Voorrijder 2
Berapa harga menggunakan voorrijder? Tenyata murah saja. Dengan 1 juta perak Anda bisa mendapatkan pengawalan berupa kendaraan polisi sebagai pembuka jalan. Itu untuk satu kali jalan. Kalau bolak-balik, bisa sampai 1,5 juta perak.
Mengenai tarif memang tergantung jenis pengawalan. Bisa dua motor plus satu mobil, atau cukup dua motor saja. Teknisnya pun tidak terlalu sulit, cukup angkat telpon atau bisa datang langsung ke kantor polisi.
Lantas siapa saja yang berhak menggunakan voorrijder? Dalam prakteknya, bisa siapa saja, asal Anda punya duit. Meski Kepala Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Bogor, Jawa Barat, Ajun Komisaris D.H., membantah kalau polisi bisa menyewakan voorrijder untuk kepentingan pribadi (Majalah Tempo, Edisi 21-27 Mei 2007).
Maraknya penggunaan voorrijder untuk kepentingan pribadi (baca: tak jelas) memang sempat membuat Presiden memerintahkan Departemen Perhubungan menertibkan voorrijder untuk kepentingan tak jelas. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, pengawalan voorrijder memang tidak bisa dilakukan sembarangan.
Voorrijder hanya untuk kendaraan kepala negara, tamu negara, pemadam kebakaran, ambulans, kendaraan pertolongan pada kecelakaan, pengantar jenazah, konvoi pawai, kendaraan orang cacat, dan pengangkut barang khusus.
Lima paragraf di atas pernah aku tulis pada bulan Juni 2007 dengan judul Voorrijder. Tiba-tiba berbetik untuk menuliskannya kembali dalam sudut pandang yang berbeda. Karena beberapa hari lalu aku kembali mengalami hal yang nyaris serupa.
Di sebuah jalan tol, tiba-tiba dari samping kiri muncul motor polisi militer dengan gerak zig zag berkecepatan tinggi di samping mobil yang kunaiki. Di belakangnya menyusul sebuah sedan panjang berbadan besar berwarna hitam. Plat mobilnya jelas RI (Tak perlu kusebutkan RI berapa. Tak etis). Dengan sirene meraung-raung seolah hendak memberitahu: kendaraan lain agar minggir dan melambatkan laju kendaraan.
Terjadilah dialog secara spontan antara aku dengan seseorang di sampingku:
“Kenapa sih mesti atraktif seperti itu? Padahal lewat ya lewat aja. Orang juga akan paham kalau yang sedang lewat pejabat negara.” celetukku sebal.
“Ya karena dia pejabat negara. Ya mesti kayak gitu.”
“Ha? Mesti kayak gitu? Kenapa? Apakah setiap perjalanan seorang pejabat negara sifatnya urgent?”
“Urgent tidak urgent, itu sudah aturannya. Itu fasilitas yang didapatkan bagi pejabat. Orang ya mesti maklum.”
“Aku nggak setuju. Kenapa masyarakat yang harus maklum? Aku rasa bisa kok lewat tanpa harus atraktif seperti itu.”
“Nggak bisa. Itu fasilitas. Kalau mau fasilitas seperti itu, ya harus jadi pejabat negara. Kalau bukan pejabat negara, ya masyarakat mesti maklum.”
“Sama sekali nggak setuju! Siapa yang bikin aturan itu? Negara? Protokoler? Manusia juga kan? Itu artinya bisa diubah.”
“Nggak mungkin. Hampir semua negera seperti itu.”
“Presiden Iran aja bisa kok mengubah pakem protokoler di Teheran saat ia pertama kali jadi presiden.”
“Itu hanya contoh kasus kecil. Nggak banyak yang bisa seperti itu.”
“Artinya tetap bisa. Indonesia kan bukan negara fasis. Aturan itu bisa diubah kalau mau.”
“Itu sudah layaknya seperti itu. Sama halnya kalau kita ingin mendapatkan hasil dalam karir atau pendidikan, misalnya. Kalau kita bisa mencapai tingkat tertentu, kita layak mendapatkan fasilitas yang memang sudah hak kita.”
“No! Konteksnya beda. Yang sedang kubicarakan adalah pengawalan pejabat di jalan. Aturan seperti itu bisa diubah. Tak perlu pakai sirene yang meraung-raung atau secara atraktif menyuruh pengguna jalan lain minggir. Rakyat juga kan bayar pajak.”
“Nggak, konteksnya sama.”
“Huh! Masa’ aku mesti jadi presiden dulu untuk mengubah aturan protokoler negara seperti itu. Aku yakin aturan seperti itu bisa diubah. Ini soal kebiasaan kok.”
“Justru karena kebiasaan, makanya sudah selayaknya aturannya seperti itu. Namanya juga pejabat.”
“Itu cara berpikir lama. Terjadi salah kaprah secara kolektif yang sifatnya permanen bahwa rakyat harus melayani pejabat. Bukan sebaliknya.”
“Di mana salahnya?”
“Ouw?” aku mengernyit.
“Enak lagi dikawal seperti itu. Kamu nggak pernah sih ngerasain kayak gitu.”
Dialog itu terhenti. Karena kami tidak menemukan titik temu. Aku tetap dengan pendirianku bahwa hal seperti itu terlalu berlebih-lebihan. Sementara dia pun tetap dengan pendiriannya bahwa hal seperti itu sudah selayaknya wajar. Sampai beberapa saat hal itu masih mengganggu pikiranku.
Maka kuutarakan hal tersebut pada kawanku yang lain. Kuceritakan tentang dialog di atas secara lengkap dengan sebelumnya meminta pendapatnya tentang voorrijder. Maka terjadilah dialog sebagai berikut:
“Niel, kamu mesti tau berbicara dengan siapa dan orang yang bagaimana. Kamu tidak bisa memaksakan cara berpikirmu pada setiap orang. Kalau kamu bicara sama aku, tentu aku mengamini. Karena cara berpikirku sama dengan cara berpikirmu. Aku tau betul cara berpikirmu.”
“Cara berpikirku? Kenapa dengan cara berpikirku? Yang kubicarakan kan hal yang sederhana aja.”
“Oke. Aku nggak tau apa afiliasimu, Niel. Tapi paling tidak aku tau, cara pandangmu itu sangat proletar. Atau sebutan apa yang lebih tepat untuk kugunakan? Sosialis?”
“Aku nggak peduli dengan hal-hal seperti itu.”
“Oke. Tapi itu membentuk cara pandangmu pada sesuatu. Dari dialog tadi sangat jelas, kamu sangat mementingkan pengguna jalan lain. Masyarakat kebanyakan. Berbeda dengan teman yang kamu ceritakan itu.”
“Itu dia. Orang yang berpikir nyaman mendapatkan pengawalan seperti itu adalah orang yang tidak memikirkan kenyamanan orang lain. Memangnya jalan punya bapaknya apa!”
“Nah kan, bener kan, cara pandangmu itu sudah kutangkap, Niel. Itu artinya kamu nggak bisa menyodorkan cara berpikirmu pada orang yang cara berpikirnya berbeda sama sekali denganmu.”
“Hmmm…”
“Apa yang kamu ceritakan mungkin hal sepele, Niel. Tapi mungkin tidak bagimu. Tapi jangan salah, akan tetap ada yang menganggap cara berpikirmu itu aneh. Hal seperti itu saja dipersoalkan.”
“Lho? Terus aku diam saja?”
“Niel… Niel… Aku ngerti. Tapi apa kamu merasa terganggu kalau ada seseorang di sekitarmu memiliki cara pandang seperti itu?”
“Jelas!”
“Kenapa?”
“Lha, untuk hal seperti itu saja begitu cara pandangnya, bagaimana dengan hal lain yang lebih esensi…”
Dari obrolan itu aku jadi termenung sendiri dan mulai bisa menginsafi: kata-kata temanku yang kedua itu rasanya ada benarnya juga. Aku tidak bisa dengan semena-mena menyodorkan cara pandangku pada orang lain, betapa pun aku percaya: bahwa yang kupersoalakan adalah kepentingan orang banyak. Tapi siapa mau peduli.
Oke-oke. Lupakan soal obrolan di atas. Sekarang, bagaimana pendapat kalian tentang pembuka atau pengawalan pejabat negara di jalan raya? Barangkali punya pengalaman untuk dibagi.
Tabik.
Bandung, 2 Juli 2009 | 21.55 wib




aku gak perlu voorijder, goniel, sebab aku udah punya pengawal pribadi.
huehehee…
emang ngeselin sih protokoler semacam itu, seolah-olah pejabat atau siapa pun yang menggunakan jasa voorijder tidak pantas terdedah dengan semrawutnya lalu lintas. tapi dari segi keamanan bisa jadi memang diperlukan bagi para pejabat atau orang-orang penting. sirine mengaung-ngaung diperlukan buat membuka jalan. abis kalau nggak gitu, siapa yang ngeh ada yang mau lewat?
itu dulu deh komentarku, sebelum absen ngeblog beberapa hari ke depan.
mau dioleh-olehin apa, goniel?
marsh, terakhir menulis Nurdin Mandi Padi
Hihihi…..ya…… beda pendapat kan boleh-boleh aja mas Niel………..
lain lubuk lain ilalang, lain orang lain pahamnya
Cara pandang bisa berbeda melihat sudut kepentingan
Voorrijder…inget lagi deh namanya….
Pengawalan bagi pejabat negara dikaitkan dengan tugas negara yang diembannya.
artinya semakin cepat pula dia bisa melayani masyarakatnya… dalam konteks dia tidak mempergunakannya untuk kepentingan pribadi
Lagian mereka juga lewat jalan negara.
oh ya….ada satu lagi keuntungannya : masyarakat jadi bisa lebih mengenal pejabat negaranya lebih dekat (kecuali mas Niel gak mau noleh karena kesel) hihihi
belum pernah dikawal mas Niel? enak banget….
Prameswari, terakhir menulis Catatan di penghujung : "Yang Tercabik"
Outsourcing….
beberapa saat lalu juga bersilang pendapat soal ini…
kalo dilihat dari kepentingan bisnis : outsourcing itu bisa menggerakkan roda perekonomian lebih cepat. Karena outsourcing bisa disesuaikan dengan lamanya proyek/pekerjaan yang dibutuhkan. Jadi kalo kerjaannya butuh waktu 3 bulan, outsourcingnya gak perlu sampai setahun. Artinya biayanya jadi ringan untuk proyek itu, tidak ada dana yang mubazir, sehingga proyek cepat selesai dan lanjut proyek selanjutnya.
Kalo dilihat dari segi buruh : ya jelas itu merugikan. 3 bulan dipekerjakan, dan akhirnya mereka harus nyari lagi kerjaan lagi setelahnya, hmm siapapun tak ingin jadi habis manis sepah dibuang kan….
Nah tinggal kita berkacanya dari sudut pandang yang mana
Yang berbeda itu unik dan bisa memperkaya lo mas Niel….
Prameswari, terakhir menulis Catatan di penghujung : "Yang Tercabik"
Sekarang saya mau lihat dari sudut yang dikawal dulu.
Saya pernah mengalami dikawal begitu di suatu daerah nunut papa…
Bangga? Saya tidak! Malu malah. Semua perhatian pada kami.
Siapa sih yang lewat?
Tapi tidak semua malu tentunya. Ada yang biasa saja, karena sudah makanan sehari-hari seperti papaku. Tapi ada yang bangga seperti adikku, karena pertama kali. Saat itu setiap orang yang dikawalpun punya pendapat masing-masing.
Apalagi buat mereka yang “terganggu” dengan kehadiran iring-iringan itu, pasti macam-macam pendapatnya.
Belum lagi kalau mau mikir si “voorrijder”nya sendiri, uang tambahan nih.
Jadi pasti akan terjadi polemik yang beragam. Wong kalo menilai suatu makanan saja pasti ada yang bilang enak ada yang tidak kan?
Tapi kalau tanya pendapat pribadi, saya akan bilang, saya tidak suka dan tidak perlu. Atau begini, boleh tapi jangan pakai sirine meraung-raung begitu, manusiawi dikit, mbok yo kayak di Jepang sini, pake voorrijder juga ngga ketara, karena ngga rame kayak karnaval. Dan kita bisa tiba-tiba kaget karena bersebelahan dengan mobil kaisar hihihi (dalam urusan tidak resmi ya, kalau resmi pasti jalanan ditutup juga)
Ikkyu_san, terakhir menulis Belajar terus sampai mati
Aku pernah merasakan dikawal meski aku sendiri saat itu juga ikut mengawal jenasah ayah temanku.
Rasanya memang menyenangkan, membikin gede kepala karena mendapat perhatian dari sekitar, kendaraan lain yang mendadak harus minggir demi kita.
Di sisi lain aku pernah juga merasakan sebal, mungkin sama sepertimu, melihat pengawal dan yang dikawal melesat dalam kecepatan tinggi sementara aku dan mereka mesti mendadak menurunkan kecepatan bahkan berhenti.
Aku lebih memandang sebagai wang-sinawang saja.
Maksudku, tata cara pengawalan biarlah diurus negara, kalau mereka mengurus dan mengatur ya bagus, ndak ya sudah mau gimana lagi.
Sementara kita? Mau menggerutu ya monggo, ndak juga silakan… hidup jalan terus
DV, terakhir menulis Lembu Betina
ah pengawal… tak hanya pejabat negara, pengendara moge juga sering menggunakan dan sangat arogan. masih inget pemukulan pengendara moge pada pengendara lain baru2 ini ?
mungkin ini masih membudaya, pejabat terlihat sok kuasa, padahal tanpa rakyat mereka bukan apa2, toh mereka dibiayai oleh rakyat.
Jamal eL Ahdi, terakhir menulis Leren
Saya sih gak merasa terganggu dengan kawalan seperti itu. Mungkin karena udah sungguh terbiasa. Sekolah tempat saya bekerja kebetulan terletak disebelah rumahnya RI 1. Sering berpapasan dengan mobilnya yang baru keluar rumah saat saya berangkat sekolah. Pengawalnya emang banyak, tapi sirenenya gak nyala. Katanya sih, pihak sekolah pernah mengeluh kepada beliau karena menakutkan anak-anak, jadilah sirene baru bunyi di depan jalan sana. Biasanya pas baru keluar rumah juga kaca jendelaya masih terbuka jadi si bapak di dalam kelihatan. Gak melamambai-lambai jijai bajay sih, kadang kelihatan lagi senderan, atau bercakap-cakap dengan orang sebelahnya dan pernah saya lihat…tidur he… Kalau ada yang manggil, baru beliau balas dengan melambai. Tapi karena sudah terbiasa, masyarakat sekitar juga cuek beibeh.
Nah, karena lokasi sekolah ada di dalam area 1, maka sekolah kami mendapat pengawalan khusus dari satpampres. Pertama-tama, kaget saya. Ini sekolahan buluk kok dijaga tetara dengan senjata laras panjang! Waktu itu saya belum tahu tentang tetangga kita yang ternyata beken. Terus terang, awalnya merasa gagah, keren, hebuat, beda. Walaupun sekolahan jelek, kita dijaga satpampres jek! Tapi lama-lama, jadinya ribet dan kadang menyebalkan. Sama sekali gak merasa spesial!
AL, terakhir menulis Untuk Presiden
petuah jadul: “tempatkan sesuatu pada tempatnya”
bila presiden dikawal, itu pas menurutku, tapi bila artis atau kelompok borju dikawal secara spesial, itu yg berlebihan dan gak perlu…
presiden tentunya memiliki intensitas pekerjaan yang cukup tinggi dan membutuhkan kecepatan dan ketepatan waktu. kan “lebih cepat lebih baik”, hehehe….
Kalau pengawalan untuk kepentingan pribadi yang dibaca: nggak jelas, mungkin itu terlalu berlebihan, hanya bikin bising dan menambah macet aja
oww.. ternyata satu juta ya paklik.. *baru tahu, haturnuhun..*
btw ttg kalimat ini:
==“Kenapa sih mesti atraktif seperti itu? Padahal lewat ya lewat aja. Orang juga akan paham kalau yang sedang lewat pejabat negara.” celetukku sebal.==
klo aku sih, klo ga dgr bunyi2 begitu, cenderung ga ngeh ada pejabat lewat, paklik
mungkin sirene2 itu ditujukan buat orang2 spt aku?
paklik ga sukanya apanya ya? berisiknya? mungkin volumenya perlu dikurangi?soalnya klo cuma bunyi sih, aku ga tralu keberatan (kuping lama2 kebal).. tapi klo jalan ditutup, haduuhh.. efeknya itu lho.. macetnya ga ketulungan.. meski klo naik angkot sih lumayan, tinggal turun aja, trus jalan kaki.
narpen, terakhir menulis Gading-Gading Ganesha
bagi orang-orang yang memiliki sensi ketenangan dan kewarasan berpikir memang hal itu aneh sekali, karena kembali kepada nilai diri kita yang nggak mau mengganggu, meskipun kalo diganggu kadang cuman bisa mesam-mesem saja. Memang hal seperti ini nggak mudah di sini, karena sopan santun berlalu lintas yang sama sekali tidak terbangun sejak kecil, jika sistem penanaman sopan santun berlalu lintas sudah mengakar dan semua orang bisa berlalu lintas tanpa begajulan tentunya hal seperti ini tidak akan terjadi, itu adalah perncerminan dari kehidupan sosial yang sulit diatur, sehingga munculnya seperti itu.
Bisa jadi pula bahwa rasa penghargaan antar sesama sudah menurun drastis dimana orang lain adalah semacam binatang yang tidak bisa diatur, sudah separah itukah kehidupan sosial disini ya…
aku cuman ngebayangin, kalo kendaraan dinas pejabat negara ANDONG, maka pengawalannya gak perlu atraktif tuh….
imoe, terakhir menulis …The Boy in the Striped Pyjamas…
Selain sekolah, musti diusulkan nih kalau lewat RS jangan nyala itu raungan. Dan juga, klinik gigi!
Tidak cuma sirene, kita juga pernah minta agar itu tentara jangan sampai terlihat membawa senjata selama anak-anak masih berkeliaran. Kebayang kan, jangankan anak-anak, saya aja sering terpesona melihatnya. Beneran loh! Bukan mainan! Dikabulkan. Tapi, yah. Hidup bertetangga musti tenggang rasa. Seperti beberapa minggu yang lalu, kita lagi seru latihan marching band. Dijamin kalau marching band latihan, suaranya heboh berisik sampai kemana-mana. Tau-tau, tetangga nongol. Bertanya latihannya sampai jam berapa. Sebab nanti, jam 10, akan ada tamu datang. Penting sekali. Okeh. Sebelum jam 10, kita musti menghentikan latihan.
AL, terakhir menulis Menghadapi Guru (Rapat Jum’at)
well, well, well..
tulisan ini tentu saja sangat menarik..
membacanya saya menjadi teringat akan pengalaman semasa kecil dulu. mungkin kejadian di tulisan ini sangat sering dijumpai di kota-kota besar, dan ini cukup mengganggu pengguna jalan lain. tetapi, berbeda dengan kota tempat tinggalku dulu, setidaknya sewaktu masih kecil, rasanya jarang sekali iring-iringan pengawalan serupa itu terjadi. sehingga, jika di suatu jalan kemudian ramai dengan suara sirine dan pluit-pluit yang garang, itu sepertinya tidak menjadi persoalan bagi pengguna jalan lain (setidaknya kulihat begitu), karena mereka justru menyingkir dengan inisiatif demi melihat tontonan tidak biasa itu.
nah, kiranya di sini, aku rasa orang-orang masih berpikir hal-hal seperti itu berbau ‘kegagahan’, ‘nggaya’, bla..bla..bla.
sebetulnya, aku lebih tertarik dengan penggalan ini:
“Itu cara berpikir lama. Terjadi salah kaprah secara kolektif yang sifatnya permanen bahwa rakyat harus melayani pejabat. Bukan sebaliknya.”
hmm, mungkin ini tidak seratus persen nyambung, tetapi demi membaca tulisan itu, tiba-tiba ingatan saya terbetik. sering saya berpikir hingga kadang tak habis pikir, kenapa banyak orang, menyenangi orang-orang ‘berseragam’. mengapa seorang ‘berseragam’ (dalam bekerja, maksudku) selalu saja dinilai lebih baik ketimbang mereka yang bekerja independen. nah, permasalahannya ialah ya itu tadi.. salah kaprah secara kolektif.
entah dimana dimulainya, tetapi kiranya ini terus berlanjut. hanya saja, pemikiran modern dan kesempatan seseorang untuk mengenal dunia secara luas, kiranya juga bisa membantu mengubah pandangan sempit itu. perbedaan pola pikir seseorang, sepertinya juga berpengaruh pada ‘asupan’ pengetahuan dan pengalaman seseorang itu. untuk percakapan pertama, yah, mungkin saat itu ‘dia’ masih berpikir seperti itu, tapi, siapa tahu setelah berbincang dengan Mas Daniel, kemudian dia berpikir sehingga mendapat pandangan berbeda.. who knows?
tidak ada yang tidak bisa berubah di atas dunia ini! permasalahannya ialah mau atau tidak.
fiuuuhhh, seperti sebuah orasi di depan podium saja…(eh, orasi kok di podium yah? hihihi..:P )
maaf, kepanjangan… salah sendiri, bikin tulisan semenarik ini.
salam,
hesra
hua… baru baca ulang komenku di atas.. wah, jadi malu sendiri.. karena kebanyakan.. mohon maaf.. maaf.. untuk yang punya blog dan teman-teman yang mengomentari lainnya.. maaf, ga sadar je..
tabik,
(ikut-ikutan)
hesra, terakhir menulis LUH TRE
@ mas Niel : baca balasan komen mas di mbak Imel, mas Niel tidak mempersoalkan pengawalannya? hanya caranya? perasaan Mas Niel saat pembicaraan itu memakai contoh Ahmadinejad untuk sama sekali tidak setuju dengan pengawalan pejabat negara yang De tangkap sama sekali tidak setuju ada fasilitas untuk pejabat negara, sebab mereka melayani rakyat…..bukannya begitu? Jadi De setuju aja dengan cara pengawalan yang lebih baik seperti yang guru AL kemukakan. Karena pada konsepnya ade berbicara tentang fasilitas pejabat yang digunakan untuk kepentingan negara juga. Ade juga bicara tentang konsep reward and punishment. Orang berhak mendapatkan sesuatu sesuai dengan prestasinya….
@ Uda Vizon :setuju banget sama Uda . “Tempatkan sesuatu itu pada tempatnya”
itu maksud De…. pada kerangka konsep yang tepat……… Orang tidak harus berada di kiri sekali atau di kanan sekali untuk suatu masalah. De lebih suka ada di tengah…. santai aja……
@ Hesra :
“perbedaan pola pikir seseorang, sepertinya juga berpengaruh pada ‘asupan’ pengetahuan dan pengalaman seseorang itu. untuk percakapan pertama, yah, mungkin saat itu ‘dia’ masih berpikir seperti itu, tapi, siapa tahu setelah berbincang dengan Mas Daniel, kemudian dia berpikir sehingga mendapat pandangan berbeda.. who knows?”
Setuju untuk perbedaan pola pikir. Dan ini bukan percakapan yang
pertama. Hihihi. Teteup… Lewat tempaan, perbedaan masalah bukan
masalah buat De. Orang boleh berpendapat berbeda. Saling
memperkaya. Jadi pemimpin harus bisa mengakomodir banyak pendapat bisa memanajemen semua pendapat.
Eh Hes..jadi ikutan Hesra komen kepanjangan. Bener Hes, salah sendiri ya bikin topik menarik….
So mas Niel? tak apa kan Ade berpendapat tak sepenuhnya sama? Ade tetep setuju dengan pengawalan yang memudahkan. Kerja untuk negara cepat, keamanan terjamin, serta sosialisasi pemimpin. Caranya? nah itu yang bisa diubah menjadi lebih baik. Maksud baik untuk negara mungkin disikapi berbeda oleh setiap orang. Tujuannya sama kok. Tujuan baik untuk negara tercinta. Di jalan tol juga bisa lebih lama…..Hehehe……Salam…….
Prameswari, terakhir menulis Catatan di penghujung : "Yang Tercabik"
aku seneng kok kalo lagi terburu2 dan ternyata di depanku ada ada rombongan pejabat…bisa ikut iring2an jadi lebih cepet jalannya…kekekeke…
gak selamanya merugikan kok mas
tapi memang aku gak begitu setuju dengan sirine yg meraung2 itu, lebay bgt sih mereka ! biasa aja kenapa
Ria, terakhir menulis Perempuan Hebat
Karena sampai saat ini kita masih menggunakan kata : PEMERINTAH….., so sampai kapan pun ya bisanya memerintah, bukan melayani. Liat kamus bahasa inggris, disitu disebut goverment untuk menyebut pemerintah, bukan commander tho…
Hmm bagaimana ya….kalau kita lagi buru2, jalanan macet memang bisa kesel…tapi kadang justru kita bisa ikut dibelakangnya biar cepet…:P
Prinsipnya, bagaimana agar kita berdamai dengan hati kita sendiri…kadang kalau nggak begitu bisa stres terus menerus melihat situasi disekeliling kita.
Dan itu gunanya mobil seperti rumah kan, dilengkapi musik yang bisa membuat kita nyanyi keras2 dengan suara sumbang? Hahaha…soalnya suaraku bisa bikin sakit kuping orang yang denger, saking ga karuwan….
edratna, terakhir menulis Pak Oman, Peternak sapi perah dari kampung Silumber, desa Cibogo, Kecamatan Lembang
bIasanya kalau ke luar kota seneng bgt sama rombongna begini
bisa ngekor
kan jadi cepet.
Tapi kalo di jakarta, aiiih sebel liatnya
karena biasanya aku diberhentiiin,
di setop
uuuh
Eka Situmorang - Sir, terakhir menulis Sebuah Pertanyaan [Alnect Komputer]
Sensasinya itu lho Mas Dan … Sensasinya …
Nyaman tak terkira …
Pongah sangat !!!
(hehehe)
(mencoba berempathy … merasakan berada di pihak “sana”)(pihak yang diforeyderi …)
nh18, terakhir menulis PENGALAMAN ORGANISASI
Balik lagi …
Kali ini mencoba menempatkan diri sebagai sang foreider …
“asik lagi Mas Dan … zig-zag di Tol …”
“Gagah weiceh … !!!”
nh18, terakhir menulis PENGALAMAN ORGANISASI
obrolan yang menarik
Aturan itu bisa diubah kalau mau
betul, kembali pada kemauan. dan untuk itu kembali pada hatinurani.
kata orang, tak semua orang bisa menjadi anggota DPR. karena utk menjadi anggota DPR, mesti mematikan nurani.
entah saat ini. tapi aq masih saja tak bisa bersenang2, jalan2 ke mall menikmati makanan mahal….
salam kenal sahabat…
rigih, terakhir menulis Rumah Impian : Stop Dreaming, Start Action
oh ya, satu lagi. boleh bertukar link?
ikkhh….saia G SUKA…G SUKA..G SUKA…!!!!
katax mereka melayaNi rakyat??!!tpi menurutku malah nyusahain rakyat…hmpphh….
*msH terbayang kmrn pejabat dgn sirene meraung2x…*
chie, terakhir menulis ditoLak = libuRan..??!!
pengawalan pejabat negara dalam batas yang wajar oke-oke saja. Seperti halnya kita menghormati ambulance untuk melaju lebih dulu, tapi …
nah ini dia … kalau sudah arogan yaa normalnya saya juga ndak suka.
anyway, saya juga ngga suka sama pembuka jalan plus iring-iringan Moge … nyebelin!
mascayo, terakhir menulis SpongeBob SquarePants
Kalau presiden, saya masih bisa menerima. Tetapi kalau cuma tingkat menteri, gubernur, apalagi anggota DPR, saya pikir tidak layak.
Saya mengharapkan tahun 99, di mana menteri merasakan kaca spionnya dicongkel orang di jalan raya. Dengan demikian, mereka merasakan miskinnya Jakarta, kejamnya Jakarta.
Kunderemp, terakhir menulis Hmmm.. Foto Farewell Kemarin?
Weees…memalukan , lha wong ingin dikawal…kok maksa ya. Lucunya kok ya bertarip resmi…eh semi resmi, jadi bikin orang yang bisa bayar itu bisa dikawal.
Kalau di Jogja sangat jarang…,,ada suara sirene meraung raung untuk mengawal seseorang, sehingga kita tahu…kalau ada sirene…Ooo…itu tamu negara…atau RI1 dan RI2…
Twilight Express » Blog Archive » Ketika Koala bertemu Gajah on 20 Aug 2009 at 7:46 am #
[…] aku pernah menulis bahwa aku tidak mau berada pada rombongan yang dikawal oleh Voorrijder pada tulisannya Daniel Mahendra, dengan alasan malu. Tapi jelas untuk kondisi semacam ini, memang […]