Jika kalian terhenyak atau sedikit mengerutkan dahi ketika membaca judul di atas, berarti kita sama. Ini membuktikan secara umum bahwa pikiran kita masih kental dengan brainwashing atas sesuatu yang terlanjur dikesankan secara langgeng.

Apa boleh buat, PKI memang identik dengan Partai Komunis Indonesia. Sebuah partai besar yang sejak Orde Baru berdiri dilarang keberadaannya. Sebuah partai besar yang (sudah barang tentu) memiliki fraksi di DPR pada zaman Orde Lama. Sebuah partai komunis paling besar di dunia. Namun menjadi sebuah faham yang amat dibendung penyebarannya oleh Amerika Serikat. Sebuah organisasi politik yang dijadikan bahaya menakutkan selama pemerintahan Orde Baru dan dijadikan momok untuk mengancam sertai mengintimidasi seseorang yang tak disukai pemerintah saat itu.

Apa boleh buat, frame semacam itu telah melekat di pikiran kita. Bahkan dengan apa yang kututurkan di paragraf kedua saja sudah menunjukkan betapa pikiran sehat ini telah tercerabut serta melulu bermuara pada hal-hal yang terlanjur dikesankan. Bagaikan pikiran anak kecil yang masih polos, namun bisa menjadi takut setengah mati hanya kerena mendapatkan gambaran yang salah bahwa kuburuan itu mengerikan atau tempat berkumpulnya para setan.

Mestikah kita terus seperti itu? Idealnya memang tidak. Padahal judul P.K.I. di atas tak ada korelasinya sama sekali dengan partai, apalagi komunis. P.K.I. di atas adalah kependekan dari Penulis Kesepian Independen. Penulis Kesepian Independen? Ya. Lalu mengapa kesepian? Mengapa independen? This is it! Inilah saatnya aku mulai kembali nge-blog secara aktif. Lantas hubungannya dengan P.K.I.? Baik. Begini.

Di dunia ini, pada era millennium sekarang ini, siapa yang tidak meniru siapa? Betapa pun banyak temuan baru, rasanya secara garis besar merupakan pengembangan dari yang sudah ada. Tak dipungkiri, memang makin maju, makin canggih, serta makin pintar. Namun secara rata-rata tetap merupakan sesuatu yang dikembangkan dari yang sudah ada sebelumnya.

Pramoedya Ananta Toer sendiri mengakui, pada awal-awal masa karir kepenulisannya, saat baru saja merangkak di panggung sastra nasional, ia sangat terpengaruh oleh gaya Idrus, seorang prosais Indonesia yang cemerlang. Pram juga berenang dalam gaya Maxim Gorky atau tulisan William Saroyan. Michael Jackson meniru secara terbuka James Brown, raja soul dunia yang begitu ia kagumi. Sulit memungkiri Koes Plus atas tembang-tembang The Beatles atau The Bee Gees. Sementara keroncong tidak dapat disebut secara murni tulen Indonesia. Bahkan Bahasa Indonesia sendiri merupakan campuran hasil comotan bahasa sana-sini bukan? Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa kita sodorkan. Ya. Memang tak mudah menentukan ketulenan. Tapi kalau kita bicara gaya, akan berbeda persoalannya.

Gaya adalah hasil dari pemanfaatan atas kekayaan pemikiran manusia dalam bersikap. Seorang Pramoedya tak lantas terjebak dalam pola Idrus, Gorky, atau Sayoran. Michael Jackson tidak lantas latah melulu meniru James Brown. Musik Koes Plus akhirnya memiliki karakter tersendiri. Dan ketika sejumlah unsur alat musik tradisional Nusantara digabungkan, pada akhirnya keroncong pun dianggap sebagai musik Indonesia. Begitu halnya dengan Bahasa Indonesia. Gaya! Gaya menentukan bagaimana pada akhirnya seseorang bersikap. Hanya dengan sekilas mendengar atau membaca, kita bisa tahu itu karya siapa. Begitu pun dengan menulis.

Mengapa mengangkat tajuk Penulis Kesepian Independen? Aku rasa, seorang penulis memang mesti independen. Ia tak boleh terkontaminasi dengan hal-hal yang justru akan memengaruhi proses kreatif berlangsung. Ia mesti bersih dari intervensi di luar dirinya yang dapat menyebabkan mandeknya kemandirian dalam menulis. Ia tak boleh terganggu atau merasa takut pada istri atau suaminya, misalnya, saat harus melukiskan perempuan cantik atau lelaki ganteng hanya karena khawatir dicemburui. Seorang penulis, aku rasa memang harus independen dari hal-hal semacam itu. Kabar baiknya: menulis itu mudah. Kabar buruknya: untuk betul-betul bisa menulis secara independen seseorang mesti berani merasa kesepian. Kesepian? Ya. Yang jadi soal adalah: tak semua orang berani merasa kesepian. Mengapa kesepian?

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis:

Seorang pengarang adalah seorang pekerja individual, seorang yang bekerja seorang diri, mengutamakan pikiran, perasaannya sendiri. Kebiasaan kerja ini menimbulkan watak individualis, banyak kali melupakan atau tidak menggubris lingkungannya dengan tata tertibnya sekali. Watak individualisnya menyebabkan ia tidak disukai oleh lingkungannya, apalagi oleh orang-orang yang mengutamakan tata tertib. Sebaliknya kemashurannya menyebabkan ia dikagumi. Ia hidup dalam dua extremitas di dalam masyarakatnya sendiri. (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, hal. 84).

Hingga Desember 2006, aku masih mengangap bahwa tulisanku akan deras mengalir secara gila-gilaan di saat merasa sendiri, tertekan, dan kesepian. Aku menginsafi itu bukanlah pola yang baik untuk menjaga produktivitas dalam proses kreatif. Tapi apa boleh buat, pengalaman hidup mengajarkan seseorang berlaku dan bersikap.

Di saat hati bahagia, tulisan malah cenderung sulit keluar dan mandek. Kerap kali ketika pulang dari kantor, dengan hati yang berbunga-bunga aku membayangkan hendak menghabiskan malam dengan merawi sebuah tulisan yang hebat. Hati lapang dan kondisi tubuh prima. Setelah makan, mandi, menyeduh teh manis, menyiapkan sebungkus rokok, dan memutar tembang Enya, aku pun siap berhadapan dengan laptop. Tapi apa lacur?

Aku bahkan tidak menorehkan satu kata pun di atas lembar halaman layar. Kenapa? Jawabannya hanya satu: kondisinya terlalu melenakan! Semua terasa prima. Apa yang bisa didapat dari hati yang bahagia, perut terisi, rokok cemepak, teh manis mengepul-ngepul, berhadapan dengan laptop berkecepatan 2 GB, akses internet unlimited, duduk di ruang kerja yang seluruh temboknya dikelilingi rak berisi ribuan buku hingga menyentuh langit-langit, diiringi tembang temaram pula (apalagi kalau ada istri. Waduh!). Apa yang bisa didapatkan dengan kondisi prima seperti itu? Jawabanku saat itu: tak ada! Paling banter aku menarik sebuah buku untuk lantas terlena membaca. Atau yang paling parah: main games.

Apa artinya? Yang ingin kukatakan adalah: kondisi mapan terkadang melenakan seseorang. Mapan di sini tentu mesti diartikan dalam pengertian yang luas. Mapan pemikiran, mapan hati, serta mapan kondisi. Segalanya tampak beres. Hati riang dan pikiran lapang. Justru kondisi seperti itu tidak berhasil membuatku produktif dalam menulis. Tidak ada pressure, tidak ada desakan untuk segera menulis. Sesuatu yang membuat penulis kerap kali dihinggapi writer block.

Tak jarang, pada kondisi tertekan, suasana hati yang tak karuan, atau merasa sunyi dan sendiri, ide menulisku justru liar. Tulisan pun deras keluar. Ada suatu perasaan yang harus kumuntahkan. Tak mesti berisi gerutuan atas apa yang kurasakan. Yang kupakai hanyalah semangatnya. Semangat untuk menulis. Yang kutulis bisa apa saja. Aku hanya menggunakan kekuatan dari suasana hati seperti itu. Dan biasanya itu berhasil.

Namun adakah kita (dalam hal ini aku) mesti terus bersedih-sedih, kesepian, serta nestapa untuk dapat menulis dengan produktif? Sungguh ironis kalau memang demikian. Karena menulis adalah juga tugas. Adalah cara manusia berbicara. Maka betapa mengibakannya jika menulis mesti menunggu suasana hati seperti itu. Bahaya.

Adalah blog yang pada akhirnya menjadi solusi atas soal-soal genit semacam itu. Dengan blog kita bisa menulis apa saja. Tentang apa saja. Juga suasana hati yang bagaimana saja. Orang mau peduli atau tidak peduli, blog adalah milik pemiliknya. Blog adalah juga rumah di mana kita bisa dengan bebas mengisi perabotan sesuai dengan selera kita.

Itu konsep dasarnya. Hanya saja, blog bukanlah sebuah ranch di tengah savana yang maha luas. Blog tetaplah sebuah rumah di komplek perumahan. Bahkan di gang sempit yang tembok-temboknya saling berhimpitan. Ada tetangga, ada pula orang lewat. Semau-maunya kita menulis di blog, bisa saja ada tetangga yang tak nyaman dengan tulisan kita. Seperti halnya hidup bermasyarakat, semua tetap ada aturan serta norma.

Maka, dengan menulis di blog, adakah kita berhasil mendapatkan independensi yang kita maksud? Jawabannya bisa iya bisa juga tidak. Ada banyak faktor yang membuat kita menjadi tidak independen dalam menulis. Dan biasanya itu tak hanya datang dari lingkungan luas. Tapi dari orang-orang terdekat kita juga. Orang-orang yang justru teramat sangat mencintai kita. Perasaan-perasaan tak enak atau merasa mendura justru menjadi penyebab rikuhnya kita dalam menulis. Maka sepakat atau tidak, aku ada kecenderungan untuk menyetujui pendapat Pramoedya yang kukutip di atas.

Apa boleh buat, menulis adalah dunia azas. Dunia alam pikiran. Sebuah ranah yang tak bisa dimasuki oleh siapa pun di luar diri kita. Manusia mana yang berhak mengadili pikiran kita jika tiba-tiba dalam pikiran kita terbersit untuk membayangkan pindah agama? Ingat, ini dunia pikiran. Tak seorang manusia pun bisa tahu kecuali diri kita sendiri dan Tuhan. Dunia pikiran memang liar. Ia bisa mencapai jangkauan derajat manapun sejauh masih terjangkau dalam otak manusia. Siapa yang berhak mengadili?

Namun begitu diejawantahkan dalam bentuk lisan maupun tulisan, praktis kita berhadapan dengan manusia lain secara sosial. Tulisan kita bisa dicaci maupun dipuji. Cara berpikir kita bisa ditentang maupun dielukan. Ketika pikiran sudah bermanifestasi dalam bentuknya yang kongkrit, sebuah ide sudah tidak lagi berenang dalam dunia konsep semata. Ia praktis bersinggungan dengan pembaca, pendengar, sebagai pihak reaksioner. Maka di manakah letak independensi?

Bagiku, independensi dalam hal menulis justru terjadi saat proses kreatif itu berlangsung. Kita mutlak membebaskan pikiran kita dari pengaruh apa pun. Adalah betul bahwa dalam diri kita bersemayam ideologi yang bermacam-macam ragamnya. Dan salah sebuah yang paling menonjol akan sangat memengaruhi cara berpikir kita. Namun aku cenderung berpikir untuk memperkecil intervensi pihak luar, dalam hal ini orang lain, saat hendak memuntahkan gagasan-gagasan.

Di sinilah perlunya dialektika. Bukankah semua yang ada dalam hidup ini nyaris berpasangan? Gelap-terang, siang-malam, sedih-gembira, pertemuan-perpisahan. Semua merupakan dialektika. Agar kita bisa memahami pendapat orang lain. Demikian pun orang lain bisa pula memahami pendapat kita. Maka menulis pun mutlak memiliki tempat sebagaimana kemandirian pikiran itu sendiri.

Tulisan ini kurawi sebagai pembuka awal dari blog baru bernama penganyamkata.net. Sebuah babak baru dalam aktivitas nge-blog-ku. Setelah melewati berbagai macam bentuk blog, mulai dari blogspot, multiply, friendster, wordpress.com, danielmahendra.com, kembali ke wordpress.com lagi, hingga akhirnya aku berketetapan hati untuk “menikahi” penganyamkata.net. Ada dua domain lagi yang sengaja kusimpan menggunaannya, yaitu penganyamkata.com dan danielmahendra.net.

Seperti kebanyakan mempelai, tentu saja aku berharap bahwa ini adalah “pasangan” terakhir. Bagaikan seorang perempuan yang kunikahi untuk seumur hidup lamanya. Tak perlu lagi bergenit-genit pada sesuatu yang tak menentu dan tak berkesudahan. Semoga “pernikahan” ini langgeng adanya. Begitulah aku memperlakukan blog penganyamkata.net

Kahaturan ribuan terima kasih pada pihak-pihak yang turut mewujudkan ini semua. Tak mungkin bisa kulupakan bahkan seumur hidup sekalipun. Karena blog adalah juga tempatku menulis, tempatku menyodorkan gagasan, serta mendapatkan masukan. Dan aku tak ingin berhenti menulis. Sampai mati kalau perlu.

Di sinilah segalanya berawal. Selamat datang. Selamat bertemu kembali.

Renaissance!

Bandung, 31 Mei 2009 | 20.20 wib