(The Waiting Is Almost Over: 20)

Dongeng Cinderalla, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau ciuman pada balkon. Tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri (Ayu Utami, Si Parasit Lajang)

Tengah malam sepulang dari toko buku Toga Mas Surabaya, kemudian terdampar di alun-alun Sidoarjo, aku mengetik semalaman hingga Subuh hari di rumah Sasongko. Aku berkejaran dengan deadline yang telah ditetapkan penerbit. Ada naskah yang mesti kuselesaikan. Beginilah caraku mengongkosi perjalananku: menulis.

Tulisan kukirim via e-mail. Honor dikirim via rekening bank. Sementara aku terus menggelandang dari satu kota ke kota lainnya. Kantorku adalah laptop. Bahan tulisanku adalah apapun yang kutemui di jalanan. Perpustakaanku adalah alam. Dan semangatku adalah senyum perempuan (tsah!).

Selepas Subuh, pukul setengah enam aku sudah tergolek pasrah. Mataku seperti diganduli batu sebesar gunung. Aku terlelap memeluk laptop yang masih menyala. Rasanya aku bakal tidur panjang setelah seharian kemarin tiba di Surabaya belum lagi sempat istirahat sama sekali.

Baru saja memejamkan mata sekitar setengah jam, aku merasa pintu kamarku ada yang mengetuk. Huh. Tidak bisakah aku memiliki diriku barang sejenak? Dengan sempoyongan aku berjalan ke pintu. Dengan mata masih terkantuk-kantuk kulihat Reni, istri Sasongko berdiri di depan pintu kamar menyodorkan teh manis.

Jantungku berdegup!

Aku menggosok-gosok mata. Kupastikan lagi wajahnya. Betul, dia Reni, istri sahabatku Sasongko. Tapi yang membuatku berdegup adalah pakaian yang dikenakan Reni. Ia menyodorkan teh manis hanya menggenakan lingerie dengan buah dada yang menyembul di permukaan. Duh Gusti, sarapan pagi model apa lagi ini… Tiba-tiba naluri lelakiku mengatakan agar aku berhati-hati.

“Udah bangun, Dan?” sapanya masih di depan pintu.
“He-eh.”
“Aku bikinkan teh manis.”
“Mestinya aku bisa bikin sendiri nanti. Makasih.” jawabku sambil menerima sodoran mug warna putih mengkilat.

Reni masih berdiri di depan pintu. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Duh, kenapa kami jadi mematung begini. Aku tak bisa memandang wajahnya.
“Mas Sas baru aja berangkat. Katanya mendadak ada yang mesti dia urus di kantor. Tadi dia mau bilang sama kamu, tapi khawatir membangunkan. Jadi dia pergi duluan. Katanya nanti mau nelpon.”
“Oh…” jawabku bingung.

Kami terdiam lagi. Untuk menutupi kebisuan, aku meletakkan mug berisi teh manis itu ke atas meja samping pintu. Tanpa diduga Reni malah menerobos masuk ke dalam kamar.
“Ren?” ujarku kaget.
Ia menubrukku. Memeluk dan menciumi wajahku. Aku terbelalak.
“Aku menginginkan kamu, Dan.” ujarnya dengan nafas memburu.

Aku mendorong bahunya. Ia malah balik mendorong tubuhku hingga aku terjerembab ke ranjang. Kini ia tepat berada di atasku.
“Ren!!!” teriakku.
“Jangan bilang kamu nggak mau, Dan!”
“Reni!!!” aku mendorong tubuhnya. Ia masih mengejarku.

Kutepis tangannya. Aku berhasil berdiri dan melepaskan tubuhnya. Kulihat nafasnya berkejaran dengan dada naik turun.
“Apa-apaan kamu, Ren?! Aku sahabat suamimu!!”
“Aku menginginkan kamu!”
“Gila!!”
Please, Dan…”
“Cukup, Ren!! Aku mau kamu keluar dari kamar!!”
“Ini rumahku, Dan.”
“Kalau gitu aku yang keluar dari kamar!!”
“Dan…”

Aku menggebrak pintu kamar. Di ruang tengah aku bingung mesti melakukan apa. Aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku berada pada posisi yang membingungkan. Berada di rumah sahabatku sendiri bersama istrinya. Duh, kenapa Sas tidak ngomong ke aku kalau mau pergi pagi. Aku mulai mengumpat-umpat.

Reni mengejarku ke ruang tengah.
“Jangan kamu permalukan aku dengan menolakku, Dan.”
“Gila kamu!!” mataku menghujam tajam ke matanya.
“Aku menginginkan kamu.”
“Aku sahabat Sas, Ren!! Sahabat suami kamu!!”
“Lalu, kalo kamu sahabat suamiku, kenapa memangnya?”
“Kamu pikir aku bisa mengkhianati sahabatku sendiri, ha?!”
“Toh yang kamu hadapi aku, bukan suamiku.”
“Sudah gila kamu, Ren!!” aku ngeloyor kembali ke kamar.

Rencanaku buyar sudah. Pagiku rusak dengan kejadian ini. Aku memutuskan mengemasi ransel dan segera pergi dari rumah ini. Tanpa mandi, tanpa meneguk teh, tanpa basa-basi, kuseret ransel ke luar kamar. Mengenakan sepatu gunung dan bersiap pergi. Reni menahanku di pintu ruang tamu.

“Aku bisa teriak bahwa kamu hendak memerkosa aku, Dan!”
“Teriak saja!! Biar semua tetangga dengar!! Aku lebih baik dipukuli orang ketimbang mengkhianati sahabatku sendiri!!”
“Kamu betul-betul tidak menginginkan aku, Dan?”
“Nggak!!!”
“Dan…?!!”

Kugebrak pintu ruang tamu. Dengan paksa kubuka kuncinya. Aku bergegas meninggalkan rumah itu secepatnya. Setengah berlari aku menuju jalan raya. Kustop sebuah taksi. Dengan nafas masih berkejaran aku masuk dan membaringkan tubuh di jok belakang.

“Ke mana, Mas?”
“Jalan saja, Pak.”
“Jalan ke mana?”
“Manyar, Pak.”

* * *

Aku mengetuk pintu sebuah kamar di lantai dua. Terasnya tampak rimbun dinaungi pohon mangga yang seringkali berbuah. Dulu aku sering memanjat pohon mangga itu. Atau naik ke genting menenteng gitar, bernyanyi-nyanyi di sana sambil menikmati kota Surabaya di malam hari.

Sebiji kepala muncul di balik pintu. Matanya merah sehabis bangun tidur. Ia tercekat melihat penampilanku yang kusut belum mandi.
“Dan?! Kenapa kamu?” tanya Ayu kaget.

Aku ngeloyor masuk. Melepas sepatu gunung dan menggeletakkan ransel di pojokan kamar. Tanpa banyak bicara aku langsung menelungkupkan badan di ranjangnya.

Ayu masih heran. Ia mendekatiku. “Sesuatu terjadi, Dan?”
“He-eh.” jawabku masih tertelungkup dengan mata terpejam.
“Kamu butuh istirahat?”
“Banget.”
“Mau kubikinkan teh manis?”
“Nanti aja.”
“Ya udah, kamu tidur aja dulu. Aku mau mandi terus ke Toga Mas. Mau ngecek penjualan semalam. Pintu nggak kukunci.”
Aku sudah tak mendengar kalimat terakhir Ayu. Aku terlelap.

* * *

Siang hari matahari tampak malu-malu, tapi tidak mendung. Aku terbangun dan memastikan sedang berada di mana gerangan. Rupanya di kamar Ayu. Aku ngeloyor ke kamar mandi. Sehabis segar mencuci muka, kubuka kulkas. Weh, tak ada apa-apa selain air mineral dingin, sebatang coklat dan sebiji jeruk. Pemalas betul anak ini, batinku tersenyum geli. Aku menyikat jeruk yang dingin kesepian.

Aku sedang merokok di teras ketika Ayu datang dengan dua bungkus nasi Padang yang menggugah selera makan.
“Sudah bangun, Dan? Yuk kita makan.” ajaknya dengan senyum berseri-seri.
Aku mengambil alih dua bungkus nasi Padang itu, membukanya, dan menghirup aroma nasi yang mengepul-ngepul tertaburi wangi bumbu yang khas. Hmmm…

Sehabis makan kami sama-sama merokok di teras.
“Kenapa kamu tadi pagi?” tanya Ayu.
Sebetulnya aku ragu menceritakan kejadian pagi tadi. Karena ini menyangkut istri Sasongko, sahabatku. Tapi Ayu pun sahabatku. Akhirnya aku memilih diam. Ayu mengerti perasaanku. Ia tidak mendesakku. Ia tahu, sesuatu telah terjadi pada diriku.

“Kamu sudah mengontak Sas?”
Aku menoleh kepadanya. Memincingkan mata, lantas tersenyum. “Sudah. Tadi di taksi. Dia heran, kok pagi-pagi aku sudah pergi dari rumahnya.”
“Yang penting kamu sudah mengontak Sas.”
Aku kembali menoleh ke arahnya. Tersenyum penuh arti. “Kamu selalu tau apa yang bergejolak di pikiranku.”
“Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku.” ucapnya tersenyum menyitir sajak Sutardji Calzoum Bachri.
Aku mengacak-acak rambutnya.

“Kamu memang mesti menikah, Dan.” tukasnya tiba-tiba.
“Heeeiii…”
“Biar nggak ada lagi godaan.”
“Godaan? Ha-ha-ha. Ada-ada saja.” tiba-tiba aku teringat kata-kata Mbak Kris; belum tentu kalau kau menikah lalu tidak akan ada lagi godaan. Masih mungkin saja terjadi. Dalam setting yang berbeda.

“Paling tidak hidupmu tenang.” lanjut Ayu lagi.
“Hei-hei-hei, kamu bisa ngomong kayak gitu. Bagaimana dengan kamu sendiri, eh? Umurmu sudah tiga-tiga!”
“Ini konteksnya kan kamu.”
“Kamu dululah yang nikah… Ntar aku baca sajak di hari pernikahanmu.” ujarku ngakak.

Kulihat ia menarik nafas. “Rasanya aku sudah tak memikirkan lagi soal pernikahan.”
“Aneh.”
“Sampai sekarang aku masih membayangkan diriku seperti seorang putri yang ditawan di menara. Aku mengimpikan seorang pangeran berkuda lewat dan datang menyelematkanku.”
“Ha-ha-ha-ha…”
“Ternyata selama tiga puluh tiga tahun, tak pernah ada seorang pangeran berkuda lewat.”
“Jadi siapa saja yang lewat?” aku menahan tawa.
“Tukang sayur, tukang tahu tek-tek, tukang lontong balap…”
“Dodol!” aku sudah ngakak tanpa perisai. “Sama kalo gitu.” sambungku.
“Apa?”
“Aku membayangkan diriku adalah pengeran berkuda.”
“Ha-ha-ha-ha…”
“Tapi setiap aku mendapati menara, tak kulihat ada seorang putri yang ditawan di atasnya.”
“Kenapa?”
“Karena sebelum aku datang, putri-putri itu sudah menungguku di bawah menara.”
“Huuu…”
“Tak pernah ada putri yang betul-betul kuselamatkan. Jadi aku pergi lagi.”
“Dasar! Sok laku kamu!”
“Terus begitu setiap ketemui menara.”
“Gayamu, Dan… Dan…”

Setelah kami puas merokok di batang kesekian,
“Nyeberang ke Madura yuk?” ajakku pada Ayu.
“Siang ini?”
“He-eh.”
“Ngapain?”
“Jalan-jalan aja. Pingin lihat dermaga. Lihat laut. Nggak ada acara kan?”
“Ayok.” Ayu tersenyum girang. “Mandi dulu sana!”
“Oke…”

Aku pun beringsut, membokar ransel, mengeluarkan alat mandi, dan bernyanyi-nyanyi riang. Ah, sahabat memang telaga yang tak pernah habis untuk diteguk airnya. Ia pengobat hati yang dahaga, penyejuk jiwa-jiwa yang kekeringan. Siang ini aku sudah bisa melupakan kejadian pagi tadi.

23 Februari 2009 | 18.02 wib

makanlah denganku, tidurlah di alas tidurku
kubasuh tanganmu, hingga mewangi
pakailah bajuku, pilih mana yang kau suka
sematkan cincinku, di seluruh jarimu

teman baikku berkata gunakan aku
tak perlu kurisau membayar pamrih yang tersirat

minumlah airku, habiskan
hisaplah rokokku, sedalam dalam dalamnya
makanlah denganku, tidurlah di alas tidurku
kubasuh tanganmu, hingga mewangi

(Nugie, Teman Baik)