penganyamkata.net
current   |   rss

Petualang Manapun Rindu Pulang

Published February 4, 2009

(The Waiting Is Almost Over: 12)

Jadilah manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum (Mahatma Gandhi)

Aku berdiri di pagar sebuah rumah di kota Semarang. Ya, satu hal yang sedikit kusesali adalah aku tak sempat mampir ke kediaman Pak Samali di Kendal. Apa boleh buat, ia sedang ada acara di luar kota. Jadinya dari Pekalongan aku terus menuju Semarang.

Semarang. Hmmm… entah kapan aku terakhir kali ke kota ini. Sudah lama sekali. Setiap ingat Semarang, selalu teringat Cheng Ho, Laksamana Tiongkok yang memimpin armada raksasa membawa misi persahabatan dari Kaisar Yongle (kaisar ketiga dari Dinasti Ming) guna menjelajahi negeri-negeri di seluruh dunia, termasuk Nusantara. Peninggalannya di Semarang bisa kita saksikan di Kelenteng Sam Po Kong.

Semarang. Begitu akrab aku dengan kota ini. Jalan-jalannya, suasananya, dan hawa panasnya yang menyengat. Ada beberapa kawan blogger yang kukenal di sini. Ada Mas Arya yang dulu selalu rajin berkunjung di setiap tulisanku. Namun kini nampaknya sudah tak begitu aktif nge-blog. Ada Gun, yang belakangan mulai akrab denganku, yang sajak-sajaknya selalu membius pembaca. Juga mestinya ada Ganesya, gadis manis yang kini sudah hijrah dari Semarang dan kuliah di UI itu.

Kini aku berdiri di depan pagar rumahmu. Mau tak mau aku jadi terkenang akan dirimu. Masih kuingat betul saat kau pulang pada peringatan imsak yang melenguh lantang. Kau yang dulu tegar dan selalu bertualang, akhirnya terbujur kaku juga setelah pamit hendak pulang. Ya, setiap dari segala yang pergi pasti pulang juga pada akhirnya. Begitulah yang kudengar tentangmu pada pagi itu. Ketika anakmu datang padaku, menghambur menangis dalam pelukanku atas kepulanganmu. Aku tahu, pada akhirnya kau memang pasti pulang. 84 tahun memang bukan waktu yang sebentar. Telah ribuan kilometer jarak yang telah tertempuh oleh petualanganmu. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.

Barangkali umurmu tak beda jauh dengan Pak Bram, Sastrawan Indonesia terkemuka perawi Tetralogi Buru itu. Kau memang seangkatanya dengannya. Kau lahir di tahun 1923. Ada jarak lebih dari 50 tahun antara kau dan aku. Tetapi waktu tak membuatmu kempis oleh keadaan yang terus berjalan.

Masih kuingat betul, ketika ku kecil, kau ajak aku keliling kota ini menggunakan motor bebek merah kebanggaanmu. Selalu saja di setiap senja. Dan sejak kecil itu pula kau ajarkan aku bagaimana menjadi seorang laki-laki dan bagaimana bertualang. Dengan motor tuamu itu, masih saja kau doyan menempuh Semarang-Yogyakarta. Semarang-Bandung. Atau keliling Jawa. Ah, kau memang sableng! Sebagai seorang tua, kau memang keras kepala dan tak mau mengalah pada waktu dan usia. Entah apa yang membuatmu tetap terus bertualang dari kota ke kota.

Kuingat masa mudamu dulu, kau seorang pemain keroncong ternama di kota ini. Kau memainkan biola bersama kelompok orkesmu. Begitu pun kau masih saja mesti sembunyi-sembunyi dari istrimu, karena istrimu tak begitu suka kau main keroncong. Tahukah kau, dari sanalah aku belajar bagaimana mengapresiasi musik. Sebuah stimulus yang terbawa terus di alam bawah sadarku sebagai ongkos hidupku di kemudian hari. Ya, berapalah honor bermain keroncong, namun tetap saja kau berkeroncong.

Kau kerap menghadiahi aku tumpukan kaset-kaset tua berisi tembang-tembang lama. Ada nomor-nomor asli Koes Bersaudara yang kerap membuatku terlena. “Pilih saja yang kau suka. Kaset-kaset itu tak pernah kuputar lagi.” teriakmu sembari memberi makan puluhan ekor burung. Dan aku berteriak girang tiada bandingan.

Hingga akhirnya kau memutuskan berhenti berkeroncong, hanya karena istrimu betul-betul naik pitam atas biolamu itu. Masih kuingat di pojok alam pikiranku saat suatu hari istrimu kedapatan membanting tubuh biola kesayanganmu itu pada bibir meja makan. Biola cungkring itu terbelah menjadi dua, hingga dawai-dawainya bergemelantung menambatkan dua bagian yang terpecah. Betapa kagetnya kau saat itu. Namun jika teringat itu, selalu saja aku ngakak bukan alang kepalang. Akhirnya kau betul-betul pensiun sebagai pemain keroncong. Nyatanya, rasa cinta pada istrimu jauh melebihi kecintaanmu pada keroncong.

Puluhan tahun kemudian, kau menghadiahi aku selembar foto besar berpigura, bergambar kau dan kawan-kawan orkes keroncongmu secara lengkap. Kulihat kau memeluk biola di sana.

“Simpan ini baik-baik,” katamu. Langsung saja kupasang pigura itu pada dinding rumah. “Kau tahu,” lanjutmu, “Dari semua yang ada di foto itu, hanya aku lah yang masih hidup.” akumu bangga.
“Oya?”
“Ya.” jawabmu sembari menyedot dalam kretekmu.
“Ke mana yang lain?”
“Sudah pulang semua.”
“Tinggal kau seorang diri?”
“Ya.”
“Kau tak kesepian?”
“Hmmm… entahlah.”

Kemudian dari berkeroncong, kau pun melukis. Betapa rajin kau melukis. Hari-harimu kau habiskan dengan melukis. Seharian belepotan cat di gudang belakang. Dan kretekmu itu selalu saja menempel di tangan. Hingga jika kau menggendongku dulu, tampak warna kuning melingkar di jari telunjuk dan tengahmu. Kau perokok berat!

Maka setiap selesai melukis, kau pergi ke tempat penjual burung di pasar. Kau pajang kanvas yang baru saja kau lukis. “Sebentar juga laku.” begitu katamu selalu. Nyatanya memang iya. Lukisanmu selalu saja ada peminatnya. Lucunya selalu laku di tempat penjual burung di pasar. Dan kau membawa segepok uang untuk belanja istrimu. Sisanya sekadar kau belikan rokok dan kopi.

Makin lama makin banyak orang yang menyodorkan wajahnya untuk kau lukis. Meski kau sekadar pegawai kantoran biasa, nyatanya waktu dan keadaan tak mampu membuatmu menyerah atas hidup. Kau tetap mampu menghidupi ketujuh anakmu dan menyekolahkannya. Kau tak iri sedikit pun pada keluarga istrimu yang hidup sangat berkecukupan serta selalu berpesiar ke luar negeri. Kau tetap menjadi dirimu sendiri.

Kalau aku berkunjung ke rumahmu yang sederhana, tetap saja berbicang denganmu di beranda masih jauh lebih mengasyikan ketimbang mesti berdiam di teras marmer sebuah rumah mewah dengan pemandangan mobil yang sulit kuhitung jumlahnya. Hanya di rumahmu lah aku dapat menjadi diri sendiri.

Suatu hari kau ajak aku berbincang sembari menyeruput kopi dan merokok (baru kuinsafi: selain temanmu, aku lah satu-satunya cucu yang dapat kau ajak ngopi sembari menyulut rokok). Kau bercerita, bahwa kau sama sekali tak menginginkan harta warisan dari almarhum bapak mertuamu yang keturunan pertama Belanda itu. Sambil terisak kau menunjukkan slip pensiun yang terlipat dalam dompetmu.

“Kalau hanya untuk makan dan hidup, aku sudah cukup, Dan.” tukasmu terbata-bata oleh air mata. “Aku tak ingin dianggap menunggu-nunggu bagian dari warisan.”

Aku terharu mendengarnya. Kuyakin tak seorang pun yang pernah kau ceritakan perihal ini dengan berurai air mata seperti itu. Ini kuceritakan semata untuk mengenangmu. Bahwa ada masa-masa di mana kita saling begitu dekat satu sama lain. Orang mesti tahu, kau memang lelaki sejati. Aku tahu kau tak menceritakannya pada orang lain. Terkadang kejujuran memang tak perlu diceritakan. Terkadang begitu banyak pertanyaan dalam hidup yang tak membutuhkan jawaban. Karena selama itu sebuah kejujuran, ia akan bermanifestasi pada hidup itu sendiri.

Ya, kini aku mengenangmu kembali. Mengenang sepeda motor tuamu itu. Yang kau gunakan bertualang dari kota ke kota. Menepi saat hujan, ngopi di warung pinggir jalan untuk kemudian melesat lagi. Tak ada orang seusiamu yang dengan nekat serta gila masih berani melakukan traveling seperti itu. Kau memang lebih mencintai kehidupan ketimbang dirimu sendiri. Namun justru karena itulah aku ada.

Masih terngiang di telingaku saat suara paraumu berkata di saat-saat terakhir: “Semua temanku sudah habis… Tinggal aku yang tersisa…” Tak bisa kubayangkan, bagaimana mungkin seseorang telah kehabisan teman. Saat ini barangkali seseorang masih lagi memiliki puluhan teman, ratusan teman, bahkan ribuan teman. Bisa saling SMS, saling e-mail, saling chatting, saling kunjung, saling sapa, dan saling menumpahkan suka duka. Tapi kehabisan teman? Tak pernah terbayangkan ada orang kehabisan teman. Dan apakah kita semua akan mengalami hal itu kelak?

Lantas kau terbujur kaku. Meninggalkan yang ditinggalkan. Kau bukan orang terpandang yang memiliki pangkat, kedudukan, juga harta yang tak habis dalam tujuh turunan. Kau hanya seorang lelaki biasa. Seniman serta petualang sableng yang tak gentar oleh keadaan. Namun justru karena itulah kau tampak lebih berkilauan di mataku sebagai manusia.

Di sini aku, cucumu, tiba-tiba mengenangmu. Di depan pagar rumahmu di Semarang. Suatu hari nanti, barangkali kau akan menjelma sebagai tokoh dalam ceritaku. Sebagai seorang lelaki sableng di masa pendudukan Belanda dan Jepang. Namun tak pernah menyerah seinci pun dalam menghadapi hidup, kecuali oleh kematian itu sendiri.

Tiba-tiba bayangan tentangmu samar-samar menghilang. Karena kudengar suara kunci pintu diputar. Dari dalam keluar seorang perempuan tua usia menjelang 80 tahun. Matanya memicing melongok siapa tamunya. Tapi garis-garis wajahnya masih lagi menunjukkan ia seorang perempuan yang cantik. Ah, itu dia istrimu. Ibu dari mamaku.

“Lho? Kowe, Dan?”
“Nggih, Mbah…” jawabku nyengir.
“Oalah…”

4 Februari 2009 | 01.29 wib