Time Was
You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams (The Prophet, Children, Kahlil Gibran)
Tulisan ini menyempal dari seri cerita The Waiting Is Almost Over. Dalam sebuah perjalanan, aku berkunjung ke rumah seorang sahabat lama. Seorang sahabat yang tahu betul bagaimana pendalaman seorang Daniel Mahendra. Seorang sahabat yang pernah sama-sama merasakan manis getirnya kehidupan. Ibaratnya, kalau dia lapar, aku pun lapar. Kalau dia kenyang, sialnya aku tetap lapar. He-he-he.
Ia lebih tua lima tahun di atasku. Sudah tahunan lamanya kami tak saling bertemu. Dari mulai ia masih lagi bujangan, beristri, hingga beranak tiga. Terakhir bertemu, anaknya masih kecil-kecil. Bahkan anak ketiganya masih merah bayi. Namun ketika kembali bertemu, aku sontak terhenyak kaget bukan kepalang.
Bagaimana tidak; kini Rafi anak pertamanya sudah kelas 3 SMP. Tyas si anak tengah sudah kelas 5 SD. Sementara si bungsu Rayhan malah sudah kelas 1 SD. MasyaAllah. Dan lebih gila lagi, keponakannya yang dulu kuingat masih lagi SMP, kini sudah lulus kuliah dan menikah dengan satu anak. God! Aku terhenyak sekaligus ngakak. Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi.
Senang sekali ketika baru saja turun dari kendaraan, bocah-bocah itu loncat-loncat kegirangan. “Om Daniel!! Om Daniel!! Om Daniel!!” seru mereka. Aku hanya cengar-cengir. Tapi begitu melihat mereka dari jarak dekat, giliran aku yang terhenyak, “Kalian sudah sebesar ini?!!!” mereka hanya tertawa-tawa ngakak melihat kekagetanku.
Apa yang hendak kuceritakan? Begini. Aku tidak ingin menceritakan isi pertemuannya. Toh isinya berupa kekangenan, bincang-bincang, serta sekelebat cerita tentang masa lalu yang cukup manis untuk dikenang. Namun yang hendak kuceritakan adalah tentang dua unit komputer yang ada di rumahnya.
Dua komputer tersebut terhubung dengan internet yang online selama 24 jam. Selain sahabatku, ketiga anaknya praktis sangat familiar dengan internet. Namun yang menggelikan adalah si bungsu Rayhan yang masih duduk di kelas 1 SD. Begini katanya:
“Om, Yayay punya YM!” tukasnya bangga menyebut nama panggilannya.
“Oya?”
“Iya. Masukin YM Yayay, Om.”
“Iya…”
“Sekarang…”
“Iya, Yay…”
“Yayay juga punya Friendster, Om.”
“Ha?! Friendster? Ha-ha-ha-ha. Kamu kelas satu SD sudah punya Friendster. Sudah banyak temannya?”
“Baru satu Om. Mas Rafi doang.” katanya menyebut nama kakak sulungnya.
“Ha-ha-ha-ha!”
“Yayay juga punya Facebook, Om!”
“Whaaattt?!! Facebook?!!”
“Iya. Masukin Facebook Yayay, Om. Sekarang.”
“Ha-ha-ha-ha!!!” aku ngakak sejadinya-jadinya. Bagaimana tidak, aku Facebook saja tak punya, kok ya bocah SD kelas 1 begini sudah ber-facebook ria.
Tapi si Rahyan alias Yayay ini memang sudah sangat familiar dengan internet. Ia sudah bisa chatting di YM. Dengan siapa saja. Setiap tamu ayahnya, selalu ia todong ID YM-nya. Ia memang sedang lahap membaca. Apa pun dia baca. Plang nama di jalan dia baca. Spanduk di trotoar dia baca. Pokoknya apa pun dia baca. Maklum, lagi belajar membaca, sedang getol membaca, dan haus-hausnya membaca.
Meski masih tertatih-tatih membaca tuts keyboard komputer, tapi ia sudah bisa mengetik. Yang lebih mengagumkan, ia sudah bisa membuat cerita pendek (versi anak seusianya tentu saja) di komputer. Aku sampai terbelalak kagum. Seusia dia sudah bisa seperti itu, kalau didorong terus, bagaimana dewasanya kelak? Jangan-jangan bisa sepiawai Seno Gumira Ajidarma, pikirku.
Nah, dalam perkunjunganku tersebut, si ayah yang duduk di depan komputer satunya tiba-tiba membuka Facebook anak sulungnya, Rafi. Sekonyong-konyong ketiga anaknya itu mendekat, bergelayutan serta memeluk ayahnya dari belakang.
“Yah,” kata Rafi, “Kasih komentar di tulisan Rafi, Yah.”
“Iya ini Ayah sedang buka.” sahut ayahnya.
Dan sang ayah pun membuka Facebook si sulung.
Tulisan yang dimaksud si sulung adalah berupa sajak dengan judul To Ayah. Isinya berupa kekaguman sang anak pada ayahnya.
Namun yang membuatku ngakak tak henti-henti adalah ketika Tyas, si anak tengah, tiba-tiba nyeletuk:
“Ayah ih, kurang kerjaan amat sih. Kalo’ mau ngomentarin tulisan Mas Rafi ya udah aja langsung ngomong ke Mas Rafi. Kan Mas Rafinya juga ada di sebelah. Ngapain juga pake ditulis di situ?” tukas Tyas ngakak menggoda ayahnya.
Mendengar itu tawaku sontak meledak tak henti-hentinya. Sang ayah pun ikut meledak tertawa. Ketiga bocah itu jadi ikut-ikutan ngakak. Mereka tertawa bersama di depan komputer yang sedang membuka Facebook si sulung.
Tiba-tiba aku jadi tercenung mengamati mereka. Mereka bocah-bocah zaman sekarang. Seusia mereka sudah sangat familiar dengan internet (ya memang harus!). Sudah rutin ber-email, chatting, googling, hingga ber-facebook.
Ketika usiaku seumur mereka, tak ada internet. tak ada PC, tak ada webcam. Aku justru akrab dengan kegiatan alam bebas. Mendaki gunung, menyusuri sungai, memasuki hutan, camping di alam terbuka, menggelar api unggun, atau mandi di pantai.
Setiap generasi tentu memiliki zamannya masing-masing. Dan setiap zaman mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam memandang kehidupan. Bukankah begitu? Bagaimana dengan kalian?
27 Maret 2009 | 21.49 wib


time was when flying was just a silly dream.
time was when playing was a mean of outbound activity.
time was when shrinking the world into a monitor screen-wide was impossible.
gagal pertamax …
koment benernya bentar lagi … gara2 nunggu susu jahe
Kesimpulannya?
mendadak merasa tua??? hihihi….
EM
“God! Aku terhenyak sekaligus ngakak. Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi.”
memangnya kamu nggak ikut tumbuh tah ? sadar…sadar…
weh, jamanku kecil dulu, tiap hari hanya main di alas, sawah, kebun.
angon iwak karo golek wedus… eh, kuwalik ya ?
bikin mainan sendiri, mobil2an dari kembang tebu, kulit jeruk, dari tanah lempung yang diemplek2. terus hampir kelelep dua kali di kali. adu jotos ditengah sawah, hahaha… mana ada jaman sekarang seperti itu.
sepertinya, pada saat jaman kita kecil dulu, Dan. eh, bentar…*mikir, ngitung2 umurmu*, ya-ya, ternyata beda dikit thok kok. lanjut… saat jaman kita dulu, menurut sudut pandangku, menuntut anak2 (apalagi yg tinggal di ndesit seperti aku) untuk lebih kreatif buat melewati hari2nya. tapi entah, mungkin ukuran kesenangan dan kreatifitas saat ini bisa jadi sudah beda. aku nggak tau.
komenku belum dapat nomer diatas #10, makanya… ini serius !
tiap masa ada orangnya dan tiap orang ada masanya … saat kecil paling main bentik ..pol gamewatch dan sega ah … gimana mo internet kalau media penyimpanan 5inchi 1,4Mb segede gaban.
Hari baru telah datang
Bunga bunga masa depan
Telah datang perubahan
Bintang bintang anak zaman
(anak zaman – Kantata Samsara)
nah kan makanya bikin facebook
biar gak berasa tua mas …hehehehehehe
kalo jaman dulu aku asyik main lompat karet sampe tangan merdeka juga di jabanin, asyik mainan bola bekel sampe berjam2,
asyik belajar sepedaan sampe kaki pada lecet semua,
asyik main petak umpet sampe beneran ngumpet di kolong tempat tidur yg berdebu itu dan
asyiknya aku pernah makan di tengah sawah sama kakek nenekku waktu bertandang ke kampung….
Ria, terakhir menulis Paris Pandora
Ini cerita tentang keluarga yang melet IT banget, ya. Pasti banyak nilai positifnya. Dan zaman memang berubah. Permainan anak juga berubah. Tapi, bagaimana pula mengantisipasi dampak negatifnya? Mas Dan belum menjelaskannya.
Ngemeng-ngemeng, kok bercerita tentang anak, sih? Emang Mas Dan sudah punya anak berapa? Hi…hi….
saya nggak bisa mbayangin bagaimana wajah indonesia 20 atau 30 tahun lagi dg orang tua yg demikian peduli pada TI anaknya. “Ah, pengetahuan kian muda saja.”(sebuah kutipan yg mana saya lupa sumbernya)
Zulmasri, terakhir menulis Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela
eh, mas,
putra, anak saya baru 10 bulan mulai akrab dg laptop. saat saya nulis, mousenya sering ditarik dan dibanting. walhasil, tulisan dan layar laptopnya sering kaget.
juga saat saya enak-enaknya nonton bola di tv, remote yg ada di samping saya diambil dan diketuk-ketuk ke lantai, tombol dipencet, dsb. akibatnya, siaran bola berubah jadi sinetron
melihat 3 anak cerdas begitu, bgm dg mas sendiri? kapan nyusulnya?
Zulmasri, terakhir menulis Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela
@DM : Monggo mas … silahkan dijawab pertanyaan pak zul , mau nyusul kapan ? btw nyusul banting remote atau narik narik kabel mouse mas DM ? hahahhahahahha
Mal, terakhir menulis Ini Pasar Malam Bung !!!!
cilikanku rambutku dicukur kuncung …. (halah)
tapi yah kurang lebih seperti lagunya basuki itulah dulu kehidupan di zamanku (gak terlalu jauh dari jaman sampean mas) hihihihi
dolanane montor2an teko jeruk bali. playon. layangan. trus muleh bengep kabeh mari tawuran… oran ono internet. wong mesin tik ae seng duwe cuma pak lurah .. jiakakakaka
semakin dini semakin baik.. jadi nanti om-nya nggak kaget jika ditanyain seperti ini, “ommmm.. punya koleksi 3gp yang baru kah?” .. hihihi..
wah, kalau anak kecil sakarang pegangannya HP, PONARI aja seneng main HP, ora peduli sama orang banyak….
nek dulinanku jaman biyrn, PATEL LELE…., jek ono opo ora yo…………
LuxsMan, terakhir menulis Earth Hour 2009
Waktu kecil dulu aku suka mandi di kali..
Waktu sudah beranjak dewasa, kenapa cewek-cewek yang sering kuajak mandi di kali itu menolak tawaranku untuk bersama-sama mandi di kali lagi ya?
DV, terakhir menulis Merpati Berkaki Satu, Sepagi Itu
@Goenoeng: Iya tuh, jaman nya aq juga begitu. Sekarang dah ada aliran baru. Facebookiyah..
kata tulisan di Kompas beberapa waktu lalu….kekerabatan yang baru itu bernama Facebook Dan….makanya buatlah….hehe
Kemajuan tekhnologi ini harusnya juga dibarengi dengan pengawasan orang tua…seakrab akrabnya anak dengan internet..tetap harus ada pengawasan Dan….jangan sampai sang anak mengetik 3 huruf…S…E….X……bisa ditebakkan?
Selalu ada kebaikan dalam setiap pembaharuan, namun jangan salah, kelemahanya juga ada kan Dan…contoh….
Aku sama teman persis sebelah mejaku..yang tinggal menoleh maka kepalanya akan terlihat….kami hampir tidak pernah berbicara…komunikasi yang kami lakukan hanya lewat YM….parah…..
Waktu aku kecul dulu aku sudah main mesin ketik papa, ngetik apapun…bahkan aku ingat kartu ulangtahun untuk pesta ke 10..aku ketik di atas kertas HVS dan aku warnai dengan spidol berwarna merah dan biru….hehehe. Sekarang anakku sudah sering melihat ibunya ngetik ngetik di kotak hitam yang kecil dan bisa di bawa bawa…sayangnya Tangguh malah tertarik untuk memukulnya….hiks…
yessy muchtar, terakhir menulis Ngalor dan ngidul hari ini.
@yessy:
fesbuk itu mendekatkan yang jauh
dan menjauhkan yang dekat.
lha, buktinya teman-temanku,
lagi rapat dan duduk bersebelahan aja
ngobrolnya via fesbuk.
eh, tumben deh komentar kamu, yes.
sehat aja kan, jeung?
*disambit kotak hitam kecil yang bisa dibawa-bawa*
*tangkap langsung masukin saku*
goyul, terakhir menulis For Auld Lang Syne
@yessy lagi:
tiga huruf itu, S, E dan X… um… dibacanya apa ya?
*sok nggak bisa nebak*
goyul lagi, terakhir menulis For Auld Lang Syne
@Goyul
facebook itu…buku muka!!!
Gitu aja kok repot *gusdur style*
S..E…x….itu ..dibacanya uni….
buanglah sampah pada tempatnya, tempatnya sampah ya dikali, di jalanan, di hutan, di sungai, dimanapun asal bukan ditempat sampah!
*berlalu sambil melenggang dan nenteng kotak hitam kecil yang bisa di bawa bawa*
yessy muchtar, terakhir menulis Ngalor dan ngidul hari ini.
itulah kehidupan tamap tersa kita semakin berumur,emanga ga keurasa gituumur semakin tambah ,om om, kpn punya tiga yg hitech
@ goyul lagi
Lah uni! kalo ngomong lagi rapatnya gak chattingan pake fesbuk entar malah gak jadi rapat! malah jadi ngobrol! hauhauhahau
jadi fesbuk ada gunanya kan Uniiiii *kedip kedip ke Uni sambil gigit jari dan pasang muka sok imut*
*melarikan diri sebelum Uni ngejar pake clurit*
yessy muchtar, terakhir menulis Ngalor dan ngidul hari ini.
Ketika zaman bergeser dan kebiasaan pun mulai berbeda
Tapi entah kenapa, sepertinya anak2 kelihatan lebih sehat jika bergaul dengan alam
Putri, terakhir menulis Review “Kontes Blog 1 Tahun Hakimtea.com”
@yessy
yess, kamu sehat ?
hahahhaa anak anak sehat sip sip aku cuman membayangkan sesuatu yang belum sempat terungkap mas
genthokelir, terakhir menulis Management Gengsi
*jadi malu pada diri sendiri saat membaca cerita diatas, sebuah keluarga yang harmonis*
@ goyul dan yessy
masak ngga bisa baca S E X itu apa?
bacanya: S E K A L I
ya sekali dilakukan biasanya enak sekali gitchu…..
(aku omong apa sih ini hihihi)
EM
huehehe…
jamanku dulu?
SERU!
menerabas hutan, membuat rumah-rumahan dengan ilalang kering dan kayu jampang. membuat ‘lecang’ dari torehan getah karet untuk menjebak burun. atau sesekali menyumpitnya. lalu, membubuh (mengepung/menangkap) ikan di parit dengan kedua tangah. dan pastinya, mengumpulkan beling atau kaca pecah dan damar untuk membuat gelasan, itu loh… campuran untuk benang layangan agar tangguh kalo’ di adu…hi…
abis itu, main layangan dengan kaki telanjang… kadang tergores ilalang, kadang malah tersobek beling dan beberapa kali tertusuk paku.
satu lagi, yang seru! bermain patrom dan membuat meriam di tanah samping rumah…
wah…mungkin ga yah, anakku main seperti aku dulu??
—
emang waktu itu berjalan dengan sangat cepat. padahal, rasanya baru aja kemarin menjadi anak kecil, kemudian remaja…ahhh… gitu deh…
but, hei!!! santai….
diatas langit masih ada langit…
sekarang aku memang sudah tua… tapi, masih banyak kok yang lebih tua…huahahhahhahaha….
he… maaf mas, malah cerita sendiri… maaf… maaf… (hihi… sambil berjingkat pergi pelan-pelan…)
hesra, terakhir menulis bertentang silang
Waktu memang cepat berlalu, tanpa kita menyadari karena kesibukan kita. Yang membuat kita tertegun adalah semakin cepat anak-anak dilingkungan kita menjadi besar, yang rasanya baru kemarin masih bayi merah. Padahal…ternyata itu sudah bertahun-tahun lalu.
Dari beberapa postinganmu akhir-akhir ini, ada nada kerinduan dan keinginan seorang DM untuk segera berani memutuskan, dan punya pasangan…mungkin lima atau enam postingan berturut-turut…
Kenapa Niel? Gamangkah?
Kadang kita memang harus berani memutuskan, karena tidak ada unsur pasti didepan kita. Namun dengan itikad dan niat baik, semua bisa diatasi.
Rasanya tak sabar menunggu undanganmu…
Jangan sampai yang memanggilmu paklik, nantinya sudah berbuntut pula…
Tahu kan maksudku?
edratna, terakhir menulis Apakah semua yang instant tidak baik?
DM wrote : “Namun ketika kembali bertemu, aku sontak terhenyak kaget bukan kepalang.”
aih aih….jadi ingat kekagetanmu saat aku menghubungimu kembali, hehehe….btw gak punya facebook? astaga…..hahaha….salut untuk keteguhan hatimu untuk tidak bergabung dengan FB, bung…
mas dm, dibanding blog apaan istimewa face book itu? saya sendiri juga belum ikutan. biasa, ketinggalan info. gimana mbak yessi?
o ya, mousenya sdh ganti 3 kali dan remotenya baru 2 kali
Zulmasri, terakhir menulis Pohon-pohon pun Berbagi Sepi di Luar Jendela
waduh senangnya punya anak kayak gitu…jadi kepengen beranak pinak kayak gitu juga aku niy hehehehehe BTW ADA YANG MAU AMA AKU GAK ? hahahahahahahahahahahah kok jadi nawarin diri ya…hahahahaha
tiap jaman selalu berbeda, tapi yang tetap sama adalah….bahwa anak hari ini adalah penguasa esok, jadi jangan sia-siakan mereka….
imoe, terakhir menulis …(update)berhadiah makanan spesifik minangkabau…
Pagi kak Daniel…
)
Aku suka banget sama anak-anak, dan tiap masa kemampuan manusia itu selalu meningkat. Anak sekarang jauh lebih cerdas ya, tapi tidak semua anak seperti Raihan. Beruntung banget ya punya adik seperti dia, pasti lucu, jadi pingin cubit deh..
Kapan aku bisa cerdas seperti itu ya..
(lho koq
hihih… bener mas… jelas nggak bisa anakku seperti aku dulu…
dulu, di belakang rumahku ketika baru pindah ke kalimantan, masih ada hutan. beberapa perdu serta rumpun ilalang jika lebih ke utara. nah, kemudian, sebagian diterabas, dibakar. kadang-kadang aku dan teman-teman bermain pada lahan sisa bakaran itu. heiii… bara apinya awet banget, karena disana itu gambut, dan tanaman utamanya justru ilalang…hehe… kaki-ku dulu sering melepuh, kalau terjerembab bara. haha… nakal yah?
kalau membayangkan sekarang… wah, nggak ada lagi tempat seperti itu. bahkan terakhir aku pulang kampung… lahan di belakang rumah sudah jadi apa coba???
perumahan???
hem.. hampir benar…
tapi yang kumaksud adalah perumahan abadi, alias pekuburan.
kalau ngomongin dulu memang ga ada habisnya.. makanya ini selalu jadi topik yang sangat seru untukku.
pernah mas.. anakku tak biarin maen aer di bale RW, juga maen tanah… aku nya biasa aja… malah seneng dia maen bebas…
tau nggak yang protes sapa? justru tetanggaku…huahahhahaha… beneran loh, aku malah ditegur dengan ibu-ibu disana…
wuaahhhh… kok jadi curhat?
hem… jadi pengen nulis tentang masa kecil…
hesra, terakhir menulis bertentang silang
@DM
Mutiara dalam lumpur????……….Maksud Loooooooooooooo?!?!?!?!!?
@Goyul
Uni, bantuin aku nyulik si DM ini yukk, terus kita lempar ke sarang bencong! sehariiiiiiiiiiiiiii aja….gimana Uni??? Setuju!?!?!?
Yah yah yah …..
yessy muchtar, terakhir menulis Ngalor dan ngidul hari ini.
hahahhaha.
ngakak baca komen2nya Tante Yessy…
dhilacious, terakhir menulis Thanks berat ya, mas Mark Zuckerberg !
Semua orang disekitarmu tumbuh, dan kemana kamu, Niel?
Tulisanmu bikin ingat masa kecilku yang menyenangkan, main di sawah, di kali, atau beramai-ramai menyusuri sungai kecil di Bo Glundung dengan sepupu-sepupuku, sambil menikmati kicau burung dan tarian capung yang warna-warnanya indah, merah metalik, biru metalik, hijau metalik! Mana bisa kujumpai ditempat tinggalku waktu itu? Menyusurinya pun dalam arti kami nyemplung, karena tepiannya sudah diokupasi ilalang yang tumbuh rapat dan kabarnya banyak dihuni ular. Diujung penyusuran yang sepatutnya untuk anak-anak kecil seperti kami waktu itu, ada sebuah air terjun, dan ketika berhasil mencapainya, hati ini senang sekali.
Sama kayak Yayay, pas baru bisa baca semua kubaca, menyenangkan, rasanya dunia yang tadinya diam, berbicara padaku. Dan semakin aku tumbuh, semakin banyak yang disampaikan dunia lewat huruf dan angka padaku.
Selamat menikmati hari minggu yang tenang!
Yoga, terakhir menulis 1000 Buku Bagi Anak Negeri-Up Date Pos Penerimaan Buku
@yessy:
iya, nih. DM tega banget bilang yessy beranak dalam lumpur.
….eh, apa tadi? mutiara dalam lumpur ya? huehehe…
*kabur disambit dua-dua pake tiang listrik*
yuk, yes. kapan dong kita culik DM buat dijorokin ke sarang benchong? semalam aja cukup kali ya? huahahaha…
*sambil ngebayangin DM “menyelesaikan tugas” SEKALI (istilah mbak imel) bagaikan perawan di sarang penyamun*
hai, goniel! masih lumutan di kantor nyelesaikan proposal nih. abis kamu ogah bantuin.
masmelo, terakhir menulis For Auld Lang Syne
Dulu waktu kecil..daku suka main gambar bongkar pasang. Gambar orang-orangan yang bajunya bisa di gonta-ganti. Sampe lupa belajar. Dibuang papa..tak beli lagi..murah, 50 rupiah saja
Terakhir, ketika aku beli yang agak mahalan 150 rupiah dan ketika nilai ulanganku jeblok, mainan itu dicemplungin sama papaku ke dalam got dan diaduk2 sama sapu lidi. Miris hatiku..
Tapi aku akan berlaku sama juga kok sama anakku, kalau nakalnya sama
Hai mas Niel…..ini niy buktinya…..
mana Ade bisa lupa???
Kembali ke topik : emang soal jaman, ya selalu berubah kedepan dan berputar ….
Kalo kita dulu pada masa kecil bisa dekat dengan alam, sekarang internetlah alam yang dekat dengan kita ….gak bisa dipungkiri…
tapi tanpa kita sadari itu juga yang bikin alam menjauh dari kita….
Homeostasis… keseimbangan
baiknya kalo itu berjalan seimbang. Ya bisa dekat dengan alam, ya bisa dekat dengan kemajuan teknologi.
Sudah mas Niel? Loteknya dah abis? sayang di sby gak ada lotek. lo…lo….masiy mau nambah no…. awas tambah…… hihihi….*kabur*
prameswari, terakhir menulis Berbagi Kasih
kenapa mas…..iri sama anak-anak itu ya….sepantaran Rafi, mas sedang menulis juga di majalah SMP si Mini iitu. Kan dulu belum ada facebook. Sepantaran Yayay, yah mas masiy di Bandung main layangan………hehehe
Berbeda jaman, berbeda pula budayanya….
Anak jamanlah yang memutuskan……
asal jangan sampe keblinger
prameswari, terakhir menulis Berbagi Kasih
Apa kabar mas Daniel…??
Bunda lamaa sekali tidak jalan jalan ,tengok tengok dan meyapa blog para sahabat..alasan yang klasik…REPOT.
Btw…soal waktu…Bunda sering berpikir juga…wah sudah 52 tahun…Allah memberi umur kepada Bunda…sudah bermanfaatkah apa yang Bunda lakukan ?
Nah…kalau keponakan saja sudah pada remaja..dan ada yang sudah menikah…..berarti…kita sudah semakin TUA…dan jaman sudah berbeda..lha cucu keponakan saya masih SD saja kesekolah bawaanya flashdisk….padahal dulu Bunda pakai buku saja terbatas sekali….
@Yessy:
Yuuukkk… aku ikutan dong kalo mau nyulik.. hihihi..
@DM:
Masa kecilku diisi dengan naik sepeda (sok gaya lepas tangan), main sepatu roda (pegangan sama mobil yang kebetulan lewat di depan komplek), nyari ikan sepat di selokan yang cukup besar ditengah komplek perumahan, ke tanah kosong lalu membuat gua mini dari dahan pepohonan, main perosotan di tanah yang menurun bekas gusuran, manjat pohon jambu, nangkring di pohon belimbing di halaman rumah sambil makan tempe goreng lengkap dengan cabe hijau yang tumbuh disamping pohon belimbingnya (jadi tinggal petik), nongkrong di atap rumah sampe pernah kejeblos karena asbesnya pecah (untung ga mendarat di ruang tamu).
Baru aku sadar, ternyata ga bisa diam juga aku ya.. he5
Pertanyaannya jawab disini ya..
Sad Ripu itu, didalam ajaran Hindu merupakan enam sifat tidak baik yang harus kita hilangkan dari diri kita.
Terdiri dari:
1. Kama atau hawa nafsu
2. Loba atau sifat rakus/tamak
3. Kroda atau sifat pemarah
4. Moha atau kebingungan
5. Mada atau mabuk/lupa diri
6. Matsarya atau sifat iri hati
Ay, terakhir menulis beri aku satu
wew… anak2 memang dibesarkan oleh zamannya, mas daniel. saya suka banget dg keakraban mas daniel dg anak2. memang sungguh menyenangkan melihat keakraban anak2 sekarang pada dunia IT. kemudahan akses internet membuat pikiran anak2 seringkali lebih dewasa dibandingkan dengan usianya. semoga IT bisa memberikan nilai tambah buat anak2 masa depan negeri ini.
yaaa tiap generasi ada masanya…, seperti kau dulu selalu histeris kalau pulang sekolah trus liat si ‘Kxxxxxxxx’ melenggang bak peragawati…….:-). Sejak smp dulu aku udah add sampeyan di facebook, kok gak di approve seh ?..ha ha ha ha ha
*ngakak baca komentar cak ri*
zaman sampeyan smp udah ada fesbuk tho, cak? wakakakaakk… hebaaatt!!!
goniel, jadi jadul kamu suka histeris lihat lenggok bak peragawati, ya?
pantesan aja tuanya begini…
*bersidekap sambil geleng-geleng kepala*
@cak ri:
k***** itu kucing ta, cak?
hakhakhakhak… rupanya si goniel liat kucing aja napsu…
eh mas DM…baru tau kalo Mars jadi Mars Mahendra sekarang…hehehe. Non lagi di mana…kalo di Aus jangan gak nyontreng yach…tanggal 9 April ne…udah terdata kan sebagai pemilih…
@ Cak Ri : Yeeeyyyy keliatannya Ade tahu K******.
hem ehm ehm……
yang dianterin sampe dapet lin itu kan Cak ???
uhuy…
prameswari, terakhir menulis Berbagi Kasih
ooo…ralat….katanya bareng2 nganternya ya Cak….
uhuy lagiiii
prameswari, terakhir menulis Berbagi Kasih
mas mahendra…..
mungkin karena anisa lahir dan besar dikota jakarta makanya sejak kecil anisa memang ngak banyak bermain diluar rumah spt cerita mas mahendra tentang masa kecil mas mahendra……lha gimana mau main diluar rumah wong di jakarta itu kan dikit banget ruang terbukanya kecuali kalau agak di pinggiran jakarta .
anisa bisa ngerasain main diluar rmh kalau sedang di jogja tempat eyang main sama sepupu .
tapi jaman anisa kecil dulu kan memang belum banyak permainan komputer spt sekarang malahan internet jg belum populer….. kalau permainan game seperti gamewatch sih memang kayak virus deh , kalau bisa di bawa – bawa ke sokolahan tapi anisa ngak ikutan loh ya maaasss………
jadi jaman mmg berubah mas kita ngak bisa mengharapkan anak sekarang sama aja dgn anak di generasi terdahulu , apalagi dlm hal pemaparan dengan tekhnolgy.
jadi apa beda anak dulu dengan anak sekarang maaasss……???
jawab ya maaass…..
“Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi.”
Semua orang tumbuh, kecuali Peter Pan..
tanti, terakhir menulis Nyepi, Hening.
Ah, keduluan Mbak Tanti nih…
Aku mau ngomentarin hal yang sama… Persis plek-ketiplek… hihi…
Btw,
udah punya akun facebook tho?
maksudku: udah DIBIKININ SAMA FANS NGGAK JELAS ituh..
Begitulah waktu, berjalan maju dan tidak sudi menunggu.
Roda zaman, siapa yang lambat akan tergilas.
Anisa, teka-tekinya bagus juga.
Jadi apa beda anak dulu dengan anak sekarang?
Kalau anak sekarang masih muda belia. Kalau anak dulu udah pada tuwir dong sekarang.
Hehehe… bener nggak?
“…Terhenyak karena kaget, dan ngakak karena ternyata orang-orang di sekitarku terus tumbuh. Hi-hi-hi” …
Atau … mereka sebetulnya tetap … tetapi kita yang “mengecil” …
(ah komen sembarang ini …)(hehehe)
nh18, terakhir menulis CERITA YANG TERTINGGAL