Angkringan
(The Waiting Is Almost Over: 27)
Persembahkan yang terindah demi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu (Kahlil Gibran, Sang Nabi)
Bagaimana kalian menemukan sahabat? Pasti ada banyak cara. Entah itu kualitas pertemanan yang gemilang, jalinan kuantitas yang terus bersemayam, bertemu sekelebatan di jalan, atau bahkan dari sebatang rokok kita bisa tetap menciptakan sebuah persahabatan.
Setelah beristirahat dan menikmati udara pegunungan di Gunung Kelir selama beberapa hari, hari ini aku memutuskan untuk turun. Ya, aku harus turun. Kondisi tubuhku memang belum sehat benar. Tapi perjalanan mesti terus dilanjutkan.
Boleh percaya atau tidak, dalam perjalanan kali ini aku betul-betul banyak ditolong oleh kawan-kawan baru yang usia pertemanannya belum lagi satu tahun. Tak ada teman lama, dan mereka adalah: blogger! Mereka betul-betul kukenal melalui blog. Lain tidak.
Aku memutuskan akan terus ke timur menggunakan kereta. Aku cek jadwal perjalanan kereta di website PT. KAI. Rupanya aku telah kehilangan jam keberangkatan kereta Argowilis dari stasiun Jogjakarta pada siang hari. Tapi aku sudah meniatkan untuk turun dari Gunung Kelir siang ini. Kulihat jadwal kereta lagi.
Mas Tok sedang repot dengan pekerjaannya. Telpon CDMA-nya belum bisa kupinjam (di Gunung Kelir tak ada sinyal GSM. Kalau pun ada CDMA, hanya satu-satunya dari Mobile8. –baca Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir). Kulihat Mas Ardyansah dan Mas Gajah Pesing sedang berbincang di ruang tamu. Mas Suryaden, Mas Senoaji, dan Kang Arai sedang tadarus internet. Tak ada blogger yang sedang online di YM. Aku mengirimkan sinyal pada semesta: berharap ada yang online.
Semensta mendengar permohonanku: sekonyong-konyong Mbak Tanti online. Kuceritakan kondisiku. Aku sedang butuh seseorang di Jogjakarta untuk memesankan tiket kereta. Rupanya, Mbak Tanti sedang berada di Surabaya (setiap dua minggu sekali ia selalu pulang ke Jogja). Sementara adiknya tak bisa dimintai tolong, karena baru pagi tadi berangkat ke Denpasar.
Tak lama Mas Melo online. Agoy pun online. Disusul oleh Prameswari. Weh, semesta mengembalikan sinyal yang kukirimkan secara berlebihan. Aku bersyukur. Empat orang blogger online secara bersamaan. Mas Melo di Medan, Agoy di Jakarta, dan Prameswari di Surabaya. Weh, aku mesti minta tolong siapa? Akhirnya kuceritakan kondisiku pada Mas Melo.
“Lisa masih ada di Jogja?” tanya Mas Melo melalui YM.
“Aku ragu. Sejak terakhir ketemu, katanya hanya seminggu di Jogja. Setelah itu kembali ke Jakarta.”
“Coba dulu. Sini nomor hp-nya. Biar kutelpon.”
Dan aku memberikan nomor hp Lisa.
Kuceritakan kondisiku pada kawan-kawan di Gunung Kelir. Akhirnya aku bisa meminjam telpon CDMA Mas Tok. Mas Senoaji menghubungi orang kantornya. Mas Suryaden menelpon istrinya. Semua bertujuan mencarikan tiket bagi seorang petualang sableng yang tak tahu diri ini.
“Aku sudah telpon Lisa, tapi nggak diangkat. Aku kirim SMS aja ya?”
“Oke.”
Tak berapa lama kudengar kabar dari Mas Melo melalui YM: Lisa sudah balik menelpon. Rupanya Lisa masih berada di Jogja, tapi sedang tidak di kota. Namun ia berjanji mencarikan seorang kawan untuk dimintai tolong pergi ke Stasun Tugu untuk mencarikan tiket. Sementara itu istri Mas Suryaden sudah mulai mencarikan tiket ke sebuah agen perjalanan. Weh, aku malah bingung sendiri, karena orang-orang mulai bergerak.
Aku mesti berpikir cepat serta memutuskan: siapa yang kupilih. Kalau semua orang dapat tiket, bisa bingung aku. Mas Suryaden menginformasikan posisi istrinya. Sementara Mas Melo mengabarkan teman yang dimintai tolong Lisa sudah berada di stasiun. Weh, kok jadi genting begini!
“Ini Lisa sedang telpon. Katanya ada kereta Turangga. Malam hari tapi. Dia bilang tinggal kelas eksekutif yang ada. Gimana? Mau?” tukas Mas Melo tetap melalui YM.
“Sebentar,” balasku.
Dengan cepat kutanya Mas Suryaden, “Mas, sudah ada kabar?”
“Istriku sudah nelpon agennya, Mas Dan. Sedang dicarikan, jadi masih nunggu jawaban.”
“Kalau kuiyakan yang ini gimana, Mas? Soalnya ada, tinggal nunggu jawabanku.”
“Wah kalo memang ada, iyakan saja, Mas Dan.”
“Nggak pa-pa ya, Mas?”
“Lho nggak pa-pa, Mas Dan.”
“Tengkyu banget, Mas…”
Dan aku beralih ke YM lagi: “Oke, Mas Melo. Ambil.”
“Ambil ya? Oke. Kata Lisa dia baru bisa menemui temannya maghrib nanti. Jadi begitu turun ke Jogja, langsung kontak Lisa aja.”
“Tengkyu banget, Mas Melo…”
“Jangan lupa makan!”
“Iya…”
“Obatnya!”
“Iyaaa…”
“Jangan merokok!”
“Baweeelll…”
Akhirnya aku mulai bisa bernafas lega. Tiket kereta sudah ada meski belum di tangan. Aku tertawa geli ketika menyadari betapa untuk memesan tiket kereta dari stasiun Jogja saja mesti mengontak Mas Melo melalui YM di Medan, lantas Mas Melo menghubungi Lisa melalui telpon di pinggiran Jogja, dan Lisa minta tolong temannya, juga lewat telpon, untuk memesan tiket di stasiun Jogja. Weh, betul-betul sableng aku ini!
Tapi aku senang karena bisa mempertemukan Mas Melo dan Lisa. Mereka kerap berkomen di blog-ku, namun tak pernah saling berkomen di antara blog mereka sendiri (setelah “peristiwa” ini mereka jadi saling berkomen. Hihihi!). Aku sangat berterima kasih pada Lisa karena meski sedang tidak di kota, namun mengusahakan temannya yang sedang berada di kota Jogja untuk memesan tiket. Kurasakan betul arti dari sebuah persahabatan! (Thanx, Lis!)
Sore itu aku baru tahu bahwa Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, dan Kang Arai memutuskan pulang ke Surabaya sore itu juga. Weh, padahal aku baru saja memesan tiket kereta.
“Kalo gitu kalian bisa turun bareng ke Jogja. Nanti kuantar. Tapi hanya sampai terminal Wates ya. Aku mesti nengok adikku ke rumah sakit soalnya.” ujar Mas Tok.
Aku hanya nyengir girang.
Aku mulai mengemas ransel. Meski kondisku belum baik benar, namun rasanya sudah bisa diajak bergerak turun. Sebelum loncat ke mobil, para blogger ini masih juga sempat-sempanya berfoto di depan rumah Mas Tok. Mas Suryaden, Mas Senoaji, Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Tok, dan aku sendiri. Kali ini naik Panther (Ini orang banyak betul mobilnya sih?).
Menyusuri pegunungan, jalanan berbukit, dan perumahan penduduk membuatku sedikit lebih segar. Sinyal GSM pelan-pelan mulai tertangkap. Bunyi SMS mulai berebut masuk di hp para blogger. Berduyun-duyun SMS mulai masuk ke inbox setelah beberapa hari ter-pending.
Hari mulai menjelang Maghrib. Kami sudah sampai di terminal Wates, Kabupaten Kulon Progo. Saatnya berpisah dengan Mas Tok. Kuucapkan ribuan terima kasih atas keramahannya mengundangku ke Gunung Kelir. Ia hanya tertawa-tawa. Tak berapa lama Mas Tok pun berlalu. Kini tinggal kami berempat di pinggir trotoar: menunggu bis jurusan Jogja.
“Kata Mas Tok kita bisa langsung naik bis jurusan Surabaya dari jalur ini.” tukas Mas Ardyansah.
“Kita makan dululah…” pinta Kang Arai.
Mas Gajah Pesing hanya senyum-senyum saja.
“Gimana?” tanya Mas Ardyansah.
“Aku mesti ke Jogja sekarang. Karena yang mengusahakan tiket kereta memintaku ketemu Maghrib. Nggak sekalian naik kereta aja? Kan bisa bareng.” tawarku.
“Iya juga. Tapi kendaraan kita ada di Terminal Bungurasih. Mau nggak mau mesti naik bis.”
Akhirnya kami mesti berpisah di trotoar Wates. Sebuah bis jurusan Solo tampak dari kejauhan. Kugenggam tangan mereka satu per satu dengan seulas senyuman. Dalam hati aku merasa akan bertemu mereka lagi.
“Makasih ya!” dan aku meloncat ke dalam bis seorang diri.
Kini si petualang sableng seorang diri lagi.
Entah siapa yang merancang semua ini, sesampai di Gamping, bis berhenti tepat di depan sebuah apotik besar. Aku sampai terbelalak. Bukankah ini yang kubutuhkan sejak tadi? batinku dalam hati. Maka jangan salahkan aku jika aku tampak kalap di apotik. Mas Melo sudah membuatkan aku daftar serombongan obat dan vitamin yang harus kusikat.
Kukontak Lisa. Janjian untuk bertemu. Awalnya kami hendak bertemu di Toko Buku Togamas. Aku manut saja. Namun ia kembali mengontak: lebih baik bertemu di angkringan samping Stasiun Tugu. Agar tak terlalu jauh dengan stasiun kereta. Aku lebih setuju. Dan kami janji bertemu jam delapan malam.
Kulirik jam, masih sekitar pukul tujuh. Karena sudah tak sabar hendak melahap obat, kuputuskan untuk segera santap malam. Kulihat sebuah warung tenda penjual gudeg. Weh, aku kangen makan gudeg, pikirku. Dengan segera aku menyeberang jalan, memesan menu dan makan dengan kalap tak terkira!
Sehabis makan aku ngobrol-ngobrol dengan si ibu penjual gudeg. Ketimbang taksi, ia menyarankan agar aku menggunakan ojek saja ke Stasiun Tugu. Lebih cepat. Aku pikir boleh juga. Lantas ia mengeluarkan hp dan memesan ojek. Dan aku ngakak. Weh, ojek pun kini sudah bisa dipesan melalui telpon rupanya.
Jam delapan kurang sepuluh aku sudah berada di angkringan Lik Man. Kukontak Lisa, mengabarkan posisiku. Kukirim sebuah SMS ke Jepang: Aku sudah di Jogja lagi. Dekat Stasiun. Kondisiku sudah lebih baik kukira. Mbak Imelda membalas: Kamu bikin aku khawatir saja. Hati-hati, tulisnya. Tak lama Goen pun SMS: Orang Bandung kerasan banget di Gunung Kelir? Aku hanya nyengir dan membalas: Jangan diketawain: aku habis terkapar di Gunung Kelir. Tapi sekarang sudah di Jogja lagi. Janjian sama si Miss, eh, sama Lisa. Hehehe. Goen ngakak.
“Aku bilang apa? Kamu pasti kembali lagi ke Jogja. Bener kan?” Lisa sudah tertawa-tawa mengolokku ketika bertemu. Ia datang bersama Yainal (baca Perjalanan Menggelikan).
“Sialan!” aku langsung duduk lesehan di trotoar.
Atmosfir angkringan terasa ramai, guyup, dan mesra. Tak hanya anak muda, kulihat banyak juga serombongan bapak-bapak yang duduk santai, makan, menyeruput kopi, serta membakar rokok. Suasana betul-betul bersahabat ditingkahi tembang pengamen jalanan.
Lisa menyodorkan tiket yang kupesan. Mengikuti saran Lisa, aku memesan wedang jahe. Seorang pengamen datang. Ia menawarkan lagu-lagu untuk dinyanyikan. Dasar sableng, Lisa malah memesan tembang Saat Terakhir, dari ST12.
“Lagu apaan itu?”
“Itu lho, yang ada kamu-kamu-kamu…” terangnya ngakak.
“Ya ampuuunnn…” aku menepuk jidat.
Yainal hanya nyengir.
Sahabatku Lisa ini lama-lama makin sableng saja. Kini ia bahkan mulai mengikuti secara serius tayangan sinetron Cinta Fitri setiap malam. Setiap malam! Sableng!
Dan si pengamen pun mulai menyanyikan lagu yang diminta Lisa. Pada bagian refrain, Lisa ikut melantun bebas mengikuti si pengamen: “Kamu-kamu-kamu…” lantunnya dengan mulut dimonyong-monyongkan. Aku hanya memutar-mutarkan mata mirip emoticon di YM.
Hingga pukul setengah sebelas kami nongkrong di angkringan. Ngobrol apa saja. Ditemani tembang-tembang manis dari pengamen, kepul rokok, minuman penghangat, dan ceriwis gadis-gadis muda yang membuat angkringan terasa semarak.
Aku sudah mulai menggendong ranselku. Kami berpisah di trotoar. Kugenggam tangan mereka.
“Kali ini yakin bakal meninggalkan Jogja?” Yainal tertawa mengolokku.
“Tiket sudah di tangan, Dab!”
Lisa hanya ngakak. “Hati-hati…”
“Yup. Makasih ya, Lis!” aku meninggalkan mereka.
Tak ada angin kota Jogja yang mengusikku. Yang kurasakan hanya satu: kegerahan! Aku menyusuri trotoar, masuk ke halaman Stasiun Tugu. Bersiap melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya.
Kapal memang kerap berlabuh. Membuang sauh. Tapi ia mesti tetap terus berlayar lagi. Tak pernah mengizinkan jangkar bersemayam terlalu lama di sebuah pelabuhan. Seperti halnya cinta. Tsah!
Jadi, bagaimana kalian menemukan sahabat? Kualitas pertemanan yang gemilang? Jalinan kuantitas yang terus bersemayam? bertemu sekelabatan di jalan? Atau dari sebatang rokok? Kalian punya jawabannya masing-masing…
30 Maret 2009 | 03.33 wib
* * *
1. The Waiting Is Almost Over
2. Apa yang Membuat Kalian Bertahan Hidup?
3. Bagaimana Kalian Bertahan Hidup?
4. Kali Ini Datang Tanpa Pesan
5. Agar Naskah Dilirik Penerbit
6. Kencan (belum pernah di-publish)
7. Istirah dan Menyepi
8. Bukan Tiket Sekali Jalan
9. Petaka di Pantura
10. Mafela
11. Sebuah Surat Tanpa Alamat Surat
12. Petualang Manapun Rindu Pulang
13. Jalan Menuju Pulang
14. 1000 Purnama di Kota Blora
15. Penyanyi Malam
16. Pacar!
17. Kerani
18. Sahabat
19. Persinggahan dan Melacur
20. Pangeran Berkuda dan Putri di Menara
21. Kweni
22. Perjalanan Menggelikan
23. Zippo
24. Haks!
25. Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir
26. Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur


selamat jalan mas. sudah sampai tujuan?
Zulmasri, terakhir menulis JAZAUL KHOEROH
sudah 27 episode ya mas. gak terasa. kisah perjalanan yg indah.
nanti dibukukan aja ya mas. gak kalah sama cerita gola gong. nanti peluncurannya para blogger diundang. bagaimana para blogger lain? setuju?
Zulmasri, terakhir menulis JAZAUL KHOEROH
selesai?
yessy muchtar, terakhir menulis Ngalor dan ngidul hari ini.
hmmm kayaknya belum selesai Yess…masih 27…
kalaupun selesai mustinya angka 30 heheheh (tapi 33 mungkin lebih bagus utk DM)
paranormal.com
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Pemeriksaan Berkala
Dia adalah sahabatku bahkan lebih
Dia adalah yang diburu datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi
Selamat jalan kawan
Selamat renangi air mata
Hei sahabat yang terbuang
Engkau sahabatku tetap sahabatku
Engkau sahabatku tetap sahabatku
(Engkau Tetap Sahabatku
Karya : Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 ))
Semakin lama saat mengikuti kisah si petualang sableng ini, saya semakin penasaran kapan ia sudi mampir di “pertapaanku”. Biar sama-sama berceloteh tentang hidup dan kehidupan. Menghikmati deru ombak di Pantai Eretan sembari menyantap ikan bakar. Memancing ikan di rawa di belakang rumahku.
Moga Ia senantiasa melindungi perjalananmu.
Persahabatan biasanya lebih langgeng dibandingkan dengan hubungan percintaan lawan jenis. Berbahagialah bagi yang telah mengecap keindahan persahabatan. Menurutku persahabatan itu adalah proses mengenal diri sendiri, mengasah kepedulian kita terhadap orang lain, sudahkah kita mau berkorban untuk sahabat kita di atas kepentingan diri sendiri? Sudahkah kita pandai memilih dan memilah sahabat mana yang layak mendapatkan sayang dan pengorbanan kita? Karena hanya sahabat sejati yang mau mengorbankan kepentingannya untuk kepentingan sahabatnya. Apakah ia memahami dan menghormati batasan-batasan,privasi, dan keputusan kita?Salam Kenal.
Selamat jalan, Mas!
Tidur panjang dan tenanglah di alam sana! *lohh* huahuahuaa
Btw, udah telpon Windy belum??????
oh, jadi ini sekuelnya wiro sableng?
eh.. gak, ding
selamat jalan DM, semoga kau dapat apa yang dicari.
btw, percaya aku kalau berbagi sebatang rokok bisa mencipta sahabat. (dasar tukang bakar).
perasaan di YM manggilnya bukan mas melo, deh.
perasaan manggilnya… emh…
gak enak ngomongnya nih… indah banget soalnya…
bilang nggak, ya?
*itung-itung kancing baju* eh, pake zipper rupanya…
oke, bilang aja deh…
perasaan kalau di YM tuh manggilnya: JELEEEEKK…!!! atau DODOOLLL…!!! atau KELINCIIII…!!! dan sebutan-sebutan negatif lainnya.
gitu…
bahagia banget deh kali ini panggilannya lumayan bagus: mas melo.
*menghapus air mata haru*
iya, iya, becanda, DM! kamu kan selalu manggil aku, “SETAAAN…!!!”
*pletakkkhh!!!*
ah, komentarku jadi ilang pokus.
caraku memperoleh teman?
salah satunya adalah melalui misi penyelamatan seseorang buat turun gunung, desperado banget dia, nggak bisa kalau nggak naik kereta eksekutif yang tenang, soalnya bisa tumbang di jalan dia ntar. jadi aja aku bantu kontak seorang temannya yang mungkin bisa menolongnya. dan akhirnya jadilah aku berkenalan sama temannya itu. begitu…
eh… malah udah diceritakan di tulisan ini, ya? d’oh! *nepuk jidat*
okeh, aku cari contoh lain deh. ntar masih boleh komen lagi kan?
mas melo, terakhir menulis For Auld Lang Syne
rokok, blog, chat, angkringan, semuanya hanyalah media.
Nah yang aku masih ingin mencari bisakah berteman tanpa ada media yang mempertemukan?
wah tapi kalo begitu kan …cinta pada pandangan pertama ya? tanpa media!
hmmm mungkin ngga ya? (ada ngga ya? atau hanya di novel saja?)
EM
Persahabatan bagaikan kepompong nya siden tosca.
Merubah hal yang tak indah menjadi indah.
Bisa di pastikan Mbak Lisa korban sinetron tuh…. lagunya terus teringat-ingat.
Eh? udah selesai ya? masih penasanan nih dengan kelanjutannya. Jangan mau kalah sama sinetron Cinta Fitri yang udah sampai episode 70an…(bener ga mba Lisa) hehehehe
Stasiun tugu, angkringan, malioboro, borobudur.
Whaaa…..makin pengen ke jokja.
met jalan mas DM….moga cerita yang ditemui makin menarik. eh tanggal 9 jangan gak nyontreng yach…hehehe
Enaknya jadi anak ilang.. bisa nyomot teman dari mana saja.. hehehe
So, what are you waiting for, actually?
sudah ngitung mobinya mas Tok, dab ? pastinya berapa ta ? termasuk yg masih jadi kambing.
aku menemukan sahabat, saat hatiku mengatakan, ‘ini, sahabatku’. bisa jadi itu terjadi setelah sekian waktu, atau baru sekian detik.
tsah!
hehe…
mas.. kok repot banget ta? mbok kontak saya yang memang mukim di jogja…piye ta??
ck.. satu hal yang saya sepakati dengan penulisnya…tau nggak apa? saat penulisnya membuat pengakuan…:
seorang petualang sableng yang tak tahu diri ini.
huahahahah…. hanya copi paste loh… bukan aku yang bilang…:p
…
but aniwe…
friendship is a promise made in the heart, i think…
tak peduli berapa lama kenalnya.. bahkan mungkin tak kenal sama sekali…eh…sek… yang terakhir ini aku nulis ngawur pastinya…:)
hesra, terakhir menulis bertentang silang
lha??? kok judul2nya dah dimunculin semua. jangan udahan dong mas. blom juga klimaks…. (hehehehehe).
lah itu bearti kemaren ke surabaya???. lha katanya ke bandung??? fiktif lagi toh ini skenarionya (hahahaha)
Angkringan…membuat setiap kali mengingatkan akan kota Yogya, entah kapan mau kesana lagi.
Menemukan sahabat? Banyak jalan untuk menemukan sahabat, kadang oleh kejadian tak terduga. Ada sahabat yang ketemunya di milis, dan akhirnya saling berkunjung…sayang saya belum sempat mengunjungi rumahnya di Yogya, padahal mas N dan nyonya sudah pernah tidur di rumahku di Jakarta.
Ketemu teman bisa dimana saja, bahkan kadang saat naik kereta api dari Jakarta -Bandung…jalur ini suka kurindukan, walau sekarang lebih memilih naik travel.
Kemana Dan sekarang? Balik Bandung? Tak meneruskan perjalanan keliling pulau Jawa, terus menyeberang ke Bali-Lombok dan seterusnya? Bahkan di Sorong dan Jayapura pun ada blogger. Rasanya menjadi blogger menemukan banyak teman baru, dengan berbagai latar belakang yang sangat berbeda. Walau suka terkaget-kaget, namun saya menyenangi pertemanan jenis baru ini.
edratna, terakhir menulis Ke Lembang, lagi…..
Dan, ke Mandalawangi yuuuk! Lucu baca Agoy di Jakarta, padahal lagi bingung dia, warga kampung mana sebenarnya?
Tabik,
Agoy
***
Bagaimana aku menemukan sahabat? Komunikasi yang telaten, kadang tanpa ada angin tanpa hujan, datang begitu saja, entah dari sebuah payung yang ditawarkan ketika hujan, dari obrolan sambil lalu, atau mungkin lewat internet. Tapi aku percaya lho, kalau kecocokan itu dipengaruhi senyawa kimia, seperti yang kurawi tentang oxytocin dulu.
Yoga, terakhir menulis Memiliki dan Dimiliki
aku ngiri!!! kenapa??? karena aku blom pernah melakukan perjalanan seperti perjalananmu….aku pengen banget bisa keliling jawa someday!
dan untuk sebuah persahabatan memang bisa kita temukan dimana saja, entah itu di blog, YM, Forum, organisasi, hobby dll….semoga persahabatn yg Mas Dan dapetin dari perjalanan itu kekal dan abadi *duhhh bahasaku
*
sudah sampai di Bandung? semoga sudah sehat kembali….:)
Bener2 sebuah perjalanan yg menyenangkan walaupun harus berakhir dengan fisik yg menyerah
semangaaatttttt!!!!
Ria, terakhir menulis Sendiri vs Menyendiri
Komen sebelum praktek :
Pengennya saat itu Ade bisa bantu, sayangnya kesempatannya gak memungkinkan. Sorry banget lagi ada acara, jadi gak konsen. Online pun maksa…. setelah Yoga, mbak Tan en Cak Ri ngasih tahu….hehehe
Untungnya mas punya banyak teman yang baik ya……
Dan tanpa sadar pertolongan itupun datang lewat kebaikan mas juga
Keep healthy….
prameswari, terakhir menulis Berbagi Kasih
kok tidak menghubungi diriku?
tapi ga pa pa lah..at least aku tahu ,mas daniel berada di tangan yang tepat..he he
memang pertemanan tidak mengenal jarak ya…senenngnya punya banyak teman dimana-mana pula..have a nice next trip dan jangan lupa pulang..east or west, home is the best mas
hesty, terakhir menulis sorry…
kapan sang penganyam cinta eh kata berhenti berpetualang dan berlabuh dalam cinta he he he
dari awal aku sudah punya filing kalau Dan akan kembali ke jogja, dan dari awal juga aku sudah punya filing kalau kartu nama yg kuberikan hanya jadi jimat yg disimpan entah dimana sehingga dilupakan segitu mudahnya… hiks ‘n haks!
pertanyaannya: mengapa Dan meminta mas melo menghubungi Lisa, bukan aku?
jawabnya, menurutku adalah karena itu adalah cara Tuhan mempertemukan mereka berdua, toh antara aku dan mas melo sudah saling kenal… dan ternyata, aku sering menemukan sahabat baru melalui cara2 seperti itu. sebagai contoh, banyak sahabat baru yg kuperoleh dari pertemuan di kweni tempo hari… bagiku, persahabatan memang harus ada media yg “mempersatukan”
selesaikah episode perjalanan Dan kali ini? menurutku, selesaikanlah!
tapi lanjutkan dg episode perjalanan ke sumatra, pasti seru! apalagi klimaksnya adalah berakhir di ujung pulau sumatra, hehehe…. (ngelirik ke sebelah)
Pagi kak Daniel…
Sahabat memang bisa didapat dari mana saja kak, tapi sahabat yang tulus susah sekali carinya, beruntunglah kakak punya banyak sahabat yang tulus..
Sahabat yang baik dengan tangan-tangan lembutnya akan menapis curahan hati kita,menyimpan yang patut disimpan dan menghalau sisanya dengan hembusan nafas kebaikan…
Kapal yang berlayar terlalu lama, pasti akan berlabuh juga kan? Apalagi kalau ada badai, dia pasti merindukan daratan untuk berlabuh.., kalau terlalu lama berlayar kapal bisa saja rusak..
(lho, aku nulis apa nih, koq malah nulis tentang kapal sih)
anisa pun bisa membantu mas mahendra………
ah anisa udah capek bicara soal ini sebenarnya……..
bahwa anisa bisa mjd teman mas mahendra yg bisa diandalkan kapanpun mas mahendra butuhkan.
bahkan kalau mas mahendra menghubungi anisa bakal kirim supir buat menjemput mas mahendra dari gunung itu buat di bawa kerumah sakit……
ah tapi sudahlah…….
yang penting mas mahendra tau kalau anisa ada kapanpun mas mahendra perlukan teman itu bagi anisa tanpa pamrih dan tanpa udah dibalik batu
kalau anisa mau menolong itu krn anisa memang menghargai mas mahendra sbg teman…….
cuman yang anisa sesalkan , kalau anisa boleh jujur , kenapa musti minta tolong sama yg jauh tinggalnya dimedan sana ??? ada yang lebih dekat , bahkan anisa bisa minta tolong supir tante yang di jogja…….
@anisa:
tauk nih si mas mahendra. udah jauh, kan males banget sebenarnya direpotin gitu ya, nis? kenapa juga nggak minta tolong anisa, bisa dijemput pake mobil trus diantar sampe ke rumah sakit
bersalin. sekalian bisa kenalan sama tantenya anisa, kalau perlu sama ponakannya juga. uhuy!ayo, mas mahendra, lain kali jangan ngerepotin orang yang jauh ya?
@mas melo: Kayaknya udah mulai terkontaminasi nih…. ayo Uni terus,,,terus,,,
banyak sahabat yg sayang dirimu Dan,bersyukur lah
he…numpang nimbrung…
@annisa yang cantik…
wuihh, kalo’ tau ada cewek cakep yang super baik gini… ga jadi mas…aku nawarin bantuan…haha…
piiisss….
ups, jangan dikatain doddooolll lagi loh…
dodol itu manis…
sama aja dengan menyatakan kalo’ aku tu manis…huahahahhahahah…
pissss…..
hesra, terakhir menulis ..jejiwa..
@mas melo no 29
hahaha…,kakak lucu.., kakak lucu deh.., ah! Kakak dah bikin aku ketawa disaat kepalaku tak bisa ketawa…
@anak ilang:
weh! terkontaminasi apaaa…
dan terus kemanaaa…
@radesya:
sya, kamu kenapa tho, non?
*bingung mikir apa yang lucu banget*
eh, kamu bukannya sedang ujian tengah semester? duh, duh, duh…
malah asyik ngeblog…
*jewer telinga radesya nyuruh belajar*
@anak ilang: sinetron itu………..aku hanya ingin menghitung berapa kali tamparan yang diperagakan mereka dalam satu episode
@mas melo: kebetulan yang manis yaaaaaaaa uni…dan tentu saja ngabisin pulsa gara2 petualang sableng kebingungan jalan pulang hahahahahahh di balik itu semua seneng bisa kenal dirimu, uni. kapan2 berobat gratis yakkkks
@DM: indah betul rawianmu ini…melangut aku dibuatnya..karena merasakan sendiri hampir semua peristiwa itu. pas lagi duduk di angkringan itu belum terasa seindah ini. tapi ketika membaca ini semua, seakan aku berdiri dan melihat “kalian” bertiga dipeluk malam, ditambah bulan bulat yang malu-malu dari balik gedung bertingkat itu…uh dasarrrrrrr kamu, kamu, kamu! aku jadi terharuuuuuuuuuu…ini lebih nikmat dari cinta fitri hahahahah
dan aku suka sekali komentar dari bunda muharik di atas..sahabat bukan hanya dia atau mereka yang mengamini keputusan kita, bukan hanya dia atau mereka yang berjalan seirama, bukan hanya dia atau mereka yang telah masuk ke batas privasi kita..tapi dia atau mereka lah yang bisa ada di tempat yang semestinya ada, dia atau mereka yang menerima kita, kita, kita apa adanya…bahkan mungkin tanpa bertanya…dan ya,,persahabatan itu auratis…
Trink! nyalakan zippomu, sahabat….
@Anisa
kamu bener banget kalo ngomong gitu, Nis. memang dasarnya Mas Mahendra itu aneh kok. lha wong ada yang dekat di jogja, kok malah minta tolong yg jauh2. huh ! tahu nggak sih, kalo ada Anisa yang setia setiap saat *eh, ini rexona ya ?*, yang begitu ditelpon langsung bisa kirim mobil plus sopir. syukur2 kalo sekalian ditawari nginep di rumah eyang Anisa. wah, enak bener.
@Mas Mahendra
ck,ck,ck… Mas Mahendra, diingat2 betul itu, pesan Anisa.
perlu dihayati, diresapi dan diamalkan. serius ini.
@DM
hoi, nyontreng2 sembarangan !
hehehehehehehe…aku senyum2 baca comment postingan ini
Ria, terakhir menulis Sendiri vs Menyendiri
buat mas goeneong dan semua yang mendukung anisa , mas melo ( kenapa gambarnya perempuan? ), mbak / mas hesra , mbak icha………
makasih ya teman teman……..
kita doakan mudah mudahan mas mahendra lekas sembuh yaaaa……..
doain anisa juga yaaa ???
tapi mbak yessy , mbak AL dan mas jamal pada sibuk ya ???
kok jarang nongol……..???
yuuukkkss maree contreng Anisa
Yoga, terakhir menulis Hanya…
iya nih, anisa kayak caleg aja minta doa restu dan dukungan. hihi!
@mas melo
aduuuuuuuuuhh!
Sakit kak…
(dijewer kak hema)
kakak UTS-nya kurang beberapa hari lagi, tenang ja ya, kubelajar koq, bukan hanya dari buku saja ku belajar, tapi minta tolong sama paman Google dan om Wiki juga buat dapet bahan, So..,kadang nggak tahan kalau nggak lihat blog.
tapi aku belajar koq, kadang malah sampe larut..
btw, thx ya kak, dah ingetin desya, kakak baik deh.., coba aku jadi mahasiswanya, pasti dijewer mulu
hi..hi..hi…
@annisa : Aku datangg………
Aku sedang bertapa di gunung sentir sambil berdoa untukmu dan mas mahendra
ayo ayo ayo Contreng PAN = Partainya Annisa Nih xixixixixiixixix…
annisa dicontreng apanya ? kakakakakaka
Nyuk, udah dinterogasi si Windy?
Ahuahuahua, dia kuceritain kiprahmu terkini dan dia hanya bisa tertawa..
Meski sepertinya tawanya ya masih belum rela..
belum rela melepasmu, sama seperti yang lainnya ituw ahuhuhu!
DV, terakhir menulis Lampu Hati
Wadaw… ada yang gak rela Anisa dicontreng wkkkk…
Yoga, terakhir menulis Hanya…
Si Om ini beruntung banget bisa bolak-balik ke Jogja MELULU…TERUS-TERUSAN…!!
Sirik Mode: ONcooooommm….!!!
huah…..bete, ah!!
miSSiSSma, terakhir menulis yaaaaay….!!
Sahabat-sahabat terbaikku?
Aku menermukan mereka di kampus… Di sebuah kelas… Sebelas tahun yang lalu…
@Anisa
FYI, Anisa. mbak Yessy , mbak AL dan mas Jamal, belakangan ini baru sibuk kampanye. mbak Yessy sibuk dengan partainya Partai Terajana, mbak AL dengan Partai Guru Indonesia, dan mas Jamal, dengan Partai Tambahan-nya.
coba kalo kamu pas jalan2, pasti gambar mereka menghias sepanjang jalan. serius ini.
*kenapa kalo habis makan siang, kok terus ngantuk ya, dab ?
*
numpang lagi mas DM…
@anisa…
hehe…saya perempuan manis…sayang…maninya kayak dodol deh…hueheheheheheh…..
hesra, terakhir menulis ..jejiwa..
menikmati setiap kata disini..
salam kenal wahai penganyam kata….
tisti rabbani, terakhir menulis Sungai Hitam..
Kenapa jogja yang dipilih untuk kembali. Jangan-jangan ada cinta tertambat di situ ? hehehehe. Kok semua pada ngasih selamat JALAN ya…bukankah PETUALANGAN INI menggunakan angkutan publik, dan bukan berjalan kaki khan ?
Ayo ke SUMATRA……
imoe, terakhir menulis …pemenangnya adalah (UPDATE)…
Huhehehuhehhe….
she blooms..she blooms… Upik Abu? did you speak to me? Noway hose
Yoga, terakhir menulis Hanya…
@Anisa
Nis…aku mungkin tidak selalu terlihat, tapi percayalah..kamu selalu dihatiku. Dan aku selalu menginginkan yang terbaik untukmu dan mas Mahendra. Seharusnya dia memang menghubungi mu! bukankah waktu itu kamu pernah memberikan nomer teleponmu ke email? ya kan?…si Mas Mahendra ini memang tidak tau diri..sudah ada yang mau memperhatikan malah sibuk sibuk cari perhatian ke Medan pulak! jauh kali dari Jogja!!!
@Mas Melo
aku baru sadar …katanya Mas…kok fotonya perempuan!?!? udah gitu dipanggilnya uni!!!….coba jelaskan dulu yang gamblang ! *lari naik kapal Feri*
yessy muchtar, terakhir menulis Tentang MZ dan VM
Masih lanjut nih?
dana, terakhir menulis Kata Glamour
Terpaksa balik lagi,
Aku cuma mau meyakinkan Anisa apapun yang terjadi aku mendukung mu…selalu…percaya deh Nis, mas Mahendra itu juga manusia biasa, masak gak mempan di kasih perhatian kek gini….
Ya gak Daniel ;P …*sambil ngikik*
yessy muchtar, terakhir menulis Tentang MZ dan VM
@yessy:
mas melo tapi fotonya perempuan dan dipanggil uni?
lha, ini mesti salah yang manggil dan yang lihat foto dong.
masih nanya gimana sih?
*ngejar yessy pake speedboat*
@icha:
iya, cha. kebetulan yang manis banget.
mesti tiket kereta apinya ditambah ganti pulsa dong, ya?
berobat gratis? dibayar dengan minum di djendelo cafe aku nggak nolak kok.
sekalian tiket ke jogja, ya? huehehe…
*dikirimin lisa tiket naik getek*
baca postingan mas daniel yg ini, jadi ingat awal2 menjalin persahabatan dengan dua orang teman. Dari pinjam meminjam buku. saling cerita isi buku.
selalu seperti itu.
andalusia, terakhir menulis In a Relationship With God
@DM: Lah.. kan katanya aq ma mas melo sama-sama mamalia. jadi saling mendukung… betulkan papalia?
@Mas Melo: Eh? terkontaminasi apa y? ya…pokoknya terus dukung PAN nya mas jamal aja…
@icha: Sudah sampai hitungan yang ke berapa mba?
Wah Mas,, aku sedang berusaha menjadi teman dan sahabat di blog ini

Btw aku di Jogja juga loh,,
Muzda, terakhir menulis Tentang Sebuah Kota
huh…kepeleset dikit aja girang begitu….:(
manisssssssssssssssssssssss maksudnya……
hesra, terakhir menulis ..menanti mimpi..