Sahabat
Published February 19, 2009
(The Waiting Is Almost Over: 18)
Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku (Sutardji Calzoum Bachri)
Kereta api ekspres malam Turangga mulai membelah malam. Menyusuri bentangan rel yang dingin kesepian. Aku duduk di samping seorang lelaki tua yang kerjanya melulu tidur dan tidur belaka. Kucoba pergi tidur, tapi sulit sekali. Aku membolak-balik sepucuk buku Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, malah tak bisa memejamkan mata sama sekali.
Beruntung aku duduk di gang, tidak di jendela. Karena dengan begitu aku bisa keluar masuk bordes, dan merokok sendirian di sana. Aku memang tidak bisa tidak merokok dalam waktu lama. Merokok sendirian di bordes memang mengasyikan. Asapnya tidak mengganggu orang, suasananya tenang, sembari meliriki mbak-mbak pramugari yang melenggak-lenggok manis serta kemayu.
Dulu sering sekali aku merokok di bordes saat dalam perjalanan menyusuri Pulau Jawa. Tapi bukan dengan kereta eksekutif seperti ini, melainkan bisnis. Kenapa bisnis? Karena di bordes aku bisa merokok dengan pintu gerbong terbuka. Jadi angin malam dapat dengan leluasa menampar-nampar wajahku.
Ketika tiba di stasiun Surabaya Gubeng pada pagi harinya, langit tampak tersenyum. Namun udara panas kota Surabaya langsung menyengat begitu turun dari kereta. Hup! aku meloncat. Kugendong ransel dan meniti koridor stasiun. Surabaya, aku datang!
Tapi, brengsek juga kawan-kawanku di Surabaya ini. Sudah kukatakan aku duduk di gerbong 2, namun tak ada yang nongol barang satu pun. Sialan! Lebih sial lagi, gerbong 2 nyaris mendekati lokomotif, otomatis letak berhentinya jauh di ujung stasiun. Weh, kok aku jadi banyak mengeluh ya?
Aku kontak kawan-kawanku. Seorang muncul. Sasongko namanya. Ia menyambutku dengan cengar-cengir. Sasongko adalah kawan SMA. Pernah sekelas di kelas satu. Usia persahabatanku dengannya mendekati tempo 18 tahun. Sebuah kuantitas sekaligus kualitas yang kubanggakan keberadaannya.
Mungkin aku tak punya banyak sahabat. Tapi kalau punya, aku memeliharanya dengan matian-matian. Maka memang tak banyak yang seperti itu. Sasongko sudah beranak dua. Bayangkan, Puput, anak perempuan sulungnya, sudah duduk di kelas 5 SD. Sableng! Sementara aku, menikah saja belum. Haha! Beruntungnya kau Dan, bisikku dalam hati (sembari ngakak tentu saja!).
Kami berjabatan tangan. Lantas berpelukan. Berdua kami berjalan menyusuri koridor stasiun. Tiba-tiba dari kejauhan tampak seorang perempuan berlari-lari dengan dandanan tomboi yang khas. Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar. Dengan gelang, kalung, dan cincin terselip di mana-mana. Ya, sahabatku satu lagi, yang kubanggakan pula keberadaannya: Ayu. Di SMA Ayu adalah adik kelasku. Tentu usia pertemanan kami tak jauh beda dengan Sasongko, sekitar 17 tahunan lah.
Ayu belum menikah. Ia tinggal sendiri di Surabaya. Orangtuanya tinggal di Jember. Tapi setelah ibunya meninggal dan dilarung di laut selatan, bapaknya pindah ke Tabanan Bali. Setelah lulus kuliah, ia hanya menulis, melukis, mengajar vokal, serta menyanyi di beberapa hotel, café serta restoran di Surabaya untuk bertahan hidup.
“Pura-pura nggak liat, Sas. Jalan aja terus!” bisikku pada Sasongko agar melewati Ayu.
Tapi Ayu menghadang kami. Ia sadar kami kerjai. Aku pun mengumpat-umpat atas keterlambatannya. Tapi dengan manja ia menjabat tanganku. Menyentuhkan kedua pipinya di pipiku. Lengkap dengan cengirannya yang menjengkelkan.
“Sorry telat. Tadi masih bantu teman-teman mendekor ruangan Toga Mas.” alasan Ayu.
Hmm… senang juga mendengarnya. Ia mau bersibuk-sibuk menyiapkan launching bukunya di Surabaya, juga Denpasar, Malang serta Jember nanti. Kami pun berjalan menuju parkir kendaraan. Kutaruh ranselku di mobil Sasongko.
“Kita ngopi dulu, ya…” ajak Ayu. Jadinya kami nongkrong di pojokan warung Dunkin’ Donuts Stasiun Gubeng. Melepas lelah sejenak. Sasongko dan Ayu mencomot dua donat dalam ukuran besar. Sementara aku hanya menyeruput kopi, karena tak begitu lapar.
Aku sudah batang pertama. Ayu sudah menyulut sebatang Dji Sam Soe. Sasongko tidak merokok. Kita berbicang-bicang.
“Kamu nanti kupesankan kamar di Wisma Pemuda, Ni, dekat Dewan Kesenian Surabaya.” terang Ayu. “Pak Hade, pembicara dari Solo, juga di sana.” lanjutnya (Ayu memang selalu memanggilku dengan sebutan ‘ni’, kependekan dari ‘hani’, yang asal katanya: honey).
Sasongko melirikku. Ia sudah wanti-wanti: istrinya telah menyiapkan kamar dan masakan bagi kedatanganku.
“Di wisma aja!” serobot Ayu.
“Biar Dan di rumahku, Yu…” Sasongko bertahan.
“Nggak bisa!! Dia ini jadi pembicara launching novelku nanti malam! Aku sengaja pesankan kamar untuk dia di Wisma Pemuda!”
“Apa kata istriku nanti, Yu… Dia udah nyiapin…” Sasongko masih bertahan.
Hahaha! Aku biarkan kedua sahabatku bersitegang memperebutkan diriku. Senang sekali mendengarnya. Ada secuil rasa haru di sana. Kalau tak cepat-cepat menguasai perasaan, barangkali ada sebutir air yang tanpa permisi terjun dari mataku. Mereka sahabat-sabahat sejati, bisikku dalam hati. Ternyata keberadaanku memiliki tempat tersendiri bagi mereka, -sesuatu yang jarang kudapatkan pada diri orang lain. Aku sungguh bangga punya mereka.
“Lho, bukanya aku tidur di kamar kosmu, Yu?” godaku tiba-tiba.
“Ah iya… Di sana juga boleh!” akur Ayu.
“Ya sama aja!” cegah Sasongko.
Aku masih saja ngakak. “Ya udah gini aja,” potongku. “Sekarang kita ke Toga Mas dulu. Ngecek persiapan. Pokoknya hari ini fokus ke acara nanti malam. Soal tidurku sama siapa, eh, soal tidurku di mana, gampanglah…” terangku nyengir.
Sasongko dan Ayu saling pandang. Aku nyengir saja. Akhirnya disepakati: kita bertemu di toko buku Toga Mas, tempat acara nanti malam diselenggarakan. Aku dan Sas pakai mobil, sementara Ayu memang bawa motor (vespanya yang bernama ‘scoopy’ sedang masuk bengkel).
Di Toga Mas persiapan tempat sudah nyaris kelar. Bertemu lagi dengan kawan-kawan lain. Yang pasti gondrong-gondrong serta dekil-dekil. Hehe. Ada kawan-kawan dari DKS (Dewan Kesenian Surabaya), Teater Api, dan kawan-kawan seniman lainnya. Mereka sedang manata lukisan-lukisan Ayu yang hendak dipamerkan.
Ngopi lagi, menyulut rokok lagi. Ayu sendiri lari ke sana ke mari: mengecek persiapan, telpon sana-sini, dan memboyong ratusan novelnya dengan troli, ditemani petugas toko. Tak lupa di jarinya terselip sebatang Dji Sam Soe (cewek satu ini memang sableng merokoknya).
Menjelang siang hari, tampaknya ruangan nyaris kelar. Panggung dan ruangan sudah di-setting. Lukisan Ayu bertebaran di mana-mana. Ya, malam nanti Ayu memang bakal menggelar peluncuran novel serta pameran lukisannya yang perdana. Dan aku didapuknya sebagai salah seorang pembicara.
Di meja kudapati wawancara Ayu yang dimuat Jawa Pos, harian terbesar di Indonesia Timur. Dalam urusan pertemanan, Ayu memang punya jaringan yang cukup kuat di Surabaya. Dari kalangan seniman, kantung kebudayaan, hingga pers. Tak aneh bila ia mau melakukan semua hal yang berhubungan dengan acara malam ini.
Ketika aku sedang membolak-balik koran, dari kejauhan Ayu nyeletuk, “Usai acara, Kompas sama Matra mau wawancara aku juga, Ni!” Weh, dahsyat juga sahabatku satu ini. Betapa bangganya aku memiliki sahabat seperti dia.
Menjelang Jum’atan, aku duduk bertiga lagi dengan Sas dan Ayu.
“Gini, Yu,” selaku tiba-tiba. “Gimana kalau siang ini aku ke rumah Sas dulu. Dia pagi tadi udah nggak ngantor nih. Katanya sih aku mau diajak Jum’atan dulu. Padahal aku kan musafir. Hihihi.” wajah Ayu sudah menunjukkan mimik memelas. “Dengar dulu, Yu…” tukasku menenangkan dirinya. “Siang ini aku ke rumahnya, makan siang hidangan istrinya, nah nanti sore aku ke sini lagi. Gimana? Lagi pula kamu memang harus pulang ke kosan juga kan? Sibuk sih sibuk, tapi udah berapa hari kamu nggak mandi, heh? Bau tau!!” Ayu hanya nyengir. “Gimana?”
“Gitu ya? Mmmhh… Tapi jangan malam-malam ke sininya ya, Ni. Aku gugup nih n’tar malem.” ujarnya kembali memelas.
“Gugup?! Hahaha!!” aku ngakak. “Ini kan bukan kali pertama kamu meluncurkan buku, Dodol?” aku teringat saat ia roadshow dari kota ke kota ketika meluncurkan kumpulan cerpen pertamanya. “Semoga nanti malam kamu dibantai orang-orang yang datang!” seruku galak sambil berdiri menyeret ransel.
Akhirnya aku pun pergi bersama Sasongko. Adzan Jum’at sudah berteriak-teriak. Bahkan nyaris usai. Tiba-tiba aku menyela:
“Kamu gimana sih, Sas?! Lihat tuh, orang-orang pada Jum’atan, kamu malah enak-enakan di jalan. Cari mesjid kek.” godaku nyengir.
“Jancuk! Gara-gara kamu, jadi telat Jum’atan nih…”
“Hahaha! Aku kan musafir. Kalo’ kamu kan memang warga Surabaya. Jadi nggak ada alasan bagimu untuk nggak Jum’atan.”
“Enake… Musafir dijadikan alasan!” Mobil pun terus melaju. Melawati jalan-jalan Surabaya yang sumpek serta menjengkelkan.
Tapi tiba-tiba aku teringat seseorang. Dan aku menundukan kepala demi mengenangnya. Seseorang yang pernah tinggal di sini dan begitu bersemayam di hati. Seseorang itu bernama: Raden Mas Minke, tokoh fiktif dalam Tetralogi Buru.
“Aku pingin jalan-jalan ke Wonokromo, Sas! Sudah itu ke Kranggan, Tulangan, terus ke…”
Sasongko sudah mengumpat-umpat. Aku hanya ngakak. Dan kami pun sepakat tak Jum’atan. Dasar Sableng!
19 Februari 2009 | 04.24 wib
