(The Waiting Is Almost Over: 26)
Petualang merasa sepi, merasa sunyi, sendiri di kelam hari. Petualang jatuh terkulai, namun semangatnya bagai matahari (Kantata Takwa, Sang Petualang)
Selama di Gunung Kelir, kerjaku hanya tergeletak di kasur dengan laptop yang terus terbuka dalam keadaan online. Kepalaku masih berat bagaikan diganduli batu sebesar gunung. Mas Totok sudah berusaha mencarikan obat warung alakadarnya. Betapa pun terima kasihku untuk itu.
Namun praktis selama di sana aku tak bisa beraktivitas lepas di alam bebas. Ke kamar mandi sempoyongan, berjalan saja limbung, apalagi mesti melakukan aktivitas berat. Hari Jum’at sakitku makin menjadi. Badan ini maunya digolekkan saja tanpa hasrat keinginan.
Mas Suryaden dan Mas Senoaji masih asyik berinternet tanpa tanding. Mas Totok sesekali nimbrung ke ruangan. Suasana senyap, sepi, seperti di kuburan. Padahal ada orang. Lha, gerangan apa yang mereka lakukan? Ya nge-net. He-he.
Aku absen Jum’atan siang ini. (Weh, jangan kalian tiru!). Seharian aku tidur, bangun, sarapan, tidur, makan siang, lalu tidur lagi. Keluarga Mas Totok selalu menghidangkan jamuan makan tanpa terlewat sedikit pun. Sampai-sampai aku sedikit protes pada Mas Totok:
“Mas, perasaan di sini kok sering banget makan sih? Dikit-dikit makan. Habis makan, diajak makan lagi.”
“Lho… di sini itu dingin. Jadi mesti banyak makan.” terang Mas Totok sembari menyendok nasi tambah. Ia memang selalu tambah kalau makan.
Sorenya aku tertidur lagi karena tak kuat mendirikan badan. Aku betul-betul lemah. Selepas Isya aku terbangun. Keadaan sunyi senyap. Bablas lagi sholat Maghrib (betul-betul tak terpuji kelakuan petualang sableng satu ini!).
Weh, pada ke mana orang-orang? Aku berjalan limbung ke kamar mandi. Adik Mas Totok menghidangkan kopi dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat.
“Kopinya, Mas.” ujar adik Mas Totok.
Aku mengangguk sembari menelan ludah. Haih, sedang sakit begini kok disuguhi kopi? (tak tahu diri benar tamu Mas Totok yang satu ini. Sudah disuguhi, protes pulak!).
Mas Totok mengerti gelagatku. “Teh panas aja ya, Mas? Pasti sedap!”
Aku tersenyum girang. “Mas Suryaden sama Mas Senoaji ke mana, Mas?”
“Sudah pulang sore tadi. Sampeyan masih tidur.”
Duh, ada perasaan gulana di hatiku. Aku belum ngobrol banyak dengan mereka. Baru ngobrol sekadarnya saja.
“Rokok Sampeyan masih ada?” tanya Mas Totok.
“Duh Mas, aku kan sedang sakit. Masa’ ngerokok. Tapi absen merokok berarti mengkhianti sumpah perokok sejati ya, Mas?”
“Wah, iya.” jawab Mas Totok nyengir. Sableng juga gentho Kelir satu ini, batinku ngakak.
“Kalo sakit gini biasanya Dji Sam Soe, Mas. Racikannya lebih pas di tenggorakan” kelakarku menggoda Mas Totok.
Siapa nyana, Mas Totok sontak memanggil adiknya untuk membelikan sebungkus Dji Sam Soe di warung.
“Woi Mas, aku ki guyooonnn…”
“Alah. Wis ndak po-po!”
“Mas?!”
“Wis!”
“Mas?!”
“Hus!”
Dan aku pasrah. Hi-hi-hi.
Malam itu Mas Tok sedang chatting dengan seseorang di Surabaya. Awalnya tiga ekor siluman dari Surabaya itu hendak menggunakan kereta Sancaka ke Jogja. Merapat ke Gunung Kelir. Namun Mas Totok berhasil mengompori mereka untuk secepatnya datang. Akhirnya tiga ekor siluman itu berangkat menggunakan bis malam itu juga. Aku tertidur lagi.
Esok paginya, meski keadaan tubuh sudah sedikit membaik, aku sempoyongan ke kamar mandi. Tujuan? Cuci pakaian. Apa boleh buat, pakaianku habis! Setelah itu, tergeletak lagi di tempat tidur. Mas Totok mengabari hendak turun ke Jogja. Menjemput tiga ekor siluman asal Surabaya. Tiba-tiba terbersit untuk ikut turun ke Jogja. Tujuan? Reservasi tiket kereta.
Mas Totok menyarankan agar aku menggunakan bis saja untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Awalnya aku bersikeras pakai kereta demi menyadari kondisiku. Tapi aku kalah argumen. Lagi-lagi masih belum tahu kapan hendak turun dari Gunung Kelir. Lantas Mas Totok turun ke Jogja dengan pesanan vitamin dariku. Aku tertidur lagi.
Siang hari terbangun, kudengar ramai-ramai di ruang sebelah. Sepertinya tiga ekor siluman dari Surabaya telah datang. Aku berusaha bangun. Berjalan tertatih. Aha, betul saja! Di ruang sebelah kulihat Mas Totok sedang kumpul bersama Mas Ardyansah yang Mantan Kyai itu, Mas Gajah Pesing, dan Kang Arai. Kami bersalaman.
Ini rupanya sosok Mantan Kyai yang tersohor itu? Weh-weh-weh, dagunya berjanggut. Kiranya tidak lah berlebihan jika kugelari dia dengan sebutan ‘Pangeran Berjanggut’. Badannya tinggi besar. Kalau berjalan kukuh sekali. Sekilas orang yang melihat bakal mendapat kesan seram dan serius. Tapi tungguhlah beberapa menit sampai ia mengeluarkan kata-kata pertama, niscaya kita bakal tahu: Mantan Kyai kocak tanpa tanding!
Blog Mantan Kyai, meski hitam kelam, sesungguhnya cukup menarik. Rawian-rawiannya sangat lincah. Ia sangat menguasai kosakata. Tak banyak kutemui blogger yang kaya akan kosakata. Kalau kita membaca, tulisannya terasa bergerak. Ia bisa meracik tulisan yang sesungguhnya serius dengan olahan yang empuk, renyah, dan sedap ketika disuguhkan. Sudah lama aku mengikuti tulisannya yang amit-amit kocak tapi gurih itu.
Aku tahu, sejak mulai aktif berkunjung ke blog-nya, aku merasa bakal bertemu dengannya. Entah di mana, entah kapan, aku merasa bakal bertemu. Siapa nyana, kami bertemu di Gunung Kelir. Masih dalam keadaan sempoyongan aku ikut bergabung bersama mereka.
“Kutunggu di Surabaya nggak nongol-ngongol, Mas?” tembak Mantan Kyai.
“He-he. Nyatanya kita ketemu di Gunung Kelir toh.”
Kami pun tertawa-tawa.
Sore harinya Mas Totok mengajak ke Gua Seplawan. Letaknya tak jauh dari rumah Mas Totok. Yah, jaraknya kira-kira sepelemparan tombak lah. Menghabiskan waktu paling banyak satu batang rokok mungkin. Masih dengan kondisi sempoyongan aku ikut mereka. Kali ini berlima naik Katana.
Gua Seplawan berada di ketinggian 700 mdpl. Terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 km ke arah timur kota Purworejo. Daya tarik gua ini berupa lukisan alam yang sangat artistik pada dinding guanya. Di sana kita masih bisa menyaksikan stalagmit, stalaktit, flow stone, helekit, soda straw dan gouwer dam.
Panjang Gua Seplawan kurang lebih sejauh 700 m dengan cabang-cabang gua yang memiliki panjang sekitar 150–300 m serta berdiameter 15 m. Gua alam ini mulai menjadi sangat terkenal pada saat ditemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi Pawestri seberat 1,5 kg pada 28 Agustus 1979 yang kini sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Satu hal yang tak kalah menarik, di sana terdapat gardu pandang dengan latar belakang Gunung Kelir. Melalui gardu ini kita dapat menikmati indahnya panorama alam di mana bila cuara cerah, Kota Jogjakarta dapat terlihat dengan jelas. Maka sebelum turun ke gua, kami naik ke gardu pandang.
“Yang sebelah kiri itu Gunung Merapi. Dan di sebelahnya Merbabu. Sementara di kanan itu laut selatan. Kelihatan kan garis pantainya?” terang Mas Totok.
Wih, betul juga. Dari sini kita bisa memandang ke segala arah. Meski masih sakit, aku tetap nekat duduk di bibir bukit. Sekitar atu meter di depan kami merupakan jurang. Berdua dengan Mas Totok aku bincang-bincang di sana. Dia menjeprat-jepretkan kameranya.
“Weh, wajahku kuyu sakit begini kok difoto-foto.”
“Lha, kalau nggak sakit apa nggak kuyu juga?”
“Sialan!”
Tak berapa lama kami turun. Bertiga dengan Kang Arai dan Mas Totok kami turun ke Gua Seplawan. Hari sudah melewati waktu Maghrib. Keadaan gelap gulita. Gua Seplawan berada di bawah bukit.
“Nggak mungkin masuk. Nggak ada lampu. Gelap sama sekali.” kata Mas Totok.
Weh, keadaan memang sungguh gelap dan sunyi. Apalagi waktu Maghrib baru saja lewat. Suasana mencekam mulai terasa. Mas Totok mengajak kembali ke atas. Aih, padahal yang seram-seram begitu selalu membuatku tertantang. Tapi mengapa mesti gegabah, pikirku. Aku pun manda pada Mas Totok.
Berlima kami nongkrong di warung dekat pintu masuk. Menyeruput kopi, teh panas, dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat. Aku menyulut sebatang kretek, tapi mulutku rasanya tak nikmat sama sekali. Usai obrol-obrol, kami turun, kembali ke rumah. Perjalanan pulang menggunakan Katana sungguh gelap sama sekali.
Sesampai di rumah, rupanya malam itu Gunung Kelir kedatangan tamu lagi. Mas Suryaden dan Mas Senoaji kembali naik ke Gunung Kelir. Maka jumlah blogger dalam sidang terbuka forum Gunung Kelir pun bertambah. Total jenderal: tujuh orang blogger menyemut di sana. Mas Totok, Mas Ardyansah si Mantan Kyai itu, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, Mas Senoaji, dan tentu saja si Pengayam Kata. Acara? Majelis blogger berupa ha-ha hi-hi sembari nge-net tentu saja. Sableng tenan!
Atmosfir semarak, mesra, penuh kelakar, dan nge-blog! Weh, para blogger ini nggak bisa nggak nge-blog barang sesaat apa? Demikian juga aku. Tapi dengan sangat menyesal aku mesti pamit undur diri. Tubuhku belum bisa diajak begadang dan terjaga berlama-lama. Tanpa sadar aku tertidur dengan laptop masih dalam pelukan.
Aku merasa seri The Waiting Is Almost Over kali ini terasa datar dengan alur yang lamban. Terkesan sangat diary yang sesungguhnya tak begitu kusuka. Apa boleh buat, kondisi tubuh tak mengizinkan pikiran untuk berolah rasa secara lebih luas. Namun aku harus menuliskan pertemuan kali ini. Karena menulis bagiku adalah tugas. Baik tugas pribadi maupun tugas nasional (tsah!).
Pertemuan kali ini memiliki kesan tersendiri bagiku. Dalam perjalanan panjang ini, makin hari makin banyak kawan-kawan blogger yang kutemui. Orang-orang yang sebelumnya tak kukenal sama sekali kecuali melalui dunia maya.
Apakah perjalanan ini mesti tetap dilanjutkan, atau kembali pulang sejenak? Dalam kondisi sakit begini tiba-tiba aku merasa ingin berada di rumah. Apa sebetulnya yang hendak kucari? Petualangan? Pengalaman batin? Atau sekadar pemenuh catatan harian? Aku ngungun sendiri menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Sayapku patah-patah di Gunung Kelir.
Namun demikian, ribuan terima kasihku pada Mas Totok, Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, dan Mas Senoaji yang membuat pertemanan ini terasa nyata. Daftar nama sahabatku makin bertambah saja di setiap kota.
Di luar bulan mulai mengantuk. Malam minggu kali ini aku kembali menggigil di balik selimut.
Gunung Kelir, 15 Maret 2009.

gajah_pesing, Mantan Kyai, aRai, dan Penganyam Kata.
Foto dipinjam dari blog Kang Arai. Nuhun.
sebebas camar engkau berteriak
setabah nelayan menembus badai
seikhlas karang menunggu ombak
seperti lautan engkau bersikap
.
ya, sang petualang terjaga
ya, sang petualang bergerak
ya, sang petualang terkapar
ya, sang petualang sendiri
.
(Kantata Takwa, Sang Petualang)




Wew….temu blogger….seru… Hebat mas Tok bisa membuat para blogger datang bareng kesana. Tentu saja internet unlimited itu salah satu daya tariknya….. membuat diam seribu bahasa…. Dan si Dan (si Dan yang berfoto Daniel Mahendra??) bisa bertemu muka dengan blogger yang selama ini hanya berjumpa maya. Pangeran berjanggut? kok gak nampak janggutnya …..
Sayang yang menuliskannya karena sedang sakit jadi alur ceritanya menjadi lambat dan mendayu-dayu.aihh
Kebayang saat mas menuliskan sempoyongan, mas berjalan kekanan kekiri sambil megangin tembok…. hihihi
Menggigil di balik selimut ya…. aduhh kacian. Ntar kalo ke gunung kelir lagi….musti siap obat2annya yang lengkap, kalo perlu dokternya sekalian… hehehe
prameswari, terakhir menulis Met Ultah mbak Tan…….
Pak Janggut inikah yang memberikan salam untukku? Atau ada pak Janggut lain yang tak kukenal?
Untung tidak nekat masuk gua dalam gelap, kalau tidak bisa menjadi flintstone….
“terasa datar dengan alur yang lamban.”… well hidup pun ada gelombangnya Dan, yang harus dilewati meskipun datar ….
dan datar pu bukan berarti tidak menarik, bukan?
EM
Dalam keadaan sakit, toh masih tetap menulis. Meski datar dan lamban. Salut, Mas Dan.
gunung-kelir adalah persinggahan para blogger…
ciwir, terakhir menulis Candi Plaosan
di tunggu kawan yang lain untuk menemukan obat kelelahan di gunungkelir
genthokelir, terakhir menulis Proses Perubahan
Ahh Niel, kalau di Jakarta, udah tak kirim tukang pijet…itu sebetulnya cuma dari masuk angin, kecapekan, dan keterusan….akhirnya ambruk.
Obatnya memang cuma istirahat, makan makanan hangat…dan tiduuur.
Tapi sekarang udah sehat kan?
Mantan Kyai berjanggut? Rasanya waktu ketemu di PB 08 belum berjanggut, hanya rambutnya panjang aja…
edratna, terakhir menulis Hujan angin, genteng bocor dan sulit cari tukang
weleh. tapi aku salut sama mas daniel. dalam kondisi sakit kok masih kuat-kuatnya mentelengin laptop. kalo aku mah mending tidur. hehe
btw, kami yang di surabaya juga seneng banget bisa bertemu muka langsung sama mas daniel. moga2 persahabatan kita ini membawa berkah dan umur panjang *kata kyai2 gitu mas* hehehe. setidaknya sampean tidak akan terlantar kalau pas mampir surabaya mas… hahaha
@endratna: lho bu. kok rambutku panjang. belum berjanggut.?? itu bukan aku. kita dulu salaman di depan pintu masuk. rambutku ya gundul, ya berjanggut, pakai kemeja garis-garis favoritku (hehehe). mungkin itu kyai slamet kali yang dimaksud (hehehehehe)
mantan kyai, terakhir menulis Hari Air Sedunia 2009: Shared Waters Shared Opportunities
sedang sakit tapi yang dijepit di sela jari tetap rokok!!!!! (perhatikan berapa banyak tanda serunya!)
dan perasaan, dulu tokoh dan menyebut dirinya “penenun kata”, bukan “penganyam kata”. mana satu yang bener, nih?
oh ya, aku juga pernah bertandang ke blog si pangeran berjanggut dari timur beberapa kali, dan deskripsimu tentang tulisannya tidak meleset. tulisannya memang sersan: konten serius yang dibungkus dengan santai. asyik membacanya.
masmelo, terakhir menulis Dosen Arogan
Pulang aja!
Atau ke Bali, menjenguk sahabat lama yang mantan gebetanmu, Windy
Mantan Kyai tuh gendeng bukan kocak … hehe
GK memang cocok jadi tempat pertemuan para blogger² gendeng … hehe
dan… apakah virus sakitmu itu kau kirim ke kweni? aku lagi limbung juga nih..
tapi, teteup… PK kudu dikunjungi. rasanya, kalau sehari saja absen dari PK ini, bagaikan sakit yg tak terobati… halah! lebay sangat!
hmm…. apakah benar, dji sam soe bisa menjadi penawar? terutama bagi dirku yg bukan kelompok pembakar ini?
eniwei, aku salut sama mas totok, yg berhasil memprovokasi orang untuk segera bertandang ke pesangrahannya, tanpa mau menunggu keesokan harinya… mas tok, gimana tuh caranya?
vizon, terakhir menulis mendadak trainer
Yak.!.. mahkota Raja Kopdar jatuh ketangan situh.
Selamat yaaa..
p u a k, terakhir menulis [Lou] Waktu menyembuhkanku
Selamat sembuh Mas!
Dah sembuh kan? Hehehhehe…
Ah .. Penenun Kata
Ah .. Penganyam Kata
Ah.. si Dan
Ah..si DM
Ah membuatku menjadi (pura2) bingung … ambigu …
Jamal eL Ahdi, terakhir menulis Mengintip Presiden Lewat Ronggowarsito
Wah, seru ya klo bisa deket ma para blogger beken.
Klo aku baru sedang mengenal nama2 mereka. Blum semua sempat kukunjungi blognya.
Gunung Kelir/Genthokelir aku “liat” pertama kali di blognya Pak Sawali (lam kenal mas). Mantan kyai rasanya di mana2 ada (huahaha, tabik mas). Kuliat dia juga bertaut dengan temenku, mas zenteguh. Kini dia dapat gelar Pangeran Berjanggut dari mas Daniel.
Berkat seri The Waiting is Almost Over ini, aku jadi ngiri (eh terinspirasi) ma mas Dan tuk lebih mengakrabkan diri dengan sesama blogger. Juga tuk peduli ma sesama yang lain.
terlihat sudah lebih dari 10 komen…
bolehlah kita komen sembarangan, yiiihaaa…
sekian dan terima kasih.
komen berikutnya menyusul ASAP !
absen merokok bukan ciri perokok sejati? duh ketahuan nggak pernah puasa. he he
eh, mantan kiyai masih bersorban nggak mas?
Zulmasri, terakhir menulis PAKET HEMAT YANG ANEH
Ah..Gunung Kelir..Gua Seplawan..knapa kedua tempat itu terhantar dengan begitu nyata melalui tulisan ini…seolah-olah aku bisa merasakan segenap ragaku berada disana menikmati segala keramahan dan keindahannya…
Kang Totok..Mas Saktipaijo… Kang Adyan..Gajah Pesing.. knapa seolah2 aku bisa merasakan kehangatan dan keintiman persahabatan meraka yang nampak nyata menyapa jiwaku…
Apakah aku sedang bermimpi, berhalusinasi??
Ah.. ternyata aku memang pernah berkunjung ke sana dan bersua dengan semua tokoh dan tempat yang telah tersebut diatas…
Ah celeeeng…knapa tulisan ini membuatku merindukan semuanya…
Ah mbuhlah….
tukang nggunem, terakhir menulis ngoyoworo
sip… salam kenal kepada petualang sejati, setidaknya dengan anda terdampar disana saia bisa kenal, hahahahaha…….
jangan kapok mas, semoga lain waktu kita berjumpa lagi…
rasanya saya juga merasakan de javu ketika kita kumpul disana, Mas DM yang tetap lengket dengan laptopnya meski kita rame-rame karaoke dengan yutub…, ternyata menghasilkan tulisan banyak juga, mungkin tangganya tetep ngetik ketika berada di balik selimut tebal itu… halahaha…
@genthokelir
Pak, boleh tanya? Gunung kelir itu tingginya berapa ya? Ada berapa pos di sana? Jadi penasaran pingin ke sana. So dalam daftar pendakianku ada 2 deh, ke Rinjani sama Kelir.. (semoga bisa)
kakak, jadi ada dua pangeran dunk. Pangeran berjanggut sama pangeran berkuda, hahaha…
ketika memutuskan berangkat ke g kelir, saya melihat mas daniel masih dalam keadaan seger buger dan fresh sehingga saya rela melepas dirimu, mas. ternyata setiba di g kelir, sayapnya malah patah-patah. walah. tapi saya yakin kondisi pengembaraan yang seperti ini justru akan membawa banyak pengalaman dan hikmah tersendiri, mas dan. perjalanan panjang semacam ini sungguh akan mengalirkan banyak arus persahabatan yang akan terus memancar ke segala penjuru. sungguh, sekali lagi, sungguh, sebuah perjalanan pengembaraan yang layak diabadikan, tak hanya sekadar dalam bentuk catatan harian. salam hangat, mas dan, semoga mas dan sudah kembali seger buger dan fresh!
Perjalanan ini teruslah kau lanjutkan kawan, sampai nanti saatnya tidak bisa berjalan lagi.
dana, terakhir menulis Masa Kecil
mantan kyai memang pandai merawi kata-kata. salut buat beliau. kritik-kritik sosialnya berbalut jenaka yang renyah untuk dikunyah. pasti pertemuan yang menyenangkan.
suhadinet, terakhir menulis Motivasi Belajar—Gunakan Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning)
weeew… abis ini akan berpetualang kemana mas…? hehe… seru deh… dtunggu cerita2nya lagi… ayoo…
hesra, terakhir menulis mozaik narasi: 3 kata
…..Acara? Majelis blogger berupa ha-ha hi-hi sembari nge-net tentu saja. Sableng tenan!
Jadi… para pangeran.. eh para blogger diatas itu, bertemu disurga bandwith Gunung Kelir itu dalam rangka ketemuan fis tu fis (kata mas Tukul), kopdaran, atau nge-net bersama? banyakan ngobrolnya apa banyakan nge-net nya?
Hehehe…
salam kenal dulu dari ku
byme
byme, terakhir menulis lylafitri journey of my life
Setuju dengan mbak puak…kalau mbak imel kita gelarin Ratu Kopdar, dirimu patut dapet mahkota Raja Kopdar…huhehehehehehehe
tapi mahkota itu akan benar2 jadi milikmu mas kalau udah ikutan kopdar di Pulau Sulawesi dengan teman2 blogger angin mammiri, kopdar dengan blogger Kalimantan di pulaunya…dan tentu saja dengan blogger2 sumatra…huhehehehehehehehehe….
Pangeran berjenggotnya memang hebat, beberapa tulisannya aku suka, walaupun jarang ninggalin comment
Ria, terakhir menulis Paris Pandora
mas mahendra…..
tuhan memberikan kasih sayangnya dalam bentuk yg berbeda beda kadang kita pikir suatu kejadian buruk itu terjadi krn tuhan marah atau ngak sayang padahal krn tuhan ingin kita mjd lbh baik…….
misalnya mas mahendra di beri tuhan penyakit ini krn tuhan sayang sama mas mahendra dan ingin mas mahendra istirahat selama di atas gunung itu…..
begitu jg ngak ada sinyal karena tuhan ingin selama mas mahendra sakit dan istirahat itu mas mahendra ngak terganggu oleh dering telpon dan sms yg bertubi tubi datang nya…….
sayangnya anisa ngak bisa memikirkan kenapa koneksi internetnya melimpah ruah sebab toh mas mahendra tetap ngak bisa istirahat walaupun sudah ngak ada sinyal telepon krn masih bisa internetan dengan bebas ???
anisa doakan mas mahendra segera sembuh dan segar kembali .
YAELAHHHHHH….TUH FOTO NONGOL LAGI!
udah kopdar sampe gunung kelir! masih itu aja foto andalan mu DM!?!? *PLAKKKKK*
yessy muchtar, terakhir menulis Gendut, Fans Club dan Vena Melinda..
jadi ngiri mas,,,, fotonya indah bangettttt
reallylife, terakhir menulis Maaf Numpang Promosi ya
mas foto dimana tuh ?? bagus banget
DM, hari ini saya banyak-banyak minta maaf. Mungkin ada banyak salah kata dan menyinggung perasaanmu.
Saya juga mengucapkan banyak terima kasih. Telah banyak yang saya peroleh dari seorang Daniel Mahendra..
Hari ini tepat setahun saya ngeblog. Walupun tertatih-tatih…
suhadinet, terakhir menulis Setahun suhadinet.wordpress.com (Yuk Ngintip Statistiknya…)
DM, si suhu ultah tuh blognya.
kita kasih kado apa? urunan, ya?
DM, aku juga minta maaf lahir batin, ya? *ikut-ikutan suhu*
mungkin banyak salah selama ini. (emang salah mulu kali)
hari ini tepat belum setahun aku ngeblog.
*komentar iseng, kangen sama konyol-konyolan bareng suhu dan DM seperti jadul*
hayah, lebay…
tulisan baruuu…! *teriak-teriak sambil mukul-mukul panci*
marsh, terakhir menulis Dosen Arogan
ehh.. itu photo empat sekawan ya? bukan limo pandowo atau seribu kurawa kan..
republik kreatif, terakhir menulis Sunday Sonten, Sunday Asyik Gaya Komunitas IT Jogja
loh kirain udah jauh ke timur jee…
carra, terakhir menulis Rumah buat Naichan
membaca komen annisa, uhuk-uhuk, jadi terharu. duh, mas daniel apalgi yang mesti diragukan? begitu besarnya perhatian annisa.
: annisa
sabar dan berjuang terus ya. batu karang hati mas dm suatu ketika pasti luluh…
Zulmasri, terakhir menulis Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela
mas mantan kiyai, kapan kata mantannya bisa dihapus?
Zulmasri, terakhir menulis Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela
Hu..hu..hu..hu.. penampakan para penghuni jembatan di sore hari…
@yessy .. DM pake foto itu biar kelihatan masih muda ….. heheheheh … lariiiiii
Perokok Sejati; biar sakit tetap merokok?
Ck-ck-ck.
Di selipan jari tapi nggak disulut?
Ck-ck-ck.
Sayapnya patah-patah di Gunung Kelir?
Ck-ck-ck
(sumpah, aku nggak ngerti apa maksud komentarku ini, kenapa malah jadinya kayak cicak-cicak di dinding, yaaahh… hehehehe)
Jadi sekarang udah sembuh sayapnya?
Diobatin ibu Dokter? hihihi…
selamat malam bang
senang banget aku membaca postingan petualangan mu,bang
jadipingin diajak
salam hangat dalam dua musimnya lue
kezedot, terakhir menulis mata lelah mata sang penjilat………….
Kang DM, dirimu benar-benar membuatku iri. Salam buat semua yah…hikhik..pengin jalan-jalan…
The Dexter, terakhir menulis Napak Tilas.
hallo mas Dm aku baru aktif niyyyy aku terkapar kena DBD jadi baru muncul niyyy dan tenyata aku melewatkan banyak hal di blog ini hahahaha
imoe, terakhir menulis …(update)berhadiah makanan spesifik minangkabau…
@Dan
petualanganmu memang luar biasa, dab. bener itu… sungguh… bener, aku nggak ngapusi. suwer… yakin… sungguh2 luar biasa… bener lho… tenan…
aku juga sedang nunggu Pangeran Berjanggut Dari Negeri Timur untuk singgah di Tlatah Tengah. kayaknya, ada rencana dalam waktu dekat ini.
@Pangeran Berjenggot
kapan, cak ? aja kesuwen, selak Tlatah Tengah kebanjiran.
@Anisa
Anisa oh Anisa, untaian katamu sungguh membuatku rindu… eh, bukan… membuatku haru. iya, memang Mas Mamanda..eh, Mahendra itu nggak bisa dikasih tahu kayaknya. bandel !
@Mas Mahendra
tuh, diresapi apa yg Anisa bilang. wong diperhatikan gitu kok nggak tahu ta ya…
Bahkan sang Pengembara, memiliki batas kemampuan fisik. Mungkin ini pertanda supaya mas DM istirahat sejenak. Tidur menyembuhkan stamina
TENGKU PUTEH, terakhir menulis PENGLIHATAN FATAMORGANA
apik ndoro..
republik kreatif, terakhir menulis Sunday Sonten, Sunday Asyik Gaya Komunitas IT Jogja
selamat malam bang
mau kan menitipkan doa untuk para korban banjirsitu gintung
salam hangat dsalam dau musimnya blue
semoga indah hari hari mu ya
kezedot, terakhir menulis Segelas air dan……..
Paman Janggut dan kantong ajaibnya ikut gabung nggak?
Yoga, terakhir menulis 1000 Buku Bagi Anak Negeri-Up Date Pos Penerimaan Buku