Pangeran Berkuda dan Putri di Menara
(The Waiting Is Almost Over: 20)
Dongeng Cinderalla, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau ciuman pada balkon. Tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri (Ayu Utami, Si Parasit Lajang)
Tengah malam sepulang dari toko buku Toga Mas Surabaya, kemudian terdampar di alun-alun Sidoarjo, aku mengetik semalaman hingga Subuh hari di rumah Sasongko. Aku berkejaran dengan deadline yang telah ditetapkan penerbit. Ada naskah yang mesti kuselesaikan. Beginilah caraku mengongkosi perjalananku: menulis.
Tulisan kukirim via e-mail. Honor dikirim via rekening bank. Sementara aku terus menggelandang dari satu kota ke kota lainnya. Kantorku adalah laptop. Bahan tulisanku adalah apapun yang kutemui di jalanan. Perpustakaanku adalah alam. Dan semangatku adalah senyum perempuan (tsah!).
Selepas Subuh, pukul setengah enam aku sudah tergolek pasrah. Mataku seperti diganduli batu sebesar gunung. Aku terlelap memeluk laptop yang masih menyala. Rasanya aku bakal tidur panjang setelah seharian kemarin tiba di Surabaya belum lagi sempat istirahat sama sekali.
Baru saja memejamkan mata sekitar setengah jam, aku merasa pintu kamarku ada yang mengetuk. Huh. Tidak bisakah aku memiliki diriku barang sejenak? Dengan sempoyongan aku berjalan ke pintu. Dengan mata masih terkantuk-kantuk kulihat Reni, istri Sasongko berdiri di depan pintu kamar menyodorkan teh manis.
Jantungku berdegup!
Aku menggosok-gosok mata. Kupastikan lagi wajahnya. Betul, dia Reni, istri sahabatku Sasongko. Tapi yang membuatku berdegup adalah pakaian yang dikenakan Reni. Ia menyodorkan teh manis hanya menggenakan lingerie dengan buah dada yang menyembul di permukaan. Duh Gusti, sarapan pagi model apa lagi ini… Tiba-tiba naluri lelakiku mengatakan agar aku berhati-hati.
“Udah bangun, Dan?” sapanya masih di depan pintu.
“He-eh.”
“Aku bikinkan teh manis.”
“Mestinya aku bisa bikin sendiri nanti. Makasih.” jawabku sambil menerima sodoran mug warna putih mengkilat.
Reni masih berdiri di depan pintu. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Duh, kenapa kami jadi mematung begini. Aku tak bisa memandang wajahnya.
“Mas Sas baru aja berangkat. Katanya mendadak ada yang mesti dia urus di kantor. Tadi dia mau bilang sama kamu, tapi khawatir membangunkan. Jadi dia pergi duluan. Katanya nanti mau nelpon.”
“Oh…” jawabku bingung.
Kami terdiam lagi. Untuk menutupi kebisuan, aku meletakkan mug berisi teh manis itu ke atas meja samping pintu. Tanpa diduga Reni malah menerobos masuk ke dalam kamar.
“Ren?” ujarku kaget.
Ia menubrukku. Memeluk dan menciumi wajahku. Aku terbelalak.
“Aku menginginkan kamu, Dan.” ujarnya dengan nafas memburu.
Aku mendorong bahunya. Ia malah balik mendorong tubuhku hingga aku terjerembab ke ranjang. Kini ia tepat berada di atasku.
“Ren!!!” teriakku.
“Jangan bilang kamu nggak mau, Dan!”
“Reni!!!” aku mendorong tubuhnya. Ia masih mengejarku.
Kutepis tangannya. Aku berhasil berdiri dan melepaskan tubuhnya. Kulihat nafasnya berkejaran dengan dada naik turun.
“Apa-apaan kamu, Ren?! Aku sahabat suamimu!!”
“Aku menginginkan kamu!”
“Gila!!”
“Please, Dan…”
“Cukup, Ren!! Aku mau kamu keluar dari kamar!!”
“Ini rumahku, Dan.”
“Kalau gitu aku yang keluar dari kamar!!”
“Dan…”
Aku menggebrak pintu kamar. Di ruang tengah aku bingung mesti melakukan apa. Aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku berada pada posisi yang membingungkan. Berada di rumah sahabatku sendiri bersama istrinya. Duh, kenapa Sas tidak ngomong ke aku kalau mau pergi pagi. Aku mulai mengumpat-umpat.
Reni mengejarku ke ruang tengah.
“Jangan kamu permalukan aku dengan menolakku, Dan.”
“Gila kamu!!” mataku menghujam tajam ke matanya.
“Aku menginginkan kamu.”
“Aku sahabat Sas, Ren!! Sahabat suami kamu!!”
“Lalu, kalo kamu sahabat suamiku, kenapa memangnya?”
“Kamu pikir aku bisa mengkhianati sahabatku sendiri, ha?!”
“Toh yang kamu hadapi aku, bukan suamiku.”
“Sudah gila kamu, Ren!!” aku ngeloyor kembali ke kamar.
Rencanaku buyar sudah. Pagiku rusak dengan kejadian ini. Aku memutuskan mengemasi ransel dan segera pergi dari rumah ini. Tanpa mandi, tanpa meneguk teh, tanpa basa-basi, kuseret ransel ke luar kamar. Mengenakan sepatu gunung dan bersiap pergi. Reni menahanku di pintu ruang tamu.
“Aku bisa teriak bahwa kamu hendak memerkosa aku, Dan!”
“Teriak saja!! Biar semua tetangga dengar!! Aku lebih baik dipukuli orang ketimbang mengkhianati sahabatku sendiri!!”
“Kamu betul-betul tidak menginginkan aku, Dan?”
“Nggak!!!”
“Dan…?!!”
Kugebrak pintu ruang tamu. Dengan paksa kubuka kuncinya. Aku bergegas meninggalkan rumah itu secepatnya. Setengah berlari aku menuju jalan raya. Kustop sebuah taksi. Dengan nafas masih berkejaran aku masuk dan membaringkan tubuh di jok belakang.
“Ke mana, Mas?”
“Jalan saja, Pak.”
“Jalan ke mana?”
“Manyar, Pak.”
* * *
Aku mengetuk pintu sebuah kamar di lantai dua. Terasnya tampak rimbun dinaungi pohon mangga yang seringkali berbuah. Dulu aku sering memanjat pohon mangga itu. Atau naik ke genting menenteng gitar, bernyanyi-nyanyi di sana sambil menikmati kota Surabaya di malam hari.
Sebiji kepala muncul di balik pintu. Matanya merah sehabis bangun tidur. Ia tercekat melihat penampilanku yang kusut belum mandi.
“Dan?! Kenapa kamu?” tanya Ayu kaget.
Aku ngeloyor masuk. Melepas sepatu gunung dan menggeletakkan ransel di pojokan kamar. Tanpa banyak bicara aku langsung menelungkupkan badan di ranjangnya.
Ayu masih heran. Ia mendekatiku. “Sesuatu terjadi, Dan?”
“He-eh.” jawabku masih tertelungkup dengan mata terpejam.
“Kamu butuh istirahat?”
“Banget.”
“Mau kubikinkan teh manis?”
“Nanti aja.”
“Ya udah, kamu tidur aja dulu. Aku mau mandi terus ke Toga Mas. Mau ngecek penjualan semalam. Pintu nggak kukunci.”
Aku sudah tak mendengar kalimat terakhir Ayu. Aku terlelap.
* * *
Siang hari matahari tampak malu-malu, tapi tidak mendung. Aku terbangun dan memastikan sedang berada di mana gerangan. Rupanya di kamar Ayu. Aku ngeloyor ke kamar mandi. Sehabis segar mencuci muka, kubuka kulkas. Weh, tak ada apa-apa selain air mineral dingin, sebatang coklat dan sebiji jeruk. Pemalas betul anak ini, batinku tersenyum geli. Aku menyikat jeruk yang dingin kesepian.
Aku sedang merokok di teras ketika Ayu datang dengan dua bungkus nasi Padang yang menggugah selera makan.
“Sudah bangun, Dan? Yuk kita makan.” ajaknya dengan senyum berseri-seri.
Aku mengambil alih dua bungkus nasi Padang itu, membukanya, dan menghirup aroma nasi yang mengepul-ngepul tertaburi wangi bumbu yang khas. Hmmm…
Sehabis makan kami sama-sama merokok di teras.
“Kenapa kamu tadi pagi?” tanya Ayu.
Sebetulnya aku ragu menceritakan kejadian pagi tadi. Karena ini menyangkut istri Sasongko, sahabatku. Tapi Ayu pun sahabatku. Akhirnya aku memilih diam. Ayu mengerti perasaanku. Ia tidak mendesakku. Ia tahu, sesuatu telah terjadi pada diriku.
“Kamu sudah mengontak Sas?”
Aku menoleh kepadanya. Memincingkan mata, lantas tersenyum. “Sudah. Tadi di taksi. Dia heran, kok pagi-pagi aku sudah pergi dari rumahnya.”
“Yang penting kamu sudah mengontak Sas.”
Aku kembali menoleh ke arahnya. Tersenyum penuh arti. “Kamu selalu tau apa yang bergejolak di pikiranku.”
“Arwah kita satu, darah kita satu. Yang terluka padamu, berdarah padaku.” ucapnya tersenyum menyitir sajak Sutardji Calzoum Bachri.
Aku mengacak-acak rambutnya.
“Kamu memang mesti menikah, Dan.” tukasnya tiba-tiba.
“Heeeiii…”
“Biar nggak ada lagi godaan.”
“Godaan? Ha-ha-ha. Ada-ada saja.” tiba-tiba aku teringat kata-kata Mbak Kris; belum tentu kalau kau menikah lalu tidak akan ada lagi godaan. Masih mungkin saja terjadi. Dalam setting yang berbeda.
“Paling tidak hidupmu tenang.” lanjut Ayu lagi.
“Hei-hei-hei, kamu bisa ngomong kayak gitu. Bagaimana dengan kamu sendiri, eh? Umurmu sudah tiga-tiga!”
“Ini konteksnya kan kamu.”
“Kamu dululah yang nikah… Ntar aku baca sajak di hari pernikahanmu.” ujarku ngakak.
Kulihat ia menarik nafas. “Rasanya aku sudah tak memikirkan lagi soal pernikahan.”
“Aneh.”
“Sampai sekarang aku masih membayangkan diriku seperti seorang putri yang ditawan di menara. Aku mengimpikan seorang pangeran berkuda lewat dan datang menyelematkanku.”
“Ha-ha-ha-ha…”
“Ternyata selama tiga puluh tiga tahun, tak pernah ada seorang pangeran berkuda lewat.”
“Jadi siapa saja yang lewat?” aku menahan tawa.
“Tukang sayur, tukang tahu tek-tek, tukang lontong balap…”
“Dodol!” aku sudah ngakak tanpa perisai. “Sama kalo gitu.” sambungku.
“Apa?”
“Aku membayangkan diriku adalah pengeran berkuda.”
“Ha-ha-ha-ha…”
“Tapi setiap aku mendapati menara, tak kulihat ada seorang putri yang ditawan di atasnya.”
“Kenapa?”
“Karena sebelum aku datang, putri-putri itu sudah menungguku di bawah menara.”
“Huuu…”
“Tak pernah ada putri yang betul-betul kuselamatkan. Jadi aku pergi lagi.”
“Dasar! Sok laku kamu!”
“Terus begitu setiap ketemui menara.”
“Gayamu, Dan… Dan…”
Setelah kami puas merokok di batang kesekian,
“Nyeberang ke Madura yuk?” ajakku pada Ayu.
“Siang ini?”
“He-eh.”
“Ngapain?”
“Jalan-jalan aja. Pingin lihat dermaga. Lihat laut. Nggak ada acara kan?”
“Ayok.” Ayu tersenyum girang. “Mandi dulu sana!”
“Oke…”
Aku pun beringsut, membokar ransel, mengeluarkan alat mandi, dan bernyanyi-nyanyi riang. Ah, sahabat memang telaga yang tak pernah habis untuk diteguk airnya. Ia pengobat hati yang dahaga, penyejuk jiwa-jiwa yang kekeringan. Siang ini aku sudah bisa melupakan kejadian pagi tadi.
23 Februari 2009 | 18.02 wib
makanlah denganku, tidurlah di alas tidurku
kubasuh tanganmu, hingga mewangi
pakailah bajuku, pilih mana yang kau suka
sematkan cincinku, di seluruh jarimu
teman baikku berkata gunakan aku
tak perlu kurisau membayar pamrih yang tersirat
minumlah airku, habiskan
hisaplah rokokku, sedalam dalam dalamnya
makanlah denganku, tidurlah di alas tidurku
kubasuh tanganmu, hingga mewangi


Ouuwwww……gituh….
Eh DM….Kalo si Ren itu bukan istri sahabatnya si Dan…tapi tetep istri orang ..kira kira si Dan itu mau gak ya?
BTW…
Suka juga lagu Nugie ;P
Dulu banget (sebelum dia tenar seperti sekarang) gue suka nongkrong di radio SK Pasaraya Manggarai, cuma gara gara nungguin dia siaran boss
yessy muchtar, terakhir menulis Its Pleased Me…and Other’s
wow! fewh! keren ceritanya, goniel! seru banget!
emang si dan itu laku banget, gitu? kok kayak nabi yusuf aja?
trus ada cewek cantik dan seksi pasrah kayak gitu ditolak?
wah, either he is stupid or gay deh. kayak pas nolak si nita penyanyi malam juga.
hehe! sori, goniel. komen gak mutu.
sekarang serius. aku mencatat beberapa poin dari cerita ini:
1. cerita ini menarik, adrenalinku terpacu saat membacanya. iramanya segar dan alurnya cepat. aku pernah mendapat cerita yang senada dari seorang teman belum lama ini, ceritanya begitu hidup hingga aku merasa menyaksikannya sendiri; aku ikut kuatir saat membacanya. aku penasaran bagaimana kelanjutan hubungan pertemanan si dan dan sasongko setelah ini. tapi mungkin tidak perlu diceritakan juga.
2. aku suka ada kejelasan bagaimana si dan menyokong hidupnya yang mengembara. baru di sini diceritakan dengan jelas. tapi kalau tak silap, si dan masih punya tabungan juga kan?
3. nasi padang selalu dengan lauk daging, goniel. agak kontradiktif dengan kecenderungan si dan yang hanya makan sayur loh.
4. kalau ayu menantikan pangeran dan si dan menantikan putri yang akan diselamatkan, kenapa mereka nggak jadian aja? toh udah klop, seperti key and lock nasib keduanya. jadi ingat satu cerpen duetmu dengan rella mart yang berjudul 13, goniel. sahabat tidak bisa lebih dari sahabatkah?
marsh, terakhir menulis Nusa 3 In 1
Kesamaan si Dan dengan sang penulis adalah sama-sama keukeuh kalo sudah punya tujuan dan maksud tertentu. Gak goyah hanya karena godaan yang dia tahu pasti bahwa dia tak punya ketertarikan padanya (jadi inget cerita seseorang yang mirip). Sikap yang susah didapatkan pada orang jaman sekarang.
(Hmmm…bukan muji mas loo…..si Dan)
Kalo orang sudah bicara tentang sahabat, meski dimasa lalunya penuh kisah romansa, rasa itu tak akan berbicara lagi. Karena menjadi sahabat sejati jauh lebih indah dan punya makna…dan itu akan everlasting
Wahh…jalan-jalan mau lihat jembatan suramadu? hehehe masih kurang sekitar 30 km lagi sampai jembatan itu jadi terpanjang se Asia Tenggara… (asal jembatannya bener2 jadi jembatan loo….)
Eh mas Jalan manyar tuh banyak lo : manyar sindaru, manyar indah, manyar kertajaya, manyar mana niy…….
prameswari, terakhir menulis Tidak Biasa
Aih..aih..lama ga berkunjung ke anyaman ini, ternyata semakin liar aja ceritanya, saya suka… hihihihihi…lanjut, lanjut…!
Akhirnya masuk cerita yang lumayan serem nih.
dana, terakhir menulis Macet Menulis
Hiiih… serem ceritanya…
*lega si Dan berhasil melaluinya*
Putri di menara itu ada disuatu tempat kok, pangeran berkuda itu hanya belum menemukannya..
tunggu saja, nanti sampai juga waktunya..
Ah, saya kesini karena tertarik judulnya. Ceritanya beda dari yang dibayangkan, tapi bagus.
BtW, ada yang mengganggu memori saya ini. Maaf sebelumnya.
IMO, analogi Ayu tentang dirinya sebagai ‘putri yang ditawan di menara’ terlalu berlebihan. Saya tidak tahu apa kisah ini ada prequelnya, tapi AFAIK Ayu tidak punya apapun yang “memenjara” dia. Tinggal sendirian, bebas keluar masuk dan bisa didatangi cowok langsung di kamar. Betapa bebas…
Cewe saya dulu kusebut ‘putri yang tertawan di menara’ (‘Rapunzel’, tepatnya) dengan kondisi yang nyata. Karena tidak drestui jalan denganku, dikurung di rumah oleh ortunya, jam ngantor dihitung pergi-pulangnya, keluar malam mesti dengan teman yg dipercaya ortunya, dan tentu tak pernah bisa kukunjungi lagi. Itu baru ditawan. CMIIW.
jensen99, terakhir menulis Tukang Tambal Ban
Aku sempat terangsang membaca paparan awal cerita ini!
Entahlah, mungkin terlalu banyak menyikap bokep tentang perselingkuhan seorang istri dengan teman suaminya
Tapi nafsuku runtuh ketika menyadari bahwa ia pake lingerie dan entah kenapa asosiasi pikiranku soal lingerie selalu ke Yessy muchtar.. oh no, HITAM!
Huahuahuahu!
*kuamati yang komen di blogmu makin seru aja, kebanyakan wanita, dan kebanyakan dari mereka adalah yang pernah tercatat sebagai pengagummu.
Keluarbiasaanmu adalah membuat mereka seperti sahabat satu sama lain….hehehe*
DV, terakhir menulis Weker Alarm
wow, keren banget tulisannya. makasih sudah menuliskannya ya!
fitri mohan, terakhir menulis Fantasi Tiada Batas Buku Anak-Anak
lagi-lagi perkara godaan .. wah bukan gue banget Dan.
kalau ngga klepek .. klepek .. ya langsung pingsan hehehe
makanya dirumah selalu aku bilang sama istriku :”itu si mbak kalau tidur pintunya dikunci, biarpun nggak secantik kamu tapi aku tetap laki-laki!”
mascayo, terakhir menulis Alhamdulillah sudah seminggu saya tidak merokok
untung bukan aku. kalo aku yang ditawari daging bungkusan lingerie udah pasti aku sikat .. hehehehe
mantan kyai, terakhir menulis Pagi: Car Free Day. Siang: Narkotika
Ahahahaha..baru baca 2 paragraf awal aku dah ngakak..
gara-gara ini nih, baca kalimat yang ini : Dan semangatku adalah senyum perempuan (tsah!).
“Tsah” nya itu loh…hahaha…bikin gimana gitu…
Baru selesai baca.
Ada apa ya dengan si Dan itu, kok banyak wanita-wanita yang langsung mupeng … *nebak-nebak*
Mas, anak-anaknya Sasongko pas kejadian ada di mana?
Niel, wah bacanya sambil deg2an.
Terus aku berpikir, apa kalau di dunia nyata juga ada seperti ini ya? Atau mungkin karena pergaulanku di batas aman terus? Padahal rasanya saya sering banget bepergian dari kota ke kota lain, dan sering hanya cewek sendirian…..tapi kok rasanya kejadian aneh-aneh tak ada.
Jadi ingat cerita temanku…”Ahh itu kan cuma ada di Novel.” Hahaha
Jadi kunikmati aja ceritamu….
Untung cerita si Dan disini masih teguh…..tapi sampai kapan ya? Hemm….hemm…terserah penulis dong, jangan dianalisa!
edratna, terakhir menulis Mencoba makanan di “Omah Sendok”
akur ! aku akur sama @marsh, akhirnya aku juga mendapat penjelasan tentang ongkos perjalanannya. soalnya dari dulu aku mikir si Dan ini mungkin semacam anak konglomerat yg kurang kerjaan gitu.
tentang pemakan sayur dan nasi padang, tentunya Ayu sebagai sahabat tahu dong, bahwa si Dan nggak doyan daging mateng, hihihi…
waktu baca si Dan yang berangan jadi pangeran berkuda, aku jadi ingat jamannya si Roy. sama2 berkesan heroic, cuma beda gambar. saat itu pangeran berkuda versi Mas Gong adalah cowok badung dengan Enduronya.
eh ngomong2, aku ngakak saat baca komennya @DV tentang Yessy, hahaha…
Anisaaaaa….
goenoeng, terakhir menulis perempatan jalan
pagi, goniel!
kalau merujuk lirik lagu nugie, sepertinya sasongko sahabat yang sangat hebat karena dia tak hanya rela berbagi makanan, rokok, dan tempat tidur, tapi juga TEMAN TIDUR!
mungkin insiden pagi itu adalah kesengajaan. who knows?
@goenoeng:
si dan bukan penggemar daging matang? jadi maksudnya pemakan daging mentah gitu? hiii…. kok malah makin error? hihihi…
goniel, ke kampus dulu ya? jangan nakal di rumah! (wakakakak!)
marsh, terakhir menulis Kabut Kintamani
@DV
hahahaha…..mas DV ada-ada aja…ntar di lempar ma mbak yessy baru tau rasa!!!!
@DM
keren banget ceritanya mas….. mudaha2an di kehidupan nyata masih ada sosok seperti “si Dan” itu..yang setia pada sahabatnya…
joicehelena, terakhir menulis Konsentrasi pada Kebahagiaan
wew…. saya jadi deg-degan membacanya. gak hanya si dan aja yang tersengal-sengal nafasnya ketika lari. saya juga. bdw, tanya mbak hemma, emang si dan itu ganteng kayak nabi yusuf ya mas?
hahahaha… geli banget bacanya. bener juga ya? kok ditolak sih?
mantap….
catra, terakhir menulis Berantem yuk!!
teman baik emang selalu berbagi, tapi kalo berbagi suami atau istri???
perempuan, terakhir menulis Diatas Jok Scooter
Kalau si Sasongko hanya teman biasa atau rekan kerja…pasti jalan ceritanya beda ya Dan?
Tapi aku kagum pada Mascayo, yang benar-benar mengakui bahwa laki-laki tetap laki-laki, meskipun di sarang sendiri, ada saja godaannya. Jangan-jangan kunci kamar si mbak, diumpetin istri mascahyo…lalu mascahyo tahu simpennya dimana trus…trus…trus…
Yah manusia itu hanya terdiri dari darah dan daging, terlepas dia itu laki-laki atau perempuan.
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Hari ke 7 – Berburu Persahabatan
Putri-Putri itu sudah menunggu di bawah menara?
Argh!
C’mon!
Sayang,.. Reni nya ditolak..hahaha..
Tapi seru kang!… Indahnya persahabatanmu dengan Ayu.
Sstt.. dirimu tho.. ternyata Pahlawan Bertopeng itu??
@chandra
aku setuju ma kamu, tentang kalimat ‘Dan semangatku adalah senyum perempuan’ kalimat yang menarik ya?
Ayo! Ayo! yang merasa perempuan, tersenyumlah yang manis, biar Dan semangat..
tertarik juga ma judulnya, Pangeran berkuda dan putri di menara, tapi pas baca ternyata tidak seperti yang aku bayangkan
“mana kudamu?, aku tak lihat”
*tung! tung! dipentung*
sahabat itu dia yang selalu mengingatkan disaat kita berbuat kesalahan, kalau mengajak berbuat salah itu bukan sahabat namanya
Dan,
Putri-putri sudah menunggu di bawah menara?
Mungkin hanya memuji, atau sekedar kagum.
Kau saja yang salah arti..
Dan, nampaknya semua perempuan menggelepar di dekatmu..
Atau kau saja merasa seperti itu?
DM:
Si Dan itu terlalu perfeck gak sih?
Menyeramkan juga kalau ada orang kayak gitu, hiiiy…
AL, terakhir menulis Belajar dari Anak, Belajar Memaafkan
Huahahahaha Bu imel tau aja … psst ah!
mascayo, terakhir menulis Alhamdulillah sudah seminggu saya tidak merokok
Wah Komentarnya udah pada diborong , maklum no sekian.
gara2 mas Goenoeng kie teriak2 annisa , aku jadi berpikir apa karena annisa sudah turun dari menara yah sehingga annisa dilewatkan begitu saja hehehhehe.
Pengantar yg sangat panjang,padahal yg mau disampaikan cuma soal menara dan kuda hehehehehhe.
sama kayak mas jamal el hadi..
karena komentarnya udah diborong jadi saya komennya, “WAH….!!!”
indah rephi, terakhir menulis One Step Forward
Wowww seruuuuuuuuuuu menggelinjang hehehehehehe, lanjut mas DM……
imoe, terakhir menulis … negara kekerasan…
@Imoe:
Menggelinjang? Huahahahah…
@DM:
Dasar kau, Dab! Pintar sekali merawi tulisan yang membuat merinding.
Tulisan ini sukses membuatku membayangkan jauh dari apa yang tersurat di cerita. Sialan!
bentar22 di baca ulang lagi nech,,
Myryani, terakhir menulis Ikutan Acara Launching di Grapari Telkomsel Siantar
mas mahendra membuktikan lagi kalau mas mahendra itu baik .
setia sama sahabat dan pasti sama kekasih…..
tapi kalau reni itu bukan istri siapa-siapa yang mas mahendra kenal apakah mas mahendra tergoda ???
mudah -mudahan ngak ya maaasss…..
tapi anisa bukan tipe penggoda jadi anisa ngak tau gimana perempuan itu bisa nekat begitu ?!
mas mahendra suka perempuan yang bagaimana ???
pemberani atau pemalu ??
@DV
Bos…gue punya dua buah pilihan untuk menyikapi komen lo ini…
1. ..membalasnya.
2…membiarkannya.
Sepertinya gue akan memilih yang kedua.
You know what Don…lo tuh seperti cowok jaman SMP….yang menyukai lawan jenisnya dengan cara mencari perhatian dengan menyela dan menghina. Gak usah gitu gitu amat kali pak…gak usah.
Semakin lo berusaha nyela gue boss…ouw…semakin terlihat…kalo elo NGEFANS …sama gue…
Cukup sekian dan Terimakasih
*Kekekekekekekekekekekekekekekekekekekekek*
@DM
Numpang…bukan Nampang!
yessy muchtar, terakhir menulis The Women…
aha, sebuah romantisme pengembaraan yang bernilai positif,mas daniel.sungguh, tak banyak pengembara yang tetep bisa mengalirkan duwit ke rekening, mas. mas daniel ternyata bisa melakukannya dg baik dan on time. sungguh, sebuah pembelajaran yang sangat berharga.
@DM :
Aku kan orangnya emang jeli-jeli merpati, Mas!
Halah!
@DV :
Lo jangan kebanyakan nyela orang, Don…Ntar kutu-lalat!
Dasar kebluk!
hihihihihi
Huahuahuahuahuahua… hasyuuu kabeh..
))))
Munyukkk kabehhhh
Ngakak baca balesannya Yessy… dasar guru SMP! (lha wong dia tau perilaku anak SMP gitu)
DV, terakhir menulis Ibu
@DM :
Udah, kan dah dijelasin ma anak gaul Sydney…kikikikikiikik…
Pagii… baca tulisan ini, awalnya ingat Minke, cuma Minke gak bisa bertahan. Setelahnya, makin ke bawah, banyak kalimat yang bikin dejavu.
Btw, lucu banget tuh komentar Yessy yang terakhir.
Yoga, terakhir menulis Menebas Jarak ke Jakarta Biennale
Yap … Siang ini aku sudah bisa melupakan kejadian pagi tadi … tetapi ingat karena menuliskannya he he
Sekarang mah dah ga nunggu pangeran menunggang berkuda putih lagi Bu……tapi pangeran mengendarai Nissan XTrail…hehehe
Sama kuda takut tapi sama “Betina” dari Belamda nggak. Haduh kasar ya.
Sama kuda takut tapi sama “Betina” dari Belamda nggak. Haduh kasar ya.
Yoga, terakhir menulis Menebas Jarak ke Jakarta Biennale
Hmmm…Bunda mau komen apa ya….??? jadi berpikir dan mengingat ingat….
Dulu…Ibu dan bapak selalu berpesan kepada semua anak laki2nya…jangan sekali kali kamu tinggal di rumah adik perempuan,kakak perempuan…sahabat perempuan ketika suaminya tidak ada….
Waah…rupanya si reni…adalah hasil kekhawatiran pesan pesan orang tua kita ya…Untunglah…Dan orang baik..,dia segera pergi….
ini kayak menceritakan seseorang yah hahaha
oh wahai putri menara aku bangunkan menara banyak di bukit Gunungkelir
tunggulah sang pangeran akan datang ke gunungkelir hahaha
salam sukses selalu kang mas
genthokelir, terakhir menulis Tigapuluh tiga Tahun
Dan… sang putri sudah tidak di menara lagi, dia tlah pindah ke hotel berbintang, maka datanglah dg kijang innova, karena kuda sudah tidak sanggup lagi berlari… halah!
vizon, terakhir menulis aku percaya
“Kamu memang mesti menikah, Dan.” tukasnya tiba-tiba.
“Heeeiii…”
“Biar nggak ada lagi godaan.”
“Godaan? Ha-ha-ha. Ada-ada saja.” tiba-tiba aku teringat kata-kata Mbak Kris; belum tentu kalau kau menikah lalu tidak akan ada lagi godaan. Masih mungkin saja terjadi. Dalam setting yang berbeda.
“Paling tidak hidupmu tenang.” lanjut Ayu lagi.
****
SETUJU……..
benarkan anisa…?
buat mas zulmasri
kenapa tanya anisa ?!
tergantung mas mahendra saja , menikah itukan tidak bisa dipaksa……..ya kan mas mahendra ???
walaupun anisa yakin mas mahendra tdk perlu susah mencari calon istri kalau ingin menikah saat ini juga , banyak yang bersedia……
anisa bisa aja sebutkan contoh-contoh orangnya……
tapi ntar orang – orang pada kesal lagi sama anisa kalau ngomong jujur .
jadi anisa mendingan simpan aja didalam hati…..
Eh Toga Mas ngendi kuwi..Suroboyo ono loro loh Toga Mas e hehehhehe *gak penting…
icha, terakhir menulis Pelesir ke Papuma
bukannya memang harusnya seorang putri itu menunggu diselamatkan bukan menyambut sang pangeran???
kalo menyambut gak ada tantangannya…cewek yang begitu gak seru banget mas
*
aku aja klo ada cowok yg terlalu gampang bilang begini begitu, terlalu mengejar2 gak begitu suka…hehehehehe *emang sapa yg ngejar!!! lupa bawa kaca mas
but by the way…I Like this post…ternyata sahabat sejati itu memang ada dan kesetiaan itu diatas segalanya…
Ria, terakhir menulis Pertemuan heboh itu
Bener itu ?????? Telat baca aku….biasa.