Archive for February, 2009

Beker

Dalang: Ki Daniel Mahendra

Tak pernah terbersit sebelumnya dalam pikiran Sapar Sapari bahwa kini ia betul-betul jengkel pada beker. Ibarat muak, eneknya pada beker sudah sampai ke ubun-ubun. Tinur Tinuri, istrinya, sampai tak habis pikir, mengapa suaminya jadi begitu benci pada beker. Apa ada yang salah pada beker?

Saking jengkelnya, Sapar Sapari sampai mencari di berbagai ensiklopedia, buku pintar, hingga googling di internet: gerangan siapa penemu beker! Tetap tak ketemu jua.

“Harus kutemukan siapa penemu beker, Mah!” tukas Sapar Sapari pada istrinya di malam sebelum tidur.
“Buat apa sih, Pah? Kok kurang kerjaan. Memangnya kalo sudah tau siapa penemunya, mau diapakan?”
“Beker itu benda yang paling tidak menyehatkan kualitas hidup manusia, Mah. Mestinya orang itu bisa bangun dari tidur dengan sehat. Dengan tenang. Tapi sejak ada beker, hidup manusia jadi terpola, terkontrol.”
“Ya ampun, Pah… kok malah diseriusi.”
“Lho, ya harus, Mah. Bayangkan seratus sampai dua ratus tahun dari sekarang, gimana kualitas hidup manusia kalau setiap pagi, sedang enak-enaknya tidur, tiba-tiba; RRRRIIIIINGGGGGG!!!! Apa sehat itu?”
“Ah, nggak tau, Pah ah. Mamah ngantuk. Jangan lupa pasang bekernya, Pah. Nanti kesiangan lagi.”
Dalam hati Sapar Sapari menggerutu: Beker lagi! Beker lagi!

Continue Reading »

Pangeran Berkuda dan Putri di Menara

(The Waiting Is Almost Over: 20)

Dongeng Cinderalla, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau ciuman pada balkon. Tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri (Ayu Utami, Si Parasit Lajang)

Tengah malam sepulang dari toko buku Toga Mas Surabaya, kemudian terdampar di alun-alun Sidoarjo, aku mengetik semalaman hingga Subuh hari di rumah Sasongko. Aku berkejaran dengan deadline yang telah ditetapkan penerbit. Ada naskah yang mesti kuselesaikan. Beginilah caraku mengongkosi perjalananku: menulis.

Tulisan kukirim via e-mail. Honor dikirim via rekening bank. Sementara aku terus menggelandang dari satu kota ke kota lainnya. Kantorku adalah laptop. Bahan tulisanku adalah apapun yang kutemui di jalanan. Perpustakaanku adalah alam. Dan semangatku adalah senyum perempuan (tsah!).

Selepas Subuh, pukul setengah enam aku sudah tergolek pasrah. Mataku seperti diganduli batu sebesar gunung. Aku terlelap memeluk laptop yang masih menyala. Rasanya aku bakal tidur panjang setelah seharian kemarin tiba di Surabaya belum lagi sempat istirahat sama sekali.

Baru saja memejamkan mata sekitar setengah jam, aku merasa pintu kamarku ada yang mengetuk. Huh. Tidak bisakah aku memiliki diriku barang sejenak? Dengan sempoyongan aku berjalan ke pintu. Dengan mata masih terkantuk-kantuk kulihat Reni, istri Sasongko berdiri di depan pintu kamar menyodorkan teh manis.

Jantungku berdegup!

Continue Reading »

Persinggahan dan Melacur

(The Waiting Is Almost Over: 19)

Tergantung dari kerja yang keras. Tanah yang tandus, udara yang ganas, dan bibit yang baik selalu berserah pada manusia yang berani mengubah. Dan tanpa kerja keras, jangan harap panen yang bagus (Sobron Aidit, Panen yang Bagus)

Toko Buku Toga Mas mulai tampak ramai. Musik berdentang-dentang. Ayu terlihat sibuk. Kubiarkan dia. Aku bergabung dengan kawan-kawannya. Lagi-lagi bertemu teman-teman lama, seniman-seniman Surabaya. Kemudian Ayu mendatangiku. Menyuruh Sasongko duduk. Sementara ia sendiri sibuk memperkenalkan setiap tamu yang datang kepadaku.

Banyak sekali yang dapat kukenal. Aku menarik kesimpulan: jaringan pertemanan Ayu luar biasa luasnya. Terutama kalangan seniman Surabaya. Aku terlibat diskusi dengan beberapa orang. Sangat mengasyikan! Ayu pernah bilang: tinggal di Surabaya memang bikin gerah. Selain secara geografis berada di pesisir, orang-orangnya memiliki karakter keras. Namun, katanya, jalinan pertemanan di sini sangat kuat. Malam ini kuakui: sangat!

Di sana aku seolah-olah dianggap kawan lama oleh mereka. Padahal tak sedikit yang baru kukenal. Mereka menganggapku bagian dari komunitas mereka. Itu yang luar biasa! Mereka begitu welcome dan sangat-sangat bersahabat. Untuk orang introvert seperti aku, hal itu sungguh menyenangkan. Karena aku tidak memulai, tapi orang lain yang mendahului membangun komunikasi.

Continue Reading »

Sahabat

(The Waiting Is Almost Over: 18)

Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku (Sutardji Calzoum Bachri)

Kereta api ekspres malam Turangga mulai membelah malam. Menyusuri bentangan rel yang dingin kesepian. Aku duduk di samping seorang lelaki tua yang kerjanya melulu tidur dan tidur belaka. Kucoba pergi tidur, tapi sulit sekali. Aku membolak-balik sepucuk buku Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, malah tak bisa memejamkan mata sama sekali.

Beruntung aku duduk di gang, tidak di jendela. Karena dengan begitu aku bisa keluar masuk bordes, dan merokok sendirian di sana. Aku memang tidak bisa tidak merokok dalam waktu lama. Merokok sendirian di bordes memang mengasyikan. Asapnya tidak mengganggu orang, suasananya tenang, sembari meliriki mbak-mbak pramugari yang melenggak-lenggok manis serta kemayu.

Dulu sering sekali aku merokok di bordes saat dalam perjalanan menyusuri Pulau Jawa. Tapi bukan dengan kereta eksekutif seperti ini, melainkan bisnis. Kenapa bisnis? Karena di bordes aku bisa merokok dengan pintu gerbong terbuka. Jadi angin malam dapat dengan leluasa menampar-nampar wajahku.

Ketika tiba di stasiun Surabaya Gubeng pada pagi harinya, langit tampak tersenyum. Namun udara panas kota Surabaya langsung menyengat begitu turun dari kereta. Hup! aku meloncat. Kugendong ransel dan meniti koridor stasiun. Surabaya, aku datang!

Continue Reading »

Next Page »