P.K.I.
Jika kalian terhenyak atau sedikit mengerutkan dahi ketika membaca judul di atas, berarti kita sama. Ini membuktikan secara umum bahwa pikiran kita masih kental dengan brainwashing atas sesuatu yang terlanjur dikesankan secara langgeng.
Apa boleh buat, PKI memang identik dengan Partai Komunis Indonesia. Sebuah partai besar yang sejak Orde Baru berdiri dilarang keberadaannya. Sebuah partai besar yang (sudah barang tentu) memiliki fraksi di DPR pada zaman Orde Lama. Sebuah partai komunis paling besar di dunia. Namun menjadi sebuah faham yang amat dibendung penyebarannya oleh Amerika Serikat. Sebuah organisasi politik yang dijadikan bahaya menakutkan selama pemerintahan Orde Baru dan dijadikan momok untuk mengancam sertai mengintimidasi seseorang yang tak disukai pemerintah saat itu.
Apa boleh buat, frame semacam itu telah melekat di pikiran kita. Bahkan dengan apa yang kututurkan di paragraf kedua saja sudah menunjukkan betapa pikiran sehat ini telah tercerabut serta melulu bermuara pada hal-hal yang terlanjur dikesankan. Bagaikan pikiran anak kecil yang masih polos, namun bisa menjadi takut setengah mati hanya kerena mendapatkan gambaran yang salah bahwa kuburuan itu mengerikan atau tempat berkumpulnya para setan.
Mestikah kita terus seperti itu? Idealnya memang tidak. Padahal judul P.K.I. di atas tak ada korelasinya sama sekali dengan partai, apalagi komunis. P.K.I. di atas adalah kependekan dari Penulis Kesepian Independen. Penulis Kesepian Independen? Ya. Lalu mengapa kesepian? Mengapa independen? This is it! Inilah saatnya aku mulai kembali nge-blog secara aktif. Lantas hubungannya dengan P.K.I.? Baik. Begini.
Di dunia ini, pada era millennium sekarang ini, siapa yang tidak meniru siapa? Betapa pun banyak temuan baru, rasanya secara garis besar merupakan pengembangan dari yang sudah ada. Tak dipungkiri, memang makin maju, makin canggih, serta makin pintar. Namun secara rata-rata tetap merupakan sesuatu yang dikembangkan dari yang sudah ada sebelumnya.
Pramoedya Ananta Toer sendiri mengakui, pada awal-awal masa karir kepenulisannya, saat baru saja merangkak di panggung sastra nasional, ia sangat terpengaruh oleh gaya Idrus, seorang prosais Indonesia yang cemerlang. Pram juga berenang dalam gaya Maxim Gorky atau tulisan William Saroyan. Michael Jackson meniru secara terbuka James Brown, raja soul dunia yang begitu ia kagumi. Sulit memungkiri Koes Plus atas tembang-tembang The Beatles atau The Bee Gees. Sementara keroncong tidak dapat disebut secara murni tulen Indonesia. Bahkan Bahasa Indonesia sendiri merupakan campuran hasil comotan bahasa sana-sini bukan? Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa kita sodorkan. Ya. Memang tak mudah menentukan ketulenan. Tapi kalau kita bicara gaya, akan berbeda persoalannya.
Gaya adalah hasil dari pemanfaatan atas kekayaan pemikiran manusia dalam bersikap. Seorang Pramoedya tak lantas terjebak dalam pola Idrus, Gorky, atau Sayoran. Michael Jackson tidak lantas latah melulu meniru James Brown. Musik Koes Plus akhirnya memiliki karakter tersendiri. Dan ketika sejumlah unsur alat musik tradisional Nusantara digabungkan, pada akhirnya keroncong pun dianggap sebagai musik Indonesia. Begitu halnya dengan Bahasa Indonesia. Gaya! Gaya menentukan bagaimana pada akhirnya seseorang bersikap. Hanya dengan sekilas mendengar atau membaca, kita bisa tahu itu karya siapa. Begitu pun dengan menulis.
Mengapa mengangkat tajuk Penulis Kesepian Independen? Aku rasa, seorang penulis memang mesti independen. Ia tak boleh terkontaminasi dengan hal-hal yang justru akan memengaruhi proses kreatif berlangsung. Ia mesti bersih dari intervensi di luar dirinya yang dapat menyebabkan mandeknya kemandirian dalam menulis. Ia tak boleh terganggu atau merasa takut pada istri atau suaminya, misalnya, saat harus melukiskan perempuan cantik atau lelaki ganteng hanya karena khawatir dicemburui. Seorang penulis, aku rasa memang harus independen dari hal-hal semacam itu. Kabar baiknya: menulis itu mudah. Kabar buruknya: untuk betul-betul bisa menulis secara independen seseorang mesti berani merasa kesepian. Kesepian? Ya. Yang jadi soal adalah: tak semua orang berani merasa kesepian. Mengapa kesepian?
Pramoedya Ananta Toer pernah menulis:
Seorang pengarang adalah seorang pekerja individual, seorang yang bekerja seorang diri, mengutamakan pikiran, perasaannya sendiri. Kebiasaan kerja ini menimbulkan watak individualis, banyak kali melupakan atau tidak menggubris lingkungannya dengan tata tertibnya sekali. Watak individualisnya menyebabkan ia tidak disukai oleh lingkungannya, apalagi oleh orang-orang yang mengutamakan tata tertib. Sebaliknya kemashurannya menyebabkan ia dikagumi. Ia hidup dalam dua extremitas di dalam masyarakatnya sendiri. (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, hal. 84).
Hingga Desember 2006, aku masih mengangap bahwa tulisanku akan deras mengalir secara gila-gilaan di saat merasa sendiri, tertekan, dan kesepian. Aku menginsafi itu bukanlah pola yang baik untuk menjaga produktivitas dalam proses kreatif. Tapi apa boleh buat, pengalaman hidup mengajarkan seseorang berlaku dan bersikap.
Di saat hati bahagia, tulisan malah cenderung sulit keluar dan mandek. Kerap kali ketika pulang dari kantor, dengan hati yang berbunga-bunga aku membayangkan hendak menghabiskan malam dengan merawi sebuah tulisan yang hebat. Hati lapang dan kondisi tubuh prima. Setelah makan, mandi, menyeduh teh manis, menyiapkan sebungkus rokok, dan memutar tembang Enya, aku pun siap berhadapan dengan laptop. Tapi apa lacur?
Aku bahkan tidak menorehkan satu kata pun di atas lembar halaman layar. Kenapa? Jawabannya hanya satu: kondisinya terlalu melenakan! Semua terasa prima. Apa yang bisa didapat dari hati yang bahagia, perut terisi, rokok cemepak, teh manis mengepul-ngepul, berhadapan dengan laptop berkecepatan 2 GB, akses internet unlimited, duduk di ruang kerja yang seluruh temboknya dikelilingi rak berisi ribuan buku hingga menyentuh langit-langit, diiringi tembang temaram pula (apalagi kalau ada istri. Waduh!). Apa yang bisa didapatkan dengan kondisi prima seperti itu? Jawabanku saat itu: tak ada! Paling banter aku menarik sebuah buku untuk lantas terlena membaca. Atau yang paling parah: main games.
Apa artinya? Yang ingin kukatakan adalah: kondisi mapan terkadang melenakan seseorang. Mapan di sini tentu mesti diartikan dalam pengertian yang luas. Mapan pemikiran, mapan hati, serta mapan kondisi. Segalanya tampak beres. Hati riang dan pikiran lapang. Justru kondisi seperti itu tidak berhasil membuatku produktif dalam menulis. Tidak ada pressure, tidak ada desakan untuk segera menulis. Sesuatu yang membuat penulis kerap kali dihinggapi writer block.
Tak jarang, pada kondisi tertekan, suasana hati yang tak karuan, atau merasa sunyi dan sendiri, ide menulisku justru liar. Tulisan pun deras keluar. Ada suatu perasaan yang harus kumuntahkan. Tak mesti berisi gerutuan atas apa yang kurasakan. Yang kupakai hanyalah semangatnya. Semangat untuk menulis. Yang kutulis bisa apa saja. Aku hanya menggunakan kekuatan dari suasana hati seperti itu. Dan biasanya itu berhasil.
Namun adakah kita (dalam hal ini aku) mesti terus bersedih-sedih, kesepian, serta nestapa untuk dapat menulis dengan produktif? Sungguh ironis kalau memang demikian. Karena menulis adalah juga tugas. Adalah cara manusia berbicara. Maka betapa mengibakannya jika menulis mesti menunggu suasana hati seperti itu. Bahaya.
Adalah blog yang pada akhirnya menjadi solusi atas soal-soal genit semacam itu. Dengan blog kita bisa menulis apa saja. Tentang apa saja. Juga suasana hati yang bagaimana saja. Orang mau peduli atau tidak peduli, blog adalah milik pemiliknya. Blog adalah juga rumah di mana kita bisa dengan bebas mengisi perabotan sesuai dengan selera kita.
Itu konsep dasarnya. Hanya saja, blog bukanlah sebuah ranch di tengah savana yang maha luas. Blog tetaplah sebuah rumah di komplek perumahan. Bahkan di gang sempit yang tembok-temboknya saling berhimpitan. Ada tetangga, ada pula orang lewat. Semau-maunya kita menulis di blog, bisa saja ada tetangga yang tak nyaman dengan tulisan kita. Seperti halnya hidup bermasyarakat, semua tetap ada aturan serta norma.
Maka, dengan menulis di blog, adakah kita berhasil mendapatkan independensi yang kita maksud? Jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Ada banyak faktor yang membuat kita menjadi tidak independen dalam menulis. Dan biasanya itu tak hanya datang dari lingkungan luas. Tapi dari orang-orang terdekat kita juga. Orang-orang yang justru teramat sangat mencintai kita. Perasaan-perasaan tak enak atau merasa mendura justru menjadi penyebab rikuhnya kita dalam menulis. Maka sepakat atau tidak, aku ada kecenderungan untuk menyetujui pendapat Pramoedya yang kukutip di atas.
Apa boleh buat, menulis adalah dunia azas. Dunia alam pikiran. Sebuah ranah yang tak bisa dimasuki oleh siapa pun di luar diri kita. Manusia mana yang berhak mengadili pikiran kita jika tiba-tiba dalam pikiran kita terbersit untuk membayangkan pindah agama? Ingat, ini dunia pikiran. Tak seorang manusia pun bisa tahu kecuali diri kita sendiri dan Tuhan. Dunia pikiran memang liar. Ia bisa mencapai jangkauan derajat manapun sejauh masih terjangkau dalam otak manusia. Siapa yang berhak mengadili?
Namun begitu diejawantahkan dalam bentuk lisan maupun tulisan, praktis kita berhadapan dengan manusia lain secara sosial. Tulisan kita bisa dicaci maupun dipuji. Cara berpikir kita bisa ditentang maupun dielukan. Ketika pikiran sudah bermanifestasi dalam bentuknya yang kongkrit, sebuah ide sudah tidak lagi berenang dalam dunia konsep semata. Ia praktis bersinggungan dengan pembaca, pendengar, sebagai pihak reaksioner. Maka di manakah letak independensi?
Bagiku, independensi dalam hal menulis justru terjadi saat proses kreatif itu berlangsung. Kita mutlak membebaskan pikiran kita dari pengaruh apa pun. Adalah betul bahwa dalam diri kita bersemayam ideologi yang bermacam-macam ragamnya. Dan salah sebuah yang paling menonjol akan sangat memengaruhi cara berpikir kita. Namun aku cenderung berpikir untuk memperkecil intervensi pihak luar, dalam hal ini orang lain, saat hendak memuntahkan gagasan-gagasan.
Di sinilah perlunya dialektika. Bukankah semua yang ada dalam hidup ini nyaris berpasangan? Gelap-terang, siang-malam, sedih-gembira, pertemuan-perpisahan. Semua merupakan dialektika. Agar kita bisa memahami pendapat orang lain. Demikian pun orang lain bisa pula memahami pendapat kita. Maka menulis pun mutlak memiliki tempat sebagaimana kemandirian pikiran itu sendiri.
Tulisan ini kurawi sebagai pembuka awal dari blog baru bernama penganyamkata.net. Sebuah babak baru dalam aktivitas nge-blog-ku. Setelah melewati berbagai macam bentuk blog, mulai dari blogspot, multiply, friendster, wordpress.com, danielmahendra.com, kembali ke wordpress.com lagi, hingga akhirnya aku berketetapan hati untuk “menikahi” penganyamkata.net. Ada dua domain lagi yang sengaja kusimpan menggunaannya, yaitu penganyamkata.com dan danielmahendra.net.
Seperti kebanyakan mempelai, tentu saja aku berharap bahwa ini adalah “pasangan” terakhir. Bagaikan seorang perempuan yang kunikahi untuk seumur hidup lamanya. Tak perlu lagi bergenit-genit pada sesuatu yang tak menentu dan tak berkesudahan. Semoga “pernikahan” ini langgeng adanya. Begitulah aku memperlakukan blog penganyamkata.net
Kahaturan ribuan terima kasih pada pihak-pihak yang turut mewujudkan ini semua. Tak mungkin bisa kulupakan bahkan seumur hidup sekalipun. Karena blog adalah juga tempatku menulis, tempatku menyodorkan gagasan, serta mendapatkan masukan. Dan aku tak ingin berhenti menulis. Sampai mati kalau perlu.
Di sinilah segalanya berawal. Selamat datang. Selamat bertemu kembali.
Renaissance!
Bandung, 31 Mei 2009 | 20.20 wib




Wah… panjang sekali preambul blog bersejarah ini. Blog kebangkitan seorang Daniel Mahendra yang konon sudah mati di Gunung Raung (ehhh itu kan Dan, bukan DM) .
Pertama-tama selamat ya untuk blog barunya
Soal PKI, entah kenapa aku tidak langsung terpikir ke Partai Komunis Indonesia seperti yang kamu tulis di paragraf dua. Mungkin karena aku tidak merasa aneh seandainya ada partai baru memakai singkatan “tabu” itu. Sebab masa tidak boleh pakai kepanjangan dari kata “K”? Kesatuan, Kebenaran, Keadilan ….. whatever. Memang aku langsung berpikir soal partai. Kupikir Sukimin Mahendra benar-benar mau membuat partai. Tapi ternyata memang kenyataan ya, bahwa tidak ada satu institusi pun yang mau memakai singkatan PKI, hanya karena langsung mengacu ke Partai Komunis Indonesia. (Tahu ngga, aku langsung masukkan kata PKI adalah … ke google dan tidak ada memang singkatan lain selain Partai Komunis Indonesia kecuali bahasa Inggris singkatan dari Public Key Infrastructure). Benar katamu, brainwashing!!! dan manusia-manusia Indonesia mau saja dicuci otaknya. Huh, absurd. Aku tanggung deh nanti kalau aku sesudah ini cari di google lagi akan keluar judul posting ini di paling atas hihihi.
Ikkyu_san, terakhir menulis Menyetir di Jepang
…….diiringi tembang temaram pula (apalagi kalau ada istri. Waduh!).
Kalau ada istri ada tiga kemungkinan memang :
1. Kamu tidak bisa menulis karena ML terus sampai pagi atau
2. Menulis sembunyi-sembunyi mengenai kekesalan pada istri
3. Saking nyinyirnya istrimu itu malah memacu kamu lebih produktif untuk menulis lagi….
jadi kesimpulannya…cari istri yang nyinyir saja hihihi
Ikkyu_san, terakhir menulis Menyetir di Jepang
penganyamkata.net
penganyamkata.com
danielmahendra.net
hmmmm baru 3 tuh, bisa cari satu “istri” baru lagi ya…. kan boleh 4. hihihi
Aku tahu! Aku tahu!!!!
sukiminmahendra.net
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Menyetir di Jepang
Hidup Penganyam Kata..Hidup PKI!!!! ups…:D
icha, terakhir menulis Cinta untuk Mak Obang
Cuma mo baca ja..
Sekarang dah membaca, sebelum pulang aku kasih catatan dulu deh..
Cari tempat ini aku tadi muter-muter lho, di danielmahendra.net, penganyamkata.com, penganyamkata.net, hingga ketemu rumah ini, catnya masih sama
ternyata seperti itu ya, aku baru ngerti, itu merupakan pilihan hidup, tapi aku sarankan untuk.., nggak jadi ah..
pertama.. selamat atas “pernikahannya”, semoga langgeng & bahagia, serta mendapatkan “keturunan” yg mampu menebar “manfaat” di muka bumi ini..
kedua.. ntar deh, sekarang makan-makan dulu, hehe.. (ups sorry, di sini gak boleh becanda ya..?)
Penganyam Kemaruk Independen, itu bayangan pertama melihat dari anjangsana kemudian datang kesini, balas dendam temenan, wakaka…
ki demang, terakhir menulis Desa Wisata Limbangan Kendal
menyenangkan sekali bisa menikmati anyaman kata darimu, selamat hadir kembali, cuman kurang oprekannya di track reply nya kali ya… welkambek…
suryaden, terakhir menulis just for you
Aku cuma mau bilang, selamat kembali, aku merindukan(tulisan)mu.
Dan selebihnya ingin kumuntahkan di WP aja, karena katanya di sini tak boleh menyampah.
Muzda, terakhir menulis That’s What Friends Are For
lapor!!! sudah kubaca anyaman pembukanya hingga tandas… tapi kok blog ini gak jalan rssnya mas… gak bisa aku subscribe di gugel readerku… :((
mantan kyai, terakhir menulis Balas Dendam itu Membahagiakan!!!
Seorang pengarang adalah seorang pekerja individual, seorang yang bekerja seorang diri, mengutamakan pikiran, perasaannya sendiri.
——————————————————————————
Niel, ini kategori pengarang seperti PAT ya? Atau semua penulis? Dan dibedakan dengan jurnalis?
Yahh bayanganku, seorang pengarang mesti mau bersepi-sepi sendiri, minimal dia kerja bahkan samapi melewati tengah malam, di saat sebagian besar orang lainnya tidur.
Quote:
Tak jarang, pada kondisi tertekan, suasana hati yang tak karuan, atau merasa sunyi dan sendiri, ide menulisku justru liar.
Saya jadi ingat, bahkan seorang pengarang lagu, yang juga menyanyi, pernah mengatakan bahwa dia bisa menulis lagi dengan baik pada saat sedih, patah hati dll. Tapi, tentu saja, karena tugas ada juga orang yang bisa menulis di segala keadaan, inilah yang kita harapkan….dan kayaknya DM termasuk tipe ini.
Saya berharap, engkau bisa menulis dengan lancar disini, tulisan yang kuharapkan berbeda segmennya dengan tulisan di rumahmu yang lain, sehingga banyak hal yang bisa dipelajari, serta didiskusikan, dan ada tambahan ilmu yang diperoleh bagi pembaca setiamu.
Selamat menulis kembali Daniel…dan semoga siapapun yang membaca blogmu yang ini, juga tahu seperti apa keinginanmu terhadap kelanjutan isi blog ini…namun semua juga tergantung dari tanggapanmu atas komentar yang datang.
edratna, terakhir menulis Mengobrol santai dengan salah satu cawapres di Angkringan Wetiga
Orang kaya adalah orang yang kehidupannya dicatat sehingga orang lain membaca kisah perjalanannya.
makane tumpengan xixixixiix
berarti sampeyan sugeh banget
Jamal eL Ahdi, terakhir menulis Gusti Allah Ora Sare
baca postingan ini, aku sampek gak bisa ambegan….huuaaaahh…
eh, di sini gak boleh gak serius ya ?
ya wis, ini yang serius :
saya mengucapkan selamat kepada yang terhormat Bapak Daniel Mahendra atas awal yang baru di Penganyamkata.net. semoga untuk selanjutnya dapat menjadi teman yang baik untuk menemani sepi-sepi di tengah malam, sambil nyeruput teh panas dan menyulut sebatang ‘Signature’. dan jangan lupa untuk mencatat tanggal kedaluwarsa domain ini.
nah, itu serius itu…
goenoeng, terakhir menulis tiga puluh enam
Sambutan pembukaan sang Penulis Kesepian Independen ini mengharu biru banget…
jadi ikut terasa sesak di dada (uihhh….)
Jiwa mas Niel memang dah menyatu dengan menulis…
dan orang-orang terdekatmas Nielpun sudah pasti tahu keinginan mas….
sudah tahu pasti dunia mas…
dan akan selalu support mas…
Terus menulis dengan hati mas…..
Karya mas selalu dirindu….
mbak Imel, komen mbak lucu banget!
Saya datang memenuhi undangan …
Re Launch nih rupanya …
semoga gak kenapa-kenapa lagi ya Mas …
Salam saya
Gaya adalah hasil dari pemanfaatan atas kekayaan pemikiran manusia dalam bersikap.
Hhhhmmm..boleh juga tuh. Mengutip kata-kata dari mas goen jangan lupa untuk mencatat tanggal kedaluwarsa domainnya. Atau tempel saja di header supaya tiap kali buka langsung terpampang…..hehehehe
Mampir lagi…
anakilang, terakhir menulis No more
Ya, ya. Aku setuju dengan pendapatmu, Mas. Ketika aku sedang banyak pikiran, justru banyak tulisan yang meluncur deras.. Cuman sayangnya, tulisannya pahit semua.. hehe..
Aku pernah dengan sengaja menciptakan kondisi yang nyaman untuk menulis, misalnya dengan menyiapkan secangkir kopi yang baru selesai diseduh, lagu-lagu dengan melodi yang lembut, dan pakaian yang nyaman (sekaligus tidur, maksudnya.. hehe)… Eh, ndilalah, yang ada malah klik Facebook.com dan mulai begajulan nggak jelas di sana! haha.. payah, payah!
Soal penulis perlu memiliki trademark sendiri, well, aku setuju juga. Mungkin awalnya dia mencoba untuk mengikuti gaya anu itu, tapi setelah mulai banyak menulis, I believe that every writer will find their own styles. Ya, kalau Lala sih, kebanyakan Nginggrisnya! Hehe.. gimana lagi, ya? It’s my style, you knooowwww…. ^_^
Anyway,
Selamat berkarya lagi di domain yang baru ini. Tapi ingat, jangan sampai usaha keras Ria membantu kamu ini menjadi sia-sia karena Mas lupa untuk bayar lagi tahun depan!
Selamat!
Ya..ya.. welcome back, Nad! oh,…Dan!
Selamat menganyam kata-kata lagi.
Request!.. jgn yang susah2 dimengerti yaa.. biar ndak mumet
p u a k, terakhir menulis Ngorok nan katrok
Kepada kedua mempelai yang berbahagia,
dengan air mata berlinang penuh kerinduan saya ucapkan SELAMAT
ditunggu anak - anak tulisan yang terlahir dari sikap individualitas (saya gak ngerti kenapa sikap individualitas bisa melahirkan anak hahahha kalo dlm rumah tangga beneran yang ada cari selingkuhan)
anw mas mengenai blog dengan tata krama karena ada tetangga..
saya barusan mengalaminya, di protes keras karena posting malam pertama. Dikirim pribadi ke email segala malah. Pahit.
Padahal ya blog milik sendiri, tapi yang mbaca mo ikutan ngatur… aiih
Btw cerita mas DM selalu saya nantikan, titip cium untuk bakal cerita - cerita yang akan lahir dan mewarnai hari2 saya yang membaca
PKI ?
Pembaca Kangen Indahnya anyaman kata
(maksa dot com hahahaha)
Eka Situmorang - Sir, terakhir menulis I B U
senang bisa melihat istri baru mu mas…tak jauh jauh dari istri lama, mudah-mudahan langgeng.
btw, aku suka tulisan yang liar-liar, jadi tertekanlah terus, biar aku bisa menikmati tulisan mu nan liar itu hehehehe
salam untuk istri baru mu ya…..
imoe, terakhir menulis …makhluk ajaib dalam gerbong…
First : Congratulation Mas
Welcome Home… *lohhh kok aku yg welcome sih!*
Semoga bisa jadi tempat nyaman untuk persinggahan bloger2 senusantara dan dunia…heheheh…bisa memberikan manfaat yang banyak kepada yang mampir. dan tentunya tetep eksis untuk menganyam kata demi kata…
Second : Akhirnya ndak jadi aku lelang ya mas …hehehehe..rugi bandar deh
———————————————————————————–
@Lala : Bener bgt kata Mas Dan tuh la…aku ndak ikut bantuin tp ikutan ngerecokin dengan ngarul ngidul..hehehehehe….Aku hanya memberikan saran…tetapi tidak membantu secara teknis
Ria, terakhir menulis My Best Friend Ever…
@ DM :
Nah, memberikan ide adalah usaha yang keras juga, tho? Lah, daripada aku, nggak punya ide sama sekali? Wong ganti theme aja dodol surodol! hihihi…
But I appreciate your explanation…
@ Ria :
He eh, Yaaaaa…. Sekalian di sini minta tolong, aplot-in themes baru dong… hihihihi..
Keep up the good work, Mbret!
Rindu tulisan-tulisanmu yang ribet tapi asyik itu…
PKI? Itukan singkatan dari… Penganyam Kata Inlander…. he he
hiatusnya cuma kuat 4 hari hehehehe..
oke lah bisa puasa gak posting (apalagi kalo mood jelek gara2 di emailin anehmas… ya males nulis)
tapi gak tahan atuuuh gak ninggalin komen…
posting pada kocak2 hehehehe
ternyata mas DM memantau blog ku juga ya… (mata mengerjab-ngerjab saking senangya hahahhahaha)
miss ya.. miss ya… senangnya sudah kembali
Eka Situmorang - Sir, terakhir menulis Eforia Tubuh
cuma mw coMeNt…
mas daN psTi penggemaRx mas pRam…;)
*soaLx hmpiR stiaP posTingaN ad kata2x mas pram..*
chie, terakhir menulis G PENTING…
wah, udah kehabisan dendeng balado aku.
nggak nyisa dikit pun nih kayaknya.
PKI. akhirnya diakui juga jargon ini, walaupun pada awalnya diketawain… ngaku!
tulisanmu ini mengingatkanku pada salah satu tulisan pak sawali belum lama ini di sini. beliau mengatakan bahwa banyak penulis besar justru melahirkan karya-karya akbar di tengah tekanan atmosfir represif yang justru merangsang semangat perlawanan lewat karya-karya yang lahir dari kepekaan imajinasi mereka.
aku setuju bahwa menulis itu menempati wilayah personal dan independen. namun setelah dipublikasi, seorang penulis tetap harus berhadapan dengan respon publik serta konsekuensi apa pun yang timbul dari tulisannya itu. kalau keberatan dengan resikonya, ya jangan dipublikasi. jadikan catatan pribadi saja.
mas melo, terakhir menulis Lovable Doctor
PKI = Penganyam Kata Ini,
anyaman katanya selalu dinanti,
kadang satir tanpa basa-basi,
kadang lucu bikin ketawa sendiri,
kadang sendu serasa ikut terbawa emosi,
kadang riang mengalun laksana sebuah melodi
walau kadang hanya hal sederhana tapi terasa memberi arti
bisa untuk bercermin dan introspeksi diri
Anyaman kata yang bernas berisi
terasa ditulis dengan segenap hati
akan selalu dinanti
(dan dikomentari)
tanti, terakhir menulis Jejak Langkah
Wew untung deh belum ketinggalan acara pembukaan dan makan-makannya..
Sambutannya panjang bener, aku sampek ngantuk-ngantuk..
Bersulang untuk DM * cheers *
Selamat Bung atas kembalinya Anda ke dunia per-blog-an.
Ikut bahagia, sebahagia-bahagianya….
Salam dari jauh, sehat selalu!
DV, terakhir menulis Apa Kau Pikir Aku Kangen Indonesia?
Niel…
Komentarku dobel…tolong dihapus satunya
Thanks
edratna, terakhir menulis Sahabat
btw tau gakkk kalo orang padang marah karena ada teman yang oon alias goblok, maka si semprot pake istilah PKI alias Pakak Ka Ikua…ngak ngerti kan..hehehehe
imoe, terakhir menulis …makhluk ajaib dalam gerbong…
Maaf nyampah.
Eh, Mas… FYI.
Ria yang nggak ngebolehin aku utak atik themes. Kata dia, biar nggak berantakan semua kalau aku pegang sendiri.. hihihihi…
@Lala
hahahahahaha….
*
inget terakhir lu utak atik themes la???
*bikin kerjaan dua kali dia mas
—————————————————————-
Mas Dan,
tapi pastinya nanti aku bakalan serahin semuanya ke dia..
Ria, terakhir menulis Ria vs Kerjaan
Beberapa kali membaca tulisan ini, semangatnya masih terasa sama. Sulit untuk dituliskan seperti apa. Yang jelas, tentu tulisan ini memotivasi, kalau tak boleh dibilang memprovokasi.. hehe..
Aku setuju kalau justru terkadang orang-orang terdekatlah yang menghambat gerak menulis kita dengan intervensinya. Wah, sering sekali aku mengalami. Menulis hal yang tidak serius (atau serius tetapi dengan bahasa yang tidak semua orang mungkin faham), sering dianggap sia-sia atau pekerjaan yang membuang waktu. Padahal menulis apapun bentuknya menurutku juga mencurahkan pikiran. Setuju, ini masalah gaya! (apa gaya-gayaan?:) ).
Alangkah menyenangkan memang saat orang-orang terdekat, entah suami atau istri bisa kita lepaskan dari ‘kekalutan’ saat kita menulis. Idealnya menurutku, bukan 100% mengacuhkan keberadaan mereka (dalam hal ini pasangan), tetapi tetap mendengarkan pendapat mereka sebagai 2nd opinion. Hihi.. emangnya mau dicuekin dengan pasangan sendiri? :p
Aku tetap masih meyakini hingga detik ini, aku selalu butuh menulis. Apa saja! kalaupun tidak untuk menyampaikan pesan-pesan, yahh setidaknya catarsist. Bisa berpetualang, mengajak khayalanku mengembara dengan liar. Bukankah pikiran, imaji, khayal itu seperti asap rokok? Siapa yang bisa menangkapnya?
Salam,
Hesra
hesra, terakhir menulis Drama 161 Menit
Arisan ! « EKA's little story on 06 Jun 2009 at 8:52 pm #
[…] yang nulis juga saya dengan ide orisinil bukan copas. Koq di komplen. Capek deh. Jadi inget kata mas DM bahwa kita ini hidup bertetangga bahkan di dunia maya […]
bahasanya paklik banget ya, hehehehe…
“merangkak di panggung sastra nasional”
:p
_sekedar berkunjung, terhenyak mendapati paklik dan istri barunya..
narpen, terakhir menulis Sushi boon
sama kang, aku juga tak akan berhenti menulis, hingga tangan ini sudah tak sanggup lagi menulis
reallylife, terakhir menulis Hari Lingkungan Hidup Sedunia
PKI? ah itu kan kami.. Pekerja Kucluk Indonesia…
creative theme day, terakhir menulis Tema CTD 1 Juli 2009 : Stop Obral Janji
waduhhh yang lagi jadi pengantin baru nich….
hhehehee…. selamat ya mas atas pernikahanmu dengan penganyamkata.net semoga langgeng yaa… ngga lagi bercerai….
Arisan ! » ceritaeka.com on 06 Oct 2009 at 10:26 am #
[…] yang nulis juga saya dengan ide orisinil bukan copas. Koq di komplen. Capek deh. Jadi inget kata mas DM bahwa kita ini hidup bertetangga bahkan di dunia maya […]