Beker
Dalang: Ki Daniel Mahendra
Tak pernah terbersit sebelumnya dalam pikiran Sapar Sapari bahwa kini ia betul-betul jengkel pada beker. Ibarat muak, eneknya pada beker sudah sampai ke ubun-ubun. Tinur Tinuri, istrinya, sampai tak habis pikir, mengapa suaminya jadi begitu benci pada beker. Apa ada yang salah pada beker?
Saking jengkelnya, Sapar Sapari sampai mencari di berbagai ensiklopedia, buku pintar, hingga googling di internet: gerangan siapa penemu beker! Tetap tak ketemu jua.
“Harus kutemukan siapa penemu beker, Mah!” tukas Sapar Sapari pada istrinya di malam sebelum tidur.
“Buat apa sih, Pah? Kok kurang kerjaan. Memangnya kalo sudah tau siapa penemunya, mau diapakan?”
“Beker itu benda yang paling tidak menyehatkan kualitas hidup manusia, Mah. Mestinya orang itu bisa bangun dari tidur dengan sehat. Dengan tenang. Tapi sejak ada beker, hidup manusia jadi terpola, terkontrol.”
“Ya ampun, Pah… kok malah diseriusi.”
“Lho, ya harus, Mah. Bayangkan seratus sampai dua ratus tahun dari sekarang, gimana kualitas hidup manusia kalau setiap pagi, sedang enak-enaknya tidur, tiba-tiba; RRRRIIIIINGGGGGG!!!! Apa sehat itu?”
“Ah, nggak tau, Pah ah. Mamah ngantuk. Jangan lupa pasang bekernya, Pah. Nanti kesiangan lagi.”
Dalam hati Sapar Sapari menggerutu: Beker lagi! Beker lagi!
Namun meski jengkel tiada tara, Sapar Sapari masih menggantungkan bangun tidurnya pada beker. Ia sendiri heran, walau muak, ia masih membutuhkan beker untuk bangun pagi. Maklum, kalau telat bangun sedikit saja, maka telat pulalah ia pergi ke kantor. Bukan soal di kantornya, tapi setiap hari ia memang mesti mendului jalur ramai agar terhindar macet. Jadi memang mesti berangkat pagi-pagi betul.
Sapar Sapari bukan orang yang kaya-kaya amat. Meski tak miskin, hidupnya cukup sederhana. Malah masih patut kalau mau disebut cukupan. Ia seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Apa boleh buat, pada umumnya cita-cita masa muda hampir setiap orang memang nyaris indah-indah. Elok-elok. Namun begitu masuk ke kehidupan yang sebenarnya, bagi sebagian besar orang, yang indah-indah itu terkadang pamit malu-malu. Tersipu-sipu undur diri dari alam pikiran. Menyerahkan nasib pada realita: punya ijazah, melamar pekerjaan, dan jadilah apa yang bakal terjadi. Maka sejak itu, mulailah hidup Sapar Sapari berakrab-akrab dengan apa yang disebut: beker!
Begitulah Sapar Sapari. Setiap hari bangun dari tidur berkat deringan beker. Terkaget di pagi hari, berjalan sempoyongan ke kamar mandi, berpakaian, cepat-cepat sarapan, dan pergi ke kantor. Meski benci pada beker, ia tetap lakukan itu bertahun-tahun lamanya. Hingga anak-anak mereka lahir. Hingga anak-anak mereka duduk di bangku sekolah. Hingga ia mulai bisa membeli rumah. Hingga ia bisa mengganti motor tuanya dengan sebuah mobil murah. Semua berkat: beker!
Hingga di suatu hari, ia betul-betul merasa enek pada saat jam istirahat kantor.
“Nggak bisa dibiarkan ini!” dengusnya sembari makan siang.
“Apalagi sih, Par…” celetuk teman kantornya.
“Kita harus bisa mengenyahkan beker dari kehidupan manusia!”
“Ya ampun, Par… Kamu itu dari dulu masih saja mempersoalkan beker.” timpal temannya yang lain.
“Gimana kamu bisa bangun pagi tanpa beker…” tambah teman satunya lagi.
“Ada-ada aja ah.” ujar temannya yang duduk persis di sampingnya.
“Harus! Pokoknya harus! Beker itu nggak sehat! Bisa gila lama-lama aku!”
Teman-teman Sapar Sapari hanya bisa geleng-geleng kepala sembari mengunyah tempe mendoan.
Tapi rupanya Sapar Sapari tak sekadar omong besar. Sepulang dari kantor, ia langsung masuk ke kamar tidur. Ia ambil beker yang selama bertahun-tahun lamanya setia nangkring di atas meja samping tempat tidurnya. Ia menuju halaman belakang. Dengan palu di tangan, sekali ayun, BRAKKK!!! hancurlah beker mungil itu berkeping-keping. Tinur Tinuri, istrinya, menjerit tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan suaminya. Tapi Sapar Sapari tersenyum puas.
“Mulai hari ini kita hidup tanpa beker, Mah!” tukasnya bangga.
“Tapi bagaimana besok kita bisa bangun pagi, Pah?”
“Dulu manusia juga hidup tanpa beker, Mah. Toh tetap hidup.” jawab Sapar Sapari tersenyum-senyum menganggakat alis.
“Ya ampun, Pah…”
Maka apa yang terjadi, terjadilah. Esok pagi suami istri itu bangun telat. Mereka terpekik kaget karena matahari mulai menerobos jendela kamar.
“Ya ampun, Pah!! Sudah jam berapa ini?!” jerit istrinya.
Sapar Sapari mencelat dari tempat tidur. Berlari ke kamar mandi, buru-buru berpakaian, tanpa sarapan, dan melesat ke kantor. Apa boleh buat, ia terkena jalur macet. Ia telat datang ke kantor.
Namun Sapar Sapari sudah bertekad: ia akan hidup tanpa beker!
“Aku harus memulai!” begitu tekadnya yakin. “Memang mesti ada yang jadi pelopor bagi kehidupan manusia yang lebih baik. Saat ini orang mungkin masih mencibir dengan apa yang kulakukan. Tapi nanti, orang akan berterima kasih padaku, karena sudah memulai sesuatu yang berharga bagi kehidupan umat manusia!” begitu kata Sapar Sapari bangga.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, Sapar Sapari hidup tanpa beker. Ia masih bangun telat, berlari ke kamar mandi, buru-buru berpakaian, tanpa sarapan, dan melesat ke kantor dengan terlambat. Tapi ia lupa: tak ada kantor tanpa peraturan.
Performance Sapar Sapari mulai diperhatikan. Sudah berbulan-bulan lamanya ia selalu datang telat ke kantor. Padahal teman-temannya sudah turut mengingatkan. Tapi ia seperti tak peduli. Lama-lama kantor mengeluarkan surat teguran.
“Tak apa, di sini tantangannya!” tekad Sapar Sapari bertahan. Weh!
Bahkan, kalau dulu ia menerapkan hidup tanpa beker bagi keluarganya, kini ia mulai berkampanye pada teman-temannya agar mengenyahkan beker dari kehidupan manusia. Tentu saja teman-teman kantornya kaget, terperangah, dan heran bukan alang kepalang.
“Apa-apaan sih?”
“Aneh!”
“Sudah gila apa?”
“Ada-ada saja!”
Begitu komentar kawan-kawannya.
Sudah berungkali Sapar Sapari dipanggil bagian HRD. Sudah sekian kali Surat Peringatan dikeluarkan pada Sapar Sapari. Tapi Sapar Sapari malah seolah menantang. Lama-lama kantor tak dapat menolerir lagi kelakuan Sapar Sapari. Ia diberi pilihan: tetap datang telat setiap hari seperti beberapa bulan belakangan ini namun siap-siap menerima surat pemecatan, atau secepatnya membeli beker baru serta datang normal seperti karyawan lainnya.
Dasar Sapar Sapari. Ia keukeuh dengan prinsipnya untuk hidup tanpa beker. Apa mau dikata, akhirnya Sapar Sapari: dipecat!
Sapar Sapari kaget. Ganti dia yang kini terhenyak. Ia tak percaya bahwa perusahaan tempat ia bertahun-tahun bekerja memecatnya hanya karena ia tak memiliki beker. Padahal bukan itu maksud perusahaan. Perusahaan hanya tak mau memiliki karyawan yang selalu datang telat. Hal itu tentu mengganggu kinerja kantor.
Sapar Sapari dihentikan secara tidak hormat dari pekerjaannya!
Sapar Sapari stres. Istrinya ikut stres. Anak-anak Sapar Sapari tidak tahu mesti berbuat apa. Mereka masih kecil-kecil dan belum lagi tahu apa arti beker bagi kehidupan manusia. Dari sisa tabungan yang ada, Tinur Tinuri menyarankan agar Sapar Sapari membeli beker baru bagi rumah mereka. Tapi Sapar Sapari tak tahu lagi: apa guna beker…
Hingga akhir cerita ini dibuat, Sapar Sapari masih belum lagi tahu: siapa penemu beker!
Terkadang kita membenci diri kita, terkadang kita membenci pekerjaan kita, terkadang kita membenci salary kita, terkadang kita membenci pasangan hidup kita, terkadang kita membenci sahabat kita, terkadang kita membenci teman-teman kita, terkadang kita membenci pacar kita. Padahal jauh di dasar hati kita tahu: kita tetap membutuhkan mereka, bagaimana pun keadaannya. Karena kita telah memilihnya sebagai bagian dari hidup kita. Ibarat Sapar Sapari terhadap beker!
26 Februari 2009 | 04.50 wib
- Beker (Kamus Besar Bahasa Indonesia): jam yang dilengkapi dengan alat yang dapat berdering pada waktu yang dikehendaki (untuk membangunkan orang).
- Tulisan ini terinspirasi dari postingan Donny Verdian berjudul Weker Alarm.


saya tak pernah bersentuhan dengan yang namanya beker. karena ritme hidup saya adalah tidur jam 8 dan bangun jam 2. jadi tak pernah butuh beker.
tapi soal paragraf terkahir>>> orang baru merasa memiliki sesuatu setelah kehilangan sesuatu itu. note: kalau yang ini saya pernah bersentuhan
Ini tuh yang nulis lagi sebel ama beker atau lagi sebel ma pacar siy…. hihihi
yang pasti yang nulis ini tuh gak serius nyari penemunya beker.
Diatur atur pacar aja sebel, apalagi diatur-atur benda mati beker… hehehe kebayang………
Pak Sapar Sapari,
penemu beker mekanis pertama adalah Taqi Al-Din dari Kerajaan Turki pada 1559, hal ini ditulis dalam bukunya The Brightest Stars for the Construction of Mechanical Clocks (Al-Kawākib al-durriyya fī wadh’ al-bankāmat al-dawriyya).
http://en.wikipedia.org/wiki/Alarm_clock
tanti, terakhir menulis Pelajaran dari Laboratorium Anatomi
tulisan ini bukan tentang beker. esensi tulisan ini ada di paragraf akhir: we don’t know what we’ve got until we lose it.
jadi tulisan ini keluar dari serial the waiting is almost over ya, goniel?
cerpen ini mengingatkanku pada cerpen-cerpen lamamu yang cenderung surealis. hmm… sempat kangen juga, karena belakangan tulisanmu realis semua.
sekadar kontemplasi, hidupku sendiri tergantung pada beker nggak ya?
sebagian orang lebih percaya pada mindset: kalau sudah berniat bangun pada waktu tertentu, maka ia akan terbangun bahkan sebelum suara alarm berdering.
soal kehilangan dan penghargaan, been there done that, sadly to say.
IMO, sepertinya itu manusiawi banget. apa itu produk dari kurangnya rasa syukur, ya?
marshmallow, terakhir menulis Kabut Kintamani
dan sesuatu yang kita benci karena tidak sesuai dengan ‘sreg’ kita dan kita anggap biasa karena sudah menjadi bagian hari2 kita, yang kita sepelekan karena nggak ‘terlihat’ teryata pada saat bener2 hilang, akan menyisakan sesal ya, Dan ?
ya udah, kalo demi paragraf terakhir pesan dari cerita ini saya terima…..wkekekek…tapi kata kata ‘menclat’ itu loh yang bikin saya kangen pulang ke jawa..heee
Cerita yang mengajak saya untuk memanage kebencian agar tidak merugikan.
dana, terakhir menulis Permohonan
sabar-sabar….pak hehehhe
tadinya saya kagak ngarti apa tuh beker…hihihi
Omiyan, terakhir menulis Masa Remaja : Awal Dari Sebuah Masa Depan
Aku suka sekali tulisan ini. Empat jempol buatmu.
Yoga, terakhir menulis Menebas Jarak ke Jakarta Biennale
Tulisanmu menarik Niel.
Ya, kita sebel sama lingkungan kita, kadang bosen sekali sama kerjaan kita, dan udah eneg bener…tapi semua tetap harus dijalani. Begitu teman-teman yang biasa ngrumpi bareng sambil ngopi di warung belakang kantor mulai dipindah satu demi satu, kita baru merasa kehilangan.
Saya tetap perlu beker, alarm ataupun apa namanya. Padahal sering lebih duluan bangun daripada si beker. Karena mungkin hari-hariku terpola sejak dulu, baru kalau polanya berantakan…bingung deh.
Niel, se sebel2nya oleh tekanan situasi di kantor, di jalan, dll…begitu sampai rumah dan ketemu anak….uhh semua hilang…itulah indahnya Niel. Tahu kan maksudku…huhuhu
edratna, terakhir menulis Mengapa banyak Bank yang ingin beralih ke segmen Ritel?
Idealis dan teguh memegang prinsip .. selamat pak sapar sapari.
obsesif kompulsif … Pak Sapar Sapari
Salam kenal mas. Lucu banget kesel ama beker. Sebenarnya aku juga dilanda demam beker.. ha ha., kalo di rumahku, yang membangunkan tidurku, bukan beker tapi ibuku. oiya ketepatannya mirip seperti beker, ditambah dengan gedoran pintu kamar, dan sederet omelan. Tapi semakin hari aku semakin menikmatinya. I love u Ibu
Oiya mas, mampir ke rumahku dong. noninn23.blogspot.com. Emang aku baru belajar buat blog nih.
asyik mas…sederhana, tapi memikat…kalo gak ketemu siapa penemu beker pertama, maka penghancur beker pertama adalah sapar sapari hehehehe. sekali lagi asyik mas…..btw ada hub dengan perjalanan DAn gak siy…
imoe, terakhir menulis … negara kekerasan…
Ringan,enak dibaca kak, paragraf terakhir isinya.
Btw, aku nggak pengaruh ma beker. Kalau subuh dah terbiasa bangun, kalau pingin tahajud biasanya aku niat di hati ingin bangun jam 2, tapi biasanya tepat jam 2 aku bisa bangun.
Pernah pasang beker, pas bunyi malah aku matiin lagi trus bobo lagi, jadi intinya tergantung pada niat kita gitu..
Oalah…hehe…
Suka sama paragraf penutup. Terkadang kita membenci orang yang tanpa sadar dibutuhkan.
Sekarang gue tinggal mencari cara …gimana orang yang lagi sebel bin kesel sama gue saat ini ….jadi “butuh” sama gue….jadi dia berhenti ngambek ke gue! hehehe
Ada saran gak ya Boss?
yessy muchtar, terakhir menulis The Mellow Afternoon.
Asyik nih, ..bosen sesuatu, karena sudah terlalu lama, ketika sesuatu itu ilang malah merindukannya..
Mantap.
p u a k, terakhir menulis Theme oh..theme..!!
Komen ngasal:
Jadi, jadi,
siapa yang kamu benci tapi kamu butuhkan?
Pastinya bukan jam beker; karena kamu terbangun bukan karena jam beker, tapi karena yang lain…. hihihi…
Komen beneran:
Justru kalau terlalu lekat, kita nggak sadar seberapa butuhnya kita terhadap sesuatu. Memang benar seperti Uni Hemma bilang; we don’t what we’ve got til we lose it. Kita nggak pernah sadar kalau kita beruntung sampai privilege itu dihapuskan.
Nah, nah. Kembali ke pertanyaan di komen ngasalku di atas:
siapa yang kamu benci tapi kamu butuhkan?
Ayo, jawab, Mbret! (kangen euy, panggil Jembret…. sekali-sekali, deh… hihihi)
Lala, terakhir menulis (Bandung-Jakarta’s Stories Part. 2) Girls Will Be Girls
Hidih! Salah ketik!
Maksudnya: we don’t KNOW what we’ve got til we lose it…
Haha, pasti ini karena aku kekenyangan makan gretongan…
Lala, terakhir menulis (Bandung-Jakarta’s Stories Part. 2) Girls Will Be Girls
aku tidak pernah tergantung pada beker
beker yang tergantung padaku.
EM
kalo beker mah aku butuh banget di waktu bulan puasa hehehehe…salam knal
Ah terhormatnya aku kalau tulisanku jadi inspirasi tulisanmu, Dan
Tapi ada yang menarik di sini, apa kaitan antara weker, beker dan JOGER..???
Atau Giordanno saja?
Huahuahuahuahuahua
DV, terakhir menulis Surat Berbunga
Wah edun emang DV, jadi sumber inspirasinya penulis terkenal terbeken mahadahsyat terkeren sekaliber Daniel Mahendra geto loh!!
Paragraf terakhir keren, sekeren yg nulis komen ini..ihihihi…
Jaman dulu ga pake weker (enakkan weker nyebutnya.. :p) pake kokok ayam kali Mas… :p
untung saja saya tidak punya jam beker, ntar malah jadi sensitiv dibangunin sama beker. hahaha… oh ya gak tau kenapa, saya bangun kenapa pagi terus ya? pengen juga deng sekali-kali bangun siangan dikit. wkkwkwkwk..
Catra, terakhir menulis Kampusku Rumahku, Diesku Semagatku
pagi, goniel!
tadi bangunnya oleh beker atau kentongan mie tektek yang lewat di depan rumah?
marsh, terakhir menulis Kabut Kintamani
Saya rasa inspirasi dari mas DV hanya kamuflase aja tuh… padahal emang di kamar mas Dan punya beker. Beker Plus-plus
Catra, terakhir menulis Kampusku Rumahku, Diesku Semagatku
Sebuah Beker jadi simalakama untuk seorang sapar sapari yang terlalu melihat sisi negatifnya tanpa melihat sisi positifnya sehingga menghancurkan masa depannya…sebuah pembelajaran yang sangat berharga untuk diambil hikmahnya…thanks sang pengayam kata
Baka Kelana, terakhir menulis 25 Widget Blogspot Populer ala Mashable
exclude paragraph terakhir,
emakku dirumah bisa bangun pagi atau jam berapa saja yg mungkin beliau inginkan, malah saya sering pesen sama emak, “mak tolong bangunin saya jam sekian”, dan itu tanpa beker , lha wong emak saya …
mascayo, terakhir menulis pinggang saya hilang
lagi kehilangan beker ya mas? atau bekernya lagi rusak?
wah kayaknya ketergantungannya tinggi ya….
Zulmasri, terakhir menulis Setahun di WordPress
hmmm weker bahasa indonesianya beker rupanya
tapi beker dalam bahasa belanda artinya mug atau piala…
kenapa musti jadi beker ya?
EM
@ Ikkyu_san:
Mending beker daripada boker… betul?
Lala, terakhir menulis Left Over Cake
Udah beberapa bulan ini, aku tiap hari pake beker, Mas DM. Tapi, kayaknya ga terlalu ngefek, deh. Kadang bangun sebelum beker bunyi, kadang beker bunyi tetep ga bangun, kadang tapi ya bangun juga sih.
@Ikkyu_san:
maksudnya “beker yang tergantung padaku.” apa ya?
@paklik:
wahh, paklik.. aku jadi kangen sepupuku (dulu temen sekamar). kami sama2 bermental kebo..klo weker bunyi tidak ada yg beranjak mematikan saja.. yg kebangun malah tante yang tidur satu lantai di atas kamar kami, gyahahaha.. sampe skrg masih berpikir.. “kok bisa yaa…”
(dan bsk paginya si tante marah2 saja dooong..)
narpen, terakhir menulis Eksplorasi Rasa
mas mahendra pakabar ?
anisa membaca tulisan mas mahendra ini jadi teringat eyang yang selalu membangunkan anisa tiap pagi dgn lemah lembut sebagai pengganti weker .
kangeeeeennnnn banget sama eyang !
anisa pikir orang ngak boleh benci pd weker seperti pak sapar sapari dan istrinya . karena menurut anisa weker itu hanya perumpamaan……. dia bisa berwujut apa saja yang bisa mengingatkan manusia akan sesuatu misalnya guru yg menasihati…….orangtua yang mengingatkan…… atau teman teman yang membari saran……jadi anisa pikir teman yg baik itu harus bisa menjadi weker bagi temannya….spt teman -teman mas mahendra dan harapan anisa bisa mjd teman mas mahendra untuk saling mengingatkan spt weker .
mas mahendra udah ngak travel lagi ?
kenapa ngak diceritakan sekarnag udah sampe mana ?!
@anisa
Perumpamaan yang bagus Anisa.
Annisa Datang dengan kebesaran hati dan kedewasaan berpikir.
@annisa : makin cocok aja kamu dg mas mahendra …:)
@Narpen :
dia kehilangan fungsinya jika aku tak membeli atau tak menyetelnya.
Jadi dia yang tergantung padaku.
Tanpa aku dia tidak bisa memenuhi tugas sebagai beker….
@Narpen
lho, yg kamu panggil PAKLIK itu siapa ta, Narpen ? DM ?
@DM
hahaha… bejamu, cak…
@Anisa
wuuuiiih, sungguh kedewasaan berpikir yg luaaaaarr biasa !
semakin hari, kayaknya kamu semakin sip saja kamu, Anisa.
sungguh beruntung Mas Mahendra yang baik hati, mempunyai kawan seperti kamu. sungguh ! suwer ! sumprit !
@AL & @Jamal
akuuur !
@DM lagi
kok panjenengan dangu mboten wonten pawartosipun ?
@Anisa lagi
katanya mau kasih nomer telpon…
mana ?
goenoeng, terakhir menulis kabarku, baik-baik saja ?
Wah, ceritanya bagus2…menginspirasi !
Salikha Satiena, terakhir menulis Salikha….Tak ada Sunset di Bali….
@goenoeng.
Gimana kalau kita bikin Anisa Fans Club?
Ayo Anisa, maju terus!
Saya mendukungmu.
Batu bolong juga dengan air yang menetes.
@AL & Goenoeng
Sepakat AFC (Annisa Fans Club) ???
@annisa
Seluruh is Jagad raya Mendukungmu (kecuali yg tidak heheheh)
manusiawi sekali dengan terjebaknya sebuah rutinitas
duh duh
ada dua kriteria pandangan untuk sapar sapari tentang beker namun aku takut menyampaikan di komentar ini hahaha yang penting aku mencoba mengambil sisi manfaat dri tema certa yang di angkat kang DM
kemana aja nih
ah, syukurlah ternyata sang tukang ayam masih hidup dan menaburkan tanda-tanda kehidupan di blog ini. tapi kenapa makin ke mari tukang ayam ini jadi makin sering memfitnah, ya?
seperti yang satu ini: cara bangun siang tanya sama uni karena dia jagonya. maksuuuddd??? *ketepokkk!!!*
aku nggak nolak sih dibilang lebih sering dibangunkan dering telepon daripada dering alarm. makanya: stop bugging me in early dawn BEFORE you go to sleep, goniel! di sini malah belum subuh! ck!
manusia normal tuh tidur malam hari dan bangun pagi hari, bukan tidur pagi bangun siang kayak kamu.
*bersidekap sambil geleng-geleng kepala*
marsh, terakhir menulis Madu dan Racun Kolegalitas
Sapari…jadi ingat Kartolo hehehhehe
paragraf terakhir tuh daleeeeeeem…kadang kita tak tahu apa yang kita butuhkan, dan tersadar ketika ia hilang…
icha, terakhir menulis Pelesir ke Papuma
Lebay tuh apaan sih? Rasaan lagi musim….melambai-lambai ala bencis gitu bukan?
Hi mas DM… salam kenal dulu ah..
Wah dalem sekali maknanya… beker-beker…
Pas mahasiswa aku pernah bikin sopwer beker di komputer buat bangunin orang. Tapi keknya ga berguna deh, soalnya kalau tidur kan komputer udah pada dimatiin..
mangkum, terakhir menulis Yang Paling Menginspirasiku
Beker saya sudah meninggal tahun lalu tetapi jenazahnya masih ada. Gak ngaruh sih terhadap kehidupan saya.
Beker atau apa pun kadangkala kita benci setengah mati padahal penyebabnya pada diri kita. Membenci sesuatu bukan karena sesuatu itu penyebabnya mencerminkan kita kurang cermat memandang diri kita sendiri ya…
Salam anget, lama absen. Maafkanlah daku, mas..he..he..
Hejis, terakhir menulis Ri… Ponari… terima kasih ya?!
Mau komen ngasal kok ya ndak tega ya … hehehe
Udah banyak yang ngasal soale …
Beker …??
Aku setuju dengan mbak Marshmallow …
It’s about mindset …
Mau tidur … bilang pada diri sendiri … jam 5 pagi bangun …
En biasanya kejadian … besok paginya jam 5 bangun …
Whithout Beker ofcourse …
The Problem is …
Kadang kita suka ndak percaya sama Mindset kita sendiri …
KIta sering mengingkarinya …
Akhirnya … ya kesiangan juga ….
Huahahhaa
Sebetulnya aku tu butuh Beker ndak siiihhh ???
nh18, terakhir menulis KORUPSI
Belum cukupkah semadimu, wahai Sobatku Dalang Ki Daniel Mahendra?
Aku hanya mencoba jadi sahabat yang baik seperti beker yang mengingatkan, seperti kata-kata bijak Anisa. Soalnya aku sudah lama menunggu tulisan barumu.
Semoga kau baik-baik saja.
Mas…bukannya manusia itu di lengkapi dengan beker alami…
*bukan mengecilkan arti beker ya*
tetapi ketika kita sudah punya pola hidup teratur setiap hari, bahkan kita bangun jam 5 subuh setiap hari rasanya gak perlu beker deh
kalau saya pribadi lebih suka siap2 beker, punya beker aja suka telat gimana kalo gak punya??? huhehehehe
Ria, terakhir menulis Pertemuan heboh itu
@Bang Goen…
Astagaaaaaaaa!!!
Gak cukup nomer handphone aku?!?!? Apa perlu aku kasih nomer telepon rumah bang!!
hihihihihi
@DM
hehehehe
Nahh yang ini baru numpang nampang boss
iya terkadang aq kalo lagi sebel jg sering mengutarakan caci makian ke masQ, tapi kadang juga kalo lagi “lunak” ee.. malah yayang2an di telpon
emang manusia tuh anehh ya..