Nina Tak Butuh Diancam

You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams (The Prophet, Children, Kahlil Gibran)

Pernahkah kalian menyadari bahwa sejak kecil ada sebagian besar anak di Indonesia yang hidup dan tumbuh di bawah ancaman orangtuanya? Para orangtua tersebut sama sekali tak menyadari bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah salah sebuah bentuk ancaman yang halus dan sangat tidak kentara.

Barangkali pada era sekarang hal itu sudah mulai jarang terjadi. Itu terjadi pada era orangtua zaman dulu ketika hendak menidurkan anaknya. Namun sejauh orang masih menyanyikan lagu Nina Bobo, maka ancaman halus nan lembut tersebut masih dilanggengkan. Coba simak lirik lagu Nina Bobo di bawah ini:

Nina bobo, oh Nina bobo
Kalau tidak bobo, digigit nyamuk

Hanya sepuluh kata. Sepuluh kata! Tak lebih. Tapi cobalah simak 3 kata pada kalimat kedua: kalau tidak bobo. Sadarkah kita bahwa 3 kata itu mengandung ancaman? Kalau tidak bobo. Dengan diikuti kata selanjutnya berupa hasil dari ancamannya: digigit nyamuk.

Adalah wajar jika sebagian dari kalian akan mentertawakan analisa serampangan semacam itu. Dan adalah wajar jika lantas berkata: “Ah, itu kan hanya lagu. Ada-ada saja.” Baik. Tapi hal sederhana namun mematikan seperti itulah yang justru sungguh sangat berbahaya. Karena itu dinyanyikan terus-menerus setiap hari, ketika hendak tidur, dan masuk ke dalam alam bawah sadar si anak. Sekali lagi: alam bawah sadar anak kecil. Maka ancaman tersebut akan lestari secara permanen di otaknya.

Bayangkan, orangtua menyanyikan lagu pengantar tidur dengan senyuman manis tersungging di bibir. Namun pada hakekatnya ia sedang mengancam anaknya: kalau tidak bobo. Si anak akan merasa bahwa orangtuanya sedang mengancam dengan bahagia serta bangga, karena tak menyadarinya. Maka si anak akan tumbuh dan terbiasa dengan kata-kata berkonotasi: tidak, jangan, atau bukan. Entah siapa pencipta lagu itu. Dan entah mengapa banyak orangtua menggunakan lagu itu sebagai pengantar tidur.

Hal yang paling kuhindari dari TV adalah program berita kriminal. Aku tak benci TV, tapi aku melakukan diet terhadap TV. Tayangan-tayangan tak bergizi cenderung kuhindari. Tak memberikan asupan yang bervitamin sama sekali secara psikologis. Bayangkan kalau kita secara terus-menerus mesti mengkonsumsi berita perampokan, pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan, mutilasi, serta konotasi kriminal lainnya setiap hari. Alam bawah sadar kita akan teracuni kenyataan tak sehat bahwa di luar sana: begitu mengerikannya!

Adalah betul berita-berita itu penting untuk dikabarkan. Namun menjadi tak penting sama sekali jika kita konsumsi setiap hari. Kita akan merasa bahwa ancaman ada di mana-mana. Menelikung di sekitar kita. Kita menjadi tak nyaman hanya untuk sekadar bersantap atau menyeruput kopi di tempat biasa manakala merasa was-was bahwa bom bisa saja tiba-tiba meledak tanpa mengirimkan telegram peringatan terlebih dahulu. Entah siapa pencipta TV. Dan entah mengapa begitu banyak di antara kita yang dengan gegabah melahap tayangan TV secara semena-mena.

Apa korelasi kedua contoh sederhana di atas? Ancaman secara halus, Kawan. Ancaman lembut yang saking manisnya tak kita sadari lagi sebagai sebuah ancaman. Kita menjadi terbiasa dengan hal-hal yang berbau peringatan yang jika didedah, belum tentu sehat secara logika. Tidak, jangan, bukan, awas menjadi hal yang wajar dan biasa-biasa saja. Kita sudah tak bisa lagi membedakan mana hormat dan mana takut.

Mengapa aku menulis ini? Baik. Generasi kita atau generasi sebelum-sebelumnya boleh saja mengalami serta merasakan kejadian-kejadian menggelikan di seputar hidupnya masing-masing. Dengan ragam versi pola ajar yang berbeda-beda. Dengan justifikasi yang mungkin sulit untuk diluruskan karena sudah bersemayam secara permanen di alam bawah sadar. Generasi yang merasa bahwa diri adalah yang paling benar di atas bumi ini. Namun kita masih punya generasi berikutnya: anak-anak kita. Karena anak-anak adalah bentuk bukti paling nyata dari cara berpikir orangtuanya. Mengapa kita tak menyehatkan cara berpikir anak kita dengan terlebih dahulu menyehatkan cara berpikir kita sendiri?

So? Tulisan ini untuk menyambut hari anak: 23 Juli 2009. Selamat hari anak, Kawan…

Bandung, 23 Juli 2009 | 04:44 wib

heal the world we live in…
save it for our children…

This entry was posted in Esai. Bookmark the permalink.

28 Responses to Nina Tak Butuh Diancam

  1. Ikkyu_san says:

    “anak-anak kita?”

    horeeee DM sebentar lagi punya anak.. Ibunya?

    pertamax…..
    komentarnya gini dulu hihihi.

    DM: Iya, DM ntar lagi bakal punya anak. Anak rohani. Sekitar bulan Oktober 2009.
    Ibunya? Aku single parent kok. Ahuhuuu… ;)

  2. mas says:

    hahaa… bukan karena tiba-tiba aku protes sedang digigitin nyamuk pada tengah malam, kan?

    ancaman memang dahsyat. bisa jadi kekerasan yang ada sekarang ini timbul akibat ancaman-ancaman kronis tersebut. walaupun didendangkan dengan lembut merayu, tapi isinya tetaplah suatu bentuk kekerasan.

    ntar deh kalau punya anak aku nggak nyanyikan “nina bobok”. hmm… lagu apa, ya? peter pan? huaaaa…

    DM: Iya, kamu emang kayak anak kecil, Hemm. Digigit nyamuk aja SMS. Huahuahua…
    .
    Ya, tidak saja soal anak. Tetap merupakan sebuah ancaman walau diejawantahkan dalam bentuk sikap manis dari orang-orang yang kita cintai sekalipun dapat dikategorikan sebagai kekerasan. Kekerasan toh tak melulu soal fisik. Efek yang ditimbulkan justru lebih berbahaya karena menyentuh palung psikologis seseorang. Ironisnya, banyak yang tak menyadari hal itu.

  3. Ikkyu_san says:

    Ada satu ancaman yang memang aku sesali pernah ucapkan untuk Riku.

    “Kalau kamu begini terus, sudah deh mama pulang saja ke jakarta sendirian. Kamu tinggal sama papa saja ya”

    Dan sejak itu dia takut untuk ditinggal sedetikpun, meskipun hanya untuk membuang sampah. Dan jika dia terbangun aku tak ada, dia akan menangis, menjerit sekeras-kerasnya. Sungguh… waktu itu aku menyesal sekali pernah berkata bergitu. Tapi yang sudah terucapkan, tak bisa ditelan kembali kan? Aku sendiri yang harus menanggung akibatnya. Dan … berusaha menyembuhkannya.

    EM

    DM: Hmmm… itu salah sebuah contoh kongkrit ya, Zus. Riku pasti sangat tergantung sekali kepadamu secara emosi. Aku juga punya pengalaman masa kecil. Waktu kecil aku mendapat ejekan dari orangtuaku. Kakak dan adikku pun ikut-ikut. Aku tau itu sekadar kelakar dalam keluarga. Tapi yang namanya ejekan, tetap akan berbeda ketika diterima oleh jiwa seorang kanak. Jadinya aku tumbuh sebagai pribadi yang inferior di rumah.
    .
    Yang terjadi, di luar rumah aku menghabiskan seluruh usiaku hanya untuk membuktikan bahwa ejekan masa kecilku itu tak benar. Memang pada akhirnya berhasil. Ejekan itu sudah bisa kutertawakan sekarang. Tapi apa boleh buat, rasa, rasa diejek yang mengendap di alam bawah sadar tak pernah bisa sirna begitu saja.
    .
    That’s why I believe, I am one of the loneliest people in the world.

  4. Radesya says:

    Aku masih kategori anak-anak bukan ya? :D
    tapi dari kecil aku belum pernah dinina boboin gitu kak, palingan dulu mama suka bacain cerita, seingatku papa juga suka bacain cerita dan ceritanya selalu kancil yang suka mencuri timun itu, sampai hafal deh :)

    cara berpikir yang sehat itu gimana kak?

    DM: Hihihi. Ya nggak lah, Desya… Masa’ 17 tahun masih dikategorikan anak-anak. Eh, tergantung pakai patokan apa dulu nih? Unicef atau mana. Hihihi. Kalo Desya masih dikategorikan anak-anak, sini Kakak angkat jadi anak angkat. Punya anak angkat usia 17 tahun kan seru. Jiakakakkk!
    .
    Dibacain cerita? Ah ya. Kalau mendengar cerita-ceritamu, mama dan alamarhum papamu tipikal orangtua cerdas, Desya. Orangtua yang tau betul psikologis serta perkembangan anak. Nampak sekali. Terutama mama. Beliau perempuan hebat.
    .
    Berpikir sehat? Desya baca deh komentar-komentar para puan di tulisan ini. Nanti Desya bisa mengambil sarinya. Okeh, Miauw?

  5. Terlalu Banyak Ancaman dan ‘Jangan’ dalam kehidupan anak kecil.

    DM: Jangan lantas setelah membaca tulisan ini kau jadi merasa ikut terancam, Mal. Hehehe.

  6. Justru dari hal – hal kecil dan sederhana, seorang anak dpt tumbuh. Lagu 10 kata itu jika merasuk ya bisa menjadi pondasi karakter bahwa mengancam halus itu benar. Aih geri membayangkan dampaknya di kala dewasa.

    Ya udh nanti anaknya dinyanyiin lagu Beat It nya MJ aja mas :D hahhahaha

    DM: Kamu pasti pernah mendengar, Ka, beberapa pesakitan, pembunuh berdarah dingin, psikopat, mempunyai masa kecil yang kurang bagus. Pernah lihat The Silence of the Lambs, Hannibal, atau Hannibal Rising? Film psychological horror thriller yang banyak bicara pada ranah itu. Masa kecil yang tidak menyenangkan. Membunuh secara sadis bukanlah bentuk kekejaman. Kenapa? Karena masa kecilnya yang menyatakan itu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Hufh…
    .
    Dinyanyiin Beat It? Hahaha. Nggaklah. Biar mamanya aja yang menentukan dinyanyikan lagu apa. Papanya ngiringi pakai piano aja. (Tsah! Sok romantis! :p )

  7. Prameswari says:

    Kadang memang mengancam dilakukan tanpa kita sadari…………..

    Pada sebuah seminar pendidikan, dikatakan bahwa saat kita mengatakan pada anak : “Jangan lari, nanti jatuh” atau “Jangan menginjak rumput, nanti terpeleset”… secara psikologis yang gampang terekam di benak anak adalah kata kerjanya, bukan jangannya, sehingga yang terbayang adalah : “Lari”…… atau “injak rumput”……..

    Secara psikologis, perkataan sangat berarti besar untuk perkembangan mental anak sehingga jika mengatakan Jangan / tidak sebaiknya dikatakan dengan kalimat positif yang punya arti sama seperti : “jalan saja pelan-pelan, supaya selamat sampai tujuan” atau “carilah jalan selain dirumput, nanti rumputnya bisa mati”. Hal ini juga mengajarkan pada anak supaya selalu berpikir positif.

    Jadi inget pas waktu kecil, kalo terbentur meja dan sakit, mama selalu memukul mejanya untuk disalahkan. Menyalahkan sesuatu yang tidak bersalah (lha masak mejanya yang gak bersalah), mendidik anak selalu menyalahkan orang lain pada setiap masalah.

    So, memang harus dimulai dari hal kecil untuk mendidik anak

    Selamat Hari Anak Nasional…..

    DM: Bersyukurlah para anak yang memiliki orangtua-orangtua cerdas. Cerdas bukan semata soal pendidikan. Pendidikan seseorang tidak menjamin manusia menjadi bijak. Sudah banyak contohnya.
    .
    Maka idiom-idiom seperti soal ‘kata kerja’ tadi menjadi menarik. Karena anak diperlakukan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Sudah jamak kita saksikan para orangtua yang menganggap anak adalah orang dewasa dalam tubuh mini. Mereka menganggap anak-anak harus bisa seperti apa yang mereka pikirkan. Mengibakan…

  8. Prameswari says:

    Eh….baca lagi komen Ade diatas jadi kerasa agak keluar konteks dari yang mas Niel bicarakan…..hehehe…. tentang ancaman pada anak, tapi tak apa kan mas Niel, masih terkait kok tentang anak : kalimat negatif dan kambing hitam yang sering banget kita lakukan pada anak-anak kecil di sekitar kita tanpa kita sadari

    Semua keluar dari hati, untuk hal-hal kecil yang sering banget kita sepelekan tapi dapat berdampak besar bagi anak…..

    Oh ya tentang lagu, banyak lagu yang salah untuk anak,tapi sering banget dinyanyikan seperti balonku. pada satu kalimat yang tak sesuai dengan keterangan sebelumnya. Meletus balon hijau? padahal punyanya balon merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru…..hehehe.

    Bikin lagu juga aja mas Niel….buat anak2, suara mas Niel kan bagus (ehem….)

    DM: Ada satu pola yang masih langgeng ketika orangtua menimang anaknya. Yaitu kalimat: “Anaknya siapa ini… Anaknya siapa ini…” Kasihan. Wong jelas-jelas anaknya kok ya masih ditanya anaknya siapa. Dipikir lucu apa. Oke, mungkin itu dianggap sayang-sayangan. Tapi rasanya nggak gitu caranya.
    .
    Sepertinya halnya contoh memukul meja tadi. Sama saja. Sama halnya ketika orangtua berbicara dilucu-lucukan: “Uuu… tayang. Lutu tekali…” Hayah! Berbicara dengan anak kecil kok disalah-salahkan. Apa yang didengar si anak kan akan dengan lahap diserap. Makin kemari mestinya orangtua tuh makin cerdas. Bukannya bertambah konservatif. Ya tho? Yo po ra…
    .
    Iya deh, ntar bikin lagu. Biar anaknya bangga sama orangtuanya. Nanti kalau dia sekolah, ketika ditanya gurunya: siapa idolamu? Jawab si anak: “Mama dan Papaku!” Cieee… kan keren! Haha.

  9. Beberapa jam setelah menurunkan tulisan di atas, aku membaca di sebuah harian yang memuat berita bahwa seorang anak usia 12 tahun mencoba menelpon Hotel Sheraton Bandung dan menyebar ancaman bom. Sontak pihak hotel kalang kabut lantas mengontak kepolisian. Polisi sedikitnya mengerahkan pasukan yang dilengkapi tiga panser dan sebuah mobil khas tim penjinak bom untuk melakukan penyisiran di area hotel.

    Siapa nyana, setelah diburu dan ditangkap, PDF, inisial bocah tersebut mengaku melakukan hal itu karena terinspirasi dari tayangan soal ledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan J.W. Marriott Jakarta, beberapa saat lalu, yang disiarkan secara terus-menerus oleh semua TV.

    Well, yang awalnya terbelalak aku jadi senyum-senyum sendiri. Sudah beberapa kali aku mengalami hal seperti ini. Sebabnya? Tak lain, apa-apa yang kupaparkan pada tulisan di atas saat Subuh tadi: bukan sahibul hikayat kan? Anak dan TV. Aha!

    DM: Heh! Ngapain kamu ikut-ikut komen? Nulis mah nulis aja…

  10. suryaden says:

    bahkan kata on-off dalam bahasa inggris itu diterjemahkan menjadi hidup-mati,…
    lha gimana, memang negeri bejul kok… :lol:

    DM: He? Negeri bejul? Wakakakakkk… Kok ana-ana wae tho, Mas.
    Ya gimana, Mas. Ini soal bahasa. Soal cara berkomunikasi. Semua ini kan soal komunikasi belaka. Antara komunikator dan komunikan. Yang dalam konteks ini adalah anak. Karena hari anak. Aku sedang menunggu habisnya generasi-generasi konservatif je.

  11. Cak Ri says:

    sebenernya agak bingung juga seh. di lagu itu dibilang, kalo tidak bobo, nanti digigit nyamuk. Padahal kan bukan sebaliknya , kalo digigit nyamuk, bikin gak bisa bobo ?…..CMIIW

    DM: Hehehe. Cerdas lo, Zal. Berangkat dari logika kalimat. Seperti kata Nungki, memang banyak kok lagu-lagu anak zaman dulu yang mengajarkan salah kaprah. Ada lagi nih: lagu Naik Kereta Api. Coba simak liriknya: Ke Bandung-Surabaya/ Bolehkah naik dengan percuma.
    .
    He, kok kurang ajar? Mengajarkan anak korupsi sejak dini. Ya tho? Naik kok dengan percuma. Emang kereta api mbahe po? :p

  12. Prameswari says:

    @ DM : Ehem siapa dulu kepala stasiun kereta apinya….? du du du…..

    DM: Lho he? Lha sopo no?

  13. Ah..lama gak main kesini…..:)

    Gue siy gak pernah mau memandang terlalu berat dan terlalu serius suatu hal ya, Dan. Bukannya gak mau…tapi kalo semuanyaaaa gue pikir secara serius…edan…cepet mati gue.

    Sama halnya ketika gue mungkin baru tersadar kalo lagu nina bobo itu lagu yang mangancam. Walaupun gue gak pernah nyanyiin lagu itu. Untuk lagu, gue bisa kreatif..tiba-tiba aja gituh ngarang lagu buat Tangguh. Kadang dangdut siy…gak papalah..yang penting kreatif….*ketawa gue tabok*

    Jadi tentang mengancam atau tidak.
    Gue cuma mau mengajarkan dan mendisiplinkan anak gue. Ada hukuman jika dia melakukan kesalahan, dan ada hadiah untuk setiap kebaikan. Tentu saja…tidak seserem dan seserius yang dibayangkan ya….jadi ..gue bawa santay aja deh!

    Ah! Elo tuh…

    Baru dateng gini, gue pengennya nyela-nyela!!! ini kok malah komen serius…wew!

    @Uni:
    Hai Uni!!! kapan kita serbu si DM ini!?!? hihihihihi

    DM: Yessy, nggak pernah mau memandang terlalu berat dan terlalu serius akan suatu hal adalah penyakit orang Sanguinis. Sementara memandang terlalu berat dan terlalu serius akan suatu hal adalah penyakit orang Melankolis. Hahahaha.
    .
    Bagus kalo kamu nggak pernah nyanyikan Nina Bobo buat Tangguh. Lebih bagus lagi kalau kamu nggak menyanyikan lagu itu karena tau kenapa. Tapi soal dangdut, yaelah Yessy, semua juga tau kalo itu selera elu… :p (Nggak ketawa gue. Haha!).
    .
    Hukuman atas kesalahan atau hadiah untuk setiap kebaikan, aku setuju. Itu mutlak. Agar anak bisa membedakan secara dialektika: mana baik – mana buruk. Tinggal caranya aja. Kukira di situlah harga orangtua ditimbang-timbang kadar kualitasnya. Bukankah niat baik tak selamanya menjadi baik jika dilakukan dengan cara yang tak baik, eh?
    .
    Dan heh! Nggak usah cari sekutu dengan manggil-manggil Uni segala!
    *nelpon Uni*
    (lhooo… :p )

  14. edratna says:

    Mungkin aku secara tak sadar pernah mengancam kedua anakku…dan semoga mereka berdua memaafkan ibunya, dan tak harus membuktikan diri secara terus menerus sepertimu.
    Kalau soal nyanyi sih kayaknya enggak…maklum suaraku bukan membuat orang atau anak mengantuk, tapi malah bikin sakit kuping. Tapi, mendongeng sih nyaris tiap malam saat anak-anak kecil, entah apakah dalam dongeng tsb ada ancamannya apa tidak.
    Semoga anak-anakku tak trauma…karena ternyata menjadi ibu yang baik itu sangat sulit.

    DM: Kalau melihat Ari dan Ani tumbuh dengan gembira begitu rasanya Ibu sudah menjadi ibu yang paling baik yang bisa mereka bayangkan, Bu. Tak terbantahkan :)
    .
    Namun, Bu, aku mencoba melihat sisi positif dari setiap persoalan yang datang. Ketika aku harus membuktikan sesuatu, hal tersebut membuatku terbiasa untuk tidak mempercayai apa pun sebelum aku sendiri yang mendapatinya secara langsung. Sehingga setiap segala yang datang tak kuterima utuh 100% sebagai sebuah pegangan. Jadinya aku terbiasa seperti itu.

  15. Yoga says:

    Excellent. Dulu kamu pernah komentar dan menuliskan tentang ancaman terselubung itu. Dan nampaknya tema-mu hari ini senyawa dengan tema di FB ku.

    DM: Ya, aku ingat tentang komentar tersebut. Namun belum sempat menuliskannya secara khusus seperti ini. Mumpung hari anak aja. Ada momentum. Dan soal senyawa? Iya, sih. Aku liat juga di fb-mu. Hanya saja, aku merawikan tulisan di atas jam 04.44 pagi. Sementara engkau jam 14.18 siang. Hehe. Sip, Yug. Jangan lupa minum susu ya! ;)

  16. narpen says:

    Wah aku juga ga tau pernah dinyanyikan lagu itu ato nggak, paklik.. Klo pun iya, sepertinya sejak kecil tak satu detik pun aku pernah peduli/mempercayai lagu itu. Mungkin masuk kuping kiri keluar kuping kanan, karena:
    1. Aku bukan Nina
    2. Gak masuk akal. Berdasar pengalaman, bobo ato ga bobo pun aku tetap digigit nyamuk.
    Hehehe. Jadi ga nyambung gini. Btw tapi emang susah ya ngomong ke anak kecil. Kata2 sederhana *padahal gak sengaja* pun bisa mengendap di kepala sampai bertahun2. Dan susahnya, seringkali kata2 itu (biarpun salah dan mengganggu) hanya membayang2 di benak, tidak pernah keluar sebagai lisan. Padahal klo bisa diucapkan, mungkin bisa didiskusikan baik2, supaya berkurang efeknya..

    DM: Hahahaha. Anak pintar! (sebetulnya mau nulis anak bandel!). Dua point yang kau sodorkan itu justru sangat masuk akal. Kau bukan Nina, dan kau nyaris selalu digigit nyamuk. Hihihi. Begini ini kalau ibu dan anak nge-blog dan komen di sini. Komentarnya bisa saling dikonfirmasi :p
    .
    Aha! Paragrafmu berikutnya mengacu pada pola komunikasi. Ya An, aku percaya: nggak ada persoalan yang nggak bisa diselesaikan dengan bicara. Pasti bisa. Kalau mau. Betul katamu, bisa didiskusikan baik-baik. Soal bagaimana caranya, ya di situlah kualitas manusia ditimbang-timbang harganya.

  17. vizon says:

    Lagu semacam ini memang butuh kreatifitas orangtua untuk memberikannya kepada anak. Ada baiknya syair yang “mengancam” tadi, diganti dengan “kalau tidak bobo, besok bangunnya telat”. Dan itu juga perlu dilakukan pada beberapa lagu anak yang sudah populer, tapi syairnya kurang pas.

    Mengancam itu juga sering kita lakukan dalam ranah agama pada anak. Sebagai contoh, “kalau tidak sholat, nanti masuk neraka lho”. Hal ini secara tidak kita sadari, kita telah menanamkan “keseraman” dalam beragama pada diri anak. Sehingga, selanjutnya anak itu (termasuk kita) akan menjalankan ibadah karena “takut”, bukan karena kesadaran, apatahlagi kebutuhan…

    Dan… selamat hari anak ya, semoga dirimu tumbuh menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi nusa dan bangsa… lho….? :D

    DM: Aha! Komen ini termasuk yang kutunggu, Da. Yup. Mulai masuk ranah agama. Dan itu betul. Banyak, banyak sekali, dan mungkin termasuk aku barangkali yang ketika kecil penyadaran akan ibadah justru disodorkan dalam bentuk ancaman seperti itu. “Kalau tidak sholat, nanti masuk neraka”. Jadi frame yang ditanamkan: kita ibadah bukan karena kenapa kita ibadah, tapi karena akibat buruknya.
    .
    Pertumbuhanku sebagai anak? I’m Peter Pan, Da. I’m Peter Pan in my heart. Never grow old. Hahaha!

  18. Ikkyu_san says:

    satu lagi yang baru aku sadari di Jepang.

    dulu aku sering ditakut-takuti begini, “Jangan nakal nanti pak polisi datang loh”. Sehingga kita (aku) takut dengan pak polisi yang kesannya galak. Mungkin memang begitu, tapi waktu aku mau terapkan di Jepang, ngga bisa. Lha pak polisi teman anak-anak, sampai nama panggilan “keisatsu” (polisi) menjadi “omawarisan” (tukang ngider alias patroli). Dalam prakteknya juga polisi Indonesia masih banyak harus belajar dari polisi Jepang.

    selain polisi, adikku Andy dulu sering ditakut-takuti dengan tukang sate, terutama waktu makan malam… “tee….. ” emang ngeri sih dengar suara itu malam-malam. Dan tukang sate tidak ada di Jepang hihihi.

    DM: Betul banget, Zus. Sudah tercipta image bahwa polisi (di Indonesia) itu serem bahkan tak bersahabat. Kita tau tak semuanya dan bisa jadi itu tak betul. Tapi ya bagaimana, frame itu sudah tercipta sejak lama. Dan setiap pergantian Kapolri selalu mengamini hal tersebut bahwa dalam jabatannya ia akan mengubah image polisi di Indonesia.
    .
    Waktu kecil, aku pernah melihat ada serombongan pramuka camping di lapangan sebelah kuburan seberang rumahku. Pada malam hari mereka nyanyi lagu Syukur. Saat itu kakakku berbuat suatu kesalahan dan diancam bapak akan dibawa ke kuburan. Biar dimakan setan seperti pramuka-pramuka yang lagi nyanyi itu. Mendengar itu aku merinding sekali. Yang terjadi: image-ku tentang pramuka dan tentang kuburan seperti yang bapak katakan.
    .
    Itu juga mengapa sejak kecil aku gila-gilaan ikut pramuka dan membuktikan bahwa apa yang bapak katakan: salah.

  19. Radesya says:

    @Papa Daniel
    huaaaa…, jadi anak angkat? Aku panggil papa Daniel dunk :)
    senang sekali punya banyak papa angkat, rasanya lengkap deh punya keluarga baru di sini, punya banyak kakak, tante, bunda, ada mama Yessy juga :) (mama Yessy, piss) ada om Jamal hihi…, betapa hidupku telah lengkap :) bisa pulang dengan tenang :)
    thx for all…

    Begini papa Daniel, mungkin sebaiknya dimulai dari para orang tua yang harus membiasakan jangan mengancam anak-anak, dulu mama jarang mengancam gitu, coz aku kan aneh, misalnya mama bilang, jangan naik pohon, ntar jatoh, saat diancam jatoh aku justru pengen banget naek pohon gitu, sejak itu aku diarahkan menentukan pilihan yan benar, tapi tidak menggurui gt
    papa Daniel, thx ya.. :)

    DM: Huaaaaaa…… Kok manggil papa sih? Dodol! Huahuahua.
    (Eh, psttt… Kalo manggil Yessy jangan Mama Yessy. Panggil aja Mama Laurent!)

  20. @Desya: Boleh..nak…boleh..kamu boleh panggil aku mama. Tapi panggil Daniel Mahendra, papa? Ouw…harusnya Mbah Kakung!!!!

    DM: Halo Mama Laurent… :p

  21. AL says:

    Yup, emang banyak kesalahan-kesalahan ‘kecil’ seperti ini. Termasuk, membuat anak berpikir dia tidak akan pernah salah dengan memukul kursi atau lantai jika anak terjatuh, lalu bilang: siapa? Siapa yang nakal? Kursinya, ya? Ini mama pukul kursinya.
    Maksudnya biar anak diam dengan cepat. Tapi itu mengajarkan anak untuk menyalah-nyalahkan orang lain atau hal lain saat dia membuat kesalahan suatu saat dan bukan mengambil pelajaran lalu meperbaiki diri. Gila aja! Masa kursi bisa nakal.
    Atau kalau anak nakal, ibu berteriak: Awas nanti kalo ayah pulang kamu dimarahin. Atau: Nanti ayah marah. Itu sama dengan melimpahkan tanggung jawab ke pihak lain. Ibu kalau mau marah, ya, marah saja. Kalau memang ada alasannya. Kenapa musti tunggu ayah pulang kantor yang biasanya, justru, saat diberi tahu ayah malah ketawa-tawa.
    Bicara mengenai ancaman, kebanyakan ortu memang memberi ancaman yang ternyata kosong. Saat marah, mengancam hal-hal yang tidak pernah dilakukannya. Itu membuat anak belajar memanipulasi. Jika mau memberi punishmant, atau ancaman hukuman, harus konsisten dilakukan. Karena itu, ‘ancaman’ itu dari awal harus benar-benar dipikirkan. Apakah terlalu berat? Hukuman yang terlalu berat tidak membuat anak memperbaiki diri, malah menumbuhkan rasa antipati dan kemarahan.
    Hehe..kepanjangan.

    Met hari anak nasional!

  22. imoe says:

    Rubah lirik lagu aja deh kalo gitu..

    Daniel Bobok, Ooo Daniel Bobok
    Kalo tidak bobok, ayo nge facebook…

    Nah tuh…kalo gitu lagunya gimana mas…

  23. imoe says:

    Rubah lirik lagu aja deh kalo gitu..

    Daniel Bobok, Ooo Daniel Bobok
    Kalo tidak bobok, ayo nge facebook…

    Nah tuh…kalo gitu lagunya gimana mas…

    SELAMAT HARI ANAK. HARI PUNCAKNYA DI DUFAN SPEKTAKULER…

  24. Ria says:

    nyambung commentnya mbak Imel…mas…mas…kamu dha punya anak ya?
    merriednya kapan? :P

    Selamat hari anak untuk semuanya…semoga generasi penerus kita lebih cendekia dari pendahulunya.

  25. anakilang says:

    Walah..analogi lagu nina bobo dalam versi yang berbeda.

    aku cuma anakilang. ada hari jadi nya gak ya?

  26. QQ bukan Qinoy says:

    Salah satu keponakanku yang masih batita, selalu menyanyikan lagu ‘Nina Bobo’ sebelum Ia tidur. Tapi lagu tersebut sedikit digubahnya, menjadi :

    Oma bobo, oh Oma bobo
    Kalau tidak bobo, Oma digigit nyamuk.

    ps : oma = mami’ku :p

    Well, tampaknya Ia sudah menemukan cara untuk tidak lagi merasa terancam atau dibawah intimidasi untuk tidur :D :D

  27. mantan kyai says:

    kalo buat orang tuaku. jangankan diancam, dikaploki aku ikhlas mas… :D
    selamat hari anak mas. tapi kawin dulu lho ya …. hehehehe

  28. Юлиан says:

    Ну, как сказать, понравилось :) Хотя я все равно практически ничего не понял. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>