You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams (The Prophet, Children, Kahlil Gibran)
Tulisan ini menyempal dari seri cerita The Waiting Is Almost Over. Dalam sebuah perjalanan, aku berkunjung ke rumah seorang sahabat lama. Seorang sahabat yang tahu betul bagaimana pendalaman seorang Daniel Mahendra. Seorang sahabat yang pernah sama-sama merasakan manis getirnya kehidupan. Ibaratnya, kalau dia lapar, aku pun lapar. Kalau dia kenyang, sialnya aku tetap lapar. He-he-he.
Ia lebih tua lima tahun di atasku. Sudah tahunan lamanya kami tak saling bertemu. Dari mulai ia masih lagi bujangan, beristri, hingga beranak tiga. Terakhir bertemu, anaknya masih kecil-kecil. Bahkan anak ketiganya masih merah bayi. Namun ketika kembali bertemu, aku sontak terhenyak kaget bukan kepalang.
Bagaimana tidak; kini Rafi anak pertamanya sudah kelas 3 SMP. Tyas si anak tengah sudah kelas 5 SD. Sementara si bungsu Rayhan malah sudah kelas 1 SD. MasyaAllah. Dan lebih gila lagi, keponakannya yang dulu kuingat masih lagi SMP, kini sudah lulus kuliah dan menikah dengan satu anak. God! Aku terhenyak sekaligus ngakak. Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi.
Senang sekali ketika baru saja turun dari kendaraan, bocah-bocah itu loncat-loncat kegirangan. “Om Daniel!! Om Daniel!! Om Daniel!!” seru mereka. Aku hanya cengar-cengir. Tapi begitu melihat mereka dari jarak dekat, giliran aku yang terhenyak, “Kalian sudah sebesar ini?!!!” mereka hanya tertawa-tawa ngakak melihat kekagetanku.
Apa yang hendak kuceritakan? Begini. Aku tidak ingin menceritakan isi pertemuannya. Toh isinya berupa kekangenan, bincang-bincang, serta sekelebat cerita tentang masa lalu yang cukup manis untuk dikenang. Namun yang hendak kuceritakan adalah tentang dua unit komputer yang ada di rumahnya.
Dua komputer tersebut terhubung dengan internet yang online selama 24 jam. Selain sahabatku, ketiga anaknya praktis sangat familiar dengan internet. Namun yang menggelikan adalah si bungsu Rayhan yang masih duduk di kelas 1 SD. Begini katanya:
“Om, Yayay punya YM!” tukasnya bangga menyebut nama panggilannya.
“Oya?”
“Iya. Masukin YM Yayay, Om.”
“Iya…”
“Sekarang…”
“Iya, Yay…”
“Yayay juga punya Friendster, Om.”
“Ha?! Friendster? Ha-ha-ha-ha. Kamu kelas satu SD sudah punya Friendster. Sudah banyak temannya?”
“Baru satu Om. Mas Rafi doang.” katanya menyebut nama kakak sulungnya.
“Ha-ha-ha-ha!”
“Yayay juga punya Facebook, Om!”
“Whaaattt?!! Facebook?!!”
“Iya. Masukin Facebook Yayay, Om. Sekarang.”
“Ha-ha-ha-ha!!!” aku ngakak sejadinya-jadinya. Bagaimana tidak, aku Facebook saja tak punya, kok ya bocah SD kelas 1 begini sudah ber-facebook ria.
Tapi si Rahyan alias Yayay ini memang sudah sangat familiar dengan internet. Ia sudah bisa chatting di YM. Dengan siapa saja. Setiap tamu ayahnya, selalu ia todong ID YM-nya. Ia memang sedang lahap membaca. Apa pun dia baca. Plang nama di jalan dia baca. Spanduk di trotoar dia baca. Pokoknya apa pun dia baca. Maklum, lagi belajar membaca, sedang getol membaca, dan haus-hausnya membaca.
Meski masih tertatih-tatih membaca tuts keyboard komputer, tapi ia sudah bisa mengetik. Yang lebih mengagumkan, ia sudah bisa membuat cerita pendek (versi anak seusianya tentu saja) di komputer. Aku sampai terbelalak kagum. Seusia dia sudah bisa seperti itu, kalau didorong terus, bagaimana dewasanya kelak? Jangan-jangan bisa sepiawai Seno Gumira Ajidarma, pikirku.
Nah, dalam perkunjunganku tersebut, si ayah yang duduk di depan komputer satunya tiba-tiba membuka Facebook anak sulungnya, Rafi. Sekonyong-konyong ketiga anaknya itu mendekat, bergelayutan serta memeluk ayahnya dari belakang.
“Yah,” kata Rafi, “Kasih komentar di tulisan Rafi, Yah.”
“Iya ini Ayah sedang buka.” sahut ayahnya.
Dan sang ayah pun membuka Facebook si sulung.
Tulisan yang dimaksud si sulung adalah berupa sajak dengan judul To Ayah. Isinya berupa kekaguman sang anak pada ayahnya.
Namun yang membuatku ngakak tak henti-henti adalah ketika Tyas, si anak tengah, tiba-tiba nyeletuk:
“Ayah ih, kurang kerjaan amat sih. Kalo’ mau ngomentarin tulisan Mas Rafi ya udah aja langsung ngomong ke Mas Rafi. Kan Mas Rafinya juga ada di sebelah. Ngapain juga pake ditulis di situ?” tukas Tyas ngakak menggoda ayahnya.
Mendengar itu tawaku sontak meledak tak henti-hentinya. Sang ayah pun ikut meledak tertawa. Ketiga bocah itu jadi ikut-ikutan ngakak. Mereka tertawa bersama di depan komputer yang sedang membuka Facebook si sulung.
Tiba-tiba aku jadi tercenung mengamati mereka. Mereka bocah-bocah zaman sekarang. Seusia mereka sudah sangat familiar dengan internet (ya memang harus!). Sudah rutin ber-email, chatting, googling, hingga ber-facebook.
Ketika usiaku seumur mereka, tak ada internet. tak ada PC, tak ada webcam. Aku justru akrab dengan kegiatan alam bebas. Mendaki gunung, menyusuri sungai, memasuki hutan, camping di alam terbuka, menggelar api unggun, atau mandi di pantai.
Setiap generasi tentu memiliki zamannya masing-masing. Dan setiap zaman mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam memandang kehidupan. Bukankah begitu? Bagaimana dengan kalian?
27 Maret 2009 | 21.49 wib




jadi apa beda anak dulu dengan anak sekarang maaasss……???
jawab ya maaass…..
“Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi.”
Semua orang tumbuh, kecuali Peter Pan..
tanti, terakhir menulis Nyepi, Hening.
Ah, keduluan Mbak Tanti nih…
Aku mau ngomentarin hal yang sama… Persis plek-ketiplek… hihi…
Btw,
udah punya akun facebook tho?
maksudku: udah DIBIKININ SAMA FANS NGGAK JELAS ituh..
Begitulah waktu, berjalan maju dan tidak sudi menunggu.
Roda zaman, siapa yang lambat akan tergilas.
Anisa, teka-tekinya bagus juga.
Jadi apa beda anak dulu dengan anak sekarang?
Kalau anak sekarang masih muda belia. Kalau anak dulu udah pada tuwir dong sekarang.
Hehehe… bener nggak?
“…Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi” …
Atau … mereka sebetulnya tetap … tetapi kita yang “mengecil” …
(ah komen sembarang ini …)(hehehe)
nh18, terakhir menulis CERITA YANG TERTINGGAL