Archive for March, 2009

Angkringan

(The Waiting Is Almost Over: 27)

Persembahkan yang terindah demi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu (Kahlil Gibran, Sang Nabi)

Bagaimana kalian menemukan sahabat? Pasti ada banyak cara. Entah itu kualitas pertemanan yang gemilang, jalinan kuantitas yang terus bersemayam, bertemu sekelebatan di jalan, atau bahkan dari sebatang rokok kita bisa tetap menciptakan sebuah persahabatan.

Setelah beristirahat dan menikmati udara pegunungan di Gunung Kelir selama beberapa hari, hari ini aku memutuskan untuk turun. Ya, aku harus turun. Kondisi tubuhku memang belum sehat benar. Tapi perjalanan mesti terus dilanjutkan.

Boleh percaya atau tidak, dalam perjalanan kali ini aku betul-betul banyak ditolong oleh kawan-kawan baru yang usia pertemanannya belum lagi satu tahun. Tak ada teman lama, dan mereka adalah: blogger! Mereka betul-betul kukenal melalui blog. Lain tidak.

Aku memutuskan akan terus ke timur menggunakan kereta. Aku cek jadwal perjalanan kereta di website PT. KAI. Rupanya aku telah kehilangan jam keberangkatan kereta Argowilis dari stasiun Jogjakarta pada siang hari. Tapi aku sudah meniatkan untuk turun dari Gunung Kelir siang ini. Kulihat jadwal kereta lagi.

Continue Reading »

Time Was

You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams (The Prophet, Children, Kahlil Gibran)

 

Tulisan ini menyempal dari seri cerita The Waiting Is Almost Over. Dalam sebuah perjalanan, aku berkunjung ke rumah seorang sahabat lama. Seorang sahabat yang tahu betul bagaimana pendalaman seorang Daniel Mahendra. Seorang sahabat yang pernah sama-sama merasakan manis getirnya kehidupan. Ibaratnya, kalau dia lapar, aku pun lapar. Kalau dia kenyang, sialnya aku tetap lapar. He-he-he.

 

Ia lebih tua lima tahun di atasku. Sudah tahunan lamanya kami tak saling bertemu. Dari mulai ia masih lagi bujangan, beristri, hingga beranak tiga. Terakhir bertemu, anaknya masih kecil-kecil. Bahkan anak ketiganya masih merah bayi. Namun ketika kembali bertemu, aku sontak terhenyak kaget bukan kepalang.

 

Bagaimana tidak; kini Rafi anak pertamanya sudah kelas 3 SMP. Tyas si anak tengah sudah kelas 5 SD. Sementara si bungsu Rayhan malah sudah kelas 1 SD. MasyaAllah. Dan lebih gila lagi, keponakannya yang dulu kuingat masih lagi SMP, kini sudah lulus kuliah dan menikah dengan satu anak. God! Aku terhenyak sekaligus ngakak. Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi.

 

Senang sekali ketika baru saja turun dari kendaraan, bocah-bocah itu loncat-loncat kegirangan. “Om Daniel!! Om Daniel!! Om Daniel!!” seru mereka. Aku hanya cengar-cengir. Tapi begitu melihat mereka dari jarak dekat, giliran aku yang terhenyak, “Kalian sudah sebesar ini?!!!” mereka hanya tertawa-tawa ngakak melihat kekagetanku.

 

Continue Reading »

Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur

(The Waiting Is Almost Over: 26)

Petualang merasa sepi, merasa sunyi, sendiri di kelam hari. Petualang jatuh terkulai, namun semangatnya bagai matahari (Kantata Takwa, Sang Petualang)

Selama di Gunung Kelir, kerjaku hanya tergeletak di kasur dengan laptop yang terus terbuka dalam keadaan online. Kepalaku masih berat bagaikan diganduli batu sebesar gunung. Mas Totok sudah berusaha mencarikan obat warung alakadarnya. Betapa pun terima kasihku untuk itu.

Namun praktis selama di sana aku tak bisa beraktivitas lepas di alam bebas. Ke kamar mandi sempoyongan, berjalan saja limbung, apalagi mesti melakukan aktivitas berat. Hari Jum’at sakitku makin menjadi. Badan ini maunya digolekkan saja tanpa hasrat keinginan.

Mas Suryaden dan Mas Senoaji masih asyik berinternet tanpa tanding. Mas Totok sesekali nimbrung ke ruangan. Suasana senyap, sepi, seperti di kuburan. Padahal ada orang. Lha, gerangan apa yang mereka lakukan? Ya nge-net. He-he.

Aku absen Jum’atan siang ini. (Weh, jangan kalian tiru!). Seharian aku tidur, bangun, sarapan, tidur, makan siang, lalu tidur lagi. Keluarga Mas Totok selalu menghidangkan jamuan makan tanpa terlewat sedikit pun. Sampai-sampai aku sedikit protes pada Mas Totok:

Continue Reading »

Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir

(The Waiting Is Almost Over: 25)

Seorang blogger belum dianggap blogger sejati manakala belum menginjakkan kaki di Gunung Kelir (ucapan kelakar Daniel Mahendra pada Totok Kelir di puncak Kelir)

Kalau bukan karena ‘Ferrari Hijau’ yang tampil demikian seksinya di sisi jalan, mungkin bis yang kunaiki sudah bablas entah ke mana. Titik turun yang Mas Totok rujukan sulit kutemukan. Maka begitu memasuki kota Purworejo, mataku sudah nyalang ke mana-mana. Hingga satu-satunya tanda ya si ‘Ferrari Hijau’ seksi itu yang tampil manis menggoda.

Sebetulnya sebutan ‘Ferrari’ bukan pengertian Ferrari dalam arti sebenarnya (baca Kweni). Mobilnya sendiri entah apa. Kalau aku tak salah dengar dari Mas Totok sih, Ford, dengan moncong mirip Mitsubishi. “Tapi kenapa peleknya Honda?” tanyaku protes. “Ha-ha-ha-ha!!” dan Mas Totok hanya tertawa.

Sekitar 50 meter sejak bisku berhenti, aku berjalan menuju si ‘Ferari Hijau’ yang nangkring di pinggir warung. Aku tertawa-tawa melihat lelaki berbadan gempal itu terbelalak atas kedatanganku.
“Lho?! Turun di mana, Mas?! Kok tiba-tiba nongol dari sana? Aku nggak liat bisnya.”
“Aku nggak naik bis, Mas. Aku langsung turun dari langit. He-he-he. Aku kan dikirim Tuhan untuk menjemput nyawamu!”
“Ha-ha-ha-ha!” kami pun bersalaman. “Pak Sawali barusan SMS, tanya Mas Dan udah sampai apa belum. Nah, ini dia telpon lagi. Halo, Pak Sawali…” dan Mas Totok pun menerima telpon dari Pak Sawali.

Continue Reading »

Haks!

(The Waiting Is Almost Over: 24)

Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton (Mark Twain)

Ketika kutinggalkan kota Semarang, bumi Jawa bagian utara masih berkelakuan sama: gerah! Secara geografis, kondisi gerah kadang memang menganggu petualang karena terlampau sering berkeringat, sehingga kerap kehabisan pakaian di perjalanan. Namun barangkali di situlah tantangannya; mencoba beradaptasi serta belajar mengenal setiap daerah yang disinggahi.

Perjalananku menuju kota Kendal ternyata lebih cepat dari perkiraan semula. 40 menit sejak berpisah dengan Goen, sekonyong-konyong kulihat gerbang ‘Selamat Datang di Kota Kendal’. Weh, cepat sekali! Di atas bis jurusan Tegal aku kelimpungan mengontak Pak Sawali: mesti turun di mana?

Titik yang Pak Sawali berikan sudah jauh terlewati. Mau tidak mau naluri seorang petualang mesti ambil peran (tsah!). Akhirnya aku meloncat turun di Jalan Raya Barat. Sebuah halte di depan SD Langenharjo jadi pilihanku. Tidak gerah, cukup teduh, serta strategis untuk melihat ke segala arah. Setelah menginformasikan titik koordinat, Pak Sawali memintaku untuk menunggu, ia akan segera menjemput, tukasnya tak sabar.

Weh, padahal beliau masih ada pertemuan di Pendopo Kabupaten Kendal. Aku masih bisa menunggu kalau beliau suka. Ini hanya gara-gara bisku lebih cepat sampai dari perkiraan semula. “Nggak pa-pa, saya bisa izin pulang lebih dulu. Tenang saja.” ujarnya tersenyum mengabarkan.
Akhirnya selembar Koran Tempo dan sebatang rokok pun jadi pilihanku.

Continue Reading »

Next Page »