Beker

Dalang: Ki Daniel Mahendra

Tak pernah terbersit sebelumnya dalam pikiran Sapar Sapari bahwa kini ia betul-betul jengkel pada beker. Ibarat muak, eneknya pada beker sudah sampai ke ubun-ubun. Tinur Tinuri, istrinya, sampai tak habis pikir, mengapa suaminya jadi begitu benci pada beker. Apa ada yang salah pada beker?

Saking jengkelnya, Sapar Sapari sampai mencari di berbagai ensiklopedia, buku pintar, hingga googling di internet: gerangan siapa penemu beker! Tetap tak ketemu jua.

“Harus kutemukan siapa penemu beker, Mah!” tukas Sapar Sapari pada istrinya di malam sebelum tidur.
“Buat apa sih, Pah? Kok kurang kerjaan. Memangnya kalo sudah tau siapa penemunya, mau diapakan?”
“Beker itu benda yang paling tidak menyehatkan kualitas hidup manusia, Mah. Mestinya orang itu bisa bangun dari tidur dengan sehat. Dengan tenang. Tapi sejak ada beker, hidup manusia jadi terpola, terkontrol.”
“Ya ampun, Pah… kok malah diseriusi.”
“Lho, ya harus, Mah. Bayangkan seratus sampai dua ratus tahun dari sekarang, gimana kualitas hidup manusia kalau setiap pagi, sedang enak-enaknya tidur, tiba-tiba; RRRRIIIIINGGGGGG!!!! Apa sehat itu?”
“Ah, nggak tau, Pah ah. Mamah ngantuk. Jangan lupa pasang bekernya, Pah. Nanti kesiangan lagi.”
Dalam hati Sapar Sapari menggerutu: Beker lagi! Beker lagi!

Namun meski jengkel tiada tara, Sapar Sapari masih menggantungkan bangun tidurnya pada beker. Ia sendiri heran, walau muak, ia masih membutuhkan beker untuk bangun pagi. Maklum, kalau telat bangun sedikit saja, maka telat pulalah ia pergi ke kantor. Bukan soal di kantornya, tapi setiap hari ia memang mesti mendului jalur ramai agar terhindar macet. Jadi memang mesti berangkat pagi-pagi betul.

Sapar Sapari bukan orang yang kaya-kaya amat. Meski tak miskin, hidupnya cukup sederhana. Malah masih patut kalau mau disebut cukupan. Ia seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Apa boleh buat, pada umumnya cita-cita masa muda hampir setiap orang memang nyaris indah-indah. Elok-elok. Namun begitu masuk ke kehidupan yang sebenarnya, bagi sebagian besar orang, yang indah-indah itu terkadang pamit malu-malu. Tersipu-sipu undur diri dari alam pikiran. Menyerahkan nasib pada realita: punya ijazah, melamar pekerjaan, dan jadilah apa yang bakal terjadi. Maka sejak itu, mulailah hidup Sapar Sapari berakrab-akrab dengan apa yang disebut: beker!

Begitulah Sapar Sapari. Setiap hari bangun dari tidur berkat deringan beker. Terkaget di pagi hari, berjalan sempoyongan ke kamar mandi, berpakaian, cepat-cepat sarapan, dan pergi ke kantor. Meski benci pada beker, ia tetap lakukan itu bertahun-tahun lamanya. Hingga anak-anak mereka lahir. Hingga anak-anak mereka duduk di bangku sekolah. Hingga ia mulai bisa membeli rumah. Hingga ia bisa mengganti motor tuanya dengan sebuah mobil murah. Semua berkat: beker!

Hingga di suatu hari, ia betul-betul merasa enek pada saat jam istirahat kantor.
“Nggak bisa dibiarkan ini!” dengusnya sembari makan siang.
“Apalagi sih, Par…” celetuk teman kantornya.
“Kita harus bisa mengenyahkan beker dari kehidupan manusia!”
“Ya ampun, Par… Kamu itu dari dulu masih saja mempersoalkan beker.” timpal temannya yang lain.
“Gimana kamu bisa bangun pagi tanpa beker…” tambah teman satunya lagi.
“Ada-ada aja ah.” ujar temannya yang duduk persis di sampingnya.
“Harus! Pokoknya harus! Beker itu nggak sehat! Bisa gila lama-lama aku!”
Teman-teman Sapar Sapari hanya bisa geleng-geleng kepala sembari mengunyah tempe mendoan.

Tapi rupanya Sapar Sapari tak sekadar omong besar. Sepulang dari kantor, ia langsung masuk ke kamar tidur. Ia ambil beker yang selama bertahun-tahun lamanya setia nangkring di atas meja samping tempat tidurnya. Ia menuju halaman belakang. Dengan palu di tangan, sekali ayun, BRAKKK!!! hancurlah beker mungil itu berkeping-keping. Tinur Tinuri, istrinya, menjerit tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan suaminya. Tapi Sapar Sapari tersenyum puas.

“Mulai hari ini kita hidup tanpa beker, Mah!” tukasnya bangga.
“Tapi bagaimana besok kita bisa bangun pagi, Pah?”
“Dulu manusia juga hidup tanpa beker, Mah. Toh tetap hidup.” jawab Sapar Sapari tersenyum-senyum menganggakat alis.
“Ya ampun, Pah…”

Maka apa yang terjadi, terjadilah. Esok pagi suami istri itu bangun telat. Mereka terpekik kaget karena matahari mulai menerobos jendela kamar.
“Ya ampun, Pah!! Sudah jam berapa ini?!” jerit istrinya.
Sapar Sapari mencelat dari tempat tidur. Berlari ke kamar mandi, buru-buru berpakaian, tanpa sarapan, dan melesat ke kantor. Apa boleh buat, ia terkena jalur macet. Ia telat datang ke kantor.

Namun Sapar Sapari sudah bertekad: ia akan hidup tanpa beker!
“Aku harus memulai!” begitu tekadnya yakin. “Memang mesti ada yang jadi pelopor bagi kehidupan manusia yang lebih baik. Saat ini orang mungkin masih mencibir dengan apa yang kulakukan. Tapi nanti, orang akan berterima kasih padaku, karena sudah memulai sesuatu yang berharga bagi kehidupan umat manusia!” begitu kata Sapar Sapari bangga.

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, Sapar Sapari hidup tanpa beker. Ia masih bangun telat, berlari ke kamar mandi, buru-buru berpakaian, tanpa sarapan, dan melesat ke kantor dengan terlambat. Tapi ia lupa: tak ada kantor tanpa peraturan.

Performance Sapar Sapari mulai diperhatikan. Sudah berbulan-bulan lamanya ia selalu datang telat ke kantor. Padahal teman-temannya sudah turut mengingatkan. Tapi ia seperti tak peduli. Lama-lama kantor mengeluarkan surat teguran.

“Tak apa, di sini tantangannya!” tekad Sapar Sapari bertahan. Weh!

Bahkan, kalau dulu ia menerapkan hidup tanpa beker bagi keluarganya, kini ia mulai berkampanye pada teman-temannya agar mengenyahkan beker dari kehidupan manusia. Tentu saja teman-teman kantornya kaget, terperangah, dan heran bukan alang kepalang.

“Apa-apaan sih?”
“Aneh!”
“Sudah gila apa?”
“Ada-ada saja!”
Begitu komentar kawan-kawannya.

Sudah berungkali Sapar Sapari dipanggil bagian HRD. Sudah sekian kali Surat Peringatan dikeluarkan pada Sapar Sapari. Tapi Sapar Sapari malah seolah menantang. Lama-lama kantor tak dapat menolerir lagi kelakuan Sapar Sapari. Ia diberi pilihan: tetap datang telat setiap hari seperti beberapa bulan belakangan ini namun siap-siap menerima surat pemecatan, atau secepatnya membeli beker baru serta datang normal seperti karyawan lainnya.

Dasar Sapar Sapari. Ia keukeuh dengan prinsipnya untuk hidup tanpa beker. Apa mau dikata, akhirnya Sapar Sapari: dipecat!

Sapar Sapari kaget. Ganti dia yang kini terhenyak. Ia tak percaya bahwa perusahaan tempat ia bertahun-tahun bekerja memecatnya hanya karena ia tak memiliki beker. Padahal bukan itu maksud perusahaan. Perusahaan hanya tak mau memiliki karyawan yang selalu datang telat. Hal itu tentu mengganggu kinerja kantor.

Sapar Sapari dihentikan secara tidak hormat dari pekerjaannya!

Sapar Sapari stres. Istrinya ikut stres. Anak-anak Sapar Sapari tidak tahu mesti berbuat apa. Mereka masih kecil-kecil dan belum lagi tahu apa arti beker bagi kehidupan manusia. Dari sisa tabungan yang ada, Tinur Tinuri menyarankan agar Sapar Sapari membeli beker baru bagi rumah mereka. Tapi Sapar Sapari tak tahu lagi: apa guna beker…

Hingga akhir cerita ini dibuat, Sapar Sapari masih belum lagi tahu: siapa penemu beker!

Terkadang kita membenci diri kita, terkadang kita membenci pekerjaan kita, terkadang kita membenci salary kita, terkadang kita membenci pasangan hidup kita, terkadang kita membenci sahabat kita, terkadang kita membenci teman-teman kita, terkadang kita membenci pacar kita. Padahal jauh di dasar hati kita tahu: kita tetap membutuhkan mereka, bagaimana pun keadaannya. Karena kita telah memilihnya sebagai bagian dari hidup kita. Ibarat Sapar Sapari terhadap beker!

26 Februari 2009 | 04.50 wib

- Beker (Kamus Besar Bahasa Indonesia): jam yang dilengkapi dengan alat yang dapat berdering pada waktu yang dikehendaki (untuk membangunkan orang).

- Tulisan ini terinspirasi dari postingan Donny Verdian berjudul Weker Alarm.

This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

53 Responses to Beker

  1. Ria says:

    Mas…bukannya manusia itu di lengkapi dengan beker alami…
    *bukan mengecilkan arti beker ya*
    tetapi ketika kita sudah punya pola hidup teratur setiap hari, bahkan kita bangun jam 5 subuh setiap hari rasanya gak perlu beker deh :D

    kalau saya pribadi lebih suka siap2 beker, punya beker aja suka telat gimana kalo gak punya??? huhehehehe

    Ria, terakhir menulis Pertemuan heboh itu

    DM: Aha, itu dia yang disebut mindset kali ya. Kita sudah bisa men-set dipikiran kita soal pola hidup yang teratur setiap hari.

  2. @Bang Goen…
    Astagaaaaaaaa!!!
    Gak cukup nomer handphone aku?!?!? Apa perlu aku kasih nomer telepon rumah bang!!
    hihihihihi

    @DM
    Nahh yang ini baru numpang nampang boss ;) hehehehe

    DM: Nah… ini baru aslinya Yessy… Hi-hi-hi.

  3. perempuan says:

    iya terkadang aq kalo lagi sebel jg sering mengutarakan caci makian ke masQ, tapi kadang juga kalo lagi “lunak” ee.. malah yayang2an di telpon :D emang manusia tuh anehh ya..

    DM: Yayang-yayangan? Huihihi… Istilah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>