penganyamkata.net
current   |   rss

Pengadilan Blogger

Published March 6, 2009

Dalang: Ki Daniel Mahendra

Syahdan, di sebuah kampung (sebut saja Kampung Blagu), tersebutlah seorang blogger yang dituduh tidak aktif nge-blog. Ini tampak dari blog-nya yang sudah sebulan lebih tak ada postingan baru. Awalnya para blogger masih sabar menunggu, siapa tahu setiap matahari terbit ada postingan anyar di sana. Tapi tunggu punya tunggu, tetap tak ada tulisan baru.

Masyarakat blogger pun ribut, saling gunjing, dan mulai memprotes. Akhirnya si blogger pun diajukan ke pengadilan. Dengan tuduhan: tidak aktif nge-blog selama sebulan!

Suasana ruang sidang pagi itu tampak ramai, hiruk-pikuk, serta riuh rendah oleh kehadiran para blogger Kampung Blagu yang jumlah warganya tak seberapa itu. Mereka menanti-nanti bagaimana pengadilan memutuskan nasib si blogger sial itu.

Di satu sisi, ada sebagian blogger yang jengkel betul pada si blogger. Karena sudah sebulan tak menyuguhkan apa-apa pada pembaca. Tapi di sisi lain, ada juga sebagian blogger yang menjadi tak tega: kok persoalan seperti ini jadi serius. Sampai dibawa ke pengadilan segala. Namun dari kesemuanya, para blogger itu menanti-nanti hal yang sama: penasaran!

Tampak hakim memulai sidang yang penuh takzim itu:
“Betul Saudara bernama Goniel?” tanya hakim sidang.
“Betul Yang Mulia.” jawab si blogger terdakwa.
“Kenapa nama Anda terdengar menggelikan begitu?”
“Lho? Mana saya tahu, Yang Mulia. Nama itu sudah melekat sejak saya nge-blog.”
“Itu nama samaran atau nama asli?”
“Yang Mulia ini mau menyidang kasus saya atau mau mempersoalkan asal-usul nama saya?”
“Oh iya-ya. Lupa saya. He-he. Baiklah… Baiklah…” ujar hakim sidang itu manggut-manggut. “Nah, Saudara Jaksa, saya persilahken untuk membacakan tuduhan.”

Dan jaksa pun unjuk bicara.
“Terima kasih, Yang Mulia. Saudara Goniel, betul Anda telah absen nge-blog selama sebulan?”
“Betul, Pak Jaksa.”
“Kenapa?”
“Karena saya sedang melakukan traveling, Pak Jaksa. Kadang tidak nemu warnet atau hotspot di perjalanan. Jadinya saya terpaksa absen.”
“Lho, kan ada paket Telkomsel Flash? Bisa mobile, unlimited lagi. Kenapa Anda tidak menggunakan itu?”
“Waktu paket itu dikeluarkan, saya sudah berada di perjalanan, Pak Jaksa.”
“Ah, alasan saja Anda itu.”

Tiba-tiba dari meja seberang ada yang berteriak menyanggah,
“Maaf, Yang Mulia, kami keberatan. Pertanyaan saudara Jaksa tidak pada sasaran. Keluar konteks persoalan.” rupanya ia salah seorang pembela dari blogger Goniel.
“Keberatan diterima.” tukas hakim sidang. “Silahkan dilanjutkan, Saudara Jaksa.”
“Baik, Yang Mulia. Akan tetapi saya membawa saksi-saksi dalam persidangan ini. Sudikah Yang Mulia memberikan kesempatan pada mereka untuk saling dengar pendapat?”
“Oh, silahkan.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Nah, silahkan para saksi unjuk bicara. Jangan rebutan ya. Satu per satu.” kata jaksa mempersilahkan.

Seorang Ibu tiba-tiba mengacungkan tangan. “Nama saya Emmy. Saya hanya ingin mengatakan bahwa anak sulung saya yang tinggal di Amerika pun jarang meng-update blog-nya. Tapi ia tak pernah diajukan ke pengadilan seperti ini. Pengadilan ini terlalu mengada-ada.” serunya.
“Betul. Di Negeri Kelalawar tak pernah kudengar ada pengadilan semacam ini. Haks!” rupanya itu Pak Samali, pria asal Negeri Kelelawar.
“Sebetulnya pengadilan seperti ini boleh-boleh saja. Ini semacam peringatan bagi para blogger yang malas menulis. Kan sudah sering saya katakan: Menulis! Menulis! Menulis! Inilah akibatnya. Bagaimana menurut Sampeyan?” tukas Pak Ertis Virmansyah Abrar.
“Haks!” seru Pak Samali lagi.

“Saudara Goen, bagaimana pendapat Anda?” tanya jaksa.
“Saya? Oh…” tiba-tiba pria muda yang ditunjuk untuk unjuk bicara itu berdiri. Ia merentangkan tangan ke atas, berseru: “Di sini gunung… Di sana gunung…”
“Hei-hei-hei, kok Anda malah baca sajak?” heran jaksa.
“Blog saya isinya memang sajak semua, Pak Jaksa. Jadi beginilah cara saya mengutarakan pendapat.
“Ah, sudah-sudah!”
Dan pria itu pun kembali duduk sembari menggerutu.

“Anda sendiri bagaimana, Saudari Agoyyogya?”
“Saya? Emh… Saya sedang berpikir, Pak Jaksa. Tapi tugas saya di dalam ruang sidang ini memang hanya menggambar sketsa suasana persidangan. Mirip pengadilan di luar negeri gitu deh… Namun saya tetap berpikir kok, Pak. Tenang saja. Saya berpikir.”
“Ah, Saudari ini berpikir dan berpikiiirrr… terus.”
“Mbak Marsh?” panggil jaksa pada saksi sidang yang bergigi kelinci.
“Oh, si Goniel ini memang pemalas, Pak Jaksa. Sudah sering saya katakan untuk jangan tidur pagi. Tapi tetap saja dia tidur pagi. Dan itu sama sekali bukan menulis. Saya tau betul.”
“Dari mana Anda tau?”
“Oh, he-he, dia tidur pagi karena memang telpon-telponan sama saya, Pak. Hehe. Maapken.”
“Huuuuuuuuuuuuuuu…………!!!” terdengar sorak pengunjung sidang mengumpat.

Tok!! Tok!! Tok!! Hakim sidang memukul-mukulkan palu. Berkata:
“Tenang! Tenang! Saya harap tenang! Saudara Iboe, bisa Anda tenangkan anak asuh Anda yang Anda boyong dari Padang ke ruang sidang ini?”
“Oh, iya Pak Hakim. Iya.”
“Silahkan, Saudara Jaksa. Dilanjutkan.”
“Terima Kasih, Yang Mulia. Saudari Inung ada pendapat?”
“Iya, Pak. Si Mas ini memang bandel. Duh Mas,” tukas saudari Inung pada terdakwa Goniel, “Ade kan sudah sering bilang, jangan merokok lagi. Itu nggak baik untuk kesehatan gigi. Ini akibatnya. Mas dibawa ke pengadilan deh.”
“Duh, kamu itu kok nggak nyambung sih. Soal gigi itu urusan fakultas kita.” bisik Kristi, teman sejawat Inung.
“Duh Kakak, kenapa Kakak jadi terdakwa begini sih, Kak. Ganesya nggak tega ngeliatnya. Semoga Kakak baik-baik saja ya, Kak. Ganesya doakan Kakak tiap hari lho…”
“Pak Jaksa, kalau diizinkan, saya ingin mempersembahkan sebuah joget dangdut terkenal, terajana, Pak. Untuk memeriahkan pengadilan najis ini. Bagaimana?” usul Essy, perempuan muda yang mahir joget dangdut itu.
“Wah iya! Aku malah sudah bekal mike dari rumah. Kita bisa nyanyi bareng, Essy!” sambut Jeung Markela girang bukan kepalang.
“Di sini gunung… di sana gunung…” Goen sudah mulai kembali bersajak.
“Ah, sudah-sudah! Kalian ini! Memangnya ini ajang hiburan apa.” sergah jaksa. “Yang lainnya, silahkan lanjutkan bersaksi.”

“Menurut saya traveling itu justru lebih penting dari nge-blog.” kata Zamal el Zamul.
“Tapi ini yang dipersoalkan kan tentang nge-blog. Gimana sih?” sergah Omashiroy.
“Memang sebaiknya Mas Goniel ini menikah. Jadi ia akan tertib menulis. Bukankah begitu, Mas Goniel?” sambung Mas Zulbasri bijak.
“Tapi dia sudah sebulan lebih nggak posting. Ini nggak ada hubungannya antara blogger nikah sama blogger yang belum nikah. Nggak ada itu, nggak ada!” potong seorang Kyai yang kini sudah mantan.
“Ya. Sebulan itu waktu yang lama. Dalam sebulan biasanya ladang saya malah bisa panen kata. Ladang kata!” imbuh Lilis mengakuri.
“Di sini gunung… di sana gunung…”
“Huuuuuuuuuuuuuuu…………!!!” lagi-lagi terdengar teriakan pengunjung menyoraki Goen.

Tok!! Tok!! Tok!! Hakim sidang kembali memukul-mukulkan palu. Berteriak:
“Tenang! Tenang! Saya harap tenang! Saudari Al, bisa Anda tenangkan anak-anak SD yang Anda boyong ke ruang sidang ini?”
“Baik, Pak Hakim. Tapi saya juga gemas!”
“Gemas? Gemas sama siapa? Sama saya ya?” tanya Jeung Markela tersenyum dengan mata berkedip-kedip.
“Ha?” saudari Al terbelalak. Tubuhnya doyong hampir pingsan.

“Saudari Ikku, mungkin Anda punya argumen lain?” tanya jaksa.
“Saya? Oh, tidak Pak Jaksa. Saya hanya ingin mengajak anak saya ini jalan-jalan ke Kampung Blagu. Kebetulan hari ini dia ulang tahun.” jawab Saudari Ikku. “Bukan begitu, Sayang?” tanya Saudari Ikku tersenyum pada anaknya dalam bahasa Jepang yang fasih.
“Saya pun sependapat dengan Saudari Ikku.” timpal Masharyo. “Saya ke sini pun hanya ingin mengajak jalan-jalan Zia, anak saya yang cantik gilang gemilang ini.”
“Paklik… Maafkan Ani, Paklik. Apa ini gara-gara Ani chatting sampai pagi, sehingga Ani jadi suka bangun kebluk? Dan Paklik lupa menulis. Maafkan ya, Paklik…” sendu Ani putri Ibu Emmy.
Ani! Apa-apaan kamu!” tegur ibunya.
“Mas Goniel sih, Tarra suruh mampir ke Jogja nggak mau. Itulah akibatnya!” sebal Tarra.
“Maaf, Pak Jaksa, apa sidang ini masih berlangsung lama? Saya ada kuliah soalnya.” ujar Cakra, mahasiswa ITB itu (ITB: Institut Teknologi kampung Blagu).
“Emh, sebentar.” potong jaksa. “Saya baru saja mendapat SMS dari Ronny Serdian, katanya ia minta tolong dilaporkan mengenai jalannya sidang. Ia akan mengikuti lewat blackberry-nya. Ada yang bersedia?”
“Huuuuuuuuuuuuuuu…………!!!” teriakan pengunjung sidang terdengar kembali.

“Tenang! Tenang! Saya harap tenang!” kali ini jaksa yang meminta pengunjung sidang tenang. “Anda yang berbadan keren, kenapa Anda datang ke pengadilan ini membawa kandang kambing?”
“Oh, Saya Gentho, Pak! Saya membawa kandang kambing, karena siapa tahu si terdakwa ini mesti dikurung. Jadi saya bawakan saja kandang kambing saya. Maklum, saya habis jual kambing. Harga kambing saya yahud lho, Pak. Seekor kambing yang ciamik bisa seharga sebuah Avanza.”
“Ah, sudah-sudah.”
“Saya Gentho, Pak!”
“Sudah!!”
Gentho!”
“Woi!!!”

“Pak Jaksa dan Pak Hakim, saya mau menawarkan. Kalau memang Mas Goniel ini bersalah, saya bersedia membawanya ke Gunung Merapi. Siapa tau di sana dia bisa merenungkan segala perbuatannya. Nanti akan saya kenalkan pada penunggu Gunung Merapi.” tukas Uda Viron menawarkan diri.

Tiba-tiba,
“Mas Mamandaaaa….!!!!”
Seluruh pengunjung di ruangan sidang itu sontak menoleh ke arah suara tersebut berasal.
“Mas Mamandaaaa… Mas Mamanda kok disidang sih… Anisa kan jadi sedih…”
“Kok Mas Mamanda? Yang jadi terdakwa kan Goniel?” tanya Mbak Marsh pada Inung.
“Iya-ya. Kok Mas Niel jadi Mas Mamanda. Aneh.” heran Inung.
“Tau tuh!” timpal Mbak Kristi.
“Lebay… Lebay… Dasar lebay!” ujar Jeung Markela dengan mata melirik.
“Sayang, jangan dengarkan perempuan itu. Tutup telingamu, Sayang.” tukas Saudari Ikku pada anaknya dalam bahasa Jepang yang fasih.
“Haik, Mama.”

Suasana sidang pun sontak berubah jadi ramai. Orang-orang saling bicara. Keadaan tampak tak terkendali. Hakim dan jaksa terpana.
“Mas Mamandaaaa…!!!” teriak Anisa lagi, hendak mendekat.
“Terajanaaaa….” Essy sudah tak sabar hendak joget dangdut.
Jeung Markela sudah ambil ancang-ancang pegang mike. Otot lehernya mulai tampak.
“Di sini gunung… di sana gunung…” Goen kembali bersajak.
“Duh, kenapa jadi kacau begini sidang ini. Bagaimana menurut Sampeyan?” tanya Pak Ertis.
“Haks!” Pak Samali berkomentar pendek.
Tuan EnHa yang terkenal bijak tampak menggeleng-gelengkan kepala di sudut ruangan. “Harus diberi training orang-orang ini.” batinnya dalam hati.
Sementara Pak Suhari hanya diam seribu logat. Karena sebetulnya ia pun seorang blogger yang tak aktif juga akhir-akhir ini.

Suasana betul-betul kacau. Hakim sudah berulang kali mengetok-ngetokkan palu, tapi pengunjung sidang seakan tak peduli. Gumpalan-gumpalan kertas tampak beterbangan di udara. Sesekali ada bekas gelas air mineral mencelat di mana-mana. Anak-anak SD yang diboyong Saudari Al sudah berlari-lari ke sana ke mari. Anak asuh yang dibawa Saudara Iboe sudah memainkan rebana tanda girang. Keadaan betul-betul kacau. Acara sidang sudah sama sekali berantakan.

Dalam keadaan seperti itu, tak seorang pun tahu, diam-diam terdakwa Goniel bersijingkat menyelusup ke balik ruang sidang. Ia mencomot sebuah laptop yang tampak menganggur di sana. Dengan kecepatan jarinya ia mengetik bak kesetanan. Hanya dalam waktu beberapa menit, jadilah sebuah tulisan dengan judul Pengadilan Blogger seperti yang sedang Anda baca sekarang ini…

6 Maret 2009 | 02.22 wib