Archive for June, 2009

Gone Too Soon

Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too Soon

Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

Like a sunset
Dying with the rising of the moon
Gone too soon
Gone too soon

29 Agustus 1958 - 25 Juni 2009

Selepas Bapakku Hilang

Apa yang kau rasakan jika bapakmu, jika suamimu, jika kekasihmu, jika anakmu, hilang tak ada kabarnya… Siapa yang mesti disalahkan? Siapa yang mesti bertanggung jawab? Siapa yang mesti mencari yang bertanggung jawab?

Dalam beberapa hari terakhir, paragraf itu terus terngiang-ngiang dalam alam pikiranku. Sudah sejak kali pertama didirikan, Orde Baru memang kejam. Apa artinya pencapaian ekonomi jika dibangun di atas darah pembantaian bangsanya sendiri? Apa artinya kemapanan jika berangkat dari tangan-tangan yang korup, yang mulutnya belepotan dengan kue nasional? Bagaikan pohon dengan batang tubuh yang tak kokoh. Isinya mudah digepak oleh angin.

Sejarah selalu mencatat, pemerintah yang korup hampir tidak mengizinkan suara yang tidak selaras dengan penguasa. Tak ada tempat bagi oposisi. Tak boleh ada beda pendapat. Semua mesti diukur berdasarkan selera penguasa. Jika tidak, yang terjadi adalah dibungkam, diculik, atau dibunuh dengan alasan subversif. Itulah yang terjadi pada sosok-sosok aktivis, pejuang HAM, penyair, dan orang-orang yang menyuarakan ketidak adilan.

Continue Reading »

Anak Macan Bu Lastri Mahal Sekali

Apa parameter kekayaan seseorang? Rumah, mobil, uang, tanah, saham, kuda? Nyaris tak pernah ada pakem yang setepat-tepatnya untuk mengukurnya. Orang yang terbiasa naik angkot melihat Avanza seharga Rp150 juta rasanya sudah mewah sekali. Orang yang biasa naik Avanza melihat BMW 750Li seharga Rp2,5 miliar rasanya sudah selangit sekali. Orang yang biasa naik BMW 750Li melihat Bentley Pinnacle 728 Limousine seharga Rp16,5 miliar bisa berdecak berkali-kali. Namun tetap: sulit mengukur bagaimana seseorang disebut kaya. Di atas langit tetap ada langit bukan…

Begitu pun dengan ragam bendawi lainnya di muka bumi ini. Orang boleh bebas menentukan bagaimana ia merasa kaya atau tidak. Kaya materi, kaya hati, kaya ilmu, atau kaya apa pun yang dapat menentukan seseorang merasa hidup dan mengisi kehidupan. Demikian pula dengan Bu Lastri.

Bu Lastri, dalam pandangan umum ia mungkin tampak makmur. Ia punya mobil mewah, rumah megah seharga Rp60 miliar, beberapa tempat penjualan bensin 2 taks di pinggir jalan desa, serta uang bertumpuk-tumpuk banyaknya. Tapi dengan itu semua Bu Lastri tetap (ngotot) ingin dianggap sebagai kaum cilik. Yaitu orang yang selalu (merasa) berada di garda terdepan rakyat kebanyakan. Sulit memang untuk mengamini. Tapi itulah Bu Lastri.

Namun itu semua belum memuaskan Bu Lastri. Ia masih ingin mencalonkan diri lagi sebagai Lurah Desa Wingko. Dulu ia memang pernah jadi lurah. Tapi bukan lurah yang dipilih warga desa. Melainkan lurah yang naik jabatan setelah Pak Lurah Desa Wingko turun dari jabatan lurah. Maka sebagai wakil lurah, Bu Lastri naik panggung menggantikan Pak Lurah. Jadinya masa jabatannya memang sebentar. Tapi yang sebentar itu justru sempat membuat kocar-kacir usaha di Desa Wingko. Banyak aset di Desa Wingko yang dibeli desa lain. Privatisasi bahasa kerennya.

Continue Reading »

Sukimin Ingin Jadi Lurah

Entah kena sambet setan mana, tiba-tiba Sukimin ingin jadi lurah. Ya, lurah. Ia ingin jadi pemimpin di desa Wingko yang bukan kebetulan akan melaksanakan suksesi. Masalahnya bukan Sukimin tak pantas. Tapi setelah dipecat sebagai koordinator salah satu divisi hansip karena terlibat sederet kasus, tanpa tersentuh pengadilan, Sukimin pergi dari desa. Kabar burung mendesuskan ia hijrah ke ibukota. Katanya jadi pengusaha di sana.

Setelah sekian lama menghilang, ketika Desa Wingko hendak melakukan pergantian pemimpin, Sukimin tiba-tiba nongol, jadi Ketua Perhimpunan Pedagang Beras, me-recovery image sebagai penasehat, pelindung,serta pengayom banyak organisasi di desa. Bergepok uang ia gelontorkan untuk memuluskan jalannya. Dan orang seperti lupa atas apa yang pernah ia lakukan di masa lalu terhadap para pemuda desa.

Dulu Sukimin memang ganteng, badannya tegap, sikapnya tegas, namun tatapan matanya lembut. Sebuah tatapan yang mampu melumerkan hati banyak perempuan desa. Tapi Sukimin bukan tipikal play boy apalagi Don Juan. Ia tak begitu suka memanfaatkan ketampanan atau memainkan perasaan perempuan. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya jatuh hati adalah anak lurah zaman ia masih lagi menjabat sebagai koordinator salah satu pasukan keamanan desa.

Maka sejak Sukimin menikahi anak lurah, karirnya dengan cepat sekali melesat. Ia meninggalkan banyak teman-teman hansip seangkatannya. Namun di luar itu, Sukimin memang memiliki segudang kecakapan. Otaknya cerdas. Ia gesit bergerak seperti macan tutul ketika harus menangkap maling. Tak aneh kalau ia memang tampak cemerlang di antara teman-teman sebaya.

Continue Reading »

Bagaimana Merangsang Impian?

Hingga kini Ijul adalah kawan yang cukup asyik untuk diajak berbincang soal Law of Attraction. Ia bisa memetakan cara menetapkan tujuan, proses menyelami keinginan, fokus pada apa yang telah ditetapkan, dan meraihnya. Tapi yang terpenting dari itu semua, selain mempraktekkan, ia membuktikannya!

Ia pernah bercerita, dulu ketika ia ingin menjejakkan kaki di kota Paris, ia selalu menyelipkan selembar uang Franc di dalam dompetnya (Prancis kini sudah menggunakan Euro). Praktis ke mana pun ia pergi, ia membawa serta dompetnya itu. Dan ketika hendak memerlukan sesuatu dari dalam dompet, ia selalu bertatapan mata dengan si Franc itu.

Siapa nyana, pada akhirnya ia memang betul-betul menginjakkan kaki di kota Paris dan memanjat La Tour Eiffel. Tak aneh jika ia sudah keliling Indonesia. Dan kini ia selalu rajin mengirimiku cerita negara-negara Eropa mana saja yang telah ia injak tanahnya. Apa resepnya? tanyaku. “Law of attraction, Dear!” jawabnya pasti.

Almarhum bapak dulu pernah bertanya kepadaku: “Kamu kuliah bahasa Prancis, kapan bisa ke Prancis?” Ditanya seperti itu aku hanya nyengir. “Bapak nggak pernah belajar bahasa Prancis, tapi Bapak sudah naik Eiffel dan keliling Eropa. Kamu kapan?” Sampai sekarang, kalau ingat pertanyaan bapak, aku masih saja nyengir.

Ijul temanku itu memang doyan bertualang. Setelah lulus dari Kedokteran Unpad, ia memilih bekerja di lembaga-lembaga internasional, Unicef misalnya, menjadi tenaga medis di daerah-daerah konflik. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di pedalaman Pulau Buru, Aceh, atau Papua. Ikut Ekspedisi Majapahit, atau keliling dunia.

Continue Reading »

Next Page »