Archive for April, 2009

Wilwatikta

(The Waiting Is Almost Over: 28)

Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut purawaktra menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami brahmastana, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga paseban (Prapanca, Nagarakretagama)

Katanya, menjadi seorang petualang mesti siap dengan kondisi apa pun yang ditemui di jalanan. Tak kalah penting, ia pun mesti bisa luwes terhadap keadaan. Bisa jadi di saku kemejanya terselip setumpuk peta perjalanan. Namun jika sesuatu berbelok dari rencana semula, ia pun dituntut tanggap serta bisa berdamai dengan kenyataan.

Ketika kereta mampir di Stasiun Mojokerto pada pukul 07.35 pagi, tiba-tiba seperti ada yang memanggil-manggil diriku untuk turun di kota ini. Padahal aku masih harus menempuh sekitar 55 kilometer menuju kota Surabaya. Sementara Mojokerto tidak termasuk ke dalam peta perjalananku. Akhirnya aku berpikir keras: mengapa aku merasa harus turun di kota ini?

Tiba-tiba terngiang sebuah sajak dalam film Cinta dalam Sepotong Roti yang sudah kutonton ratusan kali itu. Kalimat itu selalu berkelebatan di kepalaku kemana pun aku pergi: tunduklah kepada Salmah, pergilah kemana ia pergi, dan ikuti angin takdir, bergeraklah kemana angin ini bergerak *. Tanpa pikir panjang lagi kuseret ranselku dari rak gerbong, permisi pada gadis yang sejak dari Jogja duduk di sebelahku, dan bergegas meninggalkan kereta. Si gadis hanya kaget dan berseru:

Continue Reading »

3 Pucuk Buku

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca (Charles Jones)

Selama pengembaraan yang belum lagi tuntas ini, aku menemukan banyak sahabat serta pengalaman-pengalaman baru di perjalanan. Sudah puluhan kota kusinggahi. Tak terhitung jumlah kendaraan yang kutumpangi. Semua menjadi pengalaman tersendiri, yang tak kesemuanya sempat tercatat dalam alam pikiran. Namun ada saja yang menjadi cerita di blog, pemenuh catatan harian, sementara sisanya sekadar mengendap di hati.

Yang menarik dan tak pernah terkira sama sekali adalah: aku mendapatkan kenang-kenangan, bukan saja dalam bentuk pengalaman batiniah, tapi juga barang-barang yang sebetulnya menambah sesak ranselku saja.

Beberapa kawan, di akhir perjumpaan, ada saja yang menyelipkan kenang-kenangan berupa buku, kaus, kemeja, gantungan kunci, zippo, jam tangan, mafela batik, coklat, Compact Disk, mainan puzzle, bahkan sebuah modem mungil, agar aku bisa online di mana pun aku berada selama perjalanan.

Tentu tidak semua pemberian mereka bisa kubalas saat itu juga. Karena aku sedang dalam perjalanan. Dan sudah barang tentu tak semua barang-barang itu dapat kubawa selama perjalananku. Beberapa mesti kupaketkan ke Bandung. Sisanya, terutama kaus dan buku, masih kubawa serta.

Continue Reading »

Ya, Sebaiknya Kita Memang Berpisah

coba pahami, kau ‘kan setuju
kita berpisah tanpa menyakiti
biarlah waktu yang mengurai
keputusan terbaik yang pernah kita ciptakan

(Baiknya, Kla Project)

Perpisahan! Siapa orang tak pernah mengalami perpisahan? Entah itu pacar, kekasih, pasangan hidup, atau apa pun sebutannya, yang namanya berpisah tetap saja tak enak untuk dikecap. Terkelu di mulut, pahit di lidah, dan tak sedap sama sekali untuk ditelan.

Bukankah dunia ini penuh dengan dialektika? Tak ada sesuatu yang tak berpasang-pasangan. Siang-malam, gelap-terang, tinggi-rendah, pahit-manis, perjumpaan-perpisahan. Ah, andai kita bisa memahami logika berpikir seperti itu. Namun tetap saja, berpisah itu: menyakitkan!

Tapi itu jua lah yang mesti kuambil. Berpisah! Kita tak lagi sejalan. Cara berpikir kita selalu bertentangan. Keinginanmu, egoku, selalu berbanding terbalik. Kita selalu di persimpangan. Tak ada jalan keluar. Melulu berdebat di tengah jalan persoalan. Untuk apa semua ini dipertahankan?

Jujur saja, aku tak bisa mengimbangi cara berpikirmu. Menjadi pendampingmu adalah sesuatu yang teramat mengerikan dalam hidupku. Kau selalu mengaduh, namun tak jua mengerti kondisiku. Baik, mungkin aku egois. Kuakui itu. Tapi adakah terbersit dalam pikiranmu: hidup tak melulu diisi dengan tertawa?

Continue Reading »