Persinggahan dan Melacur

(The Waiting Is Almost Over: 19)

Tergantung dari kerja yang keras. Tanah yang tandus, udara yang ganas, dan bibit yang baik selalu berserah pada manusia yang berani mengubah. Dan tanpa kerja keras, jangan harap panen yang bagus (Sobron Aidit, Panen yang Bagus)

Toko Buku Toga Mas mulai tampak ramai. Musik berdentang-dentang. Ayu terlihat sibuk. Kubiarkan dia. Aku bergabung dengan kawan-kawannya. Lagi-lagi bertemu teman-teman lama, seniman-seniman Surabaya. Kemudian Ayu mendatangiku. Menyuruh Sasongko duduk. Sementara ia sendiri sibuk memperkenalkan setiap tamu yang datang kepadaku.

Banyak sekali yang dapat kukenal. Aku menarik kesimpulan: jaringan pertemanan Ayu luar biasa luasnya. Terutama kalangan seniman Surabaya. Aku terlibat diskusi dengan beberapa orang. Sangat mengasyikan! Ayu pernah bilang: tinggal di Surabaya memang bikin gerah. Selain secara geografis berada di pesisir, orang-orangnya memiliki karakter keras. Namun, katanya, jalinan pertemanan di sini sangat kuat. Malam ini kuakui: sangat!

Di sana aku seolah-olah dianggap kawan lama oleh mereka. Padahal tak sedikit yang baru kukenal. Mereka menganggapku bagian dari komunitas mereka. Itu yang luar biasa! Mereka begitu welcome dan sangat-sangat bersahabat. Untuk orang introvert seperti aku, hal itu sungguh menyenangkan. Karena aku tidak memulai, tapi orang lain yang mendahului membangun komunikasi.

Tiba-tiba Ayu memperkenalkanku pada seseorang berkepala plontos. Tampangnya mirip tentara Jepang zaman pendudukan. Ini dia: Pak Hade. Salah satu pembicara yang juga akan berdampingan denganku di panggung nanti. Aku bersalaman. Selain basa-basi, aku mengobrol cukup erat dengannya.

Orang-orang terus berdatangan. Ruangan makin bertambah ramai. Di meja depan tampak display buku Persinggahan, novel terbaru Ayu, ditata begitu apik. Berdampingan dengan buku kumpulan cerpennya, Melacur.

Tiba-tiba, “Kamu mbaca cerpen sebelum diskusi ya, Ni?” todong Ayu.
“Hopla!!” aku terbalalak. “Nggak mau! Mendadak sekali. Tanpa persiapan dan latihan begini? Kenapa nggak bilang dari pagi sih?” umpatku.
Please… Satu cerpen aja.”
Wong edhan!” umpatku lagi. Namun akhirnya aku mengiyakan.

Acara pun dimulai. Catur Meita Sari, sang MC sudah naik ke panggung. Catur ini dulu pernah kukenal di friendster. Ia suka Pramoedya. Dan dia add account Pramoedya diselipi sebuah pertanyaan: “Apa Mas Dan yang megang accout Pramoedya ini, Mas Dan temannya Mbak Ayu? Kalau iya, aku sudah mbaca buku kumpulan cerpen punya Mas.” tanyanya suatu hari dulu. Aku jawab: iya! Ternyata ia kawan kampus Ayu saat kuliah dulu. Gila! Begitu kecil dunia ini.

Orang demi orang berdatangan. Ruangan makin bertambah ramai. Pers tak kalah memadati suasana. Bahkan seniman Sawung Jabo pun nongol. Luar biasa sekali jaringan pertemanan Ayu, batinku.

Acara dimulai dengan pembacaan karya-karya Ayu. Lantas Ayu naik pentas bersama kelompok musiknya, menyanyikan tembang dengan judul Melacur, gubahannya sendiri. Suaranya menggelitik, musiknya akustik. Aku terpana.

Saat Ayu masih di pentas, tiba-tiba ada seseorang yang begitu kukenal wajahnya, namun aku lupa siapa dia. Ia menghampiriku. Todongnya:
“Kamu pasti lupa sama aku! Pasti lupa, kamu!” dalam Jawa yang kental memberondong.
“Hah?! Iya-iya. Dari awal kamu masuk, aku udah liat, sangat famliar! Sangat familiar! Tapi siapa ya… lupa aku!” ujarku tak kalah memberondong, juga dalam Jawa. “Ayo sebutkan… sebutkan…”
“Jadi lupa kamu ya?! Sialan!! Bener lupa kamu?!”
“Aduh, ayo sebutkan… Aku kenal sekali wajahmu!”
“Sialan!! Aku Komang! Nyoman! Kakaknya Ayu!” serunya menang.
“Hah?! Komang…!!!” teriakku lantang. Aku menjabat tangannya. Kami berpelukan.
“Komang!!” ujarku lagi. “Udah kawin kamu, ha?”
Ia tertawa. “Ini calonku.” sebutnya sembari memperkenalkan calon istrinya. Manis! batinku dalam hati. (yang manis-manis memang selalu menarik. Berbeda dengan yang cantik; cenderung membosankan).
“Udah berapa anakmu?” tanya Komang.
“Sialan! Kok yang ditanya anak!” jawabku kecut. “Tanya sudah berapa karyaku, kek, atau apa… Aku belum menikah, Mang!”
“Belum menikah?!” Komang pun ngakak. Pertanyaan semacam itu selalu memburuku setiap bertemu dengan orang dari dunia masa lalu. Sial kan? Begitu parah pola pikir serta paradigma orang terhadap: umur! Tapi ya itu kuanggap wajar saja. Aku tak terusik sama sekali.

Akhirnya, berdua kami ngobrol di pojokan. Cerita-cerita apa saja, seperti mengobati kerinduan. Tiba-tiba namaku dipanggil ke atas panggung. Pak Hade sudah beranjak dari duduknya. Ayu sudah berjalan ke pentas. Moderator Luhur Kayungga sudah nangkring di panggung. Aku menyusul kemudian (Moderator diskusi yang sedianya Agus Bing, Redaktur Majalah Gong, urung datang).

Tak lama diskusi pun berlangsung. Pertanyaan dan jawaban saling susul menyusul. Diskusi nyaris bergulir selama satu jam. Para undangan betul-betul dari berbagai kalangan. Dalam hati aku berpikir: sableng! Siapa sih aku ini? Orang tak jelas asal-usulnya kok ditangkringkan di pentas sebagai pembicara di Surabaya. Dasar Ayu sableng… sableng…

Diskusi pun usai. Kami turun pentas. Para undangan memberi ucapan pada Ayu. Juga padaku dan Pak Hade. Mereka responsif sekali. Banyak sekali yang menyalami aku. Aku sendiri heran dengan tabiat orang Surabaya ini. Akrab sekali mereka!

Ayu naik pentas lagi. Kelompok musik ikut mengiringi. Melantun ia dengan tembang terbarunya, Persinggahan. Jadi, dua bukunya: Melacur dan Persinggahan digubahnya dalam bentuk lagu (konsep ini jauh ia siapkan sebelum Dee meluncurkan Recto Verso). Bahkan, semua cerpen dalam buku Melacur, ada lukisannya. Dahsyat!

Di saat orang-orang yang merubung sudah mulai membuyar, ada seorang lelaki tua, bersama seorang perempuan setengah baya, dengan tertatih-tatih mendatangiku. Aku terbelalak dan menyambutnya. Senang sekali melihat ia lagi. Aku menjabat tangannya sebagai tanda kesantunan. Tiba-tiba beliau malah memelukku.

“Pak Ketut! Sehat Bapak?” ujarku gembira.
“Yah… beginilah.” jawabnya tersenyum. Tanganku lama tak dilepaskan. Ia genggam terus seperti tak boleh dilepas. “Terima kasih ya, Dan.” lanjutnya. Ia tampak bahagia sekali bertemu aku. Aku dapat merasakan itu.

Pak Ketut adalah ayah Ayu. Kini ia tinggal di Tabanan Bali setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Meski seorang Hindu, Pak Ketut sangat kerap mengenakan sarung dan peci. Aku suka ngakak kalau melihat itu. Kalau sudah seperti itu, Pak Ketut hanya mesem-mesem saja.

Aku dan keluarga Ayu memang sangat dekat. Aku dapat merasakan sekali arti dari hubungan persahabatan sesungguhnya. Seperti halnya aku dengan seluruh keluarga Sasongko. Almarhum kakakku sendiri kenal dengan Komang dan ibu Ayu. Adik dan mamaku sendiri begitu kenal dengan Ayu. Terlebih aku, sudah barang tentu sangat kenal dengan seluruh keluarganya.

Perempuan setengah baya di samping Pak Ketut ternyata ibu dari calon Komang. Tak berapa lama Komang pun datang bersama calon istrinya. Lupi, adik Ayu pun turut bergabung. Jadinya kami membentuk lingkaran kecil di sudut ruangan. Seperti reuni keluarga saja.
“Saya harus pulang ke Bali malam ini, Dan.” ujar pak Ketut.
“Malam ini?!” heranku terbelalak.
“Ya, ada upacara agama hari Minggu pagi.”
“Kenapa tidak besok pagi saja, Pak? Kan bisa tidur di tempat kost Ayu malam ini?”
“Yah… harus pulang cepat memang.” Pak Ketut masih memeluk pundakku. Kemudian katanya, “Saya dengar sedang melakukan perjalanan? Main ke Bali ya, Dan. Saya tunggu di sana.”
“Beres, Pak.” balasku girang.

Kerumunan keluarga pun hendak beranjak pergi. Mata mereka mencari-cari Ayu. Ayu tampak masih dikerubuti orang yang meminta tanda tangannya. Senang sekali aku melihat kejadian itu. Tapi karena Pak Ketut sudah hendak beranjak, aku menghampirinya. Menyibak kerumunan peminta tanda tangan.
“Bapak mau pulang, Yu.” bisikku.
Ayu menoleh. Berlari menghampiri Pak Ketut. Memeluk dan mencium ayahnya, mencium Komang, juga Lupi. Dan keluarga pun berpamitan. Waktu mereka saling memeluk dan mencium, aku terenyuh dibuatnya. Aku membuang muka. Dalam hati aku membatin: indah sekali hubungan keluarga mereka. Aku memandang langit-langit…

“Jangan lupa ke Bali, Dan…” seru pak Ketut.
Aku hanya menggangguk. Komang dan Lupi menyalami aku.

Orang-orang masih berubung Ayu. Wartawan masih menunggu giliran wawancara. Aku terlibat pembicaraan dengan Pak Hade, juga beberapa pekerja seni Surabaya.

Kawan-kawan Ayu tampak membereskan properti. Aku membantu sebisanya. Letih ngobrol-ngobrol, aku memilih merokok di sudut ruangan. Aku memperhatikan Ayu dari kejauhan. Sahabatku ini makin bersinar saja. Ia sibuk menandatangani buku dan melayani wartawan.

Aku kagum padanya. Seorang pekerja keras! Usianya nyaris 33 tahun. Tapi seperti tak pernah menggubris deretan angka yang terus merambat. Aku tersenyum sendiri. Aku merasa senang malam ini. Dengan acara ini. Dengan suasananya. Juga dengan diriku sendiri.

Malam makin merembet. Orang-orang sudah mulai berangsur pulang. Wajah Sasongko sudah tampak lelah dan bertanya padaku: apa sudah bisa pulang? Sahabatku Sasongko memang bukan dari kalangan pekerja seni. Aku bisa mengerti karena ia pekerja kantoran yang tak pernah bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Terlebih ada istri yang menunggu di rumah (salah sendiri: kenapa menikah! He-he).

“Sebentar, Sas…” aku meminta pengertiannya. “Aku bukan tamu di acara ini. Aku nggak bisa pulang begitu saja.” lanjutku. Ia bisa memaklumi.

Ayu masih melayani satu wartawan lagi dari Surabaya Post. Aku menggoda si wartawan. Setiap kali ia hendak menanyakan sesuatu pada Ayu, aku mengajak Ayu bicara.

“Aku cabut ya, Yu.” selaku tiba-tiba. Ayu sontak menoleh.
“Jangan dulu, Ni…” ujarnya memelas. Si wartawan menunda pertanyaannya.
“Besok kita ketemu lagi kan…”
“Ni, please… Kamu ikut aku malam ini.”
Sasongko tersenyum kecut mendengar itu.
Aku pun terdiam sambil mengulum senyum. Saat si wartawan mau bertanya lagi pada Ayu, lagi-lagi aku mengajak Ayu bicara, “Sampai besok, Yu…” ujarku seolah beranjak pergi.
Ayu pun menarik tanganku. Menahanku untuk tidak pergi. Si wartawan tampak jengkel. Hehe. Aku memang ingin menggoda si mbak wartawan yang manis.
“Tinggal beberapa pertanyaan lagi kok, Mas.” ujar si mbak wartawan.
“He-he. Iya-ya, Mbak… Silahkan…” ujarku cengar-cengir.

Akhirnya Ayu difoto si wartawan dengan memegang dua buah bukunya. Aku jadi pengatur gaya dadakan demi melihat gaya foto Ayu yang norak. Si mbak wartawan pun pamit. Kami beres-beres.

“Ni, kamu ikut aku ke DKS ya…” rajuknya.
Aku hanya tersenyum, “Sas gimana?”
Ayu menoleh Sasongko, “Sas, biar Dan ikut aku, ya…”
Sasongko tersenyum tak bisa bicara.
“Kawan-kawan lain juga pada nongkrong di sana…” ajaknya memelas.

Sebetulnya kalau kukatakan aku ikut dengan Ayu, Sas pun tak bisa apa-apa. Dia pasti akur saja. Tapi, aku pikir tak etis juga kalau Sasongko harus pulang sendirian. Sementara sesiang tadi aku di rumahnya. Lagipula, barang-barangku ada di sana. Seolah aku hanya numpang titip barang dan minta diantar belaka.

“Ya, Ni, ya…” rajuk Ayu lagi.
Akhirnya kuputuskan, “Malam ini aku pulang ke rumah Sas deh.” ujarku pasti. “Besok pagi kita ketemu lagi. Langsung di DKS aja. Gimana?” Ayu masih memelas, tapi masih mencoba menawar-nawar keputusanku.

Aku, Ayu, Sas, Catur, Putu dan beberapa kawan lain beranjak ke lift, menggeret troli berisi buku. Karena lift tampak penuh, aku dan Sas masih tertinggal di luar.
“Kalian turun saja duluan. Nanti kami nyusul.” tukasku.
“Tapi?!” Ayu tampak curiga.
“Duluan deh…”

Pintu lift pun mulai bergerak merapat. Ini kesempatan kabur, ujarku dalam hati. “Sampai ketemu besok ya, Yu!!” teriakku tertawa saat pintu lift makin bersatu.
Ayu hanya bisa terbelalak dan teriak, “Lho?! Ni………!!!” dan pintu lift pun betul-betul tertutup.

Aku pulang bersama Sasongko. “Oke, Sas. Malam ini kamu boleh tanpa AC!” ujarku ngakak.

Di perjalanan pulang, SMS demi SMS mulai berdatangan. Menanyakan sedang berada di mana aku. Kenapa sampai Surabaya tak memberi kabar. Padahal kalau bilang kan bisa dijemput. Aku hanya tersenyum geli membacai SMS-SMS itu.

“Kita makan, Dan?” tanya Sasongko.
“Yup!”
“Makan apa?”
“Apa pun yang tak berdaging.”
“Nasi pecel pincuk, mau?”
“Wah… asyik itu, Sas. Mau! Mau!”
“Kita ke alun-alun Sidoarjo. Tempatnya lesehan di trotoar alun-alun. Pokoknya kamu pasti suka dengan suasana kayak gitu.”

Dan benar saja. Suasana alun-alun Sidoarjo memang sungguh mengasyikan. Orang merubung, makan, ngobrol, ngopi, kencan dan jualan di sana. Tampak mengasyikan sekali. Begitu sederhana. Begitu merakyat. Begitu guyub. Aku suka sekali suasana seperti itu. Tak salah Sasongko mengajakku makan di sini.

Dan aku sudah melahap pincuk kedua. Dasar!

21 Februari 2009 | 20.03 wib

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

31 Responses to Persinggahan dan Melacur

  1. prameswari says:

    jalinan pertemanannya sangat kuat ya….ehm

    DM: Lho, kok pake ehm segala?

  2. prameswari says:

    Bahkan saat kami (kami??) sudah berpencar di luar kota pun banyak hal yang bisa menautkan kami kembali.
    Pecel pincuk? salah satunya
    gak ada pecel pincuk yang serasa deh kalo dah diluar kota.
    Dengan karakter kami yang kuat (bukan keras kalee) banyak manfaat yang didapatkan dari pertemanan lebih dari sekedar pertemuan biasa. Apapun yang bisa kami berikan, kami beri untuk teman kami
    Dan pertemanan kami terus berlanjut bagai tak ada jarak dan waktu sebagai penghalang…..
    ngangenin….katanya

    prameswari, terakhir menulis Tidak Biasa

    DM: Ini maksudnya komen untuk mewakili warga negara Surabaya?
    Lho, warga negara Surabaya gitu? Bukannya aslinya Jember? He-he.

  3. prameswari says:

    Siapa? introvert? siapa ya…..(celingak celinguk) ooo….Dan…..
    iya iya….

    prameswari, terakhir menulis Tidak Biasa

    DM: Iya, Dan. Ini kan cerita tentang si Dan.

  4. mascayo says:

    wah kelihatannya bener jadi ke bali nih … kalau jadi jangan lupa pake photonya ya :)
    btw, ayu itu seberapa jauh ada dihatimu Dan ?

    mascayo, terakhir menulis Alhamdulillah sudah seminggu saya tidak merokok

    DM: Pakai foto? Foto bule lagi berjemur di pantai maksudnya? Walaaahhh…
    Ayu seberapa jauh di hati si Dan? Waduh, seberapa dekat kali… Masa’ jauh.

  5. radesya says:

    membaca kisah keluarga yang bahagia itu menyenangkan ya.., ada papa, mama, kakak, adik, hehehe, jadi ngiri..

    Btw yang aku ingat dari Surabaya adalah Surabaya bukan kota kenangan lagi tapi dah jadi kota ‘genangan’, kayak Jakarta ja..

    Aku pingin dunk nasi pecelnya, jadi laper deh..
    Owh iya, sebenernya ku pingin sekali makan rujak cingur ma kupang, rasanya kayak gimana ya..

    *membayangkan*

    DM: Kok kota genangan? Genangan apa, Ra?
    Rasanya rujak cingur? Hiiiiiiiii………

  6. AL says:

    Gusti Ayu Rella Mart Diana Dewi?

    AL, terakhir menulis Dan, Begitulah Anak

    DM: Ssttt…

  7. edratna says:

    Jadi…Dan udah sampai Surabaya..
    Kok aku nggak tahu ya ada pecel pincuk di alun-alun Sidoarjo……padahal dulu sempat tinggal dekat alun-alun, persis depan BRI Sidoarjo.

    Saya membayangkan….buku dan bisnis, tak bisa terelakkan. Zaman dulu, pengarang, yang umumnya tergabung dalam kelompok Balai Pustaka, tak pernah mengiklankan bukunya seperti sekarang.
    Dunia sudah berubah, penulis pun harus punya nilai lebih…seperti Ayu yang bisa menggubah lagu dan menyanyikannya. Jika sekedar menulis, mungkinkah bukunya laku?
    Atau seperti pengarang zaman dulu, yang pake nama samaran, karena sebetulnya dia adalah seorang perempuan bergelar Raden Ayu…dan penulis masih dianggap bukan kelas atas untuk kalangan keluarga bangsawan Jawa?

    Marketing, tak bisa dipisahkan, bahkan apapun profesi kita. Karena tanpa marketing yourself, maka kita bukan apa-apa. Tulisan HK sangat menarik juga untuk diikuti (http://edratna.wordpress.com/2007/06/13/
    sembilan-prinsip-memasarkan-diri-anda/)

    Sebentar lagi nyampe Bali?

    edratna, terakhir menulis Secangkir cappuccino

    DM: Wah, mungkin dulu orang belum keidean untuk jualan pecel pincuk lesehan di alun-alun, Bu. He-he.
    .
    Saat ini penulis rasanya tidak hanya menunggu bola dari penerbit saja, Bu. Ia pun bisa menjemput bola terhadap pembaca. Kalau kesemuanya sinergi, tentu bagus.
    .
    Tulisan HK menarik untuk disimak, Bu. Thanx atas tautannya.
    .
    Bali? Aih…

  8. marshmallow says:

    judulnya aku nggak ngerti, DM.
    kehabisan uang di tengah perjalanan terus melacur gitu?
    duh, amit-amit. *sambil ngusap-usap perut*

    hmm… sahabat itu lebih lekat daripada pakaian ya, DM?
    eh, itu TTM ya? huehehe… jadi bingung.
    cariin dong perumpamaan yang bagus mengenai sahabat.

    DM: Duh, kamu lagi kumat deh ngomen asal.
    Perumpamaan yang lebih bagus? Mmhhh… Ah ya, aku nemu;
    Bagaikan Hemma dan kelinci. Ha-ha!

  9. marshmallow says:

    Dan aku sudah melahap pincuk kedua

    bukannya si dan memang gembul, goniel?

    marshmallow, terakhir menulis Nusa 3 In 1

    DM: Iya, persis kamu kalo lagi kalap!

  10. AL says:

    Sahabat adalah satu jiwa dalam dua tubuh.
    Siapa ya yang mengatakan itu? Lupa..

    DM: Coba diingat-ingat dulu…

  11. tanti says:

    Bersyukurlah si Dan,
    punya sahabat dan keluarga yang erat,
    punya teman-teman dan komunitas yang akrab,
    betapa berartinya hidup kalau bisa berbagi suka dan duka dengan sesama
    :)

    tanti, terakhir menulis Tidurlah, Tidur ….

    DM: Ya, betapa berartinya kalau seperti itu…

  12. tanti says:

    “Hehe. Aku memang ingin menggoda si mbak wartawan yang manis.
    “Tinggal beberapa pertanyaan lagi kok, Mas.” ujar si mbak wartawan.”

    eh, kalau perempuan bukannya wartawati?
    ;)

    tanti, terakhir menulis Tidurlah, Tidur ….

    DM: Ah, ya sama saja…

  13. goenoeng says:

    tulisan2mu belakangan ini, membuatku merenung Daniel. tentang sahabat, sesuatu yg langka di kehidupanku. entahlah… mungkin ada yg salah dengan aku, haha…

    si Dan, pemakan sayur only ? eh, apa istilah asingnya….ck, lali.
    baru tahu aku, mengenai hal itu.

    aku jadi mikir, kalo si Dan itu introvert, lha terus aku ini apa ya ? soalnya membaca tulisan ini, dan dengan pengakuan Dan sebagai seorang introvert. whalaaah…

    eh Dan *bukan edan*, pecel pincuk di alun2 sidoarjo, memangnya buka sampai jam berapa ta ? 24 jam tah ?

    oiya…menjawab 2 pertanyaanmu, tentang junjung2.
    aku juga kemarin junjung2 properti :D
    asem tenan kok, junjung2 yg ini bikin aku capek lahir batin, dab.

    goenoeng, terakhir menulis rindu dendam

    DM: Membuatmu merenung? Waduh… padahal aku merasa 2 tulisanku terakhir ini sangat-sangat kering. Seperti tak menyodorkan sesuatu untuk dipetik. Tapi ya syukurlah kalau memang masih ada manfaatnya.
    .
    Pemakan sayur? Mungkin dia semacam Popeye, Goen.
    .
    Ya nggak sampai 24 jam, Goen. Tapi yang jelas lewat tengah malam.
    .
    Junjung-junjung yang bikin capek lahir batin? Waduh… kok batin ikut capek tho? Jadi penasaran dengan kerjamu. He-he.

  14. marshmallow says:

    @goenoeng:
    pemakan sayur itu istilah asingnya herbivora atau vegetarian atau…. kambing?

    kayaknya yang ketiga deh.

    marshmallow, terakhir menulis Nusa 3 In 1

    DM: Dodol! Dasar pemakan wortel!

  15. prameswari says:

    Baru inget ada yang gak ngaku makannya banyak, tapi ternyata…..hahaha
    tiga piring nasi habis (kalo gak dilirik mungkin ada yang pesen nasi lagi….. )
    alasannya dirapell…..

    Mas Sasongko tuh pasti ngeliriknya di pincuk kedua. berenti deh………

    prameswari, terakhir menulis Tidak Biasa

    DM: Du-du-du-du-du…

  16. goenoeng says:

    @marshmallow
    nah, istilah ketiga itu yg aku lupa.
    kalo yg pertama dan kedua, aku ingat.

    DM: Wealah… kalian bersekongkol rupanya! Hhh.

  17. mantan kyai says:

    saya kok penasaran sekarang sampean ada dimana ya :) )

    mantan kyai, terakhir menulis Pagi: Car Free Day. Siang: Narkotika

    DM: Nanti kukasih tau di e-mail, Cak… Kalem…

  18. prameswari says:

    @ mantan kyai : biasanya pak kalo ditanyain langsung, jawabnya katanya ada di hati….

    prameswari, terakhir menulis Tidak Biasa

    DM: Ouuww…

  19. DV says:

    Di Surabaya?
    Sidoarjo?
    Ketemu Prameswari, Lala atau Ontosoroh?
    Trunodongso saja!

    DV, terakhir menulis Weker Alarm

    DM: Trunodongso saja… Makan di tikar bersama keluarga Pak Truno di perkebunan tebu.

  20. imoe says:

    setiap ketemu teman lama, pertanyaan pertama yangs elalu ditanyakan “sudah kawin ? atau sudah punya anak berapa” nah…APAKAH DAN AKAN MENEMUKAN JODOHNYA DALAM PERJALANAN INI ? hahahahahaha

    imoe, terakhir menulis … negara kekerasan…

  21. imoe says:

    setiap ketemu teman lama, pertanyaan pertama yangs elalu ditanyakan “sudah kawin ? atau sudah punya anak berapa” nah…APAKAH DAN AKAN MENEMUKAN JODOHNYA DALAM PERJALANAN INI ? hahahahahaha. Tapi yang manis, jangan yang cantik…takut membosankan hehehehe

    imoe, terakhir menulis … negara kekerasan…

    DM: Menemukan jodohnya? Weh, perjalanan ini kan bukan untuk mencari jodoh. He-he-he.

  22. singgah dari kota ke kota, lalu terdampar di suarabaya, bertemu dengan sasongko dan ayu. duh, mas daniel, sungguh, sungguh beruntung, punya waktu dan kesempatan utk melakukan pengembaraan itu. menapaki jejak sejarah masa silam agaknya bisa menjadi momen yang tepat utk memberikan jeda kehidupan.

    DM: Barangkali bukan beruntung, Pak Sawali. Mungkin lebih tepatnya; memang diusahakan.
    Aku suka sekali istilahnya: jeda kehidupan. Tsah! Terdengar menawan.

  23. anisa says:

    mas mahendra???
    sahabat memang orang yg paling dekat dgn kita , bahkan sering kali sahabat yg tau keluh kesah kita dan tempat kita lebih bebas untuk curhat . kadang-kadang sahabat bahkan lebih dekat drpd keluarga ……
    karena anisa pikir…… keluarga itu suka membatasi karena terlalu banyak ketakutan . kalau sahabat bisa melihat diri kita dgn lebih objektiv .
    anisa punya beberapa orang sahabat dekat yg deket banget !! anisa sering curhat dan lebih percaya sama mereka menjaga rahasia – rahasia anisa …..
    mas mahendra beruntung mempuanyai sahabat2 seperti mbak ayu dan mas sasongko .
    anisa juga mau mjd sahabat mas mahendra……

    anisa bisa menjaga rahasia mas dan bisa di jadikan teman curhat …..
    mas aja yg belum memberi anisa kepercayaan , bahkan untuk mengenal mas mahendra dgn lbh baik . persahabatan itu kan musti di mulai dgn perkenalan yg baik baru muncul kepercayan masss ???
    atau mungkin krn sahabat mas mahendra udah terlalu banyak jadi mas ngak tertark untuk menambah teman lagi ?

    DM: Oke deh, Anisaaa…

  24. TENGKU PUTEH says:

    Berkeliling terus…
    Menjelajahi Indonesia..

    TENGKU PUTEH, terakhir menulis TIDAK SEDANG MENCARI CINTA

    DM: Iya, Kawan. Masih belum puas juga dia menggendong ransel.

  25. goenoeng says:

    @Mas Mahendra
    mohon dipertimbangkan usulan Anisa di atas. itu merupakan usulan yang baik lho, Mas Mahendra. menurut analisa saya *eehhm..*, Anisa adalah seseorang yang sangat bisa dipercaya untuk menjadi sahabat. bener tuh. selain nilai positif yang lain tentunya. misal, setia…

    @Anisa
    maaf lho, Nis. bukan bermaksud turut campur. cuma ingin mendukung gerakan persahabatanmu saja. peace !

    @DM
    piye, dab ? sip ta ? hihihi…

    goenoeng, terakhir menulis perempatan jalan

    DM: Oalaaahhh… Kok ya sing mboten-mboten wae tho…

  26. catra says:

    masih mengembara di pulau jawa yah mas?
    banyak banget inspirasinya akhir2 ini… hehehe

    catra, terakhir menulis Berantem yuk!!

    DM: Kali ini masih di Jawa, Cat.
    Ya, inspirasinya masih juga belum kering.

  27. yusus says:

    Sebauh penuturan pengalaman yang menarik, btw acaranya di togamas mana ya?

    yusus, terakhir menulis Fee Only Financial Planning

    DM: Terima kasih, Kawan. Togamas mana lagi…

  28. uhf annisa baru disemangati kok dah jadi sahabat , katanya mau jadi tittttttttt
    DAN eh mas DM mampir ke ponari sekalian biar sembuh tuh hahahahahhahahah
    mumpung di jatim :D

    DM: Sudah ditutuuuppp……

  29. anisa says:

    buat mas jamal :
    anisa mau banget jadi sahabat mas mahendra. emangnya kalau sahabat nantinya ngak bisa jadi hubungan yg lebih ? kalau anisa pikir justru kekasih itu musti bisa jadi sahabat juga bener ngak mas ???
    bukan berarti anisa ingin jadi kekasih mas mahendra loh ya ???
    walaupun kalau mas mahendra menginginkan anisa mungkin ngak akan keberatan….. mungkin loh yaaa ???

    mas geonoeng makasih atas supportnya ya ?
    mas goeneong selalu saja menyemangati anisa , anisa jadi merasa punya teman…..seperti mbak yesy juga selalu baik pada anisa…….
    makasih ya mas ??? anisa pikir mas goeneong boleh ko dibagi nomor telepon anisa.

    DM: Aha! Komen ini buat mereka berdua tho? Jadi aku nggak perlu mengomentari. Hi-hi-hi.

  30. goenoeng says:

    @Anisa
    wooo… tentu doooong… aku pasti selalu ngasih support buat teman2ku. apalagi buat Anisa, biar menjadi sahabat terbaiknya Mas Mahendra yang baik dan ganteng itu. so pasti ! siapa tahu nantinya… eehhm. Anisa tahu kan ? hihihi…
    Mbak Yessy juga pasti support deh ! aku yakin !
    eh, mau dibagi nomer telpon Anisa ? whaduuuh… senang sekali rasanya. aku tunggu deh. mmm, gimana caranya ya ? ck, pasti Anisa tahu deh caranya. Anisa kan banyak akal. :D

    @Mas Mahendra
    gimana Mas Mahendra ? oke kan ? ;)

    @DM
    Dab… gobyos2 rak ? wekwekwekwek….

    goenoeng, terakhir menulis perempatan jalan

    DM: Teles kabeh, Cak… Huehehe.

  31. Zulmasri says:

    ayu, perempuan keberapa mas?

    Zulmasri, terakhir menulis Setahun di WordPress

    DM: Waduh, lupa ngitung, Mas Zul. Hi-hi-hi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>