(The Waiting Is Almost Over: 27)

Persembahkan yang terindah demi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu (Kahlil Gibran, Sang Nabi)

Bagaimana kalian menemukan sahabat? Pasti ada banyak cara. Entah itu kualitas pertemanan yang gemilang, jalinan kuantitas yang terus bersemayam, bertemu sekelebatan di jalan, atau bahkan dari sebatang rokok kita bisa tetap menciptakan sebuah persahabatan.

Setelah beristirahat dan menikmati udara pegunungan di Gunung Kelir selama beberapa hari, hari ini aku memutuskan untuk turun. Ya, aku harus turun. Kondisi tubuhku memang belum sehat benar. Tapi perjalanan mesti terus dilanjutkan.

Boleh percaya atau tidak, dalam perjalanan kali ini aku betul-betul banyak ditolong oleh kawan-kawan baru yang usia pertemanannya belum lagi satu tahun. Tak ada teman lama, dan mereka adalah: blogger! Mereka betul-betul kukenal melalui blog. Lain tidak.

Aku memutuskan akan terus ke timur menggunakan kereta. Aku cek jadwal perjalanan kereta di website PT. KAI. Rupanya aku telah kehilangan jam keberangkatan kereta Argowilis dari stasiun Jogjakarta pada siang hari. Tapi aku sudah meniatkan untuk turun dari Gunung Kelir siang ini. Kulihat jadwal kereta lagi.

Mas Tok sedang repot dengan pekerjaannya. Telpon CDMA-nya belum bisa kupinjam (di Gunung Kelir tak ada sinyal GSM. Kalau pun ada CDMA, hanya satu-satunya dari Mobile8. –baca Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir). Kulihat Mas Ardyansah dan Mas Gajah Pesing sedang berbincang di ruang tamu. Mas Suryaden, Mas Senoaji, dan Kang Arai sedang tadarus internet. Tak ada blogger yang sedang online di YM. Aku mengirimkan sinyal pada semesta: berharap ada yang online.

Semensta mendengar permohonanku: sekonyong-konyong Mbak Tanti online. Kuceritakan kondisiku. Aku sedang butuh seseorang di Jogjakarta untuk memesankan tiket kereta. Rupanya, Mbak Tanti sedang berada di Surabaya (setiap dua minggu sekali ia selalu pulang ke Jogja). Sementara adiknya tak bisa dimintai tolong, karena baru pagi tadi berangkat ke Denpasar.

Tak lama Mas Melo online. Agoy pun online. Disusul oleh Prameswari. Weh, semesta mengembalikan sinyal yang kukirimkan secara berlebihan. Aku bersyukur. Empat orang blogger online secara bersamaan. Mas Melo di Medan, Agoy di Jakarta, dan Prameswari di Surabaya. Weh, aku mesti minta tolong siapa? Akhirnya kuceritakan kondisiku pada Mas Melo.

Lisa masih ada di Jogja?” tanya Mas Melo melalui YM.
“Aku ragu. Sejak terakhir ketemu, katanya hanya seminggu di Jogja. Setelah itu kembali ke Jakarta.”
“Coba dulu. Sini nomor hp-nya. Biar kutelpon.”
Dan aku memberikan nomor hp Lisa.

Kuceritakan kondisiku pada kawan-kawan di Gunung Kelir. Akhirnya aku bisa meminjam telpon CDMA Mas Tok. Mas Senoaji menghubungi orang kantornya. Mas Suryaden menelpon istrinya. Semua bertujuan mencarikan tiket bagi seorang petualang sableng yang tak tahu diri ini.

“Aku sudah telpon Lisa, tapi nggak diangkat. Aku kirim SMS aja ya?”
“Oke.”

Tak berapa lama kudengar kabar dari Mas Melo melalui YM: Lisa sudah balik menelpon. Rupanya Lisa masih berada di Jogja, tapi sedang tidak di kota. Namun ia berjanji mencarikan seorang kawan untuk dimintai tolong pergi ke Stasun Tugu untuk mencarikan tiket. Sementara itu istri Mas Suryaden sudah mulai mencarikan tiket ke sebuah agen perjalanan. Weh, aku malah bingung sendiri, karena orang-orang mulai bergerak.

Aku mesti berpikir cepat serta memutuskan: siapa yang kupilih. Kalau semua orang dapat tiket, bisa bingung aku. Mas Suryaden menginformasikan posisi istrinya. Sementara Mas Melo mengabarkan teman yang dimintai tolong Lisa sudah berada di stasiun. Weh, kok jadi genting begini!

“Ini Lisa sedang telpon. Katanya ada kereta Turangga. Malam hari tapi. Dia bilang tinggal kelas eksekutif yang ada. Gimana? Mau?” tukas Mas Melo tetap melalui YM.
“Sebentar,” balasku.
Dengan cepat kutanya Mas Suryaden, “Mas, sudah ada kabar?”
“Istriku sudah nelpon agennya, Mas Dan. Sedang dicarikan, jadi masih nunggu jawaban.”
“Kalau kuiyakan yang ini gimana, Mas? Soalnya ada, tinggal nunggu jawabanku.”
“Wah kalo memang ada, iyakan saja, Mas Dan.”
“Nggak pa-pa ya, Mas?”
“Lho nggak pa-pa, Mas Dan.”
“Tengkyu banget, Mas…”
Dan aku beralih ke YM lagi: “Oke, Mas Melo. Ambil.”
“Ambil ya? Oke. Kata Lisa dia baru bisa menemui temannya maghrib nanti. Jadi begitu turun ke Jogja, langsung kontak Lisa aja.”
“Tengkyu banget, Mas Melo…”
“Jangan lupa makan!”
“Iya…”
“Obatnya!”
“Iyaaa…”
“Jangan merokok!”
“Baweeelll…”

Akhirnya aku mulai bisa bernafas lega. Tiket kereta sudah ada meski belum di tangan. Aku tertawa geli ketika menyadari betapa untuk memesan tiket kereta dari stasiun Jogja saja mesti mengontak Mas Melo melalui YM di Medan, lantas Mas Melo menghubungi Lisa melalui telpon di pinggiran Jogja, dan Lisa minta tolong temannya, juga lewat telpon, untuk memesan tiket di stasiun Jogja. Weh, betul-betul sableng aku ini!

Tapi aku senang karena bisa mempertemukan Mas Melo dan Lisa. Mereka kerap berkomen di blog-ku, namun tak pernah saling berkomen di antara blog mereka sendiri (setelah “peristiwa” ini mereka jadi saling berkomen. Hihihi!). Aku sangat berterima kasih pada Lisa karena meski sedang tidak di kota, namun mengusahakan temannya yang sedang berada di kota Jogja untuk memesan tiket. Kurasakan betul arti dari sebuah persahabatan! (Thanx, Lis!)

Sore itu aku baru tahu bahwa Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, dan Kang Arai memutuskan pulang ke Surabaya sore itu juga. Weh, padahal aku baru saja memesan tiket kereta.

“Kalo gitu kalian bisa turun bareng ke Jogja. Nanti kuantar. Tapi hanya sampai terminal Wates ya. Aku mesti nengok adikku ke rumah sakit soalnya.” ujar Mas Tok.
Aku hanya nyengir girang.

Aku mulai mengemas ransel. Meski kondisku belum baik benar, namun rasanya sudah bisa diajak bergerak turun. Sebelum loncat ke mobil, para blogger ini masih juga sempat-sempanya berfoto di depan rumah Mas Tok. Mas Suryaden, Mas Senoaji, Mas Ardyansah, Mas Gajah Pesing, Kang Arai, Mas Tok, dan aku sendiri. Kali ini naik Panther (Ini orang banyak betul mobilnya sih?).

Menyusuri pegunungan, jalanan berbukit, dan perumahan penduduk membuatku sedikit lebih segar. Sinyal GSM pelan-pelan mulai tertangkap. Bunyi SMS mulai berebut masuk di hp para blogger. Berduyun-duyun SMS mulai masuk ke inbox setelah beberapa hari ter-pending.

Hari mulai menjelang Maghrib. Kami sudah sampai di terminal Wates, Kabupaten Kulon Progo. Saatnya berpisah dengan Mas Tok. Kuucapkan ribuan terima kasih atas keramahannya mengundangku ke Gunung Kelir. Ia hanya tertawa-tawa. Tak berapa lama Mas Tok pun berlalu. Kini tinggal kami berempat di pinggir trotoar: menunggu bis jurusan Jogja.

“Kata Mas Tok kita bisa langsung naik bis jurusan Surabaya dari jalur ini.” tukas Mas Ardyansah.
“Kita makan dululah…” pinta Kang Arai.
Mas Gajah Pesing hanya senyum-senyum saja.
“Gimana?” tanya Mas Ardyansah.
“Aku mesti ke Jogja sekarang. Karena yang mengusahakan tiket kereta memintaku ketemu Maghrib. Nggak sekalian naik kereta aja? Kan bisa bareng.” tawarku.
“Iya juga. Tapi kendaraan kita ada di Terminal Bungurasih. Mau nggak mau mesti naik bis.”

Akhirnya kami mesti berpisah di trotoar Wates. Sebuah bis jurusan Solo tampak dari kejauhan. Kugenggam tangan mereka satu per satu dengan seulas senyuman. Dalam hati aku merasa akan bertemu mereka lagi.

“Makasih ya!” dan aku meloncat ke dalam bis seorang diri.
Kini si petualang sableng seorang diri lagi.

Entah siapa yang merancang semua ini, sesampai di Gamping, bis berhenti tepat di depan sebuah apotik besar. Aku sampai terbelalak. Bukankah ini yang kubutuhkan sejak tadi? batinku dalam hati. Maka jangan salahkan aku jika aku tampak kalap di apotik. Mas Melo sudah membuatkan aku daftar serombongan obat dan vitamin yang harus kusikat.

Kukontak Lisa. Janjian untuk bertemu. Awalnya kami hendak bertemu di Toko Buku Togamas. Aku manut saja. Namun ia kembali mengontak: lebih baik bertemu di angkringan samping Stasiun Tugu. Agar tak terlalu jauh dengan stasiun kereta. Aku lebih setuju. Dan kami janji bertemu jam delapan malam.

Kulirik jam, masih sekitar pukul tujuh. Karena sudah tak sabar hendak melahap obat, kuputuskan untuk segera santap malam. Kulihat sebuah warung tenda penjual gudeg. Weh, aku kangen makan gudeg, pikirku. Dengan segera aku menyeberang jalan, memesan menu dan makan dengan kalap tak terkira!

Sehabis makan aku ngobrol-ngobrol dengan si ibu penjual gudeg. Ketimbang taksi, ia menyarankan agar aku menggunakan ojek saja ke Stasiun Tugu. Lebih cepat. Aku pikir boleh juga. Lantas ia mengeluarkan hp dan memesan ojek. Dan aku ngakak. Weh, ojek pun kini sudah bisa dipesan melalui telpon rupanya.

Jam delapan kurang sepuluh aku sudah berada di angkringan Lik Man. Kukontak Lisa, mengabarkan posisiku. Kukirim sebuah SMS ke Jepang: Aku sudah di Jogja lagi. Dekat Stasiun. Kondisiku sudah lebih baik kukira. Mbak Imelda membalas: Kamu bikin aku khawatir saja. Hati-hati, tulisnya. Tak lama Goen pun SMS: Orang Bandung kerasan banget di Gunung Kelir? Aku hanya nyengir dan membalas: Jangan diketawain: aku habis terkapar di Gunung Kelir. Tapi sekarang sudah di Jogja lagi. Janjian sama si Miss, eh, sama Lisa. Hehehe. Goen ngakak.

“Aku bilang apa? Kamu pasti kembali lagi ke Jogja. Bener kan?” Lisa sudah tertawa-tawa mengolokku ketika bertemu. Ia datang bersama Yainal (baca Perjalanan Menggelikan).
“Sialan!” aku langsung duduk lesehan di trotoar.

Atmosfir angkringan terasa ramai, guyup, dan mesra. Tak hanya anak muda, kulihat banyak juga serombongan bapak-bapak yang duduk santai, makan, menyeruput kopi, serta membakar rokok. Suasana betul-betul bersahabat ditingkahi tembang pengamen jalanan.

Lisa menyodorkan tiket yang kupesan. Mengikuti saran Lisa, aku memesan wedang jahe. Seorang pengamen datang. Ia menawarkan lagu-lagu untuk dinyanyikan. Dasar sableng, Lisa malah memesan tembang Saat Terakhir, dari ST12.

“Lagu apaan itu?”
“Itu lho, yang ada kamu-kamu-kamu…” terangnya ngakak.
“Ya ampuuunnn…” aku menepuk jidat.
Yainal hanya nyengir.
Sahabatku Lisa ini lama-lama makin sableng saja. Kini ia bahkan mulai mengikuti secara serius tayangan sinetron Cinta Fitri setiap malam. Setiap malam! Sableng!

Dan si pengamen pun mulai menyanyikan lagu yang diminta Lisa. Pada bagian refrain, Lisa ikut melantun bebas mengikuti si pengamen: “Kamu-kamu-kamu…” lantunnya dengan mulut dimonyong-monyongkan. Aku hanya memutar-mutarkan mata mirip emoticon di YM.

Hingga pukul setengah sebelas kami nongkrong di angkringan. Ngobrol apa saja. Ditemani tembang-tembang manis dari pengamen, kepul rokok, minuman penghangat, dan ceriwis gadis-gadis muda yang membuat angkringan terasa semarak.

Aku sudah mulai menggendong ranselku. Kami berpisah di trotoar. Kugenggam tangan mereka.
“Kali ini yakin bakal meninggalkan Jogja?” Yainal tertawa mengolokku.
“Tiket sudah di tangan, Dab!”
Lisa hanya ngakak. “Hati-hati…”
“Yup. Makasih ya, Lis!” aku meninggalkan mereka.

Tak ada angin kota Jogja yang mengusikku. Yang kurasakan hanya satu: kegerahan! Aku menyusuri trotoar, masuk ke halaman Stasiun Tugu. Bersiap melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya.

Kapal memang kerap berlabuh. Membuang sauh. Tapi ia mesti tetap terus berlayar lagi. Tak pernah mengizinkan jangkar bersemayam terlalu lama di sebuah pelabuhan. Seperti halnya cinta. Tsah!

Jadi, bagaimana kalian menemukan sahabat? Kualitas pertemanan yang gemilang? Jalinan kuantitas yang terus bersemayam? bertemu sekelabatan di jalan? Atau dari sebatang rokok? Kalian punya jawabannya masing-masing…

30 Maret 2009 | 03.33 wib

* * *

The Waiting Is Almost Over:

1. The Waiting Is Almost Over
2. Apa yang Membuat Kalian Bertahan Hidup?
3. Bagaimana Kalian Bertahan Hidup?
4. Kali Ini Datang Tanpa Pesan
5. Agar Naskah Dilirik Penerbit
6. Kencan (belum pernah di-publish)
7. Istirah dan Menyepi
8. Bukan Tiket Sekali Jalan
9. Petaka di Pantura
10. Mafela
11. Sebuah Surat Tanpa Alamat Surat
12. Petualang Manapun Rindu Pulang
13. Jalan Menuju Pulang
14. 1000 Purnama di Kota Blora
15. Penyanyi Malam
16. Pacar!
17. Kerani
18. Sahabat
19. Persinggahan dan Melacur
20. Pangeran Berkuda dan Putri di Menara
21. Kweni
22. Perjalanan Menggelikan
23. Zippo
24. Haks!
25. Sayapku Patah-patah di Gunung Kelir
26. Pangeran Berjanggut dari Negeri Timur