Jalan Menuju Pulang

(The Waiting Is Almost Over: 13)

Cintaku kepada-Mu memabukkanku. Dan membuatku menari-nari. Aku mabuk dan dalam ekstase (Jalal al-Din Rumi)

Sudah beberapa hari ini kerjaku hanya mendekam di rumah nenek di Semarang. Mengetik, menemani nenek ngobrol, atau membalas komen-komen yang masuk di blog. Lagi pula aku masih malas ke luar rumah. Ingin santai dulu sejenak.

Baru di hari ketiga aku ingin sedikit jalan-jalan. Sekadar menelusuri sudut-sudut kota serta merasakan semilir angin pesisir. Berbekal ransel mungil di punggung, kutelusuri sudut-sudut kota, perkampungan, dan rumah-rumah tua. Sesekali mencatat, juga memotret segi-segi yang menarik.

Beberapa gadis kulihat melenggang cantik. Mungkin anak kuliahan. Ya, betapa wajah sebuah kota terasa lebih lengkap oleh senyum manis gadis-gadisnya. Kalian setuju? Tapi aku sedang malas bergenit-genit. Kerling mata mereka hanya kubalas dengan senyuman sambil geleng-geleng kepala. Sembari menutup lensa kamera aku berpaling dan terus berjalan.

Dalam sebuah perjalanan ketika matahari betul-betul telah pamit pergi, aku mampir ke mesjid kecil untuk sholat Maghrib di sebuah kampung yang tak ramai. Ketika tiba di sana, sholat berjama’ah telah lama usai. Orang-orang yang masih tersisa di dalam mesjid pun tampak sudah santai. Aku pun cepat-cepat berwudhu mengejar kesempatan waktu Maghrib yang sudah tak seberapa.

Begitu selesai sholat, baru kuperhatikan orang-orang yang ada di dalam mesjid ini. Ada yang sedang membaca Qur’an, ada yang sedang berzikir, ada yang berbincang, ada yang duduk diam bertafakur, ada pula yang tertidur pulas. Mungkin mereka sedang menunggu waktu Isya tiba, pikirku.

Setelah kuperhatikan, baru aku menyadari: semua yang ada di dalam mesjid ini masuk dalam golongan senja yang usianya kutaksir tak ada yang di bawah 60 tahun. Tiba-tiba tanpa sadar aku jadi tersenyum geli sendiri: kenapa mesjid yang kebetulan berada di pinggir kampung yang tak ramai ini berisi orang-orang tua semata? Kemana anak-anak mudanya? Ah, mungkin anak muda kampung sini baru saja pulang kerja, jadi masih letih untuk pergi ke mesjid dan sholat berjama’ah, batinku.

Aku pun menyadari: aku sendiri paling jarang sholat berjama’ah di mesjid sekitar rumahku. Bisa dipastikan jika waktu Maghrib dan Isya tiba, aku masih berada jauh dari rumah. Sehingga tak mungkin boro-boro sholat Maghrib berjama’ah di mesjid sekitar rumah, ketemu tetangga pun paling banter pagi hari yang itu pun saat berangkat kerja, sekadar menganggukkan kepala kalau kebetulan bertemu pak Anu atau bu Anu, atau satpam, atau tukang sampah, atau tukang gas keliling.

Akhirnya aku pun sekalian menyambung sholat Isya berjama’ah. Dan betul saja, hanya orang-orang berusia senja belaka yang berdiri sejak shaf pertama dan kedua. Olala, apakah kini mesjid hanya berisi orang-orang tua belaka? Husy! Betapa jelek pikiranku. Barangkali kebetulan saja ini hanya terjadi di mesjid kampung ini.

Aku jadi teringat dengan salah sebuah khotbah Jum’at ketika sang khotib mengatakan: salah satu tanda-tanda akhir jaman adalah sepinya mesjid-mesjid untuk sholat berjama’ah, namun orang terus bermegah-megah dalam membangun mesjid.

Akhirnya, dari pengalaman di mesjid kecil itu, aku jadi punya keinginan untuk melakukan perjalanan ke berbagai mesjid di kota ini.

Pada suatu siang kembali aku mampir di sebuah mesjid. Kali ini mesjid besar. Bangunannya bagus, parkir kendaraannya rapi, tempat wudhunya bersih, dan suasana dalam mesjid sejuk menenangkan. Lagi-lagi aku tak kebagian sholat Dzuhur berjama’ah dan musti sholat sendirian. Tapi ketika hendak mencari tempat untuk sholat di bagian yang sedikit tersembunyi (kebiasaan jelek yang tak patut untuk ditiru!), aku malah kesulitan mencari tempat. Lho, kenapa? Bukankah mesjid ini besar?

Ya, tapi hampir seluruh pojok lantai mesjid diisi orang-orang yang bergelimpangan tidur siang. Olala! Betapa nyamannya. Betapa pulasnya tidur mereka. Apalagi ditingkahi suara dengkuran yang terdengar berkesiur tipis, menambah lengkap tidur mereka. Tapi siapakah mereka?

Dari yang kuperhatikan, mayoritas dari mereka berseragam pegawai, ada yang berpakaian kerja, bahkan beberapa ada yang menutupi tubuhnya dengan sarung serta meringkuk di dalamnya. Kalau sekadar menilik dari pakaiannya, bolehlah secara sambil lalu menyimpulkan: mereka bukan pengangguran yang tak punya kerja. Tapi kenapa bisa begitu pulas tidur di siang hari begini? Lagi-lagi aku jadi teringat pada sebuah buku. Disebutkan: salah satu tanda-tanda akhir jaman adalah dijadikannya mesjid sebagai tempat menyelesaikan urusan duniawi semata.

Akhirnya, begitu selesai sholat, aku pun ikut mencoba merebahkan tubuhku di lantai kayu yang terasa adem itu. Hasilnya: memang nyaman ternyata! Dan jangan salahkan aku kalau pada akhirnya aku pun ikut latah terlelap sejenak di sana…

Begitulah. Hobi baruku mampir ke berbagai mesjid makin menjadi-jadi. Ada mesjid yang jama’ah sholat Isya-nya hanya lima orang. Ada mu’adzin yang sholat sendirian. Ada mesjid yang penuh kegiatan, seperti majelis ta’lim, pengajian anak-anak, hingga yang dilengkapi kafe ringan. Ada mesjid yang dipenuhi mahasiswa, namun ada juga mesjid yang sepi sama sekali.

Tapi dari setiap mesjid, mushola, langgar atau surau, aku dapat mengambil banyak pengalaman serta cerita dari sana. Catatan harianku makin penuh dengan kisah-kisah unik yang kutemui di setiap mesjid yang kutemui. Memang, tak semua bisa kuceritakan. Karena tentu beberapa pengalaman ada yang bersifat sangat pribadi. Yang kalau diceritakan pun tak semua orang berani memercayainya. Tapi semua tetap kutulis dan kusimpan, karena kelak siapa tahu bisa menjadi bahan cerita karena ada beberapa segi yang menarik untuk diambil hikmahnya.

Terkadang di sebuah mesjid luas namun tak begitu ramai, aku selalu mencari tempat di pojokan yang sedikit tersembunyi. Karena di sana aku bisa dengan santai dan bebas mengeluarkan laptop dan mengetik dengan tenang sepuasnya. Tak pernah ada petugas mesjid yang menegurku meski aku menggunakan aliran listrik mesjid tersebut (bagaimana pun ini termasuk korupsi dalam skala kecil ya? Karena menggunakan sesuatu yang bukan haknya).

Aku jadi teringat dengan Bandung SuperMall, yang jika ketahuan menggunakan listrik di foodcourt-nya untuk keperluan hotspot, petugas keamanan akan datang menghampiri dan dengan santun menegur agar tak menggunakan aliran listrik di mall tersebut. Aneh juga. Padahal, berapalah penggunaan aliran listrik untuk beberapa jam pemakian laptop. Yang seperti itu tak pernah kutemui di tempat lain yang menyediakan hotspot. Meski demikian aku tak pernah kapok untuk kembali mencolokkan kabel listrik jika petugas yang penuh dedikasi pada perusahaan itu telah pergi menjauh.

Nah, di lain siang, kembali aku mampir ke mesjid yang juga cukup besar di kota ini. Bangunan serta halamannya luas. Kamar mandinya bersih, tempat wudhunya rapi, lantai mesjidnya sejuk dan kubahnya selangit. Lagi-lagi aku ketinggalan sholat Dzuhur berjama’ah. Untungnya hanya ketinggalan satu raka’at.

Seusai sholat baru kuperhatikan arsitektur serta interior mesjid ini. Baru kusadari, di setiap pilar mesjid ini terpampang tulisan yang berisi anjuran untuk tidak tidur di dalam mesjid. Nyatanya tak sedikit yang mengambil posisi menggelosor, tidur dengan nyaman serta pulasnya.

Aku pun beranjak keluar mesjid, bermaksud duduk-duduk sejenak di taman mesjid luas ini. Yang menarik dari mesjid ini, di bagian koridor luar aku terhenyak mendapati keramaian layaknya pasar (waktu datang aku masuk dari pintu samping, sehingga belum melihat bagian depannya). Di sana kulihat ada yang jualan buku, ada yang jualan kaset/CD agama, ada yang jualan peci, ada yang jualan parfum, ada yang jualan nasi, ada yang menawarkan jasa pijat refleksi, ada yang jualan air mineral hingga koran. Ramai sekali! batinku.

Aku jadi teringat pada salah sebuah hadits nabi yang menganjurkan untuk tidak melakukan perniagaan di mesjid (saat menuliskan kisah ini, aku lupa hadits tersebut diriwayatkan oleh siapa serta tingkat keshahihannya. Kucari di Bulughul Maram, tak ketemu babnya karena betul-betul lupa. Maafkan kalau sekiranya salah. Beribu terima kasih jika ada yang berniat membantu membetulkan).

Jama’ah usai sholat yang menyemut meramaikan koridor pun ada yang duduk bergerombol, ada yang berpasangan, ada yang mengobrol ini-itu, ada yang dengan lahap makan siang, ada yang asyik ber-SMS, ada yang baca koran, serta tentu ada yang mengambil tempat di bagian pojok koridor dan melamun sendirian di sana (Siapa lagi kalau bukan aku!).

Tapi yang menyenangkan, di koridor mesjid yang menghadap taman ini aku bisa merokok sepuasnya. Sesuatu yang jarang dapat kulakukan di banyak mesjid selama ini. Ini pun kulakukan karena kulihat tak sedikit orang yang mengepulkan asap.

Dari duduk-duduk melamun di koridor mesjid, sudah berbagai orang duduk di sebelahku. Dari penjual air mineral, penjual koran, seorang muslim warga negara Australia sampai seorang pria berumur 78 tahun.

Kulitnya gelap terbakar matahari. Hidungnya mancung dengan bintik-bintik hitam menghiasi wajahnya. Pakaiannya lusuh dengan kepala berkupluk coklat. Kumis dan jenggot putihnya tak terawat di sana-sini. Tubuhnya kurus seolah jarang makan. Awalnya aku mengira ia sekadar seorang tua yang kerap berdiam duduk-duduk di sekitar mesjid dengan pekerjaan tak menentu. Tapi tiba-tiba ia menyapa muslim Australia di sebelahku dengan bahasa Inggris yang fasih dan lancar. Aku terbelalak!

Nyatanya pak tua 78 tahun itu malah berbincang asyik dengan si muslim Australia. Bahasa Inggrisnya patut dan artikulasinya jelas. Tak berapa lama si Australia pun pamit pergi. Ternyata pak tua 78 tahun itu seorang penjual buku keliling. Ganti aku yang diajak berbincang olehnya.

Sebagai penguat obrolannya yang isinya melulu tentang hukum Islam, nyaris yang semua ia dagangkan ditunjukkannya padaku. Ia buka halaman tertentu. Aku jadi makin ternganga. Nyatanya ia tak sekadar penjual buku biasa. Ia tunjukkan fiqih-fiqih Islam, rahasia-rahasia sholat, legenda Nabi Khidir, munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa, Imam Mahdi, dan dunia Jin. Selain fasih, cara bicaranya cermat sekaligus bersahabat.

Harus kuakui aku malu bukan main saat itu. Aku sudah menilai seseorang dari luarnya. Nyatanya di balik penampilannya yang (bisa dikatakan) tak terurus, ia seorang dengan pribadi menyenangkan, santun juga berisi. Ya, tak selamanya apa yang kita lihat mencerminkan isinya. Barangkali aku salah. Tapi yang pasti saat itu aku malu bukan alang kepalang. Nyatanya aku begitu menikmati berbincang panjang dengan pak tua 78 tahun ini.

Matahari mulai landai. Hari semakin sore. Aku tak punya sesuatu untuk kutawarkan. Tapi teringat dengan bekal makan siangku, kukeluarkan sekerat roti dari ranselku. Ia tersenyum santun menolak, yang kemudian mengeluarkan sepotong semangka dari dalam tasnya. Rupanya ia pun berbekal. Akhirnya hanya rokok yang dapat kusorongkan. Ia pun mengambil sebatang. Dan kami mengepul bersama.

“Siapa nama Adik?” tanyanya.
Aku pun menyebutkan namaku.
“Saya Haji Mansyur.” sebutnya lagi tanpa kutanya. “Adik asal dari mana?”
Dan kusebutkan asalku.
“Ow, saya pernah ke sana.”
“Oya?”
“Hampir seluruh kota besar di Indonesia pernah saya kunjungi, Dik.” akunya.
Aku jadi semakin tertarik dengan pak tua ini.
“Sedang dalam perjalanan?”
“Iya, Pak. Saya sedang melakukan perjalanan.”
“Sejak tadi melamun saja…”
“Sedang menikmati taman mesjid ini kok, Pak.”
“Kalau sholat fardhu jangan menangis, Dik. Kalau sholat tahajjud boleh.”
Sontak aku kaget. “Lho, kenapa tiba-tiba Bapak bilang begitu? Bapak tadi sholat dekat saya?”
Ia hanya tersenyum sembari menunjukkan buku tentang rahasia-rahasia sholat tahajjud.
“Tapi kan tidak diniatkan untuk menangis, Pak.” lanjutku lagi. “Kalau saat sholat menangis begitu saja kan nggak pa-pa?” ujarku malu mengakui.
Lagi-lagi ia tersenyum. “Ya sesekali tak apalah…”
“Tapi tidak sesekali, Pak.”
“Hampir setiap sholat?” sontak ia menoleh.
Lagi-lagi aku menganguk malu.
Tiba-tiba ia merangkul pundakku. “Sudah dekat, Dik… Sudah dekat.” tukasnya tersenyum.
“Maksud Bapak?” tiba-tiba kurasakan kelopak mataku bergetar.
“Ah, sudah adzan Ashar, Dik. Mari.” ujarnya tersenyum tak menjawab sembari berdiri bergegas membereskan dagangannya.

Aku mengambil sebuah buku tipis tentang Asma-Ulhusna sembari bertanya berapa aku harus membayar.
“Itu untuk Adik. Tak perlu membayar.”
“Lho, tidak bisa begitu, Pak. Bapak kan dagang.”
“Anggap saja sebagai kenang-kenangan perkenalan kita hari ini.” jawabnya tetap tersenyum dan terus berjalan pergi. Lagi-lagi aku hanya ternganga melihat ia berlalu meninggalkanku menuju tempat wudhu.

Setelah sholat Ashar berjama’ah, sekitar pukul 16.30 aku pun mulai beringsut meningalkan mesjid. Di koridor taman kucari lagi pak tua 78 tahun yang memberiku buku tadi. Ternyata ia sudah tak ada di sana. Kucari-cari di sepanjang koridor, tak juga kutemui dia. Padahal aku sekadar hendak berpamitan. Tapi ternyata ia sudah tak ada. Entah sudah pergi ke mana dia.

Akhirnya aku melangkah keluar halaman mesjid. Kembali mencari mesjid lain lagi di kota ini untuk sholat Maghrib berjama’ah.

Ah, pak tua itu… Semoga kutemui Haji Mansyur-Haji Mansyur lainnya di mesjid lain. Dan aku terus menelusuri setiap pojok kota ini untuk kembali berburu mesjid. Tiba-tiba terngiang lagu Tombo Ati di telinganku.

5 Februari 2009 | 20.08 wib

Tombo ati iku ono limang perkoro

Kaping pisan moco Qur’an sakmaknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sakwijine sopo biso ngelakoni
Insya Allah Gusti Pangeran ngijabahi

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

48 Responses to Jalan Menuju Pulang

  1. omoshiroi says:

    ga bikin tulisan berkenaan 6 februari ini bang?

    DM: Belum… Kan masih berlangsung acaranya.

  2. omoshiroi says:

    eh baru sadar, ternyata sekarang dah tgl 7 ya..haha,,

    gara-gara lg libur kuliah, jd ga inget tanggal dan hari..
    hue..he..he..

    btw, ngerasa kesindir ne pas ngebaca posting yang ini..
    hehe,,
    dan juga mengingatkan saia pada sebuah pertanyaan, “sudahkah saia menyiapkan bekal untuk perjalanan ‘pulang’ nanti?”

    omoshiroi, terakhir menulis Sembako Murah

    DM: Whaaa… sudah tanggal tujuh sekarang? *belaga lupa juga* :p
    Merasa kesindir? Wah, bukan bermaksud begitu lho…

  3. mantan kyai says:

    jgn2 bpk itu nabi khidir ? :-D

    DM: Dari awal Si Dan juga udah curiga, Cak… :p

  4. omoshiroi says:

    Ah masa si tokoh ‘Aku’ ga tau seh, anak muda jaman sekarang mah ibadahny pada di rumah..imamnya sebuah kotak ajaib pembawa mimpi..
    hoho,,

    Pas bagian “sudah dekat dik… sudah dekat”. Tukasnya tersenyum.
    Tadinya langsung berasa horror ajah..Tapi setelah dilanjutkeun mbacanya, pasti maksud pak haji mansyur, ‘sudah dekat’-nya itu adalah waktu shalat ashar..
    ha..ha..ha..menipuH,,

    omoshiroi, terakhir menulis Sembako Murah

    DM: Wah, mungkin betul bahwa Si Dan memang bukan anak muda zaman sekarang. Jadul kali dia! Ha-ha-ha.
    .
    Waduh, aku juga tiba-tiba jadi merasa horor mbaca komen yang ini. Hi-hi-hi.

  5. suhadinet says:

    kukira the waiting is almost over adalah fiksi, tapi yang ini sama sekali tak berkesan demikian, DM?

    pertanyaanmu di posting sebelumnya tak usah kujawab ya.

    suhadinet, terakhir menulis Test Pack

    DM: Yang ini berkesan bagaimana, Suhu…
    Pertanyaanku itu? Kalem…

  6. Yoga says:

    Daniel, aku suka tulisan ini (meski sudah pernah membaca dalam versi yang berbeda). Aku terlalu sentimentil, jika membaca tulisan tentang, seorang tua, masjid, dan orang-orang yang tak kenal menyerah. Dua point itu ada di tulisan ini, dan lagi-lagi, menemukan mataku sembab. Tentang hadis itu, aku juga pernah dengar, tapi tak pernah meneliti sahih tidaknya. Hampir semua masjid besar yang ramai, yang pernah kusinggahi, selalu bersebelahan dengan kegiatan perniagaan.

    Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

    DM: Aduh Yoga… lama-lama aku curiga. Ada baiknya kamu mulai kembali periksa ke dokter mata deh, Yug. Bukan apa-apa. Ini baru hipotesa sambil lalu aja ya; masa’ setiap mbaca tulisanku tiba-tiba matamu sembab. Pasti ada apa-apa dengan matamu. Please, kali ini dengarkan saranku. Demi kamu juga.

  7. imoe says:

    Untuk sebuah kebajikan, tidak ada istilah RUGI mas…..pak haji membuktikannya. Berbagi adalah kunci untuk bisa menemukan hal lain di luar sana, di alam yang luas ini. Maka naungilah perjalanan DAN dengan selalu berbagi, niscaya..tuhan menunjukan sebuah karunianya yang tak terkira.

    imoe, terakhir menulis …kaya dan berkah…

    DM: Tssaahh!! Komennya manteb (pake b) beneeerrr…
    Tapi aku setuju. Dan aku suka sekali kalimat ini; Berbagi adalah kunci untuk bisa menemukan hal lain di luar sana. Great, Bung!

  8. Yoga says:

    Tambahan sedikit:
    Versi yang berbeda, tentu maksudku adalah tulisan Daniel, yang lama. Mohon jangan diartikan sebagai versi milik orang lain. :)

    Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

    DM: Cieee… kalimatmu itu. Kamu sedang menjelaskan pada siapa? Hi-hi-hi.

  9. Retie says:

    mmm nice post

    met jalan-jalan lagi dech di Semarang, jangan lupa mampir beli lumpia ya mas :D

    DM: Lumpia? Wah, kalau itu pasti. Thanx, Retie.

  10. Zulmasri says:

    pulang. ya, pulang. kemana?

    kepada-Mu

    ya. ya. perbanyaklah ibadah. biar membuka pintu surga.

    Zulmasri, terakhir menulis Kita Berada di Antara Dunia Kunang-kunang dan Kupu-kupu

    DM: Membuka pintu surga? Wah, mau ngetuk pintunya aja sudah deg-degan, Mas.

  11. Zulmasri says:

    semarang, 4 feb 2009

    sawali: pak zul, cerita mas daniel itu kejadian beneran atau karya fiksi?

    zulmasri: ….

    (jawaban mas dm?)

    Zulmasri, terakhir menulis Kita Berada di Antara Dunia Kunang-kunang dan Kupu-kupu

    DM:
    Sawali: Pak Zul, cerita Mas Daniel itu kejadian beneran atau karya fiksi?
    Zulmasri: ….
    Daniel Mahendra: …
    Sawali: Lho, kok pada bengong?
    (Hi-hi-hi…)

  12. Zulmasri says:

    @bu enny
    ngabsen lagi yuk….

    Zulmasri, terakhir menulis Kita Berada di Antara Dunia Kunang-kunang dan Kupu-kupu

    DM: Wah, belum bisa, Mas Zul. Saat Mas Zul komen, Bu Enny sedang makan kepiting dan ngerumpi di G-Walk dengan 2 ekor blogger centil. Hi-hi.

  13. Yoga says:

    Sudah dekat, sudah dekat–ketika kau berjalan mendekatiNya, Ia telah berlari menujumu. Tak seorang tahu rahasia masa depan kecuali karenaNya, meski kerap lewat jalan setan. Kalau yang dimaksud sudah dekat yang lainnya? Nah, tak baik berspekulasi dan menerka-nerka, biarkan waktu yang menggenapi pernyataan itu. :)

    Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

    DM: Ushikum wannafsi bitaquallah, wassalamu’alaikum warah matullahi wabarakatuh
    Kututup dengan salam ya, Yug. Habis kamu kayak sedang ngisi kultum. Hi-hi-hi.

  14. radesya says:

    kali ini aku benar-benar senang kak, karena kakak ingat jalan pulang. Kapan saja kita bisa dipanggil pulang kak. Kalau saja semua orang membiasakan diri ke masjid…, tapi kadang orang yang tinggal di kota jarang ada waktu buat ke masjid. Mereka lebih sibuk bekerja dari pada berjamaah.

    Aku pernah ada kejadian aneh kak, waktu masih kecil ada teman-teman yang suka tidur di masjid gitu. Mungkin karena suasana yang adem gitu, jadi mereka tertidur kak. Nah waktu bangun…(nggak ku teruskan deh).

    Hidup tak selamanya hidup, banyak sekali jalan untuk pulang kak. Pilihlah jalan yang terbaik ya…, aku juga tak selamanya di sini kak, waktuku mungkin juga akan tiba kak…

    DM: tapi kadang orang yang tinggal di kota jarang ada waktu buat ke masjid. Mereka lebih sibuk bekerja dari pada berjamaah.
    Tidak juga, Desya. Menurutku tergantung habitatnya. Coba Desya tengok tulisanku yang ini: Jatuh Rindu Tiada Tara.
    .
    Lho? Kok nggak dilanjutin? Yeee… Gimana sih?

  15. Beberapa gadis kulihat melenggang cantik. Mungkin anak kuliahan. Ya, betapa wajah sebuah kota terasa lebih lengkap oleh senyum manis gadis-gadisnya. Kalian setuju? Tapi aku sedang malas bergenit-genit. Kerling mata mereka hanya kubalas dengan senyuman sambil geleng-geleng kepala.

    Versi si cewek kuliahan…..

    “Eh ..say ..lo liatin deh ..si mas mas itu masak senyum sambil geleng geleng kepala sama gue…ngapain lagi!?!?

    “Elo kali tadi ..di sangkanya dia lo main mata ke dia bu…”

    “Idihhhhh…orang gue kelilipan….GR benerrrrr…”

    “EMber…tuh dia masih geleng geleng…sambil senyum lagi..hehe”

    “Keknya sakit leher deh say….”

    ‘Yuuk..”

    *gak boleh GR Dan….gak boleh…ck ck ck ”

    yessy muchtar, terakhir menulis Is it ? …Am i? (4)

    DM: Ha-ha-ha-ha… Ini mah versi eluuu…

  16. miSSiSSma says:

    “sudah dekat…sudah dekat…”

    could it be your true soulmate…?
    or, your works’ deadline…?
    hihihi…
    pizzAuT, Om!

    miSSiSSma, terakhir menulis Coldy Cloudy Windy

    DM: Hi-hi-hi. Kamana atuh soulmate… :p

  17. rieny says:

    Duuuhh… lama gak kemari, kangen juga … hehehe…
    Makin ok ajah yah… headernya baru… ;)

    rieny, terakhir menulis b’DaY

    DM: Wah, selamat datang kembali, Mbak Rieny. Terakhir ke mari tanggal 20 Januari 2008. Aih, setahun lalu itu.

  18. prameswari says:

    Menyenangkan dan meneduhkan hati saat berhenti di masjid
    rindu kepada-Nya teramat sangat
    mengingat segala salah yang sudah dibuat
    serasa pendek waktu untuk kita membuat pahala

    prameswari, terakhir menulis Gigi Tongos karena kebiasaan jelek?

    DM: Yak teman-teman, itulah dia pembacaan deklamasi oleh Kak Noengki Plameswaliiiiii……

  19. prameswari says:

    Ke Masjid bawa laptop mojok ……
    halah halah si mas……
    teteup!

    DM: Lha? Daripada bawa PC ke mesjid, kan repot. Mending bawa laptop.

  20. prameswari says:

    @ DM : Ade baru dateng ketemu Bunda dan Lala. blogger centil? Bukan dong…. blogger selebs….blogger cantik bersama sang Bunda. Hehehe

    DM: Eh-eh, sebentar… sebentar… Kalimat di atas tertulis; blogger cantik, blogger seleb, bersama sang bunda. Untuk sang bunda, okelah, dengan mudah dapat diidentikan pada Bu Enny. Tapi blogger cantik dan blogger seleb? Ya mana yang cantik dan yang mana yang seleb ya? Masih bingung nih…

  21. nice posting.
    saling ingat mengingatkan dalamkebaikan.
    mari berlomba-lomba dalamkebaikan

    salam supries :P

    ATM TUKANG™, terakhir menulis Doaku Hari ini

    DM: Wah, lomba ya? Berarti ada yang menang dan ada yang kalah dunk?

  22. Yoga says:

    Setiap tulisanmu? Ada-ada aja. Coba ya, siapa yang butuh dokter sekarang? Mbak dokteeerr tolongin Daniel dong! :mrgreen:
    Hi-hi-hi…

    Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

    DM: Dokter mata, Yug. Dokter mataaaaaa……

  23. sandyagustin says:

    Dari paragraf awal sampe akhir saya nyari-nyari mesjid yang kebanjiran mas… ternyata ga ada. sekedar ingin berbagi pengalam aja hehehehe.

    salam kenal

    sandyagustin, terakhir menulis Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (3)

    DM: Banjir? Wah, salam kenal juga…

  24. prameswari says:

    @ DM : Blogger cantik…blogger selebs……
    Lalaaaaaaaaaaaaa jawabb
    *sambil ngasih mik buat bicara*

    prameswari, terakhir menulis Gigi Tongos karena kebiasaan jelek?

    DM: Hi-hi-hi. Tetep masih bingung.

  25. Yoga says:

    Lha iyaaa, kamu itu butuh dokter mata. Memang tadi aku panggil siapa? Apa dokter mata nggak ada yang perempuan? Dokter gigi aja ada yang perempuan. Hidih! :D

    Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

    DM: Nggak, Yug… Aku nggak butuh dokter mata. Sudah seringkali (iseng) ngecek, mataku normal terus. Jadi dokter apa dunk…

  26. @yessy jangan2 yg di geleng2 in ma si DAN mbak yessy dan temennya (blogger seleb dan blogger cantik kakakakkakaka) yg kesasar di SMG hehehehehe.
    Yah Semua Mesti Pulang, Kalau ga pulang apa mau sendirian di sini ? (kaya i’m Legend ) hehehhehe.
    Ternyata si DAN hebat,baca nya bulughul mahrom… jangan2 3 hari di rumah nenek melahap kitab kunig :D hehehehe

    @DM berlomba2 dalam kebaikan ga ada yg menang / kalah yg ada yang menang dan menang,karena dalam kebaikan tidak ada istilah kalah. ( sory nggaya dadi wong bener mas hehehehhehe)

    DM: Bukan itu saja. Curiganya Negarakertagama sampai Pararaton dia sikat habis. Hi-hi-hi.

  27. Chandra says:

    iiiih ransel mungil….ransel cewek berbahan kulit ya!

    DM: Ya nggaklah. Semacam backpack kaleee…

  28. marshmallow says:

    hmm… cerita ini familiar, goniel.
    pernah dulu kubaca cerita yang senada di blog ini juga. tulisannya mengenai kamu yang sedang maraton mesjid, kalau tak silap di KL. keren, goniel, as usual. menginspirasi (untuk molor di mesjid maksudnya). huehehehe… :mrgreen:

    dulu dan sejatinya mesjid memang bukan sekadar tempat ibadah. rasulullah juga mengadakan rapat dan majelis taklim bersama sahabat di mesjid. termasuk aktivitas lain sejauh bermanfaat dan tidak mudarat. tapi kalau untuk tempat bertransaksi jual beli? hmm… nyatanya mushalla di kampusku kerap dijadikan mahasiswa sebagai tempat untuk meletakkan dagangan mereka (unattended), orang-orang yang ingin berbelanja tinggal meletakkan uang di kotak yang disediakan, dan ambil sendiri barang yang diinginkan. biasanya ya camilan dan minuman. aku nggak tahu dasar hukumnya. mau melarang atau membiarkan? nggak punya cukup justifikasi.

    yang pernah aku dengar, kalau ingin mesjid hidup dan ramai, bangunlah di sekitar pasar. dan terbukti, mesjid raya di bukittinggi itu luar biasa ramai (mungkin hampir di setiap waktu solat), dan letaknya memang di dekat pasar atas (dekat jam gadang).

    tapi pengamatanku terhadap mesjid tentu tidak sebanyak pengalamanmu.

    @zulmasri:
    sesama penulis masih belum bisa melihat karya TWIAO ini fiksi, non fiksi, jurnal, reflective writing, fiksi yang diinspirasi oleh kisah nyata, atau a little bit of everything, pak zul?
    berarti penulisnya yang hebat, dong. (jangan GR, goniel!)
    tapi banyak clue kok sebenarnya, nggak usah disebutin satu persatu, deh. hihi!

    DM: Udan deres wor tinretes waspo
    pangrantese tangis ngeleb pipiku
    Guntur gumuntur muntabke kilat
    Mangkilat kilat kinclong pipiku
    .
    Sun gagas grages mangsinum greget
    Iku muspro manungso musproneng muspro
    Waspo, waspo, tumete sing waspo
    Kila sensono lakak guyumu, ha-ha-ha…
    .
    Karno babas kang sino greget
    Suk manungso besok lan pus gunem pusio

  29. ario saja says:

    lengkap ceritanya yah

    DM: Begitu kah?

  30. Lala says:

    @ Mbak Noeng:
    Mic? Kenapa mau nyanyi atau orasi? Aku lagi mood banget buat orasi sebetulnya, tapi mau jalan ke PTC dulu, inspeksi ke teh Gopek… :D

    @ Mas DM:
    Oh Please!
    It’s so obvious.
    Blogger Cantik = Bunda, Mbak Noeng, & Lala.
    Blogger Selebs= Bunda & Mbak Noeng.
    Lala?
    Blogger yang lagi bete banget sama IM2 yang belakangan menguji kesabaran aja karena lambat banget!

    Komentar OOT dulu, Mas….. *sambil merancang kata-kata bijaksana apa yang bisa ditulis di sini… hihihi*
    Pamit!

    Lala, terakhir menulis it’s moving forward (and not the other way around)

    DM: Oh, jadi gitu pembagiannya ya? Hi-hi-hi.
    Di mana-mana IM2 itu memang bukan berfungsi untuk akses internet, melainkan untuk menguji kesabaran seseorang. He-he-he.

  31. VM says:

    Dari balasan komennya kliatannya baik-baik aja, tidak seperti yang aku bayangkan bila sedang berSMS or bertelpon. syukurlah… :)
    DM ini memang pandai betul bikin orang berempati… hemmm….

    DM: Ada perbedaan mendasar dari caraku menulis postingan, membalas komen, begitu juga dengan SMS dan bertelpon. Dan itu tidak dibuat-buat. Mayoritas caraku membalas komen mungkin lebih terbuka, tampak santai, bahkan tertawa-tawa tanpa beban. Kenapa? Karena aku dengan sadar mengambil energi dari komen pembaca.
    .
    Ada relasi serta komunikasi yang kubangun. Aku memang mengambil energi mereka. Aku membutuhkan itu. Berbeda dengan caraku menulis, yang secara individual berhadapan dengan diriku sendiri. Namun satu hal pasti; caraku membalas komen tidak selalu menggambarkan keadaan jiwaku saat itu.

  32. goenoeng says:

    Udan deres wor tinretes waspo
    pangrantese tangis ngeleb pipiku
    Guntur gumuntur muntabke kilat
    ….

    pantesan semarang jadi banjir, Dan. lha wong mbok rapalke ‘udan deres’, sambil pake gayane sujiwo tejo ndak ? :D

    ngomong2, memangnya ada apa dengan notasi-mu, dab ?

    DM: Yo jelas nganggo gayane Pakde Jiwo, Goen. He-he-he.
    Notasiku? Ya seperti komenku di blog-mu itulah; minor, tanpa kres, tanpa mol. Sendu, tanpa kresendo, tanpa allergro.

  33. boyin says:

    gua suka tuh yah kata2 gadis melenggang cantik dan ku malas bergenit genit..ciee..cool man! asik banget deh bacanya

    DM: Huehehe… Melakoninya juga asyik, Mas Boyin.

  34. AL says:

    Beberapa gadis kulihat melenggang cantik. Mungkin anak kuliahan. Ya, betapa wajah sebuah kota terasa lebih lengkap oleh senyum manis gadis-gadisnya. Kalian setuju? Tapi aku sedang malas bergenit-genit. Kerling mata mereka hanya kubalas dengan senyuman sambil geleng-geleng kepala.

    Anak kuliahannya:
    Gadis 1: Busyet, yang nanggepin malah bapak-bapak. Senyum-senyum gitu lagi?
    Gadis 2: Tau ya? GR banget sih!
    Gadis 3: Jangan-jangan om-om senang lagi nyari ayam, hiiyyy…
    Gadis 1: Hiiyyy..

    Kisah yang seru mengenai masjid pak Daniel. Saya sendiri, besar sebagai anak kampung betawi dan juga menghabiskan masa remaja di pesantren, masjid adalah salah satu tempat dimana saya tumbuh. Sampai sekarang, saya selalu merasa bahwa masjid adalah sebuah tempat yang ramah yang selalu menyambut masuk. Pada kenyataannya, masjid memang bukanlah tempat yan tersembunyi, namum membuka lebar mengundang masuk baik itu mereka-mereka yang ingin kembali, maupun angin sepoi-sepoi

    AL, terakhir menulis Belajar untuk Menerima Kekalahan

    DM: Dodooolll… komenmu tentang mesjid lebih yahud ketimbang omongan gadis-gadis kuliahan versimu. Ha-ha! Sialan! Udah drop duluan mbaca celotehan gadis-gadis sialan itu. Padahal komen tentang mesjidmu bagus banget. He-he!

  35. AL says:

    Saya membaca balasan komentar pak Daniel kepada DV, terus terang, saya agak kagum dengan cara pak Daniel atau beberapa blogger dalam membalas komentar. Nampaknya, saya susah untuk melakukan itu.
    Mengambil energi dari pemberi komentar.. Nampaknya saya musti belajar melakukan itu.

    AL, terakhir menulis Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

    DM: Kepada DV? Kepada VM kali… Coba tengok lagi deh.
    Ya, Al. Mungkin betul. Yessy pernah bilang kalau ia lebih suka dengan caraku mbalas komen ketimbang tulisanku atau SMS atau media lainnya. Mungkin dia melihat bahwa dalam membalas komen aku terkesan lebih terbuka, santai, atau tertawa-tawa.
    .
    Seperti balasanku pada VM, caraku membalas komen memang kusesuaikan dengan komen yang masuk. Aku menggunakan energi komen pembaca. Bukan energiku. Karena kalau energiku, bisa jadi aku sedang dalam kondisi tidak baik, atau sedang sedih. Aku khawatir itu akan mempengaruhi caraku merespon. Meski tak kunafikan, terkadang suka kecolongan juga.
    .
    Saat membalas komen, aku kerap ikut tertawa-tawa atau malah ngakak karena komen yang lucu-lucu. Atau ikut berpikir atas komen-komen yang serius. Energi yang mereka kirimkan kutarik untuk mengisi energiku. Begitulah, Al.

  36. Rhesa says:

    klo diliat2 dari ciri2 mesjid yg digambarkan, nampaknya mas lagi di Bandung ya..??

    Dan yg banyak tidur dengan pakaian dinas, itu mesjid Al-Ukhuwah di daerah Balai Kota Bandung :-)

    Salam kenal ya Mas

    Rhesa, terakhir menulis Persatuan Islam

    DM: Wah, apa sama, Kang?
    Salam kenal juga, Kang Rhesa… Nuhun.

  37. AL says:

    Oh ya, VM. Yailah! Cuma salah atu hurup aja meni perhitungan banget sih dikau hihi..
    Thx banyak untuk tipsnya ya, shensei.
    Saya kayaknya justru terbalik dengan pak Daniel sampai-sampai ada seseorang yang berkomentar bahwa saya nampaknya tidak suka kalau ada orang mengomentari tulisan saya hehehe..
    Yang, tentu itu, tidak benar juga.
    Saya hanya belum tahu bagaimana cara menjawab komentar tanpa merasa kelelahan.

    AL, terakhir menulis Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

    DM: Satu huruf meni perhitungan? Eit, jangan salah. Inget peribahasa; orang yang tidak menghargai sesuatu yang kecil, ia tidak berhak mendapatkan sesuatu yang besar. He-he-he.
    .
    Tanpa merasa kelelahan? Wah, nggak juga Al. Aku kadang kerap kehabisan energi juga dalam membalas komen yang masuk. Kelelahan luar biasa. Kadang malah suka ku-pending beberapa saat. Biasanya itu karena sinyalku belum sama dengan sinyal komen-komen yang masuk.

  38. DV says:

    Menghirup napas dalam-dalam… speechless…

    DV, terakhir menulis Seratus Hari Pertama, Terlampaui

    DM: Lho… Kenapa…

  39. mascayo says:

    Sampeyan ini kang, pandai nian merawikan kenyataan keseharian di sekitar kita. disekitar mesjid.

    mascayo, terakhir menulis Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 itu maksudnya

    DM: Aih… ini hanya rawian seketiduran sajalah…

  40. icha says:

    hmm..adem sekali baca posting ini.

    *simpan energi agar energiku tak kau rampas di komentar ini…:p

    icha, terakhir menulis 9

    DM: Adem? Pake AC tah? He-he.
    Wooo… merampas energimu tak melulu lewat komenmu. Hi-hi-hi.

  41. edratna says:

    Aku masih lelah,…belum konsentrasi….. dan bacanya sambil terkantuk-kantuk, mungkin ketularan si tokoh yang juga ikutan ngantuk dimasjid.

    Baca komentarnya Marsmallow, jadi ingat masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Masjid merupakan tempat ketemuan, jadi saat janji sama teman, mereka bilang..”Ntar kita ketemu di Masjid, setelah sholat Magrib ya? Artinya kita sholat dulu, baru ketemu, untuk kemudian melakukan perjalanan kemana..entah ke rumah makan atau apa.
    Yang menarik, di samping masjid adalah pasar, tapi anehnya masjid tetap bersih, tak ada pedagang kaki lima yang jualan di trotoar depan masjid…di jl Fatmawati Jakarta, jika hari Jumat, trotoar depan masjid dipenuhi pedagang kaki lima…cuma saya belum melakukan penelitian, apakah pas sholat Jumat pedagang tadi juga ikut sholat atau barang dagangan ditunggu kaum perempuan.

    edratna, terakhir menulis Malam Minggu yang cerah di Gwalk Surabaya

    DM: Aih, betul juga, Bu. Kok tak terpikirkan olehku; siapa yang menunggu dagangan itu saat sholat Jumat tiba ya. Aha, betul juga. Aku masih kurang jeli kalau begitu.
    (ya gimana, saat sholat tiba, ya aku sholat. Masa’ malah pergi ke luar, melihat siapa yang nunggu dagangan mereka. Ha-ha!).

  42. hatmiati says:

    membaca cerita kali ini…membuatku meringis…ternyata pengalaman Mas DM yang dituangkan dalam tulisan begitu nyata dalam keseharian kita.

    DM: Aku hanya memindahkan dunia ke dalam bentuk teks, Mbak.

  43. TENGKU PUTEH says:

    Hikmah itu bisa muncul dimana saja, kapan saja dan oleh siapapun itu…

    TENGKU PUTEH, terakhir menulis AROMA PEREMPUAN HIJAU

    DM: Betul, Kawan. Bahkan dari blog sekalipun.

  44. tanti says:

    Biarpun hati tersentuh,
    tapi.. .hei ayo tersenyumlah,..
    hati akan selalu bersuka cita saat sedang berada di rumah Tuhan
    ini saat manusia merasa sangat dekat denganNya (meskipun sebenarnya Dia tak pernah jauh dari kita).

    tanti, terakhir menulis When Your Heart is Calling You

    DM: Apakah sebuah senyuman selalu berhubungan dengan hati? Dan,
    apakah setiap senyuman selalu menyiratkan kebahagiaan?

  45. hmmmm …. rumah Allah sekarang ada di mana2, mas daniel. semarang, si kota tua itu, sudah sangat lama akrab dg berbagai bangunan rumah ibadah dg segala arsitekturnya. semoga saja tempat2 ibadah semacam itu bisa menjadi hunian spiritual yang nyaman bagi para jamaah.

    DM: Bagi para pilgrim, bagi para traveler, bagi para musafir, juga bagi para manusia yang masih lagi mencari rumah tanpa alamat surat…

  46. duh..kynya dah lama dech ga mampir kesini

    cutemom cantik, terakhir menulis Mengapa Pria Suka Begitu..?

    DM: Nah, ke mana saja, Non…

  47. anak ilang says:

    Tempat yang paling banyak setannya justru di tempat ibadah. Karena di tempat itu semuanya bisa menjadi mungkin. Ibadah yang tenag tiba-tiba bercampur menjadi riya. Jalan melangkh ke masjid supaya di lihat pacar, mertua dll.

    Hampir semua di setiap pelataran masjid dapat di lihat para pengunjung masjid yang sedang menikmati nyaman dan teduh nya masjid. Atau memang seperti masjid di dekat rumahqu yang memang terkenal sebagai masjid para musafir. di sekeliling serambi setiap malam pasti ada saja orang-orang yang tidur lelap hanya beralas karpet dan berbantal ransel atau buntalan berisi segala peralatan dan perlengkapan perjalanan mereka.

    Awalnya setiap melihat mereka aq selalu berpendapat kerjaan mereka cuma tidur dan bikin pemandangan tak sedap masjid saja. Ketika aq sampaikan rasa ketidaknyamanan qu itu ke pengurus masjid malah di jawab. Kita tidak tau mereka berasal, tujuan dan kegiatan mereka. Tampak nya mereka hanya tidur saja, tapi kita tidak tahu jika suatu malam para musafir itu sholat malam. dan kaerna mereka juga kampung kita yang seharusnya datang musibah di batalkan karena masih ada hambanya yang kebetulan ada di masjid kita di saat yang lain sedang alpa.

  48. Area Terbaru says:

    kata-kata yang sangat indah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>