Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca (Charles Jones)

Selama pengembaraan yang belum lagi tuntas ini, aku menemukan banyak sahabat serta pengalaman-pengalaman baru di perjalanan. Sudah puluhan kota kusinggahi. Tak terhitung jumlah kendaraan yang kutumpangi. Semua menjadi pengalaman tersendiri, yang tak kesemuanya sempat tercatat dalam alam pikiran. Namun ada saja yang menjadi cerita di blog, pemenuh catatan harian, sementara sisanya sekadar mengendap di hati.

Yang menarik dan tak pernah terkira sama sekali adalah: aku mendapatkan kenang-kenangan, bukan saja dalam bentuk pengalaman batiniah, tapi juga barang-barang yang sebetulnya menambah sesak ranselku saja.

Beberapa kawan, di akhir perjumpaan, ada saja yang menyelipkan kenang-kenangan berupa buku, kaus, kemeja, gantungan kunci, zippo, jam tangan, mafela batik, coklat, Compact Disk, mainan puzzle, bahkan sebuah modem mungil, agar aku bisa online di mana pun aku berada selama perjalanan.

Tentu tidak semua pemberian mereka bisa kubalas saat itu juga. Karena aku sedang dalam perjalanan. Dan sudah barang tentu tak semua barang-barang itu dapat kubawa selama perjalananku. Beberapa mesti kupaketkan ke Bandung. Sisanya, terutama kaus dan buku, masih kubawa serta.

Kalau tiba-tiba aku kangen dengan seseorang, buku-buku itu kubaca dalam kereta, kausnya kukenakan, zippo-nya kumainkan, mafela batik kulilitkan di leher, dan jam tangan itu akan kupandangi sembari tersenyum-senyum konyol. Begitulah caraku mengobati rindu. Kalian tentu punya cara tersendiri dalam melampiaskan kerinduan pada seseorang bukan?

Nah, catatan ini kubuat di luar seri The Waiting Is Almost Over -yang masih juga belum tuntas itu. Namun materinya tentu saja kuambil dari perjalanan itu sendiri. Sengaja tak kumasukan ke dalam seri tersebut agar tak merusak jalan cerita yang sesungguhnya. Biarlah secuil catatan ini berdiri sendiri.

Kali ini aku ingin menulis tentang tiga pucuk buku yang kudapatkan dari Mbak Imelda saat ia berkunjung ke Indonesia beberapa saat lalu. Tiga pucuk buku itu berupa: novel My Name Is Red dan novel Snow, keduanya karya Orhan Pamuk –pemenang Nobel Sastra tahun 2006, serta The Last Lecture karya Randy Pausch.

Sesaat sebelum terbang dari Jepang, Mbak Imelda memang sempat bertanya padaku melalui YM:
“Kamu mau kubawakan apa, Danny?” begitu ia biasa memanggilku.
“Tidak. Aku tidak ingin dibawakan apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu kalau waktunya memungkinkan.”
“Buku barangkali?”
“Aku tak suka meminta. Kalau memang mau bawakan sesuatu, apa sajalah. Aku bingung kalau harus meminta.”
“Oke, nanti kubawakan buku.”

Meski yang ia hadiahkan padaku ternyata tak hanya buku, namun tiga pucuk buku itulah yang masih juga kubawa-bawa selama perjalananku. Aku tak ingin cerita banyak soal buku The Last Lecture karya Randy Pausch. Karena selain sudah banyak yang membahas, aku sendiri belum sempat membacanya. Tentu tak patut aku berkomentar atas sebuah karya sebelum membaca langsung tentangnya. Seperti halnya prinsipku: jangan menilai seseorang secara gegabah sebelum bertemu langsung dengan yang bersangkutan.

Namun aku tertarik untuk sedikit membahas novel My Name Is Red karya Orhan Pamuk, penulis asal Turki itu. Novel ini sudah terbit di Indonesia (Penerbit Serambi). Judulnya Namaku Merah Kirmizi. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Atta Verin, seorang wartawati dan penulis. Judul aslinya Benim Adim Kirmizi (1998), dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi My Name Is Red (2001).

Novel My Name Is Red secara cemerlang menggabungkan teka-teki misteri, cinta, dan renungan filsafat yang berlatar masa kekuasaan Sultan Murat III di Kesultanan Utsmaniyah dalam sembilan hari musim salju di tahun 1591. Novel ini mengajak pembaca untuk mengalami ketegangan antara Timur dan Barat dari perspektif yang sangat memukau.

Kisahnya bermula di Istambul-simbol tonggak kejayaan Islam terakhir-di ujung abad keenam belas, saat Sang Sultan secara diam-diam menugaskan pembuatan sebuah buku yang tak biasa untuk merayakan kejayaannya, dihiasi ilustrasi para seniman terkemuka saat itu. Ketika seorang seniman yang mengerjakan buku itu mati dibunuh secara misterius, seorang lelaki muram dengan masa silam sekelam namanya ditugasi untuk mengungkap misteri pembunuhan yang pada akhirnya menguak jejak benturan peradaban Timur (Turki-Islam) dan Barat (Eropa-Kristen)-dua cara pandang dunia berbeda yang pada akhirnya memicu konflik tak berkesudahan.

My Name Is Red sudah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa (seluruh karya Pamuk sendiri sudah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa di dunia), serta memenangkan sejumlah penghargaan internasional terkemuka. Dalam sepuluh tahun terakhir dari tigapuluh tahun masa kepenulisannya, dari seorang yang khawatir soal keuangan, Pamuk melesat menjadi seorang milyarder serta mengukuhkan pria kelahiran Istanbul 7 Juni 1952 ini sebagai salah satu penulis dunia terbaik saat ini.

Tak syak lagi, My Name Is Red barangkali bisa menjadi bacaan pilihan kalian di waktu-waktu senggang yang menyenangkan ketimbang melulu kencan dengan pacar di mall.

Dan ada yang membuatku tertawa geli setengah mati ketika membuka halaman-halaman awal dalam buku The Last Lecture karya Randy Pausch. Di sana Mbak Imel menorehkan sebuah coretan seperti ini:

Untuk pria berstocking hijau dan berjiwa muda selalu
The “Peter Pan” Danny

From
Imelda Coutrier Miyashita

Sialan! batinku tertawa ngakak. Yeah! I’m Peter Pan. I’m Peter Pan in my heart

Maka sudah barang tentu postingan ini kupersembahkan untuknya, Imelda Coutrier Miyashita, juga pada kawan-kawan yang mencintai kehidupan.

Thank’s, Imelda. I love you.

4 April 2009 | 07.07 wib