Sahabat

(The Waiting Is Almost Over: 18)

Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku (Sutardji Calzoum Bachri)

Kereta api ekspres malam Turangga mulai membelah malam. Menyusuri bentangan rel yang dingin kesepian. Aku duduk di samping seorang lelaki tua yang kerjanya melulu tidur dan tidur belaka. Kucoba pergi tidur, tapi sulit sekali. Aku membolak-balik sepucuk buku Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, malah tak bisa memejamkan mata sama sekali.

Beruntung aku duduk di gang, tidak di jendela. Karena dengan begitu aku bisa keluar masuk bordes, dan merokok sendirian di sana. Aku memang tidak bisa tidak merokok dalam waktu lama. Merokok sendirian di bordes memang mengasyikan. Asapnya tidak mengganggu orang, suasananya tenang, sembari meliriki mbak-mbak pramugari yang melenggak-lenggok manis serta kemayu.

Dulu sering sekali aku merokok di bordes saat dalam perjalanan menyusuri Pulau Jawa. Tapi bukan dengan kereta eksekutif seperti ini, melainkan bisnis. Kenapa bisnis? Karena di bordes aku bisa merokok dengan pintu gerbong terbuka. Jadi angin malam dapat dengan leluasa menampar-nampar wajahku.

Ketika tiba di stasiun Surabaya Gubeng pada pagi harinya, langit tampak tersenyum. Namun udara panas kota Surabaya langsung menyengat begitu turun dari kereta. Hup! aku meloncat. Kugendong ransel dan meniti koridor stasiun. Surabaya, aku datang!

Tapi, brengsek juga kawan-kawanku di Surabaya ini. Sudah kukatakan aku duduk di gerbong 2, namun tak ada yang nongol barang satu pun. Sialan! Lebih sial lagi, gerbong 2 nyaris mendekati lokomotif, otomatis letak berhentinya jauh di ujung stasiun. Weh, kok aku jadi banyak mengeluh ya?

Aku kontak kawan-kawanku. Seorang muncul. Sasongko namanya. Ia menyambutku dengan cengar-cengir. Sasongko adalah kawan SMA. Pernah sekelas di kelas satu. Usia persahabatanku dengannya mendekati tempo 18 tahun. Sebuah kuantitas sekaligus kualitas yang kubanggakan keberadaannya.

Mungkin aku tak punya banyak sahabat. Tapi kalau punya, aku memeliharanya dengan matian-matian. Maka memang tak banyak yang seperti itu. Sasongko sudah beranak dua. Bayangkan, Puput, anak perempuan sulungnya, sudah duduk di kelas 5 SD. Sableng! Sementara aku, menikah saja belum. Haha! Beruntungnya kau Dan, bisikku dalam hati (sembari ngakak tentu saja!).

Kami berjabatan tangan. Lantas berpelukan. Berdua kami berjalan menyusuri koridor stasiun. Tiba-tiba dari kejauhan tampak seorang perempuan berlari-lari dengan dandanan tomboi yang khas. Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar. Dengan gelang, kalung, dan cincin terselip di mana-mana. Ya, sahabatku satu lagi, yang kubanggakan pula keberadaannya: Ayu. Di SMA Ayu adalah adik kelasku. Tentu usia pertemanan kami tak jauh beda dengan Sasongko, sekitar 17 tahunan lah.

Ayu belum menikah. Ia tinggal sendiri di Surabaya. Orangtuanya tinggal di Jember. Tapi setelah ibunya meninggal dan dilarung di laut selatan, bapaknya pindah ke Tabanan Bali. Setelah lulus kuliah, ia hanya menulis, melukis, mengajar vokal, serta menyanyi di beberapa hotel, café serta restoran di Surabaya untuk bertahan hidup.

“Pura-pura nggak liat, Sas. Jalan aja terus!” bisikku pada Sasongko agar melewati Ayu.

Tapi Ayu menghadang kami. Ia sadar kami kerjai. Aku pun mengumpat-umpat atas keterlambatannya. Tapi dengan manja ia menjabat tanganku. Menyentuhkan kedua pipinya di pipiku. Lengkap dengan cengirannya yang menjengkelkan.

Sorry telat. Tadi masih bantu teman-teman mendekor ruangan Toga Mas.” alasan Ayu.

Hmm… senang juga mendengarnya. Ia mau bersibuk-sibuk menyiapkan launching bukunya di Surabaya, juga Denpasar, Malang serta Jember nanti. Kami pun berjalan menuju parkir kendaraan. Kutaruh ranselku di mobil Sasongko.

“Kita ngopi dulu, ya…” ajak Ayu. Jadinya kami nongkrong di pojokan warung Dunkin’ Donuts Stasiun Gubeng. Melepas lelah sejenak. Sasongko dan Ayu mencomot dua donat dalam ukuran besar. Sementara aku hanya menyeruput kopi, karena tak begitu lapar.

Aku sudah batang pertama. Ayu sudah menyulut sebatang Dji Sam Soe. Sasongko tidak merokok. Kita berbicang-bicang.

“Kamu nanti kupesankan kamar di Wisma Pemuda, Ni, dekat Dewan Kesenian Surabaya.” terang Ayu. “Pak Hade, pembicara dari Solo, juga di sana.” lanjutnya (Ayu memang selalu memanggilku dengan sebutan ‘ni’, kependekan dari ‘hani’, yang asal katanya: honey).

Sasongko melirikku. Ia sudah wanti-wanti: istrinya telah menyiapkan kamar dan masakan bagi kedatanganku.
“Di wisma aja!” serobot Ayu.
“Biar Dan di rumahku, Yu…” Sasongko bertahan.
“Nggak bisa!! Dia ini jadi pembicara launching novelku nanti malam! Aku sengaja pesankan kamar untuk dia di Wisma Pemuda!”
“Apa kata istriku nanti, Yu… Dia udah nyiapin…” Sasongko masih bertahan.

Hahaha! Aku biarkan kedua sahabatku bersitegang memperebutkan diriku. Senang sekali mendengarnya. Ada secuil rasa haru di sana. Kalau tak cepat-cepat menguasai perasaan, barangkali ada sebutir air yang tanpa permisi terjun dari mataku. Mereka sahabat-sabahat sejati, bisikku dalam hati. Ternyata keberadaanku memiliki tempat tersendiri bagi mereka, -sesuatu yang jarang kudapatkan pada diri orang lain. Aku sungguh bangga punya mereka.

“Lho, bukanya aku tidur di kamar kosmu, Yu?” godaku tiba-tiba.
“Ah iya… Di sana juga boleh!” akur Ayu.
“Ya sama aja!” cegah Sasongko.
Aku masih saja ngakak. “Ya udah gini aja,” potongku. “Sekarang kita ke Toga Mas dulu. Ngecek persiapan. Pokoknya hari ini fokus ke acara nanti malam. Soal tidurku sama siapa, eh, soal tidurku di mana, gampanglah…” terangku nyengir.

Sasongko dan Ayu saling pandang. Aku nyengir saja. Akhirnya disepakati: kita bertemu di toko buku Toga Mas, tempat acara nanti malam diselenggarakan. Aku dan Sas pakai mobil, sementara Ayu memang bawa motor (vespanya yang bernama ‘scoopy’ sedang masuk bengkel).

Di Toga Mas persiapan tempat sudah nyaris kelar. Bertemu lagi dengan kawan-kawan lain. Yang pasti gondrong-gondrong serta dekil-dekil. Hehe. Ada kawan-kawan dari DKS (Dewan Kesenian Surabaya), Teater Api, dan kawan-kawan seniman lainnya. Mereka sedang manata lukisan-lukisan Ayu yang hendak dipamerkan.

Ngopi lagi, menyulut rokok lagi. Ayu sendiri lari ke sana ke mari: mengecek persiapan, telpon sana-sini, dan memboyong ratusan novelnya dengan troli, ditemani petugas toko. Tak lupa di jarinya terselip sebatang Dji Sam Soe (cewek satu ini memang sableng merokoknya).

Menjelang siang hari, tampaknya ruangan nyaris kelar. Panggung dan ruangan sudah di-setting. Lukisan Ayu bertebaran di mana-mana. Ya, malam nanti Ayu memang bakal menggelar peluncuran novel serta pameran lukisannya yang perdana. Dan aku didapuknya sebagai salah seorang pembicara.

Di meja kudapati wawancara Ayu yang dimuat Jawa Pos, harian terbesar di Indonesia Timur. Dalam urusan pertemanan, Ayu memang punya jaringan yang cukup kuat di Surabaya. Dari kalangan seniman, kantung kebudayaan, hingga pers. Tak aneh bila ia mau melakukan semua hal yang berhubungan dengan acara malam ini.

Ketika aku sedang membolak-balik koran, dari kejauhan Ayu nyeletuk, “Usai acara, Kompas sama Matra mau wawancara aku juga, Ni!” Weh, dahsyat juga sahabatku satu ini. Betapa bangganya aku memiliki sahabat seperti dia.

Menjelang Jum’atan, aku duduk bertiga lagi dengan Sas dan Ayu.
“Gini, Yu,” selaku tiba-tiba. “Gimana kalau siang ini aku ke rumah Sas dulu. Dia pagi tadi udah nggak ngantor nih. Katanya sih aku mau diajak Jum’atan dulu. Padahal aku kan musafir. Hihihi.” wajah Ayu sudah menunjukkan mimik memelas. “Dengar dulu, Yu…” tukasku menenangkan dirinya. “Siang ini aku ke rumahnya, makan siang hidangan istrinya, nah nanti sore aku ke sini lagi. Gimana? Lagi pula kamu memang harus pulang ke kosan juga kan? Sibuk sih sibuk, tapi udah berapa hari kamu nggak mandi, heh? Bau tau!!” Ayu hanya nyengir. “Gimana?”
“Gitu ya? Mmmhh… Tapi jangan malam-malam ke sininya ya, Ni. Aku gugup nih n’tar malem.” ujarnya kembali memelas.
“Gugup?! Hahaha!!” aku ngakak. “Ini kan bukan kali pertama kamu meluncurkan buku, Dodol?” aku teringat saat ia roadshow dari kota ke kota ketika meluncurkan kumpulan cerpen pertamanya. “Semoga nanti malam kamu dibantai orang-orang yang datang!” seruku galak sambil berdiri menyeret ransel.

Akhirnya aku pun pergi bersama Sasongko. Adzan Jum’at sudah berteriak-teriak. Bahkan nyaris usai. Tiba-tiba aku menyela:
“Kamu gimana sih, Sas?! Lihat tuh, orang-orang pada Jum’atan, kamu malah enak-enakan di jalan. Cari mesjid kek.” godaku nyengir.
“Jancuk! Gara-gara kamu, jadi telat Jum’atan nih…”
“Hahaha! Aku kan musafir. Kalo’ kamu kan memang warga Surabaya. Jadi nggak ada alasan bagimu untuk nggak Jum’atan.”
“Enake… Musafir dijadikan alasan!” Mobil pun terus melaju. Melawati jalan-jalan Surabaya yang sumpek serta menjengkelkan.

Tapi tiba-tiba aku teringat seseorang. Dan aku menundukan kepala demi mengenangnya. Seseorang yang pernah tinggal di sini dan begitu bersemayam di hati. Seseorang itu bernama: Raden Mas Minke, tokoh fiktif dalam Tetralogi Buru.

“Aku pingin jalan-jalan ke Wonokromo, Sas! Sudah itu ke Kranggan, Tulangan, terus ke…”
Sasongko sudah mengumpat-umpat. Aku hanya ngakak. Dan kami pun sepakat tak Jum’atan. Dasar Sableng!

19 Februari 2009 | 04.24 wib

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

35 Responses to Sahabat

  1. Lala says:

    Umur persahabatan yang sangat hebat, Mas! Pantas bangga banget… :)
    (langsung ingat dengan seorang Sahabat saat SMP yang janji nraktir makan di Sushi Tei! haha…… tagih ah….)

    Lala, terakhir menulis We’re Growing Up, Aren’t We?

    DM: Persahabatan memang tak pernah meminta apa-apa. Ia hanya ingin memberi.

  2. Ikkyu_san says:

    akhirnya…
    ke Surabaya….
    jangan lupa makan rujak cingur….
    EM

    DM: Rujaknya sih doyan… Cingurnya, hiiiiiiiii………..

  3. tanti says:

    *nyanyi*
    Surabaya, Surabaya, oh Surabaya…..
    kota kenangan, kota kenangan tak kan terlupa…

    tanti, terakhir menulis Tidurlah, Tidur ….

    DM: Nyanyi? Diiringi pakai apa ya…
    Ukulele? Tamborin? Atau ecek-ecek?

  4. Walah Habis Jancuk .. Malah ga jadi Jumatan iks …kacau dan kacau ….
    hehehhe
    Yah .. sahabat adalah sebagian jiwa kita yg ada pada tubuh yg lain,bener2 merasakan apa yg kita rasa,jadi inget seorang sahabat yg melompat ke medan,siapa yg menjemput aku di stasiun sobat… hehehehhehehhe

    DM: Iya, parah tuh si Dan. Kadang suka melalaikan sholat.

  5. DV says:

    Waduh sampe di Surabaya…
    Syalalala.. LALA..:)
    Diceritain dunk Lala-nya :)

    Kutunggu, Mas :)

    DV, terakhir menulis Matane dan Matamu

    DM: Lala? Lho, bukannya Lala ke Jakarta? Bagaimana bisa diceritain… He-he.

  6. prameswari says:

    Hmmm akhirnya jadi juga buku kalian itu dilaunching di Toga Mas, cedak Wonokromo ya…..Hehehe.
    Met dateng di kota Surabaya ya…
    buat pasang braket, cepetan nyetaknya……

    prameswari, terakhir menulis Tidak Biasa

    DM: Ya bukan cedak lagi…

  7. Yoga says:

    Please deh:- …jalan-jalan Surabaya yang sumpek serta menjengkelkan.

    ***

    Salam buat Nyai dan Darsam!

    Yoga, terakhir menulis Child Pose

    DM: Nyai sudah pindah ke Prancis bersama Jean Marris dan anaknya, Maysaroh. Sementara Darsam pindah ke Wonocolo.

  8. dana says:

    Persahabatan yang melegakan. :D

    dana, terakhir menulis Hujan Menghujam

    DM: Melegakan? Mungkin karena separuh nafas kita ada pada mereka.

  9. vizon says:

    ah… indah sekali persahabatan itu ya…
    saya punya semacam “soundtrack of my life” bagi sahabat2 saya, yaitu “you raise me up”, bagi saya, persahabatan adalah seperti apa yg terungkap dalam lagu itu:
    “…you raise me up
    so I can stand on mountains
    you raise me up
    to walk on stormy seas…”

    vizon, terakhir menulis tunjuk satu bintang

    DM: Kalau aku mungkin tembang White Lion, Farewell To You, Da.
    Yes it’s time to say auf Wiedersehn
    Sayonara and ciao my friend
    You’ll always have a place within my heart
    And rock will come and rock will go
    The scene will change and time will show
    But still I hope that you’ll be there for me
    i’ll be there for you

    .
    Atau Blood On Blood-nya Bon Jovi:
    Blood on blood
    One on one
    We’d still be standing
    When all was said and done
    Blood on blood
    One on one
    And I’ll be here for you
    Till Kingdom come
    Blood on blood

  10. Chandra says:

    Kok de javu lagi ya baca ceritanya….
    Mirip-mirip postingan jaman dahulu kala lagi nih rasaan…

    DM: Weh, senangnya de javu mulu nih…

  11. Chandra says:

    Eh jangan-jangan jalan cerita hidup mas daniel muter-muter kali ya, jadi banyak kejadian yg mirip-mirip…hehehehe….

    DM: Jangan-jangan emang gitu, Chand…

  12. imoe says:

    Hhahahaha hayo, jhangan ngak jumatan 3 kali berturut-turut, kalo sempat, kata pak ustad dianggap murtad hahahahahahahaha

    imoe, terakhir menulis …ku yakin sampai di sana…

    DM: He-he-he. Kan bisa diselang-seling. Minggu ini nggak Jum’atan, minggu depannya Jum’atan. Minggu depannya lagi nggak Jum’atan. Jadi nggak murtad. Ha-ha! Becanda.

  13. radesya says:

    Kak, aku senang sekali bacanya, sampai aku ulang 3 x lho, persahabatan begitu menyenangkan ya, benar-benar mengharukan..
    Semoga aku dan sahabatku bisa seperti itu..

    Mampir ke Wonokromo ja kak, ntar ketemu Minke, atau ketemu Cak Darsam hehehe..

    Btw, Jancuk itu apa ya? Aku cari di kamus koq nggak da..

    DM: Kalo ngulang mbaca sampai 4 kali, dapat payung, Ra.
    .
    Jancuk? Hmmm… apa ya…
    Jancuk itu sebetulnya umpatan. Cukup kasar malah. Khas Suroboyoan. Tapi karena sudah terlampau sering dilontarkan, kesannya sudah tak jadi umpatan lagi. Malah cenderung jadi sapaan hangat dan mesra di antara sahabat.
    .
    Seperti Cak Ri, yang komen di bawah Ra ini.
    “yo wis ojo lali rujak cingure yo cuk…”
    Itu sudah tak terasa kasar lagi. Malah bagaikan sapaan akrab dan mesra.
    Seperti aku dan DV yang selalu saling memanggil dengan sebutan “Su”. Asal katanya sih asu.
    “Piye Su, kabarmu Su?”
    Kata “Su” di situ sudah bukan lagi sebutan kasar.
    .
    Tapi Ra nggak usah ikut-ikut nyebut seperti itu. Nggak baik. He-he.

  14. Cak Ri says:

    oooo wis tekan suroboyo arek iki tibak’e….., yo wis ojo lali rujak cingure yo cuk…

    DM: Oke, Cuk. Siap, Cuk! Ha-ha-ha.

  15. Yoga says:

    Dan, tempo hari kamu tulis asu dengan hasyu, kali ini jancuk kok ndak diplesetkan jadi hancyuk? Kalau dibaca Titi Said, nulisnya pasti disuruh gini: j****k. Untungnya ini bukan film.

    Yoga, terakhir menulis Sujud

    DM: Lha ini memang bukan film… (La opo Lembaga Sensor Film dibawa-bawa ke mari).

  16. anisa says:

    mas mahendra kenapa udah di surabaya aja???
    seperti koment anisa , anisa udah nunggu – nunggu kabar dari mas mahendra……
    kenapa tiba-tiba udah di surabaya aja???
    teman teman mas mahendra memang baik , rasanya mas mahendra aja yang kurang menghargai kebaikan orang lain seperti menghargai tawaran anisa nginap di rmh eyang di jogja…..
    pdhl anisa menawarkan nginep biar mas mahendra ngak dimanfaatin sama orang seperti penyanyi malam itu !!!

    DM: Makasih atas tawarannya ya, Anisa. Nanti kusampaikan pada si Dan. Tapi kayaknya dia cenderung cepat-cepat ngabur ke Surabaya aja. He-he.

  17. @Anisa

    Aduhhh..Emang Mas Mahendra ini gimana siiiii..aduuhhh….bingung dehhh..masak ada gadis secantik dan semanis serta jangan lupakan sebaik Anisa ini di anggurin yaaa…

    Nanti aku coba bilang sama mas Mahendra ya Anisa…kalo dia itu harus banyak belajar…terutama belajar menghargai!!

    Surabaya Jogja tidak begitu jauh…nanti kuminta dia untuk datang kerumah Eyang ya nisa…

    duh Nisa….mas Mahendra enggak di manfaatin koooo sama penyanyi malam itu..beneran …enggak..ehehehhe

    Ayo Anisaaaaaaaaaaaa..teruskan perjuanganmu yaaaaaa..taklukkan hati mas Mahendra yaaaa…aku mendukung muu loooooo!!!

    @DM

    Selamat malam Jelek :)

    yessy muchtar, terakhir menulis Sumpah Deecchh…hehehe

    DM: Selamat pagi, Dodol!!!

  18. Lupa komen Tulisan boss…

    Sahabat Dan…berapa tahun tadi? 18 tahun?

    Mm…dashyat :)

    Berbeda dengan mu…aku bisa punya ratusan orang yang bilang aku dekat dengannya…tapi sahabat? mm…mungkin cuma beberapa….hanya beberapa. :)

    Dan ya…Si Gemboel itu sayangnya udah jadi sahabat gue boss :P …Gue sayang banget deh sama tuh anak!..sayang gila!..eh tunggu tunggu…gue sayang apa gila ya….hehehe

    @Lala

    Love you!!…hari Senin lama banget ya La…hehe

    DM: Kayaknya lebih tepat gila deh. Ha-ha!

  19. @dan:
    surabaya…
    udah deket banget sama bali, dan.
    mau nyebrang dikit biar kutunggu di sini?
    tapi ntar bantu aku ikutan periksa spesimen, ya?
    karena aku teman yang baik, maka akomodasi aku tanggung deh asal kerja.
    cemana?

    @DM:
    titip pesan buat dan untuk berhati-hati kalau memutuskan ke sini. bali bakal sangat sering hujan kalau dia jadi datang… kalau sudah hujan bisa bechek, apalagi cidak aja ojhek… nanti dia bisa terpeleset.

    DM: Bantu ikutan meriksa spesimen?! Hiiiiiiiiii………
    Gimana kalo gini, akomodasi si Dan tetap kamu tanggung. Nah, sambil nunggu kamu kerja, biarkan dia mbaca buku di bawah pohon, di pinggir pantai. Ntar kamu boleh nyusul. Cemana?
    .
    Hujan? Yuhuuu……

  20. edratna says:

    Turangga sampai Surabaya ya? Wahh, kangen sama stasiun Gubeng, dulu saya berharap kuliah di Surabaya, dan tiap Sabtu pulang nengoki ayah ibu, naik Kereta Api dari stasiun Gubeng (ternyata takdir berkata lain).

    Niel, kadang sebuah buku, novel atau apapun, membekas di hati. Saya termasuk begitu juga….saat melewati Tagogapu dari Bandung-Cikampek, saya jadi teringat buku karangan A. Muis, yang menceritakan Ratna, gadis Tagogapu, ketemu dengan calon dokter di dalam kereta api menuju Bandung. Gara-gara saya suka cerita, anak-anakku penasaran tentang buku nya, jadilah mereka membaca.

    Persahabatan memang indah Niel, apalagi persahabatan yang berlanjut tanpa mengenal usia. Cuma, kenapa mesti nggak sholat Jumat?
    Dan kenapa gambaran orang seni, selalu dekil, berambut gondrong dll? Jadi ingat Yoga, saat cerita, sempat foto bareng ST (pas saya lagi ke toilet saat kopdar dengan mbak Tutinonka dan Imelda), saya cuma nyeletuk : “Ahh Yoga, aku nggak suka ST…habis gondrong sih…jadi kesannya dekil…” Maaf ST, walau dia termasuk teman dekat dengan suamiku….hehehe

    edratna, terakhir menulis Secangkir cappuccino

    DM: Ya, kereta api Turangga memang Bandung-Surabaya dan Surabaya-Bandung, Bu. Lewat jalur selatan.
    Nggak sholat Jum’at? Kan musafir, Bu… Hi-hi-hi (alesan!).
    .
    Sebetulnya nggak mesti orang seni selalu gondrong dan dekil, Bu. Mungkin itu paradigma lama. Tapi saat ini pun masih ada yang gondrong-gondrong begitu, namun sudah lebih terawat apik. Rajin creambath, wangi, dll.
    .
    Oh iya, ST kan dulu di ITB ya. Pantas teman dekat suami Ibu.

  21. mantan kyai says:

    mas. sampean masih di surabaya??? mbok mampir atau saya ampiri kemana gitu ke tempat sampean. boleh gak???

    mantan kyai, terakhir menulis Pelatihan Blog Untuk Pelajar SMA

    DM: Emh, nanti ku-email via japri ya…

  22. mantan kyai says:

    eh saya serius lho pengen ketemu sampean …

    mantan kyai, terakhir menulis Pelatihan Blog Untuk Pelajar SMA

    DM: Iyo-iyo… Nanti ta’ hubungi via e-mail ya, Cak. Suwun.

  23. Wah Annisa Kok baru muncul sih …. coba saat mas mahendra (panggilan sayang nih mas DM hehehehhee ) ada di yogya annisa muncul kan tahu kalau mas mahendra dah di yogya , cukup lama lo mas mahendra di yogya.

    @annisa : teruskan perjuanganmu , CInta harus diperjuangkan .
    @all : yg boleh panggil mas mahendra cuma annisa lo yah , ga boleh ikut2 ntar dikirain saingan ma annisa hehehehhe

    DM: Kalo Anisa muncul di Jogja? Si Dan bakal mempersingkat kunjungan dia di Jojga. Hi-hi-hi.

  24. pinky says:

    kayaknya aku ingat dech si sasongko ini ,temen di theater SMA dulu kan? yg pernah menitipkan…….dari seseorang buat ku

    DM: Sttt… Pinky, jangan kamu sebut nama aslinya di sini ya. Iya, dia memang adik kelasmu di SMA, tapi dia nggak ikut teater kok.

  25. goenoeng says:

    alhamdulillah…
    ternyata kamu baik2 saja, Anisa…

    Mas Mahendra, kenapa nggak mampir ke rumah eyangnya Anisa di Jogja ?
    biar nggak dimanfaatin orang2 yg seperti itu tuh !
    kok tiba2 sampai di Surabaya iki piye ? nanti malah bikin gosip lagi… whadoooh…
    Mas Mahendra, kamu bener2 kebangeten !
    padahal, padahal… *aku kehabisan kata2 :D *

    @DM
    tak sambi junjung2, dab ! haha…
    tentang sahabatnya nanti ja…

    goenoeng, terakhir menulis rindu dendam

    DM: Njunjung-njunjung opo tho, Dab? Ta’ ewangi tah?
    Komenmu tentang Anisa, nanti ja… :p

  26. goenoeng says:

    eh lupa…. sambil nyanyi, persahabatan bagai kepompong… :P

    hai Anisa….
    *hihi, numpang nyapa lagi…*

    DM: Bagai kedondong? He-he-he.

  27. mascayo says:

    sahabatku? .. dimana ya sahabatku?
    betapa senangnya punya sahabat
    habis dari surabaya apa terus berjemur di bali?

    mascayo, terakhir menulis Apakah perempuan harus bisa masak?

    DM: Berjemur? Whaaa… nggak ah. Takut item. Hi-hi.

  28. perempuan says:

    kereta eksekutip, surabaya, ransel, sendiri,,, kata2nya aq banget :D
    tp sayang aq ga ikut2 merokok, tkut kena peraturan MUI huehehehe…

    DM: Tapi sayang nggak ikut-ikut merokok? Itu mah bukan sayang, justru bagus.
    Kebiasaan jelek itu.

  29. @bang Goen…
    Kepompong???

    Enggak banget!!! kekeekekek

    @DM
    Numpang…

    DM: Numpang atau nampang? :p

  30. goenoeng says:

    @Yessy
    lha iya… sebenarnya aku nyanyi itu sambil bingung mikir, Yess.
    maksut’e lagu itu apa ta ya ?
    apalagi aku nyanyinya versi campursari lho. hihihi…

    @DM
    numpang juga ni, boss… :D

    DM: Numpang? Pantesan tadi mengacung-acungkan jempol gitu di sisi jalan. Liften ya? Mau kemana, Mas? He-he.

  31. Endah says:

    Congratulations! You have received an award from Endah! Get your award at http://roromendut.wordpress.com/2009/02/21/a-butterfly-award/

    Endah, terakhir menulis A Butterfly Award

    DM: Walaaahhh…

  32. marsh says:

    …Gimana kalo gini, akomodasi si Dan tetap kamu tanggung. Nah, sambil nunggu kamu kerja, biarkan dia mbaca buku di bawah pohon, di pinggir pantai. Ntar kamu boleh nyusul…

    weh, enak banget! jadi kontribusi si dan apa dong? ya udah, bilang sama si dan mendingan nggak usah datang aja deh!

    marsh, terakhir menulis Nusa 3 In 1

    DM: Kontribusi si Dan? Lho, gimana sih? Ya kan kamu akan merasa tenang kalau si Dan ada di sana?
    Ya apa nggak…? Hi-hi-hi…

  33. wah, ternyata pengembaraan masih terus berlanjut toh, mas daniel. di surabaya ketemu sama sasongko dan ayu. seiring bertambahnya usia, mereka pasti juga akan memiliki dunianya sendiri. sungguh beruntung, mas daniel punya sahabat masa sekolah yang punya daya ingatan tajam. berpisah belasan tahun, tapi sikap akrab itu tak pernah luntur.

    DM: Betul, Pak Sawali, Sahabat adalah masa lalu yang tak pernah luntur hingga sekarang. Tentu Pak Sawali memiliki sahabat semacam itu…

  34. catra says:

    lanjutkan terus pengembaraan mu mas…. sampai ketemu ujung yang kau impi-impikan itu. seberkas cahaya terang.

    catra, terakhir menulis Berantem yuk!!

    DM: Tsah! Bahasanya mantap bener, Cat!

  35. pakiki says:

    wah, ke Surabaya pas aku di Sulawesi…ntar ke Sulawesi pas aku di Surabaya lagi…

    see ya around…

    DM: Kayaknya sih gitu, Rif. He-he-he.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>