coba pahami, kau ‘kan setuju
kita berpisah tanpa menyakiti
biarlah waktu yang mengurai
keputusan terbaik yang pernah kita ciptakan
(Baiknya, Kla Project)
Perpisahan! Siapa orang tak pernah mengalami perpisahan? Entah itu pacar, kekasih, pasangan hidup, atau apa pun sebutannya, yang namanya berpisah tetap saja tak enak untuk dikecap. Terkelu di mulut, pahit di lidah, dan tak sedap sama sekali untuk ditelan.
Bukankah dunia ini penuh dengan dialektika? Tak ada sesuatu yang tak berpasang-pasangan. Siang-malam, gelap-terang, tinggi-rendah, pahit-manis, perjumpaan-perpisahan. Ah, andai kita bisa memahami logika berpikir seperti itu. Namun tetap saja, berpisah itu: menyakitkan!
Tapi itu jua lah yang mesti kuambil. Berpisah! Kita tak lagi sejalan. Cara berpikir kita selalu bertentangan. Keinginanmu, egoku, selalu berbanding terbalik. Kita selalu di persimpangan. Tak ada jalan keluar. Melulu berdebat di tengah jalan persoalan. Untuk apa semua ini dipertahankan?
Jujur saja, aku tak bisa mengimbangi cara berpikirmu. Menjadi pendampingmu adalah sesuatu yang teramat mengerikan dalam hidupku. Kau selalu mengaduh, namun tak jua mengerti kondisiku. Baik, mungkin aku egois. Kuakui itu. Tapi adakah terbersit dalam pikiranmu: hidup tak melulu diisi dengan tertawa?
Tak bisa kubayangkan jika mesti terus berdiri di sampingmu. Kita kerap kali bertengkar. Bahkan pada soal-soal yang sepele sekalipun. Kau selalu ingin exist, sementara bagiku cinta tak melulu mesti dipamer-pamerkan. Siapa juga yang mau peduli? Toh kita tetap bisa saling mencinta dan bahagia? Dan orang lain bisa turut gembira tanpa mesti ikut campur atas kebersamaan kita.
Bukan aku mau sok perhitungan. Namun menjalin hubungan denganmu terlampau menguras kocekku yang tak seberapa. Okelah, kau merasa punya nilai cita rasa tinggi terhadap suatu hal. Namun tidakkah kau mengerti, hidup tak selamanya mesti bersenang-senang? Ada banyak hal yang mesti kita pikirkan.
Ya, mungkin aku memang masih bisa untuk terus berusaha memenuhi segala kebutuhanmu. Lagi-lagi karena cinta alasannya, -sesuatu yang banyak diagung-agungkan oleh orang itu. Tapi, hei, cara berpikir kita, cara kita memandang setiap persoalan, selalu saja bertentangan. Kalau memang bisa disederhanakan, mengapa mesti menempuh jalan rumit? Kau terlampau complicated!
Keputusan ini mesti kuambil. Tidak bisa tidak. Sudah berulang kali kita mengalami hal yang itu-itu juga. Kembali pada persoalan yang sama. Maka jalan terbaik adalah: kita sudahi saja hubungan ini secara baik-baik. Tanpa mesti menyakiti masing-masing dari diri kita. Kita sudah dewasa. Sudah bisa melihat mana baik, mana buruk.
Aku yakin, dengan segala kapasitas, cara pandang, juga nilai hidupmu, kau tetap mampu untuk berjalan. Begitu pun aku. Kita tetap bisa bersama-sama dalam hubungan pertemanan. Tetapi tidak dalam cinta.
Bagaimana pun terima kasih, kau sudah mengisi hari-hari sepiku dengan segala keindahan yang tak mungkin kunafikan. Betapa pun kita kerap berseteru di dalamnya. Paling tidak kita tahu, kita pernah sama-sama mengecap bahwa ada masa-masa bahagia di antara kita.
Namun, ya, sebaiknya kita memang berpisah. Sejak aku menulis rawian ini, kau bukan siapa-siapaku lagi. Dan aku, bukan pula siapa-siapamu lagi. Jaga dirimu baik-baik. Tetap tersenyumlah dalam memandang hidup. Segala tentangmu akan kusimpan baik-baik.
Peluk cium mesra,
Seseorang yang pernah begitu sangat dekat denganmu.
Catatan:
Woi-woi-woi… Jangan serius-serius gitu ah mbacanya. Ini mah ucapan perpisahan aku sama Speedy Timebased yang sialan itu kok. Lha gimana nggak sialan, tiap bulan tetap aja jebol. Biar udah ngeluarin duit gope, tetep aja timebased. Bukan unlimited. Apa nggak sialan tuh? Jadi, jangan serius-serius donk nyimaknya… Wakakakakkk!
Selamat datang kekasih baru: Telkomsel Flash! Sudah manis, seksi, baik hati, nggak malu buat ditenteng-tenteng, cerdas lagi! (maksudnya unlimited dan nggak nguras kocek gitu…). Jiakakakkk!!!
1 April 2009 | 13.53 wib




Ngakak membaca komentar-komentar yang masuk.
Kupikir kau sedang berusaha menjauhi seseorang, Cak.
Tapi bisa jadi juga, seolah-olah dibungkus dengan kelakar, padahal surat ini minus catatan kaki sudah sampai di tangan entah siapa. Hahahaha…
Okelah, dari dulu lagi aku sudah tau kau hebat merayu, hebat pula menarik diri tanpa perlu menjatuhkan air muka, hanya dengan anyaman kata.
Dan aku percaya kekuatan kata-kata.
Hehehe …
Aku yakin …
Aku yakin …
Postingan ini pasti di kopi paste oleh para pemuda-pemudi … brondong – broncis itu …
sebagai cara yang elekhan untuk memutuskan pasangannya masing-masing …
hahahaha … !!!
(aku ndak ngopi paste lho mas dan …)(aku hanya baca bolak balik … sambil menghafalkan …!!!)
nh18, terakhir menulis CERITA YANG TERTINGGAL
Menjalin hubungan yang aman adalah jika kedua pihak sama-sama bahagia.
hehehe…saya termasuk konservatif, jadi sampai saat ini masih setia sama Kabel Vision yang kemudian menjadi First Media (untuk jaringan kabelnya), sedang internetnya dari Indosat IM2. Males aja pindah-pindah…sama seperti merk mobil, asuransi dsb nya. Jika sudah terlanjur sayang, maka kalau tak puas akan diomeli habis2an…dan untungnya Kabel Vision selalu mendengar keluhanku dan langsung diatasi. Tapi kalau udah kecentok, ya benar-benar males…dan hal tsb wajar juga untuk dilakukan pemutusan hubungan.
edratna, terakhir menulis Masih capek….
hirup kudu waras!!!!