berjalan menghampiri.
“Mas Dan?” tebaknya.
Weh, terkenal juga aku, batinku meringis. “Ehm, siapa ya?”
“Bukan siapa-siapa, Mas. Mas Dan kan?” ia tertawa menyodorkan tangan, “Aku Sugeng, Mas.”
Dan aku menyebut nama asliku.
“Iya, tapi Mas selalu menggunakan nama Dan di tulisan-tulisan Mas.”
Tulisan-tulisanku? Olala! Siapa dia? batinku menduga-duga.
Ia tersenyum penuh arti. “Aku pembaca setia blog Penenun Kata, Mas.”
Huah! Pertemuan yang tak disangka. Aku tertawa senang.
“Sudah di Pekalongan ternyata. Gambaran tokoh Dan di tulisan itu sangat mirip dengan Mas. Dan foto Mas, aku hapal betul, ini pasti Mas Dan.” jelasnya tersenyum senang.
Aku pun tersenyum senang.
“Aku selalu baca seri perjalanannya, Mas. Wih, yang di Karangampel itu bikin aku merinding.”
Aku hanya tertawa sembari mengucapkan terima kasih karena sudi membaca blog-ku. Senang juga bertemu dengan seseorang yang mengikuti tulisan-tulisanku.
“Mas mau ke mana sekarang? Baru sampai Pekalongan atau sudah mau berangkat lagi?”
“Belum tau, Mas Sugeng. Inginnya mau lanjut ke kota berikutnya, tapi sepertinya sebentar lagi bakal turun hujan.” jawabku sembari melihat langit di teras toko cinderamata. “Mendungnya gelap sekali.”
“Nginap di rumahku saja, Mas. Mas kan bisa melanjutkan perjalanan besok pagi.” tawarnya.
Dalam hati aku bersorak girang. Sebetulnya aku ragu jika harus melanjutkan perjalanan. Mendung di atas terasa memengaruhi atmosfir jiwaku. Tapi aku tak punya rencana bermalam di kota ini. Namun begitulah menjadi seorang traveler. Ia mesti selalu siap terhadap berbagai hal yang ditemui di jalanan. Termasuk mendapat tawaran atap untuk menginap.
Tak perlu menolak maksud baik seseorang. Bukankah dengan begitu dapat menghemat uang ketimbang menyewa penginapan? Meski sebetulnya kalau memang mesti bermalam di kota ini, bisa saja kuterima tawaran Mas Zulbasri tadi. Toh sudah sama-sama kenal. Tapi bukankah tadi aku sudah pamit? Mana enak kembali ke sana lagi.
“Nggak akan merepotkan nih, Mas Sugeng?” kulihat hujan mulai tumpah tanpa malu-malu ke atas bumi.
“Sama sekali nggak, Mas Dan. Aku malah senang. Rumahku nggak besar, tapi Mas Dan pasti suka. Ada istri dan dua anakku di rumah. Mas bisa ngobrol banyak di sana.”
Ngobrol banyak? Kenapa orang selalu mencoba membuatku ngobrol banyak? Apakah aku tampak seperti orang yang jarang ngobrol? Weh, makin kusadari betapa sedikitnya aku berbicara secara lisan. Namun sesungguhnya aku mulai tergoda dengan tawarannya. Aku juga ingin tahu seperti apa pola hidup orang di kota ini. Kebiasaannya, rumah tangganya, serta sosio budayanya.
Ketika aku menganggukan kepala, ia tersenyum girang. “Ayo Mas!” ujarnya sembari menyetop sebuah angkutan kota.
Rupanya ia betul. Rumahnya memang tak begitu besar, tapi nyaman. Halaman rumah yang tak begitu luas tampak ditumbuhi berbagai tanaman. Rapi dan enak dipandang mata. Padahal rumah ini berupa sebuah rumah di gang yang berhimpitan serta hanya cukup untuk dilewati dua buah motor. Rupanya mereka orang yang pintar menyiasati keadaan.
Usia Mas Sugeng tak beda jauh denganku. Mungkin di bawahku dua atau tiga tahun. Ia bekerja di sebuah percetakan sebagai operator mesin. Kalau tak ada lembur, ia biasa pulang sore hari. Ia mengaku penghasilannya tak besar, namun masih mampu hidup bahagia bersama istri dan dua anaknya.
Ia orang yang cukup periang dan suka bercerita. Selain keluarga, hiburan baginya adalah berselancar di internet. Sesuatu yang membuatku cukup heran: seorang operator mesin cetak namun familiar dengan internet. Sebuah kesimpulan yang tak patut ditiru sama sekali; menilai seseorang secara gegabah hanya dari profesi kerjanya.
“Dulu waktu kuliah sempat kenal internet, Mas. Sekarang lagi coba-coba bikin blog. Kayaknya asyik.” terangnya.
Hujan tampak deras di luar. Setelah mandi, istri Mas Sugeng sudah menggelar hidangan santap malam dengan dua piring di atas meja.
“Silahkan, Mas Dan. Seadanya lho…” tukas istri Mas Sugeng tersenyum. Senyumnya manis!
“Lho, kok Mbak nggak ikut?” tanyaku heran demi melihat hanya ada dua piring di atas meja makan.
“Silahkan duluan saja, Mas. Nanti saya biar sama anak-anak.”
Maka sembari makan, Mas Sugeng asyik melanjutkan obrolannya. Tentang dua anaknya yang masih kecil-kecil dan belum sekolah. Tentang pekerjaannya di percetakan, tentang keinginannya membuat blog, tentang cara menulis yang baik, juga tentang bagaimana membuat judul yang mengundang pembaca di blog.
Dari meja makan, obrolan kami lanjutkan ke teras rumah sambil merokok. Ditemani dua cangkir kopi. Ia banyak bertanya tentang rencana perjalananku. Ia pun bertanya bagaimana aku mengangkat fakta-fakta di perjalanan lantas dituangkan ke dalam tulisan.
“Mas orang yang kesepian?” tanyanya tanpa kuduga.
“Kesepian?”
“Ya. Dari tulisan-tulisan, Mas.”
“Bagaimana mungkin?”
“Maaf, Mas, tapi aku menangkapnya seperti itu.”
Aku hanya tersenyum sembari membunuh rokok ke dalam asbak dan menyulut lagi batang berikutnya.
“Mungkin aku salah menyimpulkan, Mas. Tapi rasanya Mas mencoba bicara pada orang lain lewat tulisan. Mas merasa sendiri, getir, nelangsa, tapi tidak langsung bicara pada tujuan. Menggunakan gambaran-gambaran tertentu. Memang ada sesuatu yang konyol, tertawa-tawa, juga kegembiraan. Namun bukan itu sebetulnya maksud dari tulisan-tulisan itu. Hati Mas sunyi.” ia pun membunuh rokoknya ke dalam asbak. “Maaf lho, Mas, kalau dianggap lancang. Aku hanya menyimpulkan sambil lalu saja.”
Aku hanya tersenyum menarik nafas. Tapi tak pelak kesimpulannya membuatku tercenung. Tak banyak orang bisa menerobos sedalam itu. Kebanyakan orang hanya melihat luarnya saja. Lelaki ini jeli, pikirku.
“Mas sakit?” tanyanya heran ketika melihatku menekan-nekan dada kanan bagian bawahku.
“Oh, nggak Mas. Nggak kok.” jawabku cepat-cepat menarik tanganku. “Tulisan-tulisanku kan fiksi, Mas.” ujarku tersenyum.
“Tapi bagiku terasa nyata. Pembaca seperti aku yang nggak kenal Mas, pasti menganggap itu nyata. Karena ditulis di blog dan menggunakan kata aku sebagai pencerita.”
“Mas pintar menyimpulkan.”
“Hanya kesimpulan gegabah, Mas.”
“Kapan Mas mau mulai nulis blog?”
“Inginnya sih secepatnya. Banyak yang ingin kuceritakan. Tapi masih bingung mau mulai dari mana.”
“Jangan pakai pikiran, Mas. Pakai hati.”
“Maksudnya?”
“Tuliskan saja apa yang ada di hati Mas. Luapkan saja. Jangan dipikir, tapi ditulis.” kataku meniru ucapan William Forrester pada Jamal Wallace dalam film Finding Forrester.
“Tapi kan bisa jadi nggak menarik, Mas. Nanti jadi curahan hati aja. Belum lagi soal tanda baca, ngatur kalimat, wah, bingung, Mas.”
“Jangan pakai pikiran. Pakai hati. Tuliskan saja apa yang ada di hati. Baru setelah itu Mas baca dan tulis ulang pakai pikiran.”
“Ouw?” ia tampak terpana dengan kursusku yang ngasal ini. “Betul juga, Mas!”
“Aku selalu begitu, Mas Sugeng. Semua yang kurasakan, kutulis saja. Tapi bukan tulisan itu yang ku-publish nantinya. Aku terbiasa untuk membaca ulang berkali-kali. Membetulkan tanda baca, struktur kalimat, diksi yang kurang enak, malah kalau perlu membongkar paragraf.”
“Membongkar paragraf?”
“Ya. Tak jarang begitu selesai menulis, aku menghapus lead pertama, bahkan sampai paragraf ketiga awal kalau perlu.” lanjutku menirukan apa yang diterangkan Joe Vitale dalam Hypnotic Writing.
“Kenapa, Mas?”
“Karena biasanya pada paragraf-paragraf awal berisi sesuatu yang nggak penting. Terkadang tanpa disadari prolog kita suka kepanjangan. Sesuatu yang terkadang kurang esensi secara isi tulisan bagi karakter pembaca seperti blogger. Kita kan nggak sedang bikin berita seperti di koran yang menggunakan piramida terbalik, Mas.”
Mas Sugeng tampak senang. Ia terlihat antusias ingin segera menulis dan membuat blog. Aku ikut senang melihat semangatnya. Jadinya kami berbincang cukup lama di teras rumah. Hingga asbak mulai penuh dengan puntung rokok. Hingga kopi tandas hingga ke ampas. Menjelang tengah malam, Mas Sugeng mengajak masuk untuk istirahat.
Aku mendapat sebuah kamar di belakang. Sepertinya kamar anaknya. Kukatakan aku bisa tidur di sofa ruang tengah saja. Tapi ia mempersilahkan kepadaku untuk menempati kamar itu. Ia ingin tidur berempat di kamar depan.
“Sudah lama nggak tidur ramai-ramai, Mas. Kangen juga ngumpul bareng anak-anak.” ujarnya tersenyum. Aku hanya nyengir.
Dan aku pun mulai masuk serta membaringkan tubuh di ranjang. Kutatapi langit-langit kamar. Gambar-gambar mulai berkelebatan di sana. Wajah orang-orang yang kutemui di jalanan, peristiwa-peristiwa yang tak terduga, dan komentar-komentar yang menimpali tulisanku di blog.
Tiba-tiba aku merasa asing dan sunyi. Muncul pertanyaan susul-menyusul di telingaku: hendak ke mana perjalanan ini? Apa yang kucari? Dan kapan akan berakhir? Pertanyaan itu terus mengejarku hingga aku terlelap.
Pagi harinya aku terbangun dan membuka pintu kamar. Hari belum begitu terang, tapi kulihat suasana tampak ramai dan orang lalu lalang di ruang tengah. Lho, siapa mereka? Dan kenapa di ruang tamu tampak digelar tikar?
Aku menganggukan kepala pada bebarapa orang. Kulihat istri Mas Sugeng duduk di sofa ruang tengah, diapit oleh beberapa perempuan. Aku menghampirinya. Matanya tampak sembab.
“Pagi, Mbak. Ada apa ya kok ramai orang?”
Istri Mas Sugeng mendongak dan memandangku sendu. “Mas Sugeng, Mas…”
“Mas Sugeng? Kenapa dengan Mas Sugeng?” tiba-tiba jantungku berdegub kencang.
“Mas Sugeng…” matanya mulai berkaca-kaca. “Setelah sholat Subuh tadi, Mas Sugeng meninggal saat masih duduk di sajadah. Saya pikir tertidur sambil bersila. Tapi kok lama sekali. Begitu saya bangunkan, ternyata sudah nggak ada.”
Ya Tuhan?! Aku terbelalak. Laksana disambar petir ketika mendengar kabar Mas Sugeng meninggal dunia. Padahal semalam kami baru saja berbincang begitu panjang. Padahal baru saja aku mengenalnya. Padahal… Ah, betulkah yang kudengar ini?
Sontak dengan cepat aku menuju ruang tamu. Di sana kulihat orang-orang duduk di tikar, melingkari tubuh yang membujur kaku tertutupi kain, sembari menggumamkan doa. Ya Tuhan, Mas Sugeng meninggal? Sekuat tenaga aku mencoba menyangkal, tapi tetap tak bisa. Mas Sugeng betul sungguh meninggal. Tak bisa kurawikan bagaimana perasaanku saat itu.
Maka pagi itu aku ikut membantu orang-orang menyiapkan jasad Mas Sugeng untuk dimandikan. Setelah semua keluarga datang dan para tetangga berkumpul, siang itu juga Mas Sugeng dikebumikan di pemakaman yang jaraknya tak jauh dari rumah. Kukalungkan syal batik di nisannya. Aku bersimpuh mengenang pertemuan dengan Mas Sugeng saat membeli batik itu kemarin.
Hari mulai beranjak sore. Aku merasa posisiku serba sulit. Satu sisi aku bukan siapa-siapa di rumah itu. Baru saja mengenal Mas Sugeng sekelebatan. Tak nyaman kalau terus tinggal berlama-lama. Di sisi lain aku merasa tak enak kalau mesti buru-buru pamit pergi pada istri Mas Sugeng. Pernahkah kalian merasakan berada di posisi seperti itu?
Tapi perjalanan mesti terus bergulir. Dengan berat hati serta hati-hati sekali aku pamit pada istri Mas Sugeng. Aku bersyukur ia bisa memahami. Aku jelas tak ingin merepotkan keluarga ini lebih jauh lagi. Aku pandangi anak-anak Mas Sugeng yang masih kecil-kecil. Aku usap kepala mereka.
“Terima kasih, Mbak, saya sudah diperkenankan mampir ke mari.”
Istri Mas Sugeng menganggukkan kepala. “Hati-hati di jalan, Mas Dan.”
Aku menggendong ransel dengan hati gulana. Hari masih sore ketika aku mulai melanjutkan perjalanan. Kulihat mendung tak hanya meraja di langit, tapi juga di hatiku. Kupandangi ruas-ruas jalan, deretan pertokoan, dan pusat keramaian. Masih cukup waktu untuk menyeret kaki ke terminal bus. Dari kejauhan kulihat toko cinderamata tempat aku membeli syal batik kemarin sore. Haruskah aku membeli syal batik lagi? Tiba-tiba aku merasa sangat kesepian.
29 Januari 2009 | 21.13 wib
- Mafela: syal, selendang.




Hmm…tak ada yang tahu akhir hidup manusia ya….
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
Mas, apakah cara seseorang menulis prolog pertama pada tulisannya itu berkait juga dengan karakter penulisnya?
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
Berada pada posisi sulit? sering sekali. Terutama jika kita musti berhadapan dengan orang yang tidak terlalu kita kenal. Atau jika kita musti berhadapan dengan orang yang mempunyai kemauan dan pengharapan yang tak sama dan sebanding dengan kita.Tak nyaman. Hmm….mas menandai nya sebagai rasa gelisah saat di dekat seseorang itu. Tak harus dihindari….harus dihadapi….. toh waktu terus berjalan… posisi itu pasti akan berubah (Koleris banget ya….. hehehe)
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
Oh oke, Penenun Kata… Hmm.. Great Joe Vitale… Baca lagi, komentarnya sebentar ya.
Yoga, terakhir menulis Booster!
selalu tak lupa syal batiknya ya, mirip banget ama penulisnya…. kolektor buku, kolektor tiket, kolektor tulisan, kolektor syal batik hehehe.. paling tidak itu yang nampak. Kolektor apa lagi ya….. hmmm
prameswari, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
Besok aku baca ulang deh! Ngantuk habis minum obat batuk/pilek!
Juliach, terakhir menulis Perancis : Juara Mogok Kerja Sedunia
kirain mau ngomongin vokalisnya band Radja, ian mafela..
haha..
garing,,
penasaran, dalam perjalan Dan selanjutnya akan ketemu siapa dan peristiwa apa lagi ya? Mungkinkah bertemu sesuatu yang horror? ha.ha.ha…
Begitulah rahasia kematian, kita tak akan pernah tau kapan saat itu datang pada kita, satu detik yang lalu dia tersenyum pada kita, dan setelah itu dia terbujur tanpa bisa berkata-kata
film finding forrester?
kayanya pernah denger dan sepertinya film bagus neh..
hehe,,
omoshiroi, terakhir menulis Razia
@komen no 7
bwhuahuahauhau..iya…garing .banget!!…IYAN MAFELA…apee lagiii..wekekekek
btw Dan..
Oke..tulisan ini memberi warna yang beda lagi…
Dari mulai tips untuk menulis…
Gak perlu di kasih tau..aku rasa semua orang paham kalau aku berani ngblog dengan modal nekad…
Tapi setidaknya aku mencoba menulisnya dengan hati..sayangnya keluanya sampah semua ya..wekekeke….
Aku pun mencoba melakukan hal yang sama Dan…setelah kutulis…ku baca ulang….
Nahhhhh..disinilah malapetakanya!!!
Aku selalu merasa tulisan ku dari awal sampe akhir ya gak ada penting pentingnya sama sekali!!…masak setiap nulis harus di haous lagi..
Nulis lagi…entar di hapus lagiiiiiii…gimana seeehhhhh wekekekekk
But anyway..thx….tipsnya okey
Nanti aku kasih tau mama….dia kayaknya serius pengen ngeblog…(yang entah kapan akan di mulai hehehehe)
Eh Dan…
Kalau bikin tokoh jangan pembawa sial donnnnnn…
masak dia baru ketemu sama seseorang pertama kali…tuh orang langsung meninggal!…
WEW!!!
yessy muchtar, terakhir menulis Santay aja deh say…
Uhf Akhirnya bisa masuk belasan biasanya di 50 keatas hehehhe.
Makanya mas Dan Ada saatnya untuk pulang dan berkumpul dg keluarga,bukan doa jelek lo mas dan,semua tak ada yg tahu,ibuku 21 jan (1 bulan setelah hari ibu–padahal aku bikin postingan khusus untuk emakku ) meninggal,paginya masih sehat agak siang jatuh di KM sore meninggal,sederhana sekali mas.
Setelah Puas Bertualang segera pulang mas,keluarga menunggu.
@yessy:
dodol banget deh komen kamu, yes. masak dibilang tokoh dan pembawaannya sial? benernya: pembawaan maut, jeung! maut! m-a-u-t! persis joe black deh si tokoh ini, pernah aku bilang di tulisan jauh sebelum ini, sekarang terbukti.
tapi setuju, tulisan ini kaya banget, bikin emosiku jumpalitan. aku nggak malu mengakui kalau aku sempat nangis di akhir cerita. membaca kisah tentang orang yang tabah seperti keluarga mas sugeng gampang bikin terharu, begitu juga pertemuan dan perpisahan yang tak terduga seperti yang dialami tokoh dan.
ehm, usul, mas dan. gimana kalau di perjalanan berikutnya sampeyan ketemu sama ulama MUI, terus dinasihati agar tidak merokok karena fatwa haram? *dicekik syal batik*
btw, as i’ve told you that i, as well as other readers i suppose, can read your emotion while you’re composing your story, i can read this one, too. and you were not so happy, were you? something was bothering you. please light up, goniel. (after all, this shows that you do write with your heart!)
marsh, terakhir menulis Coklat Rasa Cabe
Apa definisi kesepian Dan?
Yoga, terakhir menulis Booster!
Tiba-tiba teringat film Frankie and Johnny, film lama yang dibintangi Al Pacino dan Michele Pfeiffer. Ow, bukan karakter Johnny yang lulusan penjara itu lho *tokoh Dan ini bukan mantan napi, kan?*, tapi karena di film itu bercerita banyak soal kesepian dan ‘kedinginan’.
Saking memorable-nya film itu, akhirnya aku menulis posting ini: teman yang takut sendirian. Mencoba mendefinisikan kesepian itu sendiri dan mencari tahu, was I a loner or I was just so lonely that moment?
Di ujung cerita itu, aku menulis kalimat ini (entah benar atau tidak, yang pasti saat itu aku mencoba menuliskan apa yang terasa di hati):
“Because we’re all alone… dan tinggal menunggu waktu saja, kapan kita bertemu dengan orang-orang yang sama kesepiannya, untuk bisa saling mengisi ruang yang kosong itu…”
Pertanyaan buat tokoh si Dan (atau tokoh yang menyerupai benar dengan Daniel Mahendra yang aku tahu) adalah:
Are you really a loner?
Are you sure you’re not enjoying being so?
You’re just a human being, Dan.
Orang yang punya lelah juga, kan? Stop denying the feelings, stop pretending that you’re fine….. kamu pernah bercerita tentang tokoh Mayang itu, why don’t you just fly to her place and settle down?
You said you’re an ‘actor’, rite, Dan?
Dan kamu aware dong, kalau actor itu punya jeda buat istirahat di sela-sela syuting padatnya? Kenapa nggak ambil jeda itu untuk narik nafas sebentar?
*again, aku nulis posting di kolom yang seharusnya untuk nulis komentar….* SORRY, BOSS!
Lala, terakhir menulis THE Events!
1. ada pengumuman kesepian di tulisan ini, yg sebenarnya juga terbaca di beberapa tulisan sebelumnya. hanya yg ini lebih gamblang.
2. ada paragraf yg dihapus di awal tulisan ya, Dan ? terasa tuh.
3. sebentar lagi pasti ketemu Pak Samali alias Pak Sawali di Kendal, ya ta ?
4. Sugeng, seorang operator mesin cetak. sendiri di pasar batik. ck, sedang apa dia disana. aneh… jangan bilang beli daster buat istrinya lho ya ?
5. ending yg nyesek, Dan. usul ni…,sekali2 yg lucu kek, buat penyegaran. haha…
6. apa lagi ya ? wis ah, semoga kamu nggak kesepian hari ini, Dan.
ceritanya asyik banget…benar-benar fakta ya Mas? tapi kok sedih sich akhirnya…perjalanan berikutnya yang menyenangkan yach!
ah tragis amat sih
Dua cerita terakhir rasanya terlalu dibuat-buat. Meskipun dalam kenyataan memang ada dan mungkin. Ntah lah atau memang aku hanya memilih cerita yang happy ending saja? Karena pada dasarnya aku seorang yang kesepian?
but nice story Danny
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Kunjungan TK terakhir
Saya bacanya kok jadi getir sendiri nih kawan?
dana, terakhir menulis Antara Gemintang
Kalau kesepian bisa mati, bunuh saja kesepian itu Dan!
Kalau sukses, ajari aku.
Yoga, terakhir menulis Booster!
sepertinya perjalanan yang seru nih mas, ada apa gerangan nih ke pekalongan hingga ketemu sama mas zulmasri dan mas sugeng?
hehe
catra, terakhir menulis Saya Mau Jadi Apa
@ Dan, komentar lagi ya:
Kesepian bukan mafela yang bisa dipakai terus di lehermu, dan bukan pula belenggu untuk kaki dan tangan. Jadi mengapa masih kau pakai juga? Huh… tapi sorry, aku nggak bisa ngasih tahu cara melepasnya.
@Daniel:
Sorry, komentarnya putus-putus, maklum komentar sambil colong-colong waktu.
Postinganmu ini bikin getir, meski ada ilmu yang kudapat. Usai membacanya, malah bikin aku sibuk melepaskan diri dari perasaan nggak nyaman, apalagi kalau bukan tentang kesepian dan sebuah makna yang tersirat, bahwasanya dunia ini bukan surga, dan bukan pula pasar malam.
Life is a journey and enjoy it, whether it’s bad or good, wherever and whatever the future brings to you! Bagus juga, manusia tak punya prophecy, jika ia punya, barangkali Dan tak akan mau memenuhi undangan Mas Sugeng (namanya punya makna yang bagus). Terima kasih telah berbagi tulisan yang bagus ini Daniel.
Yoga, terakhir menulis Booster!
Membaca postinganmu yang seperti biasa, sarat makna ini, aku jadi ingat lagu Dewa “Hitam Putih”… yang menyadarkan bahwa tawa dan tangis, suka dan duka itu hanya berbatas selaput tipis..
Aih, selaput..:)
DV, terakhir menulis Diinterview Tunggonono
Kenapa aku merasakan kemuraman, sedih, sesak membaca posting ini
inikah gambaran rasa kesepian?
tanti, terakhir menulis Tune in to WordPress.tv
Kenapa aku merasakan kemuraman, sedih, sesak membaca posting ini
inikah gambaran rasa kesepian?
tanti, terakhir menulis Tune in to WordPress.tv
woh…
udah sampe di pekalongan…
carra, terakhir menulis Njek…Injek…
Hidup ini hanya kepingan
Yang terasing di lautan
Memaksa kita
Memendam kepedihan
Awalnya bicara tentang kesepian, lalu lanjut ke kematian.
Takutkah mati dalam kesendirian?
Menurut saya, itu adalah satu dari beberapa hal yang paling menyedihkan.
AL, terakhir menulis Merokok
@AL
Kalau ga salah itu lagu nya pas Band ya?
setuju sama mas goenoeng untuk koment nya yang no 1
wuhh sebeginikah ,,,,,,
ay aku juga nggak tahu kapan …
malah bingung dewe hahaha
genthokelir, terakhir menulis Menulis Tanpa Berguru
wah mas, nyampe juga di pekalongan ya. sayang gak nginap, padahal sudah disiapin sarapan pagi: nasi megono, khas pekalongan
kecele juga, kirain saat nginap di rumah sugeng, tokoh zulbasri juga bertamu ke tempat sugeng. eh nggak tahunya tokoh sugeng meninggal.
sebuah kejutan. merinding mas, coba nginapnya di tempat zulbasri, yang meninggal ya tokoh zulbasri. ih…!
but…, nice fiction
Zulmasri, terakhir menulis MATAHARI BUKIT SENGARE
gara-gara bandwith aku ketinggalan,
bagusnya cuma ketinggalan komen,
lha kalo dah dicetak kan habis beneran, nggak kebagian.
tapi doohh , nyesek banget endingnya,
makan daging ayam tiba2 keselek tulangnya.
mascayo, terakhir menulis please think seriously!
membaca balasan komenmu @jamal el ahdi #12, aku jadi teringat salah satu tulisan di kumcerpen selamat datang di pengadilan, yang saat mula membacanya aku sudah menyadari bahwa tokoh anjar merepresentasikan seseorang yang kukenal.
memang banyak sekali hal-hal yang mengecewakan harapan kita dalam hidup. tapi menyesal tidak selalu jadi jawaban toh?
i’ve been looking forward to welcoming this blog back. and here you go!
pagi, goniel!
@Zulmasri
Untung si Dan gak nginep di rumah Zulbasri yah, fuih…..
AL, terakhir menulis Pernikahan yang Sendu
Benarkah Mas Daniel orang yang kesepian? Menurut saya mungkin saja. Saya menyimpulkan dari avatarnya….:D
Gak apa apa Daniel, kalau sedang memikirkan kata yang satu itu, pikiranku sering tersesat dan pasti menciptakan ambiguity.
Yoga, terakhir menulis Bahkan Peramal Pun Tak Tahu Masa Depannya!
Apa yang kau cari ada dihatimu Dan..?
Emang yang dicari apa? kok dihati, nyarinya pakai USG ya?
(Comment gak penting..!)
Mas boleh aku link blognya ya? Thanks.. kemaren kunjungi blogku juga..
ernalilis, terakhir menulis Do You Really Love Me?
saya suka sunyi.. tapi tak suka sepi
bener-bener akhir yang menyedihkan….kayaknya mas Dm emang lagi SUNYI tuh hatinya….bener tuh kata mas sugeng….tercermin kok dari untaian kata mas DM…kayaknya mayang butuh kembali niy…hehehe
imoe, terakhir menulis …dari padang untuk selamatkan anak dari bahaya tembakau…
kapan gubug saya disambangi mas daniel? hiks, sudah tiba di tempat pak zoel juga. ke timur dikit kan dah sampai kendal, mas dan. btw, mbeberapa hari belakangan ini blognya kan kok kehabisan bandwith, syukurlah, sekarang dah bisa dibuka lagi dg lancar.
tragis banget kisahnya mas. terus terang anisa ngak suka cerita sedih seperti ini mas.
tragis banget kehidupan mas sugeng dan keluarganya padahal mereka sudah susah saat masih ada kepala keluarga yang mencari nafkah, bagaimana kalau mas sugeng sudah meninggal???
tapi mas sugeng meninggalnya bagus mas setelah solat subuh persis eyang anisa tahun lalu setelah berkebun . tapi memang eyang sudah lama sakit jantung siy….
setelah ini mas mahendra kemana lagi? kalau udah dekat jogja bisa nginep di rumah eyang, kosong kok…… nanti deh anisa email alamatnya.
mas kenapa judulnya mafela???
DM: Apanya yang berapa lama lagi, Carra…
smp di jogjanyaaaaaa… ^^
carra, terakhir menulis Brownies
Entah kenapa, kayaknya sang tokoh Dan kok penuh kebimbangan dalam melangkah, akan kemana dan apa yang dicari, terus sendu gitu lho (bukan seneng duit…:P)
Kapan ya si tokoh ini akan menjadi kuat, bergairah dan tertantang untuk melakukan hal yang spektakuler…atau memang penokohannya sendu begitu?
(hehehe…..ya terserah penulisnya ya…..komen masih agak ngantuk)
Kesepian??? Kayaknya ngga dech…. wong yg berkunjung ke blog aja banyak koq
Ya ampun mas… kasian ya istrinya mas Sugeng….
Semoga amal ibadah mas Sugeng diterima di sisi Yang Maha Kuasa…. amien…
Wahhh… musti lanjut baca bukunya Joe Vitale – Hypnotic Writing. ahh…