Nyaris setiap hari aku menyambangi blog Paulo Coelho. Sastrawan kaliber dunia yang akhir tahun kemarin baru saja merayakan 100 juta copy penjualan bukunya di seluruh dunia, dan Guinness Book of World Records mengganjarnya dengan penghargaan The Guinness Award For Most Traslated Living Author.

Paulo memang melegenda lewat The Alchemist. Buku yang menginspirasi banyak manusia di muka bumi ini. Buku itu telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa dan tercatat sebagai best-seller di 74 negara. Ya, suka tidak suka, Paulo Coelho memang salah seorang pengarang terbesar dunia abad ke-20 dan ke-21 yang masih hidup.

Ada hal menarik dengan apa yang ia tulis di blog-nya. Rupanya ia cukup rajin menulis di blog. Dari kegiatan sehari-hari, jadwal terbit bukunya, informasi peluncuran buku, hingga foto-foto mengenai bukunya yang dikirim pembacanya dari seluruh dunia.

Pada 1 Juni 2009 kemarin, ada hal cukup menggelitik yang berhasil membuatku tersenyum-senyum sendiri. Tulisan ini baru bisa ku-posting sekarang karena 1 Juni kemarin bertepatan dengan tanggal peluncuran ulang blog penganyamkata.net ini. Sehingga rasanya tak asyik kalau harus menerbitkan dua tulisan sekaligus bertepatan dengan waktu launching blog.

Di sana ia menulis seperti ini:

Sometimes we are afraid to say that we like some art… In my case, earlier on in my life, I loved ABBA - but it was politically incorrect to say that in public since it was considered a too sweet and low…

I also love writers such as Henry Miller and bestsellers such as Stephen King. It would probably be more politically correct to say that I love Baudelaire – which is not the case.

So, what are your secret, hidden artists that you like but believe others don’t?

Setelah membaca postingannya itu, ada beberapa komentar yang mampu membuatku ngakak. Kuambilkan beberapa contohnya saja di sini. Selebihnya bisa kalian baca sendiri di sana.

Neela:
Michael Jackson, Iron Maiden and Abdul basit, each in different situations.

.

Paula:
Yeah, I had this with Britney Spears…. I really like “Toxic” but never truly said to anyone

.

Liza:
Michael Jackson, Britney Spears and Pamela Anderson. I like and admire them a lot. In my circle of network, I won’t admit it publicly as these are eccentric people by nature and physical

.

Mirela Baron:
Yes,Paulo ,I like ABBA too,even in my area,when I´v saw the last MUSICAL with Maryl Strep,friends of me said IT WAS A KITCH!
What I surly don`t like,better to say I´m afraid of things or people that love to HIDDEN!

Setelah membaca postingannya itu aku jadi berpikir bahwa hal tersebut banyak benarnya juga. Aku tidak tahu bagamana dengan kalian, tapi terkadang kita memang memiliki seorang idola yang bahkan malu untuk menceritakannya pada orang lain.

Sejak SD aku menyukai Michael Jackson. Michael Jackson di tahun 80-an adalah hero. Maka menjadikannya sebagai idola adalah juga mengikuti trend musik. Nyaris apa pun yang berhubungan dengan MJ kudokumentasi. Kliping koran, kliping majalah, poster, kaset, CD, VCD, DVD, Video Beta, MP3, buku, bahkan sampai kumpulan download internet.

Tapi dunia berkembang. Manusia juga berubah. Sejalan dengan waktu, mengakui mengidolakan MJ adalah sebuah hal yang menggelikan bagi banyak orang. Paling tidak itu yang kurasakan. Seringkali aku ditertawakan atau merasa terintimidasi kalau ketahuan menyukai MJ. Padahal kesukaanku pada MJ sama sekali tidak mengganggui hak-hak individu orang lain.

Ada banyak argumen mengapa aku menyukai MJ. Dan semua itu berhubungan dengan relasi nilai antara diriku dengan MJ itu sendiri. Baik musiknya maupun kehidupan pribadinya. Yang kesemua itu dipandang dengan tatapan iba di mata banyak teman. Hingga akhirnya, dengan diam-diam aku menikmati MJ secara diam-diam pula.

Lisa Febriyanti, sahabat baikku, pernah bertanya padaku demi melihat list lagu yang kuputar di winamp selalu memunculkan nama MJ di status YM-ku. Katanya:

“Aku kadang masih berpikir, di mana menariknya Michael Jackson. Oke, lirik-lirik lagunya memang bagus. Ada banyak pesan moral. Tapi sampai mengidolakan seperti kamu?”
“Ada banyak relasi nilai, Lis, antara aku dengan MJ, yang belum tentu bisa disarakan oleh orang lain. Itu bukan soal logika. Itu soal rasa. Seperti halnya kamu dan ludruk.”
“Hahaha. Sialan. Tapi tau nggak, dulu waktu acara tujuh belasan, aku dan anak-anak karang taruna pernah membawakan dance Smooth Criminal di panggung.”

Maka meledaklah tawaku demi mengolok-oloknya. Smooth Criminal adalah salah sebuah tembang MJ yang memiliki konsep tarian tersendiri dan khas. Dan Lisa Febriyanti, yang masa mudanya banyak dihabiskan di jalanan sebagai aktivis itu, membawakannya di atas pangung tujuh belasan (Ya Tuhan, semoga Lisa tak membaca postinganku kali ini. Amin). Hihihi.

Nah, aku tidak tahu bagaimana dengan kalian. Tapi rasanya MJ bukanlah satu-satunya sosok yang kuidolakan. Sebagaimana aku mengagumi Benyamin S, secara diam-diam, yang di mataku begitu kocak dan brilian. Dan tahukah kalian, sejak Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari Pulau Buru pada Desember 1979 serta dibekali secarik kertas: tidak terlibat G30S/PKI (apa arti dibuang dan kerja paksa di Pulau Buru tanpa pengadilan selama 14 tahun kalau begitu?), seluruh karya Pram diberangus oleh Orde Baru.

Buku-buku Pram tak boleh terbit dan dilarang beredar oleh pemerintah saat itu. Membaca atau menyimpan karya Pram bisa dikategorikan sebagai tindakan subversif (betapa menggelikannya sistem saat itu ya?). Sementara di banyak negara buku-bukunya dijadikan bacaan wajib dari tingkat SD hingga universitas. Tapi Pram dianggap musuh Orde Baru. Pram adalah sastrawan yang menjadi paria di negerinya sendiri.

Nah, lucunya, pada saat buku Pram, Bumi Manusia (1980) akan terbit, Joesoef Isak (editor buku-buku Pram) menyerahkan naskah awal ke Adam Malik yang saat itu wakil presiden. Adam menyatakan novel Pram bagus. Joesoef juga mendapat kabar dari Adam Malik, Ibu Tien Soeharto terpukau oleh novel berlatar belakang Wonorkomo, Surabaya, itu. Bahkan Adam meminta buku itu menjadi bacaan wajib sekolah. Tapi, begitu buku itu beredar, Seoharto melarang karena dianggap berbahaya bagi Orde Baru. (Majalah Tempo Edisi 1-7 Desember 2008).

Ibu Tien Soeharto menyukai Bumi Manusia? Hihihi. Lucu juga ya.

So, sebagai penutup, aku ingin juga mengulang kalimat Paulo Coelho di atas: what are your secret, hidden artists that you like but believe others don’t?

Salam…

Bandung, 3 Juni 2009 | 18.28 wib