(The Waiting Is Almost Over: 19)

Tergantung dari kerja yang keras. Tanah yang tandus, udara yang ganas, dan bibit yang baik selalu berserah pada manusia yang berani mengubah. Dan tanpa kerja keras, jangan harap panen yang bagus (Sobron Aidit, Panen yang Bagus)

Toko Buku Toga Mas mulai tampak ramai. Musik berdentang-dentang. Ayu terlihat sibuk. Kubiarkan dia. Aku bergabung dengan kawan-kawannya. Lagi-lagi bertemu teman-teman lama, seniman-seniman Surabaya. Kemudian Ayu mendatangiku. Menyuruh Sasongko duduk. Sementara ia sendiri sibuk memperkenalkan setiap tamu yang datang kepadaku.

Banyak sekali yang dapat kukenal. Aku menarik kesimpulan: jaringan pertemanan Ayu luar biasa luasnya. Terutama kalangan seniman Surabaya. Aku terlibat diskusi dengan beberapa orang. Sangat mengasyikan! Ayu pernah bilang: tinggal di Surabaya memang bikin gerah. Selain secara geografis berada di pesisir, orang-orangnya memiliki karakter keras. Namun, katanya, jalinan pertemanan di sini sangat kuat. Malam ini kuakui: sangat!

Di sana aku seolah-olah dianggap kawan lama oleh mereka. Padahal tak sedikit yang baru kukenal. Mereka menganggapku bagian dari komunitas mereka. Itu yang luar biasa! Mereka begitu welcome dan sangat-sangat bersahabat. Untuk orang introvert seperti aku, hal itu sungguh menyenangkan. Karena aku tidak memulai, tapi orang lain yang mendahului membangun komunikasi.

Tiba-tiba Ayu memperkenalkanku pada seseorang berkepala plontos. Tampangnya mirip tentara Jepang zaman pendudukan. Ini dia: Pak Hade. Salah satu pembicara yang juga akan berdampingan denganku di panggung nanti. Aku bersalaman. Selain basa-basi, aku mengobrol cukup erat dengannya.

Orang-orang terus berdatangan. Ruangan makin bertambah ramai. Di meja depan tampak display buku Persinggahan, novel terbaru Ayu, ditata begitu apik. Berdampingan dengan buku kumpulan cerpennya, Melacur.

Tiba-tiba, “Kamu mbaca cerpen sebelum diskusi ya, Ni?” todong Ayu.
“Hopla!!” aku terbalalak. “Nggak mau! Mendadak sekali. Tanpa persiapan dan latihan begini? Kenapa nggak bilang dari pagi sih?” umpatku.
Please… Satu cerpen aja.”
Wong edhan!” umpatku lagi. Namun akhirnya aku mengiyakan.

Acara pun dimulai. Catur Meita Sari, sang MC sudah naik ke panggung. Catur ini dulu pernah kukenal di friendster. Ia suka Pramoedya. Dan dia add account Pramoedya diselipi sebuah pertanyaan: “Apa Mas Dan yang megang accout Pramoedya ini, Mas Dan temannya Mbak Ayu? Kalau iya, aku sudah mbaca buku kumpulan cerpen punya Mas.” tanyanya suatu hari dulu. Aku jawab: iya! Ternyata ia kawan kampus Ayu saat kuliah dulu. Gila! Begitu kecil dunia ini.

Orang demi orang berdatangan. Ruangan makin bertambah ramai. Pers tak kalah memadati suasana. Bahkan seniman Sawung Jabo pun nongol. Luar biasa sekali jaringan pertemanan Ayu, batinku.

Acara dimulai dengan pembacaan karya-karya Ayu. Lantas Ayu naik pentas bersama kelompok musiknya, menyanyikan tembang dengan judul Melacur, gubahannya sendiri. Suaranya menggelitik, musiknya akustik. Aku terpana.

Saat Ayu masih di pentas, tiba-tiba ada seseorang yang begitu kukenal wajahnya, namun aku lupa siapa dia. Ia menghampiriku. Todongnya:
“Kamu pasti lupa sama aku! Pasti lupa, kamu!” dalam Jawa yang kental memberondong.
“Hah?! Iya-iya. Dari awal kamu masuk, aku udah liat, sangat famliar! Sangat familiar! Tapi siapa ya… lupa aku!” ujarku tak kalah memberondong, juga dalam Jawa. “Ayo sebutkan… sebutkan…”
“Jadi lupa kamu ya?! Sialan!! Bener lupa kamu?!”
“Aduh, ayo sebutkan… Aku kenal sekali wajahmu!”
“Sialan!! Aku Komang! Nyoman! Kakaknya Ayu!” serunya menang.
“Hah?! Komang…!!!” teriakku lantang. Aku menjabat tangannya. Kami berpelukan.
“Komang!!” ujarku lagi. “Udah kawin kamu, ha?”
Ia tertawa. “Ini calonku.” sebutnya sembari memperkenalkan calon istrinya. Manis! batinku dalam hati. (yang manis-manis memang selalu menarik. Berbeda dengan yang cantik; cenderung membosankan).
“Udah berapa anakmu?” tanya Komang.
“Sialan! Kok yang ditanya anak!” jawabku kecut. “Tanya sudah berapa karyaku, kek, atau apa… Aku belum menikah, Mang!”
“Belum menikah?!” Komang pun ngakak. Pertanyaan semacam itu selalu memburuku setiap bertemu dengan orang dari dunia masa lalu. Sial kan? Begitu parah pola pikir serta paradigma orang terhadap: umur! Tapi ya itu kuanggap wajar saja. Aku tak terusik sama sekali.

Akhirnya, berdua kami ngobrol di pojokan. Cerita-cerita apa saja, seperti mengobati kerinduan. Tiba-tiba namaku dipanggil ke atas panggung. Pak Hade sudah beranjak dari duduknya. Ayu sudah berjalan ke pentas. Moderator Luhur Kayungga sudah nangkring di panggung. Aku menyusul kemudian (Moderator diskusi yang sedianya Agus Bing, Redaktur Majalah Gong, urung datang).

Tak lama diskusi pun berlangsung. Pertanyaan dan jawaban saling susul menyusul. Diskusi nyaris bergulir selama satu jam. Para undangan betul-betul dari berbagai kalangan. Dalam hati aku berpikir: sableng! Siapa sih aku ini? Orang tak jelas asal-usulnya kok ditangkringkan di pentas sebagai pembicara di Surabaya. Dasar Ayu sableng… sableng…

Diskusi pun usai. Kami turun pentas. Para undangan memberi ucapan pada Ayu. Juga padaku dan Pak Hade. Mereka responsif sekali. Banyak sekali yang menyalami aku. Aku sendiri heran dengan tabiat orang Surabaya ini. Akrab sekali mereka!

Ayu naik pentas lagi. Kelompok musik ikut mengiringi. Melantun ia dengan tembang terbarunya, Persinggahan. Jadi, dua bukunya: Melacur dan Persinggahan digubahnya dalam bentuk lagu (konsep ini jauh ia siapkan sebelum Dee meluncurkan Recto Verso). Bahkan, semua cerpen dalam buku Melacur, ada lukisannya. Dahsyat!

Di saat orang-orang yang merubung sudah mulai membuyar, ada seorang lelaki tua, bersama seorang perempuan setengah baya, dengan tertatih-tatih mendatangiku. Aku terbelalak dan menyambutnya. Senang sekali melihat ia lagi. Aku menjabat tangannya sebagai tanda kesantunan. Tiba-tiba beliau malah memelukku.

“Pak Ketut! Sehat Bapak?” ujarku gembira.
“Yah… beginilah.” jawabnya tersenyum. Tanganku lama tak dilepaskan. Ia genggam terus seperti tak boleh dilepas. “Terima kasih ya, Dan.” lanjutnya. Ia tampak bahagia sekali bertemu aku. Aku dapat merasakan itu.

Pak Ketut adalah ayah Ayu. Kini ia tinggal di Tabanan Bali setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Meski seorang Hindu, Pak Ketut sangat kerap mengenakan sarung dan peci. Aku suka ngakak kalau melihat itu. Kalau sudah seperti itu, Pak Ketut hanya mesem-mesem saja.

Aku dan keluarga Ayu memang sangat dekat. Aku dapat merasakan sekali arti dari hubungan persahabatan sesungguhnya. Seperti halnya aku dengan seluruh keluarga Sasongko. Almarhum kakakku sendiri kenal dengan Komang dan ibu Ayu. Adik dan mamaku sendiri begitu kenal dengan Ayu. Terlebih aku, sudah barang tentu sangat kenal dengan seluruh keluarganya.

Perempuan setengah baya di samping Pak Ketut ternyata ibu dari calon Komang. Tak berapa lama Komang pun datang bersama calon istrinya. Lupi, adik Ayu pun turut bergabung. Jadinya kami membentuk lingkaran kecil di sudut ruangan. Seperti reuni keluarga saja.
“Saya harus pulang ke Bali malam ini, Dan.” ujar pak Ketut.
“Malam ini?!” heranku terbelalak.
“Ya, ada upacara agama hari Minggu pagi.”
“Kenapa tidak besok pagi saja, Pak? Kan bisa tidur di tempat kost Ayu malam ini?”
“Yah… harus pulang cepat memang.” Pak Ketut masih memeluk pundakku. Kemudian katanya, “Saya dengar sedang melakukan perjalanan? Main ke Bali ya, Dan. Saya tunggu di sana.”
“Beres, Pak.” balasku girang.

Kerumunan keluarga pun hendak beranjak pergi. Mata mereka mencari-cari Ayu. Ayu tampak masih dikerubuti orang yang meminta tanda tangannya. Senang sekali aku melihat kejadian itu. Tapi karena Pak Ketut sudah hendak beranjak, aku menghampirinya. Menyibak kerumunan peminta tanda tangan.
“Bapak mau pulang, Yu.” bisikku.
Ayu menoleh. Berlari menghampiri Pak Ketut. Memeluk dan mencium ayahnya, mencium Komang, juga Lupi. Dan keluarga pun berpamitan. Waktu mereka saling memeluk dan mencium, aku terenyuh dibuatnya. Aku membuang muka. Dalam hati aku membatin: indah sekali hubungan keluarga mereka. Aku memandang langit-langit…

“Jangan lupa ke Bali, Dan…” seru pak Ketut.
Aku hanya menggangguk. Komang dan Lupi menyalami aku.

Orang-orang masih berubung Ayu. Wartawan masih menunggu giliran wawancara. Aku terlibat pembicaraan dengan Pak Hade, juga beberapa pekerja seni Surabaya.

Kawan-kawan Ayu tampak membereskan properti. Aku membantu sebisanya. Letih ngobrol-ngobrol, aku memilih merokok di sudut ruangan. Aku memperhatikan Ayu dari kejauhan. Sahabatku ini makin bersinar saja. Ia sibuk menandatangani buku dan melayani wartawan.

Aku kagum padanya. Seorang pekerja keras! Usianya nyaris 33 tahun. Tapi seperti tak pernah menggubris deretan angka yang terus merambat. Aku tersenyum sendiri. Aku merasa senang malam ini. Dengan acara ini. Dengan suasananya. Juga dengan diriku sendiri.

Malam makin merembet. Orang-orang sudah mulai berangsur pulang. Wajah Sasongko sudah tampak lelah dan bertanya padaku: apa sudah bisa pulang? Sahabatku Sasongko memang bukan dari kalangan pekerja seni. Aku bisa mengerti karena ia pekerja kantoran yang tak pernah bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Terlebih ada istri yang menunggu di rumah (salah sendiri: kenapa menikah! He-he).

“Sebentar, Sas…” aku meminta pengertiannya. “Aku bukan tamu di acara ini. Aku nggak bisa pulang begitu saja.” lanjutku. Ia bisa memaklumi.

Ayu masih melayani satu wartawan lagi dari Surabaya Post. Aku menggoda si wartawan. Setiap kali ia hendak menanyakan sesuatu pada Ayu, aku mengajak Ayu bicara.

“Aku cabut ya, Yu.” selaku tiba-tiba. Ayu sontak menoleh.
“Jangan dulu, Ni…” ujarnya memelas. Si wartawan menunda pertanyaannya.
“Besok kita ketemu lagi kan…”
“Ni, please… Kamu ikut aku malam ini.”
Sasongko tersenyum kecut mendengar itu.
Aku pun terdiam sambil mengulum senyum. Saat si wartawan mau bertanya lagi pada Ayu, lagi-lagi aku mengajak Ayu bicara, “Sampai besok, Yu…” ujarku seolah beranjak pergi.
Ayu pun menarik tanganku. Menahanku untuk tidak pergi. Si wartawan tampak jengkel. Hehe. Aku memang ingin menggoda si mbak wartawan yang manis.
“Tinggal beberapa pertanyaan lagi kok, Mas.” ujar si mbak wartawan.
“He-he. Iya-ya, Mbak… Silahkan…” ujarku cengar-cengir.

Akhirnya Ayu difoto si wartawan dengan memegang dua buah bukunya. Aku jadi pengatur gaya dadakan demi melihat gaya foto Ayu yang norak. Si mbak wartawan pun pamit. Kami beres-beres.

“Ni, kamu ikut aku ke DKS ya…” rajuknya.
Aku hanya tersenyum, “Sas gimana?”
Ayu menoleh Sasongko, “Sas, biar Dan ikut aku, ya…”
Sasongko tersenyum tak bisa bicara.
“Kawan-kawan lain juga pada nongkrong di sana…” ajaknya memelas.

Sebetulnya kalau kukatakan aku ikut dengan Ayu, Sas pun tak bisa apa-apa. Dia pasti akur saja. Tapi, aku pikir tak etis juga kalau Sasongko harus pulang sendirian. Sementara sesiang tadi aku di rumahnya. Lagipula, barang-barangku ada di sana. Seolah aku hanya numpang titip barang dan minta diantar belaka.

“Ya, Ni, ya…” rajuk Ayu lagi.
Akhirnya kuputuskan, “Malam ini aku pulang ke rumah Sas deh.” ujarku pasti. “Besok pagi kita ketemu lagi. Langsung di DKS aja. Gimana?” Ayu masih memelas, tapi masih mencoba menawar-nawar keputusanku.

Aku, Ayu, Sas, Catur, Putu dan beberapa kawan lain beranjak ke lift, menggeret troli berisi buku. Karena lift tampak penuh, aku dan Sas masih tertinggal di luar.
“Kalian turun saja duluan. Nanti kami nyusul.” tukasku.
“Tapi?!” Ayu tampak curiga.
“Duluan deh…”

Pintu lift pun mulai bergerak merapat. Ini kesempatan kabur, ujarku dalam hati. “Sampai ketemu besok ya, Yu!!” teriakku tertawa saat pintu lift makin bersatu.
Ayu hanya bisa terbelalak dan teriak, “Lho?! Ni………!!!” dan pintu lift pun betul-betul tertutup.

Aku pulang bersama Sasongko. “Oke, Sas. Malam ini kamu boleh tanpa AC!” ujarku ngakak.

Di perjalanan pulang, SMS demi SMS mulai berdatangan. Menanyakan sedang berada di mana aku. Kenapa sampai Surabaya tak memberi kabar. Padahal kalau bilang kan bisa dijemput. Aku hanya tersenyum geli membacai SMS-SMS itu.

“Kita makan, Dan?” tanya Sasongko.
“Yup!”
“Makan apa?”
“Apa pun yang tak berdaging.”
“Nasi pecel pincuk, mau?”
“Wah… asyik itu, Sas. Mau! Mau!”
“Kita ke alun-alun Sidoarjo. Tempatnya lesehan di trotoar alun-alun. Pokoknya kamu pasti suka dengan suasana kayak gitu.”

Dan benar saja. Suasana alun-alun Sidoarjo memang sungguh mengasyikan. Orang merubung, makan, ngobrol, ngopi, kencan dan jualan di sana. Tampak mengasyikan sekali. Begitu sederhana. Begitu merakyat. Begitu guyub. Aku suka sekali suasana seperti itu. Tak salah Sasongko mengajakku makan di sini.

Dan aku sudah melahap pincuk kedua. Dasar!

21 Februari 2009 | 20.03 wib