Hingga kini Ijul adalah kawan yang cukup asyik untuk diajak berbincang soal Law of Attraction. Ia bisa memetakan cara menetapkan tujuan, proses menyelami keinginan, fokus pada apa yang telah ditetapkan, dan meraihnya. Tapi yang terpenting dari itu semua, selain mempraktekkan, ia membuktikannya!

Ia pernah bercerita, dulu ketika ia ingin menjejakkan kaki di kota Paris, ia selalu menyelipkan selembar uang Franc di dalam dompetnya (Prancis kini sudah menggunakan Euro). Praktis ke mana pun ia pergi, ia membawa serta dompetnya itu. Dan ketika hendak memerlukan sesuatu dari dalam dompet, ia selalu bertatapan mata dengan si Franc itu.

Siapa nyana, pada akhirnya ia memang betul-betul menginjakkan kaki di kota Paris dan memanjat La Tour Eiffel. Tak aneh jika ia sudah keliling Indonesia. Dan kini ia selalu rajin mengirimiku cerita negara-negara Eropa mana saja yang telah ia injak tanahnya. Apa resepnya? tanyaku. “Law of attraction, Dear!” jawabnya pasti.

Almarhum bapak dulu pernah bertanya kepadaku: “Kamu kuliah bahasa Prancis, kapan bisa ke Prancis?” Ditanya seperti itu aku hanya nyengir. “Bapak nggak pernah belajar bahasa Prancis, tapi Bapak sudah naik Eiffel dan keliling Eropa. Kamu kapan?” Sampai sekarang, kalau ingat pertanyaan bapak, aku masih saja nyengir.

Ijul temanku itu memang doyan bertualang. Setelah lulus dari Kedokteran Unpad, ia memilih bekerja di lembaga-lembaga internasional, Unicef misalnya, menjadi tenaga medis di daerah-daerah konflik. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di pedalaman Pulau Buru, Aceh, atau Papua. Ikut Ekspedisi Majapahit, atau keliling dunia.

Sepulang dari Papua, ia sudah bersiap untuk menggendong ransel, berangkat ke London. Melanjutkan S2. Sepulang sekolah, ia kembali ke Bandung.
“Apa rencanamu kini?” tanyaku.
“Bisa bantu kasih masukan?”
Traveling lagi?”
“Hehe. Mana yang lebih menarik: bekerja di lembaga internasional lagi tapi di Jakarta, atau berangkat ke Uganda?”
God! Kapan kamu nikahnya, Dodol?”
“Emang harus?” tanyanya ngakak.
“Sableng!”

Ijul memang seumur denganku. Lahir di tahun yang sama dengan hanya dibedakan selisih hari yang berbeda. Sifat kami hampir sama. Kegemaran kami pun tak jauh berbeda. Ia adik temanku yang kini dengan kakaknya pun aku malah jarang berkontak. Yang paling membedakan dari kami: ia seorang perempuan pemberani yang selalu mampu membuatku iri!

Beberapa saat lalu aku diberi oleh-oleh sepucuk buku dari perjalanannya sepulang dari Eropa. The Wrong Way Home –London To Sydney The Hard Way, karya Peter Moore, seorang travel writer. Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang traveler dari London, Prague, Budapest, Croatia, Bosnia, Albania, Sofia, Istanbul, Esfahan, Bam, Pakistan, Afganistan, Northern India, Kathmandu, Lhasa, Chengdu, Dali, Laos, Kho Phangan, Malaysia, Singapore, Indonesia, Dili, Kakadu, Uluru, dan Sydney.

Aku memang belum membaca utuh bukunya. Karena memang bukan bukunya yang hendak kubahas di sini. Namun ada hal menarik di dalam buku itu. Di sana Ijul menyelipkan sepucuk kartu pos dan pembatas buku di mana tergantung sekeping uang Euro.

Sepucuk kartu pos bergambar wajah Vincent Van Gogh itu ia tulisi sekalimat milik Ibn Battuta: Traveling, all you have to do is take the first step. Satu kalimat yang seolah hendak memprovokasi aku, kalau bukan untuk menyindirku. Sial, batinku tertawa waktu kali pertama membaca itu.

Dan di pembatas buku bergambar Leo Tolstoy terbitan Royal Academy of Arts From Russia itu ia gantungkan sekeping koin sebesar 1 Euro bertahtakan lambang The Vitruvian Man. Lagi-lagi ini sebuah usaha dalam rangka penyindiran terhadap diriku yang tak juga mulai bergerak menggendong ransel.

Kukontak Ijul untuk mengucapkan terima kasih atas oleh-olehnya. Seperti dugaanku, maka ia pun bertanya: “Jadi kapan mulai keliling dunia?” Umpatan seribu dodol sudah kusemburkan saat itu juga sembari tertawa-tawa.

Cara Ijul sederhana. Bisa jadi dipakai pula oleh banyak orang di luar sana. Ia hanya menyelipkan mata uang negara yang menjadi impiannya. Ia mencoba membangun Law of Attraction dari hal-hal kecil, tak rumit, tapi memberi stimulus yang luar biasa. Tentu saja semua tetap ditopang dengan segala persiapan serta kematangan sebagai bentuk pengejawantahan. Tapi lebih dari itu adalah: kekuatan pikiran untuk mewujudkan suatu impian.

Bagaimana dengan kalian? Punya suatu cara untuk merangsang impian agar bisa terwujud?

Sampai bertemu di Tibet, Kawan!

Bandung, 8 Juni 2009 | 12.38 wib