Wilwatikta
(The Waiting Is Almost Over: 28)
Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut purawaktra menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami brahmastana, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga paseban (Prapanca, Nagarakretagama)
Katanya, menjadi seorang petualang mesti siap dengan kondisi apa pun yang ditemui di jalanan. Tak kalah penting, ia pun mesti bisa luwes terhadap keadaan. Bisa jadi di saku kemejanya terselip setumpuk peta perjalanan. Namun jika sesuatu berbelok dari rencana semula, ia pun dituntut tanggap serta bisa berdamai dengan kenyataan.
Ketika kereta mampir di Stasiun Mojokerto pada pukul 07.35 pagi, tiba-tiba seperti ada yang memanggil-manggil diriku untuk turun di kota ini. Padahal aku masih harus menempuh sekitar 55 kilometer menuju kota Surabaya. Sementara Mojokerto tidak termasuk ke dalam peta perjalananku. Akhirnya aku berpikir keras: mengapa aku merasa harus turun di kota ini?
Tiba-tiba terngiang sebuah sajak dalam film Cinta dalam Sepotong Roti yang sudah kutonton ratusan kali itu. Kalimat itu selalu berkelebatan di kepalaku kemana pun aku pergi: tunduklah kepada Salmah, pergilah kemana ia pergi, dan ikuti angin takdir, bergeraklah kemana angin ini bergerak *. Tanpa pikir panjang lagi kuseret ranselku dari rak gerbong, permisi pada gadis yang sejak dari Jogja duduk di sebelahku, dan bergegas meninggalkan kereta. Si gadis hanya kaget dan berseru:
“Lho, Mas?! Kok turun di sini?!”
“Mengikuti angin takdir!” jawabku asal.
“Katanya mau kutemani jalan-jalan di Surabaya?”
“Thank’s ngobrolnya ya.” ucapku tersenyum tak menggubrisnya. Berlalu dan ngeloyor turun dari kereta.
Setelah gosok gigi dan mencuci muka alakadarnya di kamar mandi stasiun, aku nongkrong di warung nasi pecel depan stasiun. Waktunya santap pagi! Pada ibu penjual nasi pecel aku bertanya-tanya kendaraan menuju Trowulan. Ya. Rupanya inilah jawaban hatiku: aku ingin menyusuri sisa-sisa kejayaan Majapahit yang ditengarai secara ilimiah beribukota di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur kini. Letaknya sekitar 70 km ke arah baratdaya Surabaya.
Tak lama kemudian aku sudah berdiri di sisi jalan dan mengibaskan debu yang bertamu di kemeja hitamku. Jalan ini jalan utama di mana orang yang berangkat dari Surabaya menuju Solo dan dari Mojokerto ke Kediri atau ke Tulungagung mesti melewati jalan nasional ini. Aku berdiam sejenak. Melempar pandangan. Mengira-ngira arah mana yang bakal kutuju lebih dulu. Inilah Trowulan! batinku.
Di kecamatan ini bersemayam puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, arca, gerabah, serta pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Ditengarai, pusat kerajaan berada di wilayah ini seperti yang dirawi oleh Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nagarakretagama.
Kitab Nagarakretagama menyebutkan deskripsi puitis mengenai keraton Majapahit dan lingkungan sekitarnya, tetapi penjelasannya hanya terbatas pada perihal upacara kerajaan dan keagamaan. Detail keterangannya tidak jelas, beberapa ahli arkeologi masih berusaha memetakan ibukota kerajaan tersebut.
Memang, sejak pudarnya Majapahit pada 1500 Masehi, reruntuhan kota kuna di Trowulan baru ditemukan lagi pada abad 19. Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat gubernur Jawa dari tahun 1811 hingga 1816, dalam bukunya History of Java menyebutkan bahwa; ‘terdapat reruntuhan candi… tersebar bermil-mil jauhnya di kawasan ini’.
Aku menyeret ranselku, berjalan kaki mengitari sebagian kawasan. Tampak begitu banyak situs-situs yang bertebaran di sana sini. Namun tanah-tanah di sini juga dimiliki oleh penduduk sekitar untuk area persawahan, usaha produksi batu bata, juga tempat tinggal.
Tanah di Trowulan memang “mengerikan”. Ibaratnya, menggali tanah 3 inci saja, kita nyaris menemukan pecahan keramik, tembikar, atau mata uang logam yang jumlahnya sudah tak terbilang lagi. Belum lagi sisa-sisa batu bata bekas bangunan perumahan penduduk Majapahit, lantai persegi enam, sumur, saluran air, kolam, waduk, serta selokan dari pipa-pipa tanah liat yang berkelok-kelok dalam jalur-jalur pemukiman kota kuna.
Meski tak semegah Angkor Wat di Kamboja, atau Acropolis di Yunani, namun situs Trowulan kerap kali membikin tercengang para arkeolog. Bagaimana tidak, karena sepanjang mata memandang, tanah-tanah di sini menunjukkan bukti-bukti ilmiah berupa kompleks istana Kerajaan Majapahit, pemukiman penduduk, serta kota yang belum pernah diketahui sampai mana batasnya.
Pada sebuah jarak kulihat lahan yang tampak ditutupi seng serta plastik-plastik pembatas. Di areal seluas enam hektar sebelah selatan Kolam Segaran tersebut tampak beberapa lahan bagaikan pekerjaan yang tak rampung dituntaskan. Itulah proyek prestisius yang awalnya dirancang bakal didirikan sebuah bangunan megah sebagai Pusat Informasi Majapahit atau belakangan disebut Majapahit Park.
Proyek mercusuar tersebut dihentikan karena ditengarai telah merusak situs-situs yang ada di tanah “terlarang” Trowulan. Bagaimana tidak, tanah Trowulan yang sarat dengan peninggalan purbakala yang tak terkira jumlahnya itu, apa jadinya jika di atasnya bakal berdiri bangunan megah bertiang pancang yang fondasi betonnya dicor ke dalam tanah berukuran 1 x 1 meter yang dibuat di tengah galian 2 x 2 meter dengan kedalaman sekitar dua meter. Weh!
Kasus perusakan pun merebak. Berbagai media mencecar pemerintah. Berbagai pihak pun mulai turun tangan. Akhirnya pemerintah menghentikan proyek yang sarat dengan sengkarut persoalan tersebut. Namun apa boleh buat: perusakan situs telah terjadi.
Aku jadi teringat pada preseden yang menimpa Bernard Tschumi, arsitek Museum New Acropolis di Athena, Yunani, yang mengundang kontroversi dan dituntut International Council on Monuments and Sites karena besarnya bangunan yang dirancangnya-lebih dari 100 tiang pancang dipakai-dianggap merusak situs. Yah, aku hanya menghela nafas, memandang dan mencatat sebisaku di sini.
Hari beranjak siang. Setelah santap siang di warung seberang Kolam Segaran, berupa ikan wader goreng yang disajikan dengan sambal serta nasi hangat mengepul, aku bergeser dan ngungun sendirian di samping Wringin Lawang.
Wringin Lawang adalah gapura agung terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter setinggi 15,5 meter. Letaknya tak jauh ke selatan dari jalan utama di Jatipasar. Dalam bahasa Jawa, Wringin Lawang berarti ‘Pintu Beringin’. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gaya arsitekturnya disinyalir muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali.
Kebanyakan sejarahwan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleks bangunan penting di ibukota Majapahit. Namun dugaan mengenai fungsi asli bangunan ini masih mengundang banyak spekulasi. Salah satu dari spekulasi yang paling populer adalah; gerbang ini diduga justru menjadi pintu masuk ke kediaman Gajah Mada.
Ah, Sang Mahapatih itu…
Dalam lamunanku, tiba-tiba pikiranku terlempar ke masa di mana Rakrian Kuti melakukan makar dan mengangkat diri sendiri sebagai raja negeri Wilwatikta. Kawula Majapahit merasa kecewa, geram, marah, sekaligus takut. Selain karena Ra Kuti mendongkel Jayanegara dari kursi raja dengan cara yang culas, licik, serta penuh pola adu domba, para punggawa kerajaan gedibal Ra Kuti melakukan perampokan, penjarahan, serta pemerkosaan terhadap penduduk kotaraja.
Punggawa kerajaan yang mestinya bertindak mengayomi, melindungi, serta membantu masyarakat, malah berbuat sebaliknya. Adalah wajar jika kawula Majapahit bertanya: “Lantas apa yang dimaui Ra Kuti dengan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit?” Hal ini jelas menjauhi Ra Kuti dari masyarakat. Kapasitas Ra Kuti yang mengangkat diri sendiri sebagai raja tidak mengakar. Tidak mendapat simpati rakyat, justru malah sebaliknya.
Aku jadi ingat beberapa hari lalu ketika masih menjelajahi bumi Jawa Tengah. Aku bertemu dengan seseorang yang baru saja kehilangan sepeda motor persis di depan rumahnya. Okelah, motornya hilang. Setelah urus sana sini, akhirnya asuransi berhasil mengganti penuh seharga motor yang hilang tersebut. Namun ada hal yang cukup mengganggu, yaitu: ia mesti mengeluarkan uang sebesar 1,5 juta perak pada pihak kepolisian.
Aku masih belum lagi mengerti: legalitas apa yang dipakai pihak kepolisian untuk mengutip “upeti” sebesar satu juta lima ratus ribu perak pada masyarakat yang kebetulan terkena musibah kehilangan kendaraannya. Bukankah mestinya sebagai “punggawa kerajaan”, mereka membantu kawula negerinya yang sedang tertimpa musibah?
Kalian pasti sangat jamak mendengar hal seperti ini dan memang kerap terjadi. Lantas apakah kalau sudah jadi kebiasaan lantas kita mesti mahfum begitu terus? Kalau demikian adanya, kita, sebagai kawula negeri, pun memiliki kontribusi menjadikan negeri ini sebagai negeri perampok bukan?
Ah, kenapa pikiranku jadi terlempar-lempar dan mengaitkan satu persoalan dengan persoalan lainnya? Weh, mungkin karena sebentar lagi bekas negeri Wilwatikta yang kini telah bernama Indonesia ini bakal menghadapi pemilu.
Kalau dulu kekuasaan Majapahit dipimpin oleh raja secara turun temurun sebanyak 13 keturunan, dalam bentuk monarki di mana urusan pemerintahan dipegang oleh seorang Mahapatih kerajaan, kini bagaimana kita menentukan seorang pemimpin negeri? Akankah kita memilih pemimpin seperti Raden Wijaya? Jayanegara? Tribhuwana Wijayatunggadewi? Hawam Wuruk? Atau Brawijaya?
Ah, aku masih kerasan di Trowulan…
6 April 2009
* Ucapan Ahmad-Al Hadhrami kepada muridnya.


Waaa….dah nyampe Trowulan….
prameswari, terakhir menulis Berbagi Kasih
wow…penggambaran luar biasa…saya terasa berada di jaman majapahit…..pengen kesana juga saya mas……
imoe, terakhir menulis …lika-liku kripik budaya…
hmm… deskripsinya kuat sekali, goniel.
aku jadi ingat akan kunjunganku ke melbourne museum desember lalu, di mana ada preview dari pameran pompeii yang akan digelar oktober ini.
kota pompeii yang terkubur hampir 2 milenium lalu akibat letusan gunung vesuvius kini justru menjadi tourist site and attraction yang paling populer di italia.
kita punya majapahit dan peninggalannya yang hebat. kenapa kita tidak bisa menjadikan situs ini tempat wisata yang luar biasa seperti pompeii? alih-alih memelihara, proyek yang seyogyanya akan mempromosikan pun malah merusak pula.
thanks, aku banyak belajar tentang negeriku melalui tulisan ini.
Kejayaan tentang Majapahit tak ada habis-habisnya jika dibahas
Pun untuk menyingkap misteri yang masih belum dapat tersibak, entah mungkin butuh sepanjang usia kehidupan itu sendiri…
Ada situs kedaton beserta sumur upasnya, yang masih belum ditemukan bentuk susunan lengkapnya, juga pendapa Majapahit yang diduga merupakan pusat kerajaan Majapahitpun….masih diliputi banyak sekali misteri.
Menyenangkan sekali membayangkan sebuah kerajaan besar yang pernah hidup ada di hadapan kita. Membayangkan kita hidup didalamnya apalagi…. Lamunan itu gak akan ada habis-habisnya,
Wah…udah lama juga Ade gak kesana ya…….maem wader ya,…..aihhh
prameswari, terakhir menulis Berbagi Kasih
Setiap kali saya berada di situs peninggalan masa lalu, saya merasa seolah-olah berada di dalam film hitam putih …
Dan saya satu-satunya menjadi orang dengan baju berwarna,, sementara di sekeliling saya orang-orang berlalu lalang dengan kemben dan blangkon, bersenjatakan keris, ada kereta kuda, dan sewaktu-waktu ada rakyat berpakaian compang camping diseret para punggawa di jalan sambil ditonton oleh banyak orang…
Saya merasa berada di salah satu film Stephen Spielberg, back to the future…. versi saya, tentu saja…
Btw, Mas,, saya permisi mau pasang link blog ini ke tempat saya.. makasih
Muzda, terakhir menulis Kusebut Mereka Seniman yang Hidup di Jalan
weleh weleh,niel niel
hmm… kenapa Wringin Lawang diterjemahkan sebagai Pintu Beringin ya ? mengapa bukan Beringin Pintu ? seperti di Jogja ada sebutan Waringin Kembar yang terjemahannya ya Beringin yang kembar itu. sowan di Pakde Google dan di Mbah Wiki, jawabannya sami mawon alias sama saja. apa perlu buka2 Kakawin Nagarakretagama ya ? huik…, bisa 40 tahun berhadapan dengan kamus bahasa kawi aku.
pemilu ? milih wakil rakyat ? hehehe, rakyat yang mana yang diwakili ? ck, mending langsung milih presidennya saja. hidup Jenderal Nagabonar !
goenoeng, terakhir menulis gumatya, ingya arepi ning gathayu
tsah!!!
Fotoooo Dan!! Fotoooo muuuuuuuuuuuu!!!
Dah sekarang aku baca dulu! kamu diam aja situ yaaa jangan gangguin!
oiya… bener kata Yessy, tentang photo itu.
*
ngomong2 saat berphoto di kereta itu, nggak cukuran berapa hari, dab ?
dan pernyataan lain, DM ternyata suka photo2 sendiri , hahaha…
*petunjuk : lihat arah lengan tangan kanan
goenoeng, terakhir menulis gumatya, ingya arepi ning gathayu
Tunggu tunggu Dan….ini kayak belajar sejarah jaman SMP deh….
…………………………..
Dan, gue bilang siy yaaaa….yang berlalu biarlah berlalu…udah gak usah dipikirin…orangnya emang gituh….
*lari menghindar dari timpukan batu kutil gajah*
Makin lama panggilanku makin mesra ya???
Terharu aku…dari mulai keong sawah, sampe cumi cumi pasar!
DANIYELLLLLL !!!
Okey okey ..aku mau coba komentar serius ya….
Kamu taukan Dan, bahwa banyak situs situs dan cantik terbengkalai di Indonesia? sayang banget kan? Dari mulai yang kecil, sampai yang maha besar.
Aku si gak mau cuma menyalahkan Pemerintah, karena kita juga sepertinya masih kurang menghargai hasil dan kebudayaan negri ini.
Aku bingung, betapa banyak orang terkagum kagum sama artefak artefak di negeri orang, padahal negeri kita juga banyak dan kaya kalau kita mau menghargainya…ya gak siy….
But anyway Dan, mungkin aku ngomong begini karena aku sirik aja, soalnya alih alih keluar negeri…ngeliat prambanan dan Borobudur aja aku baru sekali…
Tapi yang ini komentar lebih serius lagi ya Dan…
SUMPAH BANGET GUE KAYAK BACA BUKU PEDOMAN PELAJARAN SEJARAH!
yessy muchtar, terakhir menulis Postingan hari senin…
aku malah blom pernah mampir ke mojokerto kecuali numpang lewat saja. apalagi sampek blasakan ke situs2 purbakala di trowulan … xiixixixixi.
Aku suka cara perawian di awal tulisan ini, tapi bagian tentang sepeda motor yang hilang itu agak mengganggu. Ah, aku di sini bukan untuk membahas gaya penulisanmu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, sudah membuat tulisan yang sarat dengan pelajaran berharga. (huehehehe kok aku geli ama komentarku sendiri ya?) Tapi intinya begitu deh…
Komentar yang serius kapan-kapan ya
Yoga, terakhir menulis Bualan Siang Siang
memang edan, dulu motorku dipinjem teman trus ancur dipake tabrakan, eh pas ngambil masih disuruh bayar lagi, tobaat.
Kalo gak ada fotonya aku masih ragu mas sampeyan nekat ninggalin cewek itu… jiyahahha…
suryaden, terakhir menulis Karet tabung gas
Wah, sudah sampai di Jatim kembali, Cak?
Menikmati tulisan ini walaupun agak berat.
Memang sudah saatnya peninggalan sejarah dihargai dengan cara yang pantas, tak ubahnya candi-candi peninggalan moyang kita itu. Walaupun terkubur, bukan berarti kekayaan-kekayaan itu tak bisa dinikmati toh?
Aku sempat terpikir, kenapa kita tak pernah mengadakan road show untuk pameran peninggalan-peninggalan sejarah ini? Maksudnya agar tak hanya segelintir orang seperti kau yang mampu bepergian ke situs itu yang bisa menikmati, namun juga penduduk di seluruh kawasan Indonesia, agar lebih tersosialisasi. Ini hal yang lazim kupikir, bahkan antarnegara sekalipun. Mungkin terbentur di masalah pendanaan dan mekanisme transportasi.
Pagi kakak..
Seneng bacanya..
Para sejarahwan masih berdebat dan belum bisa menemukan di mana letak istana Majapahit, banyak sekali pendapat dan alasan yang disertakan. Aku senang sekali jika mendengarkan kisah Majapahit, aku nggak tau kenapa bisa seperti itu, ada sesuatu yang tak bisa dilukiskan.
Mungkin suatu saat akan ditemukan prasasti yang menjelaskan tentang letak istana Majapahit
Wah iya, bentar lagi Pemilu, tapi aku belom punya KTP, jadi nggak bisa milih deh. Nitip kakak ja ya, pilihlah wakil rakyak yang benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat ya..
*melamun*
Negara yang pernah ada itu,
bangunan megah bersejarah bukti tingginya kemampuan arsitektur dan seni itu,
para pemimpin berkharisma itu,
tulisan-tulisan budayawan itu,
kisah sejarah kejayaan dan kejatuhan itu,
…
semua itu bukan dongeng yang ada di buku,
semua itu nyata,
semua itu ada didekatku,
itu nenek moyangku !
perasaan jadi campur aduk antara kagum, bangga, sedih, haru.. dan ingin tahu lebih jauh.
tanti, terakhir menulis Fly Me to the Moon
Ah Aku kira tadi Tukang Cetok Tiket kereta , ternyata sang penganyam Kata hiihihihiih.
Sejarah Indonesia Memang Unik,bahkan sampai saat ini masih saja ada yg bertengkar karena sejarah. Solo VS DjogDja masih saling ejek tentang siapa pengkhianat mataram. dan tentu paling seru adalah Djawa Sunda.Pertikaian masa lalu begitu kuat mengakar sampai2 tidak ada jl.Majapahit jl.Hayam wuruk atau Jl Gajahmada di bandung (sunda khususnya) — DM mesti bukan Sunda hahahahhaha… dia kan Londo semarang hihihihi.
Bicara tentang lawang jadi inget pantun dari partainya mas DM ehehhehe
Lawang Tengah Kayu Jati
Menang Kalah Melu …….. jamal ahdi hahahahahhahe
gimana mas kalau kita contreng mas Goen hehehehehhehe
contreng contreng contreng
tunggu… aku kok jadi ingat kejadian situs batu tulis yg digali oleh seorang “ulama” itu ya…? hehehe…
jejak sejarah memang diperlukan untuk mempelajari dan memahami apa yg sesungguhnya terjadi di masa itu, agar selanjutnya dapat diinterpretasi bagi perkembangan peradaban kita berikutnya. menjaga peninggalan sejarah memang perlu, tapi interpretasi dari sejarah itulah yg jauh lebih penting…
so, kesalahan sejarah dalam memilih pemimpin akankah terus kita lestarikan…?
hayooo…
Aku suka dengan pemaparanmu…
Aku jadi ingat waktu kamu sering baca buku serial Majapahit terbitan Tiga Serangkai itu.
Ceritanya hidup Dan, seperti kamu benar-benar pergi ke sana kali ini
DV, terakhir menulis Meskipun
“Rakrian Kuti melakukan makar dan mengangkat diri sendiri sebagai raja negeri Wilwatikta.”
Ah, di zaman Indonesia modern ini, juga ada Rakrian Kuti yang melakukan hal yang serupa. Sejarah Majapahit juga memberikan pelajaran bagaimana caranya melakukan kudeta. Dan itu sudah dipraktekkan.
Mas Dan, kok nggak capek, ya, berpetualang terus? Ndang balik! Nggolek bojo!
racheedus, terakhir menulis Dukun Sakti Siap Menangkan Caleg
Agak serius tulisannya kali ini..
Mending aku ngoment fotonya aja deh..
Udah berapa kali ceklek tuh? hehehe
p u a k, terakhir menulis [Lou] Rasakan beban hatiku
Kupikir tadinya mau cerita tentang “Wilwatikta yang di Pandaan”…ternyata di Trowulan. Membaca tulisanmu membayangkan beberapa tahun sebelum Masehi, betapa sebenarnya sejak dulu, pergantian tahta selalu menarik untuk diikuti dan kadang terjadi pertumpahan darah…dan yang korban adalah para rakyat yang tak tahu apa-apa.
Dan sejarah yang tercatatpun, adalah di tulis oleh para pemenang, sehingga kita hanya meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi saat itu, walau ada beberapa fakta tertulis yang tak bisa dipungkiri. Sebab itu, banyak cerita yang dapat ditulis (novel sejarah), seperti tulisannya LKH, yang mengambil bagian-bagian yang hilang ini dan memberikan penafsiran baru.
edratna, terakhir menulis Masih capek….
ingin rasanya saya kesana. ke trowulan. merasakan sedikit dari sisa-sia, puing-puing besarnya kerajaan itu. masuk menembus waktu merasakan jadi rakyat kecil berada di trowulan, merasakan betapa besarnya kerajaan tempat saya tinggal. seluruh nusantara takluk. bahkan hingga semenanjung malaya.
hmm… masalah upeti, jadi ingat peristiwa bubat. Sunda dan Jawa. Padjajaran dan Majapahit. Padjajaran tidak mau sang putri mahkotanya dianggap sebagai upeti. Hayam wuruk pun juga mencintai sang putri, namun sang mahaptih berpikiran lain.
hmm… upeti dari dulu memang begitu, menyesakkan dada.
Catra, terakhir menulis Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?
suatu saat, kalau kita bertemu langsung lagi….hehe, saya pengen diceritain lebih lengkap tentang situs trowulan, semoga masih ada jodoh saya bisa kesana mas…
“beruntunglah..hidupmu…adalah milikmu…” hehehe…
hem, kalo’ baca sejarah negeri ini, sebenarnya, liciknya sama saja dengan politik kekinian…ya kan?
hem.. kalo’ pilihan yang perempuan ada yang kayak Tribuana tunggadewi sih…saya pilih dia mas…
eh, itu yang salah satunya putri gayatri itu bukan sih?
hesra, terakhir menulis Dimensi Relativities (Masih Tentang Mimpi)
aku sering ngebayangin sosok Mapatih Mpu Mada berdiri dengan kaki-kakinya yang kukuh di depan Bale Manguntur…mengawasi Pasukan Bhayangkara mengamankan istana.
Ah, Damn-sumadem, jadi pengen ke Trowulan juga.
Om, Madakaripura Hamukti Moksa itu buku terakhir, ya?
aku agak ngga rela ngelepasnya…
miSSiSSma, terakhir menulis yaaaaay….!!
Trowulan.
artinya apa ya?
tro .. wulan .. ah jadi penasaran!
mascayo, terakhir menulis Mengeluh
wah, syukurlah blog penganyam kata ini sudah kembali stabil, mas daniel. mohon maaf, jujur saja saya belum sempat membaca postingannya. ampun!
update.. update.. update..
*ini blog kemaren hari kok susah diakses ya..
selamat kembali, PK (gak pake I)…
senang deh melihat blog ini udah siuman tak kurang suatu apa.
jadi tinggal nunggu launching dong?
mas melo, terakhir menulis Lovable Doctor
Hei…seneng liat tulisan di blog ini bisa De baca utuh lagi ya mas….
Terus berkarya
terus menulis…
Jalesveva Jayamahe….hehehe
prameswari, terakhir menulis Catatan di penghujung : "Yang Tercabik"