Selepas Bapakku Hilang
Apa yang kau rasakan jika bapakmu, jika suamimu, jika kekasihmu, jika anakmu, hilang tak ada kabarnya… Siapa yang mesti disalahkan? Siapa yang mesti bertanggung jawab? Siapa yang mesti mencari yang bertanggung jawab?

Dalam beberapa hari terakhir, paragraf itu terus terngiang-ngiang dalam alam pikiranku. Sudah sejak kali pertama didirikan, Orde Baru memang kejam. Apa artinya pencapaian ekonomi jika dibangun di atas darah pembantaian bangsanya sendiri? Apa artinya kemapanan jika berangkat dari tangan-tangan yang korup, yang mulutnya belepotan dengan kue nasional? Bagaikan pohon dengan batang tubuh yang tak kokoh. Isinya mudah digepak oleh angin.
Sejarah selalu mencatat, pemerintah yang korup hampir tidak mengizinkan suara yang tidak selaras dengan penguasa. Tak ada tempat bagi oposisi. Tak boleh ada beda pendapat. Semua mesti diukur berdasarkan selera penguasa. Jika tidak, yang terjadi adalah dibungkam, diculik, atau dibunuh dengan alasan subversif. Itulah yang terjadi pada sosok-sosok aktivis, pejuang HAM, penyair, dan orang-orang yang menyuarakan ketidak adilan.
Ketika menghadiri launching buku kumpulan puisi Selepas Bapakku Hilang karya Fitri Nganthi Wani, putri penyair Wiji Thukul, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 16 Juni 2009 lalu, pengunjung seperti diingatkan kembali bahwa ada yang belum selesai dengan republik ini. Sementara di luar sana orang sedang menabur janji-janji baru tentang kesejahteraan.
Gedung pertunjukan luber. Semua kursi padat terisi. Suasana mirip sebuah reuni ketika para keluarga korban orang hilang, mantan aktivis mahasiswa, serta pejuang HAM bertemu, bersalaman, dan berpelukan. Mereka dipersatukan oleh satu rasa: korban kesewenang-wenangan kekuasaan yang korup. Tiba-tiba aku jadi teringat pada sebuah nama yang akhir-akhir ini sedang sering muncul baik di cetak maupun di elektornik. Dan dalam hati berkata: betapa hebatnya dia. Bisa membuat begitu banyak manusia Indonesia menyatu dalam jalinan rasa yang sama: korban!
Sipon, perempuan bertubuh bulat itu begitu energik ketika membacakan sajak tentang diri dan keluarganya pasca hilangnya Wiji Tukhul, suami tercinta yang dilenyapkan penguasa karena sajak-sajaknya yang berani. Namun mataku betul-betul sebak berkaca-kaca ketika Fitri Nganthi Wani, gadis muda putri Sipon itu membacakan sajak Rindu Adik Pada Ayah.
Adikku sayang,
Inilah nasib kita
Janganlah putus asa
.
Apa yang kau inginkan dari anak lain?
Mereka bisa sekolah
Kau pun juga bisa
Mereka bisa mainkan drum dan gitar
Kau pun juga bisa
.
Apapun yang kau inginkan dari mereka
Kaupun bisa miliki semuanya
Namun jangan kau tanya
Mengapa kita tak punya ayah
Karena ibu pernah berkata
Ayah kita bukan hanya ayah kita
Ia kini milik banyak orang
Karena ia putuskan menjadi pejuang
Diiringi petikan gitar Fajar Merah, adik lelakinya, Wani bergumam, mengalun, menangis, menyentak, dan meledak di atas panggung. Tiba-tiba leherku meremang. Seperti ada yang bergetar di dalam dadaku. Kalau tidak ingat (dan malu) bahwa di kiriku ada Lisa Febriyanti dan di kananku ada Raharja Waluya Jati, mungkin pipiku sudah digerimisi air mata. Berlebih-lebihan? Entah lah. Tapi itulah yang kurasakan.

Namun siapa yang tak tercuri hatinya jika menyaksikan keluarga orang-orang yang diambili nyawanya begitu saja hanya karena tak sesuai dengan selera penguasa. Orde Baru nyatanya jauh lebih kejam ketimbang pemerintah Hindia Belanda dalam soal ambil-mengambil serta melenyapkan nyawa.
Sajak-sajak Fitri Nganthi Wani (cukup unik juga kedua orangtuanya memberi nama putrinya itu, yang kira-kira bisa diartikan: kesucian yang menggandeng keberanian), terasa manis, gesit, keras, menggugat, juga menghujam hingga ke palung perasaan. Namun dari kesemuanya terasa sekali perasan amarah seorang gadis yang telah ditinggal oleh bapaknya sejak usia belia. Doa apa yang pantas ia ucapkan untuk bapaknya? Doa kematian kah? Atau doa cepat kembali? Sementara tak seorang pun tahu di mana dan bagaimana riwayat Wiji Thukul, ayahnya. Mati kah? Masih hidup kah?
Jarang sekali ada buku kumpulan puisi yang kubaca semua sampai habis. Bisa kuhitung dengan jari. Sementara sisanya, paling kugemari beberapa sajaknya saja. Tapi Fitri Nganthi Wani? Berapa banyak orang mengenal nama itu? Sementara sajak-sajaknya begitu memikat, tegas, menggugat, dengan diksi yang sederhana, realis, namun sekaligus liat. Dan aku menjadi kerasan membacai seluruh sajak-sajaknya yang terbit dalam dua bahasa tersebut.
Peluncuran buku malam itu nyatanya cukup spektakuler. Menghadirkan Oppie Andaresta, Doddy Katamsi , PM Toh, Sitok Srengenge, serta Iwan Fals yang menggubah sajak Wani, Pulanglah, Pak!! menjadi sebuah tembang yang cukup menyayat.

Aku masih juga terbata-bata, bagaimana bisa gadis yang lahir pada 6 Mei 1989 itu mampu merawi kalimat-kalimat sederhana namun dengan liat memikat seperti yang terpantul dalam sajak-sajaknya. Terasa sekali hati bapaknya ada di jemarinya. Lebih dari itu: ia ditempa keadaaan. Ia seolah bertanya: mengapa ia hidup di sebuah negara di mana kekuasaan mesti mengambil ayahnya dari ibu dan adiknya hanya karena sang ayah seorang penyair.
Fitri Nganthi Wani. Tiga kata itu bisa menjadi besar di kemudian hari. Bukan karena ia anak seorang Wiji Tukhul. Melainkan: karena ia memang pemberani. Dan malam pun ditutup dengan pembacaan doa yang dibacakan oleh Sultan Alif Allende, anak almarhum Munir, seorang pejuang HAM yang tak pernah mengenal lelah hingga jus jeruk merenggut nyawanya.
Maka aku tutup tulisan ini dengan bagian akhir dari sajak Kisah Klasik Bangsa Kita:
Dan bila hak asasi masih dianggap racun mematikan
Serta kisah klasik ini masih terus saja dijalankan
Maka, tunjukkan senjata kita:
“Perlawanan!!!”

Kau tak sendirian, Wani!
Bandung, 19 Juni 2009 | 20.02 wib
Foto oleh Lisa Febriyanti
Diambil secara semena-mena dari blog-nya.


Klakep.
Muzda, terakhir menulis Guilty Pleasure
Aku tidak bisa membayangkan jika bapakku hilang.
Meskipun aku pernah selama 4 bulan merasakan kehilangan seorang adik
yang tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi, tak ada kabar berita. Masih mending jika kami tahu dia mati atau dipenjara daripada tidak tahu apa-apa.
Empat bulan penuh kesengsaraan. Dan aku tidak mau mengalaminya untuk ke dua kali, ke tiga kali, ke sekian kali…..
Tidak ada kata yang pantas aku ucapkan untuk Wani…
Salut? Hebat? …..
Tabah? Tegar? ….
Gambatte?…..
Mungkin aku akan memilih untuk diam sambil mendoakan supaya dia diberi kekuatan menjalani semuanya.
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Ramah Tamah
Hmm….terasa sekali penggambaran mas Niel disini sangat hidup……
Cara bertutur….
Foto-foto itu….
puisi itu……
Hmm…bisa membayangkan mas Niel saat berada di sana…
sampai bikin mas Niel terharu dan emm…apa itu yang menitik gak sampe di pipi? hihi
De emang gak pernah merasakan kehilangan itu, dan juga gak ingin pernah….
tapi bisa membayangkan sedihnya kehilangan orang yang kita cintai
gusarnya saat tak bisa menemukan dimana, dan marahnya padanya yang membuatnya hilang….
tak akan menjadi bangsa yang besar bangsa ini jika selalu dikotori oleh tangan-tangan kesewenangan. Semoga ke depan Hak Asasi Manusia semakin dijunjung, dan tak ada nyawa lagi yang melayang untuk sesuatu yang tak perlu……
Prameswari, terakhir menulis Catatan di penghujung : "Yang Tercabik"
Jadi sedih…
Sejak kecil aku sudah kehilangan bahkan sebelum aku mengerti akan arti kehilangan, apalagi dengan cara yang seperti itu.
Fitri Nganthi Wani tidak sendirian, masih banyak Fitri Fitri laen yang bernasib sama karena kekejaman rezim orba
jadi sedih
Ohh ini yang kau ceritakan saat itu, sedang ada di TIM?
Justru karena pengalaman itu,marilah kita berpikir dengan jernih dalam memilih calon pemimpin kita, apalagi sekarang bisa memilih secara langsung namanya. Siapa yang kita percaya akan menjunjung tinggi penegakan hukum dalam pemberantasan korupsi, komitmen menjunjung tinggi hak azasi manusia.
Pertimbangkan juga rapornya…. ini yang sering kita lupakan
edratna, terakhir menulis Keong Emas
Welcome Back Radesya
Kami disini merasakan kehilangan dirimu
Jamal eL Ahdi, terakhir menulis Kampanye
Yah… yang aku harapkan bahwa wani besar karena wani adalah pemberani,pejuang. bukan karena ada wiji thukul diatas kepalanya.
Menundukkan hati berdoa untuk mereka, para pejuang. negarawan sejati. bukan para badut yang mengaku negarawan, berpura2 menjadi malaikat penabur kesejahteraan, padahal sebenarnya adalah malaikat pencabut nyawa.
Jamal eL Ahdi, terakhir menulis Kampanye
Om Jamal apa kabar? lama nggak jumpa ya Om……
cikokol masih damai kan? tempatku selalu damai hihihi……
senang sekali bisa sapa Om jamal lagi…
tak terbayangkan olehku rasa kehilangan semacam itu, karena kau tak kan dapat membayangkannya sebuah tragedi sebelum mengalaminya sendiri. seperti membayangkan dirimu berada di tengah perang. takut? horor? sedih? kuatir? tragis? marah? bingung? penuh curiga? apa? tidak adil jika kubilang aku bisa bayangkan rasanya, karena aku memang tak bisa.
salah seorang pamanku hilang dalam perjalanan pulang dari rumah seorang kerabat, hanya dari jakarta selatan ke jakarta pusat jaraknya. kakekku menangis, tertunggu-tunggu anak lelakinya bertahun-tahun, tiada kepastian hidup atau mati, sehat atau sakit. hingga ketika akhirnya kakekku buta, kata kerabatku dikarenakan sedih yang tak tertanggung beliau begitu lamanya. kakekku adalah penerjemah buku-buku bahasa indonesia-inggris-arab. entah apa korelasinya pada masa itu, tapi begitulah. saat itu aku bahkan belum lahir.
dan aku tetap tak dapat membayangkan rasanya.
marsh, terakhir menulis Tahu, Tempe, Pengamat Sepak Bola
udah baca, komennya nyusul ya….
yessy muchtar, terakhir menulis Capres? Kalian punya penasihat fashion gak siy?!?!?
Aku pernah merasakannya mas…walau beliau di depan mata tapi rasanya menghilang ditelan hidup…dan jangan tanya rasanya…karena gak enak bgt!
*mengheningkan cipta untuk orang2 yg telah jadi korban demi tumbal yg tidak layak untuk pembangunan negeri ini*
Ria, terakhir menulis Aku, Kamu, Kami, Kita dan Mereka
sekarang tidak sedikit yang terlena dan lupa bahkan mungkin sama sekali tidak tahu, bahwa masih ada wani dan lainnya yang mempunyai hak atas ayahnya yang hilang.
dan janji-janji dunia bertebaran dimana-mana …
mascayo, terakhir menulis Untuk apa anda memakai helm?
(Tanpa Judul)
kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajar anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini
ini tak diajarkan di sekolahan
tapi rejim sekarang ini memperkenalkan
kepada semua kita
setiap hari dimana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan
kekejaman kalian
adalah bukti pelajaran
yang tidak pernah ditulis
indonesia, 11 Agustus 96
Wiji Thukul
—-
numpang nulis yang di atas, Mas..
hesra, terakhir menulis "lantas, Bapak?"
“kesucian yang menggandeng keberanian”
makna yang dalam ! (sepertinya Fitri Nganthi Wani sedang tumbuh menjadi sosok yang diharapkan orang tuanya, seperti arti namanya)
Ini bisa jadi spirit untuk semua orang yang membacanya :
berani untuk berjuang, tidak sekedar semangat, bukan karena dendam,
tapi menegakkan kebenaran yang suci.
tanti, terakhir menulis Dari Mata Turun ke Perut
bapakku ? hilang ?
lho…memangnya bapak pernah bertandang ?
goenoeng, terakhir menulis debat (,siapa jadi) kusir
…….
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
……
WIJI THUKUL
jadi buku itu bisa didaparkan di toko mana saja wahai penganyam kata?
koelit ketjil, terakhir menulis PAIDI MENUNGGU PAK POS
Aku baca di status FB mas soal ini, apakah ini undangan terbatas?
Jika bukan, pengen bgt ikutan. Mungkin lain kali (mbok saya diajak mas)
btw untuk Fitri, kata2nya memang sederhana,
namun mengena.
Mau kucari itu bukunya.
Pasti ku baca.
Habis.
nanti kita diskusi mas?
Eka Situmorang – Sir, terakhir menulis Pelepas Stress dalam perjalanan Pulang (2)
Kala mulut dibungkam
Kata-kata masih bisa terucap
Kala mulut dibungkam
Kalimat demi kalimat mengalir deras
Karena disini kemerdekaan berada
Saluute buat fitri…!
ini imajinasi , ilusi opo memang sampean di sana hi hi hi jangan jangan hanya menggambarkan hahahaha ( sori boss)
bapak ku elah sebelas tahun silam menghilang mas
genthokelir, terakhir menulis Zona Sepeda
Kehilangan adalah sesuatu yang menyesakkan.
Bukan hanya keluarga yang berhak merasa kehilangan Wiji Thukul tapi seharusnya seluruh bangsa ini sejak sebelas tahun lampau.
Tapi sayangnya memang dalam kerangka pemikiran yang besar (makro), sebilah atau dua bilah nyawa tak perlulah dianggap sebagai sebuah kehilangan besar, melainkan tumbal barangkali.
Tulisan yang menarik, Sobat!
saya membaca tulisan anda saya sudah leher meremang, ndak kebayang kalau ada di acara itu.
ada liriknya Letto yang saya suka, berhubungan dengan kehilangan, “rasa kehilangan, hanya akan ada… bila kau pernah, merasa memilikinya.”
kalau nggak salah begitu.
tapi di dunia ini, anak mana sih yang tidak merasa memiliki atau menjadi bagian dari bapaknya?
semoga yang terbaik untuk yang hilang dan yang merasa kehilangan.
dian, terakhir menulis garuda di dadaku
a good book, i guess. mau beliin ndak? hehe… just kidding mas
salam kenal yo!
uke poet, terakhir menulis Ikut grup mana Bu?
di tengok dari photo2nya… pasti seru tuu acaranya…
hmmm tp sudahkah terpikirkan, gmn fasilitas buat para penonton di sana?
sesuai standar atawa….?!??!?!?
salam kenal buat mas nya
genialbutuhsomay, terakhir menulis Get Connected with Line Art
wuihhhh mantap bener….fotonya sangat mewakili cerita…
imoe, terakhir menulis …luka dagu dan cici paramida…
aku ikut merasakan meremang dan merinding membaca ceritamu mas. mereka para pelanggar ham itu sekarang mau menjadi pemimpin. sungguh mengerikan.
maka tepat ketika wimar witoelar menjawab pertanyaan seorang wartawan apakah dia adalah tim suksesnya salah satu pasangan capres???”bukan!!!” kata wimar. saya cuma tim gagalnya “pasangan ini” dan “pasangan itu” yang pernah terlibat pelanggaran ham….
ya, siapa yang tidak ngeri dipimpin psikopat yang haus darah, betapapun ekonomi akan menjadi baik… padahal belum tentu juga….
maka dari itu sampean tak tanya -sambil bisik-bisik-….”lanjutkan ta mas???!” …. bhuahahahahaha kok malah kampanye
kehilangan yang tak tentu rimbanya hanya membuat hati terluka oleh sembilu keadaan…dan hanya ketabahan yang luar biasa seperti yang dimiliki oleh fitri yang mampu memikul semuanya.
hatmi, terakhir menulis CINTA ITU LUKA
Selepas “Bapakku” pergi
Setelah pergimu
Ku tenggelam dalam kesunyian
Yang besar terluka karenamu
Beriku pelajaran arti bijak
Bahwasanya kau bukan jalan
Yang harus ku lalui
Waaaa…… jadi inget sama “bapakku”….hiks,,hiks,,hiks,,
@goenoeng: Pernah bertandang mas goen……jaman dahulu kala