Wilwatikta
(The Waiting Is Almost Over: 28)
Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut purawaktra menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami brahmastana, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga paseban (Prapanca, Nagarakretagama)
Katanya, menjadi seorang petualang mesti siap dengan kondisi apa pun yang ditemui di jalanan. Tak kalah penting, ia pun mesti bisa luwes terhadap keadaan. Bisa jadi di saku kemejanya terselip setumpuk peta perjalanan. Namun jika sesuatu berbelok dari rencana semula, ia pun dituntut tanggap serta bisa berdamai dengan kenyataan.
Ketika kereta mampir di Stasiun Mojokerto pada pukul 07.35 pagi, tiba-tiba seperti ada yang memanggil-manggil diriku untuk turun di kota ini. Padahal aku masih harus menempuh sekitar 55 kilometer menuju kota Surabaya. Sementara Mojokerto tidak termasuk ke dalam peta perjalananku. Akhirnya aku berpikir keras: mengapa aku merasa harus turun di kota ini?
Tiba-tiba terngiang sebuah sajak dalam film Cinta dalam Sepotong Roti yang sudah kutonton ratusan kali itu. Kalimat itu selalu berkelebatan di kepalaku kemana pun aku pergi: tunduklah kepada Salmah, pergilah kemana ia pergi, dan ikuti angin takdir, bergeraklah kemana angin ini bergerak *. Tanpa pikir panjang lagi kuseret ranselku dari rak gerbong, permisi pada gadis yang sejak dari Jogja duduk di sebelahku, dan bergegas meninggalkan kereta. Si gadis hanya kaget dan berseru:

