Terkadang, untuk mengetahui cara berpikir seseorang aku kerap memasuki pendalamannya saat berbincang. Yang awalnya ia ingin tanya banyak hal, tanpa kuminta ia malah bercerita tentang dirinya sendiri. Ya, kebanyakan orang memang lebih suka menceritakan perihal dirinya bukan? Kalau sudah seperti itu aku selalu senang untuk “bermain-main” dengan lawan bicaraku.
Ketika harus menyambangi rumah Ketua RW di komplek untuk suatu keperlauan tanda tangan, sang Ketua RW bertanya padaku:
“Kerja di mana, Dik?”
“Saya menulis, Pak.”
“Menulis? Menulis apa?”
“Menulis apa saja. Apa saja yang bisa menghasilkan uang.”
“Apa penghasilannya tetap?”
“Tergantung pesanan, Pak. Kalau order ramai, ya uang melimpah.” *
“Kalau sepi?”
“Ya harus mulai hemat.”
“Apa nggak riskan, Dik? Apa bisa hidup dari menulis? Nggak ada penghasilan tetap.”
Aku hanya tersenyum tanpa menafikan atas apa yang ia sodorkan. Mudah ditebak, setelah itu ia bercerita tentang bagaimana dirinya meniti karir dan mencapai sukses menurut versinya. Memang, sangat dipahami, profesi penulis masih menjadi ranah yang “aneh”, kalau tak mau disebut mengkhawatirkan, untuk sebagian besar orang. Bagaimana mungkin hidup dari honor tulisan? Berapa royalti yang diterima dari sepucuk buku yang berhasil terbit? Berapa harga satu naskah sinetron berdurasi 48 menit?
Menjadi penulis seolah tak memiliki kantor. Penampilannya tak menggambarkan profesi tertentu, dan pola hidupnya sulit ditebak: mana waktu kerja, mana waktu santai. Sehingga tak aneh bila seseorang yang menjalani profesi penulis acapkali dianggap bekerja secara tak jelas. Dan belum pernah terdengar ada KTP yang menuliskan kata penulis pada kolom pekerjaannya.
Kata orang, menjadi pengarang di negeri ini memang mesti pintar-pintar bermain siasat. Kalau tak pandai-pandai benar, apalagi tak produktif-produktif amat, bagaimana bisa makan serta mengongkosi hidup dari honor karangan? Tak sedikit memang: profesi pengarang menjadi kerja sampingan. Di negeri ini tak aneh bila seorang pengarang adalah sekaligus seorang dosen, wartawan, pegawai negeri, seniman, atau entah apalagi. Meski semua itu memang tak ada yang salah. Hanya orang-orang keras kepala saja yang berani mengambil pilihan hidup berprofesi sebagai pengarang thok! Tetapi karena kekerasan kepalanya itu lah biasanya mereka memang berhasil. Dan yang berhasil itu pun masih lagi dapat dihitung dengan jumlah kancing baju. Dan sebanyak-banyaknya kancing baju, memang tak seberapa… (kutipan novel Epitaph).
Tak sedikit kawanku yang bekerja di rumah sebagai penulis atau editor freelance. Apalagi setelah ada internet, ia bahkan hanya keluar rumah untuk belanja kebutuhan sehari-hari belaka. Selebihnya mendekam di rumah, komunikasi praktis melalui telpon dan internet, dan honor pekerjaan masuk melalui rekening bank. Kalau mau main hitung-hitungan angka, honor yang bisa didapat bisa mencapai jutaan dalam seminggu.
Sama halnya dengan profesi lainnya yang bisa dipilih manusia di muka bumi ini, menjadi seorang penulis bisa hidup dalam taraf yang biasa-biasa saja, namun tak sedikit pula yang kaya raya. Seorang Andrea Hirata Seman Said Harun mungkin tak pernah menyangka kalau Tetralogi Laskar Pelangi-nya terjual hingga jutaan kopi di Indonesia. Sementara seorang Joanne Kathleen Rowling bahkan sama sekali tak terpikir menjadi salah satu orang terkaya di Inggris karena Harry Potter.
Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah juga tidak lebih mulia dari bidang tugas apa pun yang bisa dipilihkan untuk manusia…
Bandung, 20 Juli 2009 | 20.27 wib
* soal menulis yang berdasarkan order tidak termasuk dalam topik bahasan tulisan ini.




memang…
makanya buruan selesaikan itu proyek, trus kita bagi-bagi…
mas, terakhir menulis Mandi Air Masin
Tentu saja, menulislah terus, kalau perlu sampe mampus (kata Om Seno lho)
Kak, menulis yang sesuai order yang kayak gimana?
Menulis juga pekerjaan mulia koq, so.., menulislah terus! Semangat! Eh, mengetiklah terus!
Hahaha….. ketawa ngakak baca “Hanya orang-orang keras kepala saja yang berani mengambil pilihan hidup berprofesi sebagai pengarang thok!” . Jadi mbayangin mas Niel yang kepalanya keras….hehehe….beda ya….
Mmm. Profesi penulis buat ade suatu profesi yang tampaknya susah dilakonkan untuk sebagian besar orang. Karena meski semua orang bisa menulis, hanya segelintir yang mampu jadi penulis….. (artinya dalemm).
Prameswari, terakhir menulis Catatan di penghujung : "Yang Tercabik"
semua profesi itu mulia, kecuali maling, koruptor dan penculik…
aku punya seorang sahabat yang mengikrarkan diri sebagai penulis. aku bangga bisa berkenalan dengannya. kreataifitasnya sungguh luar biasa… tapi, sayang, belakangan dia sudah tidak produktif, entah karena alasan apa… tapi, aku kok merasa. dia sedang asyik masyuk dengan kegiatan saling cela di sebuah buku kumpulan wajah ya… ? ah, entahlah!
seperti ngitung kancing? hemmm…
Mas, pilih hidup aman atau hidup nyaman?
hesra, terakhir menulis Buat Ning
ini pertanyaan, Bos.. mbok dijawab..
semua sepakat semuanya begitu. tapi jika harus memilih, mana yang akan dipilih?
hesra, terakhir menulis pada yang terbatas
memang kancing baju itu berasal dari kerasnya kepala to
aman dan nyaman.
hesra, terakhir menulis pada yang terbatas
pernah hitung kancing baju jubah seorang pastor dari atas sampai bawah?
(ahh kamu mungkin malah membayangkan untuk “membuka”nya jika dipakai seorang putri hahaha)
EM
Ikkyu_san, terakhir menulis Hari Laut tapi…
Tanpa ku minta ia malah bercerita tentang dirinya sendiri. Ya kebanyakan orang memang lebih suka bercerita tentang dirinya, bukan?
————
kalimat itu benar, namun tdk berlaku buat gue. Justru gue maunya nanya terus, berkali2 nanya and konsisten untuk bertanya. Tapi jawabannya gini, “belum sampe situ eka, ceritain dirimu saja, hari ini adl segala sesuatu berkaitan dgn eka”
Mulai rancu, siapa yg senang menceritakan diri sendiri dan siapa yg bercerita krn diminta
Oya soal keras kepalanya itu bener.
bisanya bocor doank hahaha
Kalo kepala gak keras kan ngeri ntar gak bisa benjol dunk
nah, itu soal proyeknya udah terjawab sendiri di tanggapan untuk komentar uda vizon.
i rest my case.
pokoknya beta tunggu bung bagi-bagi. minimal sepuluh persen!
mas, terakhir menulis Mandi Air Masin
@ Ikkyu_San : Hahaha….mbak Imel deh kalo urusan yang membayang-mbayangkan selalu bikin ngakak deh…..seperti buah D dan Z itu ……hahaha.
Mbak Imel, mang kenapa dengan kancing baju pastor? cukup mewakili yang berkeras kepalakah (sama bersikeras sama gak siy…)untuk jadi penulis thok?
Prameswari, terakhir menulis Catatan di penghujung : "Yang Tercabik"
Yang terpenting adalah bagaimana menulis itu hidup ?…..
he he he.. dasar lu. kenapa gak diceritain aja kerja di mana lu bos?
harusnya tugas ente buat nerangin tentang dunia itu. jadi ketua rwmu gak underestimate
*menduga-duga*
Apa yang tertulis di kolom pekerjaan KTPnya si Penganyam Kata ya?
‘Penulis’?
atau mungkin ….
‘Daniel Mahendra, Penganyam Kata, Bisa Ditunggu’?
hihihi….
tanti, terakhir menulis Saat Lemah Tak Berdaya
sadar banget kalau digiring..
kalau lu juga terkena sihir gue bisa repot ntar gue
) maka gue ladenin giringanmu mas.
dan karena gue males mengeluarkan jurus2 rayuan maut tingkat tinggi untuk menundukkanmu (cukuplah suamiku yang klepek2 terkena mantra cinta gue mas hehehhee
Biar puasnya egomu itu
jadi kembali ke statement awal :kalimat itu benar, namun tdk berlaku buat gue.
weeeeks
Eka Situmorang – Sir, terakhir menulis Candu Cinta
aku juga ingin tahu apa yang ditulis di kolom pekerjaan di KTP bagi
1. seorang motivator
2. tukang obat
Kalo menurut aku sih…sama-sama cuap-cuap aja. (Sorry kalau ada yang tersinggung, tapi I hate the word “Motivator”. Motivasi harus berasal dari diri sendiri, bukan ditimbulkan orang lain.)
Tapi yang aku paling benci sebetulnya, sejak status aku berubah dari “single” menjadi “kawin”, otomatis pekerjaan menjadi “karyawan” LOH! siapa yang suruh? bukannya otomatis “ibu rumah tangga”? Orang Indonesia memang suka sekali memutuskan “label” tertentu bagi manusia, tanpa memikirkan atau menanyakan pada ybs.
EM
@mbak imelda:
untuk kedua profesi itu mungkin masuk kategori wirausahawan? termasuk pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak terikat menjadi pekerja bagi suatu instansi atau korporat, kupikir.
tapi motivasi toh ada yang dikategorikan intrinsik dan ekstrinsik, mbak? yang ekstrinsik termasuk suntikan motivasi dari lingkungan. walaupun aku setuju, motivasi yang terbaik adalah yang bersifat intrinsik.
eh, asyik juga chatting di sini, ya? kita OL bareng nih, mbak.
keluar topik gimana?
kan gue menyatir kata2 dalam tulisanmu ini mas ?
btw tolong dibaca dengan seksama :
dan karena gue males mengeluarkan jurus2 rayuan maut tingkat tinggi untuk menundukkanmu
terang aja gak berlaku untukmu mas, emang gue gak mengeluarkan ajian merayunya koq weeek :p
GR koq terus dipiara hehehe
Jadi penasaran, apa kolom pekerjaan di KTP mu?
Seringnya aku lihat, jika bingung tulis aja…”Swasta”.
Pas udah pensiun aku juga bingung, jadi dalam kolom KTP ditulis aja “Pensiunan”…hehehe…
Gara-gara pensiunan ini, tiap kali bu RW sms, agar saya datang ke arisan karena acaranya bagus…dan karena masih di kantor atau dijalan…maklum kantornya pindah2, tergantung pesanan atau panggilan..jadi paling dijawab “ada proyek bu, jadi masih diskusi sama klien”.
Niel sebetulnya aku juga pengin dapat uang dari menulis…tapi kayaknya susah ya…dan sekarang mimpi itu kayaknya harus diubah deh, kok makin sibuk urusan lain…
Sebetulnya pak RW nya cuma cari2 topik biar bisa ngobrol kok, paklik, sambil tanda tangan..
Toh dari dari pedagang sayur pun bisa jadi pengusaha kelas atas..
Juga mungkin biar bisa cerita ttg dirinya sendiri, huehuehue.. (Pak RW narsis).
Aku percaya bahwa setiap kerjaan itu klo ditekuni (apapun profesinya) insya Allah menguntungkan..
menulis dengan hati ya mas…biasanya hasilnya bagus kok, at least walaupun tidak menghasilkan hati kita kaya…hehehehe *sok Bijak*
Apa kabar dirimu???
Jiahhhh kali soal tanya soal hidup atau gak, itu urusan tuhan. Emang kalo kita penulis, tuhan marah lalu mencabut hak kita untuk hidup…ya gak lahhhh.
Lha, koruptor aja yang masuk bui lalu nulis buku “Pengalaman Dari Buii’ bisa jadi buku dan laku tuh….apalagi yang penulis beneran, laias gak pernah berstatus koruptor….nah tuhhh
Iya ya, bener bener mas..aku paham….bener juga ya. Aku yakin banget kalo manusia itu punya kemampuan untuk survive deh. Karena itu bakat alami manusia. Nah yang paling penting itu, apakah usaha untuk survive itu halal, berasal dari keringat sendiri trus gak ngerugiin orang lain. Selebihnya pasrahkan ama tuhan hehehehehe
Ah kalo saya mah, dibikin gampang aja jawabnya:
Seseorang: AL, lo jadi guru SD gitu, ntar anak lo malah gak bisa sekolah (Gaji guru swasta terlalu kecil untuk mampu membiayai pendidikan yang layak bagi anaknya sendiri loh.. Tragis)
Saya: Bisa.. Cari suami yang kaya dong, heheh..
aku kangen pengin nulis.kebanyakan bekerja membuat gak punya waktu untuk nulis. pengen buanget, tapi gak sempat-sempat. tulisanku ng blog saiki pendek, dangkal, uelek pokoke…. bagi tips dan stimulusnya dong mas. sukur2 sampean punya kelebihan buku yang bisa dibagikan ke saya … hiks (ngarep)