Petualang Manapun Rindu Pulang
(The Waiting Is Almost Over: 12)
Jadilah manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum (Mahatma Gandhi)
Aku berdiri di pagar sebuah rumah di kota Semarang. Ya, satu hal yang sedikit kusesali adalah aku tak sempat mampir ke kediaman Pak Samali di Kendal. Apa boleh buat, ia sedang ada acara di luar kota. Jadinya dari Pekalongan aku terus menuju Semarang.
Semarang. Hmmm… entah kapan aku terakhir kali ke kota ini. Sudah lama sekali. Setiap ingat Semarang, selalu teringat Cheng Ho, Laksamana Tiongkok yang memimpin armada raksasa membawa misi persahabatan dari Kaisar Yongle (kaisar ketiga dari Dinasti Ming) guna menjelajahi negeri-negeri di seluruh dunia, termasuk Nusantara. Peninggalannya di Semarang bisa kita saksikan di Kelenteng Sam Po Kong.
Semarang. Begitu akrab aku dengan kota ini. Jalan-jalannya, suasananya, dan hawa panasnya yang menyengat. Ada beberapa kawan blogger yang kukenal di sini. Ada Mas Arya yang dulu selalu rajin berkunjung di setiap tulisanku. Namun kini nampaknya sudah tak begitu aktif nge-blog. Ada Gun, yang belakangan mulai akrab denganku, yang sajak-sajaknya selalu membius pembaca. Juga mestinya ada Ganesya, gadis manis yang kini sudah hijrah dari Semarang dan kuliah di UI itu.
Kini aku berdiri di depan pagar rumahmu. Mau tak mau aku jadi terkenang akan dirimu. Masih kuingat betul saat kau pulang pada peringatan imsak yang melenguh lantang. Kau yang dulu tegar dan selalu bertualang, akhirnya terbujur kaku juga setelah pamit hendak pulang. Ya, setiap dari segala yang pergi pasti pulang juga pada akhirnya. Begitulah yang kudengar tentangmu pada pagi itu. Ketika anakmu datang padaku, menghambur menangis dalam pelukanku atas kepulanganmu. Aku tahu, pada akhirnya kau memang pasti pulang. 84 tahun memang bukan waktu yang sebentar. Telah ribuan kilometer jarak yang telah tertempuh oleh petualanganmu. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.
Barangkali umurmu tak beda jauh dengan Pak Bram, Sastrawan Indonesia terkemuka perawi Tetralogi Buru itu. Kau memang seangkatanya dengannya. Kau lahir di tahun 1923. Ada jarak lebih dari 50 tahun antara kau dan aku. Tetapi waktu tak membuatmu kempis oleh keadaan yang terus berjalan.
Masih kuingat betul, ketika ku kecil, kau ajak aku keliling kota ini menggunakan motor bebek merah kebanggaanmu. Selalu saja di setiap senja. Dan sejak kecil itu pula kau ajarkan aku bagaimana menjadi seorang laki-laki dan bagaimana bertualang. Dengan motor tuamu itu, masih saja kau doyan menempuh Semarang-Yogyakarta. Semarang-Bandung. Atau keliling Jawa. Ah, kau memang sableng! Sebagai seorang tua, kau memang keras kepala dan tak mau mengalah pada waktu dan usia. Entah apa yang membuatmu tetap terus bertualang dari kota ke kota.
Kuingat masa mudamu dulu, kau seorang pemain keroncong ternama di kota ini. Kau memainkan biola bersama kelompok orkesmu. Begitu pun kau masih saja mesti sembunyi-sembunyi dari istrimu, karena istrimu tak begitu suka kau main keroncong. Tahukah kau, dari sanalah aku belajar bagaimana mengapresiasi musik. Sebuah stimulus yang terbawa terus di alam bawah sadarku sebagai ongkos hidupku di kemudian hari. Ya, berapalah honor bermain keroncong, namun tetap saja kau berkeroncong.
Kau kerap menghadiahi aku tumpukan kaset-kaset tua berisi tembang-tembang lama. Ada nomor-nomor asli Koes Bersaudara yang kerap membuatku terlena. “Pilih saja yang kau suka. Kaset-kaset itu tak pernah kuputar lagi.” teriakmu sembari memberi makan puluhan ekor burung. Dan aku berteriak girang tiada bandingan.
Hingga akhirnya kau memutuskan berhenti berkeroncong, hanya karena istrimu betul-betul naik pitam atas biolamu itu. Masih kuingat di pojok alam pikiranku saat suatu hari istrimu kedapatan membanting tubuh biola kesayanganmu itu pada bibir meja makan. Biola cungkring itu terbelah menjadi dua, hingga dawai-dawainya bergemelantung menambatkan dua bagian yang terpecah. Betapa kagetnya kau saat itu. Namun jika teringat itu, selalu saja aku ngakak bukan alang kepalang. Akhirnya kau betul-betul pensiun sebagai pemain keroncong. Nyatanya, rasa cinta pada istrimu jauh melebihi kecintaanmu pada keroncong.
Puluhan tahun kemudian, kau menghadiahi aku selembar foto besar berpigura, bergambar kau dan kawan-kawan orkes keroncongmu secara lengkap. Kulihat kau memeluk biola di sana.
“Simpan ini baik-baik,” katamu. Langsung saja kupasang pigura itu pada dinding rumah. “Kau tahu,” lanjutmu, “Dari semua yang ada di foto itu, hanya aku lah yang masih hidup.” akumu bangga.
“Oya?”
“Ya.” jawabmu sembari menyedot dalam kretekmu.
“Ke mana yang lain?”
“Sudah pulang semua.”
“Tinggal kau seorang diri?”
“Ya.”
“Kau tak kesepian?”
“Hmmm… entahlah.”
Kemudian dari berkeroncong, kau pun melukis. Betapa rajin kau melukis. Hari-harimu kau habiskan dengan melukis. Seharian belepotan cat di gudang belakang. Dan kretekmu itu selalu saja menempel di tangan. Hingga jika kau menggendongku dulu, tampak warna kuning melingkar di jari telunjuk dan tengahmu. Kau perokok berat!
Maka setiap selesai melukis, kau pergi ke tempat penjual burung di pasar. Kau pajang kanvas yang baru saja kau lukis. “Sebentar juga laku.” begitu katamu selalu. Nyatanya memang iya. Lukisanmu selalu saja ada peminatnya. Lucunya selalu laku di tempat penjual burung di pasar. Dan kau membawa segepok uang untuk belanja istrimu. Sisanya sekadar kau belikan rokok dan kopi.
Makin lama makin banyak orang yang menyodorkan wajahnya untuk kau lukis. Meski kau sekadar pegawai kantoran biasa, nyatanya waktu dan keadaan tak mampu membuatmu menyerah atas hidup. Kau tetap mampu menghidupi ketujuh anakmu dan menyekolahkannya. Kau tak iri sedikit pun pada keluarga istrimu yang hidup sangat berkecukupan serta selalu berpesiar ke luar negeri. Kau tetap menjadi dirimu sendiri.
Kalau aku berkunjung ke rumahmu yang sederhana, tetap saja berbicang denganmu di beranda masih jauh lebih mengasyikan ketimbang mesti berdiam di teras marmer sebuah rumah mewah dengan pemandangan mobil yang sulit kuhitung jumlahnya. Hanya di rumahmu lah aku dapat menjadi diri sendiri.
Suatu hari kau ajak aku berbincang sembari menyeruput kopi dan merokok (baru kuinsafi: selain temanmu, aku lah satu-satunya cucu yang dapat kau ajak ngopi sembari menyulut rokok). Kau bercerita, bahwa kau sama sekali tak menginginkan harta warisan dari almarhum bapak mertuamu yang keturunan pertama Belanda itu. Sambil terisak kau menunjukkan slip pensiun yang terlipat dalam dompetmu.
“Kalau hanya untuk makan dan hidup, aku sudah cukup, Dan.” tukasmu terbata-bata oleh air mata. “Aku tak ingin dianggap menunggu-nunggu bagian dari warisan.”
Aku terharu mendengarnya. Kuyakin tak seorang pun yang pernah kau ceritakan perihal ini dengan berurai air mata seperti itu. Ini kuceritakan semata untuk mengenangmu. Bahwa ada masa-masa di mana kita saling begitu dekat satu sama lain. Orang mesti tahu, kau memang lelaki sejati. Aku tahu kau tak menceritakannya pada orang lain. Terkadang kejujuran memang tak perlu diceritakan. Terkadang begitu banyak pertanyaan dalam hidup yang tak membutuhkan jawaban. Karena selama itu sebuah kejujuran, ia akan bermanifestasi pada hidup itu sendiri.
Ya, kini aku mengenangmu kembali. Mengenang sepeda motor tuamu itu. Yang kau gunakan bertualang dari kota ke kota. Menepi saat hujan, ngopi di warung pinggir jalan untuk kemudian melesat lagi. Tak ada orang seusiamu yang dengan nekat serta gila masih berani melakukan traveling seperti itu. Kau memang lebih mencintai kehidupan ketimbang dirimu sendiri. Namun justru karena itulah aku ada.
Masih terngiang di telingaku saat suara paraumu berkata di saat-saat terakhir: “Semua temanku sudah habis… Tinggal aku yang tersisa…” Tak bisa kubayangkan, bagaimana mungkin seseorang telah kehabisan teman. Saat ini barangkali seseorang masih lagi memiliki puluhan teman, ratusan teman, bahkan ribuan teman. Bisa saling SMS, saling e-mail, saling chatting, saling kunjung, saling sapa, dan saling menumpahkan suka duka. Tapi kehabisan teman? Tak pernah terbayangkan ada orang kehabisan teman. Dan apakah kita semua akan mengalami hal itu kelak?
Lantas kau terbujur kaku. Meninggalkan yang ditinggalkan. Kau bukan orang terpandang yang memiliki pangkat, kedudukan, juga harta yang tak habis dalam tujuh turunan. Kau hanya seorang lelaki biasa. Seniman serta petualang sableng yang tak gentar oleh keadaan. Namun justru karena itulah kau tampak lebih berkilauan di mataku sebagai manusia.
Di sini aku, cucumu, tiba-tiba mengenangmu. Di depan pagar rumahmu di Semarang. Suatu hari nanti, barangkali kau akan menjelma sebagai tokoh dalam ceritaku. Sebagai seorang lelaki sableng di masa pendudukan Belanda dan Jepang. Namun tak pernah menyerah seinci pun dalam menghadapi hidup, kecuali oleh kematian itu sendiri.
Tiba-tiba bayangan tentangmu samar-samar menghilang. Karena kudengar suara kunci pintu diputar. Dari dalam keluar seorang perempuan tua usia menjelang 80 tahun. Matanya memicing melongok siapa tamunya. Tapi garis-garis wajahnya masih lagi menunjukkan ia seorang perempuan yang cantik. Ah, itu dia istrimu. Ibu dari mamaku.
“Lho? Kowe, Dan?”
“Nggih, Mbah…” jawabku nyengir.
“Oalah…”
4 Februari 2009 | 01.29 wib


mbah: “dari mana saja tho Dan”
Dan: “habis keliling pulau jawa mbah”
mbah: “apa tho yang kau cari? kok koe iki mirip eyangmu, suka sekali berpetualang?”
Dan: “hanya ini yang diwariskan eyang buatku mbah, dan aku menyukainya”
mbah: “trus, kapan petualangan cintamu juga akan berakhir?”
Dan: “ini lagi menyeleksi dari para komentator di blognya DM, mbah…”
kayak lagu jadul: “setinggi apapun bangau terbang, pastikan pulang juga ke sarangnya”
salam Dan, eh DM…
vizon, terakhir menulis ketamuan
hmmm masih belum selesai kah petualangan anda, mas daniel?
pekalongan, semarang, kendal,
semoga saja lumpia semarang nya masih hanget ntar sesampainya di bandung.
brem jogja jangan lupa jg ya.
salam buat blogger yg ketemu disana.
catra
catra, terakhir menulis Saya Mau Jadi Apa
Semua orang pasti pulang
Klo pulang jgn lupa bawa oleh2 lumpia dan bandeng presto ya….aku tunggu.
cucu yang menyenangkan…
yang mengenang kakek terkasihnya dengan sejuta cerita
yang mengambil darah seninya meski berjalan dengan alur ceritanya sendiri
yang mengintisari segala jejak langkahnya dan mengambilnya sebagai sebuah pengalaman hidup
yang mencintai dengan segala kekurangannya
Dan, dia begitu mencintai orang terkasihnya
dan rela melakukan apa saja untuknya…
kisah yang manis…
nungkinung, terakhir menulis G-walk, Wisata kuliner bernuansa seni
*menghela napas*
ceritanya menyentuh.
like grand dad like grand son, sama-sama perokok dan sama-sama sableng.
suka cerita ini, goniel, kontemplatif banget.
kamu pasti sedang kangen banget sama alm. kakekmu, ya?
dia pasti bangga sama si dan kalau tahu cucunya itu mewarisi kesablengnya.
dan kisah biola itu. ufh! cintanya kepada sang istri melebihi cintanya akan kecintaannya sendiri.
(jadi ingat seorang tokoh di cerpen “lelaki tua dan istrinya yang sudah pikun”. penggambaran sosok sang kakek mengingatkanku pada tokoh lelaki tua di cerpen itu. karakter yang sama pada cerita yang berbeda?)
mas melo, terakhir menulis Saat Tuhan Sedang Senang Bercanda
Wah Kendal Terlewati,Ga Mampir rumahku dulu to mas …,Semarang adalah rumah ke2 ku (btw semarangnya mana ? kalau ketemu mo minta cerita ma nenek tentang kecilnya si Dan hehehehhe)
Singgah Untuk Pergi Ya Mas ?
Dari seluruh tulisanmu di seri The Waiting Is Almost Over, cerita ini adalah cerita terbaikmu, Mas. Entahlah, faktor apa yang menyebabkannya (kenangan-kenangan dengan Bapaknya Mami yang tiba-tiba terputar kembali di dalam isi kepala, mungkin juga berpengaruh, Mas… dia adalah kakek terbaik sepanjang masa, kapan-kapan aku tulis ah…)
Sudah berapa lama ya aku di halamanmu ini? Aku baca berulang-ulang kali dan masih saja emosiku teraduk-aduk…
*hey, aku nggak liatin photomu yang merenungi nasibmu itu, lho, Mas! tolong jangan GR! hehe…*
Hhh…
Ini bagus banget, Mas. BAGUS BANGET.
Well done, Mas!
oot: masih berpikir, sejak kapan Lala panggil mas sama DM ya? hihihi
Mas Dan, akhirnya mau pulang juga?
tapi pertanyaannya PULANG KEMANA, mas?
—- dan seperti biasa jawabanmu adalah pulang ke hati.
Hatimu
bukan hatiku
bukan hati komentar di blog ini
HATIMU , bukan?
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Tukar budaya?
kembali pulang….apa yang kau cari DAN ?
pulanglah dulu…sebelum memulai mencari yang sebenarnya kau cari…!
Mas DM, habis dari pulau jawa, nyeberang kemana niy ?
imoe, terakhir menulis …kaya dan berkah…
Nangis dulu
Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi
Aku…, aku nggak bisa komentar apa-apa untuk tulisan ini.
*menirukan gaya DV komentar AOE*
Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi
@Mbak Imel Sejak komentar di tulisan kemarin
)
Hihihi ada apa ya? Sniff.. sniff… mengendus sesuatu…
Anisa mana ya?
Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi
Mas Daniel, Anisa-nya mana?
Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi
jalan pulang yang dulu kita tempuh bersama
masih menyimpan jejak dalam bias
sepanjang pematang dan derai daun padi
kita urai nyanyian pagi sepanjang kenangan
:adakah kau simpan rindu
saat ketuk membangunkanmu di subuh
yang lelah di kepulangan kerja?
di sepanjang jalan pulang itu
telah kucatat kejadian sebagai headline
di halaman-halaman surat kabar
membangunkan impianmu ke kenyataan
yang kita temui di rutinitas hari ini
:tentang pembunuhan, berita kriminal
catatan hari-hari yang lepas
dan kemacetan berbuah depresi
andai kusampai di rumah, masihkah setia
kau dengan apa yang akan kusampaikan?
kekusutan urai rambutmu menumbuhkan rindu
di kepagian. cerita-cerita yang tidak pernah lepas
membinarkan hidup di kesunyian diri
:masihkah detik jam mempertemukan kita
dalam renjana masa lalu?
meski kutahu ada yang telah tiada
saat jalan pulang penuh rerimba
Zulmasri, terakhir menulis MENANTI HARAPAN DALAM PINTA DAN DOA (catatan seorang siswa)
akhirnya aku pulang juga, meski kembara belum selesai
matahari mungkin telah senja, sementara mendung
masih berkabar duka
dan dalam kereta yang membawaku, angin memukul-mukul
dari jendela; hingga kumenggigil kedinginan
musim penghujan, mantel ini seperti tak berarti
panas yang kau nyalakan telah lama padam. aku kembali
menjalani kekalahan untuk kesekian kalinya
kepulangan; aku mengerti juga
kotamu terlalu sulit dimengerti
barangkali bukan untukku. terlalu banyak
keasingan demi keasingan yang belum pernah kurasakan
terlalu banyak basa-basi dan pancaran mata aneh
aku tak mengerti rumus, tak mengerti abjad
biarkan kupulang ke tempat kelahiranku, tanpamu
karena barangkali benar:
kotamu bukanlah untukku!
Zulmasri, terakhir menulis MENANTI HARAPAN DALAM PINTA DAN DOA (catatan seorang siswa)
masih tersisa tangis dan mimpi sedih
dari kota-kota yang kusinggah. saat pelangkahan
terurai lewat perjalanan diam
masih terngiang pesan bunda di keberangkatan
tentang sumur tua dan halaman rumah gadang ditumbuhi ilalang
dan di kenyataan, kemarau mendenyutkan kecemasan
masihkah semua dipersetankan di ujung kota?
kisah perjalanan berakhir pada catatan ujung halaman
di kota kecil. kebosanan menggayuti mendung
di antara ceramah-ceramah berulang
di antara kebiasaan-kebiasaan yang sama
kita banting mimpi dan kenangan di ujung rawan
angin dan hujan menderu dari jauh
kisah perjalanan selalu membelenggu
dimanakah damai kau titipkan?
:padahal kutelah jauh mencari
di jalan-jalan kota di antara rusuh yang menimpa
Zulmasri, terakhir menulis MENANTI HARAPAN DALAM PINTA DAN DOA (catatan seorang siswa)
mas dm. semoga 3 puisi saya di atas bisa mewakili komentar saya terhadap tulisan terakhir mas. tulisan ini saya posting saat saya barengan dengan pak sawali di semarang. ada kegiatan pemilihan pengurus asosiasi guru penulis seluruh indonesia (agupena) tingkat jawa tengah
saya merasa suasananya sunyi saat baca tulisan di atas. sunyi sekali.
semarang hujan
gerimis
masihkah ada tangis lain
dari perjalanan sunyinya mas?
Zulmasri, terakhir menulis DI SINI ADA
“Aku berdiri di pagar sebuah rumah di kota Semarang”. (Par. 1)
wuiiih…. aje gile si tokoh Dan ini..kurang kerjaan kali dia..ngapain juga berdiri di pagar rumah orang?
aya aya wae..
he..he..he..
omoshiroi, terakhir menulis Finding Forrester (film)
jika sudah tiada sanak saudara yg tertinggal..
pula tak ada sebuah tempat yang dapat disebut rumah..
kemanakah kita akan pulang?
omoshiroi, terakhir menulis Finding Forrester (film)
(Par. 4) “Kini aku berdiri di depan pagar rumahmu”.
bei dhe wei, tokoh Dan ini berapa lama berdiri di depan pagarny?
sepertinya ada berjuta kenangan yang terbayang..
ga sampe dicurigai yang tidak-tidak sama warga sekitar kan bang Daniel?
takutnya nanti si tokoh Dan ini dapet hadiah bogem mentah seperti tempo hari, gara-gara dikira mau nge-maling (bah! kata apa pulak ini)..
hehe,,
omoshiroi, terakhir menulis Finding Forrester (film)
Wah, aku sesak nafas membacanya. Ingat engkong dan sabetan rotannya. Engkong saya goalaaakkkk banget. Guru ngaji kampung yang kalau ngajar ngaji or shalat bawa-bawa rotan, dan kalau kita becanda, niscaya kaki bakal kena sabet.
Pak Daniel, kayak fotokopi kakeknya. Kalau dulu kakek dibanting biolanya sama istri, mendingan siap-siap nanti suatu hari, istri pak Daniel bakal banting laptopnya. Komputernya. Hape-nya. Kalau masih gila kerja juga, istrinya jangan-jangan minta pindah ke gunung yang gak ada listrik atau internetnya.
AL, terakhir menulis Pertama Belajar, Kedua Latihan, Ketiga Jangan Menyerah, Kita Pasti Bisa
Saya cuma mau ngabsen para kometator di atas:
Nungki = 2
Yoga = 4
Zulmasri = 5
Omoshiroi = 2
Jadi, blog ini ajang silaturahmi ya….
(habis bingung komentarnya)…
edratna, terakhir menulis Naik Kereta Api Bandung-Jakarta tetap menyenangkan
#edratna
iya bunda enny, blog ini emang utamanya bertujuan untuk kita dapat saling bersilaturahmi. itu yang paling penting.
kalo postingannya bang DM mah itu nomor sekianlah. ga penting itu mah..
hehe,,
^ditimpuk bang DM pake pagar rumah^
^untung sempet ngeles, jd gkena timpuk^
omoshiroi, terakhir menulis Sembako Murah
Hhhmmm….
jadi tahu darimana semua itu berasal..
like grandfather like grandson
tanti, terakhir menulis When Your Heart is Calling You
Pinter sekali dirimu membawaku menyusuri kata demi kata. Seakan2 aku sendiri yang mengalaminya.
It’s cool.
p u a k, terakhir menulis Punyaku AB
pasal 1. tumben… baru kali ini aku baca sebutan ‘Mas’, di komenmu, Dan. hahaha…
*
*sodara2, ini bahan gosip baru
*haalooo, La. peace ! *
pasal 2. eh, si Dan ternyata indo. ngomongnya pasti mirip2 cincha lauwra, hehe…
pasal 2,5. aku jadi tahu, darimana Dan mewarisi bakat dan ‘kenakalan’nya.
pasal 3. klangenan memang kadang harus dikalahkan untuk sesuatu yg lebih penting ya, Dan. meski itu disadari atau tidak oleh orang lain, akan mengikis ‘hidup’ dan meredupkan ‘letikan’ yang bersangkutan. ck…
pasal 4. iki ndisik lah. nanti tak sambung kalo sudah ada komennya Anisa, haha…
goenoeng, terakhir menulis notasi pagi
eh, ketinggalan.
pasal 1. yg tadi itu, sambil lihat komen’e Lala ya, Dan.
biasane panggilan sayang’e DM.
eh,aku hetrik ta… hahaha…
kakak…
iiihhhh….,dasar…, cucu bandel…!!!!!!!
*tung!!!*
sekian lama kakak baru pulang tengok Eyang ya? ku jadi tau kakak mewarisi kenakalan beliau..
Aku jadi pingin pulang kak, banyak sekali kenanganku tertinggal di sana. Aku belajar hidup dari sana, banyak hal yang sudah aku dapat dari sana, pengalaman serem hingga pengalaman lucu. Pernah ku dikejar bencong di sana, pernah ku tertidur di kamar mandi juga di sana, pernah ku nyasar karena tertidur di bus juga di sana, pernah dikerjain temen-temen juga di sana. Aku jadi rindu kak…
aku terhanyut dalam setiap untaian kata-kata kakak, apa kakak bisa bernyanyi keroncong? apa bakat itu juga menurun pada kakak?
jadi ingat eyang, dulu eyangku suka dongengkan aku tentang wayang kak, tentang babad tanah jawa, tentang kisahnya dulu. Tentang raja-raja juga, gimana sikap kita kalau menghadap raja, ah merepotkan..
@omoshiroi
karena mungkin dia udah lupa gimana caranya masuk ke dalam rumah, kan udah lama banget tidak pernah pulang kak…
@AL
waduh! Engkong galak ya tante? pantes ja masih kelihatan bekas sabetan engkong di kaki tante
*aduh!! dijitak tante*
@edratna
Nungki = 2
Yoga = 4
Zulmasri = 5
Omoshiroi = 4
Bunda = 1
hihihihi, apa kabar Bunda? sehatkah?
iya, aku setuju dengan bunda…
Apa kabar kakekku ya Dan…
Ompung Doli dari mama sudah meninggal ketika mamaku kelas 2 Smp,
Opa dari papa sudah meninggal saat aku berumur setahun.
Praktis aku tidak punya kenangan tentang mereka berdua.
Hanya cerita bahwa ompung doliku seorang polisi, dan opa adalah wartawan di masanya..*jaman dulu judulnya udah wartawan belum si Dan*
Aku berharap aku punya memori sepertimu tentang kakekku…tap sayangnya tidak ada.
TAPI…
Aku senang sekali ..setidaknya ada Tangguh yang kelak akan mengingat bahwa dia punya seorang Opa yang amat menggemari Iwal Fals, Kantata Takwa, dan swami …serta Mansyur S di saat yang bersamaan. Tak ketinggalan juga ada Mbahnya …yang amat suka denger lagu jawa jawa itu…*apa si sebutannya?..gending?..iya bukan?”
Well…
Setidaknya Tangguh ku nanti punya kenangan indah itu…terutama betapa si Opa amat sangat sering memasang lagu Iwan Fals sore sore ini….mau tau lagu kegemaran Tangguh Dan?…Galang Rambu Anarki….setidaknya itu yang selalu bikin Tangguh berjoget joget aneh..hehe
Anyway…
Kenapa semua orang jadi ikutan Anisa manggil kamu Mas sih?!?!?!
@Lala….
Jadi manggilnya Mas nih???
@Bang Goen
Hai bang…jangan doain Jakarta banjir ya…hehehe
@DM
Aku tetap akan manggil kamu seperti biasa…Darling….*dzigg dzigg dziggg*
yessy muchtar, terakhir menulis I wish it Would Rain Down.
Sya betul-betul semakin menikmati kata-katamu dan paparan yang bernas. Salam.
Ersis Warmansyah Abbas, terakhir menulis Novel Markas gerilya (2)
Aku larut hingga berkarat dalam tulisan yg indah ini.
Caramu bertutur mengingatkanku pada cara Minke dituliskan Pram sedang mengenang Ang San Mei!
Brilian!
DV, terakhir menulis Menanti Konser Coldplay dan Album U2
Senang sekali bisa menjadi cucu yang sangat dekat dengan kakek dan bisa menjadi tempat curhatnya. Saya tidak sempat mengenyam manisnya kasih sayang dari kakek dan nenek. Jadi tidak tahu seperti apa rasanya berpetualang dengan mereka. Jadi tahu darah seni mas DM menurun dari siapa.. *sok tau mode:on* Thanks
Yulis, terakhir menulis KUTA, LOMBOK TENGAH, INDONESIA
Maaf Daniel, kemarin banyak membuat sampah di sini. Terus terang sulit berkomentar karena isi tulisanmu ini meresap benar dalam perasaan (kau pasti membuatnya dengan sepenuh perasaan). Lupakan tokohmu, Dan. Sebagai Daniel sungguh beruntung kau bisa bercakap dengan kakekmu disaat kamu tak lagi anak-anak (aku membaca postingan lamamu, tentang kaset Koes Plus, yang kau temukan teronggok disudut gudang, yang dihibahkan kakekmu yang senang melukis, tulisan itu membekas dibenakku) , hingga kau benar-benar mengerti, bisa menyelami jiwa beliau, tahu akarmu dengan baik dan…(kau lebih tahu bagaimana mengisi titik-titik itu)- satu fakta yang membuatku iri.
Sayang sekali, kebersamaanmu dengan beliau telah usai. Sekarang yang terbaik adalah berpikir dan mengejawantahkan pikiran-pikiranmu dengan sebaik mungkin, agar anak cucumu kelak mendapat legacy yang terbaik. Jadi ingat, kamu dulu mengajak pembaca PK berpikir tentang sepuluh tahun dari sekarang, lima puluh tahun dari sekarang, bahkan seratus tahun dari sekarang, apa yang akan terjadi dengan masing-masing dari kita?
Terakhir, aku sepakat dengan Donny, tulisanmu ini bagus sekali. Aku suka.
**
Hei, aku ingat nenek buyutku sering bercerita tentang Dampu Awang saat aku masih kanak-kanak. Ceritamu sekilas tentang Cheng Ho, membangkitkan ingatanku tentang beliau. Thanks.
Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi
mmmm ngga bisa komen apa2 aku, cuma bisa meneteskan airmata karena sejak aku lahir aku ngga pernah ketemu sama kakek kandungku
Pas baca ulang cerita ini, aku ingat pas masih umur 5 taunan gitu, pernah nyolong rokok yang disimpen Bapak di dalam laci mesin jahit. Nyolongnya bareng sama Mbak Pit and Mas Mirza, terus diemut-emut aja, nggak pakai dibakar… hehehe… Begitu ketahuan, dia marahnya bukan main… Dan sejak saat itu, Bapak berhenti merokok, biar nggak ditiru sama cucu-cucunya..
Oh ya,
aku memang khilaf kok.
Jadi tolong yaa.. kalau pingin tahu soal gosip-gosip terbaru, mendingan beli hape china yang ada tipinya deh, daripada buka blog Penganyam Kata inih…
Ya, Mas, ya? Mending gitu aja, kan, Mas?
(hihi, masih aja bikin bahan gosip!)
Peace euy…
Lala, terakhir menulis …and this is all about
Mengapa orang-orang begitu mudah berurai air mata…
Adakah membaca tulisan ini menyiratkan sesuatu yang membuat hati berduka?
Memangnya siapa yang nangis, Dab?
Sepertinya hanya ikut terharu saja, sekadar ikut berkontemplasi mengingat orang-orang yang pernah dekat di hati mereka.
Kalau kau menulis tentang pengasuhmu waktu kecil, orang-orang yang kau buat teringat hal yang sama juga bisa ikut terharu.
Tulisan ini tidak menyiratkan kedukaan, tapi mengajak orang mengenang kisah mereka sendiri juga. Kalau pun menangis, lebih karena kenangan mereka sendiri, bukan berduka oleh kenanganmu.
Begitu…
Jadi, apa kabarmu?
Mas DM…perjalanan Dan berikutnya ditunggu di Amuntai Kalsel yach…
Wah OL dimana NIh ? masih di SMG atau dah meluncur lagi ?
Tidak Berduka mas ,cuma membangkitkan sebuah kisah kali,:p
ooo yg di UI ditemui itu anak SMG to ? hehehehhehehe
Kayaknya, udah ada 3 komentator deh yang manggil Mas.
Ada apa ini? Apa kata dunia?
DM kan punya darah kumpeni
Kenapa nggak dipanggil Schadtz…(eh nulisnya gimana ya?)
Hery Azwan, terakhir menulis Perempuan Berkalung Sorban
@Radesya
Yang mana? Yang ituh! Itu mah sisa dicium nyamuk..
*Ngejitak Desya pake balon*
weh… ternyata di semarang ada kluarga mas…?? sama dunks ^^ … jgn lupa ntar kalo lewat lawang sewu itungin tu ya pintunya.. apa masih sarebu apa uda berkurang …
carra, terakhir menulis Makasih Om…
Nah, aku justru suka jawabanmu, Dab! Sejatinya tulisan itu musti bisa membangkitkan relasi nilai dengan pembacanya, tak sekadar membuat orang termehek-mehek, lantas melupakan moral cerita setelah tulisannya tamat.
Membuat tulisan yang bisa begitu memang tak gampang, karena kau harus bisa menyelami hati pembaca, hal apa yang bisa membuat pembacamu becermin, merenung, introspeksi, dan menarik hikmah.
Aku menangis membaca tulisan ini? Hell yes! Karena kau berhasil membangkitkan relasi nilai dalam diriku melalui cerita ini. Aku merenung, betapa aku telah menyia-nyiakan kesempatan akrab dengan para sepuhku selagi ada waktu. Betapa aku membuang kesempatan untuk belajar dari mereka. Betapa kalau aku seperti tokoh Dan waktu itu, pasti aku pun bisa bercerita banyak tentang mereka sekarang. Dan hikmahnya: aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali, aku akan menggunakan kesempatan yang ada bersama orang-orang di sekitarku saat ini.
Dan aku berterima kasih atas cerita ini.
Iya, darah kumpeninya bener-bener ga nyisa! *aku sambil ngebayangin wajahnya DD dan DM yg pernah kulihat super sekilas, mencari sisi bulenya kok ga ketemu-ketemu ya…JAWA? iya banget!!!*
waduuuh…Bunda ikut ngabsen nih yang datang ke mas Daniel. yaitu…mas goenoeng,mas Zulmasri,Yoga,Omoshiroi.lala,mbak yessy…dll…kok nyambung ceritanya nih…jadi bisa ngobrol begitu…karena tidak cuma sekali dalam postingan ini.
Nah…itulah silaturahmi ….Btw, tulisannya bagus sekali….nanti bisa saingan tuh dengan tulisan Lala ….
@ Bunda Dyah Suminar:
Haduh, Bunda..
Nggak bakal sampai deh, kalau nyaingin Pemilik Blog Penganyam Kata ini… Yang ini sudah profesional, Bunda. Heibat. Diriku? LEBIH HEIBAT lagi! hihihi…
Saingan dulu-duluan nikah aja, deh, Bun..
* sebentar lagi bakal berhenti menunggu, sama seperti judul cerita-ceritanya belakangan ini.. hehehe…
Kayaknya Mas DM yang ternyata ada campuran kumpeni-nya ini *walaupun aku perhatiin kok ndak nyisa blas
Buat Boss-nya PK… peace, cuy!
Lala, terakhir menulis …and this is all about
Hi friend.. Nice and interesting post.. Good work.. Do visit my blog and post your comments.. take care mate.. Cheers!!!
star, terakhir menulis Top 6 Longest Bridges!!!
Pernah, waktu maen ke rumah Dian bareng Tine, kayanya jaman SMA gitu, kalo ngga pas awal-awal kuliah. Kita duduk di teras depan, mas Daniel baru pulang, masukin mobil ke garasi.
Cuma waktu itu mas Daniel cuek banget, liat tp ga nyapa, mas Daniel juga ga keluar-keluar lagi, gi putus cinta kali ya waktu itu…huehehehe…makanya aku bilang liatnya “super sekilas”, tapi inget, detil mukanya sih ga inget, cuma yg pasti tidak gendut (dulu loh!) dan tidak bule……. :p
@chandra:
DM cuek?
DM cuek?
wakakak! duh, nggak bisa brenti ketawa nih.
somebody speaks everybody’s mind!
DM endut?
jangan bilang endut, chand. nggak endut ya, goniel, ya? nggak, ya?
chubby doang kan, ya?
hihi! ci goniel…
marsh, terakhir menulis Jono dan Jeni: Cinta Sempurna
Sudah lama di Bandung jadi lali bahasa Semarang ya!!!
hidup juga bertualang yang pada saatnya akan pulang!
Qizink, terakhir menulis Baliho
Pulang apa mampir kang?
*btw jadi inget abah
mascayo, terakhir menulis Saya bertanya ada atau tidak ?
Mirip sama ayah qu tuh mas. petualang banget dari jakarta ke bogor naik sepeda. itu pun hanya sepeda asal jadi bukan sepeda gunung rem nya juga rem terpedo(rem ban belakang) 5 hari baru pulang. Dan aroma tembakau nya yang sangat kuat akibat dari rokok yang terus ngepul. alasannya kalau tidak merokok batuk nya kurang nikmat. Atau ngikut kata Pak Pram merokok cuma bantu buruh tembakau saja.
Tanya donk. kenapa jawabannya selalu karena dunia bukan pasar malam?
anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan 2
@marsh…chih…marsh…chih.. (maksudnya bersin gituh…hehehe…)
Iya cuek! Untungnya waktu itu sih aku liatnya biasa-biasa aja, ga ngalahin ketampanan kecengan kami pada saat itu, jadi ga berasa rugi…hahahaha!
Sorry Mas…ihihihihihi…
Sudah saat nya kah aq bernyayi Aku ingin pulang Ebit G Ade……
Ketika nanti tiba suatu hari dimana engkau meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Banyak orang yang mengantarkan jenazahmu, bersedih untukmu dan merasa sangat kehilangan atas dirimu maka sesungguhnya engkau telah berhasil sebagai manusia di dunia dan selesailah tugas-tugasmu di dunia ini.
TENGKU PUTEH, terakhir menulis WASIAT TERUNTUK ADINDA MALIN KUNDANG
Photoshop, memang sangat berjasa…
Dan, ke Semarang mosok mung ke Kembang Paes, Thamrin. gak seru, dab.
iya si…nengok Mbah. tapi setelah mari kangen, ya jeng2 ta ya…
tongkrong di Simpanglima ta, sambil menikmati teh poci sampai pagi atau tongkrong di warung angkringan’e Pak Gepeng di depan Masjid Baiturrahman.
*sambil sms Anisa*
mas mahendra…..
pertama-tama anisa mau memuji tulisan mas mahendra dulu , yang bagus banget dan membuat anisa kangen sama eyang yang sudah tidak ada…..
eyang kakung dan eyang putri dua dua nya sudah tidak ada , padahal sejak kecil anisa dekat banget dengan eyang berdua , begitu juga cucu -cucu eyang yang lain sangat dekat dengan eyang…. persis seperti mas mahendra dengan engkongnya…..
oma dan opa dari papa anisa masiy ada siy , cuman mereka jauh di manado dan anisa jadi kurang dekat juga dengan kedua nya…..
kalau menurut anisa siy orang tua itu bisa dekat dengan cucu kalau cucu nya juga manis dan baik dengan mereka soalnya orang tua itu kan penyedih dan mudah tersingung…. kalau cucu mau dekat dan bertingkah baik seperti mas mahendra kepada engkong , orang tua pun gampang merasa dekat dan tidak merasa dijauhi…..
itu menurut anisa siy…. soalnya pengalaman anisa seperti itu… bener ngak maass…???
( tapi mas mahendra kenapa manggil engkongnya “kau” ? )
kedua untuk mas goeneng , kenapa bohong…. anisa ngak ada tuh terima sms mas… lagian anisa udah pesan kepada mas mahendra agar nomor telepon anisa jangan di bagi ke yang lain….
maaf ya mas goenong , soalnya anisa ngak bisa seperti ini…… kalau anisa sdg dekat dengan seseorg anisa ngak bisa dekat dengan yg lain , soalnya anisa ngak ingin di anggap gimanaaa gitu ?
maaf ya mas goenong , tapi mas goeneong ngerti kan maksud anisa ???
sekali lagi maaf ya mas ??? kita berteman aja……
selamat malam mas mahendra , jangan begadang yaaa ? dan jangan terpengaruh pada kata-kata orang tentang anisa…….
ternyta koment anisa panjang bngt….
kalau udah ngetik ngak terasa
abis koment disini anisa jadi belajar menulis….
maaf ya mas ?
soto bangkongnya itu lho..semarang..aku pun rindu…
Kayaknya mbak Yessie bakal seneng banget nih…..
Rame lagi…
@AL
Sudah pasti mbak!!!…jujur deh dirimu juga menunggu nunggu kan..ahuuhuuuuu…
huahauhauhaua……
@Anisa
MANTAP!!!
TERUSKAN PERJUANGANMU DARLING!!!
@Bang Goen
Heh!?!?…sejak kapan yaa si abang jadi ikut ikutan suka sama Anisa!!?…gak boleh tawuuu..gak bolehhhh…kan Anisa udah sama mas Mahendra!!!….gimana siyyyyyyyyy…
Udah bang..kamu tuh smsan sama aku aja..titik…inget ya…gak boleh sama Anisa!..g-a-k-b-o-l-e-h…
@DM
Hai jel…:p
@YANG LAIN YANG JUGA MENUNGGU KOMEN DARI ANISA
Yuk mari gosip bareng :p
yessy muchtar, terakhir menulis Is it?…Am i? (2)
Selamat malam mas Daniel,
Kenapa njenengan tidak mangabari terlebih dahulu, Kan bisa janjian waktu dan bareng ke Pak Sawali. Saya juga pingin ke sana. Lha kalau jarang ke blog njenegan itu tidak benar. Karena selalu mengikuti setiap postingannya. Walaupun tidak meninggalkan jejak tapi selalu ke sini.
laporan, terakhir menulis Rangking institusi publik paling korupsi di Indonesia dari Transparency International Indonesia
@goenoeng:
mas goen, kamu ini gimana sih? udah tau punya teman masih diembat juga.
@anisa:
iya, nis. mas mahendra itu memang demennya sama cewek yang setia gitu deh, nis. kalau udah satu, ya satu itu aja, nggak boleh dekat sama yang lain lagi dong, ya? top banget deh!
@yessy:
earth to yessy, earth to yessy. seneng banget sepertinya… roger!
marshmallow, terakhir menulis Jono dan Jeni: Cinta Sempurna
@Anisa
aduh… memangnya yg boleh punya nama Anisa, cuma kamu darling…
enggak kan ? aku baru sms-an sama Anisa Pohan, tau nggak ?
minta ijin mau ngajak mbedil, sama suaminya, hahaha…
tapi, aku salut sama kamu lho, prinsipmu itu lho, ck,ck,ck..luaaaar biasa !
bener itu, kalo sudah dekat dengan yg satu, ya harus satu itu saja. itu namanya, setiaaaaa… *plok, plok,plok*]
ngomong2 Nis, dari 4 kali kamu nulis namaku, nggak ada yg bener tuh, haha
kita tetap berteman ya, ya… ? peace ah !
@Mas Mahendra
jangan terpengaruh pada kata-kata orang tentang Anisa…
@Yessy & @Marshmallow
tuh, udah aku klarifikasi ya… *ciieee… thing, thing, thing*
aku nggak pernah ngembat punya teman, apalagi yg setia gitu
@Yessy
sms-ku udah masuk ?
@DM
sori, dab. numpang ya ? hahaha…
goenoeng, terakhir menulis notasi pagi
numpang ketawa lagi dah :
hahaahaha…..
nungkinung, terakhir menulis Gigi Tongos karena kebiasaan jelek?
Wah Akhirnya Annisa Muncul Juga … (bukan yg disambangi di UI to mas ?) Mode Adu Domba ON hehehehhehehee.
Annisa Emang TOP deh … Setia … menunggu mas DM pulang berpetualang …
Ayo annisa aku mendukungmu ….
Go Annisa Go .. Go Annisa Go Go Annisa Go ..Go Annisa Go .. Go Annisa Go
Mode Chearleaders ON hehhehehehe
Halah! GRamedia!
hmmmm…. hari rabu, 4 Februari, saya bersama pak zulmasri bertemu di semarang. sayangnya ndak bisa ngobrol banyak. padahal ada yang ingin saya obrolkan lebih jauh ttg petualanganmu itu, mas daniel, termasuk pertemuan sampeyan dg pak zul itu. wah, sungguh, sangat sayang momen petualangan ini gagal mempertemukan diriku dg sampeyan. ok, deh. mas daniel, semoga kerinduan akan bau rumah sudah terobati dan di balik petualangan itu akan tersimpan banyak hal yang bisa menjadi narasi yang menarik.