Petualang Manapun Rindu Pulang

(The Waiting Is Almost Over: 12)

Jadilah manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum (Mahatma Gandhi)

Aku berdiri di pagar sebuah rumah di kota Semarang. Ya, satu hal yang sedikit kusesali adalah aku tak sempat mampir ke kediaman Pak Samali di Kendal. Apa boleh buat, ia sedang ada acara di luar kota. Jadinya dari Pekalongan aku terus menuju Semarang.

Semarang. Hmmm… entah kapan aku terakhir kali ke kota ini. Sudah lama sekali. Setiap ingat Semarang, selalu teringat Cheng Ho, Laksamana Tiongkok yang memimpin armada raksasa membawa misi persahabatan dari Kaisar Yongle (kaisar ketiga dari Dinasti Ming) guna menjelajahi negeri-negeri di seluruh dunia, termasuk Nusantara. Peninggalannya di Semarang bisa kita saksikan di Kelenteng Sam Po Kong.

Semarang. Begitu akrab aku dengan kota ini. Jalan-jalannya, suasananya, dan hawa panasnya yang menyengat. Ada beberapa kawan blogger yang kukenal di sini. Ada Mas Arya yang dulu selalu rajin berkunjung di setiap tulisanku. Namun kini nampaknya sudah tak begitu aktif nge-blog. Ada Gun, yang belakangan mulai akrab denganku, yang sajak-sajaknya selalu membius pembaca. Juga mestinya ada Ganesya, gadis manis yang kini sudah hijrah dari Semarang dan kuliah di UI itu.

Kini aku berdiri di depan pagar rumahmu. Mau tak mau aku jadi terkenang akan dirimu. Masih kuingat betul saat kau pulang pada peringatan imsak yang melenguh lantang. Kau yang dulu tegar dan selalu bertualang, akhirnya terbujur kaku juga setelah pamit hendak pulang. Ya, setiap dari segala yang pergi pasti pulang juga pada akhirnya. Begitulah yang kudengar tentangmu pada pagi itu. Ketika anakmu datang padaku, menghambur menangis dalam pelukanku atas kepulanganmu. Aku tahu, pada akhirnya kau memang pasti pulang. 84 tahun memang bukan waktu yang sebentar. Telah ribuan kilometer jarak yang telah tertempuh oleh petualanganmu. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.

Barangkali umurmu tak beda jauh dengan Pak Bram, Sastrawan Indonesia terkemuka perawi Tetralogi Buru itu. Kau memang seangkatanya dengannya. Kau lahir di tahun 1923. Ada jarak lebih dari 50 tahun antara kau dan aku. Tetapi waktu tak membuatmu kempis oleh keadaan yang terus berjalan.

Masih kuingat betul, ketika ku kecil, kau ajak aku keliling kota ini menggunakan motor bebek merah kebanggaanmu. Selalu saja di setiap senja. Dan sejak kecil itu pula kau ajarkan aku bagaimana menjadi seorang laki-laki dan bagaimana bertualang. Dengan motor tuamu itu, masih saja kau doyan menempuh Semarang-Yogyakarta. Semarang-Bandung. Atau keliling Jawa. Ah, kau memang sableng! Sebagai seorang tua, kau memang keras kepala dan tak mau mengalah pada waktu dan usia. Entah apa yang membuatmu tetap terus bertualang dari kota ke kota.

Kuingat masa mudamu dulu, kau seorang pemain keroncong ternama di kota ini. Kau memainkan biola bersama kelompok orkesmu. Begitu pun kau masih saja mesti sembunyi-sembunyi dari istrimu, karena istrimu tak begitu suka kau main keroncong. Tahukah kau, dari sanalah aku belajar bagaimana mengapresiasi musik. Sebuah stimulus yang terbawa terus di alam bawah sadarku sebagai ongkos hidupku di kemudian hari. Ya, berapalah honor bermain keroncong, namun tetap saja kau berkeroncong.

Kau kerap menghadiahi aku tumpukan kaset-kaset tua berisi tembang-tembang lama. Ada nomor-nomor asli Koes Bersaudara yang kerap membuatku terlena. “Pilih saja yang kau suka. Kaset-kaset itu tak pernah kuputar lagi.” teriakmu sembari memberi makan puluhan ekor burung. Dan aku berteriak girang tiada bandingan.

Hingga akhirnya kau memutuskan berhenti berkeroncong, hanya karena istrimu betul-betul naik pitam atas biolamu itu. Masih kuingat di pojok alam pikiranku saat suatu hari istrimu kedapatan membanting tubuh biola kesayanganmu itu pada bibir meja makan. Biola cungkring itu terbelah menjadi dua, hingga dawai-dawainya bergemelantung menambatkan dua bagian yang terpecah. Betapa kagetnya kau saat itu. Namun jika teringat itu, selalu saja aku ngakak bukan alang kepalang. Akhirnya kau betul-betul pensiun sebagai pemain keroncong. Nyatanya, rasa cinta pada istrimu jauh melebihi kecintaanmu pada keroncong.

Puluhan tahun kemudian, kau menghadiahi aku selembar foto besar berpigura, bergambar kau dan kawan-kawan orkes keroncongmu secara lengkap. Kulihat kau memeluk biola di sana.

“Simpan ini baik-baik,” katamu. Langsung saja kupasang pigura itu pada dinding rumah. “Kau tahu,” lanjutmu, “Dari semua yang ada di foto itu, hanya aku lah yang masih hidup.” akumu bangga.
“Oya?”
“Ya.” jawabmu sembari menyedot dalam kretekmu.
“Ke mana yang lain?”
“Sudah pulang semua.”
“Tinggal kau seorang diri?”
“Ya.”
“Kau tak kesepian?”
“Hmmm… entahlah.”

Kemudian dari berkeroncong, kau pun melukis. Betapa rajin kau melukis. Hari-harimu kau habiskan dengan melukis. Seharian belepotan cat di gudang belakang. Dan kretekmu itu selalu saja menempel di tangan. Hingga jika kau menggendongku dulu, tampak warna kuning melingkar di jari telunjuk dan tengahmu. Kau perokok berat!

Maka setiap selesai melukis, kau pergi ke tempat penjual burung di pasar. Kau pajang kanvas yang baru saja kau lukis. “Sebentar juga laku.” begitu katamu selalu. Nyatanya memang iya. Lukisanmu selalu saja ada peminatnya. Lucunya selalu laku di tempat penjual burung di pasar. Dan kau membawa segepok uang untuk belanja istrimu. Sisanya sekadar kau belikan rokok dan kopi.

Makin lama makin banyak orang yang menyodorkan wajahnya untuk kau lukis. Meski kau sekadar pegawai kantoran biasa, nyatanya waktu dan keadaan tak mampu membuatmu menyerah atas hidup. Kau tetap mampu menghidupi ketujuh anakmu dan menyekolahkannya. Kau tak iri sedikit pun pada keluarga istrimu yang hidup sangat berkecukupan serta selalu berpesiar ke luar negeri. Kau tetap menjadi dirimu sendiri.

Kalau aku berkunjung ke rumahmu yang sederhana, tetap saja berbicang denganmu di beranda masih jauh lebih mengasyikan ketimbang mesti berdiam di teras marmer sebuah rumah mewah dengan pemandangan mobil yang sulit kuhitung jumlahnya. Hanya di rumahmu lah aku dapat menjadi diri sendiri.

Suatu hari kau ajak aku berbincang sembari menyeruput kopi dan merokok (baru kuinsafi: selain temanmu, aku lah satu-satunya cucu yang dapat kau ajak ngopi sembari menyulut rokok). Kau bercerita, bahwa kau sama sekali tak menginginkan harta warisan dari almarhum bapak mertuamu yang keturunan pertama Belanda itu. Sambil terisak kau menunjukkan slip pensiun yang terlipat dalam dompetmu.

“Kalau hanya untuk makan dan hidup, aku sudah cukup, Dan.” tukasmu terbata-bata oleh air mata. “Aku tak ingin dianggap menunggu-nunggu bagian dari warisan.”

Aku terharu mendengarnya. Kuyakin tak seorang pun yang pernah kau ceritakan perihal ini dengan berurai air mata seperti itu. Ini kuceritakan semata untuk mengenangmu. Bahwa ada masa-masa di mana kita saling begitu dekat satu sama lain. Orang mesti tahu, kau memang lelaki sejati. Aku tahu kau tak menceritakannya pada orang lain. Terkadang kejujuran memang tak perlu diceritakan. Terkadang begitu banyak pertanyaan dalam hidup yang tak membutuhkan jawaban. Karena selama itu sebuah kejujuran, ia akan bermanifestasi pada hidup itu sendiri.

Ya, kini aku mengenangmu kembali. Mengenang sepeda motor tuamu itu. Yang kau gunakan bertualang dari kota ke kota. Menepi saat hujan, ngopi di warung pinggir jalan untuk kemudian melesat lagi. Tak ada orang seusiamu yang dengan nekat serta gila masih berani melakukan traveling seperti itu. Kau memang lebih mencintai kehidupan ketimbang dirimu sendiri. Namun justru karena itulah aku ada.

Masih terngiang di telingaku saat suara paraumu berkata di saat-saat terakhir: “Semua temanku sudah habis… Tinggal aku yang tersisa…” Tak bisa kubayangkan, bagaimana mungkin seseorang telah kehabisan teman. Saat ini barangkali seseorang masih lagi memiliki puluhan teman, ratusan teman, bahkan ribuan teman. Bisa saling SMS, saling e-mail, saling chatting, saling kunjung, saling sapa, dan saling menumpahkan suka duka. Tapi kehabisan teman? Tak pernah terbayangkan ada orang kehabisan teman. Dan apakah kita semua akan mengalami hal itu kelak?

Lantas kau terbujur kaku. Meninggalkan yang ditinggalkan. Kau bukan orang terpandang yang memiliki pangkat, kedudukan, juga harta yang tak habis dalam tujuh turunan. Kau hanya seorang lelaki biasa. Seniman serta petualang sableng yang tak gentar oleh keadaan. Namun justru karena itulah kau tampak lebih berkilauan di mataku sebagai manusia.

Di sini aku, cucumu, tiba-tiba mengenangmu. Di depan pagar rumahmu di Semarang. Suatu hari nanti, barangkali kau akan menjelma sebagai tokoh dalam ceritaku. Sebagai seorang lelaki sableng di masa pendudukan Belanda dan Jepang. Namun tak pernah menyerah seinci pun dalam menghadapi hidup, kecuali oleh kematian itu sendiri.

Tiba-tiba bayangan tentangmu samar-samar menghilang. Karena kudengar suara kunci pintu diputar. Dari dalam keluar seorang perempuan tua usia menjelang 80 tahun. Matanya memicing melongok siapa tamunya. Tapi garis-garis wajahnya masih lagi menunjukkan ia seorang perempuan yang cantik. Ah, itu dia istrimu. Ibu dari mamaku.

“Lho? Kowe, Dan?”
“Nggih, Mbah…” jawabku nyengir.
“Oalah…”

4 Februari 2009 | 01.29 wib

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

71 Responses to Petualang Manapun Rindu Pulang

  1. Chandra says:

    Pernah, waktu maen ke rumah Dian bareng Tine, kayanya jaman SMA gitu, kalo ngga pas awal-awal kuliah. Kita duduk di teras depan, mas Daniel baru pulang, masukin mobil ke garasi.
    Cuma waktu itu mas Daniel cuek banget, liat tp ga nyapa, mas Daniel juga ga keluar-keluar lagi, gi putus cinta kali ya waktu itu…huehehehe…makanya aku bilang liatnya “super sekilas”, tapi inget, detil mukanya sih ga inget, cuma yg pasti tidak gendut (dulu loh!) dan tidak bule……. :p

    DM: Jaman SMA? Wah, pantesan kucuekin. Hi-hi-hi.

  2. marsh says:

    @chandra:

    DM cuek?
    DM cuek?
    wakakak! duh, nggak bisa brenti ketawa nih.
    somebody speaks everybody’s mind!

    DM endut?
    jangan bilang endut, chand. nggak endut ya, goniel, ya? nggak, ya?
    chubby doang kan, ya?

    hihi! ci goniel…

    marsh, terakhir menulis Jono dan Jeni: Cinta Sempurna

    DM: Jeleeeeeekkkkkk………

  3. Qizink says:

    Sudah lama di Bandung jadi lali bahasa Semarang ya!!!
    hidup juga bertualang yang pada saatnya akan pulang!

    Qizink, terakhir menulis Baliho

    DM: Nggak pernah tinggal di Semarang juga sih, Zink. Tapi ya ngertilah logat-logatnya.
    Yup, hidup juga bertualang yang pada saatnya akan pulang. Itu inti dari cerita di atas.
    BTW, kemana aja, Zink? Lama nggak nge-blog.

  4. mascayo says:

    Pulang apa mampir kang?
    *btw jadi inget abah

    mascayo, terakhir menulis Saya bertanya ada atau tidak ?

    DM: Ya kalo ke Semarangnya sih mampir, Mas. Kata pulang untuk analogi hidup itu sendiri.

  5. anak ilang says:

    Mirip sama ayah qu tuh mas. petualang banget dari jakarta ke bogor naik sepeda. itu pun hanya sepeda asal jadi bukan sepeda gunung rem nya juga rem terpedo(rem ban belakang) 5 hari baru pulang. Dan aroma tembakau nya yang sangat kuat akibat dari rokok yang terus ngepul. alasannya kalau tidak merokok batuk nya kurang nikmat. Atau ngikut kata Pak Pram merokok cuma bantu buruh tembakau saja.

    Tanya donk. kenapa jawabannya selalu karena dunia bukan pasar malam?

    anak ilang, terakhir menulis Salam Kerinduan 2

    DM: Ayamu berjiwa petualang juga rupanya.
    Kenapa sering kali menjawab dengan pengertian bukan pasar malam?
    Hmmm, begini. Kuberikan link saja ya. Aku pernah ulas di sini: Bukan Pasar Malam.
    Semoga berkenan.

  6. Chandra says:

    @marsh…chih…marsh…chih.. (maksudnya bersin gituh…hehehe…)
    Iya cuek! Untungnya waktu itu sih aku liatnya biasa-biasa aja, ga ngalahin ketampanan kecengan kami pada saat itu, jadi ga berasa rugi…hahahaha!

    Sorry Mas…ihihihihihi…

    DM: Nggak berasa rugi? Yakin nih, Chand… Nggak perlu kan arsip chat dengan kamu kutulis di sini tentang ceritamu ngecengin kakak adikku? Wakakakakkk…

  7. anak ilang says:

    Sudah saat nya kah aq bernyayi Aku ingin pulang Ebit G Ade……

    DM: Belum… Belum…
    Tapi jadi teriang-ngiang nih…
    (duh, jadi muter beneran)

  8. TENGKU PUTEH says:

    Ketika nanti tiba suatu hari dimana engkau meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Banyak orang yang mengantarkan jenazahmu, bersedih untukmu dan merasa sangat kehilangan atas dirimu maka sesungguhnya engkau telah berhasil sebagai manusia di dunia dan selesailah tugas-tugasmu di dunia ini.

    TENGKU PUTEH, terakhir menulis WASIAT TERUNTUK ADINDA MALIN KUNDANG

    DM: Amin… Rasanya tidak lama lagi. Meski belum lagi tau apakah bakal seperti itu. Terima kasih…

  9. goenoeng says:

    Photoshop, memang sangat berjasa…

    Dan, ke Semarang mosok mung ke Kembang Paes, Thamrin. gak seru, dab.
    iya si…nengok Mbah. tapi setelah mari kangen, ya jeng2 ta ya…
    tongkrong di Simpanglima ta, sambil menikmati teh poci sampai pagi atau tongkrong di warung angkringan’e Pak Gepeng di depan Masjid Baiturrahman.

    *sambil sms Anisa*

    DM: Photoshop? Ada apa dengan photoshop, Goen? Kok tiba-tiba bicara photoshop?
    .
    Masih capek mungkin, Goen. Lagi pingin santai dulu sambil ngobrol-ngobrol sama mbah putri. Kan lama nggak ketemu.
    Nongkrong di Simpanglima sembari nikmati teh poci sampai pagi di angkringan? Ah, dekat ini Goen. Cuma sepelemparan tombak toh jaraknya.
    .
    Anisa?

  10. anisa says:

    mas mahendra…..
    pertama-tama anisa mau memuji tulisan mas mahendra dulu , yang bagus banget dan membuat anisa kangen sama eyang yang sudah tidak ada…..
    eyang kakung dan eyang putri dua dua nya sudah tidak ada , padahal sejak kecil anisa dekat banget dengan eyang berdua , begitu juga cucu -cucu eyang yang lain sangat dekat dengan eyang…. persis seperti mas mahendra dengan engkongnya…..
    oma dan opa dari papa anisa masiy ada siy , cuman mereka jauh di manado dan anisa jadi kurang dekat juga dengan kedua nya…..
    kalau menurut anisa siy orang tua itu bisa dekat dengan cucu kalau cucu nya juga manis dan baik dengan mereka soalnya orang tua itu kan penyedih dan mudah tersingung…. kalau cucu mau dekat dan bertingkah baik seperti mas mahendra kepada engkong , orang tua pun gampang merasa dekat dan tidak merasa dijauhi…..
    itu menurut anisa siy…. soalnya pengalaman anisa seperti itu… bener ngak maass…???

    ( tapi mas mahendra kenapa manggil engkongnya “kau” ? )

    kedua untuk mas goeneng , kenapa bohong…. anisa ngak ada tuh terima sms mas… lagian anisa udah pesan kepada mas mahendra agar nomor telepon anisa jangan di bagi ke yang lain….
    maaf ya mas goenong , soalnya anisa ngak bisa seperti ini…… kalau anisa sdg dekat dengan seseorg anisa ngak bisa dekat dengan yg lain , soalnya anisa ngak ingin di anggap gimanaaa gitu ?

    maaf ya mas goenong , tapi mas goeneong ngerti kan maksud anisa ???
    sekali lagi maaf ya mas ??? kita berteman aja……
    selamat malam mas mahendra , jangan begadang yaaa ? dan jangan terpengaruh pada kata-kata orang tentang anisa…….

    DM: Yah, manggil ‘kau’ kan hanya bahasa tulisan. Agar tampak akrab.
    Engkong? He!!!!

  11. anisa says:

    ternyta koment anisa panjang bngt….
    kalau udah ngetik ngak terasa
    abis koment disini anisa jadi belajar menulis….

    maaf ya mas ?

    DM: Ya-ya-ya.

  12. boyin says:

    soto bangkongnya itu lho..semarang..aku pun rindu…

    DM: Soto mbangkong memang wajib, Mas Boyin. He-he.
    Meski di Bandung ada juga beberapa tempat yang buka soto mbakong, tapi tentu tak sesedap aslinya.

  13. AL says:

    Kayaknya mbak Yessie bakal seneng banget nih…..
    Rame lagi…

    DM: Yessy itu memang senangnya di keramaian, Al. Ya maklumlah, Al…
    (maksuuuuddd…). Hi-hi.

  14. @AL

    Sudah pasti mbak!!!…jujur deh dirimu juga menunggu nunggu kan..ahuuhuuuuu…

    huahauhauhaua……

    @Anisa
    MANTAP!!!
    TERUSKAN PERJUANGANMU DARLING!!!

    @Bang Goen
    Heh!?!?…sejak kapan yaa si abang jadi ikut ikutan suka sama Anisa!!?…gak boleh tawuuu..gak bolehhhh…kan Anisa udah sama mas Mahendra!!!….gimana siyyyyyyyyy…
    Udah bang..kamu tuh smsan sama aku aja..titik…inget ya…gak boleh sama Anisa!..g-a-k-b-o-l-e-h…

    @DM
    Hai jel…:p

    @YANG LAIN YANG JUGA MENUNGGU KOMEN DARI ANISA
    Yuk mari gosip bareng :p

    yessy muchtar, terakhir menulis Is it?…Am i? (2)

    DM: Hai dodooolll…!!!

  15. laporan says:

    Selamat malam mas Daniel,

    Kenapa njenengan tidak mangabari terlebih dahulu, Kan bisa janjian waktu dan bareng ke Pak Sawali. Saya juga pingin ke sana. Lha kalau jarang ke blog njenegan itu tidak benar. Karena selalu mengikuti setiap postingannya. Walaupun tidak meninggalkan jejak tapi selalu ke sini. :smile:

    laporan, terakhir menulis Rangking institusi publik paling korupsi di Indonesia dari Transparency International Indonesia

    DM: Selamat siang, Mas Aryo. Sepurane, Mas. Nomor hp Njenengan ndak sempat tak catet waktu masih di blog wordpress.
    Whaaa… ternyata masih kerap mampir ke mari tho? He-he-he. Sorry-sorry-sorry…
    Sehat tho, Mas?

  16. marshmallow says:

    @goenoeng:
    mas goen, kamu ini gimana sih? udah tau punya teman masih diembat juga.

    @anisa:
    iya, nis. mas mahendra itu memang demennya sama cewek yang setia gitu deh, nis. kalau udah satu, ya satu itu aja, nggak boleh dekat sama yang lain lagi dong, ya? top banget deh!

    @yessy:
    earth to yessy, earth to yessy. seneng banget sepertinya… roger!

    marshmallow, terakhir menulis Jono dan Jeni: Cinta Sempurna

    DM: Hemma… belum pernah kelilipan rendang?

  17. goenoeng says:

    @Anisa
    aduh… memangnya yg boleh punya nama Anisa, cuma kamu darling…
    enggak kan ? aku baru sms-an sama Anisa Pohan, tau nggak ?
    minta ijin mau ngajak mbedil, sama suaminya, hahaha…
    tapi, aku salut sama kamu lho, prinsipmu itu lho, ck,ck,ck..luaaaar biasa !
    bener itu, kalo sudah dekat dengan yg satu, ya harus satu itu saja. itu namanya, setiaaaaa… *plok, plok,plok*]
    ngomong2 Nis, dari 4 kali kamu nulis namaku, nggak ada yg bener tuh, haha
    kita tetap berteman ya, ya… ? peace ah !

    @Mas Mahendra
    jangan terpengaruh pada kata-kata orang tentang Anisa…

    @Yessy & @Marshmallow
    tuh, udah aku klarifikasi ya… *ciieee… thing, thing, thing*
    aku nggak pernah ngembat punya teman, apalagi yg setia gitu :D

    @Yessy
    sms-ku udah masuk ? :)

    @DM
    sori, dab. numpang ya ? hahaha…

    goenoeng, terakhir menulis notasi pagi

    DM: Do edhan kabueehhh…! :p

  18. nungkinung says:

    numpang ketawa lagi dah :
    hahaahaha…..

    nungkinung, terakhir menulis Gigi Tongos karena kebiasaan jelek?

    DM: Nungkinuuunnnggg… HAP!!! Mingkem!

  19. Wah Akhirnya Annisa Muncul Juga … (bukan yg disambangi di UI to mas ?) Mode Adu Domba ON hehehehhehehee.
    Annisa Emang TOP deh … Setia … menunggu mas DM pulang berpetualang …
    Ayo annisa aku mendukungmu ….
    Go Annisa Go .. Go Annisa Go Go Annisa Go ..Go Annisa Go .. Go Annisa Go
    Mode Chearleaders ON hehhehehehe

    DM: Halah-halaaahhh……

  20. Chandra says:

    Halah! GRamedia!

  21. hmmmm…. hari rabu, 4 Februari, saya bersama pak zulmasri bertemu di semarang. sayangnya ndak bisa ngobrol banyak. padahal ada yang ingin saya obrolkan lebih jauh ttg petualanganmu itu, mas daniel, termasuk pertemuan sampeyan dg pak zul itu. wah, sungguh, sangat sayang momen petualangan ini gagal mempertemukan diriku dg sampeyan. ok, deh. mas daniel, semoga kerinduan akan bau rumah sudah terobati dan di balik petualangan itu akan tersimpan banyak hal yang bisa menjadi narasi yang menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>