Pengadilan Blogger

Dalang: Ki Daniel Mahendra

Syahdan, di sebuah kampung (sebut saja Kampung Blagu), tersebutlah seorang blogger yang dituduh tidak aktif nge-blog. Ini tampak dari blog-nya yang sudah sebulan lebih tak ada postingan baru. Awalnya para blogger masih sabar menunggu, siapa tahu setiap matahari terbit ada postingan anyar di sana. Tapi tunggu punya tunggu, tetap tak ada tulisan baru.

Masyarakat blogger pun ribut, saling gunjing, dan mulai memprotes. Akhirnya si blogger pun diajukan ke pengadilan. Dengan tuduhan: tidak aktif nge-blog selama sebulan!

Suasana ruang sidang pagi itu tampak ramai, hiruk-pikuk, serta riuh rendah oleh kehadiran para blogger Kampung Blagu yang jumlah warganya tak seberapa itu. Mereka menanti-nanti bagaimana pengadilan memutuskan nasib si blogger sial itu.

Di satu sisi, ada sebagian blogger yang jengkel betul pada si blogger. Karena sudah sebulan tak menyuguhkan apa-apa pada pembaca. Tapi di sisi lain, ada juga sebagian blogger yang menjadi tak tega: kok persoalan seperti ini jadi serius. Sampai dibawa ke pengadilan segala. Namun dari kesemuanya, para blogger itu menanti-nanti hal yang sama: penasaran!

Tampak hakim memulai sidang yang penuh takzim itu:
“Betul Saudara bernama Goniel?” tanya hakim sidang.
“Betul Yang Mulia.” jawab si blogger terdakwa.
“Kenapa nama Anda terdengar menggelikan begitu?”
“Lho? Mana saya tahu, Yang Mulia. Nama itu sudah melekat sejak saya nge-blog.”
“Itu nama samaran atau nama asli?”
“Yang Mulia ini mau menyidang kasus saya atau mau mempersoalkan asal-usul nama saya?”
“Oh iya-ya. Lupa saya. He-he. Baiklah… Baiklah…” ujar hakim sidang itu manggut-manggut. “Nah, Saudara Jaksa, saya persilahken untuk membacakan tuduhan.”

Dan jaksa pun unjuk bicara.
“Terima kasih, Yang Mulia. Saudara Goniel, betul Anda telah absen nge-blog selama sebulan?”
“Betul, Pak Jaksa.”
“Kenapa?”
“Karena saya sedang melakukan traveling, Pak Jaksa. Kadang tidak nemu warnet atau hotspot di perjalanan. Jadinya saya terpaksa absen.”
“Lho, kan ada paket Telkomsel Flash? Bisa mobile, unlimited lagi. Kenapa Anda tidak menggunakan itu?”
“Waktu paket itu dikeluarkan, saya sudah berada di perjalanan, Pak Jaksa.”
“Ah, alasan saja Anda itu.”

Tiba-tiba dari meja seberang ada yang berteriak menyanggah,
“Maaf, Yang Mulia, kami keberatan. Pertanyaan saudara Jaksa tidak pada sasaran. Keluar konteks persoalan.” rupanya ia salah seorang pembela dari blogger Goniel.
“Keberatan diterima.” tukas hakim sidang. “Silahkan dilanjutkan, Saudara Jaksa.”
“Baik, Yang Mulia. Akan tetapi saya membawa saksi-saksi dalam persidangan ini. Sudikah Yang Mulia memberikan kesempatan pada mereka untuk saling dengar pendapat?”
“Oh, silahkan.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Nah, silahkan para saksi unjuk bicara. Jangan rebutan ya. Satu per satu.” kata jaksa mempersilahkan.

Seorang Ibu tiba-tiba mengacungkan tangan. “Nama saya Emmy. Saya hanya ingin mengatakan bahwa anak sulung saya yang tinggal di Amerika pun jarang meng-update blog-nya. Tapi ia tak pernah diajukan ke pengadilan seperti ini. Pengadilan ini terlalu mengada-ada.” serunya.
“Betul. Di Negeri Kelalawar tak pernah kudengar ada pengadilan semacam ini. Haks!” rupanya itu Pak Samali, pria asal Negeri Kelelawar.
“Sebetulnya pengadilan seperti ini boleh-boleh saja. Ini semacam peringatan bagi para blogger yang malas menulis. Kan sudah sering saya katakan: Menulis! Menulis! Menulis! Inilah akibatnya. Bagaimana menurut Sampeyan?” tukas Pak Ertis Virmansyah Abrar.
“Haks!” seru Pak Samali lagi.

“Saudara Goen, bagaimana pendapat Anda?” tanya jaksa.
“Saya? Oh…” tiba-tiba pria muda yang ditunjuk untuk unjuk bicara itu berdiri. Ia merentangkan tangan ke atas, berseru: “Di sini gunung… Di sana gunung…”
“Hei-hei-hei, kok Anda malah baca sajak?” heran jaksa.
“Blog saya isinya memang sajak semua, Pak Jaksa. Jadi beginilah cara saya mengutarakan pendapat.
“Ah, sudah-sudah!”
Dan pria itu pun kembali duduk sembari menggerutu.

“Anda sendiri bagaimana, Saudari Agoyyogya?”
“Saya? Emh… Saya sedang berpikir, Pak Jaksa. Tapi tugas saya di dalam ruang sidang ini memang hanya menggambar sketsa suasana persidangan. Mirip pengadilan di luar negeri gitu deh… Namun saya tetap berpikir kok, Pak. Tenang saja. Saya berpikir.”
“Ah, Saudari ini berpikir dan berpikiiirrr… terus.”
“Mbak Marsh?” panggil jaksa pada saksi sidang yang bergigi kelinci.
“Oh, si Goniel ini memang pemalas, Pak Jaksa. Sudah sering saya katakan untuk jangan tidur pagi. Tapi tetap saja dia tidur pagi. Dan itu sama sekali bukan menulis. Saya tau betul.”
“Dari mana Anda tau?”
“Oh, he-he, dia tidur pagi karena memang telpon-telponan sama saya, Pak. Hehe. Maapken.”
“Huuuuuuuuuuuuuuu…………!!!” terdengar sorak pengunjung sidang mengumpat.

Tok!! Tok!! Tok!! Hakim sidang memukul-mukulkan palu. Berkata:
“Tenang! Tenang! Saya harap tenang! Saudara Iboe, bisa Anda tenangkan anak asuh Anda yang Anda boyong dari Padang ke ruang sidang ini?”
“Oh, iya Pak Hakim. Iya.”
“Silahkan, Saudara Jaksa. Dilanjutkan.”
“Terima Kasih, Yang Mulia. Saudari Inung ada pendapat?”
“Iya, Pak. Si Mas ini memang bandel. Duh Mas,” tukas saudari Inung pada terdakwa Goniel, “Ade kan sudah sering bilang, jangan merokok lagi. Itu nggak baik untuk kesehatan gigi. Ini akibatnya. Mas dibawa ke pengadilan deh.”
“Duh, kamu itu kok nggak nyambung sih. Soal gigi itu urusan fakultas kita.” bisik Kristi, teman sejawat Inung.
“Duh Kakak, kenapa Kakak jadi terdakwa begini sih, Kak. Ganesya nggak tega ngeliatnya. Semoga Kakak baik-baik saja ya, Kak. Ganesya doakan Kakak tiap hari lho…”
“Pak Jaksa, kalau diizinkan, saya ingin mempersembahkan sebuah joget dangdut terkenal, terajana, Pak. Untuk memeriahkan pengadilan najis ini. Bagaimana?” usul Essy, perempuan muda yang mahir joget dangdut itu.
“Wah iya! Aku malah sudah bekal mike dari rumah. Kita bisa nyanyi bareng, Essy!” sambut Jeung Markela girang bukan kepalang.
“Di sini gunung… di sana gunung…” Goen sudah mulai kembali bersajak.
“Ah, sudah-sudah! Kalian ini! Memangnya ini ajang hiburan apa.” sergah jaksa. “Yang lainnya, silahkan lanjutkan bersaksi.”

“Menurut saya traveling itu justru lebih penting dari nge-blog.” kata Zamal el Zamul.
“Tapi ini yang dipersoalkan kan tentang nge-blog. Gimana sih?” sergah Omashiroy.
“Memang sebaiknya Mas Goniel ini menikah. Jadi ia akan tertib menulis. Bukankah begitu, Mas Goniel?” sambung Mas Zulbasri bijak.
“Tapi dia sudah sebulan lebih nggak posting. Ini nggak ada hubungannya antara blogger nikah sama blogger yang belum nikah. Nggak ada itu, nggak ada!” potong seorang Kyai yang kini sudah mantan.
“Ya. Sebulan itu waktu yang lama. Dalam sebulan biasanya ladang saya malah bisa panen kata. Ladang kata!” imbuh Lilis mengakuri.
“Di sini gunung… di sana gunung…”
“Huuuuuuuuuuuuuuu…………!!!” lagi-lagi terdengar teriakan pengunjung menyoraki Goen.

Tok!! Tok!! Tok!! Hakim sidang kembali memukul-mukulkan palu. Berteriak:
“Tenang! Tenang! Saya harap tenang! Saudari Al, bisa Anda tenangkan anak-anak SD yang Anda boyong ke ruang sidang ini?”
“Baik, Pak Hakim. Tapi saya juga gemas!”
“Gemas? Gemas sama siapa? Sama saya ya?” tanya Jeung Markela tersenyum dengan mata berkedip-kedip.
“Ha?” saudari Al terbelalak. Tubuhnya doyong hampir pingsan.

“Saudari Ikku, mungkin Anda punya argumen lain?” tanya jaksa.
“Saya? Oh, tidak Pak Jaksa. Saya hanya ingin mengajak anak saya ini jalan-jalan ke Kampung Blagu. Kebetulan hari ini dia ulang tahun.” jawab Saudari Ikku. “Bukan begitu, Sayang?” tanya Saudari Ikku tersenyum pada anaknya dalam bahasa Jepang yang fasih.
“Saya pun sependapat dengan Saudari Ikku.” timpal Masharyo. “Saya ke sini pun hanya ingin mengajak jalan-jalan Zia, anak saya yang cantik gilang gemilang ini.”
“Paklik… Maafkan Ani, Paklik. Apa ini gara-gara Ani chatting sampai pagi, sehingga Ani jadi suka bangun kebluk? Dan Paklik lupa menulis. Maafkan ya, Paklik…” sendu Ani putri Ibu Emmy.
Ani! Apa-apaan kamu!” tegur ibunya.
“Mas Goniel sih, Tarra suruh mampir ke Jogja nggak mau. Itulah akibatnya!” sebal Tarra.
“Maaf, Pak Jaksa, apa sidang ini masih berlangsung lama? Saya ada kuliah soalnya.” ujar Cakra, mahasiswa ITB itu (ITB: Institut Teknologi kampung Blagu).
“Emh, sebentar.” potong jaksa. “Saya baru saja mendapat SMS dari Ronny Serdian, katanya ia minta tolong dilaporkan mengenai jalannya sidang. Ia akan mengikuti lewat blackberry-nya. Ada yang bersedia?”
“Huuuuuuuuuuuuuuu…………!!!” teriakan pengunjung sidang terdengar kembali.

“Tenang! Tenang! Saya harap tenang!” kali ini jaksa yang meminta pengunjung sidang tenang. “Anda yang berbadan keren, kenapa Anda datang ke pengadilan ini membawa kandang kambing?”
“Oh, Saya Gentho, Pak! Saya membawa kandang kambing, karena siapa tahu si terdakwa ini mesti dikurung. Jadi saya bawakan saja kandang kambing saya. Maklum, saya habis jual kambing. Harga kambing saya yahud lho, Pak. Seekor kambing yang ciamik bisa seharga sebuah Avanza.”
“Ah, sudah-sudah.”
“Saya Gentho, Pak!”
“Sudah!!”
Gentho!”
“Woi!!!”

“Pak Jaksa dan Pak Hakim, saya mau menawarkan. Kalau memang Mas Goniel ini bersalah, saya bersedia membawanya ke Gunung Merapi. Siapa tau di sana dia bisa merenungkan segala perbuatannya. Nanti akan saya kenalkan pada penunggu Gunung Merapi.” tukas Uda Viron menawarkan diri.

Tiba-tiba,
“Mas Mamandaaaa….!!!!”
Seluruh pengunjung di ruangan sidang itu sontak menoleh ke arah suara tersebut berasal.
“Mas Mamandaaaa… Mas Mamanda kok disidang sih… Anisa kan jadi sedih…”
“Kok Mas Mamanda? Yang jadi terdakwa kan Goniel?” tanya Mbak Marsh pada Inung.
“Iya-ya. Kok Mas Niel jadi Mas Mamanda. Aneh.” heran Inung.
“Tau tuh!” timpal Mbak Kristi.
“Lebay… Lebay… Dasar lebay!” ujar Jeung Markela dengan mata melirik.
“Sayang, jangan dengarkan perempuan itu. Tutup telingamu, Sayang.” tukas Saudari Ikku pada anaknya dalam bahasa Jepang yang fasih.
“Haik, Mama.”

Suasana sidang pun sontak berubah jadi ramai. Orang-orang saling bicara. Keadaan tampak tak terkendali. Hakim dan jaksa terpana.
“Mas Mamandaaaa…!!!” teriak Anisa lagi, hendak mendekat.
“Terajanaaaa….” Essy sudah tak sabar hendak joget dangdut.
Jeung Markela sudah ambil ancang-ancang pegang mike. Otot lehernya mulai tampak.
“Di sini gunung… di sana gunung…” Goen kembali bersajak.
“Duh, kenapa jadi kacau begini sidang ini. Bagaimana menurut Sampeyan?” tanya Pak Ertis.
“Haks!” Pak Samali berkomentar pendek.
Tuan EnHa yang terkenal bijak tampak menggeleng-gelengkan kepala di sudut ruangan. “Harus diberi training orang-orang ini.” batinnya dalam hati.
Sementara Pak Suhari hanya diam seribu logat. Karena sebetulnya ia pun seorang blogger yang tak aktif juga akhir-akhir ini.

Suasana betul-betul kacau. Hakim sudah berulang kali mengetok-ngetokkan palu, tapi pengunjung sidang seakan tak peduli. Gumpalan-gumpalan kertas tampak beterbangan di udara. Sesekali ada bekas gelas air mineral mencelat di mana-mana. Anak-anak SD yang diboyong Saudari Al sudah berlari-lari ke sana ke mari. Anak asuh yang dibawa Saudara Iboe sudah memainkan rebana tanda girang. Keadaan betul-betul kacau. Acara sidang sudah sama sekali berantakan.

Dalam keadaan seperti itu, tak seorang pun tahu, diam-diam terdakwa Goniel bersijingkat menyelusup ke balik ruang sidang. Ia mencomot sebuah laptop yang tampak menganggur di sana. Dengan kecepatan jarinya ia mengetik bak kesetanan. Hanya dalam waktu beberapa menit, jadilah sebuah tulisan dengan judul Pengadilan Blogger seperti yang sedang Anda baca sekarang ini…

6 Maret 2009 | 02.22 wib

This entry was posted in Ceritera. Bookmark the permalink.

34 Responses to Pengadilan Blogger

  1. prameswari says:

    Waduuh…..bisa kesetanan begitu, berapa menit langsung dapet tulisan?? ck ck ck

    prameswari, terakhir menulis From Bandung With Love

  2. prameswari says:

    Pengadilan blogger, ih si mas berupaya mengeksplor semua sisi blogger yang nampak…… Ternyata mas amati betul semua yang jadi ciri khas para blogger. Satu persatu….mas intisarikan, betul-betul melankoli…
    Tapi protes…bukankah ade gak pernah bawa2 gigi kalo komen…….

    Soal pengadilan blogger, sebagai salah satu selebritis blog (hihihi) yang selalu ditunggu tulisannya, wajar kalo sampe diajukan ke pengadilan, kewajiban mas bikin blognya selalu ada tulisan baru………. hehehe

    Cukup menghibur tulisannya…
    sayang putusan Hakimnya jadi tak nampak
    kayaknya enaknya diputusin apa ya……
    *mikir*
    *supaya gak dikampleng semua pihak yang berkepentingan*
    kasian mas goniel, kayaknya ditarik sana-sini, meski yang ditarik, tahu betul menikmatinya

    prameswari, terakhir menulis From Bandung With Love

  3. mascayo says:

    Disini gunung … disana gunung….. Ahahahaha
    Lagi pada semedi semua mas!
    Tak pikir yang rehat ngeblog cuman saya, ternyata sak’ kampung ya pada cet macet ngeblognya. Gak tau nih, kerjaan di pabrik kok tambah banyak, kapan bisa ngeblog hehehehe….
    titip salam buat jeung markela zalianty Ahahahahaha…

    mascayo, terakhir menulis Alhamdulillah sudah seminggu saya tidak merokok

  4. Chandra says:

    Eleuh-eleuh…
    nanti kalo terbukti bersalah sepertinya si Gogon-iel bakal dihukum pake hukum DM deh!

  5. goenoeng says:

    aseeemm…aseeem !
    *ngakak, kak, kak !*
    suwe ora jamu….eh, suwe ora posting, begitu posting… edyan gini, hahaha…

  6. dyahsuminar says:

    he..he…Bunda juga bisa bisa digiring ke pengadilan nih…ternyata banyak temannya yang lagi pada macet…
    Sampai sampai bunda sms mbak Tuti nonka…kok rasanya ada perasaan MALAS banget. Tapi persoalannya kalau bagi Bunda. nih…..ini memori otak sudah terlalu penuh dengan yang lain….he..he..jadi mati ide..

  7. Yoga says:

    oalah

    Yoga, terakhir menulis Komitmen

  8. mantan kyai says:

    bhahahaa… ini pasti ada hubungannya dengan acara besok sabtu ini ya .. hmmm aku gak terdaftar :D

  9. DV says:

    HUasyuuu ndhagel tenan iki!
    Tapi dibalik dagelan ini sebenarnya melalui postingan ini, orang-orang lama sepertiku dan Windy bisa menghitung berapa tambahan gebetanmu, dan berapa orang pengagummu.

    Loh beda pengagum dan gebetan?
    Gebetan adalah orang yang “sempat” dibalas cinta olehmu,
    sedangkan pengagum adalah orang yang cuma “sempat” dibales telpon saja tanpa cinta olehmu

    Huhuahuahuahuahua!

    DV, terakhir menulis Review No Line on the Horizon

  10. karangsati says:

    saksinya keluar semua yah… hehehe

    karangsati, terakhir menulis tik him up

  11. Penulis Edyyaaaann … biarkan saja .. mas DM lagi merasa dikangeni sama banyak orang jadi edyaaan ehhehehe –terutama yg manggil mas mamanda— hahahahahhaahh.

    Kampoeng Bloger …
    Ketua RT ; ??
    Sekretaris RT : ???
    Seksi a ???
    seksi b ??

    siapa yah enaknya ?

  12. nh18 says:

    Pardon my Word Mas Dan …
    Ini Dodol Sangat … Hah !!!

    Tapi celakanya aku baca dua tiga kali …
    dari atas ke bawah … huahahaha …

    Dodol-dodol …

    (Masih tetap menggeleng-gelengkan kepala …)
    (bukan karena gumun … tapi karena ada lagu “kucing garong” yang di remix …)

    Salam saya Mas Dan

    nh18, terakhir menulis EKSKUL ANAKKU

  13. dana says:

    Jadinya si goniel dihukum berapa lama nih?

    dana, terakhir menulis Perjuangan Hidup

  14. marsh says:

    wakakakak! kasian banget kampung blagu jadi ancur-ancuran kayak gini. duh, sabar… sabar… *mengurut-urut dada*
    goniel, how could you ruin the kampung such miserably. *sob*

    tapi aku jadi tertarik membahas kekuatan sebuah ide.

    sungguh menakjubkan bagaimana ide menulis bisa datang dari mana saja. sebut saja semadi, kontemplasi, pengamatan, hingga bukan tak mustahil melalui sebuah pembicaraaan tak penting lepas tengah malam, saat mata sudah layu dan otak sudah kekurangan oksigen, momen yang rasanya sebuah ide tak mungkin nongol dan dimatangkan.

    tapi ternyata tak ada yang mustahil dalam menulis. bila sebuah ide sudah mencelat, mata dan otak yang loyo pun bisa sontak terjaga, bersemangat merawikannya. itulah kehebatan sebuah ide: dia mampu menggerakkan! dan proses kreativitas dalam mewujudkannya pun menjadi hal yang tak kalah menarik untuk dicermati, mengalahkan rasa kantuk itu sendiri.

    *iya, iya, ini komen lebay banget. bare with it, okay?*

    marsh, terakhir menulis Longed Luxurious Leisure Time

  15. omoshiroi says:

    tulisannya kerasa ngebut..jadi ngos-ngosan mbacanya,,

    omoshiroi, terakhir menulis Nyewa Film Bag. 2

  16. tanti says:

    Dengan terbitnya postingan ini kelihatannya si Goniel terbebas dari tuduhan pertama…
    tapi ada tuduhan berikutnya yaitu…membuat keributan di kampung Blagu.. :D

    tanti, terakhir menulis Habis Gelap Terbitlah Terang

  17. anisa says:

    mas mahendra ceritanya lucuuuuu…….
    anisa ada juga hihihihihiiii…….ngak nyangka mas mahendra ingat mau bikin anisa disana……
    tapi ceritanya ada betulnya siy kalau mas mahendra di adili anisa pasti sedih dan akan mendukung mas mahendra 1000 persen !!!
    mas mahendra mau menggambarkan kampung belagu yg penuh bermacam macam blogger atau menggambarkan pengadilan dinegara kita yg juga mirip pertunjukan sirkus ???
    rasanya pengadilan kayak gini lbh mirip pengadilan di indonesia deh….. bukan suasana diruangan sidangnya yg ribut tp soal pengadilannya yg ngak serius hanya sandiwara aja dan banyak rekayasa . ini sih menurut anisa siy……..
    duh anisa ngomongnya berani banget ya ???

  18. edratna says:

    DV…definisimu kurang pas…
    Gebetan, orang yang ditaksir diam-diam, yang bersangkutan pun tak tahu

    Pengagum
    Sebetulnya agak mirip sih, cuma pengagum ini ada yang secara langsung terlihat. Kalau gebetan kadang orang lain nggak melihat, malah yang di gebet sendiripun tidak…

    Kita sendiri bisa menghitung, sejak beberapa bulan ini (sejak cerber itu ya), berapa sebetulnya anggota DMFC….hihihi….DV, aku ga melok-melok lho!

    edratna, terakhir menulis Menunggu dengan hati berdebar

  19. Gue gak ngerti boss…ini apaan siy???

    PLAKKKKK!!!

    *ditampar Yang bikin tulisan*

    @DV
    Lo belum pinter bedain mana gebetan dan mana pengagum Don, belajar lagi sama gue….

    @DM
    Ya kan? Si DV itu cuma sok pinter kan Dan :P … *hihihihihi*

  20. imoe says:

    hahahahahahahahahahahahahahahah
    hahahahahahahahahahahahahahahah
    hahahahahahahahahahahahahahahah

    lagi stress ya bos….tapi asyik ceritanya….saya jadi ngakak niy hahahahahaha
    hahahahahaha padahal semula saya berharap untuk mengetahuikelanjutan perjalanan DAN ehhhhhh tau tau nya ada ribut-ribut di ruang sidang dan itu sidang macam apaan tuh hahahahahahahahahahahahahahahahahahah

    Hajar terusssssssssss

    BTW, menurut catatan saya yang agak lama update blog :
    1. Pak Suhadi
    2. Pak Zulmasri

    Ayo dong pak mana tuh update an nya…..

    imoe, terakhir menulis …aborsi…

  21. AL says:

    @Anisa
    Kalau mas Mahendra gak ingat Anisa, AFC bakal tereak-tereak nis… MASA SIH dilupain seorang Anisa.

    @DM
    Selanjutnya. Salah seorang anak didik Al tereak-tereak.
    “Ibuuuuuu, temennya ibu itu mana?’
    Temen yang mana?
    ‘Itu, yang lagi diadili itu. Kok gak ada ya?’
    Waduh, kemana tu orang.
    ‘Jangan-jangan kabur, bu..’
    ‘Emang boleh ya bu, kabur gitu?’
    Ngngng.. (bu Alifia bingung delik hukumnya)
    Emangnya, baik ya kalau kita lari dari masalah? Begitu ada masalah, bukannya dihadapi, malah kabur? Bagus gak ya?
    ‘Enggak, harusnya kita ngadepin masalah bu..’
    Nah, kalau gitu, tindakan pak Goniel itu, bukan contoh yang patut ditiru yang nak…

    Lucu pak Daniel, akhirnya kisah kampung blagu berlanjut lagi :)

    AL, terakhir menulis Bu Guru Kok Memberi Gambar yang Tidak Senonoh?

  22. p u a k says:

    Heboh banget tuh mas, kalo beneran kejadian sidang Blogger yang lama banget nggak nulis postingan… heheh..
    sip..sip.. :D

    p u a k, terakhir menulis Perbincangan Malam (Blog Bermasalah)

  23. Ria says:

    Blogger kan juga manusia :D
    emangnya salah kalo gak nulis karena gak ada waktu atau gak ada ide?
    kasian banget si Gonie….makanya jng tenar2 Pak Gonie…ya kalau namanya orang tenar apalagi tulisannya bagus2, sekali lama update blog bisa di hakiminorang sekampung :D

    Keep writing mas…dalam media apapun :)

    Ria, terakhir menulis Pertemuan heboh itu

  24. genthokelir says:

    saya sudah sediakan satu kandang untuk terdakwa hahahahaha
    oh kampung blagu hahaha

  25. suryaden says:

    kampung yang indah sepertnya, meskipun hakimnya juga belum ada postinganya…

    suryaden, terakhir menulis Internet Explorer 8 bisa dicopot di Windows 7

  26. AFDHAL says:

    wuihhh…asyikkk n keren

    kunjungan perdana nih setelah ketemuan dibandara jogja
    :)

  27. vizon says:

    sujud syukur… saya tidak ikutan jadi “terdakwa”, hehehe… :)

    vizon, terakhir menulis bocah kweni vs blogger

  28. anak ilang says:

    Hayah…lebay banget sih. Lah blog aq aja yang sudah di buat dengan susah payah saat ini sedang terlantar belum tak urus-urus. Hiks,,hiks,,hiks,,

    Musiiiiikk……

    Pak hakim dan pak jaksa kapan saya akan di sidang sudah tiga bulan di tahan belum juga dapat panggilan…….

  29. Tuti Nonka says:

    Kayaknya saya pernah ketemu deh sama terdakwa ini … tapi nggak nyangka kalau dia jadi terdakwa :D

    Tuti Nonka, terakhir menulis BBB … Bila Bloger Bernyanyi

  30. Juliach says:

    Pak Hakim, aku khan lagi honeymoon masak seh disuruh tunyuk-tunyuk komputer!

    Juliach, terakhir menulis Jangan Bangga dengan Negara Orang Lain

  31. perempuan says:

    syukurnyaa,, aq jarang apdet tapi lolos dari jeratan kursi panas meja hijau hahaks..
    *kaburrr…

  32. Imong says:

    Hehehe….lucu…jadi tergelitik untuk meninggalkan jejak disini….semoga ikut terlecut dan tidak ikut diseret jadi pesakitan di Pengadilan Blogger…. :-)
    salam kenal Bung DM…. :-)

    Imong, terakhir menulis Hiatus….

  33. ircham says:

    hehehehehe… salam kenal brow….

    numpang lewat…

    ircham, terakhir menulis Remaja Cabul Dituntut Lima Tahun

  34. Hery Azwan says:

    Lucu lucu pengadilannya…
    Untung saya nggak ada tugas meliput di pengadilan tsb, sehingga nggak ikut2an terlibat. He he…

    Hery Azwan, terakhir menulis Ono Turi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>