Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur

(The Waiting Is Almost Over: 26)

Petualang merasa sepi, merasa sunyi, sendiri di kelam hari. Petualang jatuh terkulai, namun semangatnya bagai matahari (Kantata Takwa, Sang Petualang)

Selama di Gunung Kelir, kerjaku hanya tergeletak di kasur dengan laptop yang terus terbuka dalam keadaan online. Kepalaku masih berat bagaikan diganduli batu sebesar gunung. Mas Totok sudah berusaha mencarikan obat warung alakadarnya. Betapa pun terima kasihku untuk itu.

Namun praktis selama di sana aku tak bisa beraktivitas lepas di alam bebas. Ke kamar mandi sempoyongan, berjalan saja limbung, apalagi mesti melakukan aktivitas berat. Hari Jum’at sakitku makin menjadi. Badan ini maunya digolekkan saja tanpa hasrat keinginan.

Mas Suryaden dan Mas Senoaji masih asyik berinternet tanpa tanding. Mas Totok sesekali nimbrung ke ruangan. Suasana senyap, sepi, seperti di kuburan. Padahal ada orang. Lha, gerangan apa yang mereka lakukan? Ya nge-net. He-he.

Aku absen Jum’atan siang ini. (Weh, jangan kalian tiru!). Seharian aku tidur, bangun, sarapan, tidur, makan siang, lalu tidur lagi. Keluarga Mas Totok selalu menghidangkan jamuan makan tanpa terlewat sedikit pun. Sampai-sampai aku sedikit protes pada Mas Totok:

“Mas, perasaan di sini kok sering banget makan sih? Dikit-dikit makan. Habis makan, diajak makan lagi.”
“Lho… di sini itu dingin. Jadi mesti banyak makan.” terang Mas Totok sembari menyendok nasi tambah. Ia memang selalu tambah kalau makan.

Sorenya aku tertidur lagi karena tak kuat mendirikan badan. Aku betul-betul lemah. Selepas Isya aku terbangun. Keadaan sunyi senyap. Bablas lagi sholat Maghrib (betul-betul tak terpuji kelakuan petualang sableng satu ini!).

Weh, pada ke mana orang-orang? Aku berjalan limbung ke kamar mandi. Adik Mas Totok menghidangkan kopi dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat.

“Kopinya, Mas.” ujar adik Mas Totok.
Aku mengangguk sembari menelan ludah. Haih, sedang sakit begini kok disuguhi kopi? (tak tahu diri benar tamu Mas Totok yang satu ini. Sudah disuguhi, protes pulak!).

Mas Totok mengerti gelagatku. “Teh panas aja ya, Mas? Pasti sedap!”
Aku tersenyum girang. “Mas Suryaden sama Mas Senoaji ke mana, Mas?”
“Sudah pulang sore tadi. Sampeyan masih tidur.”
Duh, ada perasaan gulana di hatiku. Aku belum ngobrol banyak dengan mereka. Baru ngobrol sekadarnya saja.

“Rokok Sampeyan masih ada?” tanya Mas Totok.
“Duh Mas, aku kan sedang sakit. Masa’ ngerokok. Tapi absen merokok berarti mengkhianti sumpah perokok sejati ya, Mas?”
“Wah, iya.” jawab Mas Totok nyengir. Sableng juga gentho Kelir satu ini, batinku ngakak.
“Kalo sakit gini biasanya Dji Sam Soe, Mas. Racikannya lebih pas di tenggorakan” kelakarku menggoda Mas Totok.

Siapa nyana, Mas Totok sontak memanggil adiknya untuk membelikan sebungkus Dji Sam Soe di warung.
“Woi Mas, aku ki guyooonnn…”
“Alah. Wis ndak po-po!”
“Mas?!”
“Wis!”
“Mas?!”
“Hus!”
Dan aku pasrah. Hi-hi-hi.

Malam itu Mas Tok sedang chatting dengan seseorang di Surabaya. Awalnya tiga ekor siluman dari Surabaya itu hendak menggunakan kereta Sancaka ke Jogja. Merapat ke Gunung Kelir. Namun Mas Totok berhasil mengompori mereka untuk secepatnya datang. Akhirnya tiga ekor siluman itu berangkat menggunakan bis malam itu juga. Aku tertidur lagi.

Esok paginya, meski keadaan tubuh sudah sedikit membaik, aku sempoyongan ke kamar mandi. Tujuan? Cuci pakaian. Apa boleh buat, pakaianku habis! Setelah itu, tergeletak lagi di tempat tidur. Mas Totok mengabari hendak turun ke Jogja. Menjemput tiga ekor siluman asal Surabaya. Tiba-tiba terbersit untuk ikut turun ke Jogja. Tujuan? Reservasi tiket kereta.

Mas Totok menyarankan agar aku menggunakan bis saja untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Awalnya aku bersikeras pakai kereta demi menyadari kondisiku. Tapi aku kalah argumen. Lagi-lagi masih belum tahu kapan hendak turun dari Gunung Kelir. Lantas Mas Totok turun ke Jogja dengan pesanan vitamin dariku. Aku tertidur lagi.

Siang hari terbangun, kudengar ramai-ramai di ruang sebelah. Sepertinya tiga ekor siluman dari Surabaya telah datang. Aku berusaha bangun. Berjalan tertatih. Aha, betul saja! Di ruang sebelah kulihat Mas Totok sedang kumpul bersama Mas Ardyansah yang Mantan Kyai itu, Mas Gajah Pesing, dan Kang Arai. Kami bersalaman.

Ini rupanya sosok Mantan Kyai yang tersohor itu? Weh-weh-weh, dagunya berjanggut. Kiranya tidak lah berlebihan jika kugelari dia dengan sebutan ‘Pangeran Berjanggut’. Badannya tinggi besar. Kalau berjalan kukuh sekali. Sekilas orang yang melihat bakal mendapat kesan seram dan serius. Tapi tungguhlah beberapa menit sampai ia mengeluarkan kata-kata pertama, niscaya kita bakal tahu: Mantan Kyai kocak tanpa tanding!

Blog Mantan Kyai, meski hitam kelam, sesungguhnya cukup menarik. Rawian-rawiannya sangat lincah. Ia sangat menguasai kosakata. Tak banyak kutemui blogger yang kaya akan kosakata. Kalau kita membaca, tulisannya terasa bergerak. Ia bisa meracik tulisan yang sesungguhnya serius dengan olahan yang empuk, renyah, dan sedap ketika disuguhkan. Sudah lama aku mengikuti tulisannya yang amit-amit kocak tapi gurih itu.

Aku tahu, sejak mulai aktif berkunjung ke blog-nya, aku merasa bakal bertemu dengannya. Entah di mana, entah kapan, aku merasa bakal bertemu. Siapa nyana, kami bertemu di Gunung Kelir. Masih dalam keadaan sempoyongan aku ikut bergabung bersama mereka.

“Kutunggu di Surabaya nggak nongol-ngongol, Mas?” tembak Mantan Kyai.
“He-he. Nyatanya kita ketemu di Gunung Kelir toh.”
Kami pun tertawa-tawa.

Sore harinya Mas Totok mengajak ke Gua Seplawan. Letaknya tak jauh dari rumah Mas Totok. Yah, jaraknya kira-kira sepelemparan tombak lah. Menghabiskan waktu paling banyak satu batang rokok mungkin. Masih dengan kondisi sempoyongan aku ikut mereka. Kali ini berlima naik Katana.

Gua Seplawan berada di ketinggian 700 mdpl. Terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 km ke arah timur kota Purworejo. Daya tarik gua ini berupa lukisan alam yang sangat artistik pada dinding guanya. Di sana kita masih bisa menyaksikan stalagmit, stalaktit, flow stone, helekit, soda straw dan gouwer dam.

Panjang Gua Seplawan kurang lebih sejauh 700 m dengan cabang-cabang gua yang memiliki panjang sekitar 150–300 m serta berdiameter 15 m. Gua alam ini mulai menjadi sangat terkenal pada saat ditemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi Pawestri seberat 1,5 kg pada 28 Agustus 1979 yang kini sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Satu hal yang tak kalah menarik, di sana terdapat gardu pandang dengan latar belakang Gunung Kelir. Melalui gardu ini kita dapat menikmati indahnya panorama alam di mana bila cuara cerah, Kota Jogjakarta dapat terlihat dengan jelas. Maka sebelum turun ke gua, kami naik ke gardu pandang.

“Yang sebelah kiri itu Gunung Merapi. Dan di sebelahnya Merbabu. Sementara di kanan itu laut selatan. Kelihatan kan garis pantainya?” terang Mas Totok.

Wih, betul juga. Dari sini kita bisa memandang ke segala arah. Meski masih sakit, aku tetap nekat duduk di bibir bukit. Sekitar atu meter di depan kami merupakan jurang. Berdua dengan Mas Totok aku bincang-bincang di sana. Dia menjeprat-jepretkan kameranya.

“Weh, wajahku kuyu sakit begini kok difoto-foto.”
“Lha, kalau nggak sakit apa nggak kuyu juga?”
“Sialan!”

Tak berapa lama kami turun. Bertiga dengan Kang Arai dan Mas Totok kami turun ke Gua Seplawan. Hari sudah melewati waktu Maghrib. Keadaan gelap gulita. Gua Seplawan berada di bawah bukit.

“Nggak mungkin masuk. Nggak ada lampu. Gelap sama sekali.” kata Mas Totok.

Weh, keadaan memang sungguh gelap dan sunyi. Apalagi waktu Maghrib baru saja lewat. Suasana mencekam mulai terasa. Mas Totok mengajak kembali ke atas. Aih, padahal yang seram-seram begitu selalu membuatku tertantang. Tapi mengapa mesti gegabah, pikirku. Aku pun manda pada Mas Totok.

Berlima kami nongkrong di warung dekat pintu masuk. Menyeruput kopi, teh panas, dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat. Aku menyulut sebatang kretek, tapi mulutku rasanya tak nikmat sama sekali. Usai obrol-obrol, kami turun, kembali ke rumah. Perjalanan pulang menggunakan Katana sungguh gelap sama sekali.

Sesampai di rumah, rupanya malam itu Gunung Kelir kedatangan tamu lagi. Mas Suryaden dan Mas Senoaji kembali naik ke Gunung Kelir. Maka jumlah blogger dalam sidang terbuka forum Gunung Kelir pun bertambah. Total jenderal: tujuh orang blogger menyemut di sana. Mas Totok, Mas Ardyansah si Mantan Kyai itu, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, Mas Senoaji, dan tentu saja si Pengayam Kata. Acara? Majelis blogger berupa ha-ha hi-hi sembari nge-net tentu saja. Sableng tenan!

Atmosfir semarak, mesra, penuh kelakar, dan nge-blog! Weh, para blogger ini nggak bisa nggak nge-blog barang sesaat apa? Demikian juga aku. Tapi dengan sangat menyesal aku mesti pamit undur diri. Tubuhku belum bisa diajak begadang dan terjaga berlama-lama. Tanpa sadar aku tertidur dengan laptop masih dalam pelukan.

Aku merasa seri The Waiting Is Almost Over kali ini terasa datar dengan alur yang lamban. Terkesan sangat diary yang sesungguhnya tak begitu kusuka. Apa boleh buat, kondisi tubuh tak mengizinkan pikiran untuk berolah rasa secara lebih luas. Namun aku harus menuliskan pertemuan kali ini. Karena menulis bagiku adalah tugas. Baik tugas pribadi maupun tugas nasional (tsah!).

Pertemuan kali ini memiliki kesan tersendiri bagiku. Dalam perjalanan panjang ini, makin hari makin banyak kawan-kawan blogger yang kutemui. Orang-orang yang sebelumnya tak kukenal sama sekali kecuali melalui dunia maya.

Apakah perjalanan ini mesti tetap dilanjutkan, atau kembali pulang sejenak? Dalam kondisi sakit begini tiba-tiba aku merasa ingin berada di rumah. Apa sebetulnya yang hendak kucari? Petualangan? Pengalaman batin? Atau sekadar pemenuh catatan harian? Aku ngungun sendiri menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Sayapku patah-patah di Gunung Kelir.

Namun demikian, ribuan terima kasihku pada Mas Totok, Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, dan Mas Senoaji yang membuat pertemanan ini terasa nyata. Daftar nama sahabatku makin bertambah saja di setiap kota.

Di luar bulan mulai mengantuk. Malam minggu kali ini aku kembali menggigil di balik selimut.

Gunung Kelir, 15 Maret 2009.

gajah_pesing, Mantan Kyai, aRai, dan Penganyam Kata.
Foto dipinjam dari blog Kang Arai. Nuhun.

sebebas camar engkau berteriak
setabah nelayan menembus badai
seikhlas karang menunggu ombak
seperti lautan engkau bersikap
.
ya, sang petualang terjaga
ya, sang petualang bergerak
ya, sang petualang terkapar
ya, sang petualang sendiri
.
(Kantata Takwa, Sang Petualang)

This entry was posted in Ceritera, The Waiting Is Almost Over. Bookmark the permalink.

50 Responses to Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur

  1. prameswari says:

    Wew….temu blogger….seru… Hebat mas Tok bisa membuat para blogger datang bareng kesana. Tentu saja internet unlimited itu salah satu daya tariknya….. membuat diam seribu bahasa…. Dan si Dan (si Dan yang berfoto Daniel Mahendra??) bisa bertemu muka dengan blogger yang selama ini hanya berjumpa maya. Pangeran berjanggut? kok gak nampak janggutnya …..

    Sayang yang menuliskannya karena sedang sakit jadi alur ceritanya menjadi lambat dan mendayu-dayu.aihh
    Kebayang saat mas menuliskan sempoyongan, mas berjalan kekanan kekiri sambil megangin tembok…. hihihi
    Menggigil di balik selimut ya…. aduhh kacian. Ntar kalo ke gunung kelir lagi….musti siap obat2annya yang lengkap, kalo perlu dokternya sekalian… hehehe

    prameswari, terakhir menulis Met Ultah mbak Tan…….

    DM: Itulah hebatnya Mas Totok, bisa mempersatukan umat. Dia layak jadi caleig. Dari Partai Blogger Indonesia tentu saja. Contreng kambingnya!
    .
    Yang berfoto di situ? Daniel Mahendra hanya mewakili si Dan. Si Dan itu pemalu. Nggak begitu suka difoto-foto. Jadi diwakili oleh si DM.
    .
    Soal janggut yang nggak kelihatan, oh itu karena Sang Pangeran Berjanggut sedang menyiasati agar bagaimana pada saat pemilu kelak, janggutnya bisa dicontreng. Jadi dia sayang-sayang dulu agar nggak sembarang dipakai.
    .
    Dokternya sekalian dibawa ke Gunung Kelir? Weh, ntar bukannya jaga pasien, dokternya malah keasyikan nge-net, Nungkinung… Hi-hi-hi.

  2. Ikkyu_san says:

    Pak Janggut inikah yang memberikan salam untukku? Atau ada pak Janggut lain yang tak kukenal?

    Untung tidak nekat masuk gua dalam gelap, kalau tidak bisa menjadi flintstone….

    “terasa datar dengan alur yang lamban.”… well hidup pun ada gelombangnya Dan, yang harus dilewati meskipun datar ….
    dan datar pu bukan berarti tidak menarik, bukan?

    EM

    DM: Oh, yang nitip salam itu Pak Janggut yang selalu membawa buntelan ke mana-mana di Majalah Bobo, Zus.
    .
    Flintstone?! Yabadabadoo…
    .
    Ya, hidup memang ada gelombangnya. Seperti lautan ia bersikap.

  3. racheedus says:

    Dalam keadaan sakit, toh masih tetap menulis. Meski datar dan lamban. Salut, Mas Dan.

    DM: Itulah ironisnya, Mas Racheedus. Dalam keadaan menulis, masih sempat-sempatnya ia sakit. Duh.

  4. ciwir says:

    gunung-kelir adalah persinggahan para blogger…

    ciwir, terakhir menulis Candi Plaosan

    DM: Juga para siluman. He-he-he.

  5. genthokelir says:

    di tunggu kawan yang lain untuk menemukan obat kelelahan di gunungkelir

    genthokelir, terakhir menulis Proses Perubahan

    DM: Weh, undangan terbuka. Uhuy!
    Vilanya… Gimana vilanya… Jadi beli tanah dan bangun vila seperti Vila Hani’s nggak?

  6. edratna says:

    Ahh Niel, kalau di Jakarta, udah tak kirim tukang pijet…itu sebetulnya cuma dari masuk angin, kecapekan, dan keterusan….akhirnya ambruk.
    Obatnya memang cuma istirahat, makan makanan hangat…dan tiduuur.
    Tapi sekarang udah sehat kan?

    Mantan Kyai berjanggut? Rasanya waktu ketemu di PB 08 belum berjanggut, hanya rambutnya panjang aja…

    edratna, terakhir menulis Hujan angin, genteng bocor dan sulit cari tukang

    DM: Ah ya. Ada yang kelupaan aku tulis, Bu. Baru ingat setelah mbaca komen Ibu. Jum’at siang itu, istri Mas Totok mencarikan tukang pijat. Dan si Dan itu malah pijat di Gunung Kelir. Ha-ha! Asli enak banget. Karena setelah berkilo-kilo perjalanan, badan rasanya seperti dikembalikan lagi. (kenapa aku bisa lupa nulis soal pijat itu ya. Heran. Untung Mas Totok nggak iseng motret. Hi-hi).
    .
    Sekarang Alhamdulillah sudah sehat, Bu. Sudah bisa terbang lagi.
    .
    Rambut Mantan Kyai panjang?

  7. mantan kyai says:

    weleh. tapi aku salut sama mas daniel. dalam kondisi sakit kok masih kuat-kuatnya mentelengin laptop. kalo aku mah mending tidur. hehe

    btw, kami yang di surabaya juga seneng banget bisa bertemu muka langsung sama mas daniel. moga2 persahabatan kita ini membawa berkah dan umur panjang *kata kyai2 gitu mas* hehehe. setidaknya sampean tidak akan terlantar kalau pas mampir surabaya mas… hahaha

    DM: Aku juga salut sama sampeyan, Cak. Bisa nyamar berambut panjang di PB 08 tahun lalu. Bhahahaha!
    .
    Wah, gitu ya kata kyai-kyai? Ck-ck-ck. Tapi kalo yang sudah jadi mantan, gimana? He-he.
    Oke, Cak. Suwun banget, Cak. Cak janggut! :p

  8. mantan kyai says:

    @endratna: lho bu. kok rambutku panjang. belum berjanggut.?? itu bukan aku. kita dulu salaman di depan pintu masuk. rambutku ya gundul, ya berjanggut, pakai kemeja garis-garis favoritku (hehehe). mungkin itu kyai slamet kali yang dimaksud (hehehehehe)

    mantan kyai, terakhir menulis Hari Air Sedunia 2009: Shared Waters Shared Opportunities

    DM: Sedang nyamar mungkin. Namanya juga siluman… :p

  9. masmelo says:

    sedang sakit tapi yang dijepit di sela jari tetap rokok!!!!! (perhatikan berapa banyak tanda serunya!)

    dan perasaan, dulu tokoh dan menyebut dirinya “penenun kata”, bukan “penganyam kata”. mana satu yang bener, nih?

    oh ya, aku juga pernah bertandang ke blog si pangeran berjanggut dari timur beberapa kali, dan deskripsimu tentang tulisannya tidak meleset. tulisannya memang sersan: konten serius yang dibungkus dengan santai. asyik membacanya.

    masmelo, terakhir menulis Dosen Arogan

    DM: Huaaaaaa……. ada yang marah-marah soal rokok. Itu kan cuma megang doang. Nggak disulut. *du-du-du-du-du…*
    .
    Entahlah. Si Dan itu kadang nganyam, kadang nenun. Macam-macam. Dan dia itu kadang dipanggil Mas Dan, kadang dipanggil DM. Aneh-aneh. Ya dia sih noleh-noleh aja dipanggil dengan dua sebutan itu.

  10. DV says:

    Pulang aja!
    Atau ke Bali, menjenguk sahabat lama yang mantan gebetanmu, Windy :)

    DM: Bali? Aha! Terus ke timur berarti.
    Gebetan? Gundulmu kuwi gebetan. Ha-ha!

  11. aRai says:

    Mantan Kyai tuh gendeng bukan kocak … hehe

    GK memang cocok jadi tempat pertemuan para blogger² gendeng … hehe

    DM: Lho, sebetulnya aku tuh ya mau nulis gendeng, Kang Arai. Tapi yang tertulis kok kocak ya? Mesti direvisi ini. Ha-ha-ha!

  12. vizon says:

    dan… apakah virus sakitmu itu kau kirim ke kweni? aku lagi limbung juga nih..
    tapi, teteup… PK kudu dikunjungi. rasanya, kalau sehari saja absen dari PK ini, bagaikan sakit yg tak terobati… halah! lebay sangat!

    hmm…. apakah benar, dji sam soe bisa menjadi penawar? terutama bagi dirku yg bukan kelompok pembakar ini?

    eniwei, aku salut sama mas totok, yg berhasil memprovokasi orang untuk segera bertandang ke pesangrahannya, tanpa mau menunggu keesokan harinya… mas tok, gimana tuh caranya?

    vizon, terakhir menulis mendadak trainer

    DM: Virus si Dan? Weh… tertular limbung rupanya si Uda ini. Barangkali sehati kalian, Da? He-he. Waktunya istirahat sejenak itu, Da.
    .
    Weh-weh-weh. Tak kunjung ke PK bagaikan sakit yang tak terobati? Aih-aih… lebay sangat, Da. Ha-ha!
    .
    Ada semacam sugesti di antara perokok, Da, bahwa Dji Sam Soe kerap digunakan sebagai penawar batuk. Bahkan, perokok rokok apa pun, entah itu kretek atau rokok putih, biasanya kerap menyelingi dengan menyulut Dji Sam Soe. Perokok sejati tau betul akan hal itu. Tapi, Da, please, untuk Uda, tak perlulah percaya atau ingin mencoba-coba soal Dji Sam Soe ini. Lebih baik jangan. Soalnya kalau ketahuan nikmatnya, khawatir bakal keterusan. He-he. Aku sendiri kalau disuruh milih, akan memilih menjadi lelaki tanpa asap rokok. Sumprit! Tapi itu sudah telat. Huehehe.

  13. p u a k says:

    Yak.!.. mahkota Raja Kopdar jatuh ketangan situh.
    Selamat yaaa.. :mrgreen:

    p u a k, terakhir menulis [Lou] Waktu menyembuhkanku

    DM: Ha-ha! Sialan! Si Mbak Puak ini. Nggak lah, Mbak…

  14. Chandra says:

    Selamat sembuh Mas!
    Dah sembuh kan? Hehehhehe…

    DM: Sembuh? Lho? Sembuh dari apa, Chand? Obat gilanya sudah habis ini. Gila permanen. Ha-ha!

  15. Ah .. Penenun Kata
    Ah .. Penganyam Kata
    Ah.. si Dan
    Ah..si DM

    Ah membuatku menjadi (pura2) bingung … ambigu …

    Jamal eL Ahdi, terakhir menulis Mengintip Presiden Lewat Ronggowarsito

    DM: Penenun Kata? Penganyam Kata? Si Dan? Si DM?
    Waduh! Jangan-jangan mengidap Dissociative Identity Disorder dia. Gawat, Mal!

  16. BahtiBaihaqi says:

    Wah, seru ya klo bisa deket ma para blogger beken.
    Klo aku baru sedang mengenal nama2 mereka. Blum semua sempat kukunjungi blognya.
    Gunung Kelir/Genthokelir aku “liat” pertama kali di blognya Pak Sawali (lam kenal mas). Mantan kyai rasanya di mana2 ada (huahaha, tabik mas). Kuliat dia juga bertaut dengan temenku, mas zenteguh. Kini dia dapat gelar Pangeran Berjanggut dari mas Daniel.
    Berkat seri The Waiting is Almost Over ini, aku jadi ngiri (eh terinspirasi) ma mas Dan tuk lebih mengakrabkan diri dengan sesama blogger. Juga tuk peduli ma sesama yang lain.

    DM: Ah, betul Mas Bahti. Mereka itu blogger-blogger beken yang menguasai kosmos per-bloggeran. Nama mereka berseliweran di antara planet-planet, pecahan satelit, benda langit, serta seluruh semesta raya ini. Namun mereka tak sombong sama sekali. Bukan blogger berdarah aristokrat yang untouchable untuk diajak gonjlengan. Huehehe. Si Dan patut belajar pada mereka.
    .
    Terima kasih sudah sudi mampir, Mas Bahti.

  17. goenoeng says:

    terlihat sudah lebih dari 10 komen…
    bolehlah kita komen sembarangan, yiiihaaa…

    sekian dan terima kasih.
    komen berikutnya menyusul ASAP !

    DM: Hiyaaaaaaa……… Kijang Satu menunggu perintah selanjutnya dari Kijang Buntung. Apakah sasaran masih mengidap Narcissistic Personality Disorder? Atau kita biarkan saja agar semakin akut? Wakakakakkk!! Delapan enam, Pak. Ganti!

  18. Zulmasri says:

    absen merokok bukan ciri perokok sejati? duh ketahuan nggak pernah puasa. he he

    eh, mantan kiyai masih bersorban nggak mas?

    Zulmasri, terakhir menulis PAKET HEMAT YANG ANEH

    DM: Lha selama puasa ya absen, Mas. Tapi setelah Maghrib kan dihajar. Huehehe.
    .
    Kadang dia masih bersorban, Mas. Sorban serbet makan! :p

  19. Ah..Gunung Kelir..Gua Seplawan..knapa kedua tempat itu terhantar dengan begitu nyata melalui tulisan ini…seolah-olah aku bisa merasakan segenap ragaku berada disana menikmati segala keramahan dan keindahannya…

    Kang Totok..Mas Saktipaijo… Kang Adyan..Gajah Pesing.. knapa seolah2 aku bisa merasakan kehangatan dan keintiman persahabatan meraka yang nampak nyata menyapa jiwaku…

    Apakah aku sedang bermimpi, berhalusinasi??

    Ah.. ternyata aku memang pernah berkunjung ke sana dan bersua dengan semua tokoh dan tempat yang telah tersebut diatas…

    Ah celeeeng…knapa tulisan ini membuatku merindukan semuanya…

    Ah mbuhlah….

    tukang nggunem, terakhir menulis ngoyoworo

    DM: Duh Mas, Sampeyan memang sedang bermimpi, delusi, bahkan berhalusinasi. Setting serta tokoh-tokoh cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Kalau pun ada kesamaan nama serta cerita, barangkali hanya kebetulan saja. Hi-hi-hi.
    .
    Tapi syukurlah kalau tulisan ini memang berhasil membuatmu merindukan semuanya…

  20. gajah_pesing says:

    sip… salam kenal kepada petualang sejati, setidaknya dengan anda terdampar disana saia bisa kenal, hahahahaha…….
    jangan kapok mas, semoga lain waktu kita berjumpa lagi…

    DM: Ouw. Nggak akan pernah kapok, Mas. Semoga lain waktu dapat berbicang lebih leluasa lagi. Piye? Akur tah? He-he. Suwun.

  21. suryaden says:

    rasanya saya juga merasakan de javu ketika kita kumpul disana, Mas DM yang tetap lengket dengan laptopnya meski kita rame-rame karaoke dengan yutub…, ternyata menghasilkan tulisan banyak juga, mungkin tangganya tetep ngetik ketika berada di balik selimut tebal itu… halahaha…

    DM: Ha? Jadi yang karaoke ndangdutan itu suara sampeyan tho? Oalah… Tau gitu kan kukenalkan pada produser perusahaan rekaman dangdut, Mas. Bukan, bukan buat rekaman, Mas. Tapi buat dihadapkan pada sidang para pedangdut. Karena telah merusak cita rasa lagu dangdut. Ha-ha-ha!
    .
    Matanya terpejam tidur, Mas. Tapi tangannya geratakan di keyboard laptop. He-he.

  22. radesya says:

    @genthokelir
    Pak, boleh tanya? Gunung kelir itu tingginya berapa ya? Ada berapa pos di sana? Jadi penasaran pingin ke sana. So dalam daftar pendakianku ada 2 deh, ke Rinjani sama Kelir.. (semoga bisa)

    kakak, jadi ada dua pangeran dunk. Pangeran berjanggut sama pangeran berkuda, hahaha…

    DM: Paragraf pertama yang jawab mesti Mas Totok ya. Bukan aku.
    .
    Dua pangeran? Sebetulnya ada satu pangeran lagi. Ia bergelar pangeran kodok. Hi-hi-hi.

  23. ketika memutuskan berangkat ke g kelir, saya melihat mas daniel masih dalam keadaan seger buger dan fresh sehingga saya rela melepas dirimu, mas. ternyata setiba di g kelir, sayapnya malah patah-patah. walah. tapi saya yakin kondisi pengembaraan yang seperti ini justru akan membawa banyak pengalaman dan hikmah tersendiri, mas dan. perjalanan panjang semacam ini sungguh akan mengalirkan banyak arus persahabatan yang akan terus memancar ke segala penjuru. sungguh, sekali lagi, sungguh, sebuah perjalanan pengembaraan yang layak diabadikan, tak hanya sekadar dalam bentuk catatan harian. salam hangat, mas dan, semoga mas dan sudah kembali seger buger dan fresh!

    DM: Jangankan saat masih di Kendal, Pak Sawali. Bahkan ketika kali pertama menjejakkan kaki di Gunung Kelir pun masih dalam keadaan sehat rupawan. Mungkin karena jetlag (halah!), serta perbedaan bau (dengan bau kambing tentu saja) membuat kekebalan tubuh drop.
    .
    Setali tiga uang, Pak Sawali. Perjalanan panjang semacam ini sungguh mengalirkan banyak arus persahabatan yang akan terus memancar ke segala penjuru (duh, kalimat Pak Sawali ini, bikin aku kedip-kedip mata).
    .
    Ribuan terima kasih, Pak Sawali. Ah, kata-kata saja rasanya tak pernah cukup untuk mengungkapkan terima kasih pada Pak Sawali. Sekarang sudah fresh kembali. Kan The Freshmaker! (Idih, Mentos bangeeettt…). He-he-he.

  24. dana says:

    Perjalanan ini teruslah kau lanjutkan kawan, sampai nanti saatnya tidak bisa berjalan lagi.

    dana, terakhir menulis Masa Kecil

    DM: Sampai nanti tidak bisa berjalan lagi? Baik. Akan kupegang betul kata-katamu, Kawan. Thanx.

  25. suhadinet says:

    mantan kyai memang pandai merawi kata-kata. salut buat beliau. kritik-kritik sosialnya berbalut jenaka yang renyah untuk dikunyah. pasti pertemuan yang menyenangkan.

    suhadinet, terakhir menulis Motivasi Belajar—Gunakan Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning)

    DM: Begitulah, Suhu.
    Suhu? Halo? Lho, Suhu? Yah, tidur dia…

  26. hesra says:

    weeew… abis ini akan berpetualang kemana mas…? hehe… seru deh… dtunggu cerita2nya lagi… ayoo…

    hesra, terakhir menulis mozaik narasi: 3 kata

    DM: Blaik?!! Orang sakit kok dibilang seru? Hi-hi. Awas ya…

  27. tanti says:

    …..Acara? Majelis blogger berupa ha-ha hi-hi sembari nge-net tentu saja. Sableng tenan!

    Jadi… para pangeran.. eh para blogger diatas itu, bertemu disurga bandwith Gunung Kelir itu dalam rangka ketemuan fis tu fis (kata mas Tukul), kopdaran, atau nge-net bersama? banyakan ngobrolnya apa banyakan nge-net nya?
    Hehehe…

    DM: Kayaknya banyakan ngenet-nya. Ha-ha-ha!
    Yah seperti di Senayan sajalah. Judulnya sidang, tapi kan banyakan tidurnya… He-he.

  28. byme says:

    salam kenal dulu dari ku
    byme

    byme, terakhir menulis lylafitri journey of my life

    DM: Salam kenal juga, Kawan…

  29. Ria says:

    Setuju dengan mbak puak…kalau mbak imel kita gelarin Ratu Kopdar, dirimu patut dapet mahkota Raja Kopdar…huhehehehehehehe

    tapi mahkota itu akan benar2 jadi milikmu mas kalau udah ikutan kopdar di Pulau Sulawesi dengan teman2 blogger angin mammiri, kopdar dengan blogger Kalimantan di pulaunya…dan tentu saja dengan blogger2 sumatra…huhehehehehehehehehe….

    Pangeran berjenggotnya memang hebat, beberapa tulisannya aku suka, walaupun jarang ninggalin comment :)

    Ria, terakhir menulis Paris Pandora

    DM: Whaaaa… nggak kepingin dapat mahkota begituan. Nggak penting itu. Bukankah nilai persahabatan jauh lebih penting, eh?
    .
    Sulawesi, Kalimantan, Sumatra? Hmm-hmm-hmm… Pulau-pulau itu menggoda sangat untuk dijelajahi dengan ransel!

  30. anisa says:

    mas mahendra…..
    tuhan memberikan kasih sayangnya dalam bentuk yg berbeda beda kadang kita pikir suatu kejadian buruk itu terjadi krn tuhan marah atau ngak sayang padahal krn tuhan ingin kita mjd lbh baik…….
    misalnya mas mahendra di beri tuhan penyakit ini krn tuhan sayang sama mas mahendra dan ingin mas mahendra istirahat selama di atas gunung itu…..
    begitu jg ngak ada sinyal karena tuhan ingin selama mas mahendra sakit dan istirahat itu mas mahendra ngak terganggu oleh dering telpon dan sms yg bertubi tubi datang nya…….
    sayangnya anisa ngak bisa memikirkan kenapa koneksi internetnya melimpah ruah sebab toh mas mahendra tetap ngak bisa istirahat walaupun sudah ngak ada sinyal telepon krn masih bisa internetan dengan bebas ???

    anisa doakan mas mahendra segera sembuh dan segar kembali .

    DM: Duh-duh-duh, Anisa, kamu ini sedang berkomen atau sedang memberikan siraman rohani tho? Hue-he-he. Ya-ya-ya, terima kasih Anisa.

  31. YAELAHHHHHH….TUH FOTO NONGOL LAGI!

    udah kopdar sampe gunung kelir! masih itu aja foto andalan mu DM!?!? *PLAKKKKK*

    yessy muchtar, terakhir menulis Gendut, Fans Club dan Vena Melinda..

    DM: Yeeeee……. Biar gitu kan aku nggak mengidap Narcissistic Personality Disorder, Yess. Masih di ambang normal. Wakakakakkk!

  32. reallylife says:

    jadi ngiri mas,,,, fotonya indah bangettttt

    reallylife, terakhir menulis Maaf Numpang Promosi ya

    DM: Eh, katanya nih ya, suasana di surga tuh nggak jauh beda dengan suasana di foto itu. Hi-hi-hi.
    Makasih…

  33. mas foto dimana tuh ?? bagus banget

    DM: Di mana? Kan diceritakan di tulisan di atas. Ya di Gunung Kelir lah…
    Tengkyu.

  34. suhadinet says:

    DM, hari ini saya banyak-banyak minta maaf. Mungkin ada banyak salah kata dan menyinggung perasaanmu.

    Saya juga mengucapkan banyak terima kasih. Telah banyak yang saya peroleh dari seorang Daniel Mahendra..

    Hari ini tepat setahun saya ngeblog. Walupun tertatih-tatih… :mrgreen:

    suhadinet, terakhir menulis Setahun suhadinet.wordpress.com (Yuk Ngintip Statistiknya…)

    DM: Huaaaaaa……… Kirain ada apa (menyeka jidat). Pake minta maaf segala. Hua-ha-ha!!! Bikin kaget aja. Jadi udah setahun ya? Whaaaa….. Makan-makaaannn…… (apaan sih DM? Dewasa please!)
    .
    Weh-weh-weh. Mantap! Rasa-rasanya akhir-akhir ini sudah beberapa blogger mem-posting tulisan setahun nge-blog. Siapa saja ya… Hmmm… coba kuingat-ingat dulu.
    .
    Ya-ya-ya. 12 purnama bisa waktu yang sebentar, bisa juga deret waktu yang lama. Tergantung kita memaknainya bukan? Aha! Selamat Suhu. Jangan molor-molor up date blog-nya ya. Suka sebel kalo setiap datang ke sana masih juga belum ada tulisan baru dalam rentang waktu berminggu-minggu.
    .
    Maju terus, pantang mundur, wow keren!!!

  35. marsh says:

    DM, si suhu ultah tuh blognya.
    kita kasih kado apa? urunan, ya?
    DM, aku juga minta maaf lahir batin, ya? *ikut-ikutan suhu*
    mungkin banyak salah selama ini. (emang salah mulu kali)
    hari ini tepat belum setahun aku ngeblog.

    *komentar iseng, kangen sama konyol-konyolan bareng suhu dan DM seperti jadul*

    hayah, lebay…

    tulisan baruuu…! *teriak-teriak sambil mukul-mukul panci*

    marsh, terakhir menulis Dosen Arogan

    DM: Emh, kita kasih kado apa ya…
    Kambing Etawa? Duh, kemahalan (lama balik modalnya, Dodol!). Hi-hi-hi.
    Kita kasih domain dot com plus hosting-nya? (BEP-nya cepet nggak ya…). Ha-ha-ha.
    Kita kasih apa dunk…
    Kita kasih kembang setaman aja gimana?
    Aku jadi kembangnya, kamu jadi tukang babat rumput tamannya. Pigimana?
    (Halah! Lebay! Cuih!)

  36. ehh.. itu photo empat sekawan ya? bukan limo pandowo atau seribu kurawa kan.. :)

    republik kreatif, terakhir menulis Sunday Sonten, Sunday Asyik Gaya Komunitas IT Jogja

    DM: Huahaha!!! Yang betul itu memang Pandawa Lima. Cuma yang kelima sedang motret. Para kurawanya sudah hijrah ke Republik Kreatif. Hui-hi-hi…
    Piye kabare, Dab? Apik?

  37. carra says:

    loh kirain udah jauh ke timur jee… :D

    carra, terakhir menulis Rumah buat Naichan

    DM: Kan di tengah perjalanan saat di Surabaya kembali ke Jawa Tengah lagi, Carra…

  38. Zulmasri says:

    membaca komen annisa, uhuk-uhuk, jadi terharu. duh, mas daniel apalgi yang mesti diragukan? begitu besarnya perhatian annisa.

    : annisa
    sabar dan berjuang terus ya. batu karang hati mas dm suatu ketika pasti luluh…

    Zulmasri, terakhir menulis Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela

    DM: Aha! Betul, Mas Zul; begitu besar perhatian Anisa. Aku pun bisa merasakannya. Tapi, apa boleh buat Mas Zul, ada perhatian yang jauh lebih besar lagi. He-he-he.

  39. Zulmasri says:

    mas mantan kiyai, kapan kata mantannya bisa dihapus?

    Zulmasri, terakhir menulis Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela

    DM: Wong sudah mantan, Mas… Susah! Ha-ha!

  40. anak ilang says:

    Hu..hu..hu..hu.. penampakan para penghuni jembatan di sore hari…

    DM: Kalau malam hari jadi siluman mereka! Hu-hu-hu…

  41. @yessy .. DM pake foto itu biar kelihatan masih muda ….. heheheheh … lariiiiii

    DM: Woiii!! Emang masih mudaaaa…. Sembarangan!
    *ikut lari!*

  42. Lala says:

    Perokok Sejati; biar sakit tetap merokok?
    Ck-ck-ck.

    Di selipan jari tapi nggak disulut?
    Ck-ck-ck.

    Sayapnya patah-patah di Gunung Kelir?
    Ck-ck-ck

    (sumpah, aku nggak ngerti apa maksud komentarku ini, kenapa malah jadinya kayak cicak-cicak di dinding, yaaahh… hehehehe)

    Jadi sekarang udah sembuh sayapnya?
    Diobatin ibu Dokter? hihihi…

    DM: Iya, aku juga nggak ngerti komentarmu. Hi-hi-hi.
    Diobatin bu dokter? Ya iyalaahh… Masa’ diobatin tukang sayur? :p

  43. kezedot says:

    selamat malam bang
    senang banget aku membaca postingan petualangan mu,bang
    jadipingin diajak
    salam hangat dalam dua musimnya lue

    kezedot, terakhir menulis mata lelah mata sang penjilat………….

    DM: Malam juga, Kawan. Senang sekali mengetahui ada yang suka dengan rawian-rawian seketiduran semacam ini. Lebih senang lagi jika ada sesuatu yang dapat dipetik.
    Salam hangat serta jabat erat selalu!

  44. The Dexter says:

    Kang DM, dirimu benar-benar membuatku iri. Salam buat semua yah…hikhik..pengin jalan-jalan…

    The Dexter, terakhir menulis Napak Tilas.

    DM: Kau pun membuatku iri dengan peta perjalananmu, Ka.
    Katanya mau nyebrang ke Timor Leste? Jadi? Ajak-ajak dunk…

  45. imoe says:

    hallo mas Dm aku baru aktif niyyyy aku terkapar kena DBD jadi baru muncul niyyy dan tenyata aku melewatkan banyak hal di blog ini hahahaha

    imoe, terakhir menulis …(update)berhadiah makanan spesifik minangkabau…

    DM: Whaaa… kukira sedang dalam perjalanan ke Bali, dsb. Nggak taunya terkapar karena DBD, Si Uda Imoe ini. Huaduuuhhh… Bisa-bisa aku pun melewatkan banyak hal nih. Apalagi kalau bukan kripik balado khas Minangkabau cap Christine Hakim itu. Ha! Mana pengumumannyaaaa……
    Lekas sehat, Da!

  46. goenoeng says:

    @Dan
    petualanganmu memang luar biasa, dab. bener itu… sungguh… bener, aku nggak ngapusi. suwer… yakin… sungguh2 luar biasa… bener lho… tenan…

    aku juga sedang nunggu Pangeran Berjanggut Dari Negeri Timur untuk singgah di Tlatah Tengah. kayaknya, ada rencana dalam waktu dekat ini.

    @Pangeran Berjenggot
    kapan, cak ? aja kesuwen, selak Tlatah Tengah kebanjiran. :D

    @Anisa
    Anisa oh Anisa, untaian katamu sungguh membuatku rindu… eh, bukan… membuatku haru. iya, memang Mas Mamanda..eh, Mahendra itu nggak bisa dikasih tahu kayaknya. bandel !

    @Mas Mahendra
    tuh, diresapi apa yg Anisa bilang. wong diperhatikan gitu kok nggak tahu ta ya…

    DM: Iya, aku pun mbaca komenmu dengan sungguh-sungguh. Bener. Nggak ngapusi aku. Nggak ngguyu lho aku. Tenan. Aku nggak ngguyu. Sumprit!
    .
    Komen Anisa? He, pipinya minta dicontreng pake spidol ya?! Sini ta’ contreng!!

  47. TENGKU PUTEH says:

    Bahkan sang Pengembara, memiliki batas kemampuan fisik. Mungkin ini pertanda supaya mas DM istirahat sejenak. Tidur menyembuhkan stamina :)

    TENGKU PUTEH, terakhir menulis PENGLIHATAN FATAMORGANA

    DM: Betul, Kawan. Si Pengembara itu sedang diuji rupanya. Agar ia tak melulu mengandalkan emosinya belaka. Ada saat di mana ia mesti berdamai dengan keadaan.
    Makasih, Kawan.

  48. apik ndoro.. :)

    republik kreatif, terakhir menulis Sunday Sonten, Sunday Asyik Gaya Komunitas IT Jogja

    DM: Sahaya bukan ndoro, Kisanak. Sahaya ini hanyalah musafir… :p

  49. kezedot says:

    selamat malam bang
    mau kan menitipkan doa untuk para korban banjirsitu gintung
    salam hangat dsalam dau musimnya blue
    semoga indah hari hari mu ya

    kezedot, terakhir menulis Segelas air dan……..

    DM: Tentu saja… Kenapa tidak. Tanpa diminta.
    Semoga indah pula harimu.

  50. Yoga says:

    Paman Janggut dan kantong ajaibnya ikut gabung nggak?

    Yoga, terakhir menulis 1000 Buku Bagi Anak Negeri-Up Date Pos Penerimaan Buku

    DM: Ikut dunk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>