Sebuah Surat Tanpa Alamat Surat

(The Waiting Is Almost Over: 11)

Kepada Petualang Muda

Bagaimana kabarmu? Sehat? Semoga. Saat kau membaca e-mail ini, aku tidak tahu, sedang di kota mana kamu berada. Semoga kamu baik-baik saja.

Butuh sebuah kekuatan yang tak ringan hingga pada akhirnya aku bisa menulis surat ini kepadamu. Butuh keberanian yang tak sepele untuk bisa memutuskan apa yang terbaik bagi kita berdua: aku dan kamu.

Setelah aku pikir masak-masak, apa yang kau katakan tempo hari di Bandung saat kau hendak pergi menggendong ransel, ada benarnya juga. Ya, aku memang mesti melanjutkan hidupku. Mesti tegas dan punya sikap. Toh kamu sudah memutuskan. Begitu pun aku: mesti berani memutuskan pula.

Sudah kutawarkan jalan hidup bersama. Baik melalui tol maupun di jalan setapak. Namun rupanya kau lebih memilih berlari menembus hujan. Padahal kita bisa melumut jadi satu di muara. Hingga akhirnya kita memang mesti menentukan jalan hidup kita masing-masing.

Menunggumu adalah sebuah jalan cerita yang tak berkesudahan. Dalam kondisi normal kau lebih asyik dengan pekerjaanmu yang selalu saja menggunung (kapan kencannya?). Di saat santai, kau malah sibuk dengan rencana petualanganmu (kapan kita pernah punya waktu bersama?).

Nyatanya kau memutuskan pergi berkelana dari kota ke kota. Bertemu teman-teman lama, teman-teman baru, dan ehem-ehem! (kau pikir aku tak cemburu mengikuti kisah perjalananmu di blog dalam The Waiting Is Almost Over, eh?).

Aku tahu, tak hanya aku perempuan yang mencintai kamu. Juga aku tahu tak hanya aku yang menginginkan kamu. Tapi kamu terlalu asyik dengan semua itu. Masih sulitkah menentukan satu dari sekian banyak? Hidup mesti realistis, Dan. Umurmu makin bertambah, dan waktu tak pernah mau menunggumu. Hingga aku pun mesti realistis untuk dapat terus menunggumu.

Pergilah jika kamu memang ingin terus pergi. Reguk apa yang kau inginkan. Tapi jangan kau lupa satu hal: hidup juga terus berjalan. Dan orang-orang yang pernah kau temui pun tetap melanjutkan hidupnya masing-masing. Adakah orang yang lebih peduli terhadap dirimu selain aku? Jadi arah mana yang hendak kau tuju?

Namun demikian, ribuan terima kasih, Dan, untuk kebersamaan yang pernah kukecap. Manis getir, susah senang, semua begitu berarti bagiku. Jujur aku banyak belajar darimu. Tentang pemaknaan hidup, juga tentang hidup itu sendiri. Aku takkan pernah bisa melupakannya. Tapi sekali lagi: hidup memang mesti realistis.

Selamat tinggal, Dan.

Pesanku: jangan lupa sholat. Jangan malas mandi. Dan jangan suka menyepelekan makan.

Bandung 1 Februari 2009,

-Peri Kecilmu-

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

67 Responses to Sebuah Surat Tanpa Alamat Surat

  1. anak ilang says:

    “Aku minta kepada Allah setangkai bunga segar, Dia beri aq kaktus berduri.

    Aku minta kupu-kupu, di beriNya ulat. Aku kecewa dan sedih!.

    Namun tidak lama kemudian kaktus itu berbunga indah sekali

    Dan ulat itu berubah menjadi kupu-kupu yang cantik

    Begitulah cara Allah mengasihiqu, selalu indah pada waktunya”

    Setujuuu!!! Hidup itu memang harus realistis. harus berani mematahkan ranting yang rapuh untuk membiarkan tunas yang baru tumbuh.

    Yang hilang kan terganti……

    DM: Di balik kesulitan selalu ada kemudahan bukan?

  2. anak ilang says:

    @ikkyu_san
    memang awal nya sad ending tapikan kita ga pernah tau kisah selanjutnya. iyakan tante?

    @radesya
    Menunggumu adalah sebuah jalan cerita yang tak berkesudahan.
    sama kak aq juga suka kata-kata itu.

    @geonoeng
    Betul mas, mungkin saja saat itu wanita itu sedang bingung memberikan keputusan untuk menjalani hidup masing-masing. Jadi dengan adanya keputusan itu malah membuat sang wanita merasa lega.

    DM: Hmmm…

  3. Lala says:

    Jadi inget lagunya Air Supply, I Can Wait Forever, asal mereka melangkah ke arah yang sama, ke tempat yang sama, di mana di situ mereka bisa together forever.

    Aku rasa Peri Kecilmu itu sedang berada dalam self defense mechanism, di mana ia berjuang sekuat tenaga untuk bilang sama Dan kalau ia akan berhenti menunggu lelaki tercintanya itu…

    I’ve been in that shoe before. Sakit banget, berpura-pura bahwa aku baik-baik saja padahal sebetulnya perasaanku jauh dari baik. I did that for some reason; karena aku ingin dianggap dewasa dan tegar, karena aku ingin dia tidak kepikiran dan bisa moved on, juga karena aku tahu it was the best thing I could do…

    Kelak, bisa jadi Peri Kecil itu pasti akan merasa telah mengambil keputusan yang salah.
    Dan mungkin juga, malah seorang Dan yang akan merasa bahwa keputusannya untuk meninggalkan perempuan itu adalah satu kesalahan yang dia sesali… for the rest of his life….

    (huaaa… kenapa serius gene sih komentarku… )

    Lala, terakhir menulis at the end of the day…

    DM: “Big! Big mistake! Huge!” tukas Vivian dalam Pretty Woman.
    (supaya nggak serius, kucairkan dengan ungkapan Vivian di sebuah butik di Rodeo Drive deh. He-he).

  4. Lala says:

    Shop assistant: Hello, can I help you?
    Vivian: I was in here yesterday, you wouldn’t wait on me.
    Shop assistant: Oh.
    Vivian: You people work on commission, right?
    Shop assistant: Yeah.
    Vivian: Big mistake. Big. Huge. I have to go shopping now.

    Dan si Vivian-pun meninggalkan pramuniaga itu sambil membetulkan letak topi dan kaca mata gelapnya, dengan senyum yang PUWAS BUANGET!!! :D

    Haha! What a great scene! And I love it!!!!

    (nah, sekarang malah ngomentarin balesan komentarmu, Mas… hehehe….)

    Lala, terakhir menulis at the end of the day…

    DM:
    Sutradara: Cut!! Cut!! Cut!! Apa-apaan ini?! Siapa kamu? Kok tiba-tiba memerankan Vivian? Ha? Mana Julia Robert? Julia? Mana Julia? Hoi, Juliaaa…
    .
    (rupanya ini adegan pembuatan Sinetron Indonesia. Dan jelas bukan di Rodeo Drive. Tapi di Pasar Tanah Abang kayaknya! Hi-hi-hi).

  5. eh eh .mbak Anisa…ada potonya looo….cantik mbak….cantik..:) *poto asli kan ya mbak :) *

    @Lala…
    La…gak usah ngomongin film gue gituh don….gak enak ah….lo kalo kagum sama gue entar gue kasih tanda tangan….*xixixxixixixiix*

    @DM
    Hai jel….

    yessy muchtar, terakhir menulis Are You flirtable?

    DM: Yess-Yess… Dialog yang Lala maksud itu dialog di film Pretty Women. Bukan film Hantu Jeruk Purut. Gimana sih?

  6. Blog Cantik says:

    lam kenal!

    Blog Cantik, terakhir menulis Siapa Saya?

    DM: Salam kenal juga…

  7. edratna says:

    Hmm hidup memang harus berjalan….penantian tanpa batas juga membuat kita kehilangan opportunity…dan kadang harus berpikir mungkin memang belum jodoh, karena kalau jodoh biar ntar ketemu orang lain, akan kembali lagi.

    Kenapa judulnya surat tanpa alamat surat? Atau karena melalui email? Bukankah email itu juga merupakan alamatnya? Kan sekarang udah jarang surat lewat pak pos….jadi saat buka email, udah mulai deg2an…ada berita apa ya? Adakah surat dari si Dia?

    Niel, aku suka cerita ini, karena bagi cewek tak ada lagi cerita harus nunggu sampai hari kiamat, padahal dunia ini begitu indah dan banyak cowok keren bertebaran….hihihi

    edratna, terakhir menulis Naik Kereta Api Bandung-Jakarta tetap menyenangkan

    DM: Ya-ya-ya. Betul, Bu. Dunia ini begitu indah dan banyak cowok keren bertebaran. Intinya memang pada cowok kerennya. Cowok keren kan, Bu? Yak tul! Cowok keren! (Ibu lho yang bilang…) Hi-hi-hi.

  8. @DM balasan komen no 55

    Salah juga!
    Hantu jamu gendong tepatnya!!!

    DM: Eh, tukang jamu rupanya. Kirain judulnya Hantu Cempaka Putih.
    “Jamu becak taninya satu, Mbak…”

  9. vizon says:

    hebat betul kang DM ini ya… dikerubutin cewek2 seleb jagat blog… (ehm… apa kabar ikkyu san, marshmallow, yessy, jeunglala… rajin amat kongkow di sini…), hehehe… :)

    DM… pada akhirnya, seseorang harus melabuhkan dirinya pada sebuah terminal akhir; itu manusiawi… kelelahan jiwa yang terus berkelanan, musti diistirahatkan, segeralah tunjuk, di terminal mana engkau akan berhenti dan takkan pergi lagi… :) (he, si akang perginya naik kereta kan? mustinya stasiun ya… hehehe…)

    DM: Haih-haih… Uda Vizon ini berlebih-lebihan ah. Apanya yang dikerubutin… Semut kali dikerubutin :p
    .
    Nah-nah-nah, berhenti di satu titik ternyata tak mudah juga, Da. Terminal begitu ramai, stasiun riuh rendah, pelabuhan hiruk pikuk, dan bandara tak kalah semarak. Entah transportasi apa yang sebaiknya digunakan untuk bisa betul-betul berhenti di satu titik yang entah di mana (cieee… ngomong apa sih aku ini! :p )

  10. @vizon:

    kabar baik, da.
    kita memang seneng banget nongkrong di sini, abis bisa ketawa-ketawa gitu (ngetawain yang punya blog maksudnya).
    nggak perlu iri sama si DM, da vizon. bagi sebagian bloger kunjungan rutin begini mungkin berkah, tapi bagi yang punya blog, rest assured, begini ini mah musibah! *DM manggut-manggut mengiyakan*

    sumpah, da! berani taruhan potong kuping DM! hakhakhak!
    *diceburin DM ke sumur* (woooiiii!!! sumurnya kering neeehhh!!! sakit kejeduk dasar sumur, tau?)

    datang tak diundang, pulang tak diantar, terakhir menulis Saat Tuhan Sedang Senang Bercanda

    DM:
    *manggut-manggut sembari nggak ngerti* He-he.

  11. omoshiroi says:

    baca postingan + komen-komennyah satu kali..
    ^los pokus antara postingan dengan komen dari anisa^.

    baca sekali lagi.
    ^tambah los pokus^.

    baca yg ketiga kalinya..
    ^lebih tertarik komen anisa daripada postingannya..lebih seru euy^.

    wakakak,,,

    omoshiroi, terakhir menulis Finding Forrester (film)

    DM: He-he-he. Dasar.

  12. Lala says:

    Ha??? Julia Jembret????? :D
    Sejak kapan obsesimu beralih menjadi seorang Sutradara?
    Bukannya dulu kamu selalu berobsesi menjadi cowok yang keren?? Iya, obsesimu yang nggak pernah kesampaian ituuu!!! wekekekeke…

    @ Uda Vizon:
    aku idem sama pendapatnya Uni Marsh.
    Betah di sini karena puas banget kalau udah ngetawain bossnya PK! wekekeke…
    *tos dulu ah ke Uni* :)

    @ Yessy:
    Ternyata nggak perlu gue jelasin kan, Boss… Udah dijelasin sama si MAS Daniel.. hihihi….

    Lala, terakhir menulis …and this is all about

    DM: Hi-hi-hi-hi…

  13. @Uda Vizon…

    ahh….kalau uni marsh melo ..lala cuma bilang betah nongkrong di sini…
    kalo saya mau jujur aja…

    Saya sedang menanti perkembangan hubungan yang punya blog sama Anisa!

    hihihihihii
    *Mas Mahendra….sudahlah….terima…terima aja gituh looo….perkara cocok gak cocok belakangan…mana tau bakalan cocok atau enggak kalo gak di cobain…keekekek*

    Eh eh ..Uda…
    keknya di sini juga enaknya menyapanya …terutama menyapa si empunya blog sambil mencela…kekekeek

    yessy muchtar, terakhir menulis I wish it Would Rain Down.

    DM: Hidiiihhh… kurang kerjaan banget nungguin perkembangan.

  14. Yulis says:

    Pertama-tama baca ceritanya ikutan sedih, karena si Peri kecil dan mas DM ga pingin bersama lagi. Tapi begitu baca komentar sahabat-sahabat mas DM, jadi lucu.. :) So aku yakin semua baik-baik saja. Thanks

    Yulis, terakhir menulis KUTA, LOMBOK TENGAH, INDONESIA

    DM: Semua baik-baik saja kok, Mbak…

  15. ipi says:

    Hai kalian org dewasa, klo msh bs bersatu knp mesti harus berpisah siy :
    :(
    salam,
    anak kecil yg terperangkap di tubuh org dewasa :mrgreen:

    ipi, terakhir menulis LUCKY

    DM: Kalau mesti berpisah, kenapa harus dipertahankan? He-he.

  16. mascayo says:

    Yeaahh .. setidaknya peri kecil tidak perlu berlama-lama membuang waktu sia-sia … hehehe

    mascayo, terakhir menulis Saya bertanya ada atau tidak ?

    DM: Sia-sia? Huahaha… Sialan.

  17. Retie says:

    Mmmm susah emang mencari pacar yg bisa ngertiin kita. Tapi mungkin ya sudah saatnya dirimu segera mencari pacar,mas :) aku cuma bisa bantuin doa aja dech

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>