penganyamkata.net
current   |   rss

Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur

Published March 25, 2009

(The Waiting Is Almost Over: 26)

Petualang merasa sepi, merasa sunyi, sendiri di kelam hari. Petualang jatuh terkulai, namun semangatnya bagai matahari (Kantata Takwa, Sang Petualang)

Selama di Gunung Kelir, kerjaku hanya tergeletak di kasur dengan laptop yang terus terbuka dalam keadaan online. Kepalaku masih berat bagaikan diganduli batu sebesar gunung. Mas Totok sudah berusaha mencarikan obat warung alakadarnya. Betapa pun terima kasihku untuk itu.

Namun praktis selama di sana aku tak bisa beraktivitas lepas di alam bebas. Ke kamar mandi sempoyongan, berjalan saja limbung, apalagi mesti melakukan aktivitas berat. Hari Jum’at sakitku makin menjadi. Badan ini maunya digolekkan saja tanpa hasrat keinginan.

Mas Suryaden dan Mas Senoaji masih asyik berinternet tanpa tanding. Mas Totok sesekali nimbrung ke ruangan. Suasana senyap, sepi, seperti di kuburan. Padahal ada orang. Lha, gerangan apa yang mereka lakukan? Ya nge-net. He-he.

Aku absen Jum’atan siang ini. (Weh, jangan kalian tiru!). Seharian aku tidur, bangun, sarapan, tidur, makan siang, lalu tidur lagi. Keluarga Mas Totok selalu menghidangkan jamuan makan tanpa terlewat sedikit pun. Sampai-sampai aku sedikit protes pada Mas Totok:

“Mas, perasaan di sini kok sering banget makan sih? Dikit-dikit makan. Habis makan, diajak makan lagi.”
“Lho… di sini itu dingin. Jadi mesti banyak makan.” terang Mas Totok sembari menyendok nasi tambah. Ia memang selalu tambah kalau makan.

Sorenya aku tertidur lagi karena tak kuat mendirikan badan. Aku betul-betul lemah. Selepas Isya aku terbangun. Keadaan sunyi senyap. Bablas lagi sholat Maghrib (betul-betul tak terpuji kelakuan petualang sableng satu ini!).

Weh, pada ke mana orang-orang? Aku berjalan limbung ke kamar mandi. Adik Mas Totok menghidangkan kopi dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat.

“Kopinya, Mas.” ujar adik Mas Totok.
Aku mengangguk sembari menelan ludah. Haih, sedang sakit begini kok disuguhi kopi? (tak tahu diri benar tamu Mas Totok yang satu ini. Sudah disuguhi, protes pulak!).

Mas Totok mengerti gelagatku. “Teh panas aja ya, Mas? Pasti sedap!”
Aku tersenyum girang. “Mas Suryaden sama Mas Senoaji ke mana, Mas?”
“Sudah pulang sore tadi. Sampeyan masih tidur.”
Duh, ada perasaan gulana di hatiku. Aku belum ngobrol banyak dengan mereka. Baru ngobrol sekadarnya saja.

“Rokok Sampeyan masih ada?” tanya Mas Totok.
“Duh Mas, aku kan sedang sakit. Masa’ ngerokok. Tapi absen merokok berarti mengkhianti sumpah perokok sejati ya, Mas?”
“Wah, iya.” jawab Mas Totok nyengir. Sableng juga gentho Kelir satu ini, batinku ngakak.
“Kalo sakit gini biasanya Dji Sam Soe, Mas. Racikannya lebih pas di tenggorakan” kelakarku menggoda Mas Totok.

Siapa nyana, Mas Totok sontak memanggil adiknya untuk membelikan sebungkus Dji Sam Soe di warung.
“Woi Mas, aku ki guyooonnn…”
“Alah. Wis ndak po-po!”
“Mas?!”
“Wis!”
“Mas?!”
“Hus!”
Dan aku pasrah. Hi-hi-hi.

Malam itu Mas Tok sedang chatting dengan seseorang di Surabaya. Awalnya tiga ekor siluman dari Surabaya itu hendak menggunakan kereta Sancaka ke Jogja. Merapat ke Gunung Kelir. Namun Mas Totok berhasil mengompori mereka untuk secepatnya datang. Akhirnya tiga ekor siluman itu berangkat menggunakan bis malam itu juga. Aku tertidur lagi.

Esok paginya, meski keadaan tubuh sudah sedikit membaik, aku sempoyongan ke kamar mandi. Tujuan? Cuci pakaian. Apa boleh buat, pakaianku habis! Setelah itu, tergeletak lagi di tempat tidur. Mas Totok mengabari hendak turun ke Jogja. Menjemput tiga ekor siluman asal Surabaya. Tiba-tiba terbersit untuk ikut turun ke Jogja. Tujuan? Reservasi tiket kereta.

Mas Totok menyarankan agar aku menggunakan bis saja untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Awalnya aku bersikeras pakai kereta demi menyadari kondisiku. Tapi aku kalah argumen. Lagi-lagi masih belum tahu kapan hendak turun dari Gunung Kelir. Lantas Mas Totok turun ke Jogja dengan pesanan vitamin dariku. Aku tertidur lagi.

Siang hari terbangun, kudengar ramai-ramai di ruang sebelah. Sepertinya tiga ekor siluman dari Surabaya telah datang. Aku berusaha bangun. Berjalan tertatih. Aha, betul saja! Di ruang sebelah kulihat Mas Totok sedang kumpul bersama Mas Ardyansah yang Mantan Kyai itu, Mas Gajah Pesing, dan Kang Arai. Kami bersalaman.

Ini rupanya sosok Mantan Kyai yang tersohor itu? Weh-weh-weh, dagunya berjanggut. Kiranya tidak lah berlebihan jika kugelari dia dengan sebutan ‘Pangeran Berjanggut’. Badannya tinggi besar. Kalau berjalan kukuh sekali. Sekilas orang yang melihat bakal mendapat kesan seram dan serius. Tapi tungguhlah beberapa menit sampai ia mengeluarkan kata-kata pertama, niscaya kita bakal tahu: Mantan Kyai kocak tanpa tanding!

Blog Mantan Kyai, meski hitam kelam, sesungguhnya cukup menarik. Rawian-rawiannya sangat lincah. Ia sangat menguasai kosakata. Tak banyak kutemui blogger yang kaya akan kosakata. Kalau kita membaca, tulisannya terasa bergerak. Ia bisa meracik tulisan yang sesungguhnya serius dengan olahan yang empuk, renyah, dan sedap ketika disuguhkan. Sudah lama aku mengikuti tulisannya yang amit-amit kocak tapi gurih itu.

Aku tahu, sejak mulai aktif berkunjung ke blog-nya, aku merasa bakal bertemu dengannya. Entah di mana, entah kapan, aku merasa bakal bertemu. Siapa nyana, kami bertemu di Gunung Kelir. Masih dalam keadaan sempoyongan aku ikut bergabung bersama mereka.

“Kutunggu di Surabaya nggak nongol-ngongol, Mas?” tembak Mantan Kyai.
“He-he. Nyatanya kita ketemu di Gunung Kelir toh.”
Kami pun tertawa-tawa.

Sore harinya Mas Totok mengajak ke Gua Seplawan. Letaknya tak jauh dari rumah Mas Totok. Yah, jaraknya kira-kira sepelemparan tombak lah. Menghabiskan waktu paling banyak satu batang rokok mungkin. Masih dengan kondisi sempoyongan aku ikut mereka. Kali ini berlima naik Katana.

Gua Seplawan berada di ketinggian 700 mdpl. Terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 km ke arah timur kota Purworejo. Daya tarik gua ini berupa lukisan alam yang sangat artistik pada dinding guanya. Di sana kita masih bisa menyaksikan stalagmit, stalaktit, flow stone, helekit, soda straw dan gouwer dam.

Panjang Gua Seplawan kurang lebih sejauh 700 m dengan cabang-cabang gua yang memiliki panjang sekitar 150–300 m serta berdiameter 15 m. Gua alam ini mulai menjadi sangat terkenal pada saat ditemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi Pawestri seberat 1,5 kg pada 28 Agustus 1979 yang kini sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Satu hal yang tak kalah menarik, di sana terdapat gardu pandang dengan latar belakang Gunung Kelir. Melalui gardu ini kita dapat menikmati indahnya panorama alam di mana bila cuara cerah, Kota Jogjakarta dapat terlihat dengan jelas. Maka sebelum turun ke gua, kami naik ke gardu pandang.

“Yang sebelah kiri itu Gunung Merapi. Dan di sebelahnya Merbabu. Sementara di kanan itu laut selatan. Kelihatan kan garis pantainya?” terang Mas Totok.

Wih, betul juga. Dari sini kita bisa memandang ke segala arah. Meski masih sakit, aku tetap nekat duduk di bibir bukit. Sekitar atu meter di depan kami merupakan jurang. Berdua dengan Mas Totok aku bincang-bincang di sana. Dia menjeprat-jepretkan kameranya.

“Weh, wajahku kuyu sakit begini kok difoto-foto.”
“Lha, kalau nggak sakit apa nggak kuyu juga?”
“Sialan!”

Tak berapa lama kami turun. Bertiga dengan Kang Arai dan Mas Totok kami turun ke Gua Seplawan. Hari sudah melewati waktu Maghrib. Keadaan gelap gulita. Gua Seplawan berada di bawah bukit.

“Nggak mungkin masuk. Nggak ada lampu. Gelap sama sekali.” kata Mas Totok.

Weh, keadaan memang sungguh gelap dan sunyi. Apalagi waktu Maghrib baru saja lewat. Suasana mencekam mulai terasa. Mas Totok mengajak kembali ke atas. Aih, padahal yang seram-seram begitu selalu membuatku tertantang. Tapi mengapa mesti gegabah, pikirku. Aku pun manda pada Mas Totok.

Berlima kami nongkrong di warung dekat pintu masuk. Menyeruput kopi, teh panas, dan singkong goreng yang mengepul-ngepul nikmat. Aku menyulut sebatang kretek, tapi mulutku rasanya tak nikmat sama sekali. Usai obrol-obrol, kami turun, kembali ke rumah. Perjalanan pulang menggunakan Katana sungguh gelap sama sekali.

Sesampai di rumah, rupanya malam itu Gunung Kelir kedatangan tamu lagi. Mas Suryaden dan Mas Senoaji kembali naik ke Gunung Kelir. Maka jumlah blogger dalam sidang terbuka forum Gunung Kelir pun bertambah. Total jenderal: tujuh orang blogger menyemut di sana. Mas Totok, Mas Ardyansah si Mantan Kyai itu, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, Mas Senoaji, dan tentu saja si Pengayam Kata. Acara? Majelis blogger berupa ha-ha hi-hi sembari nge-net tentu saja. Sableng tenan!

Atmosfir semarak, mesra, penuh kelakar, dan nge-blog! Weh, para blogger ini nggak bisa nggak nge-blog barang sesaat apa? Demikian juga aku. Tapi dengan sangat menyesal aku mesti pamit undur diri. Tubuhku belum bisa diajak begadang dan terjaga berlama-lama. Tanpa sadar aku tertidur dengan laptop masih dalam pelukan.

Aku merasa seri The Waiting Is Almost Over kali ini terasa datar dengan alur yang lamban. Terkesan sangat diary yang sesungguhnya tak begitu kusuka. Apa boleh buat, kondisi tubuh tak mengizinkan pikiran untuk berolah rasa secara lebih luas. Namun aku harus menuliskan pertemuan kali ini. Karena menulis bagiku adalah tugas. Baik tugas pribadi maupun tugas nasional (tsah!).

Pertemuan kali ini memiliki kesan tersendiri bagiku. Dalam perjalanan panjang ini, makin hari makin banyak kawan-kawan blogger yang kutemui. Orang-orang yang sebelumnya tak kukenal sama sekali kecuali melalui dunia maya.

Apakah perjalanan ini mesti tetap dilanjutkan, atau kembali pulang sejenak? Dalam kondisi sakit begini tiba-tiba aku merasa ingin berada di rumah. Apa sebetulnya yang hendak kucari? Petualangan? Pengalaman batin? Atau sekadar pemenuh catatan harian? Aku ngungun sendiri menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Sayapku patah-patah di Gunung Kelir.

Namun demikian, ribuan terima kasihku pada Mas Totok, Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Suryaden, dan Mas Senoaji yang membuat pertemanan ini terasa nyata. Daftar nama sahabatku makin bertambah saja di setiap kota.

Di luar bulan mulai mengantuk. Malam minggu kali ini aku kembali menggigil di balik selimut.

Gunung Kelir, 15 Maret 2009.

gajah_pesing, Mantan Kyai, aRai, dan Penganyam Kata.
Foto dipinjam dari blog Kang Arai. Nuhun.

sebebas camar engkau berteriak
setabah nelayan menembus badai
seikhlas karang menunggu ombak
seperti lautan engkau bersikap
.
ya, sang petualang terjaga
ya, sang petualang bergerak
ya, sang petualang terkapar
ya, sang petualang sendiri
.
(Kantata Takwa, Sang Petualang)